Business Management Syariah

Pemberian Award The best Regional Government in Providing Future Experts in Islamic Economics and Finance

No comments

 

Sentul City, TAZKIA TV – Salah Satu agenda dari Indonesia Islamic Economics Forum 2019 adalah Pemberian Award dari Institut Tazkia kepada Pemberi Beasiswa Mahasiswa/i Institut Tazkia dari berbagai daerah di Indonesia.

 

Ada beberapa Kategori Penghargaan yang di berikan pada sesi pertama, diantaranya :

 

1.The Best Regional Government in Providing Future Experts in Islamic Economics and Finance Kategori Dinar. Kategori ini diberikan kepada Gubernur Prov. Kalimantan Timur yang di wakilkan oleh kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan provinsi kalimantan timur Bapak Anwar sanusi, M.pd.

 

 

2. The Best Regional Government in Providing Future Experts in Islamic Economics and Finance kategori Jauhar. Kategori ini di berikan kepada Gubernur prov. Riau yang di wakilkan oleh Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Setda Provinsi Riau yaitu Bapak Drs.H.Mashrul Kasmy,Msi.

 

3. The Best Regional Government in Providing Future Experts in Islamic Economics and Finance Kategori Jauhar. Kategori ini diberikan kepada Bupati kab. Siak yang di wakilkan oleh Asisten Perekonomian dan pembangunan Setda Kab.Siak bapak H.Hendrisan, S.Sos,M.Si

 

4. The Best Regional Government in Providing Future Experts in Islamic Economics and Finance Kategori Jauhar. kategori ini juga di berikan kepada Gubernur Bangka Belitung yang hadir langsung dalam acara Indonesia Islamic Economics Forum 2019 Bapak Dr. H. Erzaldi Rosman, S.E., M.M.

 

 

Penghargaan diserahkan langsung oleh Dr. M. Syafii Antonio dan Dr. Murniati Mukhlisin selaku Ketua Pembina Yayasan dan Rektor Institut Tazkia.

 

Dengan Adanya Penghargaan ini, semoga menjadi motivasi untuk Tetap mempertahankan dan lebih memajukan ekonomi syariah dan menjadi motivasi juga untuk daerah lain untuk mengembangkan Ekonomi Syariah.
==========
Supported By:
Tazkia TV
Instagram: @tazkiatv
#steitazkia #tazkiatv
Miftahul AnwarPemberian Award The best Regional Government in Providing Future Experts in Islamic Economics and Finance
read more

Apakah Ekonomi Kreatif bisa berkolaborasi dengan wisata halal?

No comments

Penulis: Naufal Rizqullah Al Banjari

Sentul City, TAZKIA TV – Indonesia sedang bersiap diri untuk menghadapi tantangan perekonomian kedepan dimana selain melawan ketidakstabilan perekonomian global, juga sedang mempersiapkan berbagai langkah strategis untuk merespon peluang dalam menjaga stabilitas perekonomian dalam negeri. Dalam hal ini, Institut TAZKIA kembali menggelar agenda Monday Forum edisi 11 November 2019 dengan bertemakan “Islam, Ekonomi Kreatif, & Wisata Halal” yang dihadiri dan diisi langsung oleh seorang akademisi sekaligus Kepala Jurusan Magister Komunikasi & Penyiaran Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Dr. Tantan Hermansah, M. Si dengan dimoderatori oleh Dr. Indra, M. Si selaku Direktur Pusat Studi Halal Institut TAZKIA.

Acara ini dihadiri oleh sejumlah mahasiswa, dosen, dan beberapa akademisi yang telah mengikuti secara khidmat sejak pukul 09.30-11.40 WIB di International Class lantai 3. Sejumlah pembahasan yang disampaikan oleh Dr. Tantan hari ini adalah bagaimana ekonomi kreatif di Indonesia dapat hidup dan berkembang secara terus seiring dengan sumber daya manusianya juga dibangun dan dibina dalam mencapai tujuan strategis Indonesia, yaitu Pariwisata Halal.

