Artikel

Research Camp Bersama Ketua STEI Tazkia

No comments
LPPM STEI Tazkia pada Hari Kamis-Jumat 3-4 Mei 2018 mengadakan program Research Camp yang berlangsung di Hotel Sofyan Betawi, menteng, Jakarta Pusat. Dalam keterangan terpisah Kepala LPPM STEI Tazkia, Ries Wulandari, MSi menegaskan beberapa tujuan program ini untuk berkontribusi pada peningkatan kualitas publikasi ilmiah dosen-dosen di Indonesia sebagai bagian dari Pengabdian kepada Masyarakat (PkM).
Hadir sebagai  narasumber utama  Ketua STEI Tazkia, ibu Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc. yang juga merupakan dosen senior prodi Akuntansi Islam.  Narasumber utama memberikan bimbingan sampai dengan proses submit ke Jurnal Internasional Terindex Scopus. Selain itu pada program ini peserta juga mendapat bimbingan academic writing antara lain pengajuan proposal PhD dan naskah ilmiah yang efektif untuk conference internasional.
Narasumber lain yang hadir adalah alumni dari berbagai kampus yang berbagi tentang kehidupan selama menjadi mahasiswa di Australia, UK, dan Belanda.

Dr. Murniati Mukhlisin sedang memaparkan materi kepada peserta yang hadir.

Peserta mengikuti 18 jam sesi materi dengan antusias. Peserta luar berjumlah 12 orang terdiri dari dosen dari Universitas Haluleo Kendari, UGM Yogyakarta, Universitas Gunadharma Jakarta, Universitas Indraprasta Jakarta, STEI SEBI, UIN SUSKA Riau, UIN Syarief Jakarta, dan Praktisi Perbankan dari MayBank Jakarta.

Pesreta sedang berdiskusi dalam salah satu sesi acara

Dosen internal yang terlibat 8 orang merupakan perwakilan Prodi Ekonomi Syariah, Akuntansi Syariah , dan Bisnis Manajemen Syariah STEI Tazkia yang mendapat dukungan dari LPPM dan Program Studi.

 
Program serupa akan digelar sesuai dengan jadwal LPPM dan Narasumber dengan format in house training.
Miftahul AnwarResearch Camp Bersama Ketua STEI Tazkia
read more

One Day Dauroh bersama T.A.Z.K.I.A

No comments
Dramaga, 7 Mei 2018 – Asrama Matrikulasi STEI Tazkia mengadakan program yang bertajuk “One Day Dauroh bersama T.A.Z.K.I.A” dengan mengundang beberapa siswa SMK/SMA di sekitar asrama. 23 siswa perwakilan beberapa sekolah di Bogor hadir pada hari Ahad, 6 Mei 2018 dalam acara yang dilaksanakan mulai Pukul 07.00 hingga sore hari kemarin.
Acara yang diselenggarakan hasil kerjasama Divisi Pembinaan Matrikulasi dan Tazkia Language Center serta dukungan dari Humas STEI Tazkia ini memberikan materi-materi yang menarik bagi para peserta yang hadir. Dengan tema utama yaitu menyiapkan diri menyambut datangnya bulan Ramadhan, para pembicara yang hadir menyampaikan materi diantaranya mengenai Fiqih Shaum dan I’tikaf, Perkembangan Dunia Islam, Keutamaan Bahasa Alquran, Pola Makan & Minum di bulan Ramadhan, serta sharing materi keremajaan sesuai dengan kondisi remaja saat ini.
Dengan adanya kegiatan tersebut, diharapkan STEI Tazkia dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat sekitar, khususnya bagi generasi muda yang masih sangat butuh bimbingan dari pihak-pihak terkait.
“Alhamdulillah, acara berjalan dengan lancar, walaupun masih ada beberapa kekurangan. Semoga kedepannya kami bisa mengadakan acara yang lebih besar lagi, baik dari isi program ataupun jumlah peserta yang hadir.” Ujar Abdul Hamid selaku ketua panitia.
Miftahul AnwarOne Day Dauroh bersama T.A.Z.K.I.A
read more

Islamic Law Days: Ajang Peningkatan Kualitas Mahasiswa Muamalah

No comments

Salah satu standar kualitas mahasiswa adalah kemampuannya dalam menguasai teori dan praktik ilmu pada bidangnya. Teori yang didapatkan di kelas haruslah diiringi dengan pemahaman praktik di lapangan, sehingga terjadi link and match atau keterhubungan antara teori yang dipelajari di kelas dengan apa yang ada di lapangan atau masyarakat.

