
"Kita harus memaksimalkan segalanya (we must maximize everything) yang telah Allah berikan kepada kita, baik potensi, waktu, maupun kesempatan. Namun, totalitas itu harus berlandaskan spiritualitas, dengan meletakkan Allah sebagai yang utama (put Allah first) dalam setiap langkah karier dan kehidupan kita. Inilah kunci daya saing yang hakiki bagi seorang muslim profesional." — Prof. Dr. M. Syafii Antonio, M.Ec.
Pesan ini menegaskan bahwa menjadi profesional bukan sekadar tentang keterampilan teknis, melainkan tentang karakter. Bagaimana kita menerjemahkan semangat "Put Allah First" dan "Maximize Everything" ini ke dalam tindakan nyata? Tentunya ini sejalan dengan nilai-nilai TAZKIA Values :
1. T Tawheed (Tidak ada Tuhan selain Allah SWT)
Totalitas dimulai dari niat. Ketika Prof. Syafii menyebutkan "put Allah first", ini adalah esensi dari Tawheed. Dalam konteks karier, Tauhid berarti meyakini bahwa pekerjaan adalah sarana ibadah.
- Relevansi: Kita tidak bekerja sekadar untuk atasan atau gaji, tetapi untuk Allah. Kesadaran ini melahirkan integritas tingkat tinggi karena kita sadar bahwa The Ultimate CEO (Allah SWT) selalu mengawasi. Tidak ada ruang untuk kecurangan ketika hati terpaut pada Yang Maha Satu.
2. A Amanah (Trustworthiness)
Pesan "memaksimalkan segalanya" erat kaitannya dengan tanggung jawab. Potensi, waktu, dan kesempatan adalah titipan Tuhan yang harus dijaga.
- Relevansi: Profesional yang amanah tidak akan menyia-nyiakan waktu kantor atau menggunakan fasilitas perusahaan untuk kepentingan pribadi. Amanah adalah jembatan yang mengubah kepercayaan menjadi reputasi. Totalitas berarti menuntaskan setiap tugas yang diembankan dengan penuh tanggung jawab.
3. Z Zero Defects and Quality-Oriented
Islam mencintai keindahan dan kesempurnaan (Ihsan). Prof. Syafii menekankan pentingnya daya saing. Dalam dunia modern, daya saing ditentukan oleh kualitas.
- Relevansi: Mentalitas "asal jadi" harus dibuang. Seorang muslim profesional mengejar Zero Defects (nir-cacat) bukan karena takut dimarahi bos, tapi karena ia ingin mempersembahkan karya terbaik sebagai bentuk syukur atas potensi yang Allah beri. Kualitas kerja kita adalah cerminan kualitas iman kita.
4. K Knowledge-based and Competence-oriented
Tidak mungkin kita "memaksimalkan potensi" tanpa ilmu. Semangat totalitas harus didukung oleh kompetensi yang mumpuni.
- Relevansi: Dunia terus berubah. Untuk meletakkan Allah sebagai yang utama, kita harus menjadi khalifah (pemimpin) yang cerdas di bidang masing-masing. Ini menuntut kita untuk terus belajar (lifelong learning), meningkatkan skill, dan mengambil keputusan berdasarkan data dan ilmu, bukan sekadar asumsi.
5. I Innovation-oriented and Istiqamah-based
Ini adalah keseimbangan yang unik. Prof. Syafii mengajak kita untuk memaksimalkan kesempatan (yang butuh Inovasi) namun tetap berlandaskan spiritualitas yang kokoh (Istiqamah).
- Relevansi:
- Inovasi: Kita harus kreatif mencari solusi baru dan tidak terpaku pada cara lama yang usang.
- Istiqamah: Meskipun cara kerja berubah mengikuti zaman, prinsip etika dan moral kita tetap teguh, konsisten, dan tidak goyah oleh godaan sesaat.
6. A Achievement through Teamwork
Totalitas bukan berarti egois atau ingin menonjol sendiri. Dalam Islam, keberkahan seringkali datang dalam kebersamaan (Jama'ah).
Relevansi: Prestasi tertinggi (Achievement) diraih ketika kita mampu bersinergi. Meletakkan Allah sebagai yang utama berarti menghilangkan ego pribadi demi kemaslahatan bersama. Kita memaksimalkan potensi tim, saling melengkapi kekurangan, dan mencapai tujuan besar bersama-sama.
