All posts tagged: institut tazkia

Perkuat Kurikulum Ekonomi Syariah, STEI Ar Risalah Belajar ke Institut Tazkia

No comments

Kamis, 17 Desember 2020/ 2 Jumadil Awwal 1442. Bogor. Institut Tazkia kembali mendapat tamu daring melalu aplikasi zoom untuk studi banding terkait pengembangan kurikulum ekonomi syariah.

Pada kali ini yang mengajukan studi banding adalah Kampus STEI Ar Risalah Sumatera Barat. Pertemuan diadakan melalui aplikasi zoom dengan dihadiri oleh Manajemen Ar Risalah terdiri dari:

  • Ketua STEI Ar Risalah Bapak H. Ulyadi, Lc., M.A., Puket I
  • Bapak Doni Eka Putra, S.E.I., M.E
  • Puket III Bu Radia Fitri, S.E.I., M.E.
  • Ketua Prodi Ekonomi Islam Bu Afriyanti, S.H.I., M.E.

Dari Institut Tazkia hadir dalam studi banding online ini beberapa perwakilan Manajemen Institut Tazkia terdiri dari:

  • Rektor Institut Tazkia Bu Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc., CFP.;
  • Wakil Rektor I Bidang Akademik Dr. Andang Heryahya, M.Pd;
  • Wakil Rektor III Bidang Humas, Kemahasiswaan dan Alumni Bapak Faried Kurnia Rahman, M.Sc. (Fin);
  • Dekan FEBI Bapak Dr. Afif Zaerofi, MM,;
  • Koordinator Prodi Ekonomi Syariah Bapak Nashr Akbar, M.Ec.;
  • Serta Kabag Kemahasiswaan & Alumni Bapak Rizqi Zakiya, M.E.

STEI Ar Risalah yang baru memiliki 2 angkatan hingga saat ini, meminta nasihat kepada Institut Tazkia sebagai Kampus Terbaik Penyedia Pendidikan Keuangan Syariah Global dalam pengembangan kurikulum Ekonomi Syariah di STEI Ar Risalah. Diskusi berlangsung hangat dengan berbagai pengalaman yang bisa menjadi informasi berharga bagi STEI Ar Risalah dalam melangkah ke depan sebagai bahan pertimbangan dalam merumuskan kurikulum serta persiapan kebutuhan proses akreditasi maupun pengembangan program lainnya.

Studi banding ini merupakan studi banding kesekian kalinya bagi Institut Tazkia, setelah sebelumnya dari awal Tazkia berdiri menjadi rujukan dan Inspirasi bagi kampus Negeri maupun swasta untuk pengembangan kurikulum maupun Implementasi Ekonomi Islam baik kancah nasional maupun global. Semoga peran ini dapat terus ditingkatkan oleh Institut Tazkia sehingga Visi Tazkia dapat tercapai di 2025 sebagai kampus rujukan bagi calon pemimpin bisnis dan intelektual tingkat Global berkarakter T-A-Z-K-I-A ( Tauhid, Amanah, Zero Defect Quality, Knowledge & Competence, Innovative Istiqomah, Achievement Through Teamwork).

Rizqi ZakiyaPerkuat Kurikulum Ekonomi Syariah, STEI Ar Risalah Belajar ke Institut Tazkia
read more

Perkuat Softskill Bisnis, Mahasiswa Hafizpreneur Mengikuti Pelatihan Pengembangan Produk

No comments

Kamis, 17 Desember 2020 / 2 Jumadil Awwal 1442 H. Dramaga, Bogor. Mahasiswa Program D3 Hafizpreneur mendapatkan materi praktik pengembangan produk untuk meningkatkan softskill Bisnis Mahasiswa. Dalam sesi ini, Mahasiswa dibimbing untuk menambahkan added value atau nilai tambah serta inovasi dari setiap produk yang dibuat sebelum dijual ke pasar.

Pelatihan ini diampu oleh Bu Farida selaku Dosen serta praktisi bisnis kuliner yang berpengalaman. Mahasiswa mengikuti pelatihan dengan antusias sebagai modal pengetahuan yang akan diimplementasikan seiring program Hafizpreneur yang mereka jalankan.

Dengan adanya pelatihan ini, Mahasiswa semakin siap menjadi pribadi hafiz yang memiliki kompetensi bisnis sesuai target Institut Tazkia, sehingga Mahasiswa yang memilih program ini akan menjawab tantangan masa depan untuk membawa nilai Al Qur’an dalam kehidupan dengan tetap mandiri dalam ekonomi membangun peradaban Islam rahmatan lil’alamiin.

Rizqi ZakiyaPerkuat Softskill Bisnis, Mahasiswa Hafizpreneur Mengikuti Pelatihan Pengembangan Produk
read more

BRI Finance Gandeng LPPM Tazkia Gelar Training Shariah Overview

No comments

BOGOR, 11 Desember 2020. BRI Finance bekerjasama dengan LPPM Tazkia sukses selenggarakan Shariah Overview Training. Sebanyak 8 sesi agenda terlaksana selama 2 hari rangkaian training (9/12/20 dan 11/12/20) dengan sistem daring pada hari pertama dan luring pada hari kedua.

Hari pertama training (9/12/2020/ 23 Rabiul Akhir 1442 H) didampingi oleh Aminah Nuriyah, M.E. dan dimulai sejak pukul 13:50. Sesi 1 disampaikan oleh Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc, CFP dengan materi ‘Peta Industri Keuangan Syariah di Indonesia’, dilanjutkan sesi 2 oleh Dr. Luqyan Tamanni, M.Ec dengan materi ‘Pengantar Fiqh Muamalah dan Akad Pembiayaan Syariah’.

Sesi 3 dilaksanakan setelah Ashar, masih bersama Dr. Luqyan Tamanni, M.Ec dengan materi ‘Pengantar Fiqh Muamalah dan Akad Pembiayaan Syariah’, selanjutnya sesi 4 sebagai sesi terakhir di hari pertama dengan pembicara Dina Diana, M.Si, CFP dengan materi ‘Manajemen Risiko Syariah’.