Guna melakukan sinkronisasi ini maka Program Studi Hukum Ekonomi Syariah STEI Tazkia Bogor mengadakan ajang tahunan yang diberi nama Islamic Law Days. Acara yang diadakan rutin setiap tahun ini menghadirkan beberapa tokoh nasional dan internasional yang ahli dalam bidang syariah, hukum dan ekonomi Islam.

Islamic Law Days 2018 yang berlangsung dari 04-05 Mei 2018 menghadirkan Ust. Makmun el-Thubany, Dr. Saharuddin, M.H. dari Komnas HAM Republik Indonesia serta Dr. Azhar Jaafar  Ramly. Acara yang dikelola oleh Basmalah sebagai Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Program Studi Hukum Ekonomi Syariah berlangsung meriah.

Acara ini diawali dengan Workshop Belajar Bahasa Arab dengan Metode Cepat. Ust. Makmun selaku pemateri memberikan beberapa tips rahasia bagaimana belajar bahasa Arab secara mudah dan cepat. Tidak hanya mahasiswa dari Prodi Hukum Ekonomi Syariah namun juga dari program studi lain juga ikut memadati workshop ini.

Agenda berikutnya yaitu presentasi essay Muamalah yang diikuti oleh mahasiswa STEI Tazkia Bogor. Ada tiga nominasi yang telah lulus seleksi dan berhak untuk mempresentasikan di depan penguji yaitu Dr. Abdurrahman Misno BP, MEI dan Muhammad Kowi, S. Akun. Essay yang masuk sangat menarik dan sangat mungkin untuk dikembangkan menjadi penelitin lebih lanjut, misalnya essay yang ditulis oleh Raehan dengan judul Implementasi Akad Muzaraah dalam Bisnis Modern. Essay ini enjadi juara pertama dalam kompetisi ini.

Selanjutnya adalah lomba Battle of Brain, yaitu cerdas cermat yang berisi materi-materi tentang Muamalah yang diikuti oleh lima orang peserta. Agenda ini sangat meriah karena menguji kemempuan mereka dalam pengetahuan muamalah. Juara pertama dalam ajang ini adalah Adzkia dari Prodi BMS.

Acara puncak dari Islaic Law Days adalah Seminar Nasional dengan tema “Perkembangan Hukum Ekonomi Syariah di Alam Melayu”. Seminar yang diisi oleh Dr. Abdurrahman Misno BP, MEI sebagai Kepala Prodi Muamalah, Dr. Saharuddin, MH. Dan Dr. Azhar Jaafar Ramly dari (University College of Yayasan Pahang (UCYP) Malaysia. Mahasiswa diberikan pemahaman lebih mengenai perkembangan Hukum Ekonomi Syariah di Alam Melayu khususnya di Indonesia dan Dunia.

Pelaksanaan Islamic Law Days 2018 sangat bermanfaat bagi mahasiswa Program Studi Hukum Ekonomi Syariah sehingga ke depan ia akan terus menjadi ajang tahunan prodi ini. “Agenda ini memberikan peningkatan pemahaman mahasiswa khususnya mengenai perkembangan HES (Muamalah) di dunia” demikian ungka Dr. M menutup dengan resmi agenda ini.

