Sejarah STEI Tazkia

Kondisi perekonomian dunia dewasa ini telah mendorong lahirnya lembaga-lembaga keuangan yang dikelola secara Islami di berbagai Negara. Di Indonesia, hal ini ditandai dengan lahirnya lembaga keuangan syariah seperti Bank Muamalat Indoesia, Bank Syariah Mandiri, Bank Danamon Syariah, Bank Bukopin Syariah, Bank BNI Syariah, Bank IFI Syariah, Bank JABAR Syariah, Bank BRI Syariah, Bank BTN Syariah, Bank Syariah Mega Indonesia, Bank Permata Syariah, Bank BII Syariah, BPR Syariah, Asuransi Takaful, Divisi Syariah Great Eastern , Asuransi Syariah Al-Mubarakah, Lembaga Amil Zakat yang telah didukung dengan lahirnya UU zakat, Pasar Modal Syariah, BMT dan Koperasi Syariah.

Namun perkembangan lembaga keuangan Islam dan bisnis-bisnis lainnya yang dikelola secara Islami tersebut belum didukung oleh ketersediaan sumber daya insani yang memadai, baik dari sisi pengelola, pengusaha, maupun akademisi yang konsisten mengkaji dan mengembangkan ekonomi Islam secara integrative yang komprehensif.

Kondisi tersebut mendorong Yayasan Tazkia Cendekia untuk membuka program pendidikan yang dapat memenuhi kebutuhan sumberdaya insani yang dimaksud.

Menjelang krisis ekonomi pada kuartal terakhir tahun 1997, sebagai dai yang banyak berdakwah tentang ekonomi Islam,  H. Muhammad Syafii Antonio M.Ec – di kalangan teman-temannya dikenal dengan sebutan Pak Haji – mengajak teman-teman yang mempunyai komitmen untuk mengembangkan ekonomi Islam untuk mendirikan suatu wadah agar upaya yang di rintis selama ini lebih terfokus dan terarah. Teman-teman yang dimaksud antara lain Bapak Agus Haryadi (Pak Agus) dan Bapak Amin Musa (Pak Amin) yang turut membidangi perusahaan Asuransi Takaful dan kebetulan sudah tidak aktif di perusahaan tersebut.

Untuk memperkuat wadah tersebut, Pak Agus mengajak sdr. Mukhamad Yasid salah seorang dosen di IKOPIN yang selama ini banyak mendalami dan praktisi dalam penggunaan metode Logical Framework Approach (LFA) sebagai salah satu metode untuk merancang strategi sebuah organisasi, baik yang bersifat “profit oriented” maupun “nirlaba”. Tim ini didukung oleh Sanusi yang lama berkecimpung dalam dunia komputer dan penerbitan serta Endang Suhendra seorang praktisi asuransi.

Sebagai hasil dari beberapa kali pertemuan, maka dibentuklah PT. Tazkia Wahana Utama.  Perusahaan ini didirikan oleh Pak Haji, Pak Agus dan Pak Amin.  Untuk pelaksanaan sehari-hari diangkat sdr. Mukhamad Yasid untuk menjadi Direktur.  Perusahaan ini bergerak dalam bidang layanan keuangan Islam dan manajemen (Islamic Finance and Management Services).  Perusahaan ini utamanya bergerak di bidang penyelenggaraan program-program pelatihan tentang penerapan ekonomi Islam baik dalam sektor keuangan maupun manajemen yang Islami serta berupaya untuk menjadi agen maupun jaringan lembaga-lembaga keuangan syariah seperti Asuransi Takaful dan Bank Muamalat Indonesia.

Dengan bermodalkan pada ketokohan dan relasi Pak Haji karena ceramah-ceramahnya tentang ekonomi Islam,  pada bulan Desember 1997, PT Tazkia Wahana Utama mendapatkan klien yang pertama yaitu PT Mayasari Bakti.  Jasa yang disediakan adalah menyusun perencanaan strategis Mayasari Group.  Penyusunan perencanaan strategis ini dilaksanakan melalui lokakarya LFA yang dihadiri oleh seluruh pemegang saham (keluarga Bapak Haji Mahpud) dan jajaran direksi.  Lokakarya dilaksanakan di Hotel Horison Ancol.

