All posts tagged: Ekonomi Syariah

Tazkia Plus Award, Ajang Penghargaan Bagi Insan Terbaik Tazkia

No comments
Salah satu pembina Tazkia Plus sedang memberikan sambutan acara

Salah satu pembina Tazkia Plus sedang memberikan sambutan acara

Sabtu, 16 Maret 2019 Tazkia Plus menyelenggarakan sebuah kegiatan yang diberi judul Tazkia Plus Award 2019 bertempat di Kampus STEI Tazkia. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka memberikan penghargaan kepada beberapa anggota Tazkia Plus yang merupakan mahasiswa penerima beasiswa atas kontribusi dan prestasi mereka baik di bidang akademik maupun non akademik.
Beberapa kategori penghargaan yang diberikan pada Tazkia Plus Award 2019 adalah :
1. IPK Terbaik (Ikhwan dan Akhwat)
2. Tahfidz (Ikhwan dan Akhwat)
3. Teraktif (Ikhwan dan Akhwat)
4. Prestasi Lomba (Ikhwan dan Akhwat)
5. Mahasiswa Terbaik (Ikhwan dan Akhwat)
Salah satu penerima penghargaan kategori IPK Terbaik (Aisyah)

Salah satu penerima penghargaan kategori IPK Terbaik (Aisyah)

Ditemui setelah menerima penghargaan Aisyah Salafiyah sebagai salah satu penerima penghargaan kategori IPK Terbaik mengaku sangat bangga dengan penghargaan yang diraih.
“Saya sangat bangga sekali dengan penghargaan yang saya raih. Saya jadikan penghargaan ini sebagai motivasi tambahan bagi saya agar lebih rajin lagi dalam menuntut ilmu dan juga mencari pengalaman sebanyak mungkin untuk mengembangkan potensi yang saya.” Ujar Aisyah
Dengan diberikannya penghargaan Tazkia Plus Award 2019, selain sebagai bentuk apresiasi diharapkan dapat menjadi Motivasi bagi anggota yang mendapatkannya untuk terus mengmbangkan potensi masing-masing dan juga memberikan dorongan mahasiswa lain yang belum mendapatkan penghargaan agar lebih semangat memberikan kontribusi dan prestasi. (Aisyah & M. A. Guswanda)
Miftahul AnwarTazkia Plus Award, Ajang Penghargaan Bagi Insan Terbaik Tazkia
read more

Kisah Inspiratif Mogayer Gamil Yahya Dalam Perjalanannya Mencari Kebenaran Islam (Spirit Dakwah Untuk Penggiat Ekonomi)

No comments

Sang Penatap Matahari (The Sun Gazer), Begitulah karya novel yang dirilis pada bulan September 2018 oleh seorang ahli ekonomi syariah Indonesia, Novel ini bercerita mengenai kisah Mogayer Gamil Yahya yang menampilkan kepada para pembaca mengenai pengalaman tragis, dramatis, sekaligus romantis dalam sebuah narasi cerita unik yang bisa dibaca oleh kaum baby boomber hingga generasi Z.

Dalam pemaparannya di Monday Forum yang diselenggarakan oleh LPPM STEI Tazkia, Mohammad Gunawan Yasni memaparkan bahwa ia merupakan generasi dari tuanku nan biru di talago seorang panglima perang padri, Sumatera Barat, pasukan imam bonjol. Nenek moyangnya tersebut menginspirasi beliau agar menjadi seseorang yang eksklusif meskipun tak terkenal tetapi memiliki pengaruh besar dalam penyebaran Islam.

Pada acara yang dibuka oleh Ibu Ries Wulandari, selaku kepala LPPM STEI Tazkia tersebut. Penulis menceritakan kisah-kisah seorang Mogayer Gamil Yahya yang seharusnya diikuti oleh setiap insan muslim. Menurut penuturan dari Pakar Pasar Modal dan Asuransi Syariah tersebut Mogayer adalah sesosok orang yang berperilaku baik bahkan ayah hingga kakek neneknya merupakan orang yang baik, hal ini tertuang dalam QS. Al Baqarah: 195. Kemudian di QS. Ali Imran: 76, bahwa Allah cinta orang yang bertakwa hal ini juga tertuang dalam kisah di novel tersebut.

