Artikel

Menghadirkan Pakar Digital Marketing Kemenbekraf Menginspirasi Pebisnis Muda

No comments

Rabu, 5 Mei 2021 / 23 Ramadhan 1442 H, Kementrian Bisnis dan Ekonomi Kreatif BEM REMA IAI Tazkia mengadakan Webinar Bincang Serius Tapi Asik (BISIK).


Dengan tema “How to Thrive Your Business During Pandemic” menjadi bekal sendiri bagi mahasiswa untuk membuka wawasan potensi pengembangan bisnis di masa pandemi. Menghadirkan Mas Ivan Anwar sebagai Internet Marketer dan juga sekaligus CEO PT Nasional Yunior Sportindo Media agenda berlangsung menarik dengan sharing yang menarik dan inspiratif dari pembicara. Aditya sebagai moderator membawakan acara dengan baik serta mendorong mahasiswa untuk proaktif dan mengambil sebanyak mungkin ilmu aplikatif dari pembicara.


Agenda ditutup dengan pembagian sertifikat dan penentuan penerima dorprize bagi peserta teraktif. Agenda BISIK merupakan realisasi ide kreatif dari kemenbekraf sebagai kementerian baru di REMA 2020/2021 tahun ini, sebagai upaya pengembangan potensi bisnis mahasiswa dengan mengundang narasumber berpengalaman dengan ilmu “daging” yang sangat berguna bekal softskill dunia bisnis rill bagi mahasiswa.

Rizqi ZakiyaMenghadirkan Pakar Digital Marketing Kemenbekraf Menginspirasi Pebisnis Muda
read more

Ekonomi Islam di Indonesia

No comments

INDONESIA  merupakan negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, yaitu 87,2 % dari total penduduk di Indonesia. Dengan hal ini, tidak asing lagi bagi Indonesia terhadap ekonomi Islam. Dari segi perkembangannya, ekonomi Islam di Indonesia masih jauh di bawah ekonomi konvensional. Akan tetapi, umat Islam terus berusaha dalam mengembangkan ekonomi Islam, khususnya di Indonesia.

Sebelum berbicara lebih jauh mengenai ekonomi Islam, terlebih dahulu harus mengetahui dasar-dasar dari berdirinya ekonomi Islam. Ekonomi dalam Islam, bersumber dari Alquran dan sunnah rasulullah. Hal ini tentu berbeda dengan ekonomi konvensional yang memiliki prinsip untuk memaksimalkan profit, sedangkan ekonomi Islam lebih mementingkan mashlahah. Dengan berdirinya Bank Muamalat Indonesia pada tahun 1992, praktik ekonomi Islam di Indonesia terus bertumbuh pesat. Tidak hanya di sektor perbankan, ekonomi Islam juga berkembang di berbagai sektor yang salah satunya pada asuransi syariah seperti PT Asuransi Takaful, PT Asuransi Syariah Keluarga Indonesia, dan lain sebagainya. Selain itu, ekonomi Islam juga berkembang di sektor Pasar Modal Syariah, Pegadaian Syariah, Obligasi Syariah, Reksadana Syariah, dan lain sebagainya.

Perkembangan ekonomi Islam di Indonesia mengalami berbagai tantangan dan hambatan. Salah satu faktornya yaitu kurangnya pemahaman masyarakat tentang ekonomi Islam, hal ini sangat berpengaruh karena ekonomi konvensional dinilai memiliki keuntungan yang lebih dibandingkan dengan ekonomi Islam. Pada dasarnya, keuntungan yang diperoleh dalam ekonomi Islam sebenarnya sama saja dengan ekonomi konvensional. Hanya saja, dalam ekonomi Islam tidak mengandung unsur-unsur yang dilarang oleh Allah Swt, contohnya seperti riba. Dalam ekonomi Islam lebih mementingkan terhadap akad-akad ketika melakukan transaksinya. Meskipun sudah mengetahui ekonomi Islam secara mendalam, para nasabah banyak yang enggan berpindah ke bank syariah dengan alasan hilangnya penghasilan tetap dari bunga karena sistem bagi hasil dinilai kurang menguntungkan. Dan juga kurangnya minat masyarakat dalam memahami ilmu ekonomi Islam karena sudah terlalu nyaman dengan apa yang telah diberikan oleh ekonomi konvensional.

