Lompat ke isi
Sistem
Universitas Tazkia
Populer

Dari Kebun hingga Kolam Lele, Bisakah Marketing 5.0 Membantu UMKM Tumbuh menjadi Smart Business?

Teknologi tidak harus mahal untuk membawa perubahan. Bagi petani, peternak, dan pembudidaya ikan, memahami kebutuhan pasar bisa menjadi langkah pertama membangun bisnis yang lebih berkelanjutan.

Universitas Tazkia Penulis
Dari Kebun hingga Kolam Lele, Bisakah Marketing 5.0 Membantu UMKM Tumbuh menjadi Smart Business?

Ketika mendengar istilah artificial intelligence (AI), sensor pintar, atau transformasi digital, sebagian orang mungkin langsung membayangkan perusahaan besar dengan modal miliaran rupiah. Padahal, prinsip pemasaran berbasis teknologi juga dapat diterapkan pada usaha yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari kebun sayur hingga kolam lele.

Inilah salah satu gagasan penting dalam Marketing 5.0 karya Philip Kotler, Hermawan Kartajaya, dan Iwan Setiawan. Teknologi seharusnya membantu manusia memahami kebutuhan pelanggan dan membuat keputusan yang lebih baik, bukan sekadar menjadi alat canggih yang menambah biaya usaha.

Mulai dari pertanyaan sederhana: siapa yang akan membeli?

Bayangkan seorang pengusaha baru yang ingin membudidayakan lele. Ia sudah memiliki kolam dan mengetahui cara memberi pakan. Namun, ada satu pertanyaan yang belum terjawab: siapa yang akan membeli hasil panennya?

Jika pertanyaan tersebut baru muncul ketika ikan siap dipanen, pengusaha bisa menghadapi masalah. Pembeli belum tersedia, harga jual tidak sesuai harapan, atau hasil panen harus dijual lebih cepat dengan margin yang lebih rendah.

Pendekatan Marketing 5.0 mengajak pengusaha memikirkan kebutuhan pelanggan sejak awal. Ia dapat berbicara dengan pemilik warung pecel lele, pedagang pasar, atau katering untuk mengetahui kebutuhan jumlah ikan, ukuran, frekuensi pembelian, dan cara pengiriman yang diinginkan.

Informasi sederhana tersebut kemudian dicatat. Dari sana, pengusaha bisa memperkirakan kebutuhan produksi dan menguji apakah peluang bisnisnya memang layak.

Tidak semua usaha membutuhkan sistem digital yang rumit. Catatan pembelian pakan, pertumbuhan ikan, kematian, hasil panen, dan harga jual sudah dapat menjadi dasar evaluasi.

Dengan spreadsheet sederhana, pengusaha bisa menghitung biaya produksi per kilogram. WhatsApp Business dapat membantu mengelola pesanan pelanggan, sedangkan pencatatan penjualan membantu memperkirakan kapan permintaan meningkat.

Jika usaha berkembang, barulah teknologi tambahan seperti sensor kualitas air atau pemberi pakan otomatis dipertimbangkan. Investasi dilakukan berdasarkan masalah yang benar-benar terjadi, bukan semata-mata karena teknologi tersebut sedang populer.

Prinsip yang sama berlaku untuk kebun sayur dan peternakan. Petani dapat mencatat tanaman yang paling diminati, sedangkan peternak dapat membandingkan biaya pakan dengan pertumbuhan ternak. Data tersebut membantu pelaku usaha mengambil keputusan yang lebih terukur.

Tidak semua daerah cocok untuk semua bisnis

Ide bisnis yang berhasil di satu tempat belum tentu memberikan hasil serupa di tempat lain.

Kebun sayur dekat kawasan permukiman mungkin memiliki akses pembeli yang baik, tetapi menghadapi biaya lahan yang tinggi. Peternakan memerlukan pertimbangan mengenai pakan, air, kesehatan hewan, dan pengelolaan limbah. Sementara itu, budidaya lele membutuhkan pengelolaan kualitas air serta perhitungan biaya pakan yang cermat.

Tambak memiliki tantangan berbeda, mulai dari kesesuaian lingkungan, infrastruktur, penyakit, hingga kebutuhan modal kerja.

Karena itu, calon pengusaha perlu memeriksa kondisi daerah, calon pembeli, pemasok, transportasi, dan biaya operasional sebelum berinvestasi. Survei sederhana kepada calon pelanggan dan uji coba produksi berskala kecil dapat membantu mengurangi ketidakpastian.

Salah satu kesalahan yang perlu dihindari adalah menghabiskan sebagian besar modal untuk membangun fasilitas atau membeli perangkat, sementara uang untuk menjalankan usaha belum mencukupi.

Pengusaha perlu memisahkan biaya pembangunan dari biaya operasional. Benih, pakan, listrik, upah, perawatan, distribusi, serta kebutuhan selama menunggu pembayaran pelanggan harus masuk dalam perhitungan.

Teknologi pun harus dinilai dengan prinsip yang sama. Jika alat baru tidak menghasilkan penghematan atau manfaat yang sebanding dengan biaya pembelian dan perawatannya, pengusaha sebaiknya menunda investasi tersebut.

Memulai dari skala kecil, mencatat hasil, mengevaluasi kekurangan, kemudian memperluas kapasitas ketika permintaan sudah terbukti merupakan pendekatan yang lebih berhati-hati.

Bagi Indonesia, pertanian, peternakan, dan perikanan juga memiliki hubungan dengan industri halal. Hasil produksi dapat menjadi bahan baku bagi usaha pengolahan makanan, restoran, katering, hingga distribusi pangan.

Peluang tersebut tidak berhenti pada penjualan produk. Pelaku usaha perlu memperhatikan kualitas, kebersihan, ketertelusuran, penanganan, dan pemenuhan persyaratan halal sesuai jenis produk serta proses bisnisnya.

Digitalisasi dapat membantu pencatatan bahan baku, persediaan, asal produk, dan distribusi. Namun, penggunaan teknologi tidak menggantikan kewajiban untuk memenuhi standar dan ketentuan halal yang berlaku.

Dengan pengelolaan yang baik, usaha kecil berpeluang menjadi bagian dari rantai pasok yang lebih luas dan terpercaya.

Marketing 5.0 mengajarkan bahwa teknologi akan lebih bermanfaat ketika dipadukan dengan pemahaman manusia, data yang relevan, dan kemampuan organisasi untuk beradaptasi.

Bagi calon pengusaha, langkah awalnya bukan selalu membangun aplikasi atau membeli mesin pintar. Langkah awalnya adalah memahami masalah pelanggan, menghitung biaya, menguji permintaan, dan mengukur hasil.

Universitas Tazkia memandang pengembangan bisnis sebagai bagian dari peluang membangun ekosistem industri halal yang lebih kuat. Melalui pembelajaran bisnis, kewirausahaan, dan pemahaman rantai nilai halal, calon entrepreneur dapat mempersiapkan diri untuk mengembangkan usaha yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan, tetapi juga pada tata kelola dan keberlanjutan.

Sebab, bisnis yang baik tidak dimulai dari teknologi yang paling mahal, melainkan dari masalah nyata yang dapat diselesaikan, pasar yang benar-benar membutuhkan, dan keputusan yang dibuat dengan perhitungan.