All posts tagged: Monday Forum

Fintech dari Perspektif Syariah, Bagaimanakah?

No comments

Ini bukti keuangan syariah melek perkembangan zaman. Financial Technology (FinTech) pun telah ada yang syariah.

Di perkembangan teknologi keuangan di Indonesia, beberapa jenis FinTech telah dapat disyariahkan. Fatwa-fatwa tentang FinTech yang dikeluarkan Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI) telah mengakomodasi berbagai jenis FinTech. Namun memang belum semua jenis.

Menurut Abdul Mughni, Lc., MHI, pengajar Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Tazkia,  beberapa jenis FinTech yang telah diatur kesyariahannya adalah jenis Peer to Peer Lending (pinjaman berbasis teknologi), uang elektronik (e-Money), dan gerbang pembayaran (payment gateway). “Sedangkan beberapa jenis FinTech seperti crowdfunding, market aggregator, risk and investment management belum memiliki fatwa syariahnya. Lain halnya seperti criptocurrency, maka ia hanya akan dikeluarkan fatwa DSN-MUI jika otoritas (Otoritas Jasa Keuangan – red) tidak melarang”, kata Mughni saat Monday Forum, dengan topik “Fintech Phenomenon and Its Problems from the Sharia Perspective”, Senin (28/1).

Dalam kegiatan yang rutin digelar oleh Lembaga Penelitian dan Pengembangan Masyarakat (LPPM) STEI Tazkia ini, Mughni mengatakan, baru dua perusahaan yang menyabet gelar sebagai FinTech syariah. “Ada dua perusahaan yang sudah masuk kategori financial technology yang sesuai Syariah. 10 perusahaan fintech lainnya masih dalam proses pendaftaran, karena salah satu syarat menjadi syariah adalah perusahaan tersebut harus memiliki dewan pengawas syariah sesuai syarat DSN-MUI”, kata Mughni. Dua perusahaan tersebut adalah Amanna dan Investree.

Lebih lanjut, Mughni menjelaskan perkembangan fatwa terkait FinTech. Sampai saat ini, DSN-MUI telah menerbitkan fatwa-fatwa yang berhubungan dengan FinTech. Di antaranya fatwa yang telah dikeluarkan oleh MUI yakni fatwa nomor 116/DSN-MUI/IX/2017 tentang Uang Elektronik Syariah dan 117/DSN-MUI/II/2018 tentang Layanan Pembiayaan Berbasis Teknologi Informasi Berdasarkan Prinsip Syariah.

Selain fatwa, DSN MUI juga melakukan pengawasan terhadap FinTech syariah. Model pengawasannya yang dilakukan oleh DSN-MUI sampai saat ini mencakup dua bentuk. Pertama, Lembaga Keuangan/Bisnis Syariah yang sudah memiliki otoritas yang mengatur dan mengawasi dalam hal ini seperti bank, Industri Keuangan non Bank (IKNB), entitas pasar modal, uang elektronik, koperasi/BMT, bursa komoditas, maka diperlukan pengajuan izin usaha dan pengaturan sesuai otoritas berwenang.

Kedua, pada lembaga bisnis syariah yang tidak memiliki otoritas yang mengatur dan mengawasi seperti MLM, online trading, perusahaan rental, hotel, rumah sakit, perusahaan jasa IT, travel umrah/haji, sistem online trading syariah, maka perusahaan tersebut langsung melakukan pengajuan rekomendasi DPS dan dari Sertifikasi Lembaga Bisnis Syariah.

Anda juga bisa menyaksikan rekaman video Monday Forum Fintech Phenomenon and Its Problems from the Sharia Perspective”, Senin (28/1) lengkap di sini.

Monday Forum, adalah wahana olah pikiran rutin yang diadakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengembangan Masyarakat (LLPM), STEI Tazkia. Monday Forum terbuka untuk umum, baik bagi pemateri ataupun audiensnya. Di Monday Forum pemateri, yang umumnya adalah para dosen Tazkia, diberi kesempatan memaparkan hasil penelitiannya atau proposal penelitiannya kepada audiens. Layaknya sebuah diskusi, Audiens pun memiliki kesempatan menanggapi paparan dari pemateri.

Diadakan tiap pekan, pada Senin pagi pukul 9.30-11.30 WIB, Monday Forum telah menjadi ajang para akademisi Kampus Tazkia untuk meningkatkan kapasitas dan kualitasnya. Ajang ini juga bisa digunakan untuk mempersiapkan diri sebelum mengikuti konferensi internasional.

