Berita Kampus

STEI Tazkia Meraih Juara 1 Olimpiade Manajemen Nasional 2017

No comments

STEI Tazkia kembali meraih prestasi pada kancah Nasional. STEI Tazkia berhasil menjadi juara pertama pada ajang Olimpiade Manajemen Nasional (Business Case Competition) yang diadakan di Universitas Negeri Malang pada tanggal 27-29 Oktober 2017. Perwakilan mahasiswa dari STEI Tazkia mengalahkan 15 finalis lainnya yang telah lolos seleksi proposal dari seluruh Indonesia.

Tim STEI Tazkia diwakili oleh :

  1. Diki Nurdiansyah (MPI 13)
  2. Alfrida Yulistia ( MPI 14)
  3. Zahrina Fitrianasari ( MKI 13)

Barakallah, semoga dapat memotivasi dan penyemangat bagai mahasiswa lain dalam meraih prestasi setinggi mungkin.

Miftahul AnwarSTEI Tazkia Meraih Juara 1 Olimpiade Manajemen Nasional 2017
read more

Tazkia Luluskan 363 Wisudawan Dengan Rata Rata IPK 3,39

No comments

Bogor, 08/11/2017 (STEI Tazkia) –  Sekolah Tinggi Ekonomi Islam tazkia menyelenggarakan wisuda periode semester genap tahun akademik 2016/2017 pada hari rabu, tanggal 08 Nopember 2017, bertempat di kampus utama. Jl. Ir. H. Juanda No. 78, Sentul City. Pada Pukul 08.00 WIB s.d selesai prosesi wisuda yang dilaksanakan dalam tajuk sidang terbuka senat dan guru besar STEI Tazkia yang dipimpin langsung oleh ketua STEI Tazkia yang juga sebagai ketua Senat Dr. Muhammad Syafii Antonio, M.Ec. ini akan mewisuda mahasiswa program diploma-III 9 lulusan, Program sarjana 330 lulusan dan Program Pasca Sarjana sebanyak 24 Lulusan.

Wisuda kali ini adalah wisuda dengan jumlah wisudawan terbanyak selama 5 tahun terakhir, yaitu 363 lulusan, yang terdiri 160 lulusan dari program studi Manajemen Bisnis Syariah, 115 lulusan dari program studi Akuntansi Syariah,  32 Lulusan dari program studi Ekonomi Syariah dan 23 lulusan program studi Muamalah. Rata-rata indeks prestasi seluruh lulusan Sarjana mencapai 3.39 dengan perincian 3,35 Dari program Manajemen Bisnis Syariah, 3,38 dari program Akuntansi Syariah, 3,51 dari program Ekonomi Syariah  dan  3,52 dari program studi Muamalah.

Dari ke- 363 lulusan, 11 lulusan berhasil mendapatkan predikat summa cum laude dan 9 lulusan dengan predikat cum laude dengan capaian IPK tertinggi sebesar 3,94.

Dalam sambutannya, Ketua STEI Tazkia, Dr. Syafii  Antonio M.Ec. mengatakan, “Alhamdulillah, telah sepatutnya kita bersyukur karena kita telah sampai pada hari yang dinantikan, hari yang bersejarah yang akan menjadi memori indah pada waktunya. Selain kesyukuran tersebut, kita juga wajib bersyukur karena dengan segala kekurangan dan keterbatasan yang ada, kita bisa melaksanakan Wisuda ke XIII ini di Multifunction Hall lantai 3 STEI Tazkia yang merupakan kali pertama kita lakukan. Kesyukuran ini harus kita apresiasi dengna melaksanakan corporate value Tazkia yang menjadi landasan untuk mencapai sasaran mutu STEI Tazkia.”

Syafii memahami, bahwa proses belajar dan mengajar di STEI Tazkia tidak mudah, penuh perjuangan, pengorbanan dan sejarah tersendiri bagi tiap mahasiswa. “Namun sesungguhnya itulah bekal kita untuk mengabdi di masyarakat. STEI Tazkia saat ini sudah banyak dikenal baik di dalam maupun luar negeri. STEI Tazkia sudah banyak mewarnai dinamika intelektualitas baik dosen maupun mahasiswanya di tingkat nasional maupun internasional.

