Lompat ke isi
Sistem
Universitas Tazkia
Populer

Teknologi Boleh Canggih, tetapi SDM Harus Paham Bisnis!

Perusahaan Digital Membutuhkan SDM yang Memahami Bisnis

Universitas Tazkia Penulis
Teknologi Boleh Canggih, tetapi SDM Harus Paham Bisnis!

Di era bisnis digital, perusahaan semakin mudah mengakses berbagai alat untuk membantu operasional. Spreadsheet, WhatsApp Business, aplikasi akuntansi, dashboard penjualan, hingga kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini semakin dekat dengan keseharian pelaku usaha.

Namun, ada satu pertanyaan penting yang sering luput dari perhatian: apakah orang-orang yang menggunakan teknologi tersebut benar-benar memahami bisnis yang mereka jalankan?

Sebuah perusahaan bisa memiliki laporan penjualan yang rapi, tetapi belum tentu memahami keuntungan sebenarnya. Tim pemasaran bisa menghasilkan banyak pesanan, tetapi belum tentu mengetahui apakah setiap transaksi memberikan margin yang sehat. Bahkan, seorang CEO dapat memiliki dashboard dengan berbagai indikator kinerja, tetapi tetap kesulitan menentukan keputusan yang tepat apabila tidak memahami arti angka-angka di dalamnya.

Di sinilah konsep CEO 5.0 perlu dilihat dari sisi yang lebih mendasar. Kemampuan memanfaatkan teknologi perlu berjalan bersama pemahaman bisnis, literasi keuangan, dan kompetensi sumber daya manusia (SDM).

Teknologi membantu pekerjaan menjadi lebih cepat. Namun, manusia tetap perlu memahami tujuan, proses, dan konsekuensi dari pekerjaan tersebut.

CEO Tidak Harus Menjadi Akuntan, tetapi Harus Memahami Angka

Seorang CEO tidak harus mengerjakan seluruh pencatatan transaksi perusahaan. Tugas tersebut dapat dijalankan oleh staf keuangan atau akuntan yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan.

Meski demikian, seorang CEO tetap perlu memahami dasar-dasar akuntansi bisnis. Salah satunya adalah kemampuan membaca laporan keuangan dan memahami bagaimana transaksi operasional tercatat di dalam pembukuan.

Buku besar, misalnya, bukan sekadar kumpulan angka yang disusun oleh bagian keuangan. Buku besar mengelompokkan transaksi berdasarkan akun sehingga perusahaan dapat menelusuri perubahan saldo dan memahami aktivitas keuangannya.

Pemahaman ini membantu CEO mengajukan pertanyaan yang lebih tepat. Mengapa biaya operasional meningkat? Apakah kenaikan penjualan benar-benar meningkatkan laba? Mengapa perusahaan terlihat ramai memperoleh pesanan, tetapi kas yang tersedia justru menurun?

Pertanyaan tersebut penting karena omzet, laba, dan arus kas bukanlah hal yang sama.

Perusahaan dapat mencatat penjualan yang tinggi, tetapi menghadapi masalah likuiditas ketika pelanggan belum membayar. Perusahaan juga dapat memperoleh keuntungan secara akuntansi, tetapi tetap mengalami tekanan kas akibat kewajiban pembayaran yang jatuh tempo lebih cepat daripada penerimaan uang.

CEO yang memahami dasar akuntansi tidak harus mengambil alih pekerjaan tim keuangan. Ia perlu memiliki kemampuan untuk membaca informasi, menguji asumsi, dan menggunakan laporan tersebut sebagai dasar pengambilan keputusan.

Dengan demikian, diskusi antara CEO dan tim keuangan tidak berhenti pada pertanyaan, “Berapa penjualan kita bulan ini?” tetapi berkembang menjadi, “Berapa margin yang kita hasilkan, bagaimana kondisi kas kita, dan apakah pertumbuhan ini dapat dipertahankan?”

