Kegiatan dipandu oleh M Dias Maulana selaku MC dan diawali dengan pembacaan Al-Quran oleh Raka Wijaya, S.E. yang membacakan Surah Al-Isra ayat 17. Rangkaian pembukaan tersebut menjadi pengantar sebelum peserta memasuki pembahasan mengenai manusia, psikologi, serta bagaimana nilai-nilai Islam dapat menjadi landasan dalam memahami perilaku dan kehidupan manusia.
Dalam pemaparannya, Nabella menjelaskan bahwa pemahaman mengenai manusia terus berkembang seiring dengan perkembangan ilmu psikologi. Salah satu pendekatan yang disoroti adalah humanistik yang menempatkan manusia sebagai pribadi yang memiliki potensi, kebutuhan, pengalaman, serta nilai yang perlu dihargai.
“Humanistik itu memanusiakan manusia,” ujar Nabella.
Menurutnya, prinsip tersebut relevan diterapkan dalam kehidupan akademik di Universitas Tazkia. Lingkungan pendidikan bukan hanya tempat untuk mengembangkan kemampuan intelektual, tetapi juga ruang untuk membentuk kebiasaan dan karakter melalui berbagai pengalaman yang dilakukan secara berulang.
Ia kemudian mengaitkan konsep classical conditioning dalam psikologi dengan kebiasaan yang terbentuk di lingkungan Universitas Tazkia. Salah satunya terlihat ketika azan berkumandang, aktivitas sivitas akademika dihentikan sejenak untuk melaksanakan salat.
Kebiasaan tersebut menunjukkan bagaimana suatu stimulus dapat membentuk respons tertentu melalui proses pembiasaan. Dalam konteks Universitas Tazkia, pembiasaan tersebut tidak berhenti pada konsep psikologi, tetapi diarahkan untuk membangun budaya yang selaras dengan nilai-nilai Islam.
Selain membahas pembentukan kebiasaan, Nabella juga menekankan pentingnya memahami respons manusia ketika menghadapi kritik. Menurutnya, respons awal terhadap kritik sangat dipengaruhi oleh bagaimana seseorang menerima kondisi yang dihadapinya.
“Respon awal kita terhadap kritik adalah penerimaan kita. Kalau kondisinya baik, maka menerimanya juga akan baik,” jelasnya.
Penerimaan menjadi bagian penting dalam proses refleksi diri. Kritik tidak selalu harus dipandang sebagai sesuatu yang negatif, tetapi dapat menjadi bahan evaluasi untuk memahami diri, memperbaiki respons, dan berkembang menjadi pribadi yang lebih baik.
Dalam perspektif Islam, Nabella juga mengajak peserta untuk merefleksikan makna Bismillahirrahmanirrahim. Menurutnya, kalimat yang senantiasa dibaca dalam mengawali berbagai aktivitas tersebut mengingatkan manusia terhadap sifat Allah SWT. Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Kesadaran terhadap kasih sayang dan pemberian Allah SWT. tersebut dapat menjadi dasar untuk membangun self-affirmation yang positif. Bukan sekadar memberikan afirmasi kepada diri sendiri, tetapi menyadari berbagai hal yang telah diberikan Allah SWT. dan menjadikannya sebagai bagian dari proses untuk bersyukur.
Dengan demikian, pembahasan mengenai psikologi manusia tidak hanya berhenti pada teori dan perkembangan pemikiran dari masa ke masa. Di lingkungan Universitas Tazkia, pemahaman tersebut dapat dikaitkan dengan pembentukan kebiasaan, cara menerima kritik, pengelolaan respons diri, serta penguatan nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari.
Logo Universitas Tazkia

