Business Management Syariah

Tazkia Gelar Workshop on Integration of Knowledge

No comments

[#news #update] .
.
‘Workshop on Integration of Knowledge’ Season 1 with :
.
.
Dr. Muhammad Syafi’i Antonio, M.Ec (Founder of Tazkia University)

Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc (Rector of Tazkia University)

Dr. Habib Chirzin [International Institute of Islamic Thought (IIIT) Representative for Indonesia]

Prof. Dato’. Dr. Ahamed Kameel Mydin Meera (Managing Director of the Z Consulting Group, Malaysia)

Prof. Dr. Maliah Sulaiman (International Islamic University of Malaysia)
————————-
@msyafiiantonio
@murniati_mukhlisin
@chirzinhabib @akameel63

Miftahul AnwarTazkia Gelar Workshop on Integration of Knowledge
read more

Millennials Movements Tazkia with Kemenpora

No comments

(Senin, 21 Juni 2019) STEI Tazkia bekerjasama dengan Kementrian Pemuda dan Olahraga gelar kuliah umum kewirausahaan pemuda tahap 1 yang diberi judul “Millennials Movements”.

Acara dibuka dengan pemberian materi oleh Prof. Dr. Nurul Taufiqurrochman,  M. Eng. PhD. (Profesor di bidang nanotechnology). Taufiq memaparkan mengenai peluang Indonesia menjadi negara dengan ekonomi terkuat di dunia pada tahun 2050 dengan mengoptimalkan economic driver yang dimiliki Indonesia, yaitu Demography, Natural Resources, Infrastructure, dan Rise of Consumer Spending Power.

Taufiq kemudian melanjutkan materi dengan menceritakan pengalaman dan hasil kerjanya tentang mengoptimalkan teknologi nano yang mampu mengubah 1 Kg kunyit dengan harga 2000 menjadi produk yang memiliki nilai Jual tinggi dengan kisaran harga 2.5 juta/kg.

Sesi kedua dilanjut dengan workshop dari Krisna Satria Gunawan selaku founder CIBO SYARFI. Perusahaan ini bergerak di bidang fintech peer to peer landing syariah yang mempertemukan pihak yang membutuhkan dana dengan pihak yang memiliki kelebihan dana, yang mengangkat nilai cepat, mudah, aman, halal, dan anti magrib (maysir, gharar, riba).

Mengakhiri pembicaraanya, Krisna berpesan kepada para peserta bahwa kunci kesuksesan adalah tentang bagaimana kita menemukan passion, menggali dan memaksimalkan passion tersebut.

“Tidak semua orang berbakat jadi pengusaha, jadi dosen, dan lain-lain. Untuk itu carilah passion dalam diri kita, terus gali, geluti, dalami, dan profesionalitas, Insya Allah sukses beriringan”. Tegas Krisna.

Sesi kedua diisi pula oleh Co-founfer Nussa & Rara, Aditya Triantoro. Dengan mengusung konsep yang berbeda dalam industri hiburan yang terbukti mampu menarik pasar. Hanya dengan animasi yang berdurasi tidak lebih dari 3 menit, mampu menonjolkan konten yang ever green, lifetime, dan forever. Dalam kata lain Tidak hanya bisa dinikmati saat ini, tapi bisa dinikmati kapanpun, relevan untuk anak Dan cucu kita di masa depan, itulah konsep yang memiliki nilai educating sekaligus entertaining.

Adit bepesan kepada seluruh peserta yang hadir bahwa berbisnis itu bukan hanya untuk kepentingan dunia saja tapi harus ada nilai manfaat dan keberkahan didalamnya.

“Jangan hanya berbisnis untuk tujuan dunia semata, tapi buatlah perubahan, niat lillah everlasting, bangunlah sebuah produk yang punya nilai dan manfaat”. Pesan Adit. (Isna & Anwar)

Miftahul AnwarMillennials Movements Tazkia with Kemenpora
read more

MoU dengan BPJPH, STEI Tazkia Luncurkan Pusat Studi Halal!

