Tapi coba bayangkan satu hal.

Kalau semua kegiatan itu berhenti hari ini, apa yang sebenarnya tersisa dari dirimu?

Bukan sertifikatnya.
Bukan jabatan organisasinya.
Bukan jumlah acara yang pernah diikuti.

Tetapi kemampuan, pengalaman, cara berpikir, dan karakter apa yang ikut tumbuh selama menjalaninya?

Pertanyaan ini penting karena sebuah pengalaman tidak selalu otomatis menjadi sebuah pembelajaran.

Jangan Hanya Mengumpulkan Aktivitas

Menjadi aktif di kampus tentu memiliki banyak manfaat. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kegiatan ekstrakurikuler dan pengalaman di luar kelas dapat membantu perkembangan kompetensi serta kesiapan mahasiswa menghadapi dunia kerja.

Namun, keterlibatan dalam banyak kegiatan saja belum tentu membuat seseorang mampu memahami atau menjelaskan kemampuan apa yang sebenarnya ia peroleh dari pengalaman tersebut.

Karena itu, mungkin kita perlu mengubah cara melihat aktivitas mahasiswa.

Jangan hanya bertanya:

“Sudah ikut kegiatan apa saja?”

Tetapi coba bertanya:

“Apa yang berubah dari diri saya setelah mengikuti kegiatan tersebut?”

Misalnya, pernah menjadi panitia sebuah acara.

Pengalamannya bukan hanya tentang pernah menjadi panitia.

Mungkin dari sana kita belajar mengatur waktu, bekerja dengan orang yang berbeda karakter, menyelesaikan masalah ketika rencana tidak berjalan, atau mengambil keputusan ketika waktu semakin terbatas.

Begitu juga dengan organisasi.

Menjadi ketua bukan hanya tentang memiliki jabatan.

Yang lebih penting adalah apakah kita belajar memimpin, mendengarkan, membagi tanggung jawab, menghadapi konflik, dan bertanggung jawab terhadap keputusan yang dibuat.

Begitu pula dengan magang.

Yang tersisa seharusnya bukan hanya nama perusahaan yang bisa ditulis di CV, tetapi pemahaman tentang bagaimana pekerjaan benar-benar dilakukan, bagaimana masalah diselesaikan, dan bagaimana ilmu yang dipelajari di kelas digunakan dalam situasi nyata.

Pengalaman Mulai Terasa Ketika Kita Menjadi Pekerja

Ada satu hal yang biasanya baru terasa setelah seseorang mulai bekerja.

Dunia kerja tidak terlalu peduli seberapa sibuk kita.

Yang lebih sering ditanyakan adalah:

“Apa yang bisa kamu kerjakan?”

“Masalah apa yang bisa kamu bantu selesaikan?”

“Bisa nggak pekerjaan ini selesai dengan baik?”

Di tempat kerja, seseorang mungkin tidak lagi mendapatkan apresiasi hanya karena mengikuti banyak kegiatan.

Yang dinilai adalah bagaimana ia bekerja.

Bagaimana ia menerima arahan.

Bagaimana ia berkomunikasi.

Bagaimana ia menghadapi deadline.

Bagaimana ia bekerja ketika keadaan tidak sesuai rencana.

Dan yang paling penting, apa yang bisa ia berikan kepada tim.

Di sinilah pengalaman selama menjadi mahasiswa mulai menemukan bentuknya.

Pengalaman menjadi panitia bisa berubah menjadi kemampuan mengelola pekerjaan.

Pengalaman berorganisasi bisa menjadi kemampuan memimpin dan berkolaborasi.

Pengalaman magang bisa menjadi pemahaman tentang ritme dan ekspektasi dunia kerja.

Bahkan pengalaman gagal menjalankan sebuah program bisa menjadi pelajaran tentang bagaimana membuat keputusan yang lebih baik di kesempatan berikutnya.

Karena ketika sudah bekerja, kita tidak selalu mendapatkan situasi yang ideal.

Brief bisa berubah.

Deadline bisa maju.

Rekan kerja bisa memiliki cara berpikir yang berbeda.

Klien bisa mengubah permintaan.

Atasan bisa memberikan instruksi yang belum sepenuhnya jelas.

