
Dalam pemaparannya, Putri Anditasari menjelaskan bahwa kesehatan mental anak tidak hanya diukur dari ketiadaan gangguan psikologis, tetapi juga dari kemampuan anak mengenali emosi, membangun hubungan sosial yang sehat, beradaptasi dengan lingkungan, serta berkembang secara optimal sesuai tahap usianya. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, peran orang tua menjadi faktor utama dalam membentuk fondasi kesehatan mental anak.
Materi yang disampaikan juga mengulas berbagai tantangan yang dihadapi anak di era digital. Penggunaan gawai tanpa pendampingan dapat meningkatkan risiko kecanduan, paparan konten yang tidak sesuai usia, cyberbullying, hingga gangguan terhadap kualitas tidur, konsentrasi, dan perkembangan emosional anak. Oleh karena itu, literasi digital dalam keluarga menjadi bekal penting agar teknologi dapat dimanfaatkan secara positif.
Selain membahas tantangan tersebut, forum ini menjelaskan pentingnya pemberian akses digital yang disesuaikan dengan usia dan tahap perkembangan anak. Orang tua diharapkan mampu mendampingi anak saat menggunakan internet, mengenalkan etika bermedia digital, serta membangun kebiasaan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
Dalam sesi diskusi, dijelaskan bahwa perlindungan anak di ruang digital merupakan tanggung jawab bersama yang melibatkan keluarga, lembaga pendidikan, pemerintah, penyelenggara sistem elektronik, hingga masyarakat. Namun, keluarga tetap menjadi lingkungan pertama yang memiliki peran paling besar dalam membangun karakter, kebiasaan, dan ketahanan mental anak.
Putri Anditasari juga memaparkan beberapa langkah yang dapat diterapkan orang tua dalam kehidupan sehari-hari. Komunikasi yang hangat dan terbuka menjadi fondasi utama agar anak merasa aman untuk bercerita mengenai pengalaman maupun aktivitas digitalnya. Selain itu, orang tua perlu menjadi teladan (role model) dalam penggunaan teknologi karena perilaku anak banyak dipengaruhi oleh kebiasaan yang mereka lihat di rumah.
Tidak kalah penting, keluarga dianjurkan menyusun kesepakatan bersama mengenai penggunaan perangkat digital, seperti durasi penggunaan gawai, waktu bebas layar (screen-free time), hingga aturan penggunaan perangkat saat waktu makan maupun sebelum tidur. Pendekatan ini membantu membangun disiplin sekaligus tanggung jawab anak dalam memanfaatkan teknologi.
Sebagai bentuk pendampingan, orang tua juga didorong untuk mengenal aplikasi yang digunakan anak, memanfaatkan fitur parental control bila diperlukan, serta tetap memberikan ruang kepercayaan agar anak mampu belajar bertanggung jawab terhadap aktivitas digitalnya. Pendampingan yang seimbang dinilai lebih efektif dibandingkan pengawasan yang bersifat membatasi secara berlebihan.
Melalui Monday Forum Series #362 ini, LPPM Universitas Tazkia berharap peserta memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai pentingnya keterlibatan orang tua dalam menjaga kesehatan mental anak di era digital. Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari komitmen LPPM Universitas Tazkia dalam menghadirkan forum ilmiah yang membahas isu-isu aktual dan relevan sebagai kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan serta pengabdian kepada masyarakat.
