Salah satu materi disampaikan oleh Wiku Suryomurti, ST., M.Si., Ph.D. melalui pembahasan Study Classical Islamic Thought. Secara sederhana, materi ini mengajak mahasiswa untuk kembali melihat bagaimana pemikiran Islam klasik berkembang dan membentuk tradisi keilmuan. Bagi mahasiswa pascasarjana, memahami pemikiran tersebut menjadi penting bukan sekadar untuk mengenal sejarah intelektual Islam, tetapi juga untuk membangun cara berpikir yang lebih mendalam dalam membaca persoalan keilmuan dan kehidupan kontemporer.

Sementara itu, Prof. Dr. M. Syafii Antonio, Rektor Universitas Tazkia, menyampaikan materi bertajuk Garden of Knowledge, Wisdom and Empowerment. Dalam penyampaiannya, ilmu tidak berhenti pada proses memperoleh pengetahuan, tetapi perlu berkembang menjadi kebijaksanaan dan pada akhirnya memberikan kebermanfaatan serta pemberdayaan bagi masyarakat.

“We have to be the best in our field.”

Pesan tersebut menjadi salah satu penekanan Prof. Syafii kepada mahasiswa pascasarjana. Menjadi bagian dari dunia akademik tidak hanya berarti memperoleh gelar, tetapi juga membangun kompetensi dan keunggulan pada bidang yang ditekuni.

Pesan mengenai ilmu juga disampaikan oleh Prof. Dr. Achmad Firdaus, M.Si., AIIS. Ia mengingatkan mahasiswa bahwa ilmu pada hakikatnya berasal dari Allah SWT.

“Yang menambah ilmu bukan saya, tapi Allah SWT.”

Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa proses akademik perlu disertai dengan kerendahan hati. Dosen berperan dalam menyampaikan, membimbing, dan membuka ruang belajar, sementara bertambahnya ilmu merupakan bagian dari kehendak Allah SWT.

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Firdaus juga membawa mahasiswa untuk melihat bagaimana sebuah gagasan akademik dapat dikembangkan menjadi penelitian yang relevan. Salah satunya melalui karya ilmiahnya berjudul Determination of Organisational Essential Needs as the Basis for Developing a Maṣlaḥah-Based Performance Measurement.

Penelitian tersebut membahas bagaimana konsep maṣlaḥah ḍarūriyyah dapat digunakan untuk memahami kebutuhan esensial sebuah organisasi sekaligus menjadi dasar dalam mengembangkan pengukuran kinerja. Penelitian ini mengembangkan lima unsur utama maṣlaḥah ḍarūriyyahdīn, nafs, ‘aql, nasl, dan māl—ke dalam berbagai kebutuhan organisasi.

Dalam penerapannya, konsep tersebut menghasilkan enam orientasi kebutuhan organisasi, yaitu worship orientation, internal process orientation, talent orientation, learning orientation, customer orientation, dan wealth orientation. Dengan demikian, kinerja organisasi tidak hanya dilihat dari pencapaian finansial, tetapi juga dari aspek ibadah, proses internal, pengembangan talenta, pembelajaran, pelanggan, hingga keberlanjutan kekayaan organisasi.

Melalui pembahasan tersebut, mahasiswa baru pascasarjana diperlihatkan bahwa penelitian akademik tidak harus berhenti sebagai tulisan ilmiah. Sebuah gagasan dapat menjadi cara untuk membaca persoalan, membangun kerangka berpikir, hingga menghasilkan pendekatan yang dapat diterapkan dalam organisasi dan masyarakat.

Materi berikutnya disampaikan oleh Dr. Ahmad Levi Fachrul Avivy, M.A. mengenai ekonomi Islam, khususnya konsep ma’ad atau pertanggungjawaban manusia atas setiap aktivitas yang dilakukan.

Mengacu pada pesan dalam Surah Al-Qashash ayat 77, mahasiswa diajak memahami bahwa kehidupan dunia dan orientasi akhirat tidak perlu dipertentangkan. Aktivitas ekonomi dan kehidupan sehari-hari tetap dapat dijalankan secara optimal, namun harus disertai kesadaran bahwa setiap tindakan memiliki pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.

Perspektif tersebut menjadi salah satu dasar penting dalam memahami ekonomi Islam, bahwa pencapaian material tidak berdiri sendiri, tetapi perlu diarahkan pada kebaikan dan kemaslahatan.

Sementara itu, Dr. Nur Hendrasto, M.Si., CPC. membahas pentingnya cara berpikir ilmiah serta relevansinya dengan inovasi.

“Karena kita di bidang ilmiah, maka teori harus bisa diverifikasi.”

Menurutnya, mahasiswa pascasarjana perlu membangun kebiasaan untuk tidak hanya menerima sebuah teori, tetapi juga melihat bagaimana teori tersebut dapat diuji dan dibuktikan. Sikap tersebut menjadi bagian penting dari proses akademik dan penelitian.

Ia juga mengaitkan pendekatan ilmiah dengan inovasi, yang salah satu indikasinya dapat dilihat melalui prinsip cheaper, faster, better—bagaimana sebuah gagasan atau proses dapat menghasilkan sesuatu yang lebih efisien, lebih cepat, dan lebih baik.

Namun, inovasi tidak cukup hanya mengejar efisiensi. Menurut Dr. Nur, setiap pengembangan dan perubahan tetap membutuhkan values sebagai pedoman, sehingga kemajuan yang dihasilkan tetap memiliki arah dan tidak kehilangan nilai yang menjadi landasannya.

Rangkaian materi dalam Matriculation Program tersebut pada akhirnya memberikan satu fondasi penting bagi mahasiswa pascasarjana Universitas Tazkia: ilmu perlu dipahami, dikembangkan, dan diarahkan menjadi kebermanfaatan. Perjalanan akademik di tingkat pascasarjana tidak hanya menuntut kemampuan memahami pengetahuan, tetapi juga kemampuan untuk berpikir kritis, menghasilkan karya, dan memberikan kontribusi pada bidang yang ditekuni.