
Seringkali kita beranggapan bahwa dunia bisnis adalah dunia yang keras, di mana satu-satunya tujuan adalah mencari keuntungan (profit) sebesar-besarnya. Ada pandangan umum bahwa untuk menjadi kaya, sebuah perusahaan harus menekan biaya serendah mungkin, bahkan jika itu berarti mengorbankan kesejahteraan karyawan atau lingkungan.
Namun, sebuah pendekatan baru dalam menilai kinerja perusahaan di pasar saham, khususnya pada Jakarta Islamic Index (JII), menunjukkan fakta yang berbeda. Pendekatan ini disebut Maslahah Performa (MaP). Hasil analisisnya cukup menarik: perusahaan yang fokus pada kebaikan dan etika ternyata justru memiliki ketahanan bisnis yang lebih kuat, terutama saat ekonomi sedang sulit.
Mari kita bahas secara sederhana bagaimana konsep ini bekerja dan mengapa menjadi perusahaan yang "baik" justru menguntungkan secara finansial.
Apa Itu Maslahah Performa?
Dalam pandangan bisnis konvensional, kesuksesan diukur semata-mata dari angka: berapa banyak uang yang dihasilkan. Namun, konsep Maslahah Performa melihat perusahaan secara lebih utuh. Ia menilai apakah sebuah perusahaan memberikan manfaat (maslahah) bagi kehidupan. Maslahah Performa yang dikembangkan oleh Prof. Dr. Achmad Firdaus menawarkan cara pandang baru yang berbeda dari cara lama yang biasanya dipakai untuk mengukur kinerja perusahaan, seperti Balanced Scorecard (BSC). Kalau BSC mengutamakan uang dan keuntungan sebagai tujuan utama, MaP justru menempatkan kebahagiaan dan keberhasilan, baik di dunia maupun di akhirat, sebagai tujuan utama. Untuk mencapainya, perusahaan diajak fokus pada kebaikan bersama dan manfaat bagi banyak orang.
Ada lima aspek dasar kebutuhan manusia yang menjadi tolak ukurnya:
- Agama: Kepatuhan terhadap etika dan aturan.
- Jiwa: Keselamatan dan kesehatan orang-orang di dalamnya.
- Akal: Inovasi dan pengembangan pengetahuan.
- Keturunan: Kesejahteraan karyawan dan keberlanjutan generasi.
- Harta: Keuntungan finansial.
Filosofinya sederhana: Jika perusahaan fokus memenuhi empat aspek pertama (etika, manusia, inovasi, dan kesejahteraan), maka aspek kelima (harta/keuntungan) akan datang dengan sendirinya. Ini disebut sebagai Mekanisme Tarik (kebaikan yang dilakukan perusahaan akan "menarik" keuntungan datang).
Bukti Nyata dari Perusahaan Besar di Indonesia
Teori ini bukan sekadar konsep kosong. Mari kita lihat bagaimana penerapannya pada beberapa perusahaan besar di Indonesia.
1. PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS): Zakat sebagai Tanda Kesehatan Perusahaan
Bagi sebagian orang, membayar zakat perusahaan mungkin terlihat mengurangi keuntungan. Namun, analisis menunjukkan hal sebaliknya. Pada tahun 2023, BRIS menyalurkan zakat perusahaan lebih dari Rp173 miliar, dan angka ini terus bertumbuh seiring laba.Pembayaran zakat justru menjadi sinyal positif bagi investor.
Mengapa? Karena zakat dibayar menggunakan uang tunai (kas) yang nyata. Perusahaan yang mampu membayar zakat secara rutin dan besar membuktikan bahwa mereka benar-benar memiliki uang tunai yang sehat, bukan sekadar angka keuntungan di atas kertas. Ini membangun kepercayaan (trust) yang tinggi dari investor dan nasabah. Kepercayaan inilah aset yang sangat mahal dalam bisnis perbankan.
2. Indofood CBP (ICBP): Memenuhi Kebutuhan Dasar
Produk seperti Indomie adalah contoh bagaimana perusahaan menjaga aspek "Jiwa" (kebutuhan dasar hidup). Indomie, merek andalan ICBP, dinobatkan sebagai merek mi instan paling banyak dipilih di dunia (Global Brand Footprint). Ini menunjukkan dominasi mindshare pelanggan yang luar biasa. Ketersediaan produk yang halal, aman, dan terjangkau memenuhi aspek Hifz an-Nafs bagi konsumen luas. Dengan menyediakan makanan yang terjangkau, halal, dan tersedia di mana-mana, perusahaan ini menjadi bagian penting dari hidup banyak orang.
Ketika ekonomi sedang lesu, orang mungkin menunda membeli barang mewah, tapi mereka tetap butuh makan. Hal ini menciptakan kestabilan bisnis. Perusahaan tidak perlu bersusah payah memaksa konsumen membeli; konsumenlah yang membutuhkan produk mereka. Inilah yang membuat bisnis mereka sangat kuat bertahan dalam berbagai kondisi.
3. Telkom (TLKM): Investasi untuk Masa Depan
Terkadang, keuntungan perusahaan terlihat turun karena mereka mengeluarkan banyak uang untuk membangun infrastruktur atau melatih karyawan. Dalam pandangan jangka pendek, ini terlihat merugikan. Namun, dalam konsep Maslahah, ini adalah upaya menjaga "Akal" (pengembangan ilmu dan teknologi).
Investasi besar Telkom pada jaringan data dan sumber daya manusia adalah pondasi untuk masa depan. Tanpa investasi ini, perusahaan akan tertinggal. Investor yang bijak memahami bahwa penurunan laba sesaat demi pembangunan jangka panjang adalah langkah yang cerdas, bukan kerugian.
Pelajaran utama dari konsep ini adalah mengubah cara pandang kita terhadap bisnis.
Bisnis yang hanya mengejar uang dengan cara "mendorong" (memaksa penjualan, menekan upah buruh, mengabaikan lingkungan) mungkin akan untung sesaat, tapi rapuh dalam jangka panjang. Sebaliknya, bisnis yang menggunakan mekanisme "menarik" (fokus pada pelayanan, kesejahteraan karyawan, dan kepatuhan aturan) akan membangun pondasi yang kokoh.
Karyawan yang sejahtera akan bekerja lebih produktif. Produk yang bermanfaat akan selalu dicari konsumen. Perusahaan yang jujur akan dipercaya investor.
Jadi, berinvestasi pada perusahaan yang "baik" dan etis bukan hanya soal moralitas. Secara logika bisnis, itu adalah langkah yang masuk akal. Perusahaan-perusahaan ini membuktikan bahwa kita tidak perlu memilih antara menjadi kaya atau menjadi baik. Kita bisa meraih keduanya sekaligus, karena keberkahan dan etika bisnis ternyata adalah kunci keberlanjutan yang sesungguhnya.
