All posts tagged: Ekonomi Islam

Tazkia Plus Award, Ajang Penghargaan Bagi Insan Terbaik Tazkia

No comments
Salah satu pembina Tazkia Plus sedang memberikan sambutan acara

Salah satu pembina Tazkia Plus sedang memberikan sambutan acara

Sabtu, 16 Maret 2019 Tazkia Plus menyelenggarakan sebuah kegiatan yang diberi judul Tazkia Plus Award 2019 bertempat di Kampus STEI Tazkia. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka memberikan penghargaan kepada beberapa anggota Tazkia Plus yang merupakan mahasiswa penerima beasiswa atas kontribusi dan prestasi mereka baik di bidang akademik maupun non akademik.
Beberapa kategori penghargaan yang diberikan pada Tazkia Plus Award 2019 adalah :
1. IPK Terbaik (Ikhwan dan Akhwat)
2. Tahfidz (Ikhwan dan Akhwat)
3. Teraktif (Ikhwan dan Akhwat)
4. Prestasi Lomba (Ikhwan dan Akhwat)
5. Mahasiswa Terbaik (Ikhwan dan Akhwat)
Salah satu penerima penghargaan kategori IPK Terbaik (Aisyah)

Salah satu penerima penghargaan kategori IPK Terbaik (Aisyah)

Ditemui setelah menerima penghargaan Aisyah Salafiyah sebagai salah satu penerima penghargaan kategori IPK Terbaik mengaku sangat bangga dengan penghargaan yang diraih.
“Saya sangat bangga sekali dengan penghargaan yang saya raih. Saya jadikan penghargaan ini sebagai motivasi tambahan bagi saya agar lebih rajin lagi dalam menuntut ilmu dan juga mencari pengalaman sebanyak mungkin untuk mengembangkan potensi yang saya.” Ujar Aisyah
Dengan diberikannya penghargaan Tazkia Plus Award 2019, selain sebagai bentuk apresiasi diharapkan dapat menjadi Motivasi bagi anggota yang mendapatkannya untuk terus mengmbangkan potensi masing-masing dan juga memberikan dorongan mahasiswa lain yang belum mendapatkan penghargaan agar lebih semangat memberikan kontribusi dan prestasi. (Aisyah & M. A. Guswanda)
Miftahul AnwarTazkia Plus Award, Ajang Penghargaan Bagi Insan Terbaik Tazkia
read more

Stadium General Mahasiswa; Belajar Dakwah Millenial dari Ust. Fadhlan Garamatan

No comments

Selasa. 12 Maret 2019 / 5 Rajab 1440 H. Mahasiswa STEI Tazkia mendapatkan sharing pengalaman yang sangat berharga. Ust. Fadhlan Garamatan sebagai “ayah” dari 27 Mahasiswa Indonesia Timur yang mendapat beasiswa STEI Tazkia sekaligus Dai Nasional berbagi pengalaman bagaimana beliau menyampaikan Indahnya Islam ke berbagai suku pedalaman di Papua. “Papua adalah Tanah yang menghantarkan Adzan pertama ke Seluruh Indonesia, baru kemudian 1 Jam kemudian daerah WITA, 2 Jam Kemudian daerah WIB lalu wilayah dunia lainnya” sebagaimana diungkapkan oleh Ust. Fadhlan menggambarkan betapa Pentingnya Dakwah di Tanah Papua.

Mulai dari mendapat ancaman pembunuhan karena dakwah di pedalaman, hingga merangkul pencuri yang taubat, menjadi bagian mewarnai dakwah beliau dalam menyebarkan hidayah Islam di tanah Papua.

Pengalaman Ust. Fadhlan menjadi pelajaran berharga bagi seluruh mahasiswa untuk membawa dakwah penuh kesabaran dan merangkul tantangan sebagai bagian dari dakwah Ekonomi Islam Khususnya. Di akhir sesi Ust. Fadhlan memberikan tantangan kepada mahasiswa untuk lebih aktif lagi dalam berdakwah walau hanya 1 ayat. Tanpa harus menunggu lulus kuliah atau mapan keadaan di kemudian hari.

Rizqi ZakiyaStadium General Mahasiswa; Belajar Dakwah Millenial dari Ust. Fadhlan Garamatan
read more

Kisah Inspiratif Mogayer Gamil Yahya Dalam Perjalanannya Mencari Kebenaran Islam (Spirit Dakwah Untuk Penggiat Ekonomi)

No comments

Sang Penatap Matahari (The Sun Gazer), Begitulah karya novel yang dirilis pada bulan September 2018 oleh seorang ahli ekonomi syariah Indonesia, Novel ini bercerita mengenai kisah Mogayer Gamil Yahya yang menampilkan kepada para pembaca mengenai pengalaman tragis, dramatis, sekaligus romantis dalam sebuah narasi cerita unik yang bisa dibaca oleh kaum baby boomber hingga generasi Z.

