Filipina Melihat Halal sebagai Peluang Ekonomi
Pemerintah Filipina menempatkan industri halal bukan hanya sebagai sektor yang berkaitan dengan kebutuhan masyarakat Muslim, tetapi juga sebagai bagian dari peluang ekonomi yang lebih luas.
Special Assistant to the President Antonio Ernesto F. Lagdameo, Jr. menyoroti potensi industri halal dalam menciptakan lapangan kerja, memberdayakan UMKM dan masyarakat, menarik investasi, serta memperkuat posisi Filipina di pasar global.
“Inisiatif ini menyoroti peran vital industri Halal Filipina dalam menciptakan peluang ekonomi, memberdayakan UMKM dan masyarakat, menghasilkan lapangan kerja, menarik investasi, dan memperkuat kehadiran kita di pasar global.”
Pesan tersebut sejalan dengan Sekretaris NCMF Sabuddin N. Abdurahim, yang menekankan pentingnya mengubah potensi industri halal menjadi peluang nyata melalui kemitraan dan aksi bersama.
Menurutnya, pengembangan industri halal tidak berhenti pada pembahasan mengenai besarnya potensi pasar, tetapi perlu diterjemahkan menjadi manfaat konkret bagi bisnis, koperasi, produsen, dan masyarakat Filipina.
Sementara itu, Direktur BMEA Saleha Pangarungan Sacar menekankan pentingnya memastikan masyarakat Muslim Filipina tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi juga menjadi peserta aktif dan kontributor dalam pembangunan bangsa.
Dari Standardisasi hingga Perdagangan Global
Penguatan industri halal Filipina juga dibahas dari sisi standardisasi dan operasional.
Chairman/President Sertu International Nor Azwa Omar Jamli dan Associate Advisor Kazai Innovative Ideas Solution Mohamad Nordin Zainuddin membahas potensi kontaminasi pada produk dan fasilitas yang digunakan sehari-hari. Keduanya memperkenalkan Sertu sebagai protokol penyucian yang dapat diterapkan dalam industri, termasuk sektor perhotelan.
Sementara itu, Komisaris NCMF Mehol K. Sadain membahas tantangan yang dihadapi industri halal Filipina, khususnya terkait standar pemerintah dalam pengembangan industri halal.
Dari sektor perdagangan, Asisten Direktur Department of Trade and Industry Maria Cecilia Angela D. Labadan memaparkan strategi Filipina untuk meningkatkan pengakuan dan daya saing produk halal di pasar internasional.
Pembahasan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan industri halal membutuhkan ekosistem yang mencakup regulasi, standardisasi, produksi, perdagangan, hingga akses terhadap pasar global.
Keuangan dan Teknologi Jadi Bagian dari Ekosistem Halal
Pada sesi sore, pembahasan beralih pada aspek keuangan, sains, teknologi, serta pemberdayaan usaha mikro dan kecil.
Chief Executive Officer Al-Amanah Islamic Investment Bank Amenah F. Pangandaman menyoroti berbagai program yang membuka peluang bagi pengembangan industri halal, termasuk bagi sektor usaha kecil dan menengah.
“Sebagai warga Filipina, kita tidak boleh tertinggal karena besarnya potensi Halal dalam kontribusi ekonomi.”
Sementara itu, Undersecretary Department of Science and Technology Leah J. Buendia membahas pengembangan ekosistem halal berbasis sains dan teknologi. Minister of Science and Technology Bangsamoro Baileng S. Mantawil turut memberikan perhatian pada pengembangan usaha mikro dan kecil.
Dengan demikian, industri halal Filipina mulai dibangun melalui pendekatan yang lebih luas—tidak hanya melalui sertifikasi produk, tetapi juga dengan menghubungkan sektor keuangan, teknologi, perdagangan, dan pemberdayaan pelaku usaha.
Guru Besar Universitas Tazkia Bahas Peluang Investasi Halal
Perspektif mengenai perkembangan ekonomi halal global turut hadir dari Indonesia melalui Prof. Dr. Murniati Mukhlisin, Guru Besar Akuntansi Syariah Universitas Tazkia.
Dalam segmen investasi, Prof. Murniati hadir mewakili Sakinah Finance dan membahas tren pasar halal global serta peluang investasi yang berkembang di dalamnya.
Dalam pemaparannya, Prof. Murniati menyoroti posisi Indonesia dalam peta ekonomi halal dunia. Indonesia disebut saat ini menempati peringkat ketiga dunia berdasarkan total nilai transaksi.
Namun, menurutnya, melihat ekonomi halal tidak cukup hanya dari besarnya nilai transaksi. Hal yang juga penting adalah bagaimana modal tersebut mengalir dan memperkuat sektor-sektor yang menjadi fondasi ekonomi Islam.
“Uang mengalir ke tulang punggung ekonomi Islam, bukan hanya di permukaannya.”
Perspektif tersebut memperluas pemahaman mengenai ekonomi halal sebagai sebuah ekosistem yang mencakup keuangan syariah, investasi, produksi, perdagangan, teknologi, dan pemberdayaan masyarakat.
Kehadiran Prof. Murniati dalam forum internasional ini turut memperlihatkan bagaimana perspektif akademisi Indonesia dapat menjadi bagian dari diskusi mengenai pengembangan industri halal di tingkat regional.
Filipina dan Masa Depan Industri Halal Global
Philippine Halal Industry Summit 2026 memperlihatkan arah pengembangan industri halal Filipina yang semakin terintegrasi dengan agenda ekonomi nasional.
Dengan mendorong investasi, memperkuat UMKM, mengembangkan teknologi, membangun standar, dan memperluas perdagangan internasional, Filipina berupaya menangkap peluang dari pertumbuhan pasar halal global.
Di tengah perkembangan tersebut, keterlibatan akademisi dan praktisi dari Indonesia membuka ruang bagi pertukaran perspektif dan kolaborasi lintas negara dalam membangun ekosistem ekonomi halal yang lebih luas.
Bagi Universitas Tazkia, partisipasi Guru Besar dalam forum internasional seperti ini menjadi bagian dari kontribusi akademik dalam memperluas diskursus ekonomi syariah dan industri halal di tingkat global.
Sumber: Humas Sakinah Finance