Download Materi Monday Forum 28 Januari 2019
Silakan unduh materi presentasi: FENOMENA FINTECH DARI PERSPEKTIF SYARIAH DAN PERMASALAHANNYA dari DSN MUI dengan mengisi sedikit data di bawah ini. Berkas berformat PDF akan segera terunduh di browser Anda setelah Anda mengeklik, “Download”. Berkas berukuran sekira 3,6 MB.

Miftahul AnwarFintech dari Perspektif Syariah, Bagaimanakah?
read more

Global Monetary Trend: Its Effect Towards The Growth of Islamic Finance

No comments

Senin, 14 Januari 2019 / 08 Jumadil Awal 1440 H, dengan Pemateri :Prof. Dr. Muhammad Said, MA. (Ketua Program Doktor Keuangan dan Perbankan Syariah UIN Syarif Hidayatullah) serta Moderator: Ries Wulandari,M.Si (Kepala LPPM STEI Tazkia)

Banyak pertanyaan dibenak masyarakat terkait eksistensi Ekonomi Islam dalam tataran hukum positif saat ini. Begitu pun juga para pelaku sistem ekonomi konvensional mempertanyakan apakah sistem ekonomi konvensional yang saat ini digunakan mampu menghadapi fluktuasi keuangan global.


Dalam pemaparannya di Monday Forum yang diselenggarakan LPPM STEI Tazkia, Prof. Muhammad Said mengatakan “Banyak terjadi kekhawatiran di negara-negara maju terhadap sistem keuangan saat ini, padahal teori ekonomi keuangan telah dirumuskan, namun rangkaian badai krisis belum menunjukkan titik terang akan segera berlalu, apakah penyebabnya?, apakah manusianya yang salah, ataukah premis tentang pembangunan yang kurang tepat?. Lalu bagaimana jika dengan hadirnya sistem keuangan Islam, apakah ia dapat meresolve problema-problema yang terjadi?.”
Kita saat ini hidup di era revolusi digital, platform trading online dan mata uang daring seperti bitcoin, mereka tumbuh dengan cepat sejalan dengan pertumbuhan perusahaan finansial teknologi. Fakta mengingatkan kita bahwa sistem keuangan akan selalu berkembang dan Regulator/pengawas keuangan harus selalu waspada terhadap evolusi tersebut dan berlaku tangkas menghadapinya. Dalam outlook ekonomi tahunan IMF, mengatakan bahwa kita harus berhati-hati terhadap tantangan global yang terjadi pada perekonomian dunia untuk mencegah Great Depresion yang kedua kalinya. (Wall Street Crash (1929-1930).


Premis pembangunan yang kurang tepat juga merupakan kelemahan dari sistem ekonomi dan keuangan konvensional saat ini. Agama dan moral adalah salah satu penyebab masalah ekonomi, selain itu masyarakat juga tamak terhadap uang, dan segala sesuatu. Seperti halnya Plato yang memiliki sifat serakah, Bernard de Mandevilee (1670-1733) “ The Fable of the Bees” greedy animal memberikan dampak yang negatif pada pertumbuhan dan perkembangan ekonomi dan sosial masyarakat. Adam Smith juga sangat mempercayai sifat Materialistic dan Egoistic.


Pada akhirnya kesalahan ekonomi konvensional menyebabkan ketidakadilan dan distribusi kekayaan yang tidak merata, menjadi tidak sejahtera, kesalahan dalam problem solving kemiskinan, eksploitasi sumber daya, terjadinya peperangan untuk memperebutkan sumber daya, inflasi, deflasi, pengangguran. Kesalahan dalam teori konvensional ini membuat proses pembangunan negara menjadi tidak sempurna.
Lalu, bagaimanakah resolusi Islam atas pembangunan ekonomi dan keuangan modern ini. Prof Muhammad Said mengatakan bahwa dalam Islam, manusia adalah sebagai agen ekonomi, yang menjadi makhluk madani, bukan hanya memenuhi keinginan akan tetapi memenuhi kebutuhan akan material dan spiritual. Spiritual manusia menjadi lokus personal yang membuat Ekonomi dan Keuangan Islam dibangun atas dasar hakekat manusia, jasmani dan rohani.
Dalam pembangunan Ekonomi dan Keuangan Islam, menerapkan hukum Islam dalam ekonomi alam, hal ini tumbuh secara cepat di negara barat maupun negara timur. Dalam perkembangan jangka pendek ekonomi dan keuangan Islam masih belum stabil, akan tetapi dalam jangka panjang ekonomi Islam akan menjadi kuat, ia akan tumbuh 30% per tahun sejalan dengan kaum muslim yang telah menggunakan jasa keuangan saat ini sebanyak 1,4 juta orang. Menurut Nida (2016) hari ini industri keuangan telah memakai sistem keuangan Islam secara menyeluruh. Pangsa pasar pada akhir tahun 2018 juga mencapai $ 3,4 juta.