Dalam pemaparannya di Monday Forum yang diselenggarakan oleh LPPM STEI Tazkia, Mohammad Gunawan Yasni memaparkan bahwa ia merupakan generasi dari tuanku nan biru di talago seorang panglima perang padri, Sumatera Barat, pasukan imam bonjol. Nenek moyangnya tersebut menginspirasi beliau agar menjadi seseorang yang eksklusif meskipun tak terkenal tetapi memiliki pengaruh besar dalam penyebaran Islam.

Pada acara yang dibuka oleh Ibu Ries Wulandari, selaku kepala LPPM STEI Tazkia tersebut. Penulis menceritakan kisah-kisah seorang Mogayer Gamil Yahya yang seharusnya diikuti oleh setiap insan muslim. Menurut penuturan dari Pakar Pasar Modal dan Asuransi Syariah tersebut Mogayer adalah sesosok orang yang berperilaku baik bahkan ayah hingga kakek neneknya merupakan orang yang baik, hal ini tertuang dalam QS. Al Baqarah: 195. Kemudian di QS. Ali Imran: 76, bahwa Allah cinta orang yang bertakwa hal ini juga tertuang dalam kisah di novel tersebut.

 

Selanjutnya dalam QS. Ali Imran: 146 dan 59, bahwa Allah mencintai orang-orang yang sabar dan bertawakkal. “Bahwa dalam mendakwahkan ekonomi Syariah juga harus diikuti dengan kesabaran, seperti di awal 2018 pertumbuhan market share perbankan syariah hampir menyentuh angka 6%, akan tetapi di november 2018 market share perbankan syariah masih berada di level 5,7%, padahal di awal 2018 ada bank Aceh yang melakukan konversi ke syariah akan tetapi masih stagnan dan di akhir 2018 ada bank NTB yang melakukan konversi menjadi syariah, akan tetapi perbankan syariah di Indonesia masih belum bisa unjuk gigi. Pun juga pengalamannya di Kementerian Keuangan, ia menuturkan saat awal mula munculnya Surat Berharga Syariah negara (SBSN), bahwa sukuk itu harus dinikmati oleh masyarakat Indonesia sendiri, jangan melulu mengambil investor asing, maka setelah itu muncullah sukuk ritel dan sukuk tabungan saat ini.” tutur alumni Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia tersebut.

Mogayer juga bersifat adil sesuai QS. Al Maidah: 32, karena beliau dari kecil mengalami perjuangan yang cukup berat, mulai dari perjuangan di keluarga hingga harus merelakan seorang istri dari kehidupannya untuk menggapai cinta dari langit. Beliau menuturkan pejuang ekonomi syariah harus sufistik (tapi tidak harus miskin), dan harus mengedepankan aspek ukhrowi daripada sekedar duniawi. Selain itu Allah juga mencintai orang yang bertaubat dan membersihkan diri sesuai dalam QS. Al Baqarah: 22. Penulis pun demikian, ia harus banyak beristighfar dalam perjalanannya membuat SBSN, karena jangan sampai ada paradigma konvensional yang masih ada dalam aplikasi instrumen syariah tersebut. Beliau juga mengatakan kita harus meneladani nabi-nabi dalam beristighfar, seperti nabi Adam saat mendakwahkan islam, Nabi Nuh saat kaumnya tidak ada yang mengikuti dakwahnya, atau Nabi Yunus yang ketika berusaha mengeluarkan diri dari dalam perut ikan paus.

Pelajaran bagi aktor di bidang Ekonomi Syariah salah satunya yakni tidak terlepas dari doa-doa generasi terdahulu, dari orang tua, dan orang-orang di sekitar. Beliau terkesima saat Syafii Antonio awal mula di Jordania, kemudian bertanya bagaimana cara mendakwahkan islam dalam kegiatan bermasyarakat kepada Zainul yasni, seorang duta besar Jordania, kemudian dijawab oleh Ayah Iwan tersebut bahwa “Kita Harus mendakwahkan Islam di sendi-sendi masyarakat melalui iqtishod, kegiatan ekonomi syariah dan bermuamalah di masyarakat”. Pak Iwan sapaan akrab Gunawan Yasni pun menuturkan ia susah keluar dari lingkungan syariah juga berkat doa-doa orang terdahulunya.

