All posts tagged: International Program

STEI Tazkia Berkomitmen Terbaik dalam Proses Akreditasi, Incar Akreditasi Global pada 2025

No comments

STEI Tazkia terus berkomitmen menyelenggarakan pendidikan ekonomi syariah terbaik di Indonesia dan mampu bersaing di level global

Kampus pelopor ekonomi Islam, Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Tazkia pada tahun ini memasuki tahun visitasi Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Visitasi terbanyak bagi kampus yang berlokasi di Sentul City ini. Dimulai dengan proses akreditasi Program Studi Bisnis Manajemen Islam pada Juli lalu, disusul dengan visitasi ahli status dari sekolah tinggi menjadi institut pada Agustus 2018.

Kemudian pada 4-6 Desember 2018, yang lalu telah diadakan visitasi untuk akreditasi ulang Program Studi Ekonomi Islam. Pada 10-11 Desember 2018, baru saja berlangsung akreditasi institusi.

Hasil dari seluruh visitasi tersebut adalah, semua program studi sudah terakreditasi B (Baik), dan satu di antaranya, yaitu Program Studi Akuntansi Syariah berpredikat Akreditasi A (Sangat Baik).

Ketua STEI Tazkia, Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc menyatakan bahwa pihaknya bersyukur atas perolehan akreditasi tahun ini. Ini menunjukkan keseriusan pihaknya. “Dengan tekad memastikan kualitas pendidikan, kampus Tazkia selalu serius dalam menjalankan proses akreditasi”, kata Murniati menjelaskan.

Namun masih perlu ditingkatkan ke level internasional. “Sesuai dengan visi-misi Kampus Tazkia, akreditasi nasional perlu ditingkatkan menjadi akreditasi internasional karena pada tahun 2025, Kampus Tazkia berazam ingin menjadi rujukan global” kata Murniati menambahkan.

Cita-cita ini juga tak terlepas dari mulai banyaknya pengajar dan mahasiswa STEI Tazkia yang meraih prestasi nasional dan internasional. Salah satunya yang terbaru adalah keikutsertaan delapan dosen senior STEI Tazkia mengikuti the 6th ASEAN Universities International Conference on Islamic Finance (the 6th AICIF) yang diadakan oleh International Council of Islamic Finance Educators (ICIFE) di Manila, Filipina pada 14-15 November 2018. Baca juga: Dosen tazkia Go Asean

Di level lokal, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) baru saja menggandeng Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LPPM) STEI Tazkia, untuk kajian inovasi produk perbankan syariah.

Kajian yang dilakukan pada Mei – November 2018 ini merekomendasikan 10 model bisnis baru untuk perbankan syariah Indonesia. Model bisnis baru ini akan menghasilkan produk akan dinamakan Shariah Restricted Intermediaries Account (SRIA). Baca juga: 10 Model Bisnis Baru Perbankan Syariah

Sementara, Wakil Ketua Bidang Akademik STEI Tazkia, Andang Heryahya, Mpd., Mpdi., yang juga bertanggung jawab atas proses akreditasi di STEI Tazkia menambahkan, “Kami semua berharap hasil dari proses akreditasi ini akan memberikan nilai terbaik untuk kampus kami, tentu saja kami berharap nilainya A”.

Menuju Pendidikan Ekonomi Syariah Terlengkap
Selama 18 tahun ini Sekolah Tinggi Ekonomi Islam Tazkia menawarkan program ekonomi syariah yang dimulai dengan pengkhususan mencetak ahli perbankan dan keuangan syariah.

Seiringnya waktu, STEI Tazkia juga menawarkan program studi hukum ekonomi syariah, keuangan mikro syariah dan pendidikan ekonomi syariah.

Banyak kelebihan yang dimiliki STEI Tazkia dari segi Tridharma pendidikan dimulai dari kualitas dosen pengajar, sistem pengajaran yang sudah mengarah ke kurikulum internasional, penelitian dan publikasi di jurnal nasional dan internasional, pengabdian masyarakat baik di sekitar lingkungan kampus hibgga ke mancanegara.

Namun kekurangannya masih juga ada yaitu belum adanya dosen berstatus guru besar yang dinobatkan oleh kampus Tazkia, terbatasnya dosen yang menguasai ilmu ekonomi dan pengetahuan fiqh yang kuat serta terbatasnya lahan kampus untuk asrama mahasiswa.

