Hadir sebagai narasumber, Dr. Hj. Helwiyah Makarim, M.Pd, Dosen Universitas Muhammadiyah Bogor Raya, dengan Dr. Sutopo, M.P, Kepala LPPM Universitas Tazkia, sebagai moderator. Kegiatan berlangsung pukul 09.30–11.30 WIB dan diikuti oleh sivitas akademika Universitas Tazkia.
Dalam pemaparannya, Dr. Helwiyah menjelaskan bahwa resiliensi keluarga Islami tidak sekadar berarti kemampuan keluarga untuk bertahan menghadapi masalah, tetapi juga kemampuan untuk beradaptasi, pulih, dan tetap berpegang pada nilai-nilai Islam ketika menghadapi perubahan zaman.
Di era informasi disruptif, keluarga berhadapan dengan arus informasi yang datang dengan sangat cepat, berlebihan, dan bercampur antara fakta dan hoaks. Kondisi tersebut dapat memengaruhi pola komunikasi dalam keluarga, cara orang tua mengambil keputusan, hingga proses pembentukan karakter anak.
Karena itu, keluarga memiliki peran penting sebagai madrasah ula, atau sekolah pertama, dalam membentuk akhlak, iman, sekaligus daya tahan anak dalam menghadapi berbagai tantangan.
Salah satu pesan yang ditekankan Dr. Helwiyah dalam forum tersebut adalah pentingnya perubahan cara pandang orang tua ketika menjalankan peran pengasuhan.
“Ubah mindset. Tidak ada sesuatu yang sulit kalau kita bisa. Tolong jangan ada kata susah atau sulit dalam mengasuh anak.”
Pesan tersebut menekankan bahwa pengasuhan tidak seharusnya diawali dengan rasa takut atau anggapan bahwa mendidik anak merupakan sesuatu yang terlalu berat. Sebaliknya, orang tua perlu membangun keyakinan bahwa setiap tantangan dalam pengasuhan dapat dihadapi melalui proses belajar, komunikasi, dan pendampingan yang konsisten.
Lebih lanjut, tantangan keluarga di era digital juga tidak hanya berasal dari hoaks dan overload informasi. Tekanan digital pada anak serta berkembangnya individualisme digital turut menjadi persoalan yang perlu diperhatikan. Anak dapat memiliki akses informasi yang jauh lebih luas, tetapi tanpa pendampingan yang tepat, akses tersebut tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan menyaring dan memahami informasi.
Dalam konteks tersebut, resiliensi keluarga menjadi fondasi agar keluarga tetap mampu menjadi ruang yang aman bagi anak untuk bertanya, berdiskusi, sekaligus belajar menghadapi realitas digital secara sehat.
