Artikel

Di Balik FinTech Syariah

No comments

Oleh:  Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc ( Rektor STEI Tazkia, Dosen Senior Akuntansi Syariah STEI Tazkia/Ketua Tim Riset Kompartemen Akuntansi Syariah, Ikatan Akuntan Indonesia )

 

Paling tidak, dua bulan ini, saya sudah beberapa kali mengisi kajian FinTech Syariah, sepertinya masyarakat sedang “jatuh cinta” dengan terobosan teknologi keuangan yang makin “intelligent” baru-baru ini. Untuk memberikan pencerahan bagi yang ingin tahu tentang FinTech syariah lebih jauh lagi, kali ini saya bahas geliat FinTech syariah dari enam sisi yaitu legalitas, akuntansi, audit, tata kelola, pengawasan syariah dan etika.

Peraturan FinTech di Indonesia

Tahun lalu Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mengeluarkan regulasi FinTech yaitu Peraturan OJK Nomor 77/POJK.01/2016 tanggal 29 Desember 2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi. Dalam peraturan tersebut disebutkan bahwa layanan pinjam meminjam uang berbasis teknologi informasi adalah penyelenggaraan layanan jasa keuangan untuk mempertemukan pemberi pinjaman dengan penerima pinjaman dalam rangka melakukan perjanjian pinjam meminjam dalam mata uang rupiah secara langsung melalui sistem elektronik dengan menggunakan jaringan internet.

Meskipun belum ada peraturan khusus untuk FinTech syariah, namun beberapa startup sudah mulai bermunculan. Kira-kira peraturan untuk FinTech syariah berbunyi seperti ini: “Layanan Jual Beli/Kemitraan/Pembiayaan/Sewa Menyewa Syariah” Berbasis Teknologi Informasi. Layanan penyelenggaraan layanan jasa keuangan syariah ini untuk mempertemukan penjual/mitra/pemilik modal/pemilik aset dengan pembeli/mitra/pekerja/penyewa dalam rangka melakukan jual beli/kemitraan/pembiayaan/sewa menyewa secara syariah dalam mata uang rupiah secara langsung melalui sistem elektronik dengan menggunakan jaringan internet.

Bank Indonesia (BI) juga mengeluarkan peraturan PBI 18/40/PBI/2016 tanggal 14 November 2016 tentang penyelanggaraan pemrosesan transaksi pembayaran. Hingga saat ini belum juga ada definisi secara syariah, namun peraturan ini kira–kira berbunyi: peraturan penyelanggaraan pemrosesan transaksi pembayaran yang mengikuti prinsip syariah.

Startup/instansi yang menawarkan jasa FinTech baik itu yang bergerak di “lending” maupun “sistem pembayaran” terlebih dahulu membuat badan hukum sebagai payung usahanya yang kemudian mendaftarkannya ke OJK atau BI. Badan hukum bisa berbentuk Perseroan Terbatas atau Koperasi.

Startup merupakan sebuah legal entity yang harus menyusun laporan keuangan sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada pemangku kepentingan. Startup juga harus memiliki tata kelola yang baik untuk menjamin keberlangsungan usahanya di masa depan. Audit juga merupakan keniscayaan bagi lembaga yang memiliki badan hukum dimana layanan transaksi berbasis elektronik rentan terhadap kecurangan dan penyimpangan dalam penggunaan data.

Akuntansi

Dewan Standar Akuntansi Syariah – Ikatan Akuntan Indonesia selalu merujuk ke fatwa Dewan Syariah Nasional –Majlis Ulama Indonesia (DSN-MUI) sebelum mengeluarkan standar – standar akuntansi. Dari tahun 2000 hingga saat ini sudah dikeluarkan 109 fatwa keuangan syariah dan dengan kehadiran bisnis FinTech berbasis syariah, ada fatwa – fatwa baru yang akan bermunculan, misalnya fatwa e-Money. Seterusnya perlakuan dan ruang lingkup akuntansi perlu disesuaikan, namun hingga saat ini belum ada pembahasan terkait akuntansi untuk startup.

Skema FinTech syariah ada beberapa macam, yang cukup dikenal adalah yang memiliki platform Peer to Peer (P2P) dan crowdfunding. Perlakuan akuntansi untuk startup syariah tergantung kepada skema dan akad yang digunakan.

Berikut adalah contoh usulan perlakuan akuntansi untuk Mudharabah Fintech di tahap awal transaksi. Investor (Shahibul Maal) menyetujui dan memberikan investasi modal pembiayaan Mudharabah kepada Pengelola (Mudharib) melalui kampanye startup dengan perkiraan nisbah bagi hasil yang sudah ditampilkan. Akad antara investor dengan startup menggunakan wakalah bil ujroh. Pada saat Investor menyepakati pemberian modal maka dana ditransfer melalui rekening titipan/escrow/virtual account, dan investor mengakuinya sebagai Dana Investasi Mudharabah. Jurnal yang dicatat oleh investor adalah: Dana Investasi Mudharabah pada Kas dan dari sisi startup dana diakui sebagai titipan dengan jurnal Kas pada Dana Titipan. Begitu juga di sisi Mudharib, ketika menerima dana dari investor melalui startup, maka jurnalnya adalah Dana Syirkah Temporer pada sisi kredit.

Adapun salah satu usulan perlakuan akuntansi untuk Waqaf FinTech adalah sebagai berikut.  Waqif (orang yang berwaqaf) menyetujui untuk menyalurkan dana waqaf kepada Nadzir melalui startup, maka akad antara Waqif dengan startup adalah wakalah bil ujroh. Ketika Waqif menyalurkan dana wakaf melalui rekening titipan/escrow/virtual account, Waqif mengakui adanya penyaluran dana waqaf. Di sisi startup mengakui sebagai Titipan Dana Waqaf sampai dana ditransfer ke Nadzir. Di sisi Nadzir, ketika menerima dana waqaf maka diakui sebagai Kas pada Penerimaan Dana Waqaf, yang mana Penerimaan Dana Waqaf dilaporkan pada laporan terpisah khusus Laporan Penerimaan dan Penyaluran Dana Waqaf.