Berbeda dengan hari pertama, hari kedua training (11/12/2020/ 25 Rabiul Akhir 1442 H) dilaksanakan secara luring di kantor BRI Finance dengan pendamping Nurizal Ismail, M.A. Rangkaian kegiatan dimulai oleh pembicara Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc, CFP yang mengisi materi sesi 5 dengan tema ‘Tata Kelola Syariah’ sekaligus sesi 6 dengan tema ‘Akuntansi Syariah’. Adapun sesi 7 dan 8 disampaikan berturut-turut oleh Dr. Mukhamad Yasid, M.Si dengan tema ‘Produk dan jasa pembiayaan syariah’.

Training dengan narasumber berbagai ahli di bidang ekonomi dan keuangan syariah ini mendapat perhatian serius dari para peserta yang terdiri dari berbagai unit kerja BRI Finance, dari mulai direktur, group head hingga junior staff. Dengan dilaksanakan training ini, para peserta dapat menimba ilmu keterampilan dibidang ekonomi dan keuangan syariah lebih dalam, Insya Allah.

Rizqi ZakiyaBRI Finance Gandeng LPPM Tazkia Gelar Training Shariah Overview
read more

Workshop Tazkia Islamic Finance and Business Review (TIFBR) Go for SCOPUS

No comments

BOGOR, 11 Desember 2020. Direktur IRCE Tazkia, Dr. Mukhamad Yasid, M.Si membuka acara Workshop: Tazkia Islamic Finance and Business Review (TIFBR) Go for SCOPUS yang berlangsung di Papyrus Tropical Hotel, Bogor, Kamis (10/12/2020/ 25 Rabiul Akhir 1442 H), dilanjutkan dengan opening speech oleh rektor Institut Agama Islam Tazkia, Assoc. Prof. Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc, CFP.

Workshop yang dilaksanakan selama dua hari ini terdiri 6 sesi dengan tema berbeda dan pembicara dari berbagai perguruan tinggi. Sesi 1 misalnya, penyampaian materi dengan tema ‘How to Publish your Research Paper in indexed Journal’ oleh editor in chief jurnal IIUM, Dr. Razali Haron. Kemudian sesi 2 agenda sharing session bertemakan ‘Journal Management’ bersama Aat Hidayat, M.Pd.I sebagai managing editor jurnal ADDIN IAIN Kudus, dengan dimoderatori oleh Nashr Akbar, M.Ec sebagai managing editor jurnal TIFBR.

Faried Kurnia Rahman, M.Sc (Fin) (Member of Editorial Board TIFBR) dan tim editor TIFBR tampil pada sesi ketiga yang membahas tentang ‘Milestone TIFBR to Scopus’. Beliau menjelaskan tentang rencana pemantapan pengelolaan jurnal TIFBR, peningkatan kualitas konten jurnal hingga kemudahan akses dan kontinuitas jurnal.

Pada hari kedua, sesi 4 dimulai dengan sharing session bersama editorial board of Qudus International Islamic Studies (QJIS) IAIN Kudus, Dr. Wahibur Rokhman dengan tema ‘Milestone for SCOPUS INDEXED’. Adapun sesi 5 diisi dengan agenda bedah artikel jurnal TIFBR oleh seluruh editorial board dan reviewer jurnal TIFBR dengan dipimpin oleh Ries Wulandari, MSi selaku managing editor jurnal TIFBR.

Sesi terakhir yakni sesi 6 merupakan finalisasi Milestone TIFBR Go For Scopus sebagai agenda puncak workshop ini yang ditetapkan oleh Dr. Luqyan Tamanni, M.Ec, sebagai bentuk ikhtiar mewujudkan jurnal TIFBR menuju jurnal internasional terindeks  Scopus dan Thomson Reuters.

Acara dimulai pada hari pertama pukul 08.00 WIB dengan registrasi dan ramah tamah, lalu dibuka oleh MC, Fakhry Barly Ramadhani, SE, kemudian dilanjutkan dengan rangkaian agenda utama selama dua hari dan ditutup pada hari kedua (11/12/2020/ 26 Rabiul Akhir 1442 H) pada pukul 16.00.

Rizqi ZakiyaWorkshop Tazkia Islamic Finance and Business Review (TIFBR) Go for SCOPUS
read more

Webinar IKA Tazkia: Alumni IAI Tazkia Berbicara Tentang Keuangan Mikro Syariah

No comments

BOGOR, 12 Desember 2020. Ikatan Alumni (AKA) Tazkia didukung oleh Alumni Career Development Center, Tazkia menggelar webinar Keuangan Mikro Syariah via aplikasi Zoom, Sabtu, (12/12/2020/ 26 Rabiul Akhir 1442 H).

Mewabahnya pandemi Covid-19 di awal tahun 2020 berdampak pada lembaga keuangan mikro syariah. Oleh karenanya, keuangan mikro harus mampu belajar beradaptasi dengan situasi yang terjadi. Webinar menghadirkan pembicara para akadamisi dan praktisi di bidang keuangan mikro syariah dengan dipandu oleh Nurizal Ismail, M.A selaku moderator.

Pemateri pertama yaitu Abdussalam ME, Manager Keuangan KSPPS BMT UGT Sidogiri. Beliau mengatakan bahwa koperasi dan lembaga keuangan mikro syariah harus terus mengimbangi kemajuan teknologi keuangan, agar tidak terancam dengan berbagai inovasi teknologi finansial konvensional. Hal ini sejalan dengan penyampaian pemateri kedua, Abdul Haris ME sebagai manager Tazkia Islamic Microfinance, Baytu Tamkin Tazkia Madani (BTTM). Menurutnya, lembaga keuangan mikro syariah berperan penting dalam memberikan pembiayaan usaha yang sangat kecil, bahkan dimulai dari nol, sehingga lebih banyak diwarnai kegiatan sosial dibandingkan komersil.

