
Dalam paparannya yang komprehensif, Gilang Saputro membongkar mitos bahwa logo sama dengan brand. "Banyak pengusaha yang berhenti di logo, padahal brand adalah keseluruhan persepsi, emosi, dan pengalaman konsumen terhadap produk atau jasa kita," jelasnya sembari menampilkan contoh-contoh brand ternama seperti Apple, Nike, dan Starbucks yang memiliki brand equity kuat.
Materi yang disampaikan mencakup tujuh tahapan profesional dalam pembuatan visual logo: Discover, Research, Brainstorm, Sketch, Design, Preset, dan Deliver – sebuah framework yang biasa digunakan oleh desainer profesional dalam mengembangkan identitas visual yang efektif.
Peserta juga diperkenalkan dengan berbagai tipe logo (abstract mark, mascot logo, combination mark, emblem logo, lettermark, pictorial mark, dan wordmark) serta rekomendasi font yang tepat untuk berbagai karakter brand, mulai dari Bebas Neue, Caviar Dreams, Coolvetica, hingga font-font sans serif yang clean dan modern.
Salah satu highlight webinar adalah pembahasan mendalam tentang psikologi warna dalam branding. "Pemilihan warna bukan sekadar soal estetika, tapi strategic decision yang mempengaruhi positioning brand di benak konsumen," tegas Gilang.
Materi advanced yang disampaikan mencakup konsep Brand Positioning – formula yang terdiri dari Market Kategori (Kolam) + UVP/Unique Value Proposition (Umpan) + Segmen (Jenis Ikan). Gilang menjelaskan bahwa positioning yang tepat akan membuat brand mudah dikenali, mudah dijual, imun terhadap kompetitor, dan tidak mudah bangkrut.
Peserta juga diajak memahami Brand Blueprint yang mencakup Rational Value dan Emotional Value, serta bagaimana membangun Brand Delivery dan Brand Equity yang konsisten untuk menciptakan loyalitas pelanggan jangka panjang.
"Empat alasan utama kenapa bisnis harus membangun brand: (1) Lebih mudah jualan, (2) Imun terhadap kompetitor, (3) Bisa dijual dengan valuasi tinggi, dan (4) Tidak mudah bangkrut," papar Gilang sembari memberikan contoh nyata dari pengalamannya membranding Chocolicious Indonesia dan Sweet Pudding Official yang kini memiliki puluhan ribu followers.
Gilang juga berbagi pengalamannya membangun personal brand melalui akun TikTok @santritoktok dan mengembangkan bisnis Santri Mandiri Store (@santrimandiristore), menunjukkan bagaimana konsistensi konten dan strategi branding yang tepat dapat menghasilkan revenue hingga 50 juta per bulan.
Mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual menunjukkan antusiasme luar biasa selama sesi berlangsung. Berbagai pertanyaan diajukan seputar tools design terbaik, strategi rebranding untuk UMKM, cara mencari inspirasi logo melalui platform seperti DesignInspiration.com, LogoSystem.com, dan LogoBook.com, hingga tips praktis menjadi content creator dengan income konsisten.
Fauzul Azmi Zen, S.E.I., M.E., selaku dosen pengampu mata kuliah, menyampaikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya webinar ini. "Materi yang dibawakan Mas Gilang sangat aplikatif dan relevan dengan kebutuhan industri kreatif saat ini. Mahasiswa tidak hanya belajar teori, tapi juga mendapat insight langsung dari praktisi yang sudah membuktikan kesuksesannya di lapangan – mulai dari membranding perusahaan besar seperti Chocolicious hingga membangun personal brand dan bisnis online sendiri. Ini sejalan dengan visi kami untuk menghasilkan lulusan DKV yang tidak hanya kreatif, tapi juga paham business branding dan mampu menjadi entrepreneur," ujarnya.
Kegiatan ini diharapkan menjadi momentum awal kolaborasi berkelanjutan antara Program Studi DKV Universitas Tazkia dengan para praktisi industri kreatif. Dengan memahami fundamental logo design, psikologi warna, brand positioning, hingga visual identity yang kuat, mahasiswa diharapkan mampu bersaing di industri kreatif dan bahkan membangun brand sendiri di masa depan.
"Kami berkomitmen untuk terus menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya teoritis, tapi juga praktis dan langsung applicable di dunia kerja maupun kewirausahaan mahasiswa. Hadirnya praktisi seperti Mas Gilang yang sukses di berbagai bidang – dari corporate branding hingga content creation dan e-commerce – memberikan inspirasi konkret bahwa skill DKV bisa dimonetisasi dengan berbagai cara," tutup Fauzul dalam sambutannya.