Permodalan juga menjadi salah satu permasalahan yang serius dalam mendirikan suatu usaha. Sebagai contoh, setiap rencana untuk mendirikan bank syariah sering tidak terwujud karena tidak adanya modal. Hal ini tidak terlepas dari kaitan dengan pihak pemilik dana. Para pemilik dana belum mempunyai keyakinan yang kuat akan keberhasilan bank syariah tersebut dan takut bahwa dana tersebut akan hilang. Ekonomi Islam juga mengalami hambatan di bidang SDM. Untuk bersaing dengan ekonomi konvensional, ekonomi Islam harus memiliki SDM yang tidak kalah dengan ekonomi konvensional.

Banyak dari SDM ekonomi syariah yang tidak benar-benar memahami ekonomi syariah karena banyaknya praktisi-praktisi ekonomi konvensional yang langsung berpindah ke ekonomi syariah, sehingga menyebabkan lemahnya pemahaman terhadap ekonomi syariah. Peran perguruan tinggi sangat penting untuk keseragaman standar ekonomi Islam. Saat ini, masih sangat terbatas perguruan tinggi yang menyediakan Jurusan Ekonomi Islam. Diperlukan SDM yang memahami dua bidang, yaitu ekonomi keuangan konvensional dan ilmu syariah. Sering dijumpai SDM yang mempelajari ekonomi Islam hanya unggul di satu bidang. Unggul pada ilmu syariah, tetapi tidak memahami ilmu ekonomi keuangan. Begitu pun sebaliknya, unggul pada ilmu ekonomi keuangan, tetapi tidak memahami ilmu syariah. Sangat sulit bagi masyarakat di pedesaan untuk mengakses bank syariah, serta sulit ditemukan ATM bank syariah di beberapa daerah. Hal ini membuat masyarakat lebih memilih bank konvensional karena mudah diakses dan ada di mana saja. Memperluas jaringan kantor dan meningkatkan pelayanan akan menjadi salah satu solusi untuk membumikan ekonomi Islam pada sektor perbankan. Berbagai tantangan inilah diharapkan bisa menjadi motivasi untuk tetap memperluas ekonomi islam di Indonesia. Perlu sosialisasi secara maksimal kepada masyarakat luas untuk menanamkan paham ekonomi islam. Dalam mewujudkan pemahaman yang lebih terhadap ekonomi syariah kepada masyarakat, perlu adanya iven-iven berbasis syariah yang bertujuan untuk membuka pandangan masyarakat. Selain itu, diperlukan adanya tenaga pendidik sehingga bisa menciptakan SDM yang kuat pondasinya dalam memahami ekonomi Islam. Serta dibutuhkan pengelola yang benar-benar memahami prinsip-prinsip syariah dalam praktiknya dan harus mempunyai komitmen dalam penerapannya secara konsisten. Dukungan dari pemerintah juga dibutuhkan untuk membuat fatwa yang menjadi standar dalam menjalankan sistem ekonomi Islam.

Terdapat 138 fatwa DSN-MUI tentang ekonomi Islam yang menjadi bimbingan bagi umat.  Tetapi fatwa-fatwa ini sangat bergantung pada ekonomi klasik karena memadukan transaksi modern dengan akad-akad, sehingga fatwa hanya sebagai alat untuk membenarkan transaksi konvensional. Perlu adanya penelitian tentang perkembangan ekonomi Islam untuk menemukan kendala yang dihadapi umat Islam dalam membumikan ekonomi Islam di Indonesia, sehingga bisa menemukan solusi untuk memecahkan masalah-masalah tersebut. Baiknya para peneliti melibatkan pakar ushul fikih dalam penelitiannya, karena ilmu ushul fikih sangat penting dalam ilmu-ilmu syariah. Melalui ilmu inilah kita dapat mengetahui maksud dalil baik dari Alquran maupun hadis, karena ilmu ushul fikih menjadi satu-satunya cara untuk mengetahui hukum syariah. Pengawasan pada bank syariah sangat diperlukan agar pada praktiknya tidak hanya sebagai formalitas, tetapi benar-benar mengikuti prinsip dan sistem ekonomi Islam. Apalagi pada bank konvensional yang membuka cabang bank syariah, tidak menutup kemungkinan bahwa sistemnya juga menganut ekonomi konvensional. Bank syariah yang tidak patuh dan luput dari pengawasan akan merusak kepercayaan masyarakat pada bank syariah. Bukan hanya pengawasan, pembinaan terhadap pegawai bank syariah juga diperlukan. Sehingga ekonomi Islam hadir bukan untuk kesengsaraan umat, melainkan kesejahteraan umat.***

Nurul Azizah Surury adalah mahasiswi asal Kabupaten Siak yang kini sedang kuliah di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Jurusan Akuntansi Syariah  IAI Tazkia, Bogor, Jawa Barat.