Materi ketiga disampaikan oleh Fiqih Afriadi, S.E.I,. M.E.Sy, dosen Tetap Universitas Pamulang yang menjelaskan tentang perkembangan penelitian mikro, dimana banyak penelitian keuangan mikro yang berasal dari Indonesia. Meski sitasinya masih sedikit, namun dari sisi lembaga keuangan Islam, tema ini masih menarik dan terus mengalami peningkatan setiap tahunnya.

Dengan dilaksanakannya webinar ini, diharapkan mampu mendorong seluruh akademisi dan praktisi yang bergerak di bidang keuangan mikro syariah di Indonesia agar mampu mengembangkan berbagai inovasi dan mengoptimalisasi perannya agar lebih bermanfaat bagi masyarakat.

(Aisyah As-Salafiyah)

Rizqi ZakiyaWebinar IKA Tazkia: Alumni IAI Tazkia Berbicara Tentang Keuangan Mikro Syariah
read more

Institut Tazkia Sukses Selenggarakan 8th ASEAN International Conference on Islamic Finance (AICIF) 2020

No comments

BOGOR, 27 November 2020. 8th ASEAN International Conference on Islamic Finance (AICIF) telah sukses terselenggara pada tanggal 24 hingga 26 November 2020. Penyelenggaraan 8th AICIF merupakan wadah bertukar pikiran, ide serta gagasan dari berbagai perguruan tinggi negara-negara ASEAN yang bergerak di bidang keuangan syariah. Kegiatan ini diharapkan dapat memotivasi lahirnya inovasi untuk pemulihan keuangan syariah global dan membangkitkan optimisme bagi pelaku keuangan syariah terutama di wilayah ASEAN.

Di tahun ini, 8th AICIF 2020 mengusung tema “Islamic Finance’s Contribution to Sustainable Human Development in ASEAN”. 8th AICIF 2020 merupakan kegiatan keuangan syariah internasional yang dihadiri oleh para ahli dan pakar keuangan syariah dari berbagai perguruan tinggi di ASEAN.

Penyelenggaraan 8th AICIF 2020 dilakukan dengan serangkaian kegiatan yang dimulai dengan pembukaan pada 24 November 2020 oleh Assoc. Prof. Dr. Muhammad Syafi’i Antonio, M.Ec (Ketua Yayasan Tazkia Cendekia yang menaungi Institut Tazkia), Assoc. Prof. Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc (Rektor Institut Tazkia) dan Prof. Al Makin, MA, Ph.D (Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta).

Assoc. Prof. Dr. Muhammad Syafi’i Antonio, M.Ec. mengatakan bahwa kegiatan 8th AICIF 2020 ini adalah wujud peran negara-negara ASEAN dalam upaya untuk menciptakan pertumbuhan sumber daya manusia (SDM) yang berkelanjutan dengan strategi triangle of success (segitiga kesuksesan).

Saat puncak acara, 8th AICIF 2020 menghadirkan berbagai kegiatan, seperti webinar panel bersama para pakar keuangan syariah, kolokium dan konferensi virtual, rector’s talk, hingga kompetisi video ekonomi syariah.

Tahun ini, gelaran 8th AICIF 2020 dihadiri oleh lebih dari dari 300 partisipan dan 100 presenter konferensi. Selain, sejumlah pihak yang terlibat diantaranya perwakilan dari International Council of Islamic Finance Educators (ICIFE), International Islamic University Malaysia, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Universitas Islam Sultan Agung (Unissula), Universitas Islam Sultan Sharif Ali Brunei Darussalam, Mindanao State University Filipina dan Universitas Darussalam Gontor.

Acara penutupan 8th AICIF 2020 dilaksanakan pada 26 November 2020 oleh Nurizal Ismail selaku ketua panitia, kemudian pengumuman pemenang kompetisi video yang dimenangkan oleh Institut Tazkia dan Universitas Islam Sultan Sharif Ali Brunei Darussalam sebagai runner up.

Selain itu diumumkan pula paper terbaik 8th AICIF 2020; (1) Ken Sudarti, Olivia Fachrunnisa (UNISSULA), (2) Nur Amirah Mohd Razin, Romzie Rosman (IIUM), (3) Bandar Mohammed Saif, Ashurov Sharofuddin, Razali Haron (IIUM), (4) M. Alfan Rumasukun, Ahmad Lukman Nugraha (UNIDA), (5) Assoc. Prof. Dr. Salina Kasim, Prof. Dr. Engku Rabiah Adawiah Engku Ali, Dr. Syed Marwan Mujahid Syed Azman, Dr. Roziha Che Haron, Norizan Satar (IIUM), (6) Abdul Qoyum, Hadri Kusuma, Ibnu Qizam (UIN SUKA), (7) Erlina Dewi, Endah Amaliyah, Sri Hartono (UNISSULA)

Dengan diberikannya penghargaan tersebut, diharapkan dapat menjadi apresiasi bagi para partisipan yang mendapatkannya dan motivasi agar lebih semangat berkontribusi untuk keuangan syariah yang lebih baik. 8th AICIF 2020 diakhiri dengan doa serta sesi foto bersama.

Rizqi ZakiyaInstitut Tazkia Sukses Selenggarakan 8th ASEAN International Conference on Islamic Finance (AICIF) 2020
read more

Apakah Anda Tahu Peran Perbankan Islam bagi Pembangunan Masyarkat?

No comments

Alhamdulillah, setelah sesi panel 1 di hari ke-2 sukses diselenggarakan, rangkaian kegiatan 8th AICIF pada hari Rabu, 25 November 2020 M/10 Rabiul Akhir 1442 H dilanjutkan dengan sesi panel ke dua. Terdapat dua sub-tema di sesi panel ke dua ini. Sub-tema pertama iala “The Role Of Islamic Banking In Community Development” dan yang kedua ialah “Islamic Micro Finance and Sustainable Development Goals “  Panel ini dimulai pada pukul 13.00 WIB dan berakhir pada pukul 15.00 WIB secara daring via Zoom Cloud Meeting dan ditayangkan secara live YouTube Tazkia TV. Panel ini dimulai pada pukul 13.00 WIB dan berakhir pada pukul 14.30 WIB secara daring via Zoom Cloud Meeting dan ditayangkan secara live YouTube Tazkia TV.

