1. Antara Koneksi vs Kompetensi
Hasrat menjadi pemuncak sering kali terbentur tembok tebal bernama koneksi. Pengamat bisnis Martyn Terpilowski dalam unggahan viralnya di LinkedIn menyoroti isu sensitif: rendahnya jumlah pemimpin dari latar belakang biasa di Indonesia .
"Saya punya teman-teman Indonesia yang bekerja di bank di luar negeri dan sangat kompeten, tapi memilih untuk tidak pulang. Mereka tahu, tanpa koneksi yang tepat, mustahil mendapatkan pekerjaan top di negeri sendiri," tulis Terpilowski.
Di sisi lain, banyak pemimpin puncak di dalam negeri yang belum pernah bekerja di luar negeri, minim pengalaman global, namun langsung "dipayung" ke posisi strategis sepulang dari MBA di kampus elite. Fenomena "orang dalam" atau ordal ini, seperti diakui banyak komentator, menjadi faktor utama pengerem talenta kelas dunia.
Namun, sejarah mencatat pengecualian. Handry Satriago, almarhum CEO General Electric (GE) Indonesia, adalah bukti nyata bahwa anak bangsa bisa menembus langit-langit kaca. Menjadi CEO GE Indonesia pertama yang merupakan putra asli daerah, Handry mengungkapkan rahasia mengapa ia dipilih. Jawaban bosnya saat itu menohok: "Tim Indonesia hebat kalau dikasih kerjaan, selalu bilang 'ya' dan melakukan. Anda terpilih karena bagus bilang 'no'.".
Menurut Handry, orang Indonesia hebat dalam mengeksekusi perintah, tapi lemah dalam menyampaikan ide kritis. Kebiasaan hanya menjawab tanpa bertanya "mengapa" atau "mengapa tidak" membuat inovasi mandek. Ironisnya, kemampuan kritis inilah yang dicari dari seorang CEO sejati.
2. Tragedi "Opportunity Hoarding": Saat Satu Orang Kebagian Banyak Jabatan
Ambisi menjadi CEO juga dipicu oleh pemandangan timpang di panggung kekuasaan korporat negara. Kolom opini di Kompas.id mengungkap praktik rangkap jabatan yang semakin menjadi-jadi di BUMN dan lembaga negara. Istilah "capek melimpah jabatan" pun muncul sebagai antitesis dari "capek cari kerja" yang dialami generasi muda.
Migrant Watch mencatat seorang elite bisa menduduki lebih dari satu posisi komisaris di BUMN berbeda, bahkan aparat keamanan aktif kembali merangkap jabatan sipil—sebuah kemunduran dari semangat reformasi 1998. Praktik ini disebut sebagai "opportunity hoarding" atau penimbunan kesempatan.
Sosiolog mengkritik fenomena ini sebagai nepotisme struktural. Sistem secara konsisten menguntungkan kelompok yang sama, menutup akses bagi talenta lain. Ketika segelintir orang mengakumulasi jabatan dan penghasilan tanpa hambatan, jutaan lulusan baru justru berjuang untuk pekerjaan pertama mereka. "Ini bukan lagi soal kapasitas personal, tapi bagaimana negara gagal mendistribusikan kesempatan secara adil," tulis kolom tersebut.
3. Fenomena Quiet Ambition
Di tengah hiruk-pikuk perebutan kursi panas CEO, muncul gelombang bawah tanah yang justru kontradiktif. Generasi Z dan Milenial di Indonesia mulai menunjukkan fenomena Quiet Ambition .
Mereka tetap ambisius, tetapi tidak lagi terobsesi pada jabatan atau hirarki. Data menunjukkan 71% pekerja Gen Z menempatkan work-life balance sebagai prioritas utama, dan hanya 32% yang tertarik mengejar jabatan manajerial dalam lima tahun ke depan . Mereka lebih memilih menjadi spesialis, technopreneur, atau membangun portofolio di ekonomi kreatif daripada harus lembur dan berpolitik kantor hanya untuk sekadar naik pangkat.
Apakah ini berarti semangat menjadi CEO memudar? Tidak selalu. "Quiet ambition bukan berarti tidak ambisius. Ini tentang mengejar ambisi yang berkelanjutan, tidak mengorbankan kesehatan mental, dan mencari makna di luar sekadar gaji besar," tulis laporan dari HRnetRimbun .