Sumber: www.riaupos.jawapos.com > Opini – Ekonomi Islam di Indonesia – Nurul Azizah Surury

Link:
https://riaupos.jawapos.com/6023/opini/04/05/2021/ekonomi-islam-di-indonesia.html

Terima kasih telah mengunjungi website kami.

Rizqi ZakiyaEkonomi Islam di Indonesia
read more

Resmi..Institut Tazkia Luncurkan Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam

No comments

Institut Tazkia resmi meluncurkan Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam sebagai bagian dari proses pembelajaran mahasiswa pada jenjang Strata Satu (S1).

Dalam peluncuran itu juga melakukan Webbinar bersama Tokoh Ekonomi Syaffi Antonio dan Kalangan Media Massa.

Rektor Institut Tazkia Murniati Mukhlisin mengatakan, kehadiran Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam ini merupakan bagian Tri Darma Perguruan Tinggi sehingga bisa menambah kekayaan ilmu pengetahuan.

Banyak keuntungan saat Mahasiswa mengikuti Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam seperti bisa melakukan publikasi berbagai tata cara pola kehidupan seperti adanya standar Halal dalam berbagai produk kehidupan masyarakat.

“Dalam pengembangan keilmuan Komunikasi dan Penyiaran Islam itu bisa memberikan wawasan kepada masyarakat untuk bisa mengenal Wajah Islam yang Indah sesuai ajaran Agama, bukan Wajah Islam yang Radikal dan Teroris,” Katanya, Rabu (31/3/2021).

Dalam Komunikasi dan Penyiaran Islam Mahasiswa akan mendapatkan pengajaran dari Dosen pengajar dari berbagai Perguruan Tinggi Nasional dan Internasional sehingga bisa menambah sumber ilmu untuk kemajuan Iptek dan Ketaqwaan Bangsa Indonesia.

Miftahul AnwarResmi..Institut Tazkia Luncurkan Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam
read more

Islamic finance starts at home, not at the bank, says university head and financial management coach Dr. Murniati Mukhlisin

No comments

JAKARTA – Indonesia is home to the world’s biggest Muslim population but Islamic finance comprises only around 10% of financial assets. The government wants Islamic banks, as a sub-sector, to reach at least 15% of total banking assets by 2023 (it was 6.47% last year) and it has a national masterplan to drive growth.

Considering the low uptake of Islamic finance, one woman believes Muslims need a different approach. Dr. Murniati Mukhlisin has been on a mission to teach finance the Islamic way through families, not banks.

“I feel that 90% of Indonesians, whether on campus, in the industry or at the grassroots or family level, don’t really embrace Shariah as their lifestyle,” the Rector of Islamic university Institut Tazkia told Salaam Gateway.

Dr. Murniati became Rector of the university in 2017. She started her career at Uni Bank in Jakarta and also worked at Ernst & Young in Kuala Lumpur. She moved into academia in 2002 when she was a lecturer in Islamic accounting and finance and later became an affiliate staff at the University of Glasgow after completing her PhD in 2014. Before joining Tazkia she was at the Essex Business School at the University of Essex.

What the educator considers to be an issue is that young people are driven to view Islamic finance as a career goal, and that degrees are only a pathway to a good job.

“For me, a good job is an additional goal; the main goal is practising Shariah as a lifestyle. In this context, Islamic financial planning or management is a daily need.”

She has the privilege of practising what she preaches at the university where the finance curriculum blends in Quran and Islamic scholarship. At the same time, away from Tazkia, Dr. Murniati runs a company that coaches individuals and families on Islamic financial management. In the last eight years alone, Sakinah Finance has trained 23,173 participants from 28 countries. The company, which she opened with her husband Dr. Luqman Tamanni in 2008, started with a blog that grew into a bestselling book.

In many ways, Dr. Murniati was compelled to start Sakinah Finance not only because of what she wanted to change at the industry level but more so due to her own personal struggles.

“At the industry level, from my personal experience when I started work at Uni Bank in 1991—where our office was next to Bank Muamalat (Indonesia’s first Islamic bank)—I saw at the time that Bank Muamalat only introduced Islamic banking products without training their human capital first.

“The staff promoted the products without actually having them in their minds or their hearts.”