Miftahul AnwarIslamic Law Days: Ajang Peningkatan Kualitas Mahasiswa Muamalah
read more

STEI Tazkia inisiasi kerjasama dengan Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia

No comments
 
Dalam sesi sharing bersama manajemen STEI Tazkia, Pak Gufroni Sakaril Ketua Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia, Pak Ghufroni banyak berbagi terkait potensi penyandang disabilitas dan interaksi dengan mereka. Pak Gufroni mengingatkan bahwa Penyandang Disabilitas sama dengan Non Disabilitas. Sama-sama manusia, punya martabat, hak pendidikan, karir, keinginan biologis, keinginan pun sama; ingin menjadi siapapun yang orang lain bisa. Tidak ada yang berbeda as human being ungkap beliau.
Dalam Sharing beliau, pak gufroni mengungkapkan kendala yang terjadi bukan hanya dari sisi penyandang disabilitas, tapi yang lebih penting dari itu adalah lingkungan serta mereka yang berada di sekitar kawan-kawan difabel; apa cukup akomodatif dalam memenuhi kebutuhan kawan-kawan difable atau tidak. Mulai dari perhatian, pelayanan khusus, bantuan, hingga fasilitas yang bersahabat untuk kawan-kawan difabel.
Upaya telah banyak dilakukan, dari dunia Internasional, kita mengenal adanya Convention on the right of person with disabilities (CRPD) yang membantu menyuarakan hak penyandang disabilitas di dunia Internasional. Di dalam Negeri, Indonesia memiliki Undang-undang untuk penyandang disabilitas,  No. 8 2016.
 
Dalam sharing ini, beliau mengungkapkan bahwa dulu, hanya 5% penyandang disabilitas anak yang memiliki akses sekolah. Namun seiring berjalannya waktu, dan upaya yang terus diperjuangkan, sedikit demi sedikit jumlah tersebut semakin meningkat. Dengan fasilitas pendidikan yang baik, dan pendekatan serta fasilitas yang memadai, Penyandang Disabilitas memiliki potensi besar sebagaimana para tokoh dunia, seperti CEO GE, Thomas Alpha Edison, Stephen Hawkins, Albert Einstein, Hellen Keller adalah tokoh dunia yang masuk dalam kalangan penyandang disabilitas baik fisik maupun mental.
Dengan sama besarnya potensi yang dimiliki penyandang disabilitas, maka penting sekali memberikan hak-hak mereka dalam segala hal, termasuk dalam pendidikan. Sebagai kampus pelopor Ekonomi Islam, STEI Tazkia memiliki komitmen untuk merangkul semua kalangan, termasuk calon mahasiswa dari kalangan penyandang disabilitas. Sehingga, diharapkan dikemudian hari muncul pakar Ekonomi Islam penerus perjuangan Ekonomi Islam dari kawan-kawan difable.
Miftahul AnwarSTEI Tazkia inisiasi kerjasama dengan Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia
read more

Inflasi dan Keuangan Keluarga

No comments

By Dr. Murniati Mukhlisin M.Acc, ( Konsultan Sakinah Finance/Ketua STEI Tazkia )*

Hari ini ada kajian riset para dosen atau dikenal dengan “Monday Forum” di Kampus STEI Tazkia. Topiknya menarik, yaitu “Determinan Inflasi: Pembuktian Teori Al-Maqrizi” dibawakan oleh Ketua Program Studi Ekonomi Syairah dan Direktur Pusat Studi Wakaf di STEI Tazkia, Nashr Akbar MEc. Tentu saja kali ini saya tidak akan membahasnya dengan memakai bahasa akademik yang terlalu serius itu, izinkan saya menyambungkan kata inflasi ini dalam konteks keuangan keluarga.

Inflasi itu apa?

Inflasi dikenal oleh masyarakat umum dengan “kenaikan harga barang”, yang akhirnya menurunnya nilai mata uang. Menurut Badan Pusat Statistik, inflasi dapat juga diartikan sebagai penurunan nilai mata uang terhadap nilai barang dan jasa secara umum.

Seringkali inflasi dipicu dari kenaikan harga listrik dan Barang Bakar Minyak (BBM), yang mengakibatkan naiknya ongkos produksi dan kendaraan sehingga berujung kepada melambungnya harga suatu barang dan jasa. Akibatnya, konsumer harus membayar lebih tinggi dari harga yang biasanya.