Audit. Dalam hal audit, peranan audit elektronik (Electronic Data Process – EDP) akan makin penting ketika digitalisasi dalam proses bisnis makin dominan. OJK mewajibkan penyelenggaraan FinTech untuk menyediakan rekam jejak audit (audit trail) terhadap seluruh kegiatannya di dalam sistem elektronik berbasis teknologi informasi. Rekam jejak audit berguna untuk pengawasan, penegakan hukum, penyelesaian sengketa, verifikasi, pengujian dan pemeriksaan lainnya.

Tata kelola

Dari sisi tata kelola, startup harus memperhatikan hal ini. Selain wajib diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah, sebuah startup syariah wajib menyusun system tata kelola yang baik salah satunya mempunyai lima prinsip yaitu: Transparency, Accountability, Responsibility, Independence dan Fairness (disingkat TARIF).

Pertama, transparansi. Informasi yang disediakan oleh startup harus memenuhi karakteristik informasi yang baik yaitu akurat, relevan, memadai, real time, jelas dan mudah diakses oleh pemangku kepentingan. Namun startup harus tetap memperhatikan kerahasiaan data yang bersifat pribadi, data transaksi dan data keuangan.

Kedua, akuntabilitas. Startup harus dapat mempertanggungjawabkan kinerjanya secara transparan dan adil kepada pemangku kepentingan. Bentuk pertanggungjawaban berupa laporan secara berkala kepada OJK atau BI dalam bentuk laporan keuangan dan laporan penyelenggaraan layanan berbasis elektronik.

Ketiga, responsibilitas. Startup juga harus mematuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku dan memenuhi ketentuan bisnis syariah, juga bertanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat. Untuk mewujudkan tanggung jawab terhadap pemangku kepentingan, startup juga harus memiliki tim yang ahli di bidang teknologi informasi, akuntansi syariah, serta administrasi dan manajemen syariah.

Keempat, independen. Startup harus bebas dari kepentingan pihak tertentu sehingga pengambilan keputusan dapat dilakukan secara objektif. Benturan kepentingan juga dapat mengancam prinsip dasar etika bisnis syariah.

Kelima, kewajaran dan kesetaraan. Setiap individu yang berminat untuk bertransaksi dengan startup memiliki kesamaan dalam hak, perlakuan dan kesempatan. Startup harus bersifat tawazun (seimbang/adil) dalam memberikan layanan, tidak mengurang hak pemangku kepentingan.

Pengawasan Syariah

Bagi startup yang bergerak di bidang syariah harus mendapatkan izin usaha syariah dari Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia dan pengawasan dari Dewan Pengawas Syariah (DPS). Ke depan, pengawasan dapat dilakukan dari jarak jauh karena semua aktifitas tersedia secara online.

Etika

Etika melalui sistem elektronik harus tetap ditaati yaitu diantaranya adalah jujur, adil, amanah, dan ihsan. Jujur  karena startup harus mampu menjaga kerahasiaan data pemangku kepentingan. Adil diperlukan karena startup harus memperhatikan semua pemangku kepentingan, dan amanah karena startup harus mengedepankan tanggung jawab, tidak ada konflik kepentingan ketika menjalankan tugas. Terakhir, ihsan karena startup juga harus mengedepankan konsep berbagi bukan berlomba – lomba hanya untuk mencari keuntungan.

Terakhir, untuk memastikan tujuan startup syariah bukan hanya untuk komersial semata tetapi juga untuk tujuan sosial, maka dari itu, para startup harus menyisihkan sebagian keuntungan untuk kegiatan sosial. Bahkan sebaiknya startup syariah diwajibkan untuk membuat crowdfunding zakat, infaq, shadaqah, waqaf sebagai baktinya kepada lingkungan sekitar.

Diharapkan semakin banyaknya startup syariah dapat menjangkau masyarakat Indonesia lebih banyak lagi yang diharapkan dapat berpartisipasi aktif dalam praktik bisnis syariah, bersinergi membangun ekonomi Indonesia.

Miftahul AnwarDi Balik FinTech Syariah
read more

Orientasi Kemaslahatan Organisasi,Agar Sukses di Dunia dan Selamat di Akhirat

No comments

Oleh Dr. Achmad Firdaus. Msi (Kepala Program Pascasarjana Magister Ekonomi Syariah STEI TAZKIA)

Sederetan gedung sekolah menjulang tinggi, megah dan tertata rapih. Gedung sekolah dilengkapi dengan berbagai fasilitas layaknya hotel berbintang. Tembok besar dan kokoh melingkupi seluruh kawasan sekolah. Guru-guru yang mengajar adalah lulusan terbaik di bidangnya. Maklum, si empunya sekolah adalah pebisnis sukses. Hal ini kontras dengan lingkungan di sekitarnya. Banyak gedung sekolah yang hampir roboh. Fasilitas penunjang pendidikan minim. Angka putus sekolah dan jumlah masyarakat buta huruf yang tinggi. Dalam kondisi tersebut, pantaskah sekolah dikatakan telah memberikan kemaslahatan bagi masyarakat sekitar?

Hal yang sama terjadi pada sebuah kawasan pertambangan. Berton-ton tambang telah dikeruk dari dasar bumi. Dua puluh empat jam tanpa henti, perusahaan tambang mengeksploitasi kawasan. Lobang dan goa besar bekas galian, tampak di seluruh kawasan pertambangan. Tanah di sekitar menjadi tandus. Tidak ada lagi air bersih yang tersedia bagi penduduk di sekitar. Para pekerja bekerja dengan penuh semangat. Ketika jenuh dan penat melanda, mereka mengobatinya dengan hiburan duniawi. Minuman keras menjadi teman sehati, prostitusi menjamur di sekitar kawasan. Penyakit sosialpun melanda masyarakat sekitar. Kemiskinan dan kebodohan yang menimpa masyarakat sangat kontras dengan kehidupan para penikmat hasil tambang. Fenomena kehidupan terbalik, dimana kemiskinan dan kebodohan terjadi di daerah yang kaya sumber daya alam nan melimpah ruah. Mengapa maslahah begitu susah untuk diwujudkan?

Organisasi didirikan dalam rangka merealisasikan tugas manusia sebagai khalifah Allah di bumi. Hal ini sejalan dengan firman Allah QS al-Baqarah 2: 30.