Literasi Digital Bukan Sekadar Bisa Menggunakan Aplikasi

Pada 2026, menggunakan spreadsheet atau WhatsApp Business bukan lagi sesuatu yang luar biasa bagi banyak pelaku usaha. Keduanya telah menjadi alat kerja yang cukup umum untuk mencatat transaksi, mengelola pelanggan, dan menjalankan komunikasi bisnis.

Namun, kemampuan mengoperasikan aplikasi tidak selalu sama dengan kemampuan memahami informasi yang dihasilkan.

Misalnya, seorang staf mampu memasukkan data penjualan ke spreadsheet dengan cepat. Akan tetapi, jika ia tidak memahami perbedaan antara pendapatan, biaya, piutang, dan uang yang sudah diterima, data tersebut berpotensi menimbulkan kesimpulan yang keliru.

Hal serupa berlaku bagi CEO. Memiliki akses ke dashboard penjualan tidak otomatis membuat seseorang mampu mengambil keputusan berdasarkan data. Angka perlu dibaca sesuai konteks, dibandingkan dengan target, dan diperiksa kualitasnya sebelum digunakan untuk menentukan langkah bisnis.

Literasi digital yang dibutuhkan perusahaan mencakup beberapa kemampuan dasar:

  • Memahami tujuan penggunaan teknologi dalam proses bisnis.

  • Memastikan data yang dicatat akurat, konsisten, dan relevan.

  • Membaca informasi yang dihasilkan aplikasi, bukan sekadar melihat tampilannya.

  • Memahami risiko akses data, keamanan informasi, dan privasi pelanggan.

  • Mengetahui kapan alat sederhana sudah cukup dan kapan perusahaan membutuhkan sistem yang lebih kompleks.

Dengan kata lain, perusahaan tidak hanya membutuhkan orang yang bisa menggunakan teknologi. Perusahaan membutuhkan orang yang mampu menggunakan teknologi untuk menyelesaikan masalah bisnis.

SDM yang Baik Tidak Berarti Semua Orang Harus Menjadi CEO

Ada hal lain yang sama pentingnya: kompetensi tidak boleh hanya dituntut dari pimpinan perusahaan.

CEO memang memiliki tanggung jawab strategis, tetapi kualitas keputusan juga bergantung pada orang-orang yang menjalankan operasional sehari-hari.

Staf entry-level yang mencatat transaksi, mengelola pesanan, memperbarui stok, atau menginput data pelanggan turut menentukan kualitas informasi yang diterima manajemen. Kesalahan kecil yang berulang pada tingkat operasional dapat memengaruhi laporan, perencanaan persediaan, hingga keputusan investasi.

Karena itu, setiap tingkat organisasi membutuhkan kompetensi yang sesuai dengan tanggung jawabnya.

Pada tingkat pimpinan, kemampuan yang diperlukan mencakup pemahaman strategi, keuangan, risiko, teknologi, dan pengambilan keputusan.

Pada tingkat manajerial, fokusnya adalah menghubungkan target perusahaan dengan pelaksanaan kerja, mengawasi kualitas proses, dan memastikan koordinasi antartim berjalan baik.

Pada tingkat operasional, karyawan perlu memahami prosedur kerja, ketelitian pencatatan, penggunaan alat yang relevan, serta dampak pekerjaannya terhadap proses berikutnya.

Pembagian tersebut bukan berarti setiap orang harus mengetahui seluruh aspek bisnis secara mendalam. Yang dibutuhkan adalah pemahaman yang memadai sesuai peran, disertai kemampuan berkomunikasi dan berkolaborasi dengan bagian lain.

Karyawan yang memahami alasan di balik pekerjaannya cenderung lebih siap mengenali ketidaksesuaian, melaporkan masalah, dan memberikan masukan untuk perbaikan proses.

Inilah alasan pengembangan SDM seharusnya menjadi bagian dari transformasi digital, bukan program tambahan yang baru dipikirkan setelah perusahaan membeli teknologi.

