Lompat ke isi
Sistem
Universitas Tazkia
Populer

Belajar dari Insiden 11 Januari 2026, Fans Persib dan Persija Gaduh

Laga "El Clasico" Indonesia antara Persib Bandung melawan Persija Jakarta pada Minggu, 11 Januari 2026, seharusnya menjadi pesta sepak bola yang dinikmati dengan suka cita. Pertandingan yang dimenangkan Persib dengan skor 1-0 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) tersebut m...

Universitas Tazkia Penulis
·2 menit baca

Laga "El Clasico" Indonesia antara Persib Bandung melawan Persija Jakarta pada Minggu, 11 Januari 2026, seharusnya menjadi pesta sepak bola yang dinikmati dengan suka cita. Pertandingan yang dimenangkan Persib dengan skor 1-0 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) tersebut menyajikan tontonan menarik di lapangan hijau.

Sayangnya, noda hitam kembali muncul di luar lapangan. Berdasarkan laporan berita, gesekan antarsuporter pecah di wilayah Depok, Jawa Barat, usai acara nonton bareng (nobar). Pemicunya sepele: letusan petasan yang memancing emosi hingga berujung pada bentrokan fisik. Kejadian ini menjadi "alarm" keras bagi kita semua. Sampai kapan rivalitas harus dibayar dengan kekerasan?

Belajar dari Insiden 11 Januari 2026 Fans Persib dan Persija Gaduh
1. Rivalitas Hanya 90 Menit

Sepak bola adalah tentang hiburan dan kebanggaan, bukan permusuhan abadi. Filosofi "Rivalitas hanya 90 menit, selebihnya kita saudara" harus benar-benar dipraktikkan, bukan sekadar slogan di kaos. Di Depok kota yang menjadi perbatasan basis massa kedua kubu kedewasaan suporter disini sangat diuji.

2. Menghargai Hasil dengan Jiwa Besar (Sportif)

Dalam pertandingan 11 Januari lalu, Persib menang lewat gol cepat Beckham Putra. Bagi Bobotoh, rayakanlah dengan elegan tanpa provokasi berlebihan. Bagi The Jakmania, kekalahan memang pahit, namun respons beberapa Jakmania di media sosial yang tetap menyemangati tim tanpa anarkis patut diajungi jempol. Menerima kekalahan adalah ciri suporter berkelas.

3. Fokus pada Kreativitas, Bukan Anarki

Suporter Indonesia dikenal dunia karena koreografi dan nyanyiannya yang luar biasa. Energi yang meluap-luap sebaiknya disalurkan untuk membuat chant atau koreo kreatif saat nobar, bukan untuk menyalakan petasan yang mengganggu warga atau memancing keributan. Ingat, insiden di Depok bermula dari petasan yang tidak pada tempatnya.

4. Menjadi "Tuan Rumah" Nobar yang Baik

Kegiatan nobar di kafe atau lingkungan warga harus menghormati ketertiban umum. Jika nobar diadakan di wilayah netral atau wilayah lawan, suporter wajib menahan diri. Sikap saling menjaga inilah yang akan membuat masyarakat umum tidak lagi memandang negatif suporter bola.

5. Mencontoh Inisiatif Damai

Di tengah kabar buruk, ada kabar baik yang luput dari sorotan. Pada hari yang sama, Polres Bogor berhasil menggelar nobar yang dihadiri perwakilan kedua suporter dengan damai. Ini bukti nyata bahwa Bobotoh dan Jakmania bisa duduk berdampingan. Jika Bogor bisa, mengapa Depok, Jakarta, dan Bandung tidak?

Peristiwa 11 Januari 2026 di Depok harus menjadi pelajaran terakhir. Sepak bola tidak sebanding dengan nyawa atau luka fisik.