“Ingatlah ketika Rabbmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”.

Pengelola organisasi harus menyadari dengan sepenuhnya bahwa organisasi yang mereka dirikan adalah sebagai sarana peribadatan kepada Allah SWT. Tindakan dilakukan dengan memberikan kemaslahatan bagi diri sendiri dan keluarga, pekerja dan keluarga, pelanggan, pemasok, mitra, masyarakat sekitar dan lingkungan.

Untuk itu, organisasi hendaknya didirikan dengan tujuan untuk mendapatkan kesuksesan hidup di dunia dan keselamatan hidup di akhirat. Konsekuensinya adalah  pengelolaan organisasi dilakukan bukan semata-mata karena keinginan pribadi, tugas, regulasi, kewajiban ataupun paksaan, tetapi sebagai sarana peribadatan kepada Allah Yang Maha Kuasa, Yang Maha Memberi Rizki, Yang Maha Memberi Kesuksesan, Yang Maha Memberi Keselamatan.

Kemaslahatan organisasi memiliki makna bahwa organisasi menciptakan nilai secara keberlanjutan. Artinya kemaslahatan organisasi tidak dibatasi oleh usia organisasi atau usia pengelola organisasi. Kemaslahatan organisasi akan terus menerus mengalir bahkan ketika organisasi ataupun pengelola organisasi sudah meninggal dunia. Oleh karena itu, keberlanjutan kemaslahatan merupakan tujuan yang harus dijaga dan dipelihara.

Tercapainya kemaslahatan dalam pengelolaan organisasi, sangat bergantung pada pemenuhan enam aspek orientasi kemaslahatan yaitu orientasi ibadah, orientasi proses internal, orientasi bakat, orientasi pembelajaran, orientasi pelanggan dan orientasi harta kekayaan.

Orientasi Ibadah adalah untuk menjelaskan terjaga dan terpeliharanya agama di dalam organisasi. Orientasi ibadah merupakan jawaban atas pertanyaan ‘agar keselamatan hidup di akhirat dan kesuksesan hidup di dunia dapat berkelanjutan, bagaimana organisasi menerapkan agama di kehidupan sehari-hari kepada Allah, pemangku kepentingan dan lingkungan?’.

Orientasi proses internal adalah untuk menjelaskan terjaga dan terpeliharanya jiwa organisasi. Orientasi proses internal merupakan jawaban atas pertanyaan ’agar keselamatan hidup di akhirat dan kesuksesan hidup di dunia dapat berkelanjutan, bagaimana mengelola proses internal?’.

Orientasi bakat adalah untuk menjelaskan terjaga dan terpeliharanya generasi penerus pengelola organisasi yang memiliki visi dan misi yang sejalan dengan visi dan misi pendiri/pengelola organisasi. Orientasi bakat merupakan jawaban atas pertanyaan ’agar keselamatan hidup di akhirat dan kesuksesan hidup di dunia dapat berkelanjutan, kegiatan apa yang harus dilakukan kepada generasi penerus organisasi (bakat)?’.

Orientasi pembelajaran adalah untuk menjelaskan terjaga dan terpeliharanya akal dan hati. Orientasi pembelajaran merupakan jawaban atas pertanyaan ’agar keselamatan hidup di dunia dan kesuksesan hidup di akhirat dapat berkelanjutan, kegiatan pembelajaran apa yang harus dilakukan?’

Orientasi pelanggan adalah untuk menjelaskan terjaga dan terpeliharanya hubungan dengan pelanggan. Orientasi pelanggan merupakan jawaban atas pertanyaan ’agar keselamatan hidup di akhirat dan kesuksesan hidup di dunia dapat berkelanjutan, kegiatan apa yang harus dilakukan bagi pelanggan?’

Orientasi harta kekayaan adalah untuk menjelaskan terjaga dan terpeliharanya harta. Orientasi harta kekayaan merupakan jawaban atas pertanyaan ‘’agar keselamatan hidup di dunia dan kesuksesan hidup di akhirat dapat berkelanjutan, usaha apa yang harus dilakukan dalam mendapatkan harta kekayaan dan membelanjakan harta kekayaan?’ (MAG)

Miftahul AnwarOrientasi Kemaslahatan Organisasi,Agar Sukses di Dunia dan Selamat di Akhirat
read more

Tahfidz Preneur

No comments

Oleh: Andang Heryahya, M.Pd. M.Pd.I (Dosen Tetap STEI Tazkia)

Para pembaca yang baik, salah satu bagian dari ilmu bisnis dan manjemen adalah entrepreneursip. Ilmu ini mengajarkan tentang mental dan strategi bisnis untuk mendapatkan keuntungan financial. Mengajarkan ketekunan, kerja keras, kesabaran, kejujuran, keberanian mengambil resiko – apapun yang terjadi pantang baginya untuk mundur apalagi menyerah. Layaknya seorang pendekar dalam memperjuangkan cita-citanya. Seorang pahlawan berdiri tegak gagah berani dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Keuntungan financial harus hadir di tangannya. Bahkan tidak puas sampai disitu, seorang entrepreneur selalu bertekad untuk terus menambah jumlah keuntungan. Inilah substansi dari ilmu entrepreneursip, tidak pernah berhenti berinovasi untuk memperlembar-memperluas jaringan usahanya.

Karakter entrepreneur ini telah dicontohkan oleh Baginda Rasulullah Muhammad SAW. Nabi telah mewariskan teori terbaik entrepreneursip. Rasulullah SAW seorang entrepreneur sukses. Pakar Ekonomi Syariah Dr. Muhammad Syafii Antonio menuturkan, Rasul memiliki bisnis yang besar, jauh melintasi berbagai wilayah dan negara. Saya berani menyatakan dan menyimpulkan bahwa ‘harta merupakan sumber kebahagiaan”. Rasul ingin kita kaya dan bahagia.