Setelah memfasilitasi Mayasari Group, PT Tazkia Wahana Utama mendapatkan klien berikutnya yaitu menyusun sistem dan prosedur yayasan untuk diterapkan pada yayasan-yayasan yang selama ini mendapatkan bantuan dari Bapak Tachril Sapiie (Bapak Aling) salah seorang direksi Bimantara Group.  Selain penyusunan sistem tersebut, TAZKIA juga membantu yayasan-yayasan ini untuk mendirikan BMT serta memberikan pelatihan kewirausahaan bagi para yatim yang menerima santunan dari  Bapak Aling.

Klien berikutnya adalah Pemda Tk I Jawa Barat.  Oleh Bapak Nuryana selaku gubernur Jawa Barat, Tazkia diminta untuk mensosialisasikan ekonomi Islam dan peluang penerapannya di Jawa Barat.  Salah satu program aksi untuk menerapkan sistem ini adalah Perintisan dan Penyusunan Sistem dan Prosedur Koperasi Syariah di beberapa kota di Jawa Barat. Pada fase ini, dalam perpolitikan Indonesia sedang terjadi masa reformasi pasca tumbangnya pemerin-tahan orde baru. Dalam era reformasi ini pemerintah sedang giat mendorong dan memberikan kebebasan yang seluas-luasnya pada lembaga swadaya masyarakat (LSM) untuk turut mengembangkan potensi ekonomi rakyat, baik dalam bentuk pendidikan bagi usaha kecil maupun dengan melibatkan LSM untuk menyalurkan kredit pemerintah.

Tidak mau ketinggalan dengan situasi dan kondisi yang ada, Tazkia mencoba untuk berkiprah sebagai salah satu LSM.  Untuk ini Tazkia menggunakan badan hukum Yayasan dan tidak lagi penggunakan badan hukum perusahaan (PT. Tazkia Wahana Utama). Untuk memberikan penekanan bahwa Tazkia ini merupakan LSM yang bergerak dalam pendidikan dan pengembangan masyarakat maka dipilih nama Tazkia Institute.

Belajar dari kegagalan dan kehancuran industri perbankan nasional, Bank Indonesia sebagai otoritas moneter di Indonesia mencoba lebih intens lagi untuk mengembangkan perbankan syariah.  Salah satu komitmen dari tekad ini adalah dibentuknya Komiter Ahli Perbankan Syariah.  Salah satu tugas Komite Ahli Pengembangan Perbankan Syariah adalah untuk menyiapkan Rancangan Perubahan UU No. 7 tentang Perbankan yang akan memasukkan pengaturan tentang perbankan syariah sebagai salah satu bentuk perubahan yang dimaksud.  Upaya Bank Indonesia ini melahirkan UU No. 10 Tahun 1998 tentang Perubahan UU No. 7 tahun 1992 tentang Perbankan. Undang-undang ini mengatur secara khusus keberadaan perbankan syariah.

Lahirnya UU ini memberikan berkah tersendiri bagi Tazkia Institute.  Untuk mensosialisasikan UU ini Pak Haji sebagai pimpinan Tazkia diminta untuk menjadi pembicara di daerah-daerah.  Selain itu, untuk memberikan pemahaman yang memadai kepada para pejabat BI yang bertugas untuk membina dan mengawasi perbankan syariah, Tazkia diminta untuk merancang pelatihan bagi karyawan Bank Indonesia.

Dalam melaksanakan amanah tersebut di atas, Tazkia mendapatkan dukungan dari Bank Muamalat Indonesia (BMI) yang dipimpin oleh Bapak Zainul Arifin, MBA, Bapak Achmad Baraba selaku Direktur Operasi serta Bapak Arie Mooduto. Dukungan tersebut dilakukan baik dalam kapasitas sebagai pribadi maupun sebagai direksi BMI.  Dukungan yang diberikan oleh BMI adalah dengan kesediaan direksi untuk ikut menjadi instruktur pelatihan serta mengijinkan beberapa stafnya untuk menjadi instruktur dan merancang modul.  Personil BMI yang banyak membantu dalam persiapan ini antara lain Bapak Budi Wicakseno, Bapak Wiroso, Bapak Cecep Maskanul Hakim, Bapak Tatto Sugiopranoto dan Bapak Tunas.