Miftahul AnwarTazkia Luluskan 363 Wisudawan Dengan Rata Rata IPK 3,39
read more

Pusat Studi Fintech Syariah, Menjawab Tantangan Era Ekonomi Digital

No comments

Oleh Dr. Achmad Firdaus MSi (Ketua Program Studi Magister Ekonomi Syariah Tazkia)

Pada Workshop on Effective IT Introduction & Implementation in Business di Tokyo Jepang yang berlangsung dari tanggal 22 November sampai dengan 21 December 2001 terungkap bahwa era ekonomi baru akan tercipta sebagai respon atas revolusi bidang IT. Pelanggan akan lebih diberdayakan karena mereka dilengkapi dengan informasi yang lebih cepat. Mereka menjadi lebih mudah memilih kebutuhan secara langsung. Perusahaan akan bertransformasi sebagai reaksi atas dinamika hubungan diantara karyawan. Manajemenpun dengan cepat dapat mengambil keputusan. Sedangkan para karyawan akan semakin sering dan cepat mendapatkan pengetahuan baru melalui IT knowledge management. Struktur organisasi pun cenderung menjadi flatdengan penugasan yang besifat matrik. Dampak besar pada bidang manajemen bisnis adalah dengan semakin meluasnya Business Process Re-enginering (BPR) atau yang biasa kita kenal dengan rekaya proses bisnis.

Belum dapat diprediksikan secara tepat saat itu (tahun 2001), akibat yang dapat ditimbulkan dari evolusi rekayasa proses bisnis  dampak dari revolusi IT. Kenyataannya, 15 tahun kemudian, rekayasa proses bisnistelah berdampak pada bidang ekonomi, sosial dan hukum. Munculnya cryptocurency sebagai mata uang virtual, telah mengubah bisnis proses peredaran uang tanpa melalui bank sentral. Mata uang beroperasi secara independen. Nilai mata uang bukan ditentukan oleh bank sentral tetapi dibiarkan mengambang sesuai supply dan demand. Kondisi ini, jelas menjadi peluang besar bagi para invisible hand untuk bermain di dunia digital. Tentu saja hal ini berdampak pada kehidupan sosial masyarakat.

Rekayasa bisnis proses pada peer to peer lending (P2P) telah menghapus fungsi intermediari bank yang menghubungkan antara investor pemilik modal dengan individu maupun pelaku usaha yang membutuhkan modal. Para pelaku usaha yang unbankable, akan menjadikan format P2P sebagai kesempatan luas untuk mendapatkan pembiayaan. Namun demikian, sudah terbayang di depan mata, akan timbulnya risiko besar dari rekayasa bisnis proses P2P. Risiko bagi para pelaku P2P, regulator keuangan maupun masyarakat secara keseluruhan.

Sebagai institusi pendidikan ekonomi syariah, Program Pascasarjana STEI Tazkia  bersama LPPM STEI Tazkia, memiliki kewajiban sosial untuk memberikan kontribusi pemikiran terhadap pekembangan financial technology, khususnya berkaitan dengan kesesuaian terhadap syariah. Pada tanggal 12 Agustus 2017, Program Pascasarjana STEI Tazkia menyelenggarakan kuliah umum dan seminar nasional yang bertema Pengembangan Ekonomi Islam pada Era Digital. Beberapa pembicara yang diundang pada acara tersebut adalah Dr. M. Syafii AntonioMec dengan materi berjudul KNKS, Jembatan menuju Era baru Perkembangan Ekonomi Islam di Indonesia. Dr. Erwandi Tarmizi, MA menyampaikan materi Akad-akad Ekonomi Islam Berbasis Transaksi Digital Kontemporer. Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc menyampaikan materi berjudul Financial Tecnology (FinTech) Menyongsong Era Baru Ekonomi Islam. Dr. Sutan Emir, M.Ec menyampaikan materi berjudul Tantangan dan peluang Financial Tecnology di Timur Tengah.

Tanggal 21 Agustus 2017, LPPM STEI Tazkia menyelenggarakan kegiatan Monday Forum yang bertemakan Pentingnya Peran FinTech Dalam Perkembangan Ekonomi Syariah. Kegiatan menghadirkan beberapa praktisi FinTech sebagai pembicara yaitu StartZakat dan Indves. Kedua nara sumber berbagi pengalaman dalam membangun teghnologi informasi pada pengelolaan zakat dan investasi.

