Perencanaan Keuangan Islami, Why Not?

Perencanaan Keuangan Islami, Why Not?

user

admin

Oleh: Thuba Jazil M.Sc (ketua Program Studi Bisnis dan Manajemen STEI Tazkia)

Gagal merecanakan keuangan, berarti telah merencanakan kegagalan keuangan di masa depan.

Dalam dunia pendidikan, umur kehidupan manusia terbagi dalam lima tahapan; tahapan thufulah (kanak-kanak), murahaqah (pubertas), syabab (pemuda), rujulah (dewasa), dan syaikhukhoh (tua). Beriringan dengan tahapan umur kehidupan, perencanaan keuangan juga senada dengan siklus kehidupan manusia yang terbagi atas pembagian usia manusia. Akan tetapi pembagiannya cukup menjadi tiga atau dua, tahapan ditopang dan tahapan menopang dan ada juga kembali ditopang. Kita lihat masyarakat pada umumnya, generasi anak-anak sampai pemuda masih dalam topangan dan kemudian mulai bisa menopang pada taraf dewasa dan ketika posisi tua telah menjadi tertopang kembali. Apakah kita generasi keungan sandwich? Roti tawar di bawah diselingi dengan daging dan sayur yang kembali ditutup dengan roti tawar? Masa anak-anak ditanggung oleh orang tua, sudah dewasa bekerja dan ketika tua menjadi tanggungan kembali? Banyak diantara kita yang fokus pada pekerjaan sekarang, tanpa merencanakan bagaimana kehidupan tua, bagaimana pendidikan nak, bagaimana bekal nanti akhirat? Jangan smpai punya harta kekayaan malah menjadi beban pertanyaan akhirat! Seyogyanya ia menjadi pendorong dan pelicin amalan menuju keridhaan dan kesurgaan-Nya.

Landasan umum anjuran perencanaan keungan terdapat dalam surat An-Nisa ayat 9, “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” Dhi,af ditafsirkan oleh para ulama dengan dua pandangan yaitu pertama lemah secara finansial dan lemah secara bekal keagamaan. Selanjutnya dalam surat Al-Hasyr ayat 18, ” Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha mengetaui apa yang kamu kerjakan.” Ghodin diartkan tenggang waktu yang lama tidak hanya hari esok, melainkan yang akan dihadapi di masa depan yaitu akhirat. Kematian adalah hal yang pasti, tapi merencanakan kematian dengan nikmat banyak orang yang lalai. Masuk ke liang lahat adalah ketetapan wajib, akan tetapi luas dan terangnya kubur belum tent. Seorang muslim dianjurkan merencanakan apa saja yang akan dilakukan, agar mampu menggapai capaian maksimal di dunia dan akhirat.

Secara umum, perencanaan kuangan disususn atas empat proses yaitu: 1) Financial independence (kemerdekaan keuangan), 2) Accumulation/Generation, 3) Protection (penjagaan) dan 4) Distribution. Proses dalam perencanaan keungan maka ditambah sebelum distribution yaitu proses purification (penyucian). Tahap 1, financial independence, merupakan tahapan krusial dimana kita bisa leluasa merencanakan aktivitas dimasa yang akan datang. Secara aspek kemampuan finansial, orang yang digolongkan pada dua kategori yaitu mampu atau tidak mampu. Mampu adalah mereka yang diberikan Allah kecukupan aspek finansial. Sedangkan tidak mampu disini bemul dilebihkan dari aspek kebutuhannya. Kecukupan semua Allah yang tanggung dan Allah hanya memenuhi kebutuhan bukan keinginan. Orang mampu akan digolongkan menjadi dua dalam aspek pendapatan yaitu passive income “pegawai” dan active income “entrepreneur”.

Dalam pandangan perencanaan keuangan Islami, semua orang mampu dan bisa merencanakan keuangannya untuk kegiatan-kegiatan pokok di masa depan. Tidak ada limit bahwa orang yang bisa mempunyai rumah adalah orang kaya, orang berhaji harus kaya raya dan lain sebagainya. Ketentuan penting dalam financial independence adalah: a) halal lagi thayyib, halal dari aspek zat (kebendaan) dan juga aspek pencapainnya, b) manfaat dan berkah, pekerjaan yang islami harus memberikan dampak manfaat, baik bagi diri sendiri maupun untuk masyarakat umumnya. Selain itu keberkahan juga harus diperhatikan dengan baik.

Tahap 2, Accumulation, dimana pengumpulan dan penghimpunan harta yang dimiliki dengan landasan, prinsip dan etika Islami. Pemetaan dana keuangan harus seiring dengan konsep Islam seperti menjauhi 10 elemen terlarang (Riba, Gharar, Tadlis, Ghabn, Maysir, Inah, Ihtikar, Najash, Bai’atain fi Bai’ah, objek Nonhalal). Tahap 3, Protection, yakni penjagaan atas harta yang telah diamanahkan dengan baik. Penjagaan yang dilakukan harus dalam bingkai syariah.

Tahap 4 dan 5, Purification dan Distribution. Penyucian dapat dilakukan dengan memberikan sebagian kekayaan kita kepada fakir miskin, dan dikahiri dengan pendistribusian dengan asas keadilan kepada keturunan, kerabat dan yang berhak atasnya dengan ketentuan syariah. Wallahu’alam. (Anwar G)