Kenapa seseorang harus “habis-habisan” mengejar harta kekayaan. Mengingat, tidak sedikit manusia yang gagal hidupnya ketika bergelimang dengan harta. Visi, misi dan tujuan hidupnya tumbang tidak berdaya oleh setumpuk kekayaan. Mobil mewah, rumah megah, tanah luas serta aset perusahaan yang melimpah lebih diutamakan dari pada beramal sholeh. Allah SWT, tidak ia hadirkan di dalam berbisnis. Bermegah-megah menjadi kegemarannya. Tertipu oleh kehidupan dunia.

Banyak contoh manusia gagal seperti itu, baik pada masa dulu maupun pada jaman modern saat ini. Qorun misalnya, ketika ia miskin termasuk ahli ibadah dan gemar bersedekah. Namun ketika berhasil mendapatkan kekayaan, ia lupa dan semakin jauh dari masjid, jauh dari Al Quran. Lupa kepada Allah SWT yang memberi kekayaan. Enggan membayar zakat dan sedekah, sifat bakhil yang akhirnya berhasil masuk ke rongga dada Qorun.

Para pembaca yang berbahagia, Ingatlah firman Allah SWT di dalam Al Quran Surat At Taubah Ayat 34 “Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih”. Sifat bakhil muncul diakibatkan karena kecintaan yang berlebihan terhadap harta, tidak ada keyakinan tentang kemuliaan yang ada di sisi Allah, tamak dan kagum kepada harta dan diri sendiri. Allah SWT berfirman di dalam Al Quran Surat Ali Imron ayat 180 “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan akan dikalungkan kelak di lehernya pada hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Kemudian, Allah SWT telah memberikan kabar penyesalan bagi orang yang sudah meninggal dunia yang belum sempat atau tidak cukup banyak membelanjakan harta di jalan Allah SWT. Hartanya lebih banyak disimpan (ditumpuk) daripada disedekahkan atau digunakan untuk beramal sholeh. Al Quran Surat Al Munafikun ayat 10 Allah SWT berfirman “Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda kematian-ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh”. Kita bisa membayangkan bagaimana menyesalnya, jika ada seseorang yang “habis habisan” mengejar dan mencari uang (untrepreneur), kemudian meninggal. Sementara uang dan hartanya masih menumpuk puluhan juta, ratusan bahkan milyaran. Sudah bisa dipastikan uang dan harta tersebut akan sulit memberikan bermanfaat, padahal uang itu adalah miliknya.

Sama sekali harta tersebut tidak dapat membawanya kepada keselamatan dan kebahagiaan. Kecuali, bila disedekahkan oleh ahli waris atas nama pemiliknya. Jika ahli warisnya sholeh Insya Allah menyelematkan, namun jika sebaliknya, maka celakalah ia. Harta itu tidak bisa menjadi sahabat terbaiknya.

Para pembaca yang dirahmati Allah SWT, namun tidak bagi hamba-hamba Allah yang sholeh. Bagi yang beriman dan bertaqwa kepada Allah, harta akan menjadi sumber utama kebahagiaan. Harta itulah yang akan menjadi penolong dari panasnya api neraka. Harta itulah yang menjadi penyelamat dari kerasnya azab Allah SWT. Dan, dengan harta itulah ia akan dimudahkan ‘berjumpa’ dengan Allah SWT. Bagi orang sholeh, harta akan ia pergunakan untuk kebaikan, ia akan bergegas membelanjakannya di jalan Allah SWT. Semakin banyak harta yang didapatkan, ia akan semakin mudah mendapatkan jalan kemudahan dan kebahagian. Mari kita simak Al Quran Surat Al-Lail ayat 6-7 “Maka barang siapa memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertaqwa, dan membenarkan (adanya pahala) terbaik maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan dan kebahagiaan”. Sekali lagi, harta merupakan sumber kebahagiaan.

Menjadi seorang dengan karakter seperti ini sudah ditekuni oleh banyak orang, baik pada jaman dahulu maupun pada saat ini. Abdurahman Bin Auf adalah salah satu contoh sukses menekuni bidang ini. Sukses menjadi seorang wirausahawan. Beliau menjadi kebanggan Baginda Rasul dan termasuk salah satu sahabat yang dijamin masuk surga. Sahabat Abdurahman Bin Auf sukses dengan harta dan kekayaannya.

Inilah kecerdasan yang harus hadir pada generasi muda muslim saat ini. Generasi Tahfidz Preneur – Quran Preneur. Al Quran menjadi kepribadian dalam berbisnis. Al Quran menjadi sahabat dalam berikhtiar. Ibadah menjadi kegemaran dalam kesehariannya. Hidup semakin berkah dan keluarga tetap sakinah. Inilah sumber kebahagiaan dan keberkahan. Kelak mereka akan bersama dengan orang-orang sholeh, para suhada, nabi dan rasul. Hanya untuk mereka, entrepreneur yang senang dengan Al Quran, bukan untuk yang lain.

Alhamdulillah, Selain lembaga dakwah dan pesantren seperti Wadi Mubarak di Megamendung Puncak dan Pesantren Tahfizh Quran MDF di Ciamis dan beberapa pesantren lainnya, Sekolah Tinggi EKonomi Islam (STEI) Tazkia telah mengembangkan Program Diploma III Bisnis dan Manajemen Keuangan Mikro Syariah dengan kompetensi Tahfidz Preneur. Insya Allah program ini dapat memenuhi kerinduan umat, mewujudkan genarasi muslim penghapal Al Quran, entrepreneur, sholeh, tidak merokok dan gemar beribadah. Hatinya senantiasa terpaut dengan masjid, persahabatannya tidak sebatas pada kepentingan bisnis, namun karena kecintaannya kepada Allah SWT.

Saat ini, Indonesia masih kekurangan sekitar empat juta orang entrepreneur. Jika sebagian besar lahir dari Tahfidz Preneur, Insya Allah umat Islam Indonesia akan menjadi keluarga, bangsa dan negara yang kuat, sejahtera, berkah dan maju. Bismillah, mari wujudkan cita-cita itu secara berjamaah, amin. (Anwar G)

Miftahul AnwarTahfidz Preneur
read more

Ekonomi Syariah, “Murtad Profesi” dan Insan Syariah

No comments

Oleh: Dr. Abdurrahman Misno BP, MEI (Ketua Program Studi Islamic Business Law STEI Tazkia)

“Ekonomi Syariah adalah ekonomi yang luhur” sebuah ungkapan yang disampaikan oleh Kepala Departemen Hukum Ekonomi di salah satu perguruan tinggi negeri di Jawa Barat. Ungkapan ini penulis terima saat berbincang dalam acara seminar nasional tentang ekonomi syariah dan pelantikan pengurus asosiasi hukum ekonomi syariah di Bandung belum lama ini. Hal yang menarik adalah bahwa ungkapan ini bukan berasal dari seorang muslim, namun seorang akademisi berpangkat guru besar yang beragama Nasrani.

