
Kegiatan menghadirkan Direktur Utama PT Bank Muamalat Indonesia Tbk, Dr. Ir. Imam Teguh Saptono, M.M., sebagai pembicara. Dalam kesempatan tersebut, Imam membahas perspektif ekonomi syariah dalam melihat tantangan pembangunan dan transformasi ekonomi Indonesia.
Rektor Universitas Tazkia, Prof. Dr. Muhammad Syafii Antonio, M.Ec., membuka sesi dengan menekankan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar kuliah umum, tetapi ruang untuk berdiskusi dan belajar bersama.
“Kita lebih banyak discussion hari ini, karena kita akan belajar dengan Imam Teguh Saptono,” ujar Syafii Antonio.
Pada kesempatan yang sama, Universitas Tazkia dan Bank Muamalat Indonesia juga menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) sebagai bagian dari penguatan kerja sama antara institusi pendidikan tinggi dan industri keuangan syariah. Kerja sama ini menjadi bagian dari upaya memperluas kolaborasi dalam pengembangan pendidikan, keilmuan, dan ekosistem ekonomi syariah.
Dalam pemaparannya, Imam Teguh Saptono mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara dimensi kauniyah dan qauliyah dalam memahami kehidupan dan pembangunan ekonomi.
“Jangan lupa kauniyah dan qauliyah-nya,” ungkap Imam. Ia mengibaratkan kehidupan seperti perjalanan kereta api yang memiliki tujuan. Manusia tidak hanya perlu memikirkan perjalanan di dunia, tetapi juga tujuan akhir yang menjadi orientasi kehidupannya.
Menurutnya, manusia juga tidak boleh meninggalkan bagian yang telah ditetapkan untuknya di dunia. Namun, kehidupan dunia perlu ditempatkan sebagai bagian dari perjalanan untuk memperoleh bekal menuju kehidupan akhirat.
Tidak Semua Utang dan Negara Dapat Dipandang Sama
Imam juga mengajak peserta untuk lebih kritis dalam melihat persoalan ekonomi. Salah satunya dengan tidak menyamakan karakter utang yang dimiliki pengusaha dengan utang yang dimiliki pekerja atau buruh.
Perbedaan konteks tersebut penting karena utang dapat memiliki fungsi dan konsekuensi ekonomi yang berbeda, bergantung pada siapa yang menggunakannya, untuk tujuan apa, serta bagaimana utang tersebut dikelola.
Hal serupa berlaku dalam melihat kondisi suatu negara. Imam mengingatkan agar tidak menyamakan negara yang ekonominya bertumpu pada konsumsi dengan negara yang sedang membangun infrastruktur dan kapasitas produktifnya.
Dengan demikian, indikator ekonomi perlu dibaca secara lebih menyeluruh dan tidak hanya berdasarkan satu ukuran.
Ekonomi Syariah untuk Transformasi Menuju Indonesia Emas 2045
Dalam konteks pembangunan nasional, Imam Teguh Saptono menempatkan ekonomi syariah sebagai salah satu bagian penting dalam perjalanan menuju Indonesia Emas 2045.
Ia menekankan pentingnya Maqashid-Based Economic Transformation, yaitu pendekatan transformasi ekonomi yang tidak berhenti pada pertumbuhan angka-angka ekonomi, tetapi mempertimbangkan tujuan dan kemaslahatan yang lebih luas.
Pendekatan tersebut diperlukan agar pembangunan ekonomi tidak hanya menghasilkan pertumbuhan, tetapi juga memperkuat stabilitas, daya saing, produktivitas, serta kesejahteraan masyarakat.
Bagi Universitas Tazkia, pembahasan ini sekaligus memperkuat peran pendidikan pascasarjana dalam menghadirkan ruang diskusi yang mempertemukan perspektif akademik, industri, dan kebijakan ekonomi.
Melalui Studium Generale tersebut, mahasiswa program magister dan doktoral Universitas Tazkia mendapatkan kesempatan untuk berdialog langsung dengan praktisi industri keuangan syariah mengenai tantangan dan arah transformasi ekonomi Indonesia.