Dalam jati diri mogayer ada 4 karakter orang yang tak tersentuh api neraka seperti yang tertuang seperti di H.R Tirmidzi dan Ibnu Hiban yakni Hayyin, orang-orang yang memiliki ketenangan dan keteduhan lahir maupun batin, tidak mudah memaki, melaknat, serta tenang jiwa. Dalam Novel tersebut Mogayer bersifat lembut, dan memiliki ketenangan dan keteduhan batin. Berawal dari rasa minder, lalu ia berlatih bela diri dan akhirnya ia merasa yakin bahwa ia bisa mempertahankan diri dan mengendalikan emosinya. Kemudian Layyin, yakni orang yang lembut dan santun, baik dalam bertutur kata atau bersikap. Tidak kasar, dan tidak ikut hawa nafsu sendiri, lemah lembut dan selalu menginginkan kebaikan untuk sesama manusia. Lalu, Qaribin, yakni akrab, ramah diajak bicara, menyenangkan bagi orang yang diajak bicara, murah senyum jika bertemu. Serta terakhir adalah Sahlin yakni orang yang tidak mempersulit sesuatu dan selalu ada cara untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang dihadapi.

Dalam novel The Sun Gazer yang akan diterbitkan segera dalam bahasa inggris ini, kisahnya dimulai saat Mogayer di Kairo di waktu Syuruq dan merasakan seolah melihat halusinasi atau bayangan matahari. Kemudian ia berdoa “Allahumma Nawwir Qulubana Bi Nuri Hidayatika kama Nawwartal Ardha Bi Nuri Syamsika abadan abada, Bi Rahmatika Ya Arhamarrahimin”. Serta saat mogayer menemukan saray sesosok orang yang dibimbing oleh Allah untuk menemaninya. (Red. Rizal Nazarudin Firli)

Miftahul AnwarKisah Inspiratif Mogayer Gamil Yahya Dalam Perjalanannya Mencari Kebenaran Islam (Spirit Dakwah Untuk Penggiat Ekonomi)
read more

STEI TAZKIA KEMBALI TANDATANGANI MOU YANG KETIGA KALINYA DENGAN IIUM

No comments

Jumat 08 Februari 2019 M / 02 Jumadil Akhir 1440 H, Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Tazkia melakukan MoU yang ketiga kalinya dengan Internasional Islamic University (IIUM). Penandatangan MoU ini dilakukan di ruang sidang utama gedung Rektorat IIUM.

Prof Tan Sri Dato Dzulkifli Abdul Razak selaku Rektor IIUM dalam sambutanya menyampaikan bahwa kerjasama ini InsyaAllah akan membawa konstribusi terbaik bagi pengembangan nilai-niai kemanusiaan yang merupakan substansi dari pendidikan.

Sementara Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc selaku Rektor STEI Tazkia menyampaikan rasa bahagia atas sambutan Rektor dan segenap pimpinan IIUM. Alhamdulillah Tazkia akan selalu sejalan dengan cita cita mulia dalam pengembangan dakwah, riset dan pengabdian masyarakat baik pada tingkat nasional maupun internasional ungkap Murniati yang juga alumni IIUM.

Hadir dalam pendantangan MoU ini adalah Dr (C) Andang Heryahya, M.Pd selaku Pembantu Ketua I Bidang Akademik, Dr. Mukhamad Yasid, MSi, Direktur Pascasarjana dan Nurizal Ismail, MA, Direktur Pusat Studi Kitab Klasik STEI Tazkia.

Pendantangan MoU ini juga disaksikan oleh Mokhamad Farid Maruf, PhD sebagai Atase Pendidikan, KBRI Kuala Lumpur.

Demikian dilaporkan oleh Tim Humas STEI Tazkia.

Rizqi ZakiyaSTEI TAZKIA KEMBALI TANDATANGANI MOU YANG KETIGA KALINYA DENGAN IIUM
read more

Fintech dari Perspektif Syariah, Bagaimanakah?

No comments

Ini bukti keuangan syariah melek perkembangan zaman. Financial Technology (FinTech) pun telah ada yang syariah.

Di perkembangan teknologi keuangan di Indonesia, beberapa jenis FinTech telah dapat disyariahkan. Fatwa-fatwa tentang FinTech yang dikeluarkan Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI) telah mengakomodasi berbagai jenis FinTech. Namun memang belum semua jenis.

Menurut Abdul Mughni, Lc., MHI, pengajar Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Tazkia,  beberapa jenis FinTech yang telah diatur kesyariahannya adalah jenis Peer to Peer Lending (pinjaman berbasis teknologi), uang elektronik (e-Money), dan gerbang pembayaran (payment gateway). “Sedangkan beberapa jenis FinTech seperti crowdfunding, market aggregator, risk and investment management belum memiliki fatwa syariahnya. Lain halnya seperti criptocurrency, maka ia hanya akan dikeluarkan fatwa DSN-MUI jika otoritas (Otoritas Jasa Keuangan – red) tidak melarang”, kata Mughni saat Monday Forum, dengan topik “Fintech Phenomenon and Its Problems from the Sharia Perspective”, Senin (28/1).