Dikatakan oleh akademisi yang berasal dari Garut ini bahwa dua variabel tersebut memiliki peluang yang amat menguntungkan untuk mendongkrak pendapatan negara, mulai dari devisa negara, produk domestik bruto (PDB), dan sebagainya.

“Tetapi semua itu (wisata halal & ekonomi kreatif) baru dapat tercapai ketika SDM nya sudah dibangun dan dibina tentang pengelolaan kawasan pariwisata yang dimaksud” Ujar Kajur Magister Komunikasi & Penyiaran Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Selain itu, ekonomi kreatif dapat selalu ada dan berkembang secara terus menerus tentunya berasal dari ide yang dikeluarkan dari para pelaku ekonomi kreatif. Nantinya ide-ide tersebut dapat dikolaborasikan dengan wisata halal setelah dikeluarkannya _roadmap_ tentang Pariwisata Halal oleh pemerintah dalam hal ini Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

“Maka dari itu, perlu dibuat kembali forum-forum diskusi seperti ini agar kita selaku akademisi dapat menyiasati peluang ini dengan baik dan juga dapat mendorong pemerintah untuk segera menetapkan dan mengeluarkan _roadmap_
Pariwisata Halal dengan memberikan hasil-hasil diskusi yang membahas tentang perihal ini” kata Dr. Tantan.

Dalam sesi diskusi kali ini, beliau memaparkan sejumlah cara untuk menilai pencapaian pengembangan ekonomi kreatif, diantaranya:

1) Penciptaan nilai tambah dan mendorong pertumbuhan ekonomi,
2) Peningkatan jumlah dan daya saing ekonomi kreatif,
3) Peningkatan devisa dan kontribusi terhadap neraca perdagangan,
4) Peningkatan konsumsi Republik Indonesia terhadap produk kreatif.

Acara ini kemudian ditutup dengan sesi penyerahan cinderamata dan sesi foto bersama.

Miftahul AnwarApakah Ekonomi Kreatif bisa berkolaborasi dengan wisata halal?
read more

Ustadz Abdul Somad Melakukan Kunjungan Kedua Kalinya ke Institut TAZKIA, Ada Apa?

No comments

Sentul City, TAZKIA TV – Ada yang tahu dengan kegiatan _Student Dynamic Session_ (SDS)? Kali ini, Institut TAZKIA kedatangan seorang ulama karismatik yang datang jauh dari Riau untuk mengisi kegiatan Student Dynamic Session ketiga secara akbar. Berbeda dengan SDS sebelumnya yang diisi oleh Prof. Muhammad Nuh dan seorang pembisnis dari kalangan millenial, ulama yang dimaksud tidak lain dan tidak bukan adalah Ustadz Abdul Somad.

Acara ini diselenggarakan di Auditorium Al-Hambra Masjid Andalusia pada hari Senin, 21 Oktober 2019. Dihadiri sekitar lebih dari 1000 orang yang didominasi oleh seluruh mahasiswa dan kalangan jamaah umum tidak membuat acara ini berjalan dengan terhambat. Rektor Institut TAZKIA, Murniati Mukhlisin, M. Acc, QWP turut meramaikan kajian SDS ini dengan memberikan kata sambutan kepada jamaah dengan ditemani Wakil Rektor I Bidang Akademik, Bapak Andang Heryahya, M. Pd. I, M. Pd sebagai moderator acara kemarin sore.

Pada SDS pekan ini, Institut TAZKIA mengangkat tema “Integration of Islamic Economics Knowledge”. Tema ini dipilih setelah melihat kondisi di masyarakat dimana para sarjana akuntansi syariah, ekonomi syariah, hukum ekonomi syariah, manajemen bisnis syariah, dan pendidikan ekonomi syariah masih fokus pada bidangnya masing-masing. Sehingga timbulah permasalahan, yaitu belum bersatunya rumpun disiplin ilmu dalam memajukan ekonomi syariah.