Sejak tahun 2016 hingga saat ini tingkat inflasi di Indonesia rata–rata di bawah 4 persen (kategori inflasi ringan), pernah di atas 4 persen ketika bulan Ramadhan dan Syawal dimana memang uang THR dan tabungan biasanya digunakan untuk memeriahkan pesta ummat Islam ini. Begitu juga untuk pembayaran zakat yang meningkat drastis di bulan – bulan tersebut yang dapat juga memicu daya beli rakyat miskin untuk keperluan rumah tangganya. Dari data yang ada, nampak trend perayaan natal bulan November dan Desember serta tahun baru tidak begitu memberikan dampak inflasi.

Bukan hal baru

Inflasi adalah bukan hal baru bagi masyarakat di dunia ini termasuk Indonesia maupun dalam sejarah Islam. Jerman mengalami inflasi hiper pada tahun 1922-1923 disusul Austria pada tahun 1931, dan Perancis pada tahun 1944-1966.

Inflasi juga terjadi di Nigeria, Inggris, Meksiko, Amerika juga negara – negara Asia Tenggara termasuk Indonesia, yang terburuk yaitu ketika krisis keuangan dan goncangnya stabilitas politik tahun 1997-1998. Semoga tahun politik kali ini tidak memicu tingkat inflasi. Sebagai gambaran, tingkat inflasi menjelang dan saat Pemilu tahun 2013-2014 sempat di atas 8 persen.

Nashr Akbar memaparkan bahwa menurut al-Thabrani inflasi pernah terjadi pada zaman Rasulullah SAW, 14 abad yang lalu ketika terjadinya kekeringan dasyat di Madinah yang mengakibatkan naiknya harga hewan ternak dan bahan makanan. Begitu juga pada masa Sayyidina Umar bin Khattab pernah terjadi musim penyakit menular (wabah tha’un) di Amawas pada tahun 17 Hijriah dan begitu juga selanjutanya yang terjadi di Mesir.

Al-Maqrizi mengatakan bahwa inflasi bisa terjadi karena dua hal yaitu bencana alam termasuk wabah penyakit seperti kasus di atas dan juga kesalahan manusia. Kesalahan manusia bisa karena korupsi, pajak dan pencetakan uang yang berlebihan.

Kiat jitu menghadapi inflasi

Bulan puasa atau bulan Ramadhan sebentar lagi tiba, kurang dari dua bulan, yang kemudian disusul bulan Syawal atau Idul Fitri dan perayaan “Open House”. Seperti pada tahun sebelumnya, harga barang akan cenderung naik, lantas bagaimana cara keluarga untuk menghadapi inflasi musiman tersebut? Salah satunya adalah merubah gaya hidup.

Sayyidina Umar bin Khattab memberikan contoh merubah gaya hidup ketika musim kelaparan dan inflasi terjadi. Dalam kitab al-Bidayah wan Nihayah karangan Ibnu Katsir, diceritakan bahwa Sayyidina Umar bersumpah tidak mau makan daging, samin dan susu sehingga setiap hari beliau hanya makan minyak zaitun hingga akhir musim paceklik itu.

Berikut adalah beberapa kiat bagaimana keluarga dapat mengatasi inflasi:

Kendalikan nafsu

Sebenarnya bulan Ramadhan adalah bulan mengendalikan nafsu, melatih kesabaran, dan menahan banyak godaan. Namun seringkali kita membuat pembenaran karena alasan Ramadhan adalah satu – satunya bulan yang istimewa sehingga diperlukan makanan minuman istimewa. Banyak di tempat berbuka puasa kita melihat semua makanan menarik dari kolek hingga lauk pauk, namun setelah azan Maghrib berkumandang, perut tak kuasa menampung, sehingga akhirnya banyak sisa makanan dan minuman yang terbuang.

Begitu juga saat Idul Fitri, sebagian keluarga memaksakan semua harus istimewa, baru dan mahal. Rendang dan opor ayam temannya lontong dan ketupat harus ada, walau terpaksa membeli dengan harga daging, ayam, cabe yang melonjak – lonjak. Begitu juga baju dan perabot yang harus diganti.

Malangnya, banyak keluarga yang mencairkan tabungan yang awalnya disiapkan untuk keperluan yang lebih penting. Parahnya, ada yang terpaksa berhutang karena ingin keluarganya dianggap mampu.