 

Selanjutnya dalam QS. Ali Imran: 146 dan 59, bahwa Allah mencintai orang-orang yang sabar dan bertawakkal. “Bahwa dalam mendakwahkan ekonomi Syariah juga harus diikuti dengan kesabaran, seperti di awal 2018 pertumbuhan market share perbankan syariah hampir menyentuh angka 6%, akan tetapi di november 2018 market share perbankan syariah masih berada di level 5,7%, padahal di awal 2018 ada bank Aceh yang melakukan konversi ke syariah akan tetapi masih stagnan dan di akhir 2018 ada bank NTB yang melakukan konversi menjadi syariah, akan tetapi perbankan syariah di Indonesia masih belum bisa unjuk gigi. Pun juga pengalamannya di Kementerian Keuangan, ia menuturkan saat awal mula munculnya Surat Berharga Syariah negara (SBSN), bahwa sukuk itu harus dinikmati oleh masyarakat Indonesia sendiri, jangan melulu mengambil investor asing, maka setelah itu muncullah sukuk ritel dan sukuk tabungan saat ini.” tutur alumni Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia tersebut.

Mogayer juga bersifat adil sesuai QS. Al Maidah: 32, karena beliau dari kecil mengalami perjuangan yang cukup berat, mulai dari perjuangan di keluarga hingga harus merelakan seorang istri dari kehidupannya untuk menggapai cinta dari langit. Beliau menuturkan pejuang ekonomi syariah harus sufistik (tapi tidak harus miskin), dan harus mengedepankan aspek ukhrowi daripada sekedar duniawi. Selain itu Allah juga mencintai orang yang bertaubat dan membersihkan diri sesuai dalam QS. Al Baqarah: 22. Penulis pun demikian, ia harus banyak beristighfar dalam perjalanannya membuat SBSN, karena jangan sampai ada paradigma konvensional yang masih ada dalam aplikasi instrumen syariah tersebut. Beliau juga mengatakan kita harus meneladani nabi-nabi dalam beristighfar, seperti nabi Adam saat mendakwahkan islam, Nabi Nuh saat kaumnya tidak ada yang mengikuti dakwahnya, atau Nabi Yunus yang ketika berusaha mengeluarkan diri dari dalam perut ikan paus.

Pelajaran bagi aktor di bidang Ekonomi Syariah salah satunya yakni tidak terlepas dari doa-doa generasi terdahulu, dari orang tua, dan orang-orang di sekitar. Beliau terkesima saat Syafii Antonio awal mula di Jordania, kemudian bertanya bagaimana cara mendakwahkan islam dalam kegiatan bermasyarakat kepada Zainul yasni, seorang duta besar Jordania, kemudian dijawab oleh Ayah Iwan tersebut bahwa “Kita Harus mendakwahkan Islam di sendi-sendi masyarakat melalui iqtishod, kegiatan ekonomi syariah dan bermuamalah di masyarakat”. Pak Iwan sapaan akrab Gunawan Yasni pun menuturkan ia susah keluar dari lingkungan syariah juga berkat doa-doa orang terdahulunya.

Dalam jati diri mogayer ada 4 karakter orang yang tak tersentuh api neraka seperti yang tertuang seperti di H.R Tirmidzi dan Ibnu Hiban yakni Hayyin, orang-orang yang memiliki ketenangan dan keteduhan lahir maupun batin, tidak mudah memaki, melaknat, serta tenang jiwa. Dalam Novel tersebut Mogayer bersifat lembut, dan memiliki ketenangan dan keteduhan batin. Berawal dari rasa minder, lalu ia berlatih bela diri dan akhirnya ia merasa yakin bahwa ia bisa mempertahankan diri dan mengendalikan emosinya. Kemudian Layyin, yakni orang yang lembut dan santun, baik dalam bertutur kata atau bersikap. Tidak kasar, dan tidak ikut hawa nafsu sendiri, lemah lembut dan selalu menginginkan kebaikan untuk sesama manusia. Lalu, Qaribin, yakni akrab, ramah diajak bicara, menyenangkan bagi orang yang diajak bicara, murah senyum jika bertemu. Serta terakhir adalah Sahlin yakni orang yang tidak mempersulit sesuatu dan selalu ada cara untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang dihadapi.

Dalam novel The Sun Gazer yang akan diterbitkan segera dalam bahasa inggris ini, kisahnya dimulai saat Mogayer di Kairo di waktu Syuruq dan merasakan seolah melihat halusinasi atau bayangan matahari. Kemudian ia berdoa “Allahumma Nawwir Qulubana Bi Nuri Hidayatika kama Nawwartal Ardha Bi Nuri Syamsika abadan abada, Bi Rahmatika Ya Arhamarrahimin”. Serta saat mogayer menemukan saray sesosok orang yang dibimbing oleh Allah untuk menemaninya. (Red. Rizal Nazarudin Firli)

Miftahul AnwarKisah Inspiratif Mogayer Gamil Yahya Dalam Perjalanannya Mencari Kebenaran Islam (Spirit Dakwah Untuk Penggiat Ekonomi)
read more

STEI TAZKIA KEMBALI TANDATANGANI MOU YANG KETIGA KALINYA DENGAN IIUM

No comments

Jumat 08 Februari 2019 M / 02 Jumadil Akhir 1440 H, Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Tazkia melakukan MoU yang ketiga kalinya dengan Internasional Islamic University (IIUM). Penandatangan MoU ini dilakukan di ruang sidang utama gedung Rektorat IIUM.