Mr. Romy Buchari

PT Maybank Indonesia, tbk

The Role Of Islamic Banking In Community Development: Highlight from Maybank Indonesia

Sesi panel 2 dimoderatori oleh Widya Puspita Sari, mahasiswi Institut Tazkia.  Adapun Pembicara pertama pada subtema “The Role Of Islamic Banking In Community Development” adalah Bapak Romy Buchari, perwakilan dari PT Maybank Indonesia, tbk. Pada presentasinya, beliau menjelaskan terkait peran perbankan Islam untuk kemajuan masyarakat dari perspektif Maybank Indonesia. Menurutnya, perkembangan Indonesia dalam konteks aset perbankan semakin berkembang dari tahun ke tahun. Sejak tahun 2014, Maybank Syariah mulai mengadopsi Sharia First yang mengacu pada strategi kunci yang mengandung nilai-nilai syariah kepatuhan terhadap komersialitas layanannya. Menurutnya, inilah yang menjadi preferensi konsumen mayoritas Indonesia. Maybank Syariah menyediakan produk yang tersedia dan masuk akal bagi pelanggan dan masih dapat diterima (syariah). Strategi kunci ini membutuhkan dukungan dari semua tingkatan bank. Selain itu, beliau menyatakan strategi utama lain yang membantu Maybank Indonesia menjadi ukuran substansial yang cukup besar adalah mereka tidak bergantung pada siklus perbankan ritel. Maybank Syariah juga mengembangkan perbankan komersial, korporasi, dan grosir (perbankan global dan bisnis).

Dalam presentasinya, ia mengatakan Maybank Syariah benar-benar berusaha untuk melakukan pendekatan dengan masyarakat sekitar dan berusaha untuk terlibat dengan berbagai komunitas agar dapat membantu & memberikan nilai positif. Strategi inovasi berbasis komunitas ini bertujuan untuk menjangkau pelanggan atau komunitas melalui smartphone. Karena Maybank  tidak menyediakan ribuan cabang di seluruh Indonesia, ini bisa menjadi cara efektif bagi mayoritas masyarakat yang mayoritas memiliki smartphone. Maybank Syariah bekerjasama dengan banyak komunitas di Indonesia yang juga memiliki platform online seperti komunitas modest fashion dan komunitas sepeda. Maybank Syariah juga melihat sisi komersialitas (manfaat ekonomi aktual) produk-produk dengan nilai syariah yang bisa ditawarkan kepada pelanggannya. Misalnya: Maybank Syariah menyediakan fitur asuransi takaful gratis dari rekening tabungan nasabah. Untuk meningkatkan produktivitas, Maybank Syariah membangun kemitraan dengan lembaga swadaya masyarakat (LSM) terpercaya dan bereputasi serta kolaborasi strategis dalam proyek pemerintah untuk mendukung SDGs.

Menurutnya, sifat pasar di Indonesia yang tertarik pada aspek syariah namun tetap memperhatikan pada komersialitas produk. Untuk menyikapi hal tersebut, Maybank Indonesia bekerja memenuhi permintaan masyarakat, misalnya: membuat produk lebih menarik. Menurutnya, dia berharap pemerintah memberikan perhatian pada pembangunan. Misalnya, saat ia berargumen, “Mengapa tidak meminta sivitas akademika untuk memiliki rekening bank syariah? Itu bisa dimulai oleh kementerian agama. Ini adalah kemenangan cepat yang dengan mudah dapat meningkatkan pangsa pasar perbankan syariah di Indonesia ” sahutnya.

Ia menyatakan bahwa ekonomi Islam adalah sebuah perjalanan, meskipun tidak sempurna jika dibandingkan dengan perbankan konvensional. Dalam konteks Perbankan Syariah, ia berharap pangsa pasar Perbankan Syariah bisa naik lebih dari 6%.

Dr. Ken Sudarti M.Si,

Universitas Islam Sultan Agung sebagai

Strategi Pembangunan Manusia dalam Emerging Economies Islamic Vanguard Spirit (IVS)

 

Pembicara kedua pada tema “The Role Of Islamic Banking In Community Development” adalah Dr. Ken Sudarti M.Si, dari Universitas Islam Sultan Agung.  Pada sesi ini, beliau menyampaikan terkait bidang yang sedang ia teliti dan tekuni yakni Islamic Vaniguard Spirit. Menurutnya, Islamic Vanguard Spirit (IVS) adalah semangat individu untuk selalu berusaha melakukan yang terbaik, memperbaiki diri terus menerus, juga meminta dan membantu yang lain bersedia dan melakukan aktivitas kerja terbaik. Ada tiga macam keunikan dari kebaruan ini: 1. hubungan ganda (HabluminAllah dan Habluminannas), 2. dimensi ganda tepat waktu (di dunia dan akhirat), dan 3. Pemberdayaan ganda (self-empowering dan empowering others).

 

Terdapat empat dimensi IVS; Excellence Achievement Spirit (EAS), Long-Life Learning Spirit (3LS), Voluntary Asking Spirit (VAS), dan Voluntary Helping Spirit (VHS). Setiap dimensi memiliki beberapa indikator. Pertama, indikator EAS yaitu: melakukan yang terbaik berdasarkan ibadah, optimalisasi sumber daya, kemitraan yang adil, dan profesionalisme. Kedua, indikator 3LS, yaitu: perbaikan berkelanjutan, pembelajaran dari pengalaman masa lalu, pembelajaran observasional, dan lebih baik tanpa menghilangkan orang lain. Ketiga, indikator VAS yaitu: intensitas dakwah, komunikasi dakwah, kepribadian dakwah. Keempat, indikator VHS yaitu: semangat membantu sesama, inisiatif membantu secara spontan, inisiatif membantu tanpa mengharapkan balasan dan inisiatif membantu peran ekstra. Ini adalah strategi pembangunan manusia yang dapat diterapkan untuk meningkatkan nilai kemanusiaan lembaga keuangan Islam.