Struktur Organisasi Penting, tetapi Tidak Bisa Menggantikan Kompetensi

Dalam perusahaan yang sedang bertumbuh, struktur organisasi membantu memperjelas tanggung jawab, kewenangan, dan jalur pelaporan. Tanpa struktur yang jelas, keputusan dapat tumpang tindih dan pekerjaan berisiko tidak memiliki penanggung jawab.

Namun, struktur yang rapi belum tentu menghasilkan organisasi yang efektif.

Bayangkan sebuah usaha budidaya lele memiliki bagian produksi, pemasaran, dan keuangan. Bagian produksi bertanggung jawab atas pakan, pertumbuhan ikan, dan tingkat kematian. Bagian pemasaran mengelola pesanan serta harga jual. Bagian keuangan mencatat biaya, penerimaan, dan kewajiban pembayaran.

Secara struktural, pembagian tersebut terlihat jelas. Masalah muncul ketika ketiga bagian bekerja tanpa memahami hubungan antara keputusan mereka.

Bagian produksi mungkin meningkatkan penggunaan pakan demi mempercepat pertumbuhan ikan, tetapi tidak menghitung dampaknya terhadap biaya per kilogram. Bagian pemasaran memberikan diskon untuk meningkatkan penjualan, tetapi tidak memeriksa apakah harga setelah diskon masih menutup biaya. Bagian keuangan mencatat transaksi, tetapi terlambat menyampaikan bahwa arus kas mulai tertekan.

Setiap bagian mungkin telah menyelesaikan tugasnya. Namun, bisnis secara keseluruhan belum tentu berjalan dengan baik.

Karena itu, struktur organisasi perlu dilengkapi dengan kompetensi, indikator kinerja yang relevan, dan koordinasi lintas fungsi. Setiap bagian harus memahami tanggung jawabnya sekaligus mengetahui bagaimana pekerjaannya memengaruhi hasil akhir perusahaan.

Struktur menentukan siapa yang bertanggung jawab. Kompetensi menentukan apakah tanggung jawab tersebut dapat dijalankan dengan baik. Koordinasi memastikan seluruh bagian bergerak menuju tujuan yang sama.

Sebelum Membeli Teknologi, Periksa Kesiapan SDM

Perusahaan tidak harus langsung menggunakan sistem mahal untuk terlihat modern. Dalam banyak kasus, pencatatan yang konsisten menggunakan spreadsheet sudah dapat membantu pelaku usaha memahami biaya, penjualan, persediaan, dan arus kas.

Langkah pertama adalah memastikan data yang dicatat memang dibutuhkan untuk mengambil keputusan.

Untuk usaha budidaya lele, misalnya, pemilik dapat memulai dengan mencatat biaya benih, pakan, tenaga kerja, tingkat kematian ikan, hasil panen, harga jual, serta waktu pembayaran pelanggan. Dari sana, pemilik dapat mulai memperkirakan biaya produksi dan mengevaluasi keuntungan setiap siklus panen.

Setelah proses pencatatan berjalan konsisten, barulah perusahaan menilai apakah membutuhkan aplikasi akuntansi, sistem inventori, sensor kualitas air, atau otomatisasi pemberian pakan.

Sebelum berinvestasi, pimpinan dapat mengevaluasi tiga hal.

Pertama, apakah masalah bisnisnya sudah jelas? Teknologi harus menjawab kebutuhan nyata, seperti kesalahan pencatatan yang berulang, persediaan yang sulit dikendalikan, atau keterlambatan memperoleh informasi.

Kedua, apakah SDM siap menggunakannya? Perusahaan perlu menilai kemampuan pengguna, kebutuhan pelatihan, kedisiplinan pencatatan, dan kesiapan proses kerja.

Ketiga, apakah manfaatnya sebanding dengan biaya? Perhitungan tidak hanya mencakup harga perangkat lunak atau perangkat keras, tetapi juga implementasi, pelatihan, pemeliharaan, dan perubahan proses operasional.

