
Dalam pemaparannya, Prof. Syafii Antonio menyoroti kondisi global yang sedang menghadapi tekanan besar, mulai dari perkembangan kecerdasan buatan hingga ketidakpastian geopolitik, termasuk ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat. Ia menjelaskan bahwa konflik global sering kali berakar pada kepentingan ekonomi, salah satunya terkait cadangan minyak bumi yang sangat mempengaruhi stabilitas energi dan perekonomian dunia.
Menurutnya, situasi global yang tidak menentu justru menuntut umat Islam untuk memperkuat fondasi ekonomi yang halal dan berkelanjutan. Konsep “Halal of Everything” dimaknai sebagai upaya menghadirkan nilai halal dalam seluruh aspek kehidupan, mulai dari konsumsi, keuangan, hingga cara bekerja.
Menjawab pertanyaan peserta mengenai praktik keuangan bagi karyawan BUMN, Prof. Syafii Antonio menekankan pentingnya proses hijrah finansial. Ia menyampaikan bahwa apabila seseorang telah memiliki tabungan, maka dianjurkan untuk mulai berpindah ke sistem keuangan yang bebas riba. Sementara bagi yang belum memiliki tabungan, langkah awal yang dapat dilakukan adalah mulai menabung terlebih dahulu sebagai persiapan menuju sistem keuangan yang lebih sesuai dengan prinsip syariah.
Ia juga mengingatkan pentingnya kekuatan spiritual di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian. “Jika kita diminta untuk berdoa dan kita mampu melakukannya, maka berdoalah,” ujarnya, menegaskan bahwa ikhtiar spiritual tetap menjadi bagian penting dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.

Dalam sesi diskusi, seorang mahasiswa dari STAI Miftahul Huda turut menanyakan apakah potensi konflik antara Iran dan Amerika Serikat murni didorong oleh faktor ekonomi atau agama. Menanggapi hal tersebut, Prof. Syafii Antonio menjelaskan bahwa konflik global sering kali dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, termasuk kepentingan ekonomi dan dimensi ideologis atau keagamaan yang juga memiliki pengaruh dalam dinamika geopolitik.
