Lompat ke isi
Sistem
Universitas Tazkia
Populer

Sudah Sejauh Mana Skill Digital Kita sebagai CEO dan SDM?

Teknologi Sudah Menjadi Bagian dari Pekerjaan. Bagaimana dengan Kemampuan Kita?

Universitas Tazkia Penulis
Sudah Sejauh Mana Skill Digital Kita sebagai CEO dan SDM?

Menggunakan spreadsheet untuk mencatat pekerjaan, WhatsApp Business untuk berkomunikasi dengan pelanggan, atau dashboard untuk memantau hasil penjualan mungkin sudah menjadi bagian dari rutinitas kerja. Kita tidak harus menjadi ahli teknologi untuk menggunakannya.

Namun, ada pertanyaan yang layak diajukan kepada diri sendiri: apakah kita hanya bisa menggunakan alat digital, atau sudah memahami bagaimana alat tersebut membantu pekerjaan kita?

Pertanyaan ini relevan bagi siapa pun, mulai dari CEO, manajer, staf pemasaran, bagian keuangan, hingga karyawan yang baru memulai karier.

Dalam Marketing 5.0, teknologi semakin terhubung dengan proses memahami pelanggan, membaca data, dan mengambil keputusan bisnis. Artinya, pembahasan tentang transformasi digital tidak cukup berhenti pada teknologi yang digunakan perusahaan. Kita juga perlu melihat kemampuan orang-orang yang menjalankannya.

Sebab, teknologi yang sama bisa memberikan hasil berbeda ketika digunakan oleh orang dengan tingkat pemahaman yang berbeda.

Bisa Menggunakan Spreadsheet Belum Tentu Memahami Data

Mari mulai dari alat yang cukup dekat dengan keseharian kita: spreadsheet.

Seseorang mungkin sudah terbiasa memasukkan data penjualan, membuat tabel, menggunakan rumus, dan menyusun grafik. Itu merupakan keterampilan yang berguna. Namun, kemampuan digital tidak berhenti pada penguasaan fitur.

Apakah kita memahami angka mana yang perlu diperhatikan? Bisakah kita menemukan perubahan dari data yang tersedia? Apakah kita mampu membedakan kenaikan omzet dengan peningkatan keuntungan?

Bagi staf pemasaran, kemampuan ini dapat membantu mengevaluasi kampanye dan memahami perilaku pelanggan. Bagi bagian keuangan, kemampuan mengolah data perlu berjalan bersama pemahaman akuntansi agar angka yang disajikan memiliki arti yang tepat. Bagi CEO, data tersebut menjadi salah satu dasar untuk menentukan arah bisnis.

Hal serupa berlaku untuk WhatsApp Business. Menggunakan aplikasi tersebut untuk membalas pesan pelanggan merupakan langkah awal. Mengelola percakapan, memahami pertanyaan yang sering muncul, mencatat tindak lanjut, dan mengevaluasi proses penjualan merupakan tingkat pemanfaatan yang lebih jauh.

Dengan demikian, evaluasi skill digital sebaiknya tidak hanya menanyakan aplikasi apa yang kita kuasai. Pertanyaan yang lebih penting adalah masalah apa yang bisa kita selesaikan menggunakan aplikasi tersebut.

CEO Juga Perlu Mengevaluasi Kemampuan Dirinya

Seorang CEO memang tidak harus menjadi programmer, analis data, dan akuntan sekaligus. Setiap perusahaan dapat memiliki tenaga ahli untuk menjalankan fungsi-fungsi tersebut.

Namun, pemimpin bisnis tetap perlu memahami dasar dari informasi yang digunakan untuk mengambil keputusan.

Ketika menerima laporan keuangan, misalnya, apakah kita memahami perbedaan antara pendapatan, laba, dan arus kas? Ketika melihat peningkatan penjualan, apakah kita juga memeriksa biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkannya? Ketika tim mengusulkan penggunaan teknologi baru, apakah kita mampu menilai kebutuhan, biaya, risiko, dan manfaatnya?

Pemahaman terhadap buku besar dan laporan keuangan membantu CEO melihat bagaimana transaksi bisnis tercatat. Sementara itu, literasi digital membantu CEO menilai bagaimana informasi dikumpulkan, diolah, dan digunakan.

Keduanya saling melengkapi. Data digital tanpa pemahaman bisnis dapat menghasilkan keputusan yang kurang tepat. Sebaliknya, pengalaman bisnis tanpa kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi dapat membatasi peluang perbaikan.

CEO tidak perlu mengerjakan seluruh pekerjaan teknis sendiri. Namun, ia perlu cukup memahami prosesnya untuk mengajukan pertanyaan yang benar, mengevaluasi hasil kerja tim, dan menentukan kapan perusahaan membutuhkan keahlian tambahan.

Bagi SDM, Skill Digital Bukan Hanya Urusan Tim IT

Evaluasi yang sama perlu dilakukan oleh setiap karyawan.

Staf pemasaran dapat menilai kemampuannya dalam membaca performa kampanye, memahami data pelanggan, dan menggunakan alat digital untuk mengevaluasi hasil kerja. Staf administrasi dapat memeriksa ketelitian pencatatan, pengelolaan dokumen, dan konsistensi data. Staf keuangan dapat mengevaluasi kemampuan menggunakan perangkat lunak akuntansi sekaligus memahami prinsip dasar pencatatan transaksi.