Jika ketiga aspek tersebut belum terpenuhi, investasi teknologi berisiko menambah biaya dan kerumitan tanpa memperbaiki kualitas keputusan.

Pendekatan yang lebih hati-hati adalah menguji solusi dalam skala kecil, mengukur hasilnya, memperbaiki proses, lalu memperluas penerapannya apabila manfaatnya terbukti.

Mengapa Hal Ini Penting bagi Industri Halal?

Dalam industri halal, pemahaman bisnis dan kompetensi SDM juga berkaitan dengan kepercayaan terhadap produk dan proses usaha.

Rantai pasok halal tidak hanya melibatkan produk akhir. Di dalamnya terdapat produsen bahan baku, peternak, pembudidaya ikan, pengolah makanan, distributor, hingga pelaku usaha kuliner.

Setiap pihak perlu menjalankan tanggung jawabnya dengan baik. Pencatatan bahan baku, pengelolaan persediaan, pemisahan proses yang diperlukan, dokumentasi pemasok, dan pengendalian operasional dapat membantu perusahaan mengelola rantai pasok secara lebih tertib sesuai ketentuan yang berlaku.

Teknologi digital dapat membantu proses dokumentasi dan penelusuran informasi. Namun, penggunaan aplikasi saja tidak otomatis menjadikan suatu produk atau proses bersertifikat halal. Kepatuhan tetap bergantung pada pemenuhan persyaratan dan prosedur yang relevan.

Di sisi lain, pencatatan bisnis yang baik membantu pelaku usaha menilai apakah kegiatan produksi dapat berjalan secara berkelanjutan. Produk yang memenuhi kebutuhan pasar tetap harus didukung oleh pengelolaan biaya, arus kas, kualitas, dan kapasitas produksi yang sehat.

Karena itu, pengembangan industri halal membutuhkan lebih dari sekadar teknologi. Industri ini juga membutuhkan SDM yang memahami proses bisnis, memiliki keterampilan yang sesuai, dan mampu menjalankan tanggung jawabnya secara konsisten.

Dalam konteks tersebut, Universitas Tazkia dapat menjadi salah satu ruang pembelajaran bagi generasi yang ingin memahami hubungan antara bisnis, ekonomi syariah, teknologi digital, kewirausahaan, dan ekosistem industri halal.

CEO 5.0 Dimulai dari Manusia yang Memahami Perannya

Transformasi digital bukan perlombaan untuk menggunakan aplikasi paling baru. Perusahaan yang lebih dahulu mengadopsi teknologi belum tentu lebih siap menghadapi perubahan apabila proses bisnis dan kompetensi manusianya belum memadai.

CEO perlu memahami keuangan, membaca informasi operasional, dan menilai risiko sebelum mengambil keputusan. Manajer perlu menerjemahkan arah perusahaan menjadi proses kerja yang terukur. Sementara itu, staf perlu menjalankan tugas dengan teliti, memahami alat yang digunakan, dan mengetahui dampak pekerjaannya terhadap tim lain.

Tidak semua orang harus menjadi ahli di bidang yang sama. Namun, setiap orang perlu memiliki kompetensi yang sesuai dengan tanggung jawabnya dan kesadaran bahwa hasil bisnis merupakan kerja bersama.

Pada akhirnya, CEO 5.0 bukan hanya tentang pemimpin yang mampu memanfaatkan teknologi. Konsep ini juga mengingatkan perusahaan untuk membangun organisasi yang mampu belajar, beradaptasi, dan mengambil keputusan berdasarkan pemahaman yang benar.

Teknologi dapat membantu perusahaan bergerak lebih cepat. Akan tetapi, arah perjalanannya tetap ditentukan oleh manusia yang memahami tujuan, angka, proses, dan tanggung jawabnya.

Sebab, sebelum perusahaan meningkatkan kecanggihan teknologinya, perusahaan perlu memastikan bahwa orang-orang di dalamnya mampu menggunakannya dengan benar.