Menghidupkan Resolusi Jihad: Jejak 3 Alumni Tazkia Menguatkan Negeri
Jihad tidak selalu berarti mengangkat senjata di medan perang. Di zaman sekarang, jihad juga hadir melalui ilmu yang diamalkan, dakwah yang mencerahkan, serta usaha yang membawa manfaat bagi umat. Semangat inilah yang tecermin dalam kiprah tiga alumni Universitas Tazkia dalam memperkuat masyarakat dan berkontribusi bagi negeri, sejalan dengan semangat Hari Santri Nasional 2026.
Biro Humas Universitas Tazkia
Setiap 22 Oktober, kita mengenang Resolusi Jihad yang dicetuskan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari pada 1945, yaitu seruan bahwa membela tanah air adalah kewajiban agama. Hari Santri Nasional tahun ini mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”. Pertanyaannya, bagaimana semangat itu diterapkan di zaman sekarang?
Medan juangnya memang telah berubah. Dulu jihad berarti mempertahankan kemerdekaan dengan keberanian fisik. Kini ia hadir sebagai jihad ilmu: bersungguh-sungguh menuntut ilmu, lalu mengamalkannya untuk kemaslahatan umat. Wujudnya bisa kita lihat pada tiga alumni Tazkia yang berkiprah di bidang berbeda, tetapi digerakkan oleh semangat yang sama.
Kiprah alumni yang bernama Dimas Mukhlas al Ghifary, alumni angkatan 15 Universitas Tazkia yang kini menjabat sebagai Direktur Operasional Baitul Mal Pupuk Kujang. Lembaganya menghimpun zakat, infak, dan sedekah untuk membantu masyarakat sekitar yang membutuhkan, dan tantangan terbesarnya adalah menyalurkan dana itu secara transparan, profesional, dan amanah.
Di sinilah bekal kuliahnya terasa. Ilmu dan pengalaman selama di kampus membantunya menata kelola keuangan lembaga zakat. Resepnya sederhana: menjaga komunikasi, bekerja profesional, dan transparan kepada semua pihak. Kepada siapa pun yang ingin terjun ke dunia sosial, ia berpesan agar tidak patah semangat dan meluruskan niat.
Namun amanah tidak hanya soal mengelola harta. Ada amanah lain yang tak kalah besar, yaitu menyampaikan ilmu kepada umat.
Kemudian Ustaz Hilman Fauzi, seorang da'i sekaligus pendiri dari gerakan kajian Menata Hati, Ia menyampaikan Ilmu dengan Bahasa yang yang mudah diterima masyarakat.
Amanah itulah yang diemban Ustaz Hilman Fauzi, alumni angkatan 8 Universitas Tazkia. Dai muda berlatar pendidikan ekonomi syariah ini berdakwah dari majelis ke majelis, dan juga lewat media sosial dan televisi. Latar keilmuannya menjadi kekuatan: ia dapat membawa pemahaman ekonomi syariah ke mimbar dan layar, sehingga pesan keislaman sampai dengan bahasa yang akrab bagi audiens yang lebih luas.
Jika Dimas menjaga ilmu lewat tata kelola, Ustaz Hilman menyebarkannya lewat dakwah. Lalu bagaimana jika ilmu itu diwujudkan dalam usaha yang langsung menghidupi lembaga pendidikan umat?
Jawabannya ada pada alumni kita Hidayatul Azkia, alumni angkatan 17 Universitas Tazkia yang sekarang membangun pengembangan kemandirian pesantren melalui usahanya di RA Signature. Ia menyisihkan 10 persen keuntungan usahanya untuk Pondok Pesantren Raudhatul Azhar di Lombok. Bagi Azkia, bisnis bukan sekadar mencari laba, melainkan jalan ikut menguatkan pesantren.
Pesantren itu pun bergerak menjawab kebutuhan zaman. Masyarakat datang bukan hanya untuk menimba ilmu agama, tetapi juga mencari solusi keuangan. Pesantren ini disebut menjadi pilot project program EPIKS (Ekosistem Pondok Pesantren Inklusif Keuangan Syariah) dari Otoritas Jasa Keuangan di Nusa Tenggara Barat. Maka lingkaran pun utuh: alumni kampus menguatkan pesantren lewat usahanya, sementara pesantren menguatkan masyarakat lewat layanan ilmu dan ekonomi.
Jika ditarik ke belakang, ketiga kisah ini bertemu pada tiga hal. Pertama, ilmu menjadi bekal pengabdian, bukan sekadar gelar. Kedua, adab dan amanah menjadi fondasi, entah saat mengelola zakat, berdakwah, atau berbisnis. Ketiga, manfaat harus sampai kepada masyarakat. Itulah makna “menguatkan negeri” yang sesungguhnya.
Dan akhirnya, Hari Santri bukan hanya milik mereka yang pernah mondok. Ia milik siapa pun yang meneruskan semangat pengabdian para pendahulu. Para alumni ini membuktikan bahwa lulusan kampus Islam bisa menguatkan negeri dari bidang apa pun, selama ilmunya diamalkan dan niatnya diluruskan.
Selamat Hari Santri Nasional 2026. Semoga kita semua menjadi generasi yang menguatkan negeri.