Tanggal 30 September 2017, Program Pascasarjana STEI Tazkia dan LPPM Tazkia menyelenggarakan seminar nasional bertajuk Islamic Fintech Seminar Series: Arah Dan Tantangan FinTech Syariah Di Indonesia. Seminar sehari menampilkan beberapa pembicara yang berkompeten di bidangnya, baik regulator, praktisi maupun akademisi. Seminar diadakan bersamaan pula dengan launching Pusat Studi FinTech Syariah Tazkia oleh Dr. Muhammad Syafi’i Antonio, M.Ec sebagai Ketua STEI Tazkia.

Dr. Hendrikus Passagi, S.Sos, M.Sc, CMBA, Direktur Pengaturan, Perizinan dan Pengawasan FinTech Industri Keuangan Non-Bank, Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia, menyampaikan berbagai potensi, ekosistem hingga roadmap dari pengembangan Fintech di Indonesia untuk 6 tahun kedepan. Adapun roadmap tersebut dibagi dalam lima tahap, yaitu konsolidasi, penetrasi, kolaborasi, national recognition dan global recognition.

Dr. Muhaimin Iqbal selaku Chairman dari Indonesia Startup Center, i-Grow, Ustadz Yusuf Mansur selaku Founder dari Paytren (melalui video conference dari Paris Perancis), dan Dr. Ir. Hari Santosa Sungkari, M.H, selaku Deputi Infrastuktur, Badan Ekonomi Kreatif Indonesia. Pembicara membahas berbagai peluang serta tantangan yang dihadapi para penggiat Fintech, khususnya startup. Pembahasan tidak hanya seputar peluang bisnis startup Fintech Syariah, melainkan juga peran pemerintah dalam mendukung pengembangan bisnis tersebut.

Pembicara lain adalah Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc selaku Wakil Ketua STEI Tazkia, Dr. Mohammad Mahbubi Ali selaku Research Fellow dari Institute of Advanced Islamic Studies (IAES) Malaysia sekaligus Dosen Pascasarjana STEI Tazkia, Rima Dwi Permatasari selaku Kepala Divisi Dana dan Transaksi PT Bank BNI Syariah serta Eko Budhi Suprasetiawan, S.T selaku Vice President IT Operation & Application Development dari PT PEFINDO Biro Kredit.

Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc menyampaikan pembahasan terkait isu legalitas, akuntansi, audit, tata kelola serta etika dalam pengembangan Fintech Syariah. Dr. Mohammad Mahbubi Ali menyoroti prinsip-prinsip syariah yang perlu diperhatikan dalam penerapan transaksi keuangan digital, seperti dalam hal produk, kontrak, biaya, hukumdan lain sebagainya. Sedangkan, Rima Dwi Permatasari SH menerangkan peran Fintech dalam menunjang kinerja industri perbankan, khususnya misi dari PT Bank BNI Syariah dalam mewujudkan wakaf hasanah untuk Indonesia. Senada dengan tiga narasumber sebelumnya, Eko Budhi Suprasetiawan, S.T membahas peran PEFINDO Biro Kredit sebagai suatu lembaga yang memiliki izin dari pemerintah dalam mengelola informasi perkreditan untuk mendukung pengembangan Fintech syariah di Indonesia. Beberapa manfaat yang beliau tawarkan, antara lain keamanan, saling melindungi, bagi hasil berbasis credit score, inklusi keuangan hingga pengembangan pasar. Semoga dengan launching Pusat Studi Fintech Syariah Tazkia, tazkia dapat memerbikan kontribusi bagi pengembangan Fintech Syariah di dunia. Amin (Anwar G)

Miftahul AnwarPusat Studi Fintech Syariah, Menjawab Tantangan Era Ekonomi Digital
read more

Tazkia Resmikan Pusat Kajian Fintech Syariah

No comments

Sabtu, 30 September 2017

Dewasa ini, kegiatan perekonomian masyarakat global tidak bisa terpisahkan lagi dari penggunaan Fintech. Kemudahan dan kenyaman yang ditawarkan dalam setiap transaksi ekonomi membuat para penggunanya memiliki ketergantungan tersendiri dalam penggunaannya. Di Indonesia sendiri, perekembangan Fintech terhitung begitu pesat. Hal ini dapat dilihat dengan bermunculannya perusahaan-perusahaan/bisnis Start Up yang dalam waktu yang relatif singkat mampu meraup omset atau pendapatan yang begitu tinggi, semisal Gojek dan  Buka Lapak. Bukan hanya itu, Fintech juga sudah masuk dalam semua bentuk kegiatan atau transaksi ekonomi, baik Jual Beli, Investasi, Asuransi, dan yang lainnya.