Dan kadang, masalah muncul ketika kita sedang mengerjakan masalah yang lain.

Di situ, kemampuan yang kita bangun selama proses pendidikan benar-benar diuji.

Bukan lagi sekadar “pernah melakukan”, tetapi “mampu melakukannya ketika dibutuhkan.”

Pengalaman Perlu Diubah Menjadi Kemampuan

Karena itu, pengalaman tidak seharusnya berhenti sebagai daftar di CV.

Bukan hanya:

“Saya pernah menjadi anggota organisasi.”

Tetapi:

“Saya belajar bekerja dalam tim dan mengelola tanggung jawab dalam sebuah program.”

Bukan hanya:

“Saya pernah mengikuti magang.”

Tetapi:

“Saya belajar menyelesaikan masalah dalam situasi kerja nyata dan memahami bagaimana sebuah tim mencapai target.”

Bukan hanya:

“Saya pernah menjadi panitia acara.”

Tetapi:

“Saya belajar mengatur pekerjaan, berkomunikasi dengan banyak pihak, dan mengambil keputusan ketika terjadi perubahan.”

Bahkan sebagai pekerja pun, proses ini terus berlangsung.

Sebuah proyek selesai.
Sebuah campaign berakhir.
Sebuah pekerjaan diserahkan kepada klien.

Lalu apa?

Seorang pekerja yang berkembang tidak hanya melihat apakah pekerjaannya selesai, tetapi juga melihat apa yang bisa dipelajari dari proses tersebut.

Apa yang bisa dilakukan lebih cepat?

Apa yang bisa diperbaiki?

Kesalahan apa yang tidak perlu diulangi?

Kemampuan apa yang ternyata masih kurang?

Dan kontribusi apa yang bisa diberikan dengan lebih baik pada pekerjaan berikutnya?

Inilah mengapa refleksi tidak berhenti ketika seseorang lulus dari universitas.

Menjadi profesional juga berarti terus belajar dari pekerjaan yang kita lakukan.

Pada Akhirnya, Bukan Seberapa Banyak yang Pernah Dilakukan

Mungkin suatu hari nanti semua jabatan organisasi sudah selesai.

Sertifikat tidak lagi bertambah.

Nama kita tidak lagi tercantum dalam kepanitiaan.

Bahkan beberapa kegiatan yang dulu terasa sangat penting mungkin perlahan hanya menjadi bagian dari cerita.

Namun, ada sesuatu yang seharusnya tetap tinggal.

Cara kita bekerja.

Cara kita menghadapi masalah.

Cara kita berkomunikasi.

Cara kita mengambil keputusan.

Cara kita bekerja bersama orang lain.

Dan cara kita menggunakan ilmu yang dimiliki untuk memberikan manfaat.

Karena pada akhirnya, pendidikan bukan sekadar tentang berapa banyak aktivitas yang berhasil kita selesaikan.

Dan dunia kerja pun bukan sekadar tentang berapa panjang pengalaman yang bisa kita tuliskan.

Keduanya bertemu pada satu hal:

apa yang tumbuh dari setiap proses yang kita jalani.

Maka mungkin pertanyaan yang lebih penting bagi mahasiswa bukan:

“Apa saja yang sudah saya lakukan?”

Melainkan:

“Apa yang menjadi lebih baik dalam diri saya setelah melakukan semuanya?”

Sebab ketika kegiatan berhenti, jabatan berganti, masa kuliah selesai, bahkan ketika suatu hari kita berpindah pekerjaan, yang akan kita bawa bukan seluruh aktivitas yang pernah kita jalani.

Kita membawa apa yang telah kita pelajari darinya.

Dan mungkin, itulah salah satu ukuran sederhana dari sebuah pendidikan:

Bukan hanya membuat seseorang siap bekerja, tetapi membuatnya terus bertumbuh ketika sudah bekerja.

Bukan sekadar pernah melakukan sesuatu.
Tetapi menjadi seseorang karena pernah menjalaninya.

Baca artikel yang lain : Mahasiswa itu Sibuk, Tapi Sebenarnya Mau ke Mana?!

Oleh: Muhammad Ridha Mubarak