Beliau menyimpulkan beberapa poin. Pertumbuhan lembaga keuangan Islam bergantung pada manusia, oleh karena itu manusia harus memiliki jiwa khilafah (penerus) yang baik. Selain itu, melalui pemberdayaan ganda (self-empowering and empowering others), setiap individu mampu memotivasi dirinya sendiri untuk mencapai hasil terbaik, sekaligus memberdayakan rekan kerja. Beliau juga mengemukakan bahwa untuk mewujudkan IVS, pelatihan dan pendampingan yang meliputi pemahaman nilai dan konsep dasar ekonomi Islam perlu terus dilakukan peningkatan kapasitas dan kualitas hasil.

 

Dr. Yurizal Djamaluddin Sanergo, M.Ec

Universitas Darusasalam Gontor (UNIDA)

Islamic Micro Finance and Sustainable Development Goals

 

Sesi panel ke-2 ini dilanjutkan dengan tema kedua, yaitu: “Islamic Micro Finance and Sustainable Development Goals”. Pembicara pertama pada tema ini ialah Dr. Yurizal Djamaluddin Sanergo, M.Ec, dari Universitas Darusasalam Gontor (UNIDA)

 

Di awal pemaparannya, beliau membuka topik terkait Sustainable Development Goals (SDGs). Menurutnya, latar belakang SDGs: terinspirasi dari konsep Triple Bottom Line (TBL) atau dalam istilah lain disebut 3P (profit, people and planet). Tujuan pembangunan baru ini menegaskan kembali komitmen internasional untuk mengakhiri kemiskinan. Ada empat pilar SDGs, yaitu: 1. Pembangunan Sosial, 2. Pembangunan Ekonomi, 3. Pembangunan Lingkungan, dan 4. Pembangunan Hukum dan Pemerintahan. SDGs akan mempengaruhi para praktisi untuk berkerja sama guna mencapai pembangunan berkelanjutan.

Sebelum SDGs, PBB memiliki Millenium Development Goals (MDGs). Beberapa agenda MDGs yang belum tercapai akan dilanjutkan dalam pelaksanaan pencapaian SDGs hingga tahun 2030. Beliau menyatakan ada beberapa perbaikan SDGs seperti: kerangka SDGs disusun menggunakan isu negara berkembang, perluasan sumber pendanaan, mengedepankan HAM dan inklusivitas, melibatkan semua pihak untuk berkontribusi, dan memiliki target untuk menyelesaikan semua tujuan (zero goal).

Selain itu, ia juga berpendapat bahwa beberapa inisiatif atau regulasi di Indonesia telah dirumuskan SDGs dalam rangka mempromosikan SDGs. Namun sekali lagi, ia menegaskan bahwa semua inisiatif besar tidak bisa tercapai kecuali ada cara partisipatif atau inklusif dengan melibatkan semua pemangku kepentingan.

Berbicara tentang Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKM), ia menyatakan peran LKM penting untuk mendukung SDGs. Namun, beliau juga berpendapat bahwa karena LKM adalah pasar yang sepenuhnya berbasis, apa yang mereka lakukan hanyalah “membiayai kemiskinan” dan tidak ada hubungannya dengan mempromosikan pencapaian SDGs.

Masalah kemiskinan sangat terkait dengan inklusi sosial. Dan pendekatan yang dapat digunakan untuk mewujudkan inklusi sosial adalah melalui pemberdayaan masyarakat. Pendekatan ini mencakup perantara sosial dan perantara komersial. Pemberdayaan masyarakat bertujuan untuk menjaga dan meningkatkan profitabilitas dan kebutuhan sosial untuk mengatasi kemiskinan di antara anggota masyarakat marjinal. Metode ini harus diadopsi di beberapa LKM.

Ia menutup presentasinya dengan menyebutkan beberapa sambutan. Pertama, tujuan pemberdayaan masyarakat. Kedua, meningkatkan komitmen pemerintah untuk terlibat penuh dalam mewujudkan SDGs. Dan terakhir, diperlukannya pengembangan produk yang kreatif dan inovatif dalam kerangka “Paradigma Maslahah”.

 

Prof. Dr. Abdul Ghafar Ismail,

Universitas Sains Islam Malaysia

Islamic Micro Finance and Sustainable Development Goals

 

Sesi panel ke 2 diakhir dengan pembicar dari Universitas Sains Islam Malaysia, Prof. Dr. Abdul Ghafar Ismail. Ia mengawali presentasinya dengan topik yang sama yaitu Susutainabale Development Goals (SDGs). Menurutnya SDGs merupakan sebuah kerangka tujuan yang ambisius dan juga membutuhkan upaya yang mencakup semua pihak dan membutuhkan kolaborasi dari semua pemangku kepentingan: pemerintah, lembaga, dan masyarakat. Ini sangat penting bagi negara-negara berkembang yang jauh di belakang target.

Lebih lanjut, ia melanjutkan presentasinya tentang Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS). Menurutnya, karakter LKMS yang bersifat sosial ekonomi dapat menciptakan upaya sinergis dalam pencapaian SDGs.

Dalam presentasinya, ia menampilkan data tentang pencapaian SDGs di negara-negara di dunia. Secara keseluruhan, hanya SDG no 1, 12, 13 yang telah tercapai. Sebagian besar negara muslim atau negara Organisation Kerjasama Islam (OKI) belum mencapai SDG no 1 (pengentasan kemiskinan). Ia berpendapat bahwa untuk mencapai dan menyukseskan SDGs, kita bisa mulai dengan menganalisis keselarasan rencana nasional (kebijakan moneter selaras dengan indikator SDG), termasuk peran LKMS.

