Acara dibuka oleh Dekan Faculty of Islamic Economics and Business Wiku Suryomurti. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting dalam membentuk generasi yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan ekonomi Islam. “We must produce thinkers, policy makers,” ujarnya, menekankan bahwa dunia akademik tidak hanya melahirkan lulusan, tetapi juga pemikir dan pengambil kebijakan yang mampu membentuk arah perkembangan industri keuangan syariah di masa depan.

Sesi utama disampaikan oleh Ryan Calder, penulis buku The Paradox of Islamic Finance. Dalam paparannya, ia menggambarkan pentingnya peran para akademisi dan ulama dalam menjaga arah perkembangan Islamic finance. Ia mengibaratkan peran para sarjana sebagai elemen penting yang memberi karakter dalam sebuah sistem. “Like yeast in bread, the scholars are a special ingredient,” ungkapnya, menegaskan bahwa keberadaan para ilmuwan dan pemikir menjadi unsur yang menentukan dalam menjaga nilai dan integritas keuangan syariah.

Diskusi akademik dalam forum ini juga diperkuat oleh pandangan dari Guru Besar Akuntansi Syariah Murniati Mukhlisin dari Universitas Tazkia. Dalam sesi diskusi, ia menegaskan bahwa pengembangan Islamic finance adalah perjalanan panjang yang harus terus dilanjutkan oleh generasi berikutnya. “We still have to carry on the Islamic finance,” ujarnya, menegaskan pentingnya kesinambungan riset, pendidikan, dan praktik dalam membangun industri keuangan syariah yang lebih kuat di masa depan.

Pandangan reflektif juga disampaikan oleh dosen ekonomi syariah Ries Wulandari yang menekankan pentingnya perspektif global dalam perkembangan keilmuan. Ia menyampaikan bahwa keterbukaan terhadap pandangan dari luar dapat menjadi sarana refleksi bagi pengembangan keilmuan di dalam negeri. “Sometimes we need mirror from others,” ungkapnya, merujuk pada pentingnya dialog internasional dalam memperkaya diskursus akademik.

Diskusi ini dipandu oleh moderator Putri Syifa Amalia yang merupakan Koordinator Program Studi Akuntansi Syariah di Universitas Tazkia. Kegiatan yang terbuka untuk umum ini dihadiri oleh mahasiswa, dosen, serta peserta yang tertarik pada perkembangan ekonomi dan keuangan syariah global.

Melalui kegiatan ini, Universitas Tazkia menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan ruang diskusi akademik bertaraf internasional yang relevan dengan tantangan industri keuangan masa depan. Diskusi mengenai paradoks Islamic finance tidak hanya menjadi refleksi akademik, tetapi juga pengingat bahwa Indonesia membutuhkan lebih banyak insan keuangan yang tidak hanya kompeten secara profesional, tetapi juga jujur, berintegritas, dan memiliki pemahaman kuat terhadap prinsip-prinsip syariah. Melalui forum seperti ini, Universitas Tazkia berharap dapat mendorong lahirnya generasi pemikir, praktisi, dan pembuat kebijakan yang mampu membawa perkembangan Islamic finance menuju masa depan yang lebih berkelanjutan hingga tahun 2046.
