Dalam pemaparannya, Dr. Nurizal menekankan bahwa penelitian ekonomi Islam tidak dapat dilepaskan dari kajian terhadap turats atau khazanah intelektual klasik Islam. Menurutnya, turats bukan sekadar warisan sejarah, melainkan sumber konseptual yang relevan untuk menjawab berbagai tantangan ekonomi kontemporer.

Ia menjelaskan bahwa Islam sebagai ad-din merupakan way of life yang memandang kehidupan secara utuh. Berbeda dengan pendekatan yang berkembang dalam tradisi ekonomi modern yang cenderung memisahkan dimensi sosial, politik, dan ekonomi, Islam justru melihat ketiga aspek tersebut sebagai satu kesatuan yang saling berkaitan.

"Dalam Islam kita tidak bisa melihat hanya dari satu sisi. Tidak cukup hanya memahami fikih, tetapi juga perlu memahami dimensi etika, ekonomi, politik, hingga sejarah pemikiran Islam sebagai satu kesatuan yang utuh," jelasnya.

Dr. Nurizal juga mengutip pandangan M. K. Hermansen yang menyatakan bahwa ekonom Islam perlu meninjau kembali warisan intelektual klasik untuk menemukan konsepsi-konsepsi dasar ekonomi Islam yang telah dibangun para ulama terdahulu. Senada dengan itu, Monzer Kahf menegaskan bahwa pengalaman sejarah memiliki peran penting dalam membantu memahami premis dan postulat ekonomi Islam.

Menurutnya, seluruh bangunan pemikiran tersebut berakar pada konsep tauhid, sehingga penelitian ekonomi Islam seharusnya tidak berhenti pada aspek teknis semata, melainkan juga memahami fondasi filosofis yang melandasinya.

Dalam kesempatan tersebut, ia turut mengulas pemikiran Adam Smith dengan menempatkannya dalam konteks sejarah. Dr. Nurizal menjelaskan bahwa pandangan Smith mengenai agama dipengaruhi oleh pengalaman sosial dan sejarah pada masanya. Dari sana muncul dua tesis yang menarik untuk dikaji, yakni agama dapat menjadi penghambat dalam kondisi tertentu, namun pada saat yang sama juga mampu menjadi faktor yang mendorong kesejahteraan masyarakat.

Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya penguasaan teori ekonomi Barat bagi para peneliti ekonomi Islam.

"Kalau ingin mengkaji turats atau kitab-kitab klasik Islam, kita juga harus kuat dalam memahami teori-teori Barat." ungkapnya.

Menutup sesi diskusi, Dr. Nurizal menyampaikan pesan kepada para peserta bahwa perjalanan akademik maupun kehidupan tidak hanya membutuhkan kemampuan intelektual, tetapi juga kekuatan spiritual. Menurutnya, niat yang lurus, ikhtiar yang sungguh-sungguh, serta doa dan tawakal kepada Allah SWT merupakan fondasi utama dalam menempuh proses menuntut ilmu dan menghasilkan penelitian yang memberikan manfaat bagi umat.