Pada kesempatan kali ini, UAS diberikan keleluasaan untuk menjelaskan bagaimana caranya untuk dapat mengintegrasikan rumpun keilmuan dalam ilmu ekonomi Islam. Beliau menjelaskan bahwa perubahan segala aspek kehidupan berawal dari ekonomi. Semuanya bertumpu pada sektor tersebut.

“Lantas, mengapa para sarjana ekonomi Islam tidak dapat bersatu apalagi lulusan dari Institut TAZKIA?” Tanya UAS.

Lebih lanjut, UAS menghimbau para mahasiswa untuk mau membangkitkan ekonomi masyarakat kecil dimulai dari gerakan membeli kebutuhan keluarga di warung milik masyarakat kita karena pada dasarnya kebangkitan ekonomi harus dibangkitkan hingga ke akar rumputnya.

Selain itu, beliau kembali mengingatkan kepada mahasiswa bahwa kedepannya mereka akan dihadapkan pada dua kriteria orang. Pertama, orang yang mengerti ekonomi tetapi syariahnya tidak paham dan satu lagi ialah orang yang mengerti syariahnya atau muamalahnya tetapi tidak paham dengan ekonominya. Sehingga inilah yang harus diwaspadai oleh mahasiswa TAZKIA dalam memahami dinamika di tengah masyarakat.

Mengakhiri kajian SDS kemarin sore, beliau menyampaikan 3 pesan. _Pertama_, jangan pisahkan ilmu, akidah, dan akhlak. _Kedua_, berusaha menyampaikan ilmu dengan banyak bahasa. _Ketiga_, walaupun sudah berada di puncak bukit tetapi kaki harus di tanah. Sehingga pesan-pesan itulah yang harus dijadikan wasilah para Ekonom Rabbani dalam mengintegrasikan semangat membumikan ekonomi syariah di seluruh tanah air Indonesia. (Naufal Rizqullah Al Banjari)

Miftahul AnwarUstadz Abdul Somad Melakukan Kunjungan Kedua Kalinya ke Institut TAZKIA, Ada Apa?
read more

Lokakarya Penyusunan Roadmap Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LPPM) Institut Tazkia

No comments

Pada hari Senin, 30 September 2019 M/ 01 Shafar 1441 H, LPPM Tazkia mengadakan workshop terkait penyusunan roadmap penelitian dan pemberdayaan masyarakat. Trainer pada acara ini adalah Bapak Dr. Mukhamad Yasid, M.Si selaku Direktur LPPM.

Adapun tujuan dari kegiatan ini adalah untuk membuat roadmap arah penelitian dan pemberdayaan masyarakat Institut Tazkia selama 5 tahun ke depan. Metode yang digunakan adalah Logical Framework Approach (LFA). Peserta terdiri dari dosen tetap dan jajaran manajemen Institut Tazkia.

Miftahul AnwarLokakarya Penyusunan Roadmap Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LPPM) Institut Tazkia
read more

Institut Tazkia Jalin Kerjasama Dengan Universitat Jaume I Spanyol

No comments



Rabu 18 September 2019, Institut Tazkia mengadakan kerjasama dengan Universitat Jaume I yang berlokasi di Castellon, derah timur Spanyol, tutur Humas Institut Tazkia.

Provinsi Castellon merupakan provinsi di bawah regional Valencia yang berdekatan dengan Provinsi Alicante. Kampus Jaume I didirikan pada tahun 1991, memiliki kampus seluas 18 hektar dan 15.000 mahasiswa. Jarak kampus ini ke Granada dimana terletak istana AlHambra di masa kejayaan Andalusia adalah lima jam dengan mobil menyisiri pantai.

Rektor Jaume I, Eva Alcon Soler mengatakan bahwa kampusnya memang sedang melebarkan sayap ke dunia internasional. Dia sangat mendukung kalau dosen dan mahasiswa di kampusnya mengadakan riset yang berkenaan dengan keuangan atau industri beretika (keuangan syariah dan industri halal).