Prof Tan Sri Dato Dzulkifli Abdul Razak selaku Rektor IIUM dalam sambutanya menyampaikan bahwa kerjasama ini InsyaAllah akan membawa konstribusi terbaik bagi pengembangan nilai-niai kemanusiaan yang merupakan substansi dari pendidikan.

Sementara Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc selaku Rektor STEI Tazkia menyampaikan rasa bahagia atas sambutan Rektor dan segenap pimpinan IIUM. Alhamdulillah Tazkia akan selalu sejalan dengan cita cita mulia dalam pengembangan dakwah, riset dan pengabdian masyarakat baik pada tingkat nasional maupun internasional ungkap Murniati yang juga alumni IIUM.

Hadir dalam pendantangan MoU ini adalah Dr (C) Andang Heryahya, M.Pd selaku Pembantu Ketua I Bidang Akademik, Dr. Mukhamad Yasid, MSi, Direktur Pascasarjana dan Nurizal Ismail, MA, Direktur Pusat Studi Kitab Klasik STEI Tazkia.

Pendantangan MoU ini juga disaksikan oleh Mokhamad Farid Maruf, PhD sebagai Atase Pendidikan, KBRI Kuala Lumpur.

Demikian dilaporkan oleh Tim Humas STEI Tazkia.

Rizqi ZakiyaSTEI TAZKIA KEMBALI TANDATANGANI MOU YANG KETIGA KALINYA DENGAN IIUM
read more

Tazkia Kembali Meraih Juara Ekonomi Syariah Nasional

No comments

 

IESCO (Islamic Economics Olympiad) merupakan sebuah wadah kegiatan kemahasiswian yang diselenggarakan oleh Program Studi Ekonomi Islam Universitas Darussalam Gontor dan diikuti oleh seluruh mahasiswi atau akhwat dari PTN dan PTS di seluruh Indonesia. Selain sebagai wadah silaturahim lintas PTN dan PTS kegiatan ini juga bertujuan untuk menampung ide kreatif dan inovatif para mahasiswi mengenai suatu fenomena yang terjadi di masyarakat. Tema yang diangkat dalam LKTI (Lomba Karya Tulis Ilmiah) dan LCC (Lomba Cerdas Cermat) IESCO (Islamic Economics Olympiad) ini adalah “Optimalisasi Ekonomi Digital dalam rangka mendukung SDG’s”. Dengan diselenggarakannya kegiatan ini, diharapkan dapat menjadi wadah dan memfasilitasi para mahasiswi untuk menyampaikan gagasannya dalam bentuk Karya Tulis Ilmiah dan Cerdas Cermat, serta mendorong mahasiswi untuk dapat berkontribusi dalam mewujudkan Indonesia menuju SDGs 2030, karena perubahan bangsa ada di tangan pemuda, sebab kualitas suatu negara tercermin pada kualitas pemudanya.

 

IESCO dilaksanakan pada tanggal 15-19 Januari bertempat di kampus pasca serjana Universitas Darussalam. Adapun tujuan diselenggarakannya lomba karya tulis ilmiah ini adalah sebagai berikut:
Untuk mengukur tingkat pemahaman mahasiswi terhadap Ekonomi Islam baik secara teoritis maupun prakteknya.
LCC ini diharapkan dapat menjadi motor penyemangat mahasiswi untuk mengasuh kemampuannya dalam bidang Ekonomi Islam guna memasyarakatkan konsep bersama tentang Ekonomi Islam sebagai sistem ekonomi yang lebih efisien.
Diharapkan dapat menjadi sarana ukhuwah Islamiyah yang diiringi dengan suasana kompetitif, bersaudara, dan Islami.
Tim STEI Tazkia pada cara IESCO ini mengikuti lomba cerdas cermat karena masuk semi final maka pihak panitia mengundang tim STEI Tazkia untuk bersaing dengan Universitas Brawijaya, Universitas Darussalam, Universtas Muhamadiah Yogyakarta dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Smi final terdiri dari 2 babak untuk memilih 3 tim terbaik yang akan masuk ke babak final dan Tim STEI Tazkia merupakan salah satu tim yang masuk final. Dalam sesi final setiap kelompok diberikan kasus untuk dipersentasikan kedepan juri dengan kesempatan berfikir selama 15 detik.dan pada akhirnya Tim dari STEI Tazkia berhasil menjadi juara 1 unggul dari Univeritas Muhammadiah Yogyakarta sebagai juara 2 dan Universitas Barawijaya sebagai juara 3.