Maka dari itu perlu sekali memasang niat sejak awal agar bulan puasa dan lebaran tahun ini kita berubah menjadi yang lebih baik, untuk dapat lebih mengendalikan nafsu.

Daur ulang

Banyak tukang jahit dan perabot yang dapat mendaur ulang hordeng dan sofa juga mengecat ulang perabot rumah tangga tanpa harus membeli baru atau daur ulang istilahnya. Bajupun demikian yang dapat dicarikan alternatif harga murah kalau memang harus baru terutama untuk anak –anak.

Tingkatkan dana tabungan

Loh koq nabung? Iya, justru dengan perkiraan akan adanya pemasukan pendapatan lebih banyak saat Ramadahan dan Syawal, contohnya THR, rencana tabungan dan investasi harus dipikirkan. Hal ini adalah upaya antisipasi untuk mengatasi inflasi yang mungkin tidak kunjung turun di beberapa bulan selanjutnya. Dalam hal ini, tabungan dan investasi dapat menjadi satu solusi.

Pembiayaan syariah

Untuk menjaga tidak terpuruknya keadaaan keuangan kita saat inflasi adalah dengan memastikan semua pembiayaan kita dengan pihak bank adalah berbentuk tetap atau tidak naik turun, karena jika inflasi terjadi, pembayaran cicilan bank akan tetap stabil. Hal ini hanya ditemukan di lembaga keuangan syariah baik perbankan maupun koperasi dengan akad produk dan jasanya yang menjaga kestabilan kondisi keuangan keluarga. Tentu saja lebih menenangkan. Untuk keluarga yang sudah terlanjur mendapatkan kredit dan bank konvensional dapat segera memindahkan pinjamannya ke bank syariah dengan sistem “take over”.

Demikian pesan–pesan inflasi ini disampaikan, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bis-shawaab. Salam Sakinah!

*) Motivator Sakinah Finance/Ketua STEI Tazkia

Miftahul AnwarInflasi dan Keuangan Keluarga
read more

Kerjasama IAI dan Tazkia

No comments

Pada hari Selasa, 10 april 2018, telah diselenggarakan acara penandatanganan nota kesepahaman antara STEI Tazkia dan IAI (Ikatan Akuntan Indonesia) tentang Pelaksanaan USAS (Ujian Sertifikasi Akuntansi Syariah) & CAFB (Certified in Accounting, Finance and Business) bagi mahasiswa STEI Tazkia. Acara ini dihadiri oleh Ibu Dr. Khomsiyah, M.M., Ak., CA., FCMA., CGMA. selaku anggota Dewan Pengurus Nasional IAI, Bapak Yakub, S.E., Ak., M.Ak., CA. selaku Direktur Pengembangan Kompetensi & Implementasi Standar Akuntansi Keuangan IAI, dan Bapak Reza Fauzi yang menjabat sebagai Koordinator Komunikasi dan Pemasaran IAI.

Acara diwali dengan sambutan dari Ibu Dr. Murniati Mukhlisin, Rektor STEI Tazkia, yang menyampaikan harapan besarnya kepada mahasiswa/i jurusan akuntansi syariah agar bersemangat dalam menuntut ilmu dan menambah keahlian dengan mengikuti berbagai ujian sertifikasi yang diadakan oleh lembaga profesional semacam IAI. Dengan memiliki keahlian yang tersertifikasi, insya Allah lulusan STEI Tazkia akan lebih percaya diri dalam menghadapi persaingan di dunia kerja nanti. Selain itu, beliau juga menyampaikan niatnya untuk membuka program Magister Akuntansi Syariah di STEI Tazkia. Menurut beliau, belum ada universitas yang menawarkan program tersebut, sehingga hal ini tentunya akan menjadi daya tarik tersendiri bagi STEI Tazkia.

Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Ibu Dr. Khomsyiah. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan sedikit sejarah IAI yang pada tahun ini telah berusia 60 tahun dan kiprah IAI dalam dunia akuntansi di Indonesia. Beliau juga memberikan motivasi kepada mahasiswa Akuntansi Syariah STEI Tazkia agar kelak dapat menjadi pioneer dalam mendirikan Kantor Jasa Akuntansi Syariah yang saat ini belum ada di Indonesia.