Guru Besar yang Nasrani ini memahami bahwa keluhuran ekonomi Islam telah terbukti baik secara filosofis, normatif maupun empiris, sehingga jika ada seorang muslim yang masih meragukannya maka dipertanyakan loyalitasnya terhadap Islam. Secara filosofis ekonomi Islam hadir sebagai bentuk keadilan dalam distribusi dan wasilah dalam beribadah. Secara normatif ekonomi Islam memberikan panduan dalam melakukan ektifitas ekonomi, sedangkan secara empiris maka terbukti bahwa ekonomi Islam memberdayakan fakir miskin, mengurangi jurang pemisah antara si kaya dan si miskin serta mewujudkan kesejahteraan seluruh umat manusia.

Namun, keluhuran ekonomi Islam seringkali dirusak justru oleh umat Islam sendiri, dalam hal ini para praktisinya. Bagaimana tidak, ketika seseorang menjadi praktisi dalam lembaga keuangan atau lembaga bisnis syariah maka selayaknya ia menjadi mujahid ekonomi syariah. Ia akan berjuang untuk ekonomi syariah dan mendedikasikan dirinya untuk perkembangan dan kemajuannya. Hal yang paling penting adalah bahwa sebagai praktisi ekonomi syariah maka sudah selayaknya untuk menghiasi dirinya dengan nilai-nilai Syariah.

Fenomena yang terjadi akhir-akhir ini pada beberapa praktisi ekonomi syariah adalah tidak atau kurangnya mereka menghiasi diri dengan nilai-nilai syariah. Beberapa dari mereka masih melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan syariah, seperti kebiasaan menonton film tidak islami di Bisokop, kongkow-kongkow yang tidak bermanfaat, merokok, gaya hidup yang tidak Islami, jilbab hanya sebagai seragam, bahkan yang lebih memprihatinkan adalah adanya fenomena “Murtad Profesi”.

“Murtad Profesi” adalah satu istilah bagi seorang praktisi ekonomi syariah yang telah mengabdikan dirinya kepada ekonomi syariah namun kemudian dia keluar dan memilih bekerja pada ekonomi dan bisnis ribawi. Banyak alasan yang dikemukakan ketika keputusan ini dilakukan; pertimbangan gaji lebih besar, jabatan lebih tinggi atau tambahan fasilitas yang lebih banyak. Tentu saja ini bukan alasan yang tepat karena sejatinya tidak ada alasan untuk keluar dari ranah ekonomi syariah. Apalagi jika alasannya adalah masalah duniawiyah.

Fenomena “Murtad Profesi” pernah disinggung dalam buku HRD Syariah karya dosen STEI Tazkia terbitan Gramedia Pustaka Utama. Buku tersebut mencatat bahwa terjadi fenomena di mana seorang manager lembaga keuangan syariah yang kemudian berpindah menjadi pejabat sebuah lembaga keuangan ribawiyah. Beberapa praktisi juga beralasan kepindahannya ke lembaga keuangan ribawi adalah karena hukumnya darurat, tentu saja alasan ini tidak diterima karena perkembangan ekonomi syariah sangat memungkinkan untuk mencari pekerjaan pada bidang ini.

Jika keluhuran ekonomi Islam ingin terus maju dan berkembang, maka harus dimulai dari para praktisinya. Setiap praktisi ekonomi syariah haruslah menjadi Insan Syariah (InSya), sosok insan (manusia) yang senantiasa menghiasi dirinya dengan nilai-nilai Syariah Islamiyah. Insya sendiri adalah akumulasi; Inilah Makhluk Sempurna  dan  Termulia (QS: At-Tiin: 4), Namun ia tergoda oleh Iblis dan Para Pengikutnya (QS. Al-A’raf: 16), Sengsara di Dunia dalam Fitnah Subhat dan Syahwat (QS. Al-A’raf: 25), Akankah Ia Kembali Menjadi Mulia? Atau Hancur Binasa?QS. Asy-Syams: 8, dan Norma Syariah adalah  Sarana Mengembalikan  Kesempurnaan Manusia (QS. Al-Bayyinah: 7).

Ketidakpercayaan sebagian masyarakat terhadap ekonomi syariah salah satunya adalah karena para praktisinya masih jauh dari nilai-nilai syariah.” Dari mulai penampilan luar yang masih menampakan nilai-nilai kapitalisme, “menjual” perempuan dengan menjadikannya sebagai bintang iklan atau front office, layanan terhadap nasabah yang masih belum sesuai dengan nilai-nilai syariah serta produk yang harus terus-menerus diperbaiki agar semakin selaras dengan syariah. Maka, mari para oraktisi ekonomi syariah untuk menghiasi diri dengan nilai-nilai Syariah. Insya Allah dengan ini ekonomi syariah akan terus maju dan berkembang serta yang lebih penting adalah penuh dengan keberkahan. Wallahu A’lam. (Anwar G)

Miftahul AnwarEkonomi Syariah, “Murtad Profesi” dan Insan Syariah
read more

Pusat Studi Fintech Syariah, Menjawab Tantangan Era Ekonomi Digital

No comments

Oleh Dr. Achmad Firdaus MSi (Ketua Program Studi Magister Ekonomi Syariah Tazkia)

Pada Workshop on Effective IT Introduction & Implementation in Business di Tokyo Jepang yang berlangsung dari tanggal 22 November sampai dengan 21 December 2001 terungkap bahwa era ekonomi baru akan tercipta sebagai respon atas revolusi bidang IT. Pelanggan akan lebih diberdayakan karena mereka dilengkapi dengan informasi yang lebih cepat. Mereka menjadi lebih mudah memilih kebutuhan secara langsung. Perusahaan akan bertransformasi sebagai reaksi atas dinamika hubungan diantara karyawan. Manajemenpun dengan cepat dapat mengambil keputusan. Sedangkan para karyawan akan semakin sering dan cepat mendapatkan pengetahuan baru melalui IT knowledge management. Struktur organisasi pun cenderung menjadi flatdengan penugasan yang besifat matrik. Dampak besar pada bidang manajemen bisnis adalah dengan semakin meluasnya Business Process Re-enginering (BPR) atau yang biasa kita kenal dengan rekaya proses bisnis.