At the family level, she sees people from high school to higher education to the workplace with poor understanding of the concept of Islamic financial management.

“For instance on zakat, they only know zakat, infaq and sadaqah when they put their money in the charity box. But beyond that—who are the beneficiaries, how do we manage zakat, how can we advance beneficiaries to make a better living using the funds—they have no clue.

“Most young people preparing for marriage also don’t know much about Islamic financial planning.”

All these observations form layers over the initial core driver of her motivation that goes back three decades—the woman who now leads an Islamic university was not always a Muslim. She was born into a Christian family in South Sumatra and given the name Mu Kim Ni. Her parents were well-off business people who taught her the value of work.

“I learned to become a cashier at my parents’ shop, calculating using an abacus. I made my own ice-cream and sold them in front of the shop, and many other things.”

In her final year of high school she chose to become a Muslim, a decision that fractured the relationship with her family. Rejected, she moved to Jakarta at the age of nineteen and was adopted by foster parents after a recommendation by the Indonesian Chinese Muslim Association.

Perhaps in spite of this painful personal experience, her view of the sanctity of family remains strong.

“As new Muslims, we should maintain a relationship not only with Allah but also with our family. We can’t just break relationships just because we are of different religions.

“My mom, my younger sister and my aunt are Christians but I always try to be close to them. I sent them gifts, food or money at different occasions and alhamdulillah they slowly accepted my new religion.

“The hardest time was when I ran away from home and eventually became independent and able to manage my life.”

She did more than manage. After three years at the conventional Uni Bank she received a scholarship to study at the International Islamic University Malaysia, where she earned her undergraduate degree.

“My intention was to become as good as possible and I was very jealous seeing many clever people. I kept building my knowledge and networking. Later, I saw how it was useful for my life when I took on several positions in industry or on campus – people trust me.”

Dr. Murniati’s other professional contributions make for a long list. She is head of Islamic accounting at the Indonesia Institute of Accountants, a consultant for the central bank (BI), the financial services authority (OJK), and the National Sharia Economy and Finance Committee (KNEKS), expert member of the Indonesian Association of Islamic economics (IAEI), a board member of the Indonesian Economist Association (ISEF), and advisor to the Association of Islamic Fintech Indonesia (AFSI).

Through her personal and professional journey she has maintained her line of truth: “The main message that I want to tell people is that a Muslim wife and husband, or a family, can start to implement financial planning that focuses on Islamic values.”

This has never been more the case than during the pandemic, she believes.

Last year, Sakinah Finance trained and coached more than 10,000 people, three times more than in a “normal” year.

“There is a wife and husband of around 80-years-old attending our eight-hour class a day. Participants from Japan are also curious about preparation for marriage and Islamic financial planning for after marriage life, and there is also enthusiasm from a young wife in the UK.”

Sakinah Finance is also preparing to train more than 1,000 participants, from state-owned companies, in planning for their pensions.

As the economy struggles to recover and continues to inflict joblessness and lower incomes for a lot of Indonesians, Dr. Murniati advises that instead of rushing to find other sources of income or starting a new business, people should stop to first take a moment to self-reflect.

“Is our income all halal? What if some of our income came from sources that weren’t Shariah-compliant? Have we done zakat, infaq and sadaqah? After considering all these, then we can try to find a new solution. This is the basic knowledge in Islam.

“But to implement this is another thing altogether.” (salaamgateway.com)

https://www.salaamgateway.com/story/islamic-finance-starts-at-home-not-at-the-bank-says-university-head-and-financial-management-coach-d?utm_source=Salaam+Gateway+Weekly+Newsletters&utm_campaign=705189be86-EMAIL_CAMPAIGN_2019_11_24_06_09_COPY_01&utm_medium=email&utm_term=0_c1e2a0613b-705189be86-229618912

Miftahul AnwarIslamic finance starts at home, not at the bank, says university head and financial management coach Dr. Murniati Mukhlisin
read more

Riau dan Tazkia Lanjutkan Kerja Sama Sarjana Hafizpreneur

No comments

PEKANBARU — Institut Agama Islam Tazkia melakukan silaturrahim dengan Pemerintah Provinsi Riau sekaligus melakukan diskusi kelanjutan kerja sama. Salah satunya, terkait dengan kelanjutan kerja sama sarjana hafizpreneur.