Rizqi ZakiyaGlobal Monetary Trend: Its Effect Towards The Growth of Islamic Finance
read more

Tingkatkan Kualitas Dosen, Tazkia ke Manila Pekan Depan

No comments

Sebanyak tujuh dosen STEI Tazkia akan berangkat ke Manila pekan depan mengikuti ASEAN Universities International Conference on Islamic Finance (AICIF).

Salah satu event bergengsi tingkat Asia Tenggara, ASEAN Universities International Conference on Islamic Finance (AICIF) akan memasuki tahun ke-6 tahun ini. Kampus pelopor ekonomi Islam, Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Tazkia akan mengirimkan tujuh dosen terbaiknya untuk mengikuti even ini.

Ketujuh dosen akan mempresentasikan penelitiannya di Manila, Filipina. Dalam rangka persiapan sebelum mengikuti AICIF yang akan diadakan pada 13 November 2018, sebanyak tiga dosen STEI Tazkia mempresentasikan penelitiannya dalam forum presentasi dosen (Monday Forum), Senin (5/11). Presentasi akan dilanjutkan oleh tiga dosen lagi di pekan depan pada jam dan tempat yang sama.

STEI Tazkia mendorong dosennya untuk mengikuti konferensi nasional dan internasional untuk memacu semangat melakukan penelitian. Tidak melulu waktunya habis untuk mengajar mahasiswa. Dosen yang aktif dalam penelitian diharapkan dapat menularkan wawasan dan semangatnya kepada mahasiswa.

Forum presentasi dosen khas STEI Tazkia, Monday Forum kali ini tidak hanya diisi oleh presentasi calon delegasi AICIF ke-6, juga menghadirkan presentasi dari laporan penelitian yang disampaikan oleh Rochania Ayu Yunanda, M.Sc (Acc) dan Pak Faried Kurnia Rahman, M.Sc (Fin).

Rochania Ayu Yunanda, M.Sc (Acc) atau yang akrab disapa Ibu Anda, berbicara tentang kesiapan perbankan syariah di Indonesia dan Malaysia dalam mengadopsi dan mengimplementasi VBI (Value Base Implementation). VBI adalah nilai bahwa bank syariah mampu memberikan pengaruh berkelanjutan bagi ekonomi dan lingkungan. Anda menyebutkan, bahwa perbankan syariah Malaysia akan mengimplementasikan VIB dilihat dari laporan keuangan tahun 2017. Sedangkan, melihat dari laporan keuangan Perbankan Syariah Indonesia tahun 2017 menunjukkan bahwa VIB sudah diterapkan walaupun tidak menggunakan istilah tersebut.

Presenter delegasi AICIF keenam hari ini adalah Grandis Imamahendra, M.Sc (Fin); Miftakhus Surur, M.Sc.; dan Nurizal Ismail, M.A. Grandis berbicara tentang perbedaan kualitas pendapatan dan tingkat kebangkrutan Perbankan Syariah Indonesia dan Malaysia antara sebelum dengan sesudah menggunakan International Financial Reporting Standard (IFRS). Hasilnya, Grandis menyebutkan bahwa ada perbedaan kualitas pendapatan pada Perbankan Syariah Malaysia antara sebelum menggunakan IFRS dengan sesudahnya sedangkan tidak ada perbedaan pada Perbankan Syariah Indonesia.

Monday Forum ke depan akan lebih banyak menghadirkan presentasi hasil presentasi dosen. Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc selaku ketua STEI Tazkia terus mendorong dosen-dosen untuk mengirimkan penelitiannya pada jurnal dan konferensi internasional guna meningkatkan kualitas wawasan dan pengalaman.

Miftahul AnwarTingkatkan Kualitas Dosen, Tazkia ke Manila Pekan Depan
read more