Rizqi ZakiyaTazkia Kembali Meraih Juara Ekonomi Syariah Nasional
read more

Bedanya Keuangan Syariah Maroko dan Indonesia

No comments

Kampus Tazkia kembali menghadirkan pakar global keuangan syariah, Prof. Dr. Mohamed Raougui , Guru Besar Bidang Hukum Syariah di Universitas Muhammad V Rabat yang juga Ketua Dewan Syariah Nasional Maroko.

[Bogor, 21 Januari 2019] Meskipun banyak yang menganggap Indonesia terlambat menerapkan keuangan syariah, padahal negara mayoritas Muslim terbesar di dunia, ternyata tidak sepenuhnya benar. Dibandingkan Malaysia, memang Indonesia terlambat, namun dibandingkan Maroko, Indonesia lebih dulu.

Jika di Indonesia, momentum mulai diterapkannya keuangan syariah di Indonesia ditandai dengan pendirian Bank Muamalat Indonesia pada 1991, di Maroko, bank syariah pertama di Maroko, Umnia Bank baru beroperasi pada awal 2017.

Terlambatnya perkembangan keuangan syariah Maroko ini, dibandingkan negara Muslim lainnya, tentu bukan tanpa sebab. Hal ini dikarenakan peninjauan yang mendalam tentang keuangan syariah untuk diterapkan secara menyeluruh di Maroko. Usulan Keuangan Syariah sudah masuk pembahasan pada tahun 2015 namun finalisasi eksekusi Bank Syariah di Maroko pada tahun 2017.

Hal ini diungkapkan oleh, Prof. Dr. Mohamed Raougui, Ketua Dewan Syariah Nasional Maroko dalam acara Monday Forum di Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Tazkia, hari ini. Monday Forum adalah ajang olah akal civitas akademika kampus Tazkia. Di acara yang rutin diadakan tiap pekan tersebut, peneliti baik dari internal maupun eksternal kampus berkesempatan memaparkan risetnya dan mendiskusikannya dengan peneliti lainnya.

Bank Kerjasama
Menariknya, di Maroko bank syariah tidak disebut “bank syariah” seperti di Indonesia. Di negeri tempat kuliahnya ustad populer, Abdul Somad, Lc., MA, itu bank syariah disebut Bank Tasyarukiyyah atau Bank Kerjasama. Perbedaan lainnya adalah hanya terdapat satu Dewan Syariah di Maroko, Dewan Syariah Pusat tanpa adanya Dewan Pengawas Syariah yang tersebar di berbagai perbankan syariah di Maroko.

Model seperti ini membuat, ketetapan seluruh akad ditentukan langsung oleh Dewan Syariah Pusat Maroko.
Dimoderatori oleh pakar ekonomi syariah asal kampus Tazkia, Dr. Muhammad Syafii Antonio, M.Ec., Dr. Ar Ruki memaparkan perkembangan keuangan syariah di Maroko dalam bahasa Arab.

Siaran langsung Monday Forum, 21 Januari 2019, Anda bisa menonton rekaman diskusi lengkapnya di bawah ini.

Melengkapi, Prof. Dr. Mohamed Raougui, Dr. Muhammad Syafii Antonio, M.Ec. juga menyampaikan perkembangan Keuangan Syariah di Maroko dan Afrika Utara. Dari data yang dipaparkan beberapa negara baru secara optimal mengembangkan proyek keuangan syariah secara masif di atas 2010, lebih cepat Indonesia yang sudah meluncurkan program sukuk dari 2009.

Kerjasama Indonesia – Maroko
Di kesempatan yang sama, Ketua STEI Tazkia, Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc mengomentari paparan Prof. Dr. Mohamed Raougui. “Perkembangan syariah di Maroko ketinggalan dibandingkan negara-negara lain karena hukum pemerintah yang berbeda-beda. Namun dengan hubungan baik antara Indonesia dan Maroko, kedua negara dapat saling berbagi pengalaman untuk akselerasi pengembangan ekonomi dan keuangan syariah”, kata Murniati menjelaskan.

Murniati menambahkan, memang, kunjungan, Prof. Dr. Mohamed Raougui juga dalam rangka penjajakan kerjasama di bidang Sumber Daya Insani (SDI) keuangan syariah di kedua negara. Selain bidang SDI, dijajaki juga kerjasama penelitian antara STEI Tazkia dan Universitas Muhammad V, Maroko di mana, Prof. Dr. Mohamed Raougui menjadi profesor di sana.

“Kunjungan guru besar dari luar negari seperti Prof. Dr. Mohamed Raougui ini adalah salah satu bentuk program rutin tiap semester karena Kampus Tazkia sedang menuju kampus berkelas internasional pada 2025 nanti”, kata Murniati menegaskan.