Dalam kegiatan yang rutin digelar oleh Lembaga Penelitian dan Pengembangan Masyarakat (LPPM) STEI Tazkia ini, Mughni mengatakan, baru dua perusahaan yang menyabet gelar sebagai FinTech syariah. “Ada dua perusahaan yang sudah masuk kategori financial technology yang sesuai Syariah. 10 perusahaan fintech lainnya masih dalam proses pendaftaran, karena salah satu syarat menjadi syariah adalah perusahaan tersebut harus memiliki dewan pengawas syariah sesuai syarat DSN-MUI”, kata Mughni. Dua perusahaan tersebut adalah Amanna dan Investree.

Lebih lanjut, Mughni menjelaskan perkembangan fatwa terkait FinTech. Sampai saat ini, DSN-MUI telah menerbitkan fatwa-fatwa yang berhubungan dengan FinTech. Di antaranya fatwa yang telah dikeluarkan oleh MUI yakni fatwa nomor 116/DSN-MUI/IX/2017 tentang Uang Elektronik Syariah dan 117/DSN-MUI/II/2018 tentang Layanan Pembiayaan Berbasis Teknologi Informasi Berdasarkan Prinsip Syariah.

Selain fatwa, DSN MUI juga melakukan pengawasan terhadap FinTech syariah. Model pengawasannya yang dilakukan oleh DSN-MUI sampai saat ini mencakup dua bentuk. Pertama, Lembaga Keuangan/Bisnis Syariah yang sudah memiliki otoritas yang mengatur dan mengawasi dalam hal ini seperti bank, Industri Keuangan non Bank (IKNB), entitas pasar modal, uang elektronik, koperasi/BMT, bursa komoditas, maka diperlukan pengajuan izin usaha dan pengaturan sesuai otoritas berwenang.

Kedua, pada lembaga bisnis syariah yang tidak memiliki otoritas yang mengatur dan mengawasi seperti MLM, online trading, perusahaan rental, hotel, rumah sakit, perusahaan jasa IT, travel umrah/haji, sistem online trading syariah, maka perusahaan tersebut langsung melakukan pengajuan rekomendasi DPS dan dari Sertifikasi Lembaga Bisnis Syariah.

Anda juga bisa menyaksikan rekaman video Monday Forum Fintech Phenomenon and Its Problems from the Sharia Perspective”, Senin (28/1) lengkap di sini.

Monday Forum, adalah wahana olah pikiran rutin yang diadakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengembangan Masyarakat (LLPM), STEI Tazkia. Monday Forum terbuka untuk umum, baik bagi pemateri ataupun audiensnya. Di Monday Forum pemateri, yang umumnya adalah para dosen Tazkia, diberi kesempatan memaparkan hasil penelitiannya atau proposal penelitiannya kepada audiens. Layaknya sebuah diskusi, Audiens pun memiliki kesempatan menanggapi paparan dari pemateri.

Diadakan tiap pekan, pada Senin pagi pukul 9.30-11.30 WIB, Monday Forum telah menjadi ajang para akademisi Kampus Tazkia untuk meningkatkan kapasitas dan kualitasnya. Ajang ini juga bisa digunakan untuk mempersiapkan diri sebelum mengikuti konferensi internasional.

Download Materi Monday Forum 28 Januari 2019
Silakan unduh materi presentasi: FENOMENA FINTECH DARI PERSPEKTIF SYARIAH DAN PERMASALAHANNYA dari DSN MUI dengan mengisi sedikit data di bawah ini. Berkas berformat PDF akan segera terunduh di browser Anda setelah Anda mengeklik, “Download”. Berkas berukuran sekira 3,6 MB.

Miftahul AnwarFintech dari Perspektif Syariah, Bagaimanakah?
read more

Ibnu Khaldun, Pajak, dan Negara

No comments

Fungsi pajak itu adalah untuk keadilan semuanya

Foto Nurizal Ismail

Foto Nurizal Ismail

Oleh: Nurizal Ismail *)

Siapa yang tidak kenal dengan Ibnu Khaldun? Dari Barat sampai ke Timur orang menyebut naman itu. Sejumlah teorinya dalam berbagai bidang keilmuan banyak dikembangkan kaum cerdik cendekia saat ini. Misalnya, Haddad (1977) seorang profesor dari Universitas Sidney mengatakan teori pembangunan ekonomi Adam Smith mempunyai kesamaan dengan pandangan Ibnu Khaldun.

Lainnya, Ekonom dan juga penasihat ekonomi President Amerika Ronald Reagan, Arthur Laffer(1940). Dia berpendapat, teori kurva laffernya adalah hasil pengembangan pemikiran pajak Ibnu Khaldun.

Hal ini kemudian didukung Reagan sebagaimana yang ia sampaikan di New York Times pada 2 Oktober 1981, bahwa Ibnu Khaldun mendalilkan, “Pada awal dinasti, pendapatan pajak besar diperoleh dari penilaian kecil. Kemudian pada akhir dinasti, pendapatan pajak kecil diperoleh dari penilaian besar.”

