Siswa Pintar Akademis Cuma Dapat Nilai 7 Pernyataan Dedi Mulyadi Picu Pro Kontra

Gagasan Dedi Mulyadi "Pendidikan Harus Lebih Praktis"

Menurut Dedi Mulyadi, salah satu hambatan kemajuan bangsa adalah pola pendidikan yang terlalu teoritis dan kurang aplikatif. Ia menilai banyak siswa mampu menjelaskan teori di kelas, tetapi belum tentu mampu menerapkannya dalam kehidupan nyata. 

Ia memberi contoh bahwa ilmu yang dipelajari di sekolah seharusnya bisa diubah menjadi solusi nyata, seperti mengolah bahan baku menjadi produk yang berguna bagi masyarakat. Dengan kata lain, pengetahuan tidak cukup hanya berhenti pada konsep, tetapi harus menghasilkan manfaat nyata.

Dalam kerangka pemikiran ini, Dedi Mulyadi menilai bahwa siswa yang hanya kuat di akademik tidak seharusnya langsung mendapat nilai tertinggi. Nilai tinggi seharusnya diberikan kepada siswa yang mampu menggabungkan pengetahuan dengan praktik dan kontribusi nyata.

Logika di Balik Nilai 7 untuk Siswa Akademis

Gagasan tersebut sebenarnya berangkat dari kritik terhadap sistem pendidikan yang sering dianggap terlalu menekankan hafalan dan teori.

Dalam pandangan Dedi Mulyadi, siswa yang mampu mengubah ilmu menjadi karya nyata misalnya inovasi, produk, atau solusi sosial layak mendapatkan nilai lebih tinggi dibanding siswa yang hanya mampu menjawab soal ujian dengan baik.

Dengan kata lain, pendidikan menurut perspektif ini harus menghasilkan problem solver, bukan sekadar penghafal teori.

Kritik Teori yang Kuat Juga Bisa Menjadi Dasar Praktik

Namun gagasan memberi nilai 7 kepada siswa yang unggul secara akademis juga menuai kritik.

Dalam banyak disiplin ilmu, penguasaan teori justru merupakan fondasi utama bagi praktik yang baik. Seorang insinyur, dokter, ekonom, atau ilmuwan tidak mungkin mampu menerapkan praktik secara tepat tanpa memahami teori secara mendalam terlebih dahulu.

Artinya, keberhasilan praktik sering kali justru lahir dari kualitas pemahaman konseptual yang kuat.

Jika pendekatan penilaian terlalu merendahkan capaian akademik, ada kekhawatiran bahwa sistem pendidikan justru mengabaikan pentingnya kemampuan analitis, logika ilmiah, dan ketelitian intelektual.

Dengan kata lain, teori dan praktik bukan dua hal yang saling meniadakan, tetapi dua sisi yang saling melengkapi dalam proses belajar.

Tantangan Pendidikan Indonesia Menjembatani Teori dan Praktik

Diskusi ini sebenarnya membuka persoalan yang lebih besar: bagaimana sistem pendidikan Indonesia menyeimbangkan antara pengetahuan akademik dan keterampilan praktis.

Banyak negara maju justru menggabungkan keduanya melalui:

  • project-based learning
  • riset dan eksperimen sejak sekolah
  • kolaborasi antara sekolah dan industri

Dengan model tersebut, teori tetap dihargai sebagai dasar ilmu, sementara praktik menjadi sarana untuk menguji dan mengembangkan pemahaman tersebut.

Pendekatan serupa juga mulai diterapkan di sejumlah perguruan tinggi di Indonesia, termasuk di Universitas Tazkia, di mana mahasiswa tidak hanya mempelajari teori di kelas tetapi juga didorong terlibat dalam proyek berbasis riset, eksperimen akademik, serta kolaborasi dengan berbagai sektor industri dan ekonomi syariah sehingga proses belajar dapat berjalan lebih aplikatif sekaligus relevan dengan kebutuhan dunia nyata.

Kesimpulan

Gagasan Dedi Mulyadi tentang nilai 7 untuk siswa yang hanya unggul secara akademik dapat dibaca sebagai kritik terhadap sistem pendidikan yang terlalu teoritis. Pesan utamanya adalah pentingnya pendidikan yang menghasilkan kemampuan praktis dan solusi nyata bagi masyarakat.

Namun demikian, pendekatan tersebut juga perlu dilihat secara lebih seimbang. Kemampuan praktik yang baik sering kali justru lahir dari fondasi teori yang kuat.

Karena itu, tantangan pendidikan Indonesia bukanlah memilih antara teori atau praktik, melainkan menciptakan sistem pembelajaran yang mampu mengintegrasikan keduanya secara seimbang.

Jika keseimbangan ini tercapai, pendidikan tidak hanya menghasilkan siswa yang pintar di kelas, tetapi juga mampu menerjemahkan pengetahuan menjadi inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.

Sumber utama:
https://www.tvonenews.com/berita/nasional/434002-hanya-kasih-nilai-7-buat-siswa-pintar-akademis-dedi-mulyadi-bongkar-cara-biar-indonesia-cepat-maju