Penggunaan bahasa asing seperti bahasa Inggris dan Arab serta penerimaan mahasiswa asing juga sedang ditingkatkan. Dengan networking yang kuat, kelak lulusan Tazkia dapat berkiprah di luar negara karena ahli perbankan dan keuangan syariah masih sangat banyak diperlukan.

Download Materi Monday Forum 21 Januari 2019
Silakan unduh materi presentasi: Islamic Finance in Morocco and North Africa oleh Dr. M. Syafii Antonio, MEc dengan mengisi sedikit data di bawah ini. Berkas berformat PDF akan segera terunduh di browser Anda setelah Anda mengeklik, “Download”. Berkas berukuran sekira 2,6 MB.

Rizqi ZakiyaBedanya Keuangan Syariah Maroko dan Indonesia
read more

Global Monetary Trend: Its Effect Towards The Growth of Islamic Finance

No comments

Senin, 14 Januari 2019 / 08 Jumadil Awal 1440 H, dengan Pemateri :Prof. Dr. Muhammad Said, MA. (Ketua Program Doktor Keuangan dan Perbankan Syariah UIN Syarif Hidayatullah) serta Moderator: Ries Wulandari,M.Si (Kepala LPPM STEI Tazkia)

Banyak pertanyaan dibenak masyarakat terkait eksistensi Ekonomi Islam dalam tataran hukum positif saat ini. Begitu pun juga para pelaku sistem ekonomi konvensional mempertanyakan apakah sistem ekonomi konvensional yang saat ini digunakan mampu menghadapi fluktuasi keuangan global.


Dalam pemaparannya di Monday Forum yang diselenggarakan LPPM STEI Tazkia, Prof. Muhammad Said mengatakan “Banyak terjadi kekhawatiran di negara-negara maju terhadap sistem keuangan saat ini, padahal teori ekonomi keuangan telah dirumuskan, namun rangkaian badai krisis belum menunjukkan titik terang akan segera berlalu, apakah penyebabnya?, apakah manusianya yang salah, ataukah premis tentang pembangunan yang kurang tepat?. Lalu bagaimana jika dengan hadirnya sistem keuangan Islam, apakah ia dapat meresolve problema-problema yang terjadi?.”
Kita saat ini hidup di era revolusi digital, platform trading online dan mata uang daring seperti bitcoin, mereka tumbuh dengan cepat sejalan dengan pertumbuhan perusahaan finansial teknologi. Fakta mengingatkan kita bahwa sistem keuangan akan selalu berkembang dan Regulator/pengawas keuangan harus selalu waspada terhadap evolusi tersebut dan berlaku tangkas menghadapinya. Dalam outlook ekonomi tahunan IMF, mengatakan bahwa kita harus berhati-hati terhadap tantangan global yang terjadi pada perekonomian dunia untuk mencegah Great Depresion yang kedua kalinya. (Wall Street Crash (1929-1930).


Premis pembangunan yang kurang tepat juga merupakan kelemahan dari sistem ekonomi dan keuangan konvensional saat ini. Agama dan moral adalah salah satu penyebab masalah ekonomi, selain itu masyarakat juga tamak terhadap uang, dan segala sesuatu. Seperti halnya Plato yang memiliki sifat serakah, Bernard de Mandevilee (1670-1733) “ The Fable of the Bees” greedy animal memberikan dampak yang negatif pada pertumbuhan dan perkembangan ekonomi dan sosial masyarakat. Adam Smith juga sangat mempercayai sifat Materialistic dan Egoistic.


Pada akhirnya kesalahan ekonomi konvensional menyebabkan ketidakadilan dan distribusi kekayaan yang tidak merata, menjadi tidak sejahtera, kesalahan dalam problem solving kemiskinan, eksploitasi sumber daya, terjadinya peperangan untuk memperebutkan sumber daya, inflasi, deflasi, pengangguran. Kesalahan dalam teori konvensional ini membuat proses pembangunan negara menjadi tidak sempurna.
Lalu, bagaimanakah resolusi Islam atas pembangunan ekonomi dan keuangan modern ini. Prof Muhammad Said mengatakan bahwa dalam Islam, manusia adalah sebagai agen ekonomi, yang menjadi makhluk madani, bukan hanya memenuhi keinginan akan tetapi memenuhi kebutuhan akan material dan spiritual. Spiritual manusia menjadi lokus personal yang membuat Ekonomi dan Keuangan Islam dibangun atas dasar hakekat manusia, jasmani dan rohani.
Dalam pembangunan Ekonomi dan Keuangan Islam, menerapkan hukum Islam dalam ekonomi alam, hal ini tumbuh secara cepat di negara barat maupun negara timur. Dalam perkembangan jangka pendek ekonomi dan keuangan Islam masih belum stabil, akan tetapi dalam jangka panjang ekonomi Islam akan menjadi kuat, ia akan tumbuh 30% per tahun sejalan dengan kaum muslim yang telah menggunakan jasa keuangan saat ini sebanyak 1,4 juta orang. Menurut Nida (2016) hari ini industri keuangan telah memakai sistem keuangan Islam secara menyeluruh. Pangsa pasar pada akhir tahun 2018 juga mencapai $ 3,4 juta.