Fakta yang ditampilkan Gwartneh (2006) menarik untuk dikaji. Judulnya Supply-Side Economics. Di dalamnya ada penjelasan, selama 1980-an kebijakan pemotongan pajak telah dilakukan oleh presiden Reagan yang dikenal dengan Reagonomik.

Undang-undang pajak yang disahkan pada 1981 dan 1986  telah mengurangi tarif pajak penghasilan federal Amerika dari 70 persen menjadi sekitar 33 persen. Bagi performa AS, hal ini berdampaknya terhadap ekonomi selama tahun  tersebut sehingga menjadi sangat mengesankan. Tingkat pertumbuhan GNP riil berakselerasi dari tingkat yang lamban di tahun 1970-an, hingga pertumbuhan ekonomi AS melebihi industri negara industri lainnya kecuali Jepang.

Di tahun ini, isu yang sama muncul pada debat pilpres 2019 yang pertama. Ketika itu paslon No 02 mengangkat isu menaikkan pajak rasio sampai 16 persen. Tetapi terlihat paradoks, karena tujuan peningkatan rasio pajak untuk menghilangkan terjadinya praktik korupsi.

Asumsinya, ketika pendapatan pajak naik, maka dapat meningkatkan gaji para penegak hukum di Indonesia, sehingga tidak akan korupsi. Padahal fungsi pajak itu adalah untuk keadilan semuanya. Drajad Wibowo, sebagaimana diberitakan Republika menyampaikan, pasangan Prabowo-Sandi akan menggunakan gagasan Ibnu Khaldun untuk rasio pajak. Bagaimana gagasan Ibnu Khaldun tentang peningkatan pajak rasio ini?

Nama sebenarnya adalah Abu Zayd Abdur Rahman Ibn Khaldun (732-808/1332-1406). Dia dikenal sebagai sejarawan, politisi, diplomat, dan filusuf sosial yang dilahirkan di Tunisia. Toynbee (1935) menganggap karyanya yang brilian ‘Muqaddimah’ (Pengantar Sejarah) sebagai pencapaian paling agung dan intelektual di abad pertengahan. Di dalamnya terdapat perbendaharaan banyak ilmu, seperti sejarah, psikologi, sosiologi, geografi, ekonomi, ilmu politik, dan lainnya.

Konsep pajak Ibnu Khaldun bermula dari penjelasannya tentang  bangkit dan runtuhnya sebuah dinasti, yang terdiri dari lima tahapan: 1) penaklukan dan kesuksesan, 2) stabilitas dan meninggikan diri sendiri, 3) ekspansi ekonomi dan kenikmatan hasil pembangunan, 4) kepuasan dan kompromi, dan 5) berlebih-lebihan, pemborosan, dan dekadensi. Pada tiap-tiap tahapan struktur pajak dan pengeluaran pemerintah memainkan peranan yang sangat penting, sehingga sangat penting membahas tahapan-tahapan tersebut barulah kita dapat mengerti apa yang dimaksudkan dengan peningkatan pajak rasio menurutnya.

Pada tahapan awal, dinasti memiliki kualitas yang baik pada masyarakatnya, merencanakan pengeluaran yang moderat, dan menghormati kekayaan orang lain. Saat itu dinasti menjauhi pajak yang berat. Pada tahap kedua, penguasa memperoleh kekuasaan penuh atas rakyatnya, mengklaim seluruh otoritas untuk dirinya sendiri, mengecualikan mereka, dan mencegah dari mencoba mengambil bagian di dalamnya. Saat itu adalah tahap stabilisasi dan konsolidasi kekuatan, semakin memperkuat perasaan kelompok dan memberi penghargaan kepada para pendukungnya melalui pengeluaran yang baik.

Pada tahap ketiga merupakan kemakmuran ekonomi dan kenikmatan yang diperoleh pemerintah. Sehingga perhatiannya banyak difokuskan pada pengumpulan pajak, administrasi penerimaan dan pengeluaran publik. Pengembangan kota, pembangunan gedung-gedung besar, peningkatan tunjangan pejabat, dan masyarakat umum menarik perhatian.

Beban pengeluaran mewah dan perpajakan meningkat meskipun ketenangan dan kepuasan terjadi. Tahap ini adalah saat terakhir penguasa berada dalam otoritas penuh. Pada tahap keempat, penguasa puas dengan apa yang telah dibangun oleh para pendahulunya: Ia membatasi aktivitasnya, mengikuti jejak mereka dengan cermat. Ia tidak mengambil inisiatif sendiri. Ekspansi kekuatan politik-ekonomi terhenti dan terjadilah semacam stagnasi.

