
Sekretaris Jendral WZWF, Datuk Dr. Mohd Ghazali Md Noor, sebagai keynote speaker, membuka paparannya dengan mengapresiasi capaian BAZNAS beserta Universitas Tazkia dalam membangun ekosistem zakat terbesar di dunia, mulai dari tingkat nasional hingga komunitas. Ia menyebut pencapaian ini bukan sekedar perluasan kelembagaan, melainkan cerminan kematangan tata kelola dan akuntabilitas publik di sektor zakat Indonesia. Dalam inti keynote-nya, Datuk Ghazali menegaskan tiga pilar tata kelola zakat masa depan yaitu transparansi, teknologi, dan kepercayaan, yang ia sebut sebagai “the three Ts”.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa ketiga prinsip tersebut tidak boleh dipahami semata sebagai instrumen administratif atau istilah tata kelola korporat semata. “Kesatuan sejati dari ketiganya ditemukan dalam takwa” tegasnya, seraya mengaitkan gagasan tersebut dengan kandungan awal Q.S Al Baqarah ayat 1-5 tentang sifat-sifat orang yang bertakwa. Tanpa ketakwaan, menurutnya, transparansi berisiko menjadi sekedar keterbukaan tanpa ketulusan, teknologi bisa menjelma efisiensi tanpa keadilan, dan trust hanya akan menjadi reputasi tanpa akuntabilitas yang sesungguhnya. Datuk Ghazali juga menempatkan zakat sebagai bagian dari apa yang ia sebut Universal Moral Economy, sebuah visi ekonomi yang mengintegrasikan dimensi spiritual, moral, sosial, dan ekonomi, sebagai penyeimbang dari ketimpangan yang ditimbulkan oleh pengejaran keuntungan tanpa batas.

Menginggung peran teknologi, Datuk Ghazali menekankan bahwa platform digital, artificial intelligence, dan sistem pembayaran terintegrasi memang memperkuat efisiensi pengumpulan, akurasi penyaluran, hingga pencegahan kecurangan. Namun ia juga mengingatkan “lembaga zakat yang digital belum tentu merupakan lembaga yang adil”. Artinya, keberhasilan teknologi terletak pada sejauh mana ia menjangkau kelompok yang selama ini terpinggirkan dan menjaga martabat serta privasi para mustahik, tekannya. Ia menutup paparannya dengan seruan penguatan kerja sama global antar lembaga zakat, regulator, universitas, ulama, dan penyedia teknologi, sekaligus mengingatkan ummat untuk mewaspadai ancaman baru berupa konsentrasi kekuasaan ekonomi dan teknologi yang berpotensi memperdalam ketimpangan di masa depan.
Lebih lanjut, sesi selanjutnya diisi oleh Direktur Inovasi dan Teknologi Informasi BAZNAS, Achmad Setio Adinugroho, S.SI, M.IT, yang memaparkan perjalanan transformasi digital Baznas dari tahun 2012 hingga target 2028. Ia menegaskan pergeseran dari model administrasi tradisional yang manual dan terfragmentasi menuju model ekosistem digital terintegrasi, berbasis data, dan transparan. Adinugroho juga memaparkan ekosistem digital BAZNAS telah bertumpu pada Pusat Data Zakat Nasional (SIMBA) yang mencakup sistem inti seperti SIMBA dan SUMKEU, layanan publik seperti Cinta Zakat dan Kantor Digital, hingga pencatatan berbasis komunitas melalui program Menara Masjid yang mampu menjangkau lebih dari 10.000 titik.

Adinugroho juga menampilkan data indeks penggunakan aplikasi SIMBA per provinsi tahun 2025, yang menunjukkan 17 provinsi (50%) di Indonesia berada pada kategori penggunaan tinggi, terutama di Jawa dan Kalimantan, sementara 6 Provinsi (17,6%), mayoritas di kawasan timur Indonesia seperti Papua dan Maluku, masih berada pada kategori penggunaan rendah dan menjadi fokus strategis pengembangan ke depan. Sebagai arah masa depan, BAZNAS memaparkan visi Super Apps, satu platform terintegrasi untuk mengelola seluruh siklus zakat, mulai dari pengumpulan hingga penyaluran dan pemberdayaan. Visi ini akan ditopang “Smart Zakat” yang memanfaatkan kecerdasan buatan, blockchain, Internet of Things, identitas digital, dan predictive analytics untuk mendukung pengambilan keputusan yang lebih cerdas dan intervensi sosial yang lebih proaktif. Adinugroho kembali menegaskan bahwa keberhasilan transformasi ini pada akhirnya bertumpu pada lima pilar penggerak, strategi, sumber daya manusia, proses, teknologi, dan tata kelola, yang secara bersama-sama diarahkan untuk menghasilkan satu tujuan akhir, yaitu social impact.
Di sesi terakhir, Dr. Grandis Imama Hendra, dari Universitas Tazkia memaparkan agenda ZAWOUNI sebagai program pendidikan zakat berskala global. Pada periode 2026, ZAWOUNI telah membuka pendaftaran Batch 1 untuk Advanced Class in Zakat Management dengan total 30 course hour yang mencakup materi penilaian harta zakat, manajemen pengumpulan dan penyaluran zakat, akuntansi zakat berstandar AAOIFI, hingga manajemen risiko zakat, yang akan dilaksanakan dengan format pembelajaran daring melalui sesi Live Zoom. Kelas tersebut menghadirkan pemateri dari berbagai kalangan berpengalaman baik itu dari akademisi, praktisi, ataupun regulator di bidang zakat, sehingga memperkuat sinergi antara forum diskusi tata kelola dengan penguatan kapasitas praktisi zakat secara berkelanjutan.
Menutup seminar, penting untuk seluruh pemangku kepentingan zakat untuk bergerak dari sekedar kepercayaan institusional menuju civilisational trust, kepercayaan bersama bahwa lembaga zakat mampu berkontribusi nyata bagi pembaruan ummah dan kemaslahatan secara luas. Harapannya, transparansi, teknologi, dan trust yang dilandari dengan takwa dapat menjadi instrumen pembebasan, keadilan, dan martabat manusia, bukan justru alat dominasi baru di era digital.