Berdasarkan fakta ini, STEI Tazkia sebagai lembaga pelopor pendidikan Ekonomi Islam di Indonesia, tidak mau ketinggalan untuk mengkaji lebih dalam tentang perkembangan Fintech di Indonesia. Sehingga pada tanggal 30 September 2017 STEI Tazkia meresmikan dan memperkenalkan sebuah pusat studi atau kajian mengenai Fintech Syariah pertama di Indonesia. Pusat kajian Fintech Syariah ini ditujukan untuk mengkaji secara mendalam dan menyeluruh mengenai perkembangan Fintech di Indonesia, peluang yang bisa dioptimalkan dan tantangan yang akan dihadapi, dan tentu saja nilai-nilai Syariah yang harus menjadi landasan dan acuan dalam setiap kegiatan atau transaksi Fintech.

Bersamaan dengan peresmian Pusat Kajian Fintech Syariah, STEI Tazkia mengadakan acara seminar yang bertajuk “Islamic Fintech Seminar Series, Arah dan Tantangan Fintech Syariah di Indonesia”, sebagai acara pembuka. Seminar ini menjadi spesial karena langsung mendatangkan para ahli dengan latar belakang yang berbeda yang membahas Fintech Syariah dari berbagai sisi dan sudut pandang yang berbeda.

Dr. Muhaimin Iqbal & Dr. Ir. Hari Santosa Sungkari, M.H. dalam sesi tanya jawab

Dr. Muhaimin Iqbal & Dr. Ir. Hari Santosa Sungkari, M.H. dalam sesi tanya jawab

Dari lembaga pemerintahan diwakili oleh Dr. Hendrikus Passagi (Direktur Pengaturan Perizinan dan Pengawasan Fintech OJK) dan Dr. Ir. Hari Santosa Sungkari, M.H. (Deputi Infrastruktur Badan Ekonomi Kreatif Indonesia) yang membahas masalah regulasi dan upaya-upaya pemerinta (badan terkait) untuk menunjang perumbuhan dan perkembangan Fintech di Indonesia. Dari praktisi (pelaku sektor Fintech) diwakili oleh KH. Yusuf Mansur (Founder of Paytren), Dr. Muhaimin Iqbal (Chairman of Indonesia Startup Center I-Grow), dan Eko Budhi Suprasetiawan (Vice President IT Operator & Application Development) yang membahas peluang dan tantangan yang dihadapi dalam perkembangan Fintech di Indonesia. dari dunia perbankan diwakili oleh Rima Dwi Permatasari, S.H. (Kepala Divisi Dana & Transaksi BNI Syariah) yang membahas peluang dan kerjasama dalam rangka meningkatkan kinerja pelayanan untuk kenyamanan para nasabah. Dan terakhir perwakilan dari bidang akademisi yang diwakili  oleh Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc. (Wakil Ketua STEI Tazkia) dan Dr. Mahbubi Ali (Research Fellow of International Institute of Advanced Islamic Studies & Dosen Pascasarjana STEI Tazkia) yang membahas dari sisi pencatatatan keuangan (auditing) kegiatan Fintech dan kesesuaian kegiatan Fintech dengan nilai-nilai Syariah. (Anwar G)

