Abrista kini menjabat Sekretaris Program Studi Doktor Ekonomi Syariah Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor. Di hadapan mahasiswa tingkat akhir Universitas Tazkia, ia menempatkan skripsi bukan sekadar syarat kelulusan, melainkan panggung pertama untuk membangun identitas akademik dan profesional.

"Skripsi adalah fase yang tepat untuk membangun personal branding. Karena itu, carilah topik yang benar-benar kita sukai agar prosesnya menyenangkan. Jangan tanamkan mindset bahwa topik yang kita pilih itu sulit," ujarnya.

Tantangan terbesar mahasiswa, kata Abrista, jarang terletak pada tingkat kesulitan penelitian. Justru cara berpikirlah yang lebih sering menjadi penghambat. Mahasiswa yang sejak awal memvonis skripsinya berat akan lebih dulu kalah sebelum menulis satu paragraf pun.

Ia juga menolak anggapan bahwa keberhasilan ditentukan kecerdasan semata. Yang jauh lebih menentukan, menurutnya, adalah kebiasaan yang dijaga secara konsisten.

"You don't need to be the smartest, but you need istiqamah, discipline, and du'a. Belajar tidak hanya di dalam kelas, tetapi bisa dari siapa saja, di mana saja, dan kapan saja," katanya.

Abrista memperkenalkan konsep small habits: kebiasaan sederhana yang dijalankan berulang. Efeknya baru terlihat dalam jangka panjang, tetapi hasilnya berlipat.

"The effect of small habits compounds over time. If you can get just one percent better each day, you will end up with results that are nearly 37 times better after one year," tuturnya.

Namun ia mengingatkan, produktivitas tanpa jeda bukanlah tanda ketangguhan. Rehat, bahkan sesekali tidak melakukan apa pun, adalah bagian wajar dari proses.

"Beristirahat setelah melakukan sesuatu itu penting. Melakukan 'nothing' sesekali adalah hal normal, dan self-reward tidak masalah sebagai apresiasi terhadap diri sendiri. Tapi jangan terlalu lama berhenti. Semakin lama menunda untuk memulai kembali, semakin sulit menemukan ritmenya," pesannya.

Sesi berlangsung interaktif. Pertanyaan peserta bergulir dari cara menjaga konsistensi menulis, mengatasi kejenuhan, hingga persiapan memasuki dunia kerja seusai wisuda.

Melalui Program Boarding Tugas Akhir, Universitas Tazkia berharap pendampingan yang diberikan tidak berhenti pada aspek akademik, tetapi turut membentuk mahasiswa yang disiplin, tangguh, dan siap bersaing di dunia profesional.