Apa yang telah dilakukan LKMS? Menurutnya, LKMS telah membuktikan dampaknya terhadap pembangunan sosial-ekonomi, pemberdayaan perempuan, pengembangan sumber daya manusia dan modal sosial pedesaan, pengentasan kemiskinan, pengembangan pendidikan peminjam, pengembangan kewirausahaan dan UKM, kesehatan dan kesejahteraan, inovasi dan pengembangan produk baru, keberlanjutan finansial, dan keberlanjutan kelembagaan. Dampak tersebut sejalan dengan poin-poin dalam SDGs.

Selain itu, ia menekankan pentingnya mengetahui pelaporan kegiatan LKMS. Hal ini bertujuan untuk menilai dampaknya terhadap SDGs dan juga sebagai kebijakan intervensi pembangunan sosial ekonomi melalui LKMS. Ia mencontohkan beberapa kegiatan  yang berdampak pada SDGs melalui pembiayaan dan shadaqah.

Terakhir, karena latar belakang SDGs adalah konsep 3P, ia mengkritisi bahwa pandangan dunia SDGs hanya berfokus pada People (Manusia) dan Planet saja tetapi tidak melihat konteks Pencipta (Manusia) dan Planet (Allah Ta’ala).

Rizqi ZakiyaApakah Anda Tahu Peran Perbankan Islam bagi Pembangunan Masyarkat?
read more

Yuk Ketahui Perkembangan Industri Halal dan Keuangan Islam di ASEAN!

No comments

Bogor, 24 November 2020. Bank Indonesia (BI) menilai, 8th AICIF merupakan forum yang tepat untuk mengasilkan ide dan inovasi dalam menghadapi efek dari krisis ekonomi saat ini. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Direktur Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia, Prijono dalam keynote speech-nya.

 

“8th AICIF ini merupakan forum yang tepat untuk mengasilkan ide dan inovasi dalam menghadapi efek krisis setelah pandemi melalui perbaikan ekonomi dengan sudut pandang Islam, sejalan dengan Bank Indonesia yang sudah membuat blueprint berisi rencana perkembangan ekonomi Islam, keuangan Islam hingga riset dan pendidikan”, kata Prijono dalam gelaran 8th AICIF, Selasa (24/11/ 9 Rabiul Akhir 1442 H).

 

Prijono juga melihat Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dalam sektor ekonomi syariah, sehingga sangat potensial untuk terus dikembangkan.

 

Potensi besar ekonomi syariah ini juga bisa dilihat dari perkembangan industri halal di kawasan ASEAN. Dalam panel 1 dengan sub-tema “ASEAN Halal Industry and Islamic Finance in Sustainable Development Programs”, pembicara pertama yaitu Assoc. Prof. Dr. Nurul Aini Muhamed dari University Sains Islam Malaysia. Beliau menyampaikan materi tentang perkembangan industri halal dan keuangan Islam di Malaysia.

 

Industri Halal di Malaysia

Menurut Nurul Aini Muhamed, kepatuhan syariah yang menyeluruh dalam industri halal harus termasuk di dalamnya bidang bisnis, keuangan, rantai nilai halal, hingga ekosistem. “Sektor sektor halal saat ini variatif dan sangat besar, dan tidak terbatas pada negara-negara mayoritas Muslim. Pasar halal juga sangat potensial, meski keuangan syariah belum termasuk dalam sektor industri halal”, kata Nurul Aini menjelaskan.

 

Dalam Panel 1 yang dimoderatori oleh Mutia Mustafa, mahasiswi Institut Tazkia ini, Nur Aini juga menjelaskan bahwa faktor yang mempengaruhi perkembangan industri halal adalah kesadaran muslim, populasi, faktor ekonomi dan kerangka regulasi yang kuat. Tak lupa, Nur Aini mengisahkan, perkembangan sertifikasi halal di Malaysia sendiri dimulai pada tahun 1974 dan regulasinya terus mengalami perkembangan, meski pendekatan setifikasi halal masih bersifat sukarela dan belum bersifat wajib.

 

Adapun perkembangan dari perbankan Syariah di Malaysia dimulai sejak tahun 1983 dengan didirikannya Bank Negara Malaysia (BNM), regulasinya mulai dibentuk pada tahun 2013 dan diperbarui pada tahun 2019 dengan Shariah Governance Policy Document. Kepatuhan Syariah diatur dengan lisensi yang dikeluarkan oleh BNM. Nur Aini mengakhiri materinya dengan menyatakan bahwa ketika industri halal dan perbankan syariah berkolaborasi, industri syariah dan keuangan Islam dapat berkembang lebih luas lagi, Insya Allah.

 

Panel 1 ini berlangsung sejak pukul 10.00 hingga pukul 12.00 WIB secara daring via Zoom Cloud Meeting dan live via YouTube Tazkia TV.

 

Industri Halal di Brunei

Lain di Malaysia, lain di Brunei Darussalam. Pembicara kedua, asisten profesor senior di Fakultas Ekonomi & Keuangan Islam Universitas Sultan Sharif Ali, Brunei Darussalam, Dr. Hakimah Yaacob berpendapat bahwa perbankan dan keuangan syariah memiliki lapisan yang berbeda dengan perbankan konvensional yang memiliki tiga lapisan: dimulai dari bank lokal kemudian bank sentral dan terakhir hukum AS, OECD dan entitas internasional.

 

“Berbeda dengan perbankan, industri halal cenderung memiliki model lain yang diusulkan, dan berisi SOP, Standar, hukum halal, halal regional/ASEAN dan standar internasional. Namun selain sistem struktural tersebut, terdapat beberapa tantangan dalam standardisasi global di bidang halal, seperti perbedaan madzhab, pemberi sertifikasi halal, islamophobia global, kampanye anti halal, isu halal dan thayyiba serta hak-hak hewan,” kata Hakimah Yaacob menjelaskan.

