
Namun, apakah benar emas adalah investasi terbaik saat ini?
Pertanyaan tersebut menjadi sorotan dalam pandangan pakar akuntansi syariah Murniati Mukhlisin. Menurutnya, persepsi bahwa emas merupakan investasi terbaik tidak sepenuhnya tepat jika dilihat dari perspektif pengelolaan keuangan yang lebih komprehensif.
Dalam dua tahun terakhir, harga emas menunjukkan lonjakan yang sangat signifikan. Data harga emas Antam menunjukkan bahwa pada 1 Februari 2024 harga jual berada di kisaran Rp1.143.000 per gram dengan harga buyback Rp1.039.000 per gram.
Setahun kemudian, tepatnya pada 1 Februari 2025, harga emas naik tajam menjadi sekitar Rp1.624.000 per gram untuk harga jual dan Rp1.475.000 per gram untuk buyback.
Lonjakan tersebut bahkan berlanjut pada 1 Februari 2026. Harga emas Antam kembali mencetak rekor di kisaran Rp2.860.000 per gram untuk harga jual dan Rp2.650.000 per gram untuk harga buyback, dengan pajak transaksi sebesar 0,5 persen. Dalam kurun dua tahun, harga emas tercatat meningkat lebih dari dua kali lipat, sebuah performa yang tergolong jarang terjadi dalam sejarah pasar logam mulia.
Kenaikan drastis ini membuat emas semakin menarik di mata investor, terutama jika dibandingkan dengan instrumen keuangan lain.
Perbandingan dengan Instrumen Investasi Lain
Jika melihat instrumen keuangan syariah yang relatif aman, tingkat bagi hasil deposito di bank syariah pada 2026 berada di kisaran 3–4 persen per tahun. Nilai ini juga masih dikenakan pajak final sebesar 20 persen sehingga hasil bersih yang diterima nasabah menjadi lebih kecil.
Instrumen lain seperti Sukuk Negara Ritel dan Sukuk Tabungan menawarkan imbal hasil yang sedikit lebih tinggi. Kuponnya berada di kisaran 6,3–6,6 persen per tahun dengan pajak final 10 persen, sehingga imbal hasil bersih yang diterima investor sekitar 5,7–5,9 persen per tahun. Instrumen ini relatif stabil dan cocok bagi investor dengan profil risiko rendah.
Sementara itu, investasi saham syariah baik secara langsung maupun melalui reksa dana memiliki potensi imbal hasil yang lebih besar. Dalam jangka menengah hingga panjang, return saham bisa mencapai kisaran 12–18 persen per tahun, bahkan lebih pada kondisi tertentu. Namun, potensi keuntungan tersebut datang bersama volatilitas dan risiko yang lebih tinggi.
Pergerakan pasar saham yang sering mengalami fluktuasi menjadi contoh bahwa tidak semua investor siap menghadapi risiko tersebut.
Lalu, di tengah berbagai pilihan investasi tersebut, bagaimana seharusnya kita memandang emas?
Investasi Harus Dimulai dari Tujuan Keuangan
Investasi seharusnya tidak sekadar mengikuti tren. Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menetapkan tujuan keuangan secara jelas.
Misalnya, sebuah keluarga merencanakan perjalanan umrah pada Juli 2027 dengan biaya sekitar Rp30 juta per orang. Jika berangkat lima orang, total biaya mencapai Rp150 juta. Ditambah kebutuhan lain seperti oleh-oleh dan biaya tambahan, dana yang perlu disiapkan bisa mencapai sekitar Rp200 juta.
Tujuan lain yang berbeda adalah membangun rumah kos pada tahun 2030 sebagai sumber pendapatan pasif menjelang masa pensiun pada 2035. Untuk merealisasikan rencana tersebut diperlukan dana sekitar Rp1 miliar, di atas tanah yang sudah dimiliki.
Kedua tujuan ini memiliki horizon waktu dan karakter risiko yang sangat berbeda. Karena itu, tidak selalu tepat jika keduanya menggunakan instrumen investasi yang sama.
Memahami Profil Risiko
Selain tujuan keuangan, keputusan investasi juga dipengaruhi oleh profil risiko seseorang.
Secara umum terdapat tiga kategori profil risiko, yaitu rendah, sedang, dan tinggi. Sikap seseorang terhadap risiko biasanya dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti tingkat pendidikan, pengalaman investasi, usia, hingga lingkungan.
Emas memang sering dianggap sebagai aset yang relatif aman. Namun, bukan berarti emas tidak memiliki risiko. Harga emas tetap dapat berfluktuasi, terutama dalam jangka pendek.
Pentingnya Diversifikasi
Kombinasi antara tujuan investasi dan profil risiko akan membantu menentukan instrumen yang paling sesuai. Dalam konteks ini, emas bisa menjadi bagian dari portofolio investasi, tetapi tidak selalu harus menjadi instrumen utama.
Bagi sebagian orang, emas lebih tepat digunakan sebagai instrumen lindung nilai atau diversifikasi untuk menjaga nilai kekayaan.
Perlu dipahami juga bahwa harga emas dipengaruhi oleh berbagai faktor global seperti ketegangan geopolitik, kebijakan bank sentral dunia, nilai tukar dolar AS, hingga pergerakan harga minyak. Dalam kondisi ketidakpastian global, investor biasanya beralih ke emas sebagai aset safe haven. Di sisi lain, pasokan emas yang terbatas membuat lonjakan permintaan dengan cepat mendorong kenaikan harga.
Investasi dalam Perspektif Islam
Pada akhirnya, investasi bukan semata soal mengejar imbal hasil tertinggi. Dalam perspektif Islam, harta dipandang sebagai amanah yang harus dikelola secara bertanggung jawab, adil, dan produktif.
Karena itu, keputusan investasi seharusnya tidak didorong oleh spekulasi atau sekadar mengikuti tren.
Meskipun emas menunjukkan kinerja yang sangat impresif dalam beberapa tahun terakhir, emas bukanlah solusi untuk semua tujuan keuangan. Untuk perlindungan nilai dalam jangka panjang, emas memang memiliki peran penting. Namun, emas tidak memberikan pendapatan rutin seperti kupon atau dividen.
Untuk tujuan yang bersifat produktif seperti menyiapkan dana pensiun, pendidikan anak, atau pengembangan usaha, instrumen lain seperti sukuk maupun investasi di sektor riil justru dapat memberikan manfaat yang lebih berkelanjutan.
Bahkan dalam sejarahnya, berdagang merupakan salah satu aktivitas utama Nabi Muhammad SAW. Beliau menghabiskan sekitar 25 tahun dalam aktivitas perdagangan sebelum masa dakwah yang berlangsung selama 23 tahun.
Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi yang produktif juga memiliki nilai yang sangat penting dalam Islam.
Menempatkan Emas Secara Proporsional
Dengan demikian, emas bukanlah investasi terbaik secara mutlak. Ia hanyalah salah satu instrumen yang dapat digunakan sesuai dengan tujuan keuangan dan profil risiko masing-masing individu.
Portofolio investasi yang ideal adalah yang mampu menyeimbangkan antara keamanan dan pertumbuhan, antara kepentingan dunia dan orientasi akhirat, serta antara keuntungan finansial dan keberkahan.
Semoga tulisan ini bermanfaat.
Wallahu a'lam bish-shawab.