Rizqi ZakiyaGlobal Monetary Trend: Its Effect Towards The Growth of Islamic Finance
read more

Bank Syariah Diharapkan Memiliki Corporate University

No comments

Kementerian BUMN menilai, sebaiknya lembaga keuangan syariah yang masih menjadi anak perusahaan BUMN, dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusianya dengan membangun Corporate University.

Sudah 26 tahun ekonomi syariah berkembang di Indonesia. Diawali , sejak Bank Muamalat Indonesia (BMI) pertama kali berdiri. Sudah sejauh mana perkembangannya? Dan terutama apa kontribusinya kepada perekonomian Indonesia? Inilah topik webinar BRI Corporate University hari ini, Kamis (20/12), yaitu “Peran Islamic Finance dalam Menunjang Perekonomian Indonesia”.

Webinar kali ini diisi oleh, Ketua STEI Tazkia, Dr. Murniati Mukhlisin M.Acc sebagai pembiaya kunci. Dibuka oleh Asisten Deputi Manajemen SDM Eksekutif Kementerian BUMN, Imam Bustomi, dan sebagai tuan rumah adalah CLO BRI Corporate University, Retno Wahyuni Wijayanti dan CLO B & FS BUMN Corporate University, Lugiyem.

Dari sisi pemerintah Imam Bustomi mengatakan, Kementerian BUMN masih dalam roadmapnya, menjadikan BUMN-BUMN Indonesia pemain global. Karena itu, holding di tiap sektor sejenis harus dibentuk. “Karena syariah selama ini menjadi anak perusahaan, pembinaan memang ada di induknya. Misalnnya BRI Syariah itu ada di Bank BRI dan BSM ada di Bank Mandiri. Usulannya menjadi menarik apakah Kementerian BUMN akan mendorong, kami juga ingin mempertemukan semua pelaku tadi, BSM, BRIS, BTN Syariah, BNI Syariah, dan asuransi syariah yang semuanya masih menjadi anak perusahaan dari BUMN, untuk bersama-sama mendorong perkembangannya, seperti apa”, kata Imam menjelaskan.

Dari sisi pengembangan SDM, Imam menjelaskan pihaknya juga menginginkan upaya pengembangan SDM harusnya terintegrasi dan semua pihak ada. “Sekarang ini yang kita lakukan, kita mau membangun corporate university yang selama ini hanya dimiliki oleh Bank Konvensional. Kami juga ingin mendorong mendorong pembelajaran khusus yang syariah untuk memiliki sendiri, saya telah mendorong BSM, BRI Syariah untuk membangung corporate university, khusus untuk yang syariah”, kata Imam lagi.

Sementara kini banyak pakar bicara tentang industri 4.0, mungkin pekerjaan manusia akan mulai banyak diganti oleh robot. Tapi, yang tidak bisa diganti adalah ahli syarioah. Oleh karena itu, menurut Murniati Mukhlisin, ketika kita membangun menuju industri 4.0, kita jangan melupakan yang syariah-syariah ini. “Saya berharap yang tadi disampaikan pak Imam, kalau bisa BUMN lebih serus menggarap syariah”, kata Murniati berharap.

Ia menambahkan, mengutip keterangan pendiri STEI Tazkia, Dr. M. Syafii Antonio, M.Ec di Surabaya, dalam gelaran Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2018 pada 11-15 Desember 2018. Syafii Antonio berharap, suatu saat saat, Bank Indonesia (BI) akan bernama Bank Indonesia Syariah. Di saat itu, “Akan ada divisi konvensional dari Bank Indonesia Syariah tersebut. Apakah tidak mungkin? Wallahuallam, apa yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin bagi Allah”, kata Murniati mengutip Syafii Antonio.

Miftahul AnwarBank Syariah Diharapkan Memiliki Corporate University
read more

10 Model Bisnis Baru Perbankan Syariah

1 comment

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menggandeng Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LPPM) STEI Tazkia, adakan kajian inovasi produk perbankan syariah.