“Kami berterima kasih atas dukungan dari segenap stakeholders baik itu dari internal yayasan, orangtua mahasiswa, alumni, para mitra dan pengguna alumni di dalam maupun luar negeri, badan otoritas negara serta pemerintah daerah yang senantiasa mendukung program-program Tazkia” kata Murniati menutup.

Download Siaran Persnya di Sini 

Miftahul AnwarSTEI Tazkia Berkomitmen Terbaik dalam Proses Akreditasi, Incar Akreditasi Global pada 2025
read more

PDO BEM STEI Tazkia mengusung Isu Global SDGs

No comments

Bogor, 25 November 2018 BEM STEI Tazkia mengadakan Pelatihan Dasar Organisasi di International Auditorium 3.1 Kampus STEI Tazkia. Mengusung tema “Run through SDG’s: Dedication and Integrity as Youth’s Core Value”, PDO 2018 ingin memberikan outcome berupa program-program yang memiliki dampak berkelanjutan yang akan dieksekusi oleh seluruh organisasi REMA STEI Tazkia dengan penuh dedikasi dan integritas. PDO 2018 dihadiri oleh 71 petinggi organisasi dan UKM meliputi ketua, wakil ketua, kepala divisi, dan wakil ketua divisi.

Acara dibuka dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an pada pukul 08.00, dilanjutkan dengan pemaparan materi pertama oleh Saudara Gilang Ardana yang merupakan Co-founder dan CEO Youth Corps Indonesia. Materi pertama ini mengangkat isu Menejemen Organisasi yang sangat mampu membuka cakrawala berpikir peserta hingga kemudian dapat menjalankan program dengan dasar kebermanfaatan. Selain itu, pengelolaan hubungan dengan stakeholders di masing-masing organisasi juga menjadi diskusi menarik. Materi pertama ini ditutup dengan Focus Group Discussion antar sesama bidang organisasi.

Rizqi ZakiyaPDO BEM STEI Tazkia mengusung Isu Global SDGs
read more

International Talk Series Waqf Management in Ottoman Empire Era

No comments

The International Talk Series recently presented the Director of ISEFAM Sakarya University, Assoc. Prof. Dr. Sulëyman KAYA. The Talk Series was utilising webinars, the seminars through the web. Irham Amir, L.c, M.Sc. opened the seminar as the moderator and the translator. Talk Series continued with a speech by Dr. Syafi’i Antonio as the chairman of the Tazkia Foundation. Sir. Syafi’i explained the general condition of Waqf in Indonesia and shows his interest to know about Waqf in Ottoman Empire such as Cash Waqf. Following this, Mr. Irham invited Prof. Sulëyman to deliver the seminar.


Prof. Sulëyman explained the Waqf system in the Ottoman Empire. The Ottoman Waqf institution managed most of Ottoman lands at that time. Not only land, property and money (Dinars and Dirhams) are also used as objects of Waqf. Qardhul hasan and ba’I istighlal were the most used contract for Waqf in this empire. These had a profound effect on the state. The professor also discussed the legal endowments with goods containing elements of usury. The institution ensured that the goods used were halal in term of Islam perspective. Some Ottoman scholars said that endowments with items with usury are not permitted while others allowed if the element of unavoidably usury less than 15 per cent. After the collapse of the Ottoman Empire, Waqf management was dramatically felling down. Turkish welfare was threatened. Some of the existing Waqf land has turned into a church.

Even now there are many mosques built by individuals not by the institution. As such, the Turkish government now seeks to restore the function and role of Waqf institution in order to return the Glory of Ottoman Waqf Management.

The next session is question and answer guided by the moderator. The first questioner asked about the Waqf application system. Prof. Sulëyman said that no application nowadays is used yet. The Turkish Waqf system still utilises conventional method by sending administrators from branch offices to inhabitants collect Waqf assets and manage Waqf. The second questioner asked the contribution of Waqf to the country’s income, and the professor stated that Waqf in Ottoman empire did not contribute to state’s income, so that the profits obtained were directly managed by the Waqf institution.