Ini adalah kritik halus terhadap budaya korporasi lama yang toksik dan penuh intrik. Kaum muda melihat bahwa untuk menjadi CEO ala "orde lama," mereka harus masuk dalam lingkaran setan persaingan tidak sehat dan menjilat pada koneksi. Mereka memilih jalan pintas: menjadi CEO untuk startup sendiri.
Kisah Yann Schuermans, eks eksekutif AB InBev yang memilih keluar dan mendirikan startup Baskit di Jakarta, adalah contoh nyata bagaimana "jalan aman" di korporasi besar terasa terlalu membosankan dan bisa diprediksi . Ia memilih tantangan, meski harus ditolak 50 venture capital dan hampir kehilangan visa.
4. Bukan Mengejar Jabatan tapi Kejarlah Dampak!
Jika ada harapan, itu datang dari model kepemimpinan baru yang tidak melulu soal wewenang, tapi tentang memberdayakan.
Winston Utomo, CEO IDN Media, baru saja dinobatkan sebagai "Most People-Focused CEO" di HR Excellence Awards 2025 . Filosofinya membalik logika tradisional: kesuksesan organisasi tidak ditentukan oleh sistem atau strategi semata, tetapi oleh rasa saling percaya dan ruang tumbuh yang diberikan pada karyawan (atau yang disebut "Timmy").
Melalui program seperti Timmy Happiness Index (THI) dan IDN Academy, Winston menunjukkan bahwa menjadi CEO hari ini adalah tentang menjadi fasilitator, bukan sekadar penguasa ruang rapat .
Di sisi lain, pemerintah mulai membuka keran kepemimpinan asing untuk BUMN agar "naik kelas" . Kebijakan ini menuai pro-kontra. Namun, Kepala Investasi Danantara, Pandu Patria Sjahrir, menegaskan bahwa prioritas tetap pada putra-putri bangsa terbaik, lalu diaspora, dan terakhir ekspatriat. Masuknya eks Balagopal Kunduvara (eks Singapore Airlines) sebagai Direktur Keuangan Garuda Indonesia adalah sinyal bahwa kompetisi kini semakin ketat dan berstandar global.
Fenomena "kebelet jadi CEO" di Indonesia adalah cerminan dari masyarakat yang sedang tidak sabar menunggu sistem yang adil. Mereka ingin membuktikan bahwa kompetensi bisa mengalahkan koneksi.
Namun, di saat yang sama, definisi CEO itu sendiri sedang dirombak. Generasi baru tidak ingin jadi CEO yang hanya duduk manis di ruangan ber-AC hasil warisan koneksi. Mereka ingin membangun kerajaan dari nol, atau menjadi pemimpin yang dekat dengan timnya, seperti Winston Utomo.
Indonesia butuh "Indonesian Dream" yang sesungguhnya sebuah ekosistem di mana seorang anak muda dari keluarga biasa, tanpa ordal, bisa bermimpi menjadi CEO perusahaan global, dan mimpi itu terasa masuk akal untuk dikejar . Jika tidak, kita hanya akan terus memproduksi dua kelompok: mereka yang frustrasi karena tak bisa naik kelas, dan mereka yang kelelahan karena terus-terusan berebut jabatan yang ditumpuk di puncak piramida.
Referensi:
-
Rmoljatim.id. (2025). Agar BUMN Naik Kelas, Warga Asing Boleh Jadi Bos
-
Tumakarir.com. (2025). Quiet Ambition di Indonesia: Benarkah Produktivitas Pekerja Muda?
-
Jakarta Globe. (2025). Winston Utomo Named Most People-Focused CEO at HR Excellence Awards
-
Business Insider. (2025). I left a fast-rising career at the world's biggest beer company for startup life
-
Kompas.id. (2020). Handry Satriago Menginspirasi Anak Muda untuk Berinovasi dan Meraih Mimpi
-
HRnetRimbun. (2025). Mengapa Quiet Ambition Menjadi Gaya Kerja Favorit Gen Z?
-
LinkedIn (Martyn Terpilowski). (2025). There needs to be an INDONESIAN DREAM
-
Kompas.com. (2025). Antara Capek Cari Kerja dan Capek Melimpah Jabatan

