Dalam sesi Rektor, Prof. Dr. M. Syafii Antonio menekankan pentingnya inovasi kurikulum dan integrasi teknologi sebagai bagian dari penguatan ekosistem pendidikan Tazkia. Menurutnya, pendidikan perlu bergerak mengikuti perkembangan zaman dengan tetap mempertahankan fondasi keislaman.

Arah tersebut diwujudkan melalui pengembangan kurikulum hybrid yang mengintegrasikan syariah, teknologi, dan bisnis, serta penguatan program akademik seperti Double Degree dan Fast Track. Di sisi lain, Tazkia juga mendorong semangat kewirausahaan melalui pengembangan halalpreneurship dan ekosistem pendukung bagi mahasiswa maupun alumni.

Penguatan ekosistem tersebut turut diarahkan melalui Center of Applied Research sebagai ruang optimalisasi fungsi penelitian dan LPPM, serta pengembangan Startup Incubator dan Tazkia Halalpreneur Hub sebagai inkubator bisnis yang mendukung lahirnya entrepreneur di sektor halal.

“Jangan biarkan kita kehilangan nikmat langsung membaca, mengerti, membaca Al-Qur’an tanpa mengerti bahasa Arab,” ujar Prof. Dr. M. Syafii Antonio.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa transformasi pendidikan di Tazkia tidak hanya berorientasi pada penguasaan teknologi dan kebutuhan industri, tetapi tetap berangkat dari nilai dan identitas Islam. Modernisasi pendidikan ditempatkan sebagai sarana untuk memperluas kontribusi, bukan menggantikan fondasi keislaman.

Selain penguatan akademik dan kewirausahaan, Prof. Dr. M. Syafii Antonio juga menyoroti pentingnya kontribusi perguruan tinggi terhadap masyarakat melalui program pengabdian berbasis pemberdayaan. Literasi keuangan syariah juga didorong agar dapat memberikan kontribusi lebih luas bagi masyarakat dan mendukung penguatan ekosistem ekonomi syariah nasional.

Pada aspek globalisasi dan internasionalisasi, Tazkia terus memperkuat jaringan global serta program internasional berbahasa Inggris dan Arab. Penguatan kemampuan multibahasa bagi dosen menjadi bagian dari upaya mempersiapkan sivitas akademika untuk berinteraksi dan berkolaborasi dalam lingkungan akademik serta industri yang semakin global.

Sementara itu, penguatan hubungan dengan alumni diarahkan untuk membentuk role model di industri syariah sekaligus memperkuat dukungan terhadap pengembangan karier melalui Career Center yang lebih proaktif.

Memperkuat arah tersebut, Wakil Rektor I Universitas Tazkia, Dr. Nur Hendrasto, M.Si., menekankan kembali tujuan mendasar pendidikan melalui sebuah gagasan dari Sydney J. Harris bahwa “the whole purpose of education is to turn mirrors into windows.”

Pendidikan, dalam perspektif tersebut, tidak semestinya hanya membuat seseorang mampu memahami dirinya dan pengetahuannya sendiri. Pendidikan harus membuka jendela menuju dunia yang lebih luas mendorong seseorang untuk melihat persoalan, memahami kebutuhan masyarakat, dan menghasilkan kontribusi nyata.

Dalam konteks pengembangan akademik Tazkia, gagasan tersebut diterjemahkan melalui empat aspek utama, yaitu Vision, Academic Excellence, Academic Policy, dan Outcome.

Keempat aspek tersebut menjadi fondasi untuk memastikan bahwa proses pendidikan tidak berhenti pada pencapaian akademik, tetapi menghasilkan lulusan yang memiliki visi, kompetensi, karakter, dan kemampuan untuk memberikan dampak.

Semangat inilah yang menjadi inti dari Beyond Teaching. Dosen tidak hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem yang menghubungkan pembelajaran dengan penelitian, inovasi, industri, masyarakat, dan jejaring global.

Melalui penguatan kurikulum, riset terapan, halalpreneurship, internasionalisasi, pemberdayaan masyarakat, hingga pengembangan jejaring alumni, Universitas Tazkia menempatkan pendidikan sebagai instrumen untuk membangun ekosistem industri halal yang lebih kuat.

Dengan demikian, Beyond Teaching bukan sekadar tentang melampaui aktivitas mengajar, tetapi tentang bagaimana pendidikan mampu menginspirasi pikiran, membangun kompetensi, dan menggerakkan dampak nyata bagi ekosistem halal di tingkat nasional maupun global.