Selain diminta untuk memberikan pelatihan-pelatihan bagi Bank Indonesia serta para bankir dari bank teknis, Pak Haji juga diminta oleh Bank Indonesia untuk menulis tiga buah buku tentang perbankan syariah dengan target pembaca yang berbeda, yaitu untuk para ulama dan akademisi, untuk para praktisi dan untuk masyarakat umum.  Buku-buku ini telah memberikan peran yang sangat signifikan bagi sosialisasi ekonomi syariah, khususnya perbankan syariah.

Dengan pengalaman memberikan pelatihan di Bank Indonesia, beberapa bank teknis mulai tertarik untuk menyelenggarakan pelatihan tentang perbankan syariah.  Bank-bank tersebut antara lain Bank Bumi Daya (BBD), Bank BTN, Bank Intan dan Bank Susila Bhakti (BSB).  Bank yang terakhir ini semakin intensif melakukan lokakarya dan pelatihan tentang perbankan syariah karena ada rencana dari direksi dan komisaris untuk melakukan konversi dari bank konvensional menjadi bank syariah.

Dengan memberikan pelatihan yang terus menerus, Tazkia Institute telah ikut mengantarkan Bank Susila Bhakti (BSB) menjadi Bank Syariah Mandiri (BSM). Pada fase ini, selain didukung oleh teman-teman dari BMI, Tazkia mendapatkan dukungan dari praktisi yang pernah aktif di BMI dan relatif mempunyai waktu yang luang.  Para praktisi yang dimaksud antara lain adalah Bapak Indrajaya Lubis dan Bapak Duddy Yustiadi.

Permintaan dari lembaga-lembaga komersial, khususnya lembaga perbankan,  telah mendorong para pendiri merasa perlu merubah wadah Tazkia Institute, dari yayasan kembali menjadi PT. Untuk kepentingan ini, Tazkia mendirikan PT baru yaitu PT Tazkia Inti Wahana.  Perusahaan ini langsung dipimpin oleh Pak Haji sebagai Direktur Utama dan sdr. Mukhamad Yasid sebagai Direktur Program.

Sukses mengantarkan BSB menjadi BSM, Tazkia Institute diminta oleh Bank JABAR untuk membantu menyelenggarakan pelatihan bagi karyawan dan pimpinan sebagai persiapan untuk membuka kantor cabang syariah.  Setelah mendapatkan persetujuan dari Komisaris yaitu Bapak Nurayana, Tazkia Institute ditunjuk oleh Bank JABAR untuk membantu pendirian kantor cabang syariah.  Mengingat ini merupakan tugas yang berat, Tazkia mulai merekrut tenaga-tenaga profesional. Atas kehendak Allah SWT, dalam waktu yang bersamaan di BMI terjadi pergantian direksi.  Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Tazkia Institute.

Begitu direksi lama diganti, Tazkia Institute langsung mengajak para mantan direksi BMI yang selama ini telah banyak membantu tersebut untuk bergabung dan memperkuat Tazkia.  Mula-mula hanya terbatas sebagai trainer,  konsultan dan associate partner.  Namun karena Pak Haji harus melanjutkan sekolah di Australia, sementara tenaga yang ada kurang memadai, maka Tazkia Institute meminta Zainul Arifin, MBA (Pak Zainul) untuk memimpin Tazkia Institute dan menjadi direktur utama dibantu oleh sdr. Mukhamad Yasid sebagai direktur program dan Pak Duddy sebagai Manajer Pelatihan.

Berdasarkan diskusi dengan para peserta pelatihan serta para direksi bank syariah serta masukan dari Bank Indonesia diperoleh suatu kesimpulan umum bahwa untuk melahirkan SDM dalam bidang perbankan syariah pada khususnya dan ekonomi Islam pada umumnya, tidak cukup hanya dengan memberikan pelatihan jangka pendek (short course) kepada para bankir.  SDM yang dibutuhkan adalah SDM yang menguasai secara seimbang dan mendalam baik teori-teori perbankan dan ekonomi konvensional maupun perbankan dan ekonomi Islam (syariah).  SDM dengan kualifikasi ini hanya dapat dilahirkan melalui pendidikan tingkat sarjana.  Atas dasar kebutuhan ini, maka Tazkia memutuskan untuk mendirikan Sekolah Tinggi Ekonomi Islam Tazkia dengan terlebih dahulu mendirikan Yayasan Tazkia Cendekia.

