
Kunjungan ini bukan sekadar wisata sejarah. Di ruang-ruang yang menampilkan arsip, foto, dan artefak perjalanan para presiden, mahasiswa diajak menyadari bahwa sejarah adalah memori kolektif bangsa yang tidak boleh terputus oleh zaman. Di tempat inilah mereka kembali diingatkan pada pesan legendaris Soekarno: “Jas Merah - Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah.”
Bagi mahasiswa Tadris IPS, museum menjadi ruang belajar yang konkret. Narasi sejarah yang selama ini hanya hadir di buku atau ruang kelas, kini dapat dilihat melalui dokumen, visual, dan cerita yang merekam perjalanan bangsa. Sementara bagi mahasiswa KPI, kunjungan ini membuka perspektif tentang bagaimana sejarah dikisahkan, dibingkai, dan dikomunikasikan kepada publik.
Diskusi dan pertanyaan kritis pun muncul di antara mahasiswa. Mereka menyoroti bagaimana peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah Indonesia dipresentasikan kepada generasi muda, bagaimana narasi kepemimpinan dibangun, serta bagaimana sejarah dapat menjadi sumber refleksi untuk masa depan bangsa.
Kunjungan ini menunjukkan bahwa belajar sejarah tidak hanya tentang menghafal tanggal atau nama tokoh. tapi juga belajar bagaimana rangkaian peristiwa di masa lalu. Di tengah arus informasi yang begitu cepat, pesan “Jas Merah” terasa semakin relevan. Mengingat sejarah bukan berarti terjebak pada masa lalu, melainkan menjadikannya sebagai kompas untuk memahami perjalanan bangsa dan menentukan arah ke depan. Jadi kritis bisa pada tempatnya.

Sejalan dengan semangat tersebut, pesan dari B. J. Habibie terasa semakin relevan bagi generasi muda. Ia pernah mengatakan bahwa masa depan bangsa tidak ditentukan oleh kekayaan sumber daya alam, baik yang terbarukan maupun tidak, tetapi oleh kualitas sumber daya manusianya. Pandangan ini menegaskan bahwa pendidikan, pemikiran kritis, dan kesadaran sejarah menjadi fondasi penting bagi kemajuan sebuah bangsa.