No comments

Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Tazkia resmi meluncurkan Pusat Studi Halal (PSH), Senin (17/6/2019). Peresmian ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) bersama Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) tentang jaminan produk halal dan pengembangan kelembagaan.

Penandatangan MoU dilakukan oleh Kepala BPJPH, Prof. Ir. Sukoso, M.Sc., Ph.D dan Ketua STEI Tazkia, Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc. Turut hadir menyaksikan, Dewan Pembina Yayasan Tazkia Cendekia, Dr. Muhammad Syafii Antonio, M.Ec dan Direktur Pusat Studi Halal STEI Tazkia, Dr. Indra, M.Si.

Pada kesempatan ini, STEI Tazkia juga mengadakan acara Monday Forum STEI Tazkia bertema “Urgensi Sertifikasi Halal dalam Mendukung Industri Halal di Indonesia”.

Dalam sambutannya, Murniati Mukhlisin mengatakan salah satu fokus dari PSH ini adalah pengembangan keilmuan seputar industri halal dan kompetensi pelaku industri halal. Selain itu, PSH diharapkan menjadi kontribusi nyata dari STEI Tazkia dalam mendukung implementasi sistem jaminan halal di Tanah Air.

Sementara, Sukoso menyambut baik adanya kerjasama ini. Ia menyebut kerjasama ini sebagai sebuah refleksi untuk proses sertifikasi halal sekaligus mempersiapkan para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) guna memenuhi standard halal.

“Harapannya Pusat Studi Halal ini nantinya ikut berperan dalam pembinaan, bimbingan, dan pendampingan dalam sertifikasi halal. Jadi ke depannya, STEI Tazkia ini punya hak untuk memberikan penjelasan kepada pelaku UMKM tentang halal. Kenapa harus halal, standard halal itu apa, dan sebagainya,” ujarnya.

Sukoso menambahkan, setelah MoU ini, STEI Tazkia berhak mengajukan calon auditor halal untuk ditraining atas biaya dari Negara. BPJPH, kata dia, sudah memberikan training kepada hampir 120 orang dalam empat batch yang dilaksanakan guna menyiapkan calon auditor halal.

“Persyaratan di UU ini ada tiga komponen institusi yakni BPJPH, Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI). LPH ini, isinya auditor halal. Auditor harus dilakukan pembekalan oleh BPJPH. Kemudian akan diuji kompetensi dan diputuskan bersama MUI apakah layak menjadi auditor halal,” jelasnya.

Di sisi lain, yang masih menjadi prinsip, ketika melakukan proses produksi halal, harus ada namanya Penyelia Halal. Perusahaan besar wajib memiliki Penyelia Halal. “Lalu bagaimana dengan UMKM? Itu jawabannya diekspresikan dengan harus adanya Halal Center di Perguruan Tinggi atau Yayasan Islam yang menjadi pendamping untuk proses produksi halal (PPH),” ungkapnya. (gontornews.com)

Miftahul AnwarMoU dengan BPJPH, STEI Tazkia Luncurkan Pusat Studi Halal!
read more