Persiapan STEI Tazkia ini dilakukan bersamaan dengan kegiatan Tazkia Institute.  Mengingat persiapan ini memerlukan curahan waktu yang penuh, maka Pak Haji menugaskan sdr. Mukhamad Yasid untuk menangani yayasan dan membebaskan yang bersangkutan dari tugas-tugas sebagai Direktur Program Tazkia Institute. Di Tazkia Institute sdr Mukhamad Yasid hanya bertindak sebagai Associate Partner bersama-sama dengan associate partner lain seperti Pak Agus, Pak Indra, Pak Arie Mooduto dan Pak Achmad Baraba.  Untuk persiapan sekolah ini, Yayasan diperkuat dengan Pak Ikhwan (Ikhwan Abdin Basri), Pak Arif (Syamsul Arif) dan Pak Inay (Inayatullah Hasyim)

Untuk membantu persiapan pendirian STEI Tazkia, selain tetap melakukan kegiatan-kegiatan utamanya seperti pemberian profesional training dan consulting, Tazkia Institute juga mengadakan berbagai seminar dan kajian ekonomi Islam.  Seminar dan kajian yang dilakukan antara lain:

  1. Seminar & Lokakarya Pendidikan Ekonomi Islam di Perguruan Tinggi

Dalam seminar ini didatangkan para pakar baik dari dalam mau-pun dari luar negeri antara lain:

  • Umer Chapra (Konsultan Senior Islamic Development Bank).
  • Dr. Satrio Sumantri Brojonegoro (Dirjen Dikti Depdiknas),
  • Cuk Sukiadi (Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia )
  • Dr. Johan Syarif (Konsorsium Ilmu-ilmu Ekonomi)
  • Dr. Halide (guru besar Universitas Hasanudin),
  • Dr. Amin Suma, MA (Dekan F. Syariah IAIN Syahid Jakarta)
  • Dr. Didin S. Damanhuri (Guru Besar IPB)
  • Dumairi, MA (Dosen Pasca Sarjana UGM Jogyakarta)

Seminar dihadiri oleh utusan dari perguruan tinggi yang mem-punyai fakultas atau program studi yang terkait dengan ekonomi, baik perguruan tinggi negeri maupun swasta.

 

  1. Seminar Prospek Perbankan Syariah Dalam Perspektif Sumber-daya Insani & Pasar

Yang betindak sebagai pembicara dalam kesempatan ini adalah para eksekutif dari lembaga perbankan dan lembaga keuangan syariah seperti

  • Riawan Amin, MSc (Dirut Bank Muamalat Indonesia)
  • Agus Siswanto (Dirut Asuransi Takaful Keluarga)
  • Shakti Agustono, SE (Dirut Asuransi Takaful Umum)

 

  1. Kajian Ilmu Ekonomi

Program ini diselenggarakan bekerja sama dengan Lembaga Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia (LPM-UI). Kajian Ilmu Ekonomi berlangsung dua angkatan yang diikuti oleh para mahasiswa dan praktisi, masing-masing berlangsung selama 3 bulan.  Beberapa alumni program ini telah diterima di Bank Syariah, bahkan ada diantaranya yang menjabat sebagai Direktur Bank Umum Syariah.

Pada tahun 2001 Berdirilah STEI TAZKIA dengan Visi menjadi lembaga pendidikan yang unggul dalam bidang ekonomi, keuangan dan manajemen syariah melalui sistem pendidikan yang Islami dan berwawasan rahmatan lil alamin,

Dengan Misi :

  • Menyebarluaskan ekonomi Islam baik secara teori maupun praktek.
  • Melahirkan profesional dan pengusaha yang mampu menjadi katalisator penerapan nilai – nilai Islam dalam dunia bisnis, manajemen, keuangan, jasa dan perdagangan.