Emili Tortosa-Ausina yang merupakan guru besar di kampus tersebut mengungkapkan bahwa walaupun dia bukan Muslim tapi dia sudah lama menekuni penelitian tentang keuangan korporasi syariah sejak tahun 2012 yang lalu. Baginya, penelitian di bidang syariah sangat bermanfaat dan dibutuhkan.

Dalam pesan elektroniknya dari Spanyol, Murniati Mukhlisin mengharapkan kerjasama ini dapat memberikan peluang bagi dosen dan mahasiswa supaya dapat berinteraksi dalam Tridharma pendidikan di level internasional. Kerjasama yang digagas meliputi joint student’s supervision, joint-research, joint-conference, dan double degree serta Erasmus scholarship.

Murniati menghimbau agar para peneliti keuangan syariah meluaskan konteksnya di luar Indonesia, baiknya disandingkan dengan studi kasus negara lain supaya dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi Indonesia.

Untuk anggaran tahun ajaran baru di Kampus Tazkia, Murniati mengatakan bahwa ada peningkatan yang cukup signifikan terutama dalam bidang penelitian guna memperbaiki kualitas menuju SDM Unggul.

Miftahul AnwarInstitut Tazkia Jalin Kerjasama Dengan Universitat Jaume I Spanyol
read more

Tazkia Mengedepankan Adab sebelum Ilmu

No comments


Oleh : Nurizal Ismail (Dosen Tetap Tazkia & Kabag Pemberdayaan Masyarakat LPPM)

14 September 2019/ 15 Muharram H, Rektor Institut Agama Islam Tazkia dalam sesi tanya jawab di acara silaturrahim manajemen Tazkia dengan para wali Mahasiswa baru mengatakan bahwa Tazkia dalam proses pendidikannya mengedepankan adab sebelum ilmu. Apa yang ia katakan menurut penulis telah sejalan dengan apa yang telah dilakukan oleh para sahabat Rasulullah SAW dan ulama-ulama Muslim dahulu telah lakukan.

Muhammad bin Muflih al-Muqaddasi dalam kitabnya ‘Al-Adab al-Syar’iyyah’ mengatakan bahwa Ali bin Abu Thalib Radiyallahu ‘anhu berkata, dalam firman Allah Ta’ala Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka (al-Tahrim: 6). Dengan apa? Kemudian ia melanjutkan dan berkata:” ajarkan adab dan ilmu kepada mereka!” Dalam kitab ‘Tartibul Madarik wa Taqribul Masalik, Imam Malik bin Anas mengatakan bawah ibunya memerintahkan kepadanya untuk belajar adab sebelum ilmunya. Selanjutnya, Al-Jazari seorang ulama Damaskus ahli qiraat al-Qur’an diAbad ke-14 dalam kitabnya ’Ghayat al-Nihaya fi Thabaqat al-Qurra’ mengatakan bahwa Imam Abdullah bin Mubarak Radiyallah ’anhu mengatakan tentang pentingnya adab sebelum ilmu yaitu para ulama mempelajari adab 30 tahun dan ilmu 20 tahun, dan mereka mencari adab sebelum ilmu.

Apa yang diakukan Tazkia perlu diapresiasi ditengah krisis adab yang tengah menghampiri umat saat ini. Prof Dr. S.M. Al-Attas dalam bukunya mengatakan bahwa tujuan dari pendidikan Islam adalah mencetak manusia yang baik (beradab). Maka sudah seyogyanya perguruan tinggi Islam itu harus mengedepankan adab sebelum ilmu. Para orang tua mahasiswa yang hadir pun sepakat dengan itu, sehingga mereka berharap bagaimana akhlak para mahasiswa dapat dijaga diantaranya dengan program tahfidz, sistem asrama 24 jam dan mentoringnya oleh para pembina. Sesungguhnya bangsa yang beradab akan menghasilkan peradaban yang tingggi, dan Islam telah mencontohkan itu 1400 tahun lalu. Karena peradaban itu sendiri berasal dari kata adab. Selamat datang para mahasiswa baru calon pemimpin bisnis dan intelektual Muslim di Institut Agama Islam Tazkia.

