Kampus Ajarkan Ilmu Tapi Lupa Akhlak Maraknya Pelecehan Seksual di Kampus

Kasus percakapan vulgar dalam grup mahasiswa Fakultas Hukum di Universitas Indonesia, dugaan pelecehan oleh profesor di Universitas Padjadjaran, hingga kontroversi lagu bernuansa seksual oleh organisasi mahasiswa di Institut Teknologi Bandung menjadi pengingat bahwa persoalan ini bukan sekadar insiden individual.

Ia menunjukkan adanya krisis nilai dalam dunia pendidikan.

Data Kekerasan di Lingkungan Pendidikan yang Mengkhawatirkan

Data dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menunjukkan bahwa pada 2023 terdapat 29.883 kasus kekerasan di berbagai lingkungan, dengan 13.156 di antaranya merupakan kekerasan seksual.

Sementara pada periode Januari hingga Maret 2026 saja, tercatat 2.681 kasus kekerasan seksual yang dilaporkan.

Data lain dari Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia bahkan menunjukkan peningkatan laporan kasus kekerasan di sektor pendidikan dari 91 kasus pada 2020 menjadi 641 kasus pada 2025, atau meningkat sekitar 600 persen.

Angka ini tentu tidak bisa dipandang sekadar statistik. Ia menggambarkan bahwa lingkungan pendidikan masih menghadapi persoalan serius terkait keamanan dan penghormatan terhadap sesama.

Ketika Pendidikan Hanya Mengejar Ilmu

Fenomena ini memunculkan refleksi yang lebih mendasar: apakah pendidikan kita terlalu fokus pada kecerdasan intelektual, tetapi kurang memberi perhatian pada pembentukan akhlak?

Di banyak kampus, keberhasilan sering diukur dari nilai akademik, publikasi ilmiah, atau prestasi kompetisi. Namun dalam praktiknya, kecerdasan akademik tidak selalu sejalan dengan kedewasaan moral.

Seseorang bisa sangat cerdas secara intelektual, tetapi tetap melakukan tindakan yang melanggar etika dan merendahkan orang lain.

Padahal dalam perspektif Islam, pendidikan tidak hanya bertujuan menghasilkan manusia yang pintar, tetapi juga manusia yang berakhlak mulia.

Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan…”
(QS. An-Nahl: 90)

Ayat ini menegaskan bahwa nilai keadilan, penghormatan, dan kebaikan harus menjadi bagian dari kehidupan manusia, termasuk dalam lingkungan pendidikan.

Pendidikan dalam Tradisi Islam: Ilmu dan Akhlak Tidak Terpisahkan

Dalam sejarah peradaban Islam, ilmu dan akhlak selalu berjalan berdampingan.

Imam Al-Ghazali misalnya pernah menegaskan bahwa tujuan utama pendidikan adalah membentuk manusia yang mendekatkan diri kepada Allah dan berperilaku baik terhadap sesama.

Bagi ulama besar tersebut, ilmu tanpa akhlak hanya akan melahirkan kecerdasan yang kosong.

Hal serupa juga tercermin dalam salah satu hadis Nabi Muhammad SAW yang sangat terkenal:

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”

Hadis ini menunjukkan bahwa pembentukan karakter adalah inti dari pendidikan dalam Islam.

Jika nilai-nilai ini benar-benar tertanam dalam proses pendidikan, maka tindakan yang merendahkan martabat manusia seperti pelecehan seksual tidak akan mudah dinormalisasi.

Kampus Harus Menjadi Ruang Aman

Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk generasi masa depan. Kampus bukan hanya tempat transfer pengetahuan, tetapi juga ruang pembentukan karakter.

Ketika perilaku tidak etis terjadi di lingkungan akademik, maka yang dipertaruhkan bukan hanya reputasi institusi, tetapi juga kepercayaan masyarakat terhadap dunia pendidikan.

Karena itu, penanganan kasus kekerasan seksual tidak cukup hanya dengan sanksi administratif atau proses hukum. Yang lebih penting adalah membangun budaya kampus yang menjunjung tinggi nilai moral, penghormatan terhadap manusia, dan tanggung jawab sosial.

Nilai-nilai tersebut sebenarnya telah lama diajarkan dalam tradisi Islam melalui Al-Qur’an dan sunnah Nabi.

Alhamdulillah, nilai-nilai tersebut juga menjadi perhatian di Universitas Tazkia, yang sejak awal perkuliahan menempatkan pembelajaran akidah dan akhlak sebagai bagian penting dari proses pendidikan mahasiswa hingga semester akhir. Pendekatan ini diharapkan tidak hanya membentuk kecerdasan akademik, tetapi juga karakter yang berlandaskan nilai moral dan spiritual.

Mengembalikan Pendidikan pada Tujuan Hakikinya

Berbagai kasus yang terjadi seharusnya menjadi momentum refleksi bagi dunia pendidikan.

Mungkin sudah saatnya sistem pendidikan tidak hanya mengejar kecerdasan intelektual, tetapi juga memperkuat pendidikan karakter yang berakar pada nilai-nilai moral dan spiritual.

Pendidikan yang berbasis pada nilai Al-Qur’an dan sunnah tidak sekadar mengajarkan hukum agama, tetapi juga membentuk kesadaran bahwa setiap manusia memiliki martabat yang harus dihormati.

Jika nilai-nilai tersebut benar-benar menjadi fondasi pendidikan, maka kampus tidak hanya akan melahirkan lulusan yang pintar, tetapi juga manusia yang memiliki akhlak, empati, dan tanggung jawab terhadap sesama.

Pada akhirnya, pendidikan sejati bukan hanya tentang seberapa banyak ilmu yang dimiliki seseorang, tetapi juga seberapa baik ia memperlakukan manusia lain.