Pada tahap kelima, penguasa menikmati kemewahan, menjalani kehidupan yang sangat mewah, membuang-buang sumber daya yang terakumulasi oleh aturan sebelumnya. Aparat yang tidak kompeten dan tidak memenuhi syarat dipercayakan untuk melakukan hal-hal terpenting dari negara. Orang-orang pengadilan yang menganggur dihargai, dan kritikus yang tulus dihina dan dihukum. Penguasa kehilangan semua jenis simpati dan perasaan kelompok.

Pada tahap ini pajak meningkat. Sementara pendapatan menurun. Ekonomi hancur dan sistem sosial terganggu. Pemerintah menderita penyakit yang tidak dapat disembuhkan, yang menyebabkan kejatuhannya. Kemudian diambil alih oleh dinasti baru, didukung oleh perasaan kelompok yang kuat dan kohesi sosial.

Tahapan yang ditampilkan Ibn Khaldun ini mungkin sedang terjadi di Indonesia, khususnya pada tahapan kelima. Inilah yang akhirnya mengakibatkan banyak rakyat menginginkan pemerintahan baru, yang akhirnya mungkin akan kembali kepada siklus pertama dalam teori Ibnu Khaldun.

Beliau menggambarkan harta itu saling memerlukan antara rakyat (al-raiyyah) dan penguasa (as-Sulthan); Jika penguasa menahannya, maka kekuasaan pada rakyat akan hilang. Sehingga, tahapan-tahapan dalam posisi puncak kegemilangan harus memerhatikan kemaslahatan masyarakatnya dengan mengelola keuangan negara sebaik mungkin.

Inti dari teori perpajakan Ibn Khaldun yaitu untuk menurunkan pembebanan pajak atas jumlah individu-individu yang mampu melakukan aktivitas usaha atau bisnis. Karena dengan cara ini, mereka mendorong perusahaan memperoleh keuntungan yang lebih besar bagi pengusaha dan pendapatan bagi pemerintah.

Alasannya berdasarkan konsep zakat yang disyariatkan oleh Islam yang rate-nya sangat kecil, tetapi memilki kemaslhatan yang besar buat masyarakat. Tampaknya Ibnu Khaldun sepenuhnya memahami tarif dan pendapatan pajak adalah dua hal yang berbeda.

Tarif pajak yang tinggi bukanlah jaminan bahwa hal itu akan memaksimalkan pendapatan pajak. Sebaliknya itu akan menunjukkan pendapatan yang menurun setelah tahap tertentu. Karena tarif pajak yang lebih tinggi menghambat upaya kerja masyarakat. Itu juga mendorong mereka untuk menyiasati, bahkan menghindari pajak. Dampaknya, bukan meningkat, pendapatan pajak justru akan menyusut.

Sistem perpajakan yang sehat yaitu dengan tidak meminta lebih dari yang bisa ditoleransi. Tidak terlalu banyak membebankan biaya kepada siapa pun. Kemudian  negara memperlakukan semua orang dengan adil. Ini membuat negara lebih mudah mendapatkan kepercayaan masyarakat.

Dapat disimpulkan, menurut Ibnu Khaldun, anggaran pemerintah mungkin terjadi surplus, seimbang, atau defisit tergantung pada tingkat pembangunan dan komposisi pengeluarannya. Karenanya tarif pajak akan rendah, sedang, atau berlebihan.  Semuanya itu dikembalikan kepada pemerintah yang berkuasa mau dikemanakan arah sistem dan kebijakan pajaknya. Gagasan Ibnu Khaldun ini bisa kita ambil sebagai ibrah  dalam pengelolaan perpajakan Indonesia.

*) Direktur Pusat Studi Kitab Klasik Islami STEI Tazkia dan Peneliti ISEFID

Arikel ini telah dimuat di Republika Online

Miftahul AnwarIbnu Khaldun, Pajak, dan Negara
read more

“Gerakan Tazkia Mengajar” Kontribusi nyata Mahasiswa STEI Tazkia di Masyarakat

No comments

[Press Rilis Grand Opening GTM-GO]

Alhamdulillah pada hari Rabu, 16 Januari 2019 telah dilaksanakan acara pembukaan Program Gerakan Tazkia Mengajar (GTM) GO yang langsung dibuka oleh Kepala Sekolah MI Hidayatussibyan, Bapak Abdul Rahman. Rangkaian acara dimulai dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an oleh Saudara Ghaznawi Ihyamukhti, dan sambutan-sambutan dari Ketua Pelaksana, Nawarendra dan Pak Aman, sapaan akrab Pak Abdul Rahman. Dilanjut dengan perkenalan peserta GTM GO sebanyak 40 orang yang terdiri dari berbagai angkatan, mulai angkatan 18, 17, dan 16. Dan ditutup dengan do’a oleh saudara Naufal Ahmad.