Belum dapat diprediksikan secara tepat saat itu (tahun 2001), akibat yang dapat ditimbulkan dari evolusi rekayasa proses bisnis  dampak dari revolusi IT. Kenyataannya, 15 tahun kemudian, rekayasa proses bisnistelah berdampak pada bidang ekonomi, sosial dan hukum. Munculnya cryptocurency sebagai mata uang virtual, telah mengubah bisnis proses peredaran uang tanpa melalui bank sentral. Mata uang beroperasi secara independen. Nilai mata uang bukan ditentukan oleh bank sentral tetapi dibiarkan mengambang sesuai supply dan demand. Kondisi ini, jelas menjadi peluang besar bagi para invisible hand untuk bermain di dunia digital. Tentu saja hal ini berdampak pada kehidupan sosial masyarakat.

Rekayasa bisnis proses pada peer to peer lending (P2P) telah menghapus fungsi intermediari bank yang menghubungkan antara investor pemilik modal dengan individu maupun pelaku usaha yang membutuhkan modal. Para pelaku usaha yang unbankable, akan menjadikan format P2P sebagai kesempatan luas untuk mendapatkan pembiayaan. Namun demikian, sudah terbayang di depan mata, akan timbulnya risiko besar dari rekayasa bisnis proses P2P. Risiko bagi para pelaku P2P, regulator keuangan maupun masyarakat secara keseluruhan.

Sebagai institusi pendidikan ekonomi syariah, Program Pascasarjana STEI Tazkia  bersama LPPM STEI Tazkia, memiliki kewajiban sosial untuk memberikan kontribusi pemikiran terhadap pekembangan financial technology, khususnya berkaitan dengan kesesuaian terhadap syariah. Pada tanggal 12 Agustus 2017, Program Pascasarjana STEI Tazkia menyelenggarakan kuliah umum dan seminar nasional yang bertema Pengembangan Ekonomi Islam pada Era Digital. Beberapa pembicara yang diundang pada acara tersebut adalah Dr. M. Syafii AntonioMec dengan materi berjudul KNKS, Jembatan menuju Era baru Perkembangan Ekonomi Islam di Indonesia. Dr. Erwandi Tarmizi, MA menyampaikan materi Akad-akad Ekonomi Islam Berbasis Transaksi Digital Kontemporer. Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc menyampaikan materi berjudul Financial Tecnology (FinTech) Menyongsong Era Baru Ekonomi Islam. Dr. Sutan Emir, M.Ec menyampaikan materi berjudul Tantangan dan peluang Financial Tecnology di Timur Tengah.

Tanggal 21 Agustus 2017, LPPM STEI Tazkia menyelenggarakan kegiatan Monday Forum yang bertemakan Pentingnya Peran FinTech Dalam Perkembangan Ekonomi Syariah. Kegiatan menghadirkan beberapa praktisi FinTech sebagai pembicara yaitu StartZakat dan Indves. Kedua nara sumber berbagi pengalaman dalam membangun teghnologi informasi pada pengelolaan zakat dan investasi.

Tanggal 30 September 2017, Program Pascasarjana STEI Tazkia dan LPPM Tazkia menyelenggarakan seminar nasional bertajuk Islamic Fintech Seminar Series: Arah Dan Tantangan FinTech Syariah Di Indonesia. Seminar sehari menampilkan beberapa pembicara yang berkompeten di bidangnya, baik regulator, praktisi maupun akademisi. Seminar diadakan bersamaan pula dengan launching Pusat Studi FinTech Syariah Tazkia oleh Dr. Muhammad Syafi’i Antonio, M.Ec sebagai Ketua STEI Tazkia.

Dr. Hendrikus Passagi, S.Sos, M.Sc, CMBA, Direktur Pengaturan, Perizinan dan Pengawasan FinTech Industri Keuangan Non-Bank, Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia, menyampaikan berbagai potensi, ekosistem hingga roadmap dari pengembangan Fintech di Indonesia untuk 6 tahun kedepan. Adapun roadmap tersebut dibagi dalam lima tahap, yaitu konsolidasi, penetrasi, kolaborasi, national recognition dan global recognition.

Dr. Muhaimin Iqbal selaku Chairman dari Indonesia Startup Center, i-Grow, Ustadz Yusuf Mansur selaku Founder dari Paytren (melalui video conference dari Paris Perancis), dan Dr. Ir. Hari Santosa Sungkari, M.H, selaku Deputi Infrastuktur, Badan Ekonomi Kreatif Indonesia. Pembicara membahas berbagai peluang serta tantangan yang dihadapi para penggiat Fintech, khususnya startup. Pembahasan tidak hanya seputar peluang bisnis startup Fintech Syariah, melainkan juga peran pemerintah dalam mendukung pengembangan bisnis tersebut.

Pembicara lain adalah Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc selaku Wakil Ketua STEI Tazkia, Dr. Mohammad Mahbubi Ali selaku Research Fellow dari Institute of Advanced Islamic Studies (IAES) Malaysia sekaligus Dosen Pascasarjana STEI Tazkia, Rima Dwi Permatasari selaku Kepala Divisi Dana dan Transaksi PT Bank BNI Syariah serta Eko Budhi Suprasetiawan, S.T selaku Vice President IT Operation & Application Development dari PT PEFINDO Biro Kredit.

Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc menyampaikan pembahasan terkait isu legalitas, akuntansi, audit, tata kelola serta etika dalam pengembangan Fintech Syariah. Dr. Mohammad Mahbubi Ali menyoroti prinsip-prinsip syariah yang perlu diperhatikan dalam penerapan transaksi keuangan digital, seperti dalam hal produk, kontrak, biaya, hukumdan lain sebagainya. Sedangkan, Rima Dwi Permatasari SH menerangkan peran Fintech dalam menunjang kinerja industri perbankan, khususnya misi dari PT Bank BNI Syariah dalam mewujudkan wakaf hasanah untuk Indonesia. Senada dengan tiga narasumber sebelumnya, Eko Budhi Suprasetiawan, S.T membahas peran PEFINDO Biro Kredit sebagai suatu lembaga yang memiliki izin dari pemerintah dalam mengelola informasi perkreditan untuk mendukung pengembangan Fintech syariah di Indonesia. Beberapa manfaat yang beliau tawarkan, antara lain keamanan, saling melindungi, bagi hasil berbasis credit score, inklusi keuangan hingga pengembangan pasar. Semoga dengan launching Pusat Studi Fintech Syariah Tazkia, tazkia dapat memerbikan kontribusi bagi pengembangan Fintech Syariah di dunia. Amin (Anwar G)

Miftahul AnwarPusat Studi Fintech Syariah, Menjawab Tantangan Era Ekonomi Digital
read more

Harapan Baru Perkembangan Akuntansi dan Akuntan Syariah di Indonesia

No comments

Oleh Sulhani, SEI, MAk (Kaprodi Akuntansi Islam STEI Tazkia

Akuntansi syariah merupakan suatu ideologi. Akuntansi syariah adalah ilmu yang tidak bebas nilai yang dibentuk oleh filosofi dan sikap hidup masyarakat yang ada dalam suatu lingkungan organisasi yang tumbuh dengan nilai-nilai Islam (Harahap, 2001, Triyuwono, 2000 dan Riahi-Belkoui, 1994). Salah satu perbedaan mendasar antara akuntansi konvensional dan akuntansi syariah adalah dalam memandang harta perusahaan. Dalam konsep akuntansi konvensional harta perusahaan adalah milik entitas perusahaan yang harus digunakan untuk memaksimalkan kesejahteraan pemegang saham. Sedangkan dalam konteks akuntansi syariah harta merupakan kepunyaan Allah SWT, hal ini sesuai dengan Al-Qur’an surat Ali-Imran ayat 284 yang berbunyi “Milik Allah-lah apa yang ada dilangit dan apa yang ada di bumi” Sedangkan manusia sebagai khalifatullah fill ardh ditugaskan untuk menjaga semua yang ada dilangit dan dibumi untuk kemaslahatan alam semesta. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an surat  Al-Baqarah ayat 29 yang berbunyi “Dia-lah yang menjadikan segala yang ada dibumi ini untuk kamu (manusia)”.

Dalam konteks akuntansi syariah kata kamu dalam ayat tersebut dapat ditujukan kepada para akuntan syariah. Sehingga akuntan syariah  memiliki tugas melebihi akuntan konvensional yang hanya bertanggung jawab kepada Stakeholder dunia. Akuntan syariah merupakan khalifatullah fill ardh yang harus menjaga bumi dan isinya, termasuk yang telah dimiliki melalui legalitas dunia oleh kelompok-kelompok/organisasi tertentu. Atas dasar inilah maka akuntan syariah harus berbeda secara fundamental dengan akuntan konvensional. Akuntan syariah harus menyadari bahwa bekerja sebagai akuntan merupakan bentuk pengabdian tertinggi kepada Allah SWT, sehingga setiap akuntan syariah akan memberikan kinerja terbaik dalam melakukan pekerjaannya (Aldulaimi : 2016). Karena konsep mendasar yang berbeda inilah maka Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) sebagai wadah para akuntan profesional di Indonesia memiliki perhatian khusus terhadap perkembangan akuntansi syariah di Indonesia.

Hal ini terbukti pada tahun 2005 IAI telah memiliki komite akuntansi syariah yang secara khusus bertugas memastikan praktik-praktik bisnis syariah memiliki pedoman pencatatan, pelaporan dan pertanggungjawaban tersendiri yang berbeda dengan pedoman yang sudah ada. Dan puncaknya pada akhir tahun 2016 para penggerak akuntansi syariah di Indonesia mendapatkan kabar gembira dengan dibentuknya kompartemen akuntansi syariah di bawah IAI melalui surat keputusan nomor 41/SK/DPN/XI/2016. Pembentukan kompartemen akuntansi syariah ini sendiri diinisasi oleh para penggiat akuntansi syariah baik dari Perguruan tinggi negeri maupun perguruan tinggi swasta yang tergabung dalam forum dosen akuntansi syariah. Forum tersebut yang kemudian sercara rutin berdiskusi dan merumuskan banyak hal terkait dengan akuntansi syariah. Dari sudut pandang yang lebih luas pembentukan kompartemen ini diharapkan mampu mendorong perkembangan ekonomi syariah di Indonesia. Seperti diketahui bahwa perkembangan ekonomi syariah di Indonesia perlu diimbangi dengan alat pertanggungjawaban yang lebih relevan dengan kaidah-kaidan yang ada dalam ekonomi syariah. Dengan dibentuknya komparetemen akuntansi syariah diharapkan alat-alat pertanggunjawaban melalui akuntansi akan lebih mudah dan leluasa untuk dikembangkan dan tentunya akan lebih sesuai dengan nilai-nilai syariah.

Harapan besar terhadap dibentuknya kompartemen akuntansi syariah oleh IAI adalah semakin meningkatnya transparansi dan akuntabilitas perusahaan-perusahaan yang menjalankan praktik syariah sehingga mampu meningkatkan percepatan pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia. Lebih jauh dari itu kompartemen akuntansi syariah ini diharapkan mampu mendorong tumbuhnya akuntan-akuntan syariah profesional yang senantiasa menjadikan penyembahan kepada Allah sebagai tujuan utamanya baik dilakukan melalui aktifitasnya sebagai akuntan publik, akuntan pendidik maupun akuntan pemerintahan. Wallahu A’alam Bishawab.

Miftahul AnwarHarapan Baru Perkembangan Akuntansi dan Akuntan Syariah di Indonesia
read more

Perencanaan Keuangan Islami, Why Not?