Dengan Tujian :

menghasilkan sarjana atau alumni yang:

  1. Mampu menjadi profesional dan eksekutif lembaga bisnis yang dikelola secara Islami.
  2. Mampu menjadi cendekiawan dan akademisi dalam bidang ekonomi Islam.
  3. Mampu menjadi penentu kebijakan publik yang teladan.
  4. Mampu menjadi pengusaha yang menerapkan nilai – nilai Islam.

History Of STEI TAZKIA

The condition of the world economy today has encouraged the birth of Islamic finance institutions managed in various countries. In Indonesia, this is marked by the birth of sharia financial institutions such as Bank Muamalat Indoesia, Bank Syariah Mandiri, Bank Danamon Syariah, Bank Bukopin Syariah, Bank BNI Syariah, Bank IFI Syariah, Bank Jabar Syariah, Bank BRI Syariah, Bank BTN Syariah, Bank Syariah Mega Indonesia, Bank Permata Syariah, Bank BII Syariah, Syariah BPR, Takaful Insurance, Great Eastern Syariah Division, Asuransi Syariah Al-Mubarakah, Amil Zakat Institution which has been supported by the birth of Zakat Law, Sharia Capital Market, BMT and Sharia Cooperative.

However, the development of Islamic finance institutions and other Islamic-managed businesses has not been supported by the availability of adequate human resources, in terms of managers, entrepreneurs, and academics who consistently study and develop a comprehensive integrative Islamic economy.

These conditions encourage Tazkia Cendekia Foundation to open educational programs that can meet the needs of human resources in question.

Towards the economic crisis in the last quarter of 1997, as a preacher of Islamic economics, H. Muhammad Syafii Antonio M.Ec – among his friends known as Pak Haji – invites friends who are committed to developing the Islamic economy for establish a container for the efforts that have been pioneered so far more focused and directed. The friends included Mr. Agus Haryadi (Pak Agus) and Mr. Amin Musa (Pak Amin) who participated in charge of Takaful Insurance company and happened to be inactive at the company.

To strengthen the container, Mr. Agus invites Br. Mukhamad Yasid is one of the lecturers in IKOPIN who has been studying and practicing practitioners in the Logical Framework Approach (LFA) method as one of the methods to design an organization’s strategy, both profit oriented and non-profit. The team is supported by Sanusi who has long been in the computer and publishing world and Endang Suhendra an insurance practitioner.

As a result of several meetings, PT. Tazkia Wahana Utama. The company was founded by Pak Haji, Pak Agus and Pak Amin. For the day-to-day implementation, Br Mukhamad Yasid to become Director. The company is engaged in Islamic finance and management services (Islamic Finance and Management Services). The company is mainly engaged in the implementation of training programs on the implementation of Islamic economics both in the financial sector and Islamic management and seeks to become agents and networks of Islamic financial institutions such as Takaful Insurance and Bank Muamalat Indonesia.

By capitalizing on Pak Haji’s character and relationship due to his lectures on Islamic economics, in December 1997, PT Tazkia Wahana Utama got the first client, PT Mayasari Bakti. The services provided are strategic planning of Mayasari Group. The preparation of this strategic plan was carried out through LFA workshop attended by all shareholders (family of Mr. Haji Mahpud) and board of directors. The workshop was held at Hotel Horison Ancol.

After facilitating the Mayasari Group, PT Tazkia Wahana Utama got the next client to set up the foundation’s system and procedures to be applied to the foundations that have received assistance from Mr. Tachril Sapiie (Mr. Aling) one of the directors of Bimantara Group. In addition to the preparation of the system, TAZKIA also helps these foundations to establish BMTs and provides entrepreneurial training for orphans who receive compensation from Mr. Aling.

The next client is the Government of West Java Province Tk I. By Mr. Nuryana as the governor of West Java, Tazkia was asked to socialize the Islamic economy and its application opportunities in West Java. One of the action programs to implement this system is the Pioneering and Preparation of Sharia Cooperative System and Procedures in several cities in West Java. In this phase, in the politics of Indonesia is a period of reform after the fall of the reign of the new order. In this era of reform, the government is actively encouraging and giving the widest possible freedom to non-governmental organizations (NGOs) to help develop the economic potential of the people, whether in the form of education for small businesses or by involving NGOs to distribute government credit.

