Dalam pemaparannya di hadapan para wisudawan dan segenap sivitas akademika, Murniati menekankan bahwa percepatan laju digitalisasi dan pesatnya adopsi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) menuntut pengawalan ketat dari nilai-nilai syariah. Ia menegaskan bahwa teknologi berperan sebagai instrumen daya (power), sementara syariah bertindak memberikan arah kompas (direction) agar pemanfaatannya berorientasi pada kemaslahatan publik sekaligus membentengi masyarakat dari manipulasi moral, jeratan utang konsumtif, serta melebarnya kesenjangan ekonomi.

"Kecerdasan buatan mampu menghasilkan teks dan menghitung risiko, namun manusia tetap memegang kendali penuh atas nilai, tujuan, dan keputusan akhir," tegas Murniati.

Lebih lanjut, Murniati mendorong terjadinya transformasi mendasar menuju konsep Digital Falah, yaitu ekosistem digital yang menitikberatkan kesejahteraan inklusif, keadilan, keberlanjutan, serta penciptaan nilai nyata (value creation). Guna menjawab dinamika tantangan zaman, ia menjabarkan tiga literasi kunci yang wajib dimiliki oleh lulusan perguruan tinggi Islam:

* Literasi Digital: Penguasaan analisis data, pemahaman algoritma, serta mitigasi risiko etis dan keamanan siber.
* Literasi Syariah: Penerapan prinsip keadilan, amanah, dan kerangka Maqashid al-Shari’ah (perlindungan agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta) sebagai fondasi pengembangan setiap inovasi.
* Literasi Kemanusiaan: Penguatan rasa empati, integritas, kepemimpinan kolaboratif, serta akhlak karimah.