Silaturrahim dan diskusi ini dihadiri oleh Gubernur Riau Syamsuar, Kepala Dinas Pendidikan Zul Ikram, Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Zulkifli Syukur dan jajaran masing-masing. Sedangkan dari IAI Tazkia dihadiri oleh Rektor IAI Tazkia Murniati Mukhlisin, Wakil Rektor 3 Faried Kurnia Rahman dan Asisten Rektor Bagian Kerjasama Ahmad Abdullah Rahil.

Dalam diskusi tersebut Pemprov Riau dan IAI Tazkia membahas kelanjutan kerja sama yang selama ini sudah berjalan. Dan tahun ini, akan ada lagi putra/i terbaik daerah Riau yang akan diberikan beasiswa oleh Pemprov RIAU untuk Program Sarjana Hafidzpreneur di IAI Tazkia. Dalam proses seleksi tahap pertama ada kurang lebih 400 peserta yang telah mengikuti seleksi.

“Dengan ramainya peminat program beasiswa ini semoga banyak pula putra/i daerah Riau yang bisa berkuliah dan menghafalkan Alquran. Sehingga, bisa kembali ke Riau dan membangun Riau menjadi lebih baik,” kata Gubernur Riau Syamsuar.

Kerja sama Pemerintah Provinsi Riau dengan Institut Agama Islam Tazkia sudah memasuki tahun kedua. Rektor IAI Tazkia Murniati  mengatakan, pihaknya terus berusaha meningkatkan dan memaksimalkan pelayanan agar mahasiswa bisa maksimal dalam studinya.

“Alhamdulillah kondisi mahasiswa/i Riau di Kampus Tazkia sangat baik. Semoga tahun ini makin banyak putra/i Riau yang bisa berkuliah di IAI Tazkia, kami sangat senang bisa membantu merealisasikan program Pak Gubernur terutama dalam penigkatan kualitas SDM,” ujar Murniati.

Saat ini sedang dilakukan seleksi untuk Beasiswa Utusan Daerah Riau tahun kedua di IAI Tazkia. Asisten Rektor bagian kerja sama Ahmad Abdullah Rahil yang juga menjadi ketua tim seleksi menyampaikan, sedang melakukan seleksi untuk tahun kedua.

“Saat ini sedang dilakukan seleksi online bagi yang tidak bisa mengikuti seleksi secara langsung yang sudah kita laksanakan beberapa waktu lalu. Sampai saat ini ada kurang lebih 400 orang yang sudah mengikuti seleksi, targetnya kami akan menyeleksi 600 orang,” ujarnya. (REPUBLIKA.CO.ID)

 

Miftahul AnwarRiau dan Tazkia Lanjutkan Kerja Sama Sarjana Hafizpreneur
read more

Dampak Miras pada Keuangan Keluarga dan Ekonomi Syariah

No comments

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Murniati Mukhlisin dan Ratna Komalasari (Institut Agama Islam Tazkia/Sakinah Finance)

Saat ini para netizen sedang membicarakan tentang Peraturan Presiden (PP) No. 10 Tahun 2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal yang salah satunya mengatur soal penanaman modal untuk minuman beralkohol. Dalam PP No 10 Tahun 2021, terdapat izin permodalan untuk bidang usaha tersebut di beberapa daerah seperti Bali, NTT, Sulawesi Utara dan Papua. Beragam tulisan netizen yang secara umum menggambarkan respon dari masyarakat terhadap peraturan tersebut, ada yang pro dan ada yang kontra.

Secara umum opini masyarakat memandang disahkannya kebijakan tersebut terbagi pada dua alasan. Pertama adalah tidak sesuainya dengan norma yang dianut oleh sebagian besar penduduk Indonesia dan kedua adalah dari segi hitung-hitungan keuntungan dengan disahkannya kebijakan tersebut. Tapi bagaimana respons Sakinah Finance atas kebijakan tersebut?

Miras atau minuman keras adalah salah satu wujud benda haram yang dilarang selain berjudi karena lebih banyak dosa besar dibandingkan manfaatnya (lihat QS Al-Baqarah (2): 219). Dalam Tafsir Al-Muyassar, miras dapat menjadikan seseorang kehilangan akal dan harta bendanya, bahkan dapat memicu kepada kasus kriminal lain. Misalnya permusuhan, perselisihan, penghalang zikir dan sholat, bahkan bisa memperkosa dan membunuh. Di ayat lain, QS Al-Maidah (5): 91, Allah SWT menegaskan untuk menghentikan kedua perbuatan itu.