STEI Tazkia Jalin Kerja Sama dengan Rusia

No comments
Salah satu perguruan tinggi Islam di Bogor, Jawa Barat, menjalin kerja sama dengan Universitas Islam Rusia (RIU). Perguruan tinggi tersebut adalah Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Tazkia. Kerja sama dituangkan dalam perjanjian yang ditandatangani di RIU, Kazan, Rabu (24/4/2019).
Perjanjian ditandatangani oleh para Rektor perguruan tinggi tersebut, yaitu Rafik Mukhametahin dari RIU dan Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc dari STEI Tazkia.
Para pihak sepakat untuk mempromosikan, mengembangkan, dan memperkuat kerja sama pendidikan dan ilmu pengetahuan yang saling menguntungkan. Bentuk kerja sama antara lain pertukaran staf, pengajar dan mahasiswa, penelitian dan publikasi bersama, penyelenggaraan seminar, konferensi dan workshop bersama, serta kerja sama lainnya yang menjadi perhatian bersama.
Rektor RIU menyampaikan kegembiraannya dapat menjalin dan mengembangkan kembali kerja sama dengan perguruan tinggi Islam di Indonesia setelah beberapa tahun terakhir terhenti. Menurut Rektor RIU, kerja sama dengan Indonesia sangat penting, seperti yang telah dirintis sejak tahun 2009.
Pada tahun 2009 Rafik Mukhametshin berkunjung ke Indonesia menjalin kerja sama dengan UIN Syarif Hidayatullah Ciputat, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Salah satu kerja sama yang dicapai adalah pengiriman mahasiswa RIU untuk belajar di Indonesia dalam program magister, antara lain di UIN Malang. Dua orang lulusan UIN Malang tersebut saat ini bekerja sebagai pengajar di RIU.
https://1.bp.blogspot.com/-HIxpzFQrtOc/XMJZC42gEDI/AAAAAAAALqQ/AjijWnStlQU4vTx-vNPCHzzlpm1biYOvwCLcBGAs/s1600/1%2B%25285%2529.jpg
Rektor STEI Tazkia mengatakan kerja sama antar perguruan tinggi ini dilandasi pada Tridharma Pendidikan, yaitu pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Rektor STEI Tazkia berharap terdapat pertukaran dosen dan mahasiswa, double degree, bimbingan mahasiswa dan riset bersama, termasuk pendidikan ekonomi syariah.
“Kami siap menerima mahasiswa dari RIU untuk belajar di STEI Tazkia, bahkan mulai tahun pelajaran baru mendatang,” kata Rektor STEI Tazkia.
Rektor STEI Tazkia sangat terkesan dengan kunjungan pertamanya ke Kazan. Menurutnya, industri halal terutama makanan halal, pakaian muslim, dan keuangan syariah sedang menjadi perhatian di Rusia. Ditambahkan bahwa selaku pionir dalam pergerakan keuangan syariah di Indonesia, STEI Tazkia siap bekerja sama dengan Rusia dalam edukasi, sosialisasi dan persiapan SDM untuk pengembangan keuangan syariah dan industri halal lebih lanjut.
RIU adalah salah satu perguruan tinggi Islam di Rusia yang didirikan tahun 1998. Saat ini RIU terdapat Fakultas Teologi yang didalamnya memiliki jurusan teologi, linguistik, jurnalistik Islam, ekonomi Islam, dan pembelajaran jarak jauh. Di RIU belajar sekitar 1.200 mahasiswa tidak hanya berasal dari Tatarstan dan berbagai wilayah Rusia, tetapi juga dari negara lain, khususnya negara pecahan Uni Soviet.

Duta Besar RI untuk Federasi Rusia merangkap Republik Belarus, M. Wahid Supriyadi yang hadir menyaksikan penandatanganan perjanjian ini mendorong pengembangan kerja sama antar perguruan tinggi kedua negara, termasuk perguruan tinggi Islam. Kerja sama tersebut dapat turut mendekatkan hubungan kedua bangsa yang pada gilirannya tidak hanya mencakup bidang pendidikan, tetapi juga ekonomi dan sosial budaya. Dubes Wahid menekankan pentingnya tindak lanjut dan realisasi dari kesepakatan-kesepakatan kedua pihak.