Not wanting to miss the situation and conditions, Tazkia tries to take part as one of the NGOs. For this reason Tazkia uses the foundation’s legal entity and no longer uses the company’s legal entity (PT Tazkia Wahana Utama). To emphasize that Tazkia is an NGO engaged in education and community development, the name Tazkia Institute was chosen
Based on discussions with the trainees as well as the directors of sharia banks and input from Bank Indonesia, it is concluded that in order to produce human resources in sharia banking in particular and Islamic economics in general, it is not enough to provide short-term training to banker. HR is needed is human resources that master the balance and depth both the theories of banking and conventional economics and banking and Islamic economics (syariah). HR with this qualification can only be born through undergraduate level education. On the basis of this need, Tazkia decided to establish Islamic High School of Tazkia by first establishing the Tazkia Cendekia Foundation.
Preparation of STEI Tazkia is conducted simultaneously with the activities of Tazkia Institute. Given this preparation requires a full time outpouring, then Mr. Haji commissioned Br. Mukhamad Yasid to handle the foundation and release the concerned from the duties as Director of the Tazkia Institute Program. At Tazkia Institute Br Mukhamad Yasid only acts as an Associate Partner together with other associate partners such as Pak Agus, Pak Indra, Mr. Arie Mooduto and Mr. Achmad Baraba. For the preparation of this school, the Foundation is strengthened with Pak Ikhwan (Ikhwan Abdin Basri), Pak Arif (Syamsul Arif) and Pak Inay (Inayatullah Hashim)
To help prepare for the establishment of STEI Tazkia, in addition to conducting its main activities such as professional training and consulting, Tazkia Institute also holds various seminars and studies of Islamic economics. Seminars and studies conducted include:
1. Seminar & Workshop on Islamic Economics Education at Higher Education
In this seminar, experts from both inside and outside Indonesia are:
• Umer Chapra (Senior Consultant of Islamic Development Bank).
• Dr. Satrio Sumantri Brojonegoro (Directorate General of Higher Education),
• Cuk Sukiadi (Chairman of the Association of Indonesian Economics Graduate)
• Dr. Johan Syarif (Consortium of Economic Sciences)
• Dr. Halide (Professor of Hasanudin University),
• Dr. Amin Suma, MA (Dean of F. Syariah IAIN Syahid Jakarta)
• Dr. Didin S. Damanhuri (Professor of IPB)
• Dumairi, MA (UGM Lecturer of Jogjakarta)
The seminar was attended by representatives from universities with faculty or courses related to economics, both public and private universities.

2. Sharia Banking Prospect Seminar In Perspective of Human Resources & Market
The acts as speakers on this occasion are executives from banking institutions and Islamic financial institutions such as
• Riawan Amin, MSc (President Director of Bank Muamalat Indonesia)
• Agus Siswanto (Managing Director of Takaful Family Insurance)
• Shakti Agustono, SE (General Director of Takaful Insurance)

3. Economic Studies
This program is held in collaboration with the Institute of Community Service of the University of Indonesia (LPM-UI). The study of Economics took two classes followed by students and practitioners, each lasting for 3 months. Several alumni of this program have been accepted in Bank Syariah, even some of them who served as Director of Sharia Commercial Bank.
In 2001 STEI TAZKIA stands with Vision to be an excellent educational institution in the field of economics, finance and sharia management through an Islamic education system and insightful rahmatan lil alamin,
With Mission:
• Disseminating the Islamic economy both in theory and practice.
• Produce professionals and entrepreneurs who are able to catalyze the implementation of Islamic values ​​in business, management, finance, services and trade.
With Tests:
produce a graduate or alumni who:
1. Able to become a professional and executive business institution that is managed in an Islamic way.
2. Able to be a scholar and academician in the field of Islamic economics.
3. Able to be an exemplary public policy maker.
4. Able to become entrepreneurs who apply Islamic values

Ahmad BukhoriSejarah STEI Tazkia