 

Hakimah pun menyimpulkan, halal tidak hanya sebatas produk, tetapi juga cara termasuk produksi dan pengolahannya, hal ini berkaitan dengan konsep thayyiba, dimana sertifikasi halal pada sebagian negara perlu diteliti kembali jika produk tersebut ternyata didapati tidak aman atau berkualitas rendah, karena sejatinya halal dan thayyiba harus ditetapkan dengan komprehensif di tingkat internasional.

 

Peran Sertifikat Halal untuk Ekonomi Bangsa

Bagaimana dengan Indonesia? Pembicara terakhir pada Panel 1 ini adalah Dr. Indra, M.Si yang merupakan ketua Halal Center dari Institut Agama Islam Tazkia, Indonesia. Dalam materinya, Indra mengulas tentang Industri halal Indonesia dan urgensi sertifikasi halal bagi UKM. “Berdasarkan data, Indonesia saat ini masuk dalam peringkat 5 besar terkait perkembangan industri halal, dan keluarnya undang-undang jaminan produk halal (UUJPH) sebagai pendukung perkembangan tersebut kemudian mengharuskan adanya sertifikasi halal untuk semua produk, namun masih ada tantangan yang kita hadapi, salah satunya adalah minimnya jumlah produk usaha kecil yang memiliki sertifikat halal, terutama UMKM yang berperan penting dalam pembangunan ekonomi bangsa”, kata Indra menjelaskan.

 

Padahal menurutnya, dengan adanya sertifikasi halal, ada banyak keuntungan yang bisa didapatkan oleh UMKM. Karenanya, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mendukung sertifikasi halal bagi para pelaku UMKM dengan memberikan mentoring serta menyediakan pengawas/supervisor bagi para pelaku UMKM.

 

Saat ini, Institut Tazkia di bawah LPPM Tazkia telah berinisiatif membentuk Tazkia Halal Center yang salah satu proyeknya adalah membuat kantin halal dan kedepannya berupa sosialisasi dan training terkait sertifikasi halal bagi masyarakat.

Rizqi ZakiyaYuk Ketahui Perkembangan Industri Halal dan Keuangan Islam di ASEAN!
read more

Institut Tazkia Resmi Membuka 8th ASEAN International Conference on Islamic Finance (AICIF)

No comments

BOGOR, 24 November 2020. Meski dunia kini tengah dilanda pandemi Covid 19, perkembangan riset dan training tentang ekonomi dan keuangan syariah terus meningkat, terutama di beberapa negara ASEAN.  Meskipun masih banyak tantangannya.

 

Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Rektor Institut Tazkia, Assoc. Prof. Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc, CFP., “Namun, kita masih menghadapi banyak tantangan sehingga perlu bersama-sama berpartisipasi aktif dalam berbagai bidang”, kata Murniati di saat pembukaan rangkaian 8th ASEAN International Conference on Islamic Finance (AICIF), Selasa (24/11/ 9 Rabiul Akhir 1442 H) di Institut Tazkia, Bogor.

 

Gelaran 8th AICIF kali ini, bertema “Islamic Finance’s Contribution to Sustainable Human Development in ASEAN”. Acara dilaksanakan secara daring via Zoom Cloud Meeting dan live via YouTube Tazkia TV dengan lebih dari 250 partisipan dari berbagai negara.

 

Ketua Yayasan Tazkia Cendekia yang menaungi Institut Tazkia, Assoc. Prof. Dr. Muhammad Syafi’i Antonio, M.Ec Dalam pidato pembukaan 8th AICIF ini, menjelaskan tentang triangle of success yang merupakan strategi untuk menciptakan pertumbuhan sumber daya manusia (SDM) yang berkelanjutan. Institut Tazkia sendiri, bertindak sebagai host untuk 8th AICIF.

 

Pidato pembukaan Muhammad Syafii Antonio ini sekaligus, secara resmi membuka rangkaian 8th AICIF.

 

Selanjutnya adalah pidato dari Rektor Institut Tazkia, Assoc. Prof. Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc, CFP. Bu Rektor memulai pidatonya dengan memimpin pembacaan Tazkia value.

 

Islam Selalu Diwarnai oleh Aktifitas Bisnis

Pembukaan terakhir disampaikan oleh co-host 8th AICIF, rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Al Makin, MA, Ph.D. Al Makin menceritakan tentang urgensi perdagangan dan kisah tentang jual beli dalam sejarah Islam sejak periode Makkah, di mana Islam selalu diwarnai dengan aktivitas bisnis, bahkan Islam masuk ke Indonesia melalui jalur perdagangan. Kita harus terus belajar untuk mencapai kemakmuran.

 

Gelaran 8th AICIF ini disponsori oleh Bank Maybank Syariah Indonesia dan merupakan hasil kolaborasi Institut Tazkia dengan International Council of Islamic Finance Educators (ICIFE) dan beberapa perguruan tinggi dalam negeri dan luar negeri, di antaranya yaitu International Islamic University Malaysia, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Universitas Islam Sultan Agung (Unissula), Universitas Islam Sultan Sharif Ali Brunei Darussalam, Mindanao State University Filipina serta Universitas Darussalam Gontor.

 

Acara dimulai pada pukul 08.30 WIB oleh moderator, Raihan Agra Dharana Kanz selaku mahasiswa Program Internasional  Institut Tazkia. Dilanjutkan dengan pembacaan ayat Al-Quran oleh Tegar Iman dan Fatih Ulwan. Kemudian ditampilkan video dari 8th AICIF, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Hymne Tazkia.

 

Institut Tazkia sendiri berharap, dengan dilaksanakannya 8th AICIF ini, diharapkan dapat menjadi ajang bagi para praktisi, akademisi maupun regulator untuk terus belajar dan berinovasi dalam bidang ekonomi dan keuangan syariah di seluruh dunia.

