
1. Rivalitas Hanya 90 Menit
Sepak bola adalah tentang hiburan dan kebanggaan, bukan permusuhan abadi. Filosofi "Rivalitas hanya 90 menit, selebihnya kita saudara" harus benar-benar dipraktikkan, bukan sekadar slogan di kaos. Di Depok kota yang menjadi perbatasan basis massa kedua kubu kedewasaan suporter disini sangat diuji.
2. Menghargai Hasil dengan Jiwa Besar (Sportif)
Dalam pertandingan 11 Januari lalu, Persib menang lewat gol cepat Beckham Putra. Bagi Bobotoh, rayakanlah dengan elegan tanpa provokasi berlebihan. Bagi The Jakmania, kekalahan memang pahit, namun respons beberapa Jakmania di media sosial yang tetap menyemangati tim tanpa anarkis patut diajungi jempol. Menerima kekalahan adalah ciri suporter berkelas.
3. Fokus pada Kreativitas, Bukan Anarki
Suporter Indonesia dikenal dunia karena koreografi dan nyanyiannya yang luar biasa. Energi yang meluap-luap sebaiknya disalurkan untuk membuat chant atau koreo kreatif saat nobar, bukan untuk menyalakan petasan yang mengganggu warga atau memancing keributan. Ingat, insiden di Depok bermula dari petasan yang tidak pada tempatnya.
4. Menjadi "Tuan Rumah" Nobar yang Baik
Kegiatan nobar di kafe atau lingkungan warga harus menghormati ketertiban umum. Jika nobar diadakan di wilayah netral atau wilayah lawan, suporter wajib menahan diri. Sikap saling menjaga inilah yang akan membuat masyarakat umum tidak lagi memandang negatif suporter bola.
5. Mencontoh Inisiatif Damai
Di tengah kabar buruk, ada kabar baik yang luput dari sorotan. Pada hari yang sama, Polres Bogor berhasil menggelar nobar yang dihadiri perwakilan kedua suporter dengan damai. Ini bukti nyata bahwa Bobotoh dan Jakmania bisa duduk berdampingan. Jika Bogor bisa, mengapa Depok, Jakarta, dan Bandung tidak?
Peristiwa 11 Januari 2026 di Depok harus menjadi pelajaran terakhir. Sepak bola tidak sebanding dengan nyawa atau luka fisik.