Miftahul AnwarTazkia Mengedepankan Adab sebelum Ilmu
read more

Tazkia Gelar Workshop on Integration of Knowledge

No comments

[#news #update] .
.
‘Workshop on Integration of Knowledge’ Season 1 with :
.
.
Dr. Muhammad Syafi’i Antonio, M.Ec (Founder of Tazkia University)

Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc (Rector of Tazkia University)

Dr. Habib Chirzin [International Institute of Islamic Thought (IIIT) Representative for Indonesia]

Prof. Dato’. Dr. Ahamed Kameel Mydin Meera (Managing Director of the Z Consulting Group, Malaysia)

Prof. Dr. Maliah Sulaiman (International Islamic University of Malaysia)
————————-
@msyafiiantonio
@murniati_mukhlisin
@chirzinhabib @akameel63

Miftahul AnwarTazkia Gelar Workshop on Integration of Knowledge
read more

Millennials Movements Tazkia with Kemenpora

No comments

(Senin, 21 Juni 2019) STEI Tazkia bekerjasama dengan Kementrian Pemuda dan Olahraga gelar kuliah umum kewirausahaan pemuda tahap 1 yang diberi judul “Millennials Movements”.

Acara dibuka dengan pemberian materi oleh Prof. Dr. Nurul Taufiqurrochman,  M. Eng. PhD. (Profesor di bidang nanotechnology). Taufiq memaparkan mengenai peluang Indonesia menjadi negara dengan ekonomi terkuat di dunia pada tahun 2050 dengan mengoptimalkan economic driver yang dimiliki Indonesia, yaitu Demography, Natural Resources, Infrastructure, dan Rise of Consumer Spending Power.

Taufiq kemudian melanjutkan materi dengan menceritakan pengalaman dan hasil kerjanya tentang mengoptimalkan teknologi nano yang mampu mengubah 1 Kg kunyit dengan harga 2000 menjadi produk yang memiliki nilai Jual tinggi dengan kisaran harga 2.5 juta/kg.

Sesi kedua dilanjut dengan workshop dari Krisna Satria Gunawan selaku founder CIBO SYARFI. Perusahaan ini bergerak di bidang fintech peer to peer landing syariah yang mempertemukan pihak yang membutuhkan dana dengan pihak yang memiliki kelebihan dana, yang mengangkat nilai cepat, mudah, aman, halal, dan anti magrib (maysir, gharar, riba).

Mengakhiri pembicaraanya, Krisna berpesan kepada para peserta bahwa kunci kesuksesan adalah tentang bagaimana kita menemukan passion, menggali dan memaksimalkan passion tersebut.

“Tidak semua orang berbakat jadi pengusaha, jadi dosen, dan lain-lain. Untuk itu carilah passion dalam diri kita, terus gali, geluti, dalami, dan profesionalitas, Insya Allah sukses beriringan”. Tegas Krisna.

Sesi kedua diisi pula oleh Co-founfer Nussa & Rara, Aditya Triantoro. Dengan mengusung konsep yang berbeda dalam industri hiburan yang terbukti mampu menarik pasar. Hanya dengan animasi yang berdurasi tidak lebih dari 3 menit, mampu menonjolkan konten yang ever green, lifetime, dan forever. Dalam kata lain Tidak hanya bisa dinikmati saat ini, tapi bisa dinikmati kapanpun, relevan untuk anak Dan cucu kita di masa depan, itulah konsep yang memiliki nilai educating sekaligus entertaining.

Adit bepesan kepada seluruh peserta yang hadir bahwa berbisnis itu bukan hanya untuk kepentingan dunia saja tapi harus ada nilai manfaat dan keberkahan didalamnya.

“Jangan hanya berbisnis untuk tujuan dunia semata, tapi buatlah perubahan, niat lillah everlasting, bangunlah sebuah produk yang punya nilai dan manfaat”. Pesan Adit. (Isna & Anwar)

Miftahul AnwarMillennials Movements Tazkia with Kemenpora
read more

MoU dengan BPJPH, STEI Tazkia Luncurkan Pusat Studi Halal!