Bahkan, karyawan entry-level perlu mulai memahami hubungan antara tugas sehari-hari dan tujuan pekerjaan yang lebih besar.

Menginput data bukan sekadar menyelesaikan kolom kosong. Data yang akurat membantu bagian lain bekerja dengan benar. Menangani pesan pelanggan bukan hanya menjawab pertanyaan, tetapi juga dapat menjadi sumber informasi tentang kebutuhan dan kendala pelanggan.

Artinya, setiap posisi memiliki kesempatan untuk meningkatkan kemampuan digital sesuai tanggung jawabnya.

Kita tidak harus menguasai semua aplikasi yang tersedia. Akan lebih bermanfaat apabila kita menguasai alat yang benar-benar relevan dengan pekerjaan, memahami hasil yang dihasilkan, dan mengetahui batas kemampuan kita sendiri.

Tidak Perlu Menguasai Semua Teknologi Sekaligus

Perkembangan teknologi sering membuat daftar keterampilan yang perlu dipelajari terasa tidak ada habisnya. Hari ini kita mendengar tentang AI, besok tentang otomatisasi, kemudian muncul perangkat analitik dan berbagai platform baru.

Namun, tidak semua teknologi harus dipelajari sekaligus.

Langkah yang lebih realistis adalah memulai dari kebutuhan pekerjaan saat ini. Jika pekerjaan banyak melibatkan pencatatan, tingkatkan kemampuan mengolah dan memeriksa data. Jika pekerjaan berkaitan dengan pelanggan, pelajari cara mengelola informasi pelanggan secara bertanggung jawab. Jika tanggung jawab kita berkaitan dengan keputusan bisnis, perkuat pemahaman terhadap indikator kinerja dan dasar-dasar keuangan.

AI juga dapat menjadi alat bantu untuk merangkum informasi, menyusun ide, atau mempercepat pekerjaan tertentu. Meski demikian, hasilnya tetap perlu diperiksa. Informasi yang keliru, data yang tidak lengkap, dan instruksi yang kurang tepat dapat menghasilkan keluaran yang tidak sesuai kebutuhan.

Tujuannya bukan menjadi orang yang menggunakan teknologi paling banyak. Tujuannya adalah menjadi orang yang mampu memilih dan menggunakan teknologi secara tepat.

Setelah memahami kebutuhan pekerjaan, kita dapat mulai mengevaluasi kemampuan digital secara sederhana.

Pertama, identifikasi alat yang digunakan setiap hari. Catat apakah kita hanya menguasai fungsi dasar atau sudah dapat menggunakannya untuk menganalisis masalah dan meningkatkan kualitas pekerjaan.

Kedua, periksa kemampuan memahami data. Apakah kita dapat menjelaskan arti angka yang disajikan, mengenali ketidaksesuaian, dan menarik kesimpulan yang masuk akal?

Ketiga, evaluasi pemahaman bisnis. Apakah kita mengetahui bagaimana pekerjaan kita memengaruhi biaya, pendapatan, kepuasan pelanggan, atau kinerja tim lain?

Keempat, tentukan satu atau dua kemampuan yang perlu ditingkatkan. Pilih keterampilan yang paling relevan dan dapat langsung diterapkan, daripada mencoba mempelajari terlalu banyak hal tanpa arah.

Terakhir, ukur hasilnya. Peningkatan kemampuan seharusnya terlihat dalam pekerjaan, misalnya pencatatan yang lebih akurat, laporan yang lebih mudah dipahami, waktu pengerjaan yang lebih efisien, atau keputusan yang lebih terukur.

Pendekatan ini membuat pengembangan diri lebih konkret. Kita tidak hanya merasa semakin digital, tetapi dapat menunjukkan perubahan dalam cara bekerja.

Marketing 5.0 Tetap Membutuhkan Manusia yang Terus Belajar

Marketing 5.0 menempatkan teknologi sebagai bagian dari upaya memahami dan melayani pelanggan dengan lebih baik. Akan tetapi, kemampuan tersebut tidak hanya bergantung pada sistem yang dimiliki perusahaan. Kompetensi manusia yang merancang, menjalankan, dan mengevaluasi sistem juga berperan penting.

Bagi CEO, ini berarti terus memperbarui pemahaman tentang bisnis, keuangan, data, dan teknologi. Bagi manajer, ini berarti mampu menerjemahkan strategi menjadi proses kerja yang efektif. Bagi staf, ini berarti mengembangkan keterampilan yang relevan, menjaga kualitas pekerjaan, dan memahami kontribusi masing-masing terhadap tujuan organisasi.

Kita tidak perlu merasa tertinggal hanya karena belum menguasai semua teknologi terbaru. Yang lebih penting adalah mengenali kemampuan yang sudah dimiliki, memahami kekurangannya, dan mengambil langkah pengembangan yang masuk akal.

Pada akhirnya, pertanyaan tentang Marketing 5.0 bukan hanya apakah perusahaan kita sudah menggunakan teknologi digital. Pertanyaan itu juga berlaku bagi diri kita sendiri: apakah kemampuan kita sudah berkembang seiring dengan perubahan cara kerja?

Sebab, transformasi digital yang berkelanjutan tidak hanya dibangun melalui investasi teknologi, tetapi juga melalui manusia yang bersedia belajar, mengevaluasi diri, dan meningkatkan kompetensinya secara konsisten.