Acara yang berlangsung di Majlis ta’lim Bahrul Ulum kp. Cihandeuleum RT.01/05 Desa Wargajaya Kecamatan Sukamakmur Bogor ini berlangsung khidmat dan disambut antusias dari masyarakat terutama Kepala Sekolah dan peserta itu sendiri. Sekolah yang bernaung dalam Yayasan Yaspia ini berdiri sejak tahun 1953 yang masih belajar di teras2 rumah, kemudian sekitar tahun 1970-an mulai berdiri madrasah khusus, dan pada tahun 2006 mengibarkan sayapnya dengan mendirikan MTs Al-Amanah. Besar harapan dari masyarakat Sukamakmur untuk mengembangkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi setingkat SLTA-Sederajat.

Rizqi Zakiya“Gerakan Tazkia Mengajar” Kontribusi nyata Mahasiswa STEI Tazkia di Masyarakat
read more

Bank Syariah Diharapkan Memiliki Corporate University

No comments

Kementerian BUMN menilai, sebaiknya lembaga keuangan syariah yang masih menjadi anak perusahaan BUMN, dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusianya dengan membangun Corporate University.

Sudah 26 tahun ekonomi syariah berkembang di Indonesia. Diawali , sejak Bank Muamalat Indonesia (BMI) pertama kali berdiri. Sudah sejauh mana perkembangannya? Dan terutama apa kontribusinya kepada perekonomian Indonesia? Inilah topik webinar BRI Corporate University hari ini, Kamis (20/12), yaitu “Peran Islamic Finance dalam Menunjang Perekonomian Indonesia”.

Webinar kali ini diisi oleh, Ketua STEI Tazkia, Dr. Murniati Mukhlisin M.Acc sebagai pembiaya kunci. Dibuka oleh Asisten Deputi Manajemen SDM Eksekutif Kementerian BUMN, Imam Bustomi, dan sebagai tuan rumah adalah CLO BRI Corporate University, Retno Wahyuni Wijayanti dan CLO B & FS BUMN Corporate University, Lugiyem.

Dari sisi pemerintah Imam Bustomi mengatakan, Kementerian BUMN masih dalam roadmapnya, menjadikan BUMN-BUMN Indonesia pemain global. Karena itu, holding di tiap sektor sejenis harus dibentuk. “Karena syariah selama ini menjadi anak perusahaan, pembinaan memang ada di induknya. Misalnnya BRI Syariah itu ada di Bank BRI dan BSM ada di Bank Mandiri. Usulannya menjadi menarik apakah Kementerian BUMN akan mendorong, kami juga ingin mempertemukan semua pelaku tadi, BSM, BRIS, BTN Syariah, BNI Syariah, dan asuransi syariah yang semuanya masih menjadi anak perusahaan dari BUMN, untuk bersama-sama mendorong perkembangannya, seperti apa”, kata Imam menjelaskan.

Dari sisi pengembangan SDM, Imam menjelaskan pihaknya juga menginginkan upaya pengembangan SDM harusnya terintegrasi dan semua pihak ada. “Sekarang ini yang kita lakukan, kita mau membangun corporate university yang selama ini hanya dimiliki oleh Bank Konvensional. Kami juga ingin mendorong mendorong pembelajaran khusus yang syariah untuk memiliki sendiri, saya telah mendorong BSM, BRI Syariah untuk membangung corporate university, khusus untuk yang syariah”, kata Imam lagi.

Sementara kini banyak pakar bicara tentang industri 4.0, mungkin pekerjaan manusia akan mulai banyak diganti oleh robot. Tapi, yang tidak bisa diganti adalah ahli syarioah. Oleh karena itu, menurut Murniati Mukhlisin, ketika kita membangun menuju industri 4.0, kita jangan melupakan yang syariah-syariah ini. “Saya berharap yang tadi disampaikan pak Imam, kalau bisa BUMN lebih serus menggarap syariah”, kata Murniati berharap.

Ia menambahkan, mengutip keterangan pendiri STEI Tazkia, Dr. M. Syafii Antonio, M.Ec di Surabaya, dalam gelaran Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2018 pada 11-15 Desember 2018. Syafii Antonio berharap, suatu saat saat, Bank Indonesia (BI) akan bernama Bank Indonesia Syariah. Di saat itu, “Akan ada divisi konvensional dari Bank Indonesia Syariah tersebut. Apakah tidak mungkin? Wallahuallam, apa yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin bagi Allah”, kata Murniati mengutip Syafii Antonio.

Miftahul AnwarBank Syariah Diharapkan Memiliki Corporate University
read more

Dosen Tazkia Go ASEAN

No comments

Tiap konferensi internasional yang diikuti, menjadi peluang bagi dosen untuk berkiprah di luar negeri. Kali ini dosen Tazkia go ASEAN.

Sebanyak delapan dosen senior Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Tazkia mengikuti the 6th ASEAN Universities International Conference on Islamic Finance (the 6th AICIF) yang diadakan oleh International Council of Islamic Finance Educators (ICIFE).