No comments

Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Tazkia resmi meluncurkan Pusat Studi Halal (PSH), Senin (17/6/2019). Peresmian ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) bersama Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) tentang jaminan produk halal dan pengembangan kelembagaan.

Penandatangan MoU dilakukan oleh Kepala BPJPH, Prof. Ir. Sukoso, M.Sc., Ph.D dan Ketua STEI Tazkia, Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc. Turut hadir menyaksikan, Dewan Pembina Yayasan Tazkia Cendekia, Dr. Muhammad Syafii Antonio, M.Ec dan Direktur Pusat Studi Halal STEI Tazkia, Dr. Indra, M.Si.

Pada kesempatan ini, STEI Tazkia juga mengadakan acara Monday Forum STEI Tazkia bertema “Urgensi Sertifikasi Halal dalam Mendukung Industri Halal di Indonesia”.

Dalam sambutannya, Murniati Mukhlisin mengatakan salah satu fokus dari PSH ini adalah pengembangan keilmuan seputar industri halal dan kompetensi pelaku industri halal. Selain itu, PSH diharapkan menjadi kontribusi nyata dari STEI Tazkia dalam mendukung implementasi sistem jaminan halal di Tanah Air.

Sementara, Sukoso menyambut baik adanya kerjasama ini. Ia menyebut kerjasama ini sebagai sebuah refleksi untuk proses sertifikasi halal sekaligus mempersiapkan para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) guna memenuhi standard halal.

“Harapannya Pusat Studi Halal ini nantinya ikut berperan dalam pembinaan, bimbingan, dan pendampingan dalam sertifikasi halal. Jadi ke depannya, STEI Tazkia ini punya hak untuk memberikan penjelasan kepada pelaku UMKM tentang halal. Kenapa harus halal, standard halal itu apa, dan sebagainya,” ujarnya.

Sukoso menambahkan, setelah MoU ini, STEI Tazkia berhak mengajukan calon auditor halal untuk ditraining atas biaya dari Negara. BPJPH, kata dia, sudah memberikan training kepada hampir 120 orang dalam empat batch yang dilaksanakan guna menyiapkan calon auditor halal.

“Persyaratan di UU ini ada tiga komponen institusi yakni BPJPH, Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI). LPH ini, isinya auditor halal. Auditor harus dilakukan pembekalan oleh BPJPH. Kemudian akan diuji kompetensi dan diputuskan bersama MUI apakah layak menjadi auditor halal,” jelasnya.

Di sisi lain, yang masih menjadi prinsip, ketika melakukan proses produksi halal, harus ada namanya Penyelia Halal. Perusahaan besar wajib memiliki Penyelia Halal. “Lalu bagaimana dengan UMKM? Itu jawabannya diekspresikan dengan harus adanya Halal Center di Perguruan Tinggi atau Yayasan Islam yang menjadi pendamping untuk proses produksi halal (PPH),” ungkapnya. (gontornews.com)

Miftahul AnwarMoU dengan BPJPH, STEI Tazkia Luncurkan Pusat Studi Halal!
read more

