
Hal tersebut menjadi pembahasan utama dalam Monday Forum Series #361 bertajuk "Peran Guru, Mengubah Siswa Cerdas Menjadi Value-Creator dengan Bantuan AI" yang diselenggarakan oleh LPPM Universitas Tazkia bekerja sama dengan Uthoppia dan Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kota Bogor, Senin (20/7). Kegiatan ini menghadirkan Yusup Ngadimin, AI Tech Founder Uthoppia, Career Coach, sekaligus CTO as a Service (CTOaaS), dengan moderator Dr. Sutopo, M.P., Dekan Fakultas Pendidikan Universitas Tazkia.
Dalam pemaparannya, Yusup menjelaskan bahwa AI telah mengubah cara manusia belajar dan bekerja. Jika sebelumnya seseorang membutuhkan waktu lama untuk mencari informasi, kini AI mampu membantu menemukan data, merangkum informasi, hingga menghasilkan jawaban hanya dalam hitungan menit.
Namun, menurutnya, kemudahan tersebut bukan berarti manusia akan tergantikan.
"Jika AI dapat membantu kita berpikir lebih cepat, maka manusia harus menjadi lebih baik dalam memutuskan."
Ia menekankan bahwa kemampuan akademis tetap menjadi fondasi yang penting. Akan tetapi, di masa depan kepintaran saja bukan lagi menjadi pembeda utama kesuksesan seseorang.
"Kesuksesan bukan hanya tentang siapa yang paling pintar, tetapi siapa yang mampu menciptakan nilai lebih bagi orang lain melalui sesuatu yang tidak dapat dilakukan AI," ujarnya.
Yusup menjelaskan bahwa AI sangat unggul dalam pekerjaan yang bersifat ilmiah dan terstruktur, seperti mengingat informasi, mengikuti instruksi, menghasilkan jawaban yang benar, maupun menyelesaikan tugas administratif. Sebaliknya, kemampuan yang paling sulit digantikan AI justru merupakan kualitas yang melekat pada manusia, seperti empati, keberanian, kepemimpinan, tanggung jawab, imajinasi, serta kemampuan membangun hubungan antarmanusia.
Oleh karena itu, ia mengajak para pendidik untuk mulai menggeser fokus pembelajaran. Tidak hanya mengejar siswa yang memperoleh nilai akademik tinggi, tetapi juga membentuk karakter yang mampu menciptakan solusi, berkolaborasi, dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Dalam sesi tersebut, Yusup juga memperkenalkan lima karakter dasar yang menjadi fondasi dalam menciptakan nilai, yaitu Thinker, Creator, Manager, Guardian, dan Connector. Kelima peran tersebut dinilai akan semakin dibutuhkan di era AI karena mendorong seseorang untuk berpikir lebih dalam (think deeper), memahami manusia, serta menghasilkan inovasi yang relevan.
Ia juga menyoroti tren global yang mulai berkembang, seperti konsep One Person Company (OPC), di mana individu dapat membangun usaha yang lebih kecil, efisien, dan produktif dengan dukungan AI. Berbagai profesi di masa depan, menurutnya, akan semakin mengandalkan kolaborasi antara kemampuan manusia dan kecerdasan buatan. Misalnya, seorang lobbyist akan membutuhkan kemampuan sebagai Manager, Guardian, dan Connector yang diperkuat AI, sementara profesi seperti kurir pun dapat meningkatkan produktivitas melalui pengelolaan kerja yang didukung teknologi.
Menutup sesi, Yusup mengingatkan bahwa AI akan semakin mudah menghasilkan jawaban-jawaban standar. Karena itu, tantangan terbesar manusia bukan lagi sekadar menemukan jawaban, melainkan menghadirkan nilai kemanusiaan yang tidak dapat direplikasi oleh teknologi.
Melalui penyelenggaraan Monday Forum Series #361, Universitas Tazkia berharap para guru, dosen, dan praktisi pendidikan semakin siap menghadapi transformasi pendidikan di era AI. Teknologi bukan untuk menggantikan peran pendidik, tetapi menjadi alat yang membantu guru membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, melainkan juga mampu berpikir kritis, berkarakter, dan menciptakan nilai bagi masyarakat.