2 comments

Oleh: Thuba Jazil M.Sc (ketua Program Studi Bisnis dan Manajemen STEI Tazkia)

Gagal merecanakan keuangan, berarti telah merencanakan kegagalan keuangan di masa depan.

Dalam dunia pendidikan, umur kehidupan manusia terbagi dalam lima tahapan; tahapan thufulah (kanak-kanak), murahaqah (pubertas), syabab (pemuda), rujulah (dewasa), dan syaikhukhoh (tua). Beriringan dengan tahapan umur kehidupan, perencanaan keuangan juga senada dengan siklus kehidupan manusia yang terbagi atas pembagian usia manusia. Akan tetapi pembagiannya cukup menjadi tiga atau dua, tahapan ditopang dan tahapan menopang dan ada juga kembali ditopang. Kita lihat masyarakat pada umumnya, generasi anak-anak sampai pemuda masih dalam topangan dan kemudian mulai bisa menopang pada taraf dewasa dan ketika posisi tua telah menjadi tertopang kembali. Apakah kita generasi keungan sandwich? Roti tawar di bawah diselingi dengan daging dan sayur yang kembali ditutup dengan roti tawar? Masa anak-anak ditanggung oleh orang tua, sudah dewasa bekerja dan ketika tua menjadi tanggungan kembali? Banyak diantara kita yang fokus pada pekerjaan sekarang, tanpa merencanakan bagaimana kehidupan tua, bagaimana pendidikan nak, bagaimana bekal nanti akhirat? Jangan smpai punya harta kekayaan malah menjadi beban pertanyaan akhirat! Seyogyanya ia menjadi pendorong dan pelicin amalan menuju keridhaan dan kesurgaan-Nya.

Landasan umum anjuran perencanaan keungan terdapat dalam surat An-Nisa ayat 9, “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” Dhi,af ditafsirkan oleh para ulama dengan dua pandangan yaitu pertama lemah secara finansial dan lemah secara bekal keagamaan. Selanjutnya dalam surat Al-Hasyr ayat 18, ” Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha mengetaui apa yang kamu kerjakan.” Ghodin diartkan tenggang waktu yang lama tidak hanya hari esok, melainkan yang akan dihadapi di masa depan yaitu akhirat. Kematian adalah hal yang pasti, tapi merencanakan kematian dengan nikmat banyak orang yang lalai. Masuk ke liang lahat adalah ketetapan wajib, akan tetapi luas dan terangnya kubur belum tent. Seorang muslim dianjurkan merencanakan apa saja yang akan dilakukan, agar mampu menggapai capaian maksimal di dunia dan akhirat.

Secara umum, perencanaan kuangan disususn atas empat proses yaitu: 1) Financial independence (kemerdekaan keuangan), 2) Accumulation/Generation, 3) Protection (penjagaan) dan 4) Distribution. Proses dalam perencanaan keungan maka ditambah sebelum distribution yaitu proses purification (penyucian). Tahap 1, financial independence, merupakan tahapan krusial dimana kita bisa leluasa merencanakan aktivitas dimasa yang akan datang. Secara aspek kemampuan finansial, orang yang digolongkan pada dua kategori yaitu mampu atau tidak mampu. Mampu adalah mereka yang diberikan Allah kecukupan aspek finansial. Sedangkan tidak mampu disini bemul dilebihkan dari aspek kebutuhannya. Kecukupan semua Allah yang tanggung dan Allah hanya memenuhi kebutuhan bukan keinginan. Orang mampu akan digolongkan menjadi dua dalam aspek pendapatan yaitu passive income “pegawai” dan active income “entrepreneur”.

Dalam pandangan perencanaan keuangan Islami, semua orang mampu dan bisa merencanakan keuangannya untuk kegiatan-kegiatan pokok di masa depan. Tidak ada limit bahwa orang yang bisa mempunyai rumah adalah orang kaya, orang berhaji harus kaya raya dan lain sebagainya. Ketentuan penting dalam financial independence adalah: a) halal lagi thayyib, halal dari aspek zat (kebendaan) dan juga aspek pencapainnya, b) manfaat dan berkah, pekerjaan yang islami harus memberikan dampak manfaat, baik bagi diri sendiri maupun untuk masyarakat umumnya. Selain itu keberkahan juga harus diperhatikan dengan baik.

Tahap 2, Accumulation, dimana pengumpulan dan penghimpunan harta yang dimiliki dengan landasan, prinsip dan etika Islami. Pemetaan dana keuangan harus seiring dengan konsep Islam seperti menjauhi 10 elemen terlarang (Riba, Gharar, Tadlis, Ghabn, Maysir, Inah, Ihtikar, Najash, Bai’atain fi Bai’ah, objek Nonhalal). Tahap 3, Protection, yakni penjagaan atas harta yang telah diamanahkan dengan baik. Penjagaan yang dilakukan harus dalam bingkai syariah.

Tahap 4 dan 5, Purification dan Distribution. Penyucian dapat dilakukan dengan memberikan sebagian kekayaan kita kepada fakir miskin, dan dikahiri dengan pendistribusian dengan asas keadilan kepada keturunan, kerabat dan yang berhak atasnya dengan ketentuan syariah. Wallahu’alam. (Anwar G)

Miftahul AnwarPerencanaan Keuangan Islami, Why Not?
read more

Shariah Banks Wants To Thrive? Be Kaafah!

No comments

Many are disappointed with the current shariah bank. Various kinds of arguments. Some say that the products and services offered are “similar or same” to conventional banks. There was also some who were angry because it turns out the margin offered is higher than the interest rate. There is also angriness because the service is less sophisticated and more sluggish than conventional banks.

Ahmad BukhoriShariah Banks Wants To Thrive? Be Kaafah!
read more

Creative Economy Based on Majelis Taklim

No comments

The Indonesian Ulema Council (Majelis Ulama Indonesia) and Zakat Channel Unit (Unit Penyalur Zakat) in district Cibinong cooperate with the local government held a Workshop on “Empowerment the Potential of Creative Economy Based on Majelis Taklim” on Wednesday (28/09/2016), which held in the auditorium of the Religious Affairs Office in Cibinong District

Ahmad BukhoriCreative Economy Based on Majelis Taklim
read more