Lompat ke isi
Sistem
Universitas Tazkia
Talkshow & Seminar

Rekalibrasi Ekonomi Syariah: Reset Mindset, Rebuild Culture di PRESENT 2026 dan Monday Forum Series #370

BOGOR - 5 Oktober 2026. Universitas Tazkia melalui PRESENT 2026 berkolaborasi bersama LPPM Universitas Tazkia, FoSSEI, dan FoSSEI Jabodetabek dalam Monday Forum Series #370 yang mengangkat tema “Rekalibrasi Ekonomi Syariah: Reset Mindset, Rebuild Culture”, Senin (5/10).

Universitas Tazkia Penulis
Progres Tazkia Present 2026 LPPM Orbitum Guru Besar Akuntansi Syariah

BOGOR - 5 Oktober 2026. Universitas Tazkia melalui PRESENT 2026 berkolaborasi bersama LPPM Universitas Tazkia, FoSSEI, dan FoSSEI Jabodetabek dalam Monday Forum Series #370 yang mengangkat tema “Rekalibrasi Ekonomi Syariah: Reset Mindset, Rebuild Culture”, Senin (5/10).

Kegiatan yang berlangsung secara hybrid di Ruang Internasional Lt. 3 Universitas Tazkia ini menjadi ruang diskusi untuk melihat kembali posisi ekonomi syariah di tengah perubahan zaman. Bukan hanya tentang bagaimana memastikan aktivitas ekonomi sesuai dengan prinsip syariah, tetapi bagaimana nilai-nilai tersebut dapat menjadi bagian dari cara manusia berpikir, bersikap, dan membangun budaya ekonomi.

Rangkaian kegiatan dipandu oleh Suciyanti selaku MC dan diawali dengan pembacaan Tazkia Values oleh Arif Haitan.

Ketua Pelaksana PRESENT 2026, Ibnu Hajar, dalam sambutannya menekankan pentingnya menghadirkan ekonomi syariah yang semakin inklusif. Menurutnya, pengembangan ekonomi syariah perlu membuka ruang yang lebih luas agar nilai dan praktiknya dapat dirasakan oleh masyarakat secara lebih menyeluruh.

Pandangan tersebut kemudian diperkuat oleh Arsyad Rahmatullah, KSEI Progress Tazkia periode 2025–2026. Ia menyampaikan sebuah refleksi mengenai posisi manusia dalam menghidupkan ekonomi syariah.

“Ekonomi syariah adalah ilmu langit, kitalah yang membunyikannya.”

Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa nilai-nilai ekonomi syariah tidak berhenti sebagai konsep atau pengetahuan. Manusia memiliki peran untuk menerjemahkannya ke dalam tindakan nyata dan kehidupan sehari-hari.

Ketika Manusianya Benar, Transaksinya Benar

Wakil Rektor I Universitas Tazkia, Nur Hendrasto, kemudian membawa diskusi pada persoalan yang lebih mendasar: manusia sebagai fondasi dari aktivitas ekonomi.

“Ketika manusianya benar, transaksinya benar.”

Ia menjelaskan bahwa pada zaman Nabi Muhammad SAW, salah satu hal yang diperbaiki terlebih dahulu adalah manusianya. Ketika manusia kembali menerima fitrahnya, akan lebih mudah baginya untuk menerima Islam dan menjalankan nilai-nilainya dalam kehidupan.

Dengan demikian, rekalibrasi ekonomi syariah tidak cukup dimulai dari sistem transaksi. Perubahan perlu dimulai dari manusia yang menjalankan sistem tersebut. Sebab, aturan yang baik membutuhkan manusia yang memiliki kesadaran untuk menjalankannya dengan benar.

Dari Sekadar Sesuai Syariah Menjadi Nilai Kehidupan

Guru Besar Akuntansi Syariah Universitas Tazkia, Prof. Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc., mengajak peserta melihat kembali pesan Al-Qur’an melalui QS. Ash-Shaff ayat 3–4, yang menekankan keselarasan antara apa yang dikatakan dengan apa yang dikerjakan.

Menurut Prof. Murniati, tantangan ekonomi syariah hari ini telah berkembang. Jika dahulu perhatian utama adalah memastikan sesuatu sesuai syariah, maka kini tantangannya adalah bagaimana menjadikan syariah sebagai nilai-nilai hidup.

“Kalau zaman dulu yang penting sesuai syariah, tapi zaman sekarang bagaimana menjadikan syariah sebagai nilai-nilai hidup.”

Nilai tersebut, lanjutnya, perlu hadir dalam keputusan-keputusan sehari-hari, termasuk dalam membedakan dan mengelola kebutuhan hidup maupun gaya hidup. Dengan perspektif tersebut, halal tidak hanya dipahami sebagai status suatu produk atau transaksi, tetapi menjadi bagian dari cara seseorang menentukan pilihan dan menjalani kehidupannya.

Inilah bagian penting dari proses recalibration: menggeser ekonomi syariah dari sekadar kepatuhan terhadap aturan menuju pembentukan karakter dan budaya.

Bersiap Menghadapi Perubahan Ekonomi

Perspektif lain disampaikan Jodhi Adhikaprana Sardjono, S.T., M.Sc., CEO & Co-Founder ORBITUM, yang melihat pentingnya instrumen keuangan syariah dalam menghadapi dinamika ekonomi ke depan.

Ia menyoroti sukuk sebagai salah satu instrumen penting dan menyebutnya sebagai salah satu penopang terbesar dalam ekosistem tersebut.

Jodhias juga menyampaikan apresiasinya terhadap Tazkia Values, khususnya nilai inovasi dan teamwork yang menurutnya relevan dengan kebutuhan untuk menghadapi perubahan.

Dalam konteks kondisi ekonomi mendatang, ia memberikan peringatan yang cukup tegas:

“Winter incoming, brace yourself and save yourself.”

Menurutnya, masyarakat perlu mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan perubahan ekonomi dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Dalam konteks investasi, ia menilai emas dan sukuk dapat menjadi pilihan yang relevan untuk dipertimbangkan sebagai bagian dari strategi menghadapi ketidakpastian.

Dari Mindset Menuju Culture

Rangkaian diskusi pada Monday Forum Series #370 memperlihatkan bahwa rekalibrasi ekonomi syariah tidak hanya berbicara mengenai instrumen, regulasi, atau transaksi.

Ada satu benang merah yang menghubungkan seluruh gagasan tersebut: perubahan ekonomi harus dimulai dari perubahan manusia.

Dari manusia yang memahami nilai, nilai yang diterjemahkan menjadi tindakan, hingga tindakan yang akhirnya membentuk budaya. Karena itu, ekonomi syariah tidak cukup hanya compliant, tetapi perlu menjadi sesuatu yang hidup dalam keputusan dan perilaku masyarakat.

Melalui PRESENT 2026 × Monday Forum Series #370, Universitas Tazkia kembali membuka ruang bagi generasi muda untuk melihat ekonomi syariah bukan sebagai konsep yang berada jauh dari kehidupan, melainkan sebagai nilai yang dapat dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari.

Reset mindset. Rebuild culture. Rekalibrasi ekonomi syariah dimulai dari manusia.