Rizqi ZakiyaInstitut Tazkia Resmi Membuka 8th ASEAN International Conference on Islamic Finance (AICIF)
read more

Dihadiri Sri Mulyani, Institut Agama Islam Tazkia Gelar Wisuda ke-16

No comments

Bogor, 28 Oktober 2020 / 11 Rabiul Awwal 1442 –  Institut Agama Islam (IAI) Tazkia menggelar wisuda ke-16 di Auditorium Institut Tazkia, Sentul City, Bogor, Jawa Barat pada Rabu (28/10/2020). Prosesi acara digelar secara offline dan online dengan protokol kesehatan.

Jumlah wisudawan angkatan tahun 2019-2020 ini sebanyak 195 orang, terdiri dari program Studi Ekonomi Syariah sebanyak 17 orang wisudawan, dari program Studi Akuntansi Syariah sebanyak 47 orang, dari program Hukum Ekonomi Syariah sebanyak 22 orang, dari program Manajemen Bisnis Syariah sebanyak 84 orang, dari program Pasca Sarjana sebanyak 16 orang dan dari program diploma Keuangan Mikro Syariah sebanyak 9 orang wisudawan.

Ketua Dewan Pembina Yayasan Tazkia Cendikia, Dr. Muhammad Syafii Antonio M.Ec menyampaikan bagaimana sejarah pendirian IAI Tazkia. Ia menjelaskan bahwa IAI Tazkia lahir dari suatu urgensi bagaimana memadukan nilai-nilai spiritual dengan kebutuhan majemen dan profesionalisne serta bisnis.

“Bagaimana mengaplikasikan hukum-hukum Allah yang tercermin dalam Al-Qur’an dan sunnah dalam kehidupan nyata yang diisiasi para ekonom dengan ahli syariah dan ahli fikih,” kata Syafii dalam sambutannya.

Karena itulah, kata dia, IAI Tazkia hadir untuk bisa mengintergrasikan kedua disiplin ilmu tersebut dalam suatu tatanan silabus dan prodi-prodi yang harapannya menghasilkan insan-insan bertakwa yang unggul. “IAI Tazkia hadir untuk bisa membangun bersama anak bangsa lainnya agar Indonesia menjadi negara adil, makmur dan sejahtera,” kata Syafii Antonio menjelaskan.

Syafii mengingatkan bahwa momen wisuda ini adalah akhir dari sebuah awal untuk melangkah ke tahap berikutnya. “Mudah-mudahan para wisudawan berhasil dalam kiprahnya saat terjun di tengah-tengah masyarakat, namun yang harus selalu diingat adalah nilai-nilai tauhid harus selalu hadir, karena kita semua ada dan akan kembali kepada Allah Swt,” kata Syafii menegaskan.

Sementara itu, Rektor Institut Tazkia, Dr. Murniati Mukhlisin MAcc CFP mengungkapkan bahwa visi misi Tazkia akan mengalami perubahan. “Kita sedang merencanakan mengubah visi misi menuju perguruan kelas dunia berbais digital dengan karakter Tazkia,” jelasnya.

Dalam sambutannya, Murniati memaparkan kerjasama Tazkia dengan berbagai pihak mulai dari pemerintah daerah di berbagai wilayah di Indonesia, dengan lembaga keuangan hingga lembaga pendidikan internasional di berbagai negara.

Selama ini, kata Murniati, sudah banyak prestasi mahasiswa yang membanggakan baik dari level nasional maupun internasioanal. “Sementara dari tenaga pengajar, saat ini sudah 22 dosen Institut Tazkia sudah bergelar doktor dan 17 sedang menempuh pendidikan doktor, dan ada dua orang (Muhammad Syafii Antonio dan Murniati Mukhlisin) yang akan menjadi guru besar Institut Agama Islam Tazkia,” kata Murniati menjelaskan.

Institut Tazkia selama ini juga banyak menerima penghargaan dari berbagai pihak, yang terakhir Institut Tazkia menjadi kampus keuangan syariah terbaik di dunia.

Meski demikian, kata Murniati, dengan berbagai prestasi dan penghargaan yang diraih, sikap akhlakul kharimah dengan program karakter yang dibangun oleh Institut Tazkia harus selalu menjadi landasan dalam bersikap.

Dihadiri oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani

Wisuda IAI Tazkia tahun ini menghadirkan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, S.E., M.Sc., Ph.D yang memberikan sambutan sekaligus orasi ilmiah secara online.

Dalam kesempatan tersebut, Sri Mulyani mengucapkan selamat atas keberhasilan para wisudawan dalam menempuh jenjang pendidikan di IAI Tazkia. Ia berharap wisudawan bisa sukses dalam karir dan mengabdi di tengah-tengah masyarakat dalam membangun bangsa.

Saat ini, kata dia, pandemi wabah Covid-19 mengubah kehidupan masyarakat di seluruh dunia, pandemi menyebabkan dampak yang luar biasa, khususnya aspek kesehatan dan ekonomi. Bangsa Indonesia sendiri telah melalui berbagai tantangan di masa lalu, dan tantangan saat ini salah satunya adalah bagaimana kemampuan mengelola keuangan.

Sri Mulyani berharap, alumni Institut Tazkia akan menjadi generasi yang mampu memberikan kontribusinya sebagai ikhtiar kita bersama dalam rangka mewujudkan Indonesia yang maju. “Kompetensi Anda dalam keuangan Islam bisa dikembangkan dan ditingkatkan secara luas karena pemerintah juga terus melakukan inovasi dalam bidang keuangan syariah,” jelasnya.

“Saya berharap alumni Institut Tazkia menjadi mutiara-mutiara yang mampu membangun bangsa dan memperkuat pondasi ekonomi Indonesia termasuk ekonomi Islam,” tandas Sri Mulyani. [ ]

Rizqi ZakiyaDihadiri Sri Mulyani, Institut Agama Islam Tazkia Gelar Wisuda ke-16
read more