Lompat ke isi
Sistem
Universitas Tazkia

Dari Kampus untuk Pelosok Desa: Mahasiswa Tazkia Raih Juara 1 Digital Entrepreneurship Challenge & Incubation 2026 Lewat Aplikasi KIBLAT

JAKARTA – Gagasan tentang akses menabung haji bagi masyarakat desa mengantarkan mahasiswa Tazkia ke podium tertinggi. Tim yang terdiri atas Nayla Shakila, Faizatul Maghfirah, Ari Dwi Rahmawati, dan Rifat Ribhi Ramdhani dinobatkan sebagai Juara Utama 1 Digital Entrepreneurship Challenge & Incubation 2026 lewat aplikasi KIBLAT.

Universitas Tazkia Penulis
Dari Kampus untuk Pelosok Desa: Mahasiswa Tazkia Raih Juara 1 Digital Entrepreneurship Challenge & Incubation 2026 Lewat Aplikasi KIBLAT

JAKARTA – Gagasan tentang akses menabung haji bagi masyarakat desa mengantarkan mahasiswa Tazkia ke podium tertinggi. Tim yang terdiri atas Nayla Shakila, Faizatul Maghfirah, Ari Dwi Rahmawati, dan Rifat Ribhi Ramdhani dinobatkan sebagai Juara Utama 1 Digital Entrepreneurship Challenge & Incubation 2026 lewat aplikasi KIBLAT. Pengumuman berlangsung pada babak final yang digelar Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) bersama Yayasan Inovasi Kebaikan Berkelanjutan (Goodstarter) di Jakarta, Senin (5/10/2026).

KIBLAT adalah singkatan dari Koperasi & Institusi BPKH Linkage Terpadu. Aplikasi ini dirancang sebagai penghubung antara koperasi syariah (BMT) di desa dan ekosistem BPKH secara langsung, sehingga warga yang tinggal jauh dari pusat kota tetap bisa menabung untuk berangkat haji.

Enam Bulan Menembus Ratusan Tim

Program ini diselenggarakan BPKH untuk menjaring dan membina generasi muda agar mampu mengubah ide inovatif menjadi model bisnis digital yang teruji, siap berkembang, dan berdampak bagi ekosistem perhajian nasional.

Perjalanan KIBLAT dimulai dari tahap seleksi bersama lebih dari 100 tim. Selama sekitar enam bulan, peserta disaring bertahap. Tahap pertama adalah pengumpulan Business Model Canvas dan proposal. Sepuluh tim terbaik kemudian maju ke presentasi, disusul inkubasi selama dua bulan. Di tengah masa inkubasi, peserta mengikuti voting untuk menentukan juara harapan dan menyusun laporan pengembangan bisnis.

Puncaknya terjadi di akhir pekan. Pada hari Minggu siang, lima tim terbaik diumumkan. Laporan perkembangan harus dikumpulkan pada malam harinya, dan keesokan harinya para finalis tampil di hadapan dewan juri. Hasil penilaian atas kelayakan teknis, proyeksi finansial, validasi mitra, dan dampak kemaslahatan menempatkan KIBLAT di posisi pertama. HaramainCare menyusul sebagai Juara 2, dan HajjTrack sebagai Juara 3.

Haru, Kaget, dan Tawa yang Pecah

Saat nama KIBLAT disebut, keempat anggota tim tidak sedang berada di tempat yang sama. Menurut salah satu perwakilan tim, perasaan mereka bercampur aduk: haru, kaget, bersyukur, lalu tertawa karena tidak menyangka bisa sampai di titik itu.

Rasa tak percaya itu punya alasan. Saat presentasi 10 besar, tim sempat menangkap sinyal bahwa juri kurang tertarik pada ide mereka. Tetapi hasil pengumuman berkata lain, KIBLAT tetap lolos. Di tahap berikutnya, mereka bertemu kembali dengan juri yang sebelumnya menyatakan kurang menyukai ide tersebut. Kali ini, juri itu justru menyukainya.

Di sisi lain, tim juga merasa bangga bisa bersaing dengan sesama finalis. Beberapa di antaranya bahkan telah memiliki bisnis yang berjalan dan menjalin kerja sama dengan kementerian.

Mengapa KIBLAT Unggul

Penilaian juri tidak dibagikan secara terbuka, sehingga tim menarik kesimpulan dari tanggapan juri pada sesi tanya jawab. Dalam sesi itu, tim menegaskan bahwa KIBLAT tidak dimaksudkan untuk menyaingi bank, apalagi mengubah tatanan yang telah dijalankan BMT. Justru sebaliknya, aplikasi ini memudahkan masyarakat agar pilihan menabung tidak hanya lewat bank, tetapi juga lewat BMT.

Tim juga membaca bahwa BPKH menyukai gagasan yang menguntungkan. Kerja sama dengan KIBLAT dinilai bermanfaat bagi BPKH tanpa harus mengeluarkan dana. Nilai tambah lainnya, risiko bisnis telah dimitigasi lewat evaluasi langsung dari lapangan.

Tazkia, Tempat Ide Bermula

Bagi tim, Tazkia adalah tempat ide KIBLAT lahir. Pondasi mata kuliah dan pengalaman berorganisasi membekali mereka untuk peka terhadap persoalan di luar kampus, sekaligus menjadi modal merancang program ini. Dukungan moral dan lingkungan yang kondusif turut menguatkan langkah mereka. Dari Tazkia pula mereka belajar bahwa bisnis tidak semata-mata mengejar keuntungan, tetapi harus membawa maslahat bagi umat.

Langkah Selanjutnya

Ke depan, tim berencana memanfaatkan fasilitas inkubasi BPKH yang diberikan kepada tiga pemenang utama untuk mengeksekusi rancangan KIBLAT.

Semangat itu sejalan dengan pesan penyelenggara. Anggota Dewan Pengawas BPKH, Heru Muara Sidik, menyampaikan bahwa pendampingan inkubasi menitikberatkan penguatan kapasitas bisnis secara menyeluruh, mulai dari validasi produk hingga ketahanan operasional. Sementara itu, Anggota Badan Pelaksana BPKH, Harry Alexander, menekankan bahwa kewirausahaan digital di lingkungan perhajian harus menjawab kebutuhan nyata umat dan mengedepankan kemanfaatan.

Pesan untuk Mahasiswa Lain

Menutup wawancara, salah satu perwakilan tim menitipkan pesan bagi mahasiswa yang punya gagasan besar:

"Jangan biarkan ide-ide hebat kalian berhenti di atas kertas atau lembaran Microsoft Word saja. Turunlah ke lapangan, observasi, dan pahami apa yang mereka rasakan, lalu rakitlah solusi yang benar-benar mendarat dan membawa banyak maslahat. Kompetisi itu hanya wadah untuk menguji daya gagasan kita. Ketika ide ilmiah dipadukan dengan niat memberdayakan umat dan dieksekusi dengan disiplin, percayalah, tidak ada gagasan yang terlalu kecil untuk membawa perubahan."