Pelopor ekonomi Islam di Indonesia ini memang menjadi salah satu anggota ICIFE. Organisasi ini tiap tahun memang mengadakan konferensi internasional. Tahun ini bersama-sama dengan anggotanya yaitu dari Malaysia, Indonesia, Brunei Darussalam, Thailand, dan FIlipina mengadakan the 6th AICIF. Sebagai tuan rumah adalah Mindanau State University, acara pun diadakan di New World Makati Hotel, Manila, Filipina pada 14-15 November 2018.

Rombongan STEI Tazkia dipimpin oleh Ketua STEI Tazkia, Murniati Mukhlisin, diikuti oleh delapan dosen senior yaitu: Luqyan Tamanni, Miftakhussurur, Yaser Syamlan, Rusdiana Priatna, Afif Zaerofi, Grandis Imama Hendra, Nurizal Ismail dan Rahma Wijayanti. Para dosen ini mewakili semua program studi yang ada di Tazkia yaitu Pascasarjana Ekonomi Syariah, Bisnis dan Keuangan Syariah, Muamalat, Akuntansi Syariah, Ekonomi Syariah, Diploma 3 Keuangan Mikro Syariah.

Tim peneliti ini membentangkan penelitiannya seputar tata kelola syariah, perbankan dan pasar modal syariah, sistem keuangan moneter dan asuransi syariah, serta keuangan sosial syariah.

Dengan keikutsertaan di konferensi internasional ini, Murniati mengatakan, “Untuk memberikan peluang bagi dosen mempresentasikan hasil penelitian sehingga memperkaya Tridharma pendidikan di kampus. Juga membawa Kampus Tazkia di level ASEAN melalui berbagai kerjasama dengan berbagai instansi di kawasan ini”.

Untuk itu selain membentangkan hasil risetnya pada konferensi ini, tim juga mengadakan kunjungan ke KBRI Manila dan Asian Development Bank. Bahkan, Ketua STEI Tazkia, Murniati menyampaikan tausiyah di KBRI dan salah satu anggota tim, Nurizal mengisi Khutbah Jum’at pada 16/11. Adapun agenda di Asian Development Bank di Manila adalah untuk membahas potensi kerjasama dengan kampus. Selain itu, diadakan juga penandatanganan memorandum of understanding (MoU) antara STEI Tazkia dan Mindanau State University.

Bagi ekonomi Islam lokal dan internasional, Murniati menilai, pengembangan ekonomi syariah di kawasan ASEAN masih didominasi oleh Malaysia dan Indonesia. Brunei sudah mulai menunjukkan geliat keuangan syariah, Filipina dan Thailand sudah mulai walau agak lamban tapi tidak terlihat di Singapura dan Myanmar. “Diharapkan dengan adanya perjumpaan pendidik bidang keuangan syariah di kawasan ASEAN dapat bersinergi untuk mengembangkan ekonomi syariah, industri halal, regulasi syariah lebih baik lagi, paling tidak dari sisi pendidikan dan penyediaan sumber daya manusia”, kata Murniati menjelaskan.

Murniati menambahkan, STEI Tazkia juga berminat untuk menjadi tuan rumah konferensi internasional ini di lain waktu. Menurutnya, kampus Tazkia sudah diminta oleh beberapa peserta untuk menjadi tuan rumah tahun depan namun karena ikut harus ikut antri, maka Kampus Tazkia akan menjadi tuan rumah tiga tahun lagi.

Miftahul AnwarDosen Tazkia Go ASEAN
read more

STEI Tazkia Jalin Kerjasama dengan Lembaga Riset Malaysia

No comments

Gaung STEI Tazkia semakin menggema di negeri Jiran Malaysia. Pada hari Selasa, 13 November 2018, telah dilaksanakan penandatanganan kerjasama antara STEI Tazkia dan International Institute of Advanced Islamic Studies (IAIS) Malaysia. Lembaga ini merupakan lembaga penelitian tentang keagamaan Islam yang didukung penuh oleh pemerintah Malaysia.

Kerjasama meliputi bidang penelitian, seminar, publikasi dan praktik magang untuk mahasiswa Tazkia.
Kerjasama ini ditandangani oleh Prof. Mohammad Hashim Kamali (Founding CEO IAIS) dan Dr. Mukhammad Yasid (direktur Pascasarjana Tazkia).


Menariknya, kerjasama ini disaksikan langsung oleh menteri Agama Malaysia, Dr. Mujahid Yusof Rawa.
Seremoni ini dilaksanakan bertepatan dengan peringatan 10 tahun IAIS. Diperkirakan 150 orang baik akademisi, praktisi dan pemerintah yang turut hadir dalam acara ini.

Rizqi ZakiyaSTEI Tazkia Jalin Kerjasama dengan Lembaga Riset Malaysia
read more