Kajian yang dilakukan pada Mei – November 2018 ini merekomendasikan 10 model bisnis baru untuk perbankan syariah Indonesia. Model bisnis baru ini akan menghasilkan produk akan dinamakan Shariah Restricted Intermediaries Account (SRIA).

Pemaparan hasil kajian dilakukan pada Seminar Akhir Tahun Perbankan Syariah yang digelar OJK di Ballroom Hotel Ayana, Mid Plaza, Jl. Jendral Sudirman Kavling 10 – 11, Jakarta Pusat, Kamis (6/12).

Produk ini nantinya akan menggunakan beberapa akad seperti Mudharabah Muqayyadah, Musyarakah, Ijarah, dan Murabahah. “Produk dihasilkan setelah melalui proses brainstorming dengan industri perbankan syariah pada 7 Juni 2018, Focus Grup Discussion (FGD) pertama pada 23 Agustus 2018, dan FGD kedua pada 17 Oktober 2018, dihasilkanlah dua model utama yaitu One to one, Many to One, One to Many Mudharabah Muqayyadah, di mana Shahibul maal akan menempatkan dana kepada Bank Syariah yang dalam hal ini menjadi Mudharib”, kata Ketua Tim Peneliti yang juga Kepala LPPM STEI Tazkia, Ries Wulandari M. Si.

Apa nilai lebih (value proposition) yang ditawarkan produk baru ini? Menurut Ries Wulandari, akan dilakukan pembagian keuntungan dan kerugian (profit and loss sharing), tidak adanya penjaminan modal dan tidak dapat ditarik sebelum jatuh tempo. “Value proposition ini diharapkan akan sedikit demi sedikit menghapus stigma masyarakat terhadap operasional bank syariah saat ini”, kata Ries menambahkan.

Dalam riset kali ini, anggota tim peneliti terdiri dari tiga dosen STEI Tazkia, lintas program studi, yaitu Yaser Taufik Syamlan CIFP.,ME, dosen Manajemen Bisnis Syariah (MBS) dan Ketua Prodi D3 Manajemen Keuangan Mikro Syariah (MKMS), Aminah Nuriyah, ME, dosen MBS, dan Ibu Netty DH M.E.Sy, dosen Tadris.

Output dari penelitian ini mencakup model bisnis produk baru, standar operasi atau SOP, akad perjanjian, serta contoh kasus pencatatan akuntansi.

Direktur Perbankan Syariah Deden Firmansyah, menyampaikan dalam sambutannya bahwa kajian yang disampaikan pada Seminar Akhir Tahun Perbankan Syariah OJK ini, merupakan bagian dari strategi pengembangan Perbankan Syariah 2019.

LPPM STEI Tazkia sebagai peneliti berharap bahwa kajian ini akan mendorong pertumbuhan perbankan syariah dan meningkatkan kue pasar yang saat ini masih berkutat di angka lima persen.

Selain itu, Deputi Direktur Direktorat Perbankan Syariah (DPbS), Dr. Setiawan Budi Utomo juga mengharapkan bahwa produk SRIA ini dapat dijalankan mulai 2019.

Rizqi Zakiya10 Model Bisnis Baru Perbankan Syariah
read more

Dosen Tazkia Go ASEAN

No comments

Tiap konferensi internasional yang diikuti, menjadi peluang bagi dosen untuk berkiprah di luar negeri. Kali ini dosen Tazkia go ASEAN.

Sebanyak delapan dosen senior Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Tazkia mengikuti the 6th ASEAN Universities International Conference on Islamic Finance (the 6th AICIF) yang diadakan oleh International Council of Islamic Finance Educators (ICIFE).

Pelopor ekonomi Islam di Indonesia ini memang menjadi salah satu anggota ICIFE. Organisasi ini tiap tahun memang mengadakan konferensi internasional. Tahun ini bersama-sama dengan anggotanya yaitu dari Malaysia, Indonesia, Brunei Darussalam, Thailand, dan FIlipina mengadakan the 6th AICIF. Sebagai tuan rumah adalah Mindanau State University, acara pun diadakan di New World Makati Hotel, Manila, Filipina pada 14-15 November 2018.

Rombongan STEI Tazkia dipimpin oleh Ketua STEI Tazkia, Murniati Mukhlisin, diikuti oleh delapan dosen senior yaitu: Luqyan Tamanni, Miftakhussurur, Yaser Syamlan, Rusdiana Priatna, Afif Zaerofi, Grandis Imama Hendra, Nurizal Ismail dan Rahma Wijayanti. Para dosen ini mewakili semua program studi yang ada di Tazkia yaitu Pascasarjana Ekonomi Syariah, Bisnis dan Keuangan Syariah, Muamalat, Akuntansi Syariah, Ekonomi Syariah, Diploma 3 Keuangan Mikro Syariah.