The third questioner asked is Waqf in Turkey spread in Turkey only or abroad? Prof. Sulëyman answered that Waqf was also distributed to Sudan, Nigeria and Palestine in which more focused on daily needs funds. The question and answer session ended up after the Asr Athan, and the moderator closed the seminar.

Watch the live video of this event:

Rizqi ZakiyaInternational Talk Series Waqf Management in Ottoman Empire Era
read more

STEI Tazkia Jalin Kerjasama dengan Lembaga Riset Malaysia

No comments

Gaung STEI Tazkia semakin menggema di negeri Jiran Malaysia. Pada hari Selasa, 13 November 2018, telah dilaksanakan penandatanganan kerjasama antara STEI Tazkia dan International Institute of Advanced Islamic Studies (IAIS) Malaysia. Lembaga ini merupakan lembaga penelitian tentang keagamaan Islam yang didukung penuh oleh pemerintah Malaysia.

Kerjasama meliputi bidang penelitian, seminar, publikasi dan praktik magang untuk mahasiswa Tazkia.
Kerjasama ini ditandangani oleh Prof. Mohammad Hashim Kamali (Founding CEO IAIS) dan Dr. Mukhammad Yasid (direktur Pascasarjana Tazkia).


Menariknya, kerjasama ini disaksikan langsung oleh menteri Agama Malaysia, Dr. Mujahid Yusof Rawa.
Seremoni ini dilaksanakan bertepatan dengan peringatan 10 tahun IAIS. Diperkirakan 150 orang baik akademisi, praktisi dan pemerintah yang turut hadir dalam acara ini.

Rizqi ZakiyaSTEI Tazkia Jalin Kerjasama dengan Lembaga Riset Malaysia
read more

International Muslim Scholar Talk Series with Prof. Mehmet Asutay, Durham University

No comments

STEI Tazkia hosted International Muslim Scholar Talk with the guest speaker, Prof. Mehmet Asutay, Professor of Middle Eastern and Islamic Political Economy & Finance, from Durham University, United Kingdom on Wednesday on 5 September 2018/24 Dzulhijjah 1439 H.

The agenda was started by a discussion chaired by Dr. Arip Rahman on Islamization of Economics. On 9.00 am, the agenda was continued by keynote speech on Islamic Moral Economy Theory Development both of Conventional and Islamic Thoughts delivered by. Prof. Asutay. He explained that the Islamic moral economy emerged in the modern sense in the late 1960s and early 1970s as an attempt to develop an authentic understanding of the Islamic system of economics and develop policies accordingly. As part of this concept, Islamic banks and financial institutions are considered as the institutional aspects of this moral economy, which can pool their resources together to finance real economy activity. However, the transformation of Islamic banking into a commercial banking form since mid-1975 has resulted in unprecedentedly successful financial performance, which, however, has been at the expense of the a�?social and economic developmentalista�� aspirations of Islamic moral economy. Therefore, Islamic banks and financial institutions are criticised for their social failure.

The correction of the observed social and developmentalistsa�� failure is essential for sustainable development and therefore for fulfilling the promise of Islamic Moral Economy (IME). In serving such objectives, new Islamic financial institutions beyond but in addition to Islamic Banks and Financial Institutions (IBFIs) are necessary and essential. Therefore, in the new institutionalization stage, IBFIs should relate to the substancea�� and the a�?consequencesa�� rather than merely the a�?form,a�� which would help to moderate and remedy the divergence observed in the present practices of IBFIs.

On 10.00 am, the agenda was continued by exchanging token of appreciation between Tazkia and Durham University because Prof Asutay has been scheduled to visit other places. After that, discussion was continued by Mr Nurizal Ismail on history of Islamic Moral Economy until 11 AM. There are three conclusion that he has mentioned; First, the moral economy that was established by early Muslim scholars referred to the primary sources (Quran and Sunah) of Islam and develop in their works. Second, in philosophical foundation, Islamic economics is distinction with Conventional economics which emphasizes the moral in economy. And Lastly, Islamic moral economy is comprehensive economy that is not only focus on moral but also the whole aspects of Islamic worldview.

By: International Program and Partnership Office

Rizqi ZakiyaInternational Muslim Scholar Talk Series with Prof. Mehmet Asutay, Durham University
read more