Dari landasan syariah tersebut dapat diketahui bahwa idealnya sebagai seorang Muslim menolak unsur apapun yang dapat melegalisasi miras karena merupakan dari bagian yang dilarang dalam Islam. Lalu, apakah ada hubungannya antara di sahkannya peraturan tersebut dengan keuangan keluarga?

Minimal ada tiga aspek bagaimana miras ini dapat merusak keuangan keluarga: 1. Menganggu pendapatan keluarga. Kepala rumah tangga yang wajib mencari nafkah tapi kecanduan mengkonsumsi miras tidak akan dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Penghasilannya baik dari bekerja atau berbisnis dapat terancam. Untuk Indonesia sendiri masih kurang umum ditemukan bagaiman miras mampu mempengaruhi keluarga, namun di negara seperti India misalnya isu ini merupakan hal yang serius dan telah banyak dibahas dalam penelitian. Isu tersebut merupakan analisa tentang bagaimana jika salah satu anggota keluarga khususnya yang bertugas mencari nafkah ketika memiliki kebiasaan mengkonsumsi minuman keras, dari berbagai studi tersebut ditemukan ada kecenderungan para pencari nafkah akan menghabiskan pendapatannya untuk minuman keras bahkan hingga mengabaikan pengeluaran rumah tangga yang seharusnya diprioritaskan.

2. Memerlukan biaya kesehatan lebih tinggi.  Secara umum diketahui bahwa miras mengakibatkan ancaman pada kesehatan. Dari beberapa sumber medis diketahui bahwa miras mengganggu sistem pencernaan, merusak hati, menurunkan fungsi otak dan meningkatkan risiko penyakit jantung. Dari risiko-risiko kesehatan tersebut secara logika dapat berdampak pada peningkatan pengeluaran untuk biaya kesehatan.

3. Menganggu investasi keluarga. Investasi sendiri untuk masyarakat secara umum masih belum menjadi tren. Masyarakat masih berasumsi bahwa investasi hanya bisa dilakukan oleh mereka yang tergolong ‘the have’, padahal investasi bisa dilakukan dalam jumlah yang kecil. Dalam konsep Sakinah Finance, secara umum pendapatan akan dibagi pada beberapa hal pertama adalah zakat dan sumbangan, konsumsi, proteksi asuransi syariah, dan investasi syariah. Pada poin satu sebelumnya, miras dapat menyebabkan bengkaknya biaya kesehatan. Jika dari sisi pendapatan sudah berkurang maka aspek-aspek keuangan keluarga lainnya seperti investasi akan terancam.

Ekonomi Syariah

Netizen cukup gembira karena per 2 Maret kemarin, karena Presiden Jokowi telah resmi mencabut lampiran III yang mengatur investasi baru Industri Minuman Keras mengandung Alkohol.

Jelas saja kalau lampiran PP ini dibiarkan, akan sangat berlawanan dengan misi Presiden sendiri yang ingin menjadikan Indonesia sebagai Kiblat Ekonomi dan Keuangan Syariah Dunia pada tahun 2024. Semua sektor ekonomi dan keuangan syariah jelas menentang kehadiran miras di dalam semua lini bisnisnya. Misalnya, lembaga keuangan syariah dilarang menyalurkan pembiayaan untuk perusahaan miras. Sektor makanan dan minuman halal jelas tidak memasukan miras dalam bisnisnya. Pariwisata halal tidak menawarkan miras untuk tamunya. Media Islami dilarang mempromosikan miras.

Namun seyogyanya pencabutan lampiran pada PP tersebut belum ideal karena masih ada ketidakjelasan dari konteks PP keseluruhan. Mengutip pernyataan Sonny Zulhuda, dosen senior bidang Hukum Islam di International Islamic University Malaysia, dia mengusulkan perubahan pasal 77 ayat 2, UU no 11/2020 tentang Cipta Kerja untuk memasukkan Bidang Usaha Minuman Keras ke dalam daftar Bidang Usaha yang Tertutup. Kedua, usulan perubahan terhadap pasal 14 huruf a, pada Perpres No 10/2021 agar tidak membatalkan Perpres No 76/2007 tentang Kriteria dan Persyaratan Penyusunan Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal.

Semoga permasalahan ini akan mendapatkan solusi yang lebih baik dan berkepihakan kepada semua lapisan masyarakat yang sudah tidak kuat lagi menghadapi dampak miras dalam kehidupan mereka.  Wallahu a’lam bis-shawaab. Salam Sakinah!

Miftahul AnwarDampak Miras pada Keuangan Keluarga dan Ekonomi Syariah
read more