
Kajian tersebut dihadiri sekitar 50 peserta yang berasal dari komunitas Syiar Montreal dan Pengajian Muslim Indonesia Ottawa, dengan latar belakang profesional, pelaku usaha, hingga pelajar. Turut hadir istri Duta Besar Republik Indonesia untuk Kanada, Mariam Rahmania. Dalam sambutannya, Minister Counsellor KBRI Ottawa Rezak Akbar Nasrun menyampaikan apresiasi atas berbagai kegiatan positif masyarakat Indonesia di Kanada, termasuk penyelenggaraan kajian yang memperkuat pemahaman umat terhadap ekonomi Islam. Direktur Eksekutif Dompet Dhuafa USA, Sitti Sahro Locke, juga mengajak masyarakat untuk terus mendukung program kemanusiaan dan pembinaan keislaman bagi para mualaf.
Dalam pemaparannya, Prof. Murniati menjelaskan bahwa zakat tidak hanya memberikan manfaat bagi penerima, tetapi juga menjadi sarana penyucian harta dan jiwa bagi setiap muslim yang menunaikannya. "Bagian harta kita bukan 97,5 persen, tetapi 100 persen. Zakat bukanlah pengurang harta karena memang merupakan hak orang lain. Dampak terpentingnya adalah menghadirkan keberkahan dan ketenangan dalam kehidupan," ungkapnya. Pesan tersebut mendapat perhatian besar dari para peserta yang antusias mengikuti diskusi mengenai pengelolaan keuangan syariah.

Usai mengisi kajian di Ottawa, Prof. Murniati dijadwalkan melanjutkan rangkaian halaqah ke sejumlah kota di Kanada dan Amerika Serikat, di antaranya Montreal, Kingston, Toronto, Chicago, New York, Washington DC, Florida, dan Baltimore. Selain memberikan kajian, Guru Besar Akuntansi Syariah Universitas Tazkia tersebut juga akan berpartisipasi dalam penyelenggaraan International Islamic Economics and Finance Conference for Sustainable Development (IFESDC) 2026 yang akan digelar di Bank Dunia, Washington DC, bersama IMAAM, Universitas Tazkia, Sakinah Finance, dan EDS16. Kiprah ini menjadi wujud kontribusi Universitas Tazkia dalam memperluas pengembangan ilmu ekonomi dan keuangan syariah di tingkat internasional.
Sumber: Sakinah Finance.