Tim peneliti ini membentangkan penelitiannya seputar tata kelola syariah, perbankan dan pasar modal syariah, sistem keuangan moneter dan asuransi syariah, serta keuangan sosial syariah.

Dengan keikutsertaan di konferensi internasional ini, Murniati mengatakan, “Untuk memberikan peluang bagi dosen mempresentasikan hasil penelitian sehingga memperkaya Tridharma pendidikan di kampus. Juga membawa Kampus Tazkia di level ASEAN melalui berbagai kerjasama dengan berbagai instansi di kawasan ini”.

Untuk itu selain membentangkan hasil risetnya pada konferensi ini, tim juga mengadakan kunjungan ke KBRI Manila dan Asian Development Bank. Bahkan, Ketua STEI Tazkia, Murniati menyampaikan tausiyah di KBRI dan salah satu anggota tim, Nurizal mengisi Khutbah Jum’at pada 16/11. Adapun agenda di Asian Development Bank di Manila adalah untuk membahas potensi kerjasama dengan kampus. Selain itu, diadakan juga penandatanganan memorandum of understanding (MoU) antara STEI Tazkia dan Mindanau State University.

Bagi ekonomi Islam lokal dan internasional, Murniati menilai, pengembangan ekonomi syariah di kawasan ASEAN masih didominasi oleh Malaysia dan Indonesia. Brunei sudah mulai menunjukkan geliat keuangan syariah, Filipina dan Thailand sudah mulai walau agak lamban tapi tidak terlihat di Singapura dan Myanmar. “Diharapkan dengan adanya perjumpaan pendidik bidang keuangan syariah di kawasan ASEAN dapat bersinergi untuk mengembangkan ekonomi syariah, industri halal, regulasi syariah lebih baik lagi, paling tidak dari sisi pendidikan dan penyediaan sumber daya manusia”, kata Murniati menjelaskan.

Murniati menambahkan, STEI Tazkia juga berminat untuk menjadi tuan rumah konferensi internasional ini di lain waktu. Menurutnya, kampus Tazkia sudah diminta oleh beberapa peserta untuk menjadi tuan rumah tahun depan namun karena ikut harus ikut antri, maka Kampus Tazkia akan menjadi tuan rumah tiga tahun lagi.

Miftahul AnwarDosen Tazkia Go ASEAN
read more

Hadir di Masjid Andalusia Kampus Tazkia Ustadz Abdul Somad Serukan Implementasi Ekonomi Syariah Secara Total

No comments

Bogor, Jumat, 2 November 2018 / 24 Shafar 1440. Masjid Andalusia Kampus Tazkia kehadiran Tamu Istimewa. Al Ustadz Abdul Somad, LC, M.A. hadir mengisi tabligh Akbar bersama Dr. Muhammad Syafii Antonio (Pakar Ekonomi Syariah dan Pembina Tazkia Group) dengan moderator Dai Muda Hilman Fauzi, S.E.I, M.E.Sy (Alumni Kampus Tazkia S1 & S2). Hadir ribuan jama’ah memadati acara yang disponsori oleh Jama’ah Pengajian Andalusia, Tazkia Group dan Sentul City ini.

Mengusung tema Menuju Indonesia Baru dengan Kekuatan Ekonomi Ummat. Dr. Syafi’i Antonio mengawali dengan mengungkapkan data-data penting bahwa ummat muslim Indonesia mampu bangkit jika bersatu padu bersama menghidupkan Ekonomi Syariah untuk menyokong Ekonomi Ummat. 87% ummat muslim masih mayoritas menjadi konsumen dari 13% konglomerat yang menguasai produk pokok nasional. Al Ustadz Abdul Somad pun melanjutkan pentingnya belanja di toko sekitar, milik ummat serta mempersiapkan generasi ummat yang akan memperjuangkan Ekonomi Ummat dengan Ekonomi Syariah.

Beliau juga menyerukan kepada seluruh petinggi pemerintah, yang memilki kekuasaan untuk memanfaatkan kekuasaan untuk kepentingan ummat, memperkuat praktik keuangan syariah, mendukung ekonomi masyarakat sekitar dan kebijakan positif lain yang memberikan manfaat besar untuk ummat meskipun sudah lepas dari jabatan nanti.

Kampus Tazkia berkali kali disebut oleh Al Ustadz menjadi lembaga yang siap membekali generasi muda yang akan memperjuangkan Ekonomi Syariah di masa depan. Sehingga Ummat Islam mampu menjadi tuan di Negeri sendiri dengan Ekonomi Syariah sebagai solusinya.

 

Rizqi ZakiyaHadir di Masjid Andalusia Kampus Tazkia Ustadz Abdul Somad Serukan Implementasi Ekonomi Syariah Secara Total
read more