STEI Tazkia Jalin Kerja Sama dengan Rusia

No comments
Salah satu perguruan tinggi Islam di Bogor, Jawa Barat, menjalin kerja sama dengan Universitas Islam Rusia (RIU). Perguruan tinggi tersebut adalah Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Tazkia. Kerja sama dituangkan dalam perjanjian yang ditandatangani di RIU, Kazan, Rabu (24/4/2019).
Perjanjian ditandatangani oleh para Rektor perguruan tinggi tersebut, yaitu Rafik Mukhametahin dari RIU dan Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc dari STEI Tazkia.
Para pihak sepakat untuk mempromosikan, mengembangkan, dan memperkuat kerja sama pendidikan dan ilmu pengetahuan yang saling menguntungkan. Bentuk kerja sama antara lain pertukaran staf, pengajar dan mahasiswa, penelitian dan publikasi bersama, penyelenggaraan seminar, konferensi dan workshop bersama, serta kerja sama lainnya yang menjadi perhatian bersama.
Rektor RIU menyampaikan kegembiraannya dapat menjalin dan mengembangkan kembali kerja sama dengan perguruan tinggi Islam di Indonesia setelah beberapa tahun terakhir terhenti. Menurut Rektor RIU, kerja sama dengan Indonesia sangat penting, seperti yang telah dirintis sejak tahun 2009.
Pada tahun 2009 Rafik Mukhametshin berkunjung ke Indonesia menjalin kerja sama dengan UIN Syarif Hidayatullah Ciputat, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Salah satu kerja sama yang dicapai adalah pengiriman mahasiswa RIU untuk belajar di Indonesia dalam program magister, antara lain di UIN Malang. Dua orang lulusan UIN Malang tersebut saat ini bekerja sebagai pengajar di RIU.
https://1.bp.blogspot.com/-HIxpzFQrtOc/XMJZC42gEDI/AAAAAAAALqQ/AjijWnStlQU4vTx-vNPCHzzlpm1biYOvwCLcBGAs/s1600/1%2B%25285%2529.jpg
Rektor STEI Tazkia mengatakan kerja sama antar perguruan tinggi ini dilandasi pada Tridharma Pendidikan, yaitu pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Rektor STEI Tazkia berharap terdapat pertukaran dosen dan mahasiswa, double degree, bimbingan mahasiswa dan riset bersama, termasuk pendidikan ekonomi syariah.
“Kami siap menerima mahasiswa dari RIU untuk belajar di STEI Tazkia, bahkan mulai tahun pelajaran baru mendatang,” kata Rektor STEI Tazkia.
Rektor STEI Tazkia sangat terkesan dengan kunjungan pertamanya ke Kazan. Menurutnya, industri halal terutama makanan halal, pakaian muslim, dan keuangan syariah sedang menjadi perhatian di Rusia. Ditambahkan bahwa selaku pionir dalam pergerakan keuangan syariah di Indonesia, STEI Tazkia siap bekerja sama dengan Rusia dalam edukasi, sosialisasi dan persiapan SDM untuk pengembangan keuangan syariah dan industri halal lebih lanjut.
RIU adalah salah satu perguruan tinggi Islam di Rusia yang didirikan tahun 1998. Saat ini RIU terdapat Fakultas Teologi yang didalamnya memiliki jurusan teologi, linguistik, jurnalistik Islam, ekonomi Islam, dan pembelajaran jarak jauh. Di RIU belajar sekitar 1.200 mahasiswa tidak hanya berasal dari Tatarstan dan berbagai wilayah Rusia, tetapi juga dari negara lain, khususnya negara pecahan Uni Soviet.

Duta Besar RI untuk Federasi Rusia merangkap Republik Belarus, M. Wahid Supriyadi yang hadir menyaksikan penandatanganan perjanjian ini mendorong pengembangan kerja sama antar perguruan tinggi kedua negara, termasuk perguruan tinggi Islam. Kerja sama tersebut dapat turut mendekatkan hubungan kedua bangsa yang pada gilirannya tidak hanya mencakup bidang pendidikan, tetapi juga ekonomi dan sosial budaya. Dubes Wahid menekankan pentingnya tindak lanjut dan realisasi dari kesepakatan-kesepakatan kedua pihak.

Beberapa jam sebelum penandatanganan dengan RIU, STEI Tazkia juga menandatangani perjanjian kerja sama dengan Kazan (Volga Region) Federal University (KFU) yang diwakili oleh Linar Latypov, Wakil Rektor Bidang Kerja Sama Internasional KFU.
Delegasi STEI Tazkia Republik Tatarstan, Federasi Rusia dalam rangka mengikuti “Russia Halal Expo 2019”. Expo tersebut merupakan bagian dari The XI International Economic Summit “Russia-Islamic World: KazanSummit 2019” yang berlangsung tanggal 24-26 April 2019. (hajimakbul.com)
Miftahul AnwarSTEI Tazkia Jalin Kerja Sama dengan Rusia
read more