Miftahul AnwarTazkia Resmikan Pusat Kajian Fintech Syariah
read more

STEI Tazkia Ambil Langkah Nyata Berantas Narkoba

No comments

Bogor, 20 September 2017

Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Tazkia melakukan kolaborasi dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) Propinsi JawaBarat mengadakan kegiatan test urine bagi semua mahasiswa baru tahun ajaran 2017/2018 di Kampus STEI Tazkia Darmaga Bogor.  Kegiatan test urine ini sdh dilaksanakan  rutin tahunan di Kampus Sekolah Tinggi Ekonomi Islam khususnya bagi mahasiswa/wi baru, namun kerjasama dgn BNN Jabar baru dilaksanakan 2 tahun terakhir ini, terang Fakhrudin (Kabag Kemahasiswaan). Kegiatan ini sebagai bentuk peranserta aktif dan wujud kepedulian STEI Tazkia dalam mendukung gerakan nasional Indonesia Bersih Narkoba, kami melakukan pencegahan dan antisipasi dini terhadap penggunaan Narkoba oleh mahasiswa/wi dilingkungan kampus STEI Tazkia, jelas M. Syafii Antonio (Rektor STEI Tazkia) target kami akan menjadi percontohan ‘Kampus Bersih Narkoba’ di Indonesia.
Tahun ajaran 2017/2018, lebih dari 400 mahasiswa/wi mengikuti kegiatan test urine dan meningkat 30% dibandingkan tahun sebelumnya, hal ini memberikan indikasi terjadi peningkatan jumlah mahasiswa yg masuk untuk bergabung menjadi calon mujahid/a ekonomi Islam dimasa datang.
STEI Tazkia mempunyai program studi (prodi) Akuntansi Islam (akred. A), Prodi Bisnis Manajemen Islam (akred. B), Prodi Ekonomi Islam (B), Prodi Muamalah (Hukum Bisnis Islam) (B), Prodi Pendidikan Islam,  Program Pasca Sarjana, Program D-3 TahfizPreneur. Pola pendidikan dilakukan mempunyai keunikan karena tahun pertama mahasiswa/wi diwajibkan untuk boarding di asrama kampus Darmaga, selanjutnya berkampus di Sentul City.
Ketua BNNP Jabar, Brigjend Drs. Rusnadi memberikan apresiasi tinggi dan terima kasih ke STEI Tazkia karena telah menjadi pelopor Kampus Bersih Narkoba, dan menjadi kampus pertama dan satu- satu yg berani melakukan semua mhsw barunya utk test bersih Narkoba. (STP)

Miftahul AnwarSTEI Tazkia Ambil Langkah Nyata Berantas Narkoba
read more

Soft Launching Pusat Kajian FinTech Syariah STEI Tazkia

No comments

Senin, 21 Agustus 2017 STEI Tazkia mengadakan acara Monday Forum dan diskusi terbuka bertajuk “Pentingnya Peran FinTech Dalam Perkembangan Ekonomi Syariah” sekaligus peresmian dan soft launching Pusat Kajian FinTech Syariah STEI Tazkia. Dimana STEI Tazkia akan menjadi pusat kajian/studi tentang perkembangan FinTech Syariah di Indonesia.

CEO Startzakat sedang menyampaikan materi diskusinya

Dalam acara Monday Forum kali ini STEI Tazkia menghadirkan dua pembicara umum yaitu CEO StartZakat dan Indves, yang membagikan cerita dan pengalaman mereka tentang pendirian startup mereka masing-masing serta tantangan dalam pengembangannya. Diskusi umum kali ini juga dihadiri oleh para praktisi keungan syariah, perbankan syariah, konsultan keungan, peneliti/ akademisi dan dihadiri juga oleh perwakilan dari PT Telkom. Sehingga diskusi umum kali ini menjadi sebuah diskusi yang sangat menarik, karena tidak hanya membahas tema paling update tapi juga dapat memunculkan pandangan-pandangan dan ide-ide dari para ahli dan praktisi yang hadir mengenai pentingnya FinTech dalam industri keungan syariah, tantangan-tantangan yang dihadapi, dan bagaimana agar FinTech syariah ini dapat di terima oleh masyarakat dan tepat guna/sasaran.
Dari hasil diskusi umum kali ini memunculkan beberapa isu dan kesepakatan yang akan dituangkan dalam acara Seminar Nasional dengan tema “FinTech Syariah” bulan Oktober yang diadakan kembali di kampus utama STEI Tazkia yang dilanjutkan penandatangan kerjasama/MOU antara praktisi FinTech (Startup) dengan pemilik modal/pelaku usaha. (Anwar G)

Miftahul AnwarSoft Launching Pusat Kajian FinTech Syariah STEI Tazkia
read more