Smart Financial Habit For Gen Z with Bank Syariah Indonesia

Acara diawali dengan Murottal Al Qur'an dari Mahasiswa Universitas Tazkia Yaitu Nabil Ali , dan acara dipandu oleh MC yang juga mahasiswa Universitas Tazkia Arya Satria Wiguna dari pemuda bicara.

MC Pembaca Al Quran 2

Mengatasi Jebakan FOMO dan Check Out Therapy

Dalam sesi Opening Speech, Prof. Syafii Antonio menyoroti permasalahan utama Gen Z, yaitu FOMO (Fear of Missing Out) dan bahaya Check Out Therapy. Menurut beliau, Gen Z cenderung ikut-ikutan dalam hal yang bersifat show off, seperti trading tanpa perencanaan, namun enggan FOMO dalam hal positif, seperti mengejar beasiswa.

"Lebih berbahaya adalah Check Out Therapy. Gen Z tidak paham muamalah halal/haram ketika ada yang temen ikut dia ikut juga," tegas Prof. Syafii.

Untuk membimbing Gen Z memiliki keuangan yang barokah, Prof. Syafii menekankan tiga saran utama:

  1. Knowledge and Literation: Pentingnya edukasi bahwa keberkahan (Barokah) ada di Syariah. Generasi muda didorong untuk tidak bersikap tamak (serakah).

  2. Financial Planning: Sekaya apapun, uang akan habis jika tidak diinvestasikan. Gen Z harus memiliki alokasi jelas untuk dana darurat dan investasi. “Your lifestyle define your savement,” ujarnya, mengingatkan bahwa gaya hidup boros adalah musuh utama menabung.

  3. Mengurangi Konsumsi: Islam mengajarkan berakit-rakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Kesuksesan memerlukan kesabaran dan proses. Baik sebagai profesional maupun wirausahawan, sikap irit dan memupuk deposit serta aset adalah kunci, tanpa melupakan bekal untuk Yaumil Mahsyar (hari akhir).

Deden Durachman BSI

Acara dilanjutkan dengan Kuliah Umum oleh Bapak Deden Durachman, Regional CEO BSI Jakarta 2, yang membawakan materi utama. Beliau memaparkan capaian BSI sebagai bank Syariah terbesar di Indonesia.

  • Pencapaian Signifikan: BSI kini memiliki aset yang menyentuh angka triliunan dan berada di nominasi keenam perbankan nasional, serta peringkat kelima bank dengan persebaran terluas di seluruh Indonesia.

  • Peran Vital: BSI berperan sebagai pihak ketiga yang mendorong pertumbuhan perekonomian nasional, dengan tanggung jawab besar seiring dengan besarnya aset yang mencapai Rp 417 triliun.

  • Daya Tahan Krisis: Bapak Deden juga menjelaskan bahwa lahirnya bank Syariah tidak terlepas dari krisis tahun 1998, yang mengajarkan pentingnya daya tahan ekonomi. Menariknya, saat krisis global, saldo nasabah besar (Rp 1M ke atas) justru meningkat, menunjukkan adanya perilaku menahan konsumsi yang cerdas.

Beliau menekankan bahwa Gen Z harus mulai menyiapkan masa retirement agar hidup sejahtera di masa depan. Universitas Tazkia diharapkan dapat menjadi motor penggerak untuk mendorong pemahaman dan praktik keuangan secara Syariah.

Sinergi antara BSI dan Tazkia melalui edukasi keuangan Syariah ini diharapkan dapat melahirkan generasi muda yang tidak hanya sukses secara materi tetapi juga mendapatkan keberkahan. Dengan pengelolaan keuangan yang cerdas, terencana, dan sesuai prinsip muamalah, Gen Z dapat menjadi agen perubahan yang mewujudkan masa depan Indonesia yang pamungkas.