Beberapa jam sebelum penandatanganan dengan RIU, STEI Tazkia juga menandatangani perjanjian kerja sama dengan Kazan (Volga Region) Federal University (KFU) yang diwakili oleh Linar Latypov, Wakil Rektor Bidang Kerja Sama Internasional KFU.
Delegasi STEI Tazkia Republik Tatarstan, Federasi Rusia dalam rangka mengikuti “Russia Halal Expo 2019”. Expo tersebut merupakan bagian dari The XI International Economic Summit “Russia-Islamic World: KazanSummit 2019” yang berlangsung tanggal 24-26 April 2019. (hajimakbul.com)
Miftahul AnwarSTEI Tazkia Jalin Kerja Sama dengan Rusia
read more

Sharia Finance Training, Institute of Research and Community Empowerment-PT. Bank DKI

No comments

 

 

 

 

 

 

 

 

 

The Institute of Research and Community Empowerment (IRCE) STEI Tazkia, in collaboration with Bank DKI, have organized a Sharia Finance Training for Credit Analyst Officer and Risk Business Unit. This training already held at Ibis Style Hotel, Jakarta, from 13 to 14 April 2019.
The training is designed to provide the needs and expectations of the participants.
The major concern is deeepening the sharia aspects and understanding the implementation of sharia finance in accordance wih Islamic values.

The main material is Fundamental of Islamic Economics and the application of muamalah contracts in Islamic banking financing products.
IRCE’s experts, composed by lecturers and practitioners, share their knowledge with and train participants on a wide-range of subjects including; Maqashid Asy-Sharia and the Muamalah Rules for Sharia Banking Operations, Muamalah Application for Sharia Financing Products, Muamalah Application on Product Funding and Calculation of Yields, Analysis of Financing , Legal Aspects and Financing Guarantee and Risk Management of Islamic Bank Financing.

Miftahul AnwarSharia Finance Training, Institute of Research and Community Empowerment-PT. Bank DKI
read more

Daerah Dengan Jumlah Institusi Islam Yang Lebih Banyak Cenderung Memiliki Risiko Konflik Yang Rendah?

No comments

Indra, M.Si. salah satu dosen STEI Tazkia baru saja selesai melakukan penelitian tentang pengaruh jumlah institusi Islam di suatu daerah terhadap Tingkat/resiko terjadinya konflik fisik. Penelitian ini dilakukan dalam rangka untuk melihat bagaimana sejatinya pengaruh jumlah institusi Islam dalam suatu daerah terhadap tingkat konflik fisik daerah tersebut, dimana nantinya hasil penelitian ini akan menjadi referensi penulis terhadap badan terkait dalam penentuan strategi dalam upaya menurunkan tingkat konflik fisik antar warga.

Berdasarkan Penelitian yang dilakukan ini, diperoleh kesimpulan bahwa Kabupaten/Kota yang memiliki jumlah Institusi Islam lebih banyak, yang ditunjukkan oleh rasio jumlah masjid dan jumlah pondok pesantren per jumlah populasi penduduk, memiliki kecenderungan tingkat konflik yang lebih rendah.

Menurut peneliti dan dosen yang merupakan Direktur Pusat Studi Halal LPPM STEI Tazkia ini juga ditemukan adanya pengaruh yang signifikian dari beberapa variabel kontrol sosial-ekonomi dalam mengurangi dan mendorong eskalasi konflik.

“Tingkat Pengangguran dan rata-rata lama sekolah merupakan dua indikator yang ditemui memiliki pengaruh terhadap peningkatan konflik. Pada lain sisi, tingkat pertumbuhan PDRB perkapitah dan share PDRB pertanian ternyata berperan penting dalam menurunkan tingkat risiko konflik di wilayah kabupaten/kota.” Ujar Indra.

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan struktur data cross-section tingkat kabupaten di Indonesia. Keseluruhan variabel yang digunakan oleh peneliti bersumber dari data Statistik Potensi Desa (PODES) dan publikasi yang dilakukan oleh BPS lainnya pada tahun 2014. (Rijal N. F. & M. Anwar Guswanda)

Miftahul AnwarDaerah Dengan Jumlah Institusi Islam Yang Lebih Banyak Cenderung Memiliki Risiko Konflik Yang Rendah?
read more