Penjelasan materi dari IAI mengenai SAS dan CA

Selanjutnya, Bapak Yakub dari IAI mempresentasikan materi terkait dengan ujian sertifikasi USAS dan CAFB. Poin penting yang beliau tekankan diantaranya adalah bahwa ahli akuntansi syariah juga harus memiliki basic yang kuat dalam bidang akuntansi konvensional. Hal ini erat kaitannya dengan pencatatan dalam akuntansi syariah yang pada dasarnya mengacu pada akuntansi konvensional. Selain itu, seorang akuntan yang baik tidak hanya harus ahli dalam menyusun laporan keuangan, namun juga harus memiliki kemampuan analitis dan dapat mengikuti perkembangan di dunia keuangan yang selalu berubah. Oleh karena itu, memiliki sertifikasi dalam bidang akuntansi syariah maupun akuntansi konvensional akan memberi nilai tambah bagi mahasiswa yang ingin berkarir sebagai akuntan profesional, baik di perusahaan, lembaga non-profit, maupun menjadi seorang akademisi.

Mahasiswa/i jurusan Akuntansi Syariah dari angkatan 15 dan 16 yang menghadiri acara ini terlihat antusias dengan pemaparan yang diberikan oleh Bapak Yakub. Beberapa di antara mahasiswa/i tersebut mengajukan pertanyaan terkait dengan sistem pelaksanaan ujian sertifikasi dan juga perbedaan antara akuntan profesional di Indonesia dengan negara-negara lainnya.

Penandatanganan MoU oleh Tazkia dan IAI

Acara inti berupa penandatanganan nota kesepahaman atau MoU dilakukan pada pukul 14.30 WIB oleh Ibu Dr. Murniati Mukhlisin selaku perwakilan dari STEI Tazkia dan Ibu Dr. Khomsiyah selaku perwakilan dari IAI. Dengan penandatanganan MoU ini, diharapkan mahasiswa/i STEI Tazkia khususnya jurusan Akuntansi Syariah dapat mengembangkan keahlian dan kompetensi yang dimiliki serta memperoleh ilmu yang kelak diamalkan agar menjadi manfaat bagi umat.

Program Studi Akuntansi IslamKerjasama IAI dan Tazkia
read more

Fintech Syariah Butuh Fatwa yang Mendesak

No comments

Kebutuhan akan fatwa fintech syariah dinilai mendesak karena fatwa akan menjadi panduan. Wakil Ketua STEI Tazkia yang menginisiasi Pusat Kajian Fintech Syariah di STEI Tazkia, Murniati Mukhlisin, menjelaskan bahwa bersama DSN MUI, pihaknya tengah mengawal fatwa fintech syariah.

Karena masih wacana, selama fatwa belum keluar, panduan fintech syariah masih belum jelas. Keberadaan sandbox oleh regulator belum cukup dan tetap harus ada panduan fatwa. “Produk konvensional mudah dijual dan mudah diakadsyariahkan, tapi itu harus dipandu fatwa,” ungkap Murniati di sela-sela penganugerahan Tokoh Perubahan Republika 2017 di Jakarta, Selasa (10/4).

Pihaknya sudah rapat bersama DSN pada Februari lalu dan menargetkan fawa tersebut bisa diluncurkan pada Maret. Melihat kondisi saat ini, Murniati menduga kemungkinan fatwa fintech syariah akan DSN munculkan pada April ini.

“Saya sempat mengusulkan adanya alur-alur panduan bagi fintech dalam fatwa itu sehingga audit syariah internal fintech pun jalan sejak awal karena ada beberapa hal yang sensitif. Apagi fatwa harus tetap merujul pada fatwa sebelumnya,” ujar Murniati.

Mewakili Indonesia, Murniati juga diundang di Cambrige University, Inggris, untuk memberi masukan model fintech yang cocok untuk GCC. Ia optimistis masukan-masukan dari Indonesia bisa didengar. Yang ia tawarkan adalah model urun dana (crowd fund) atau pembiayaan antar individu (P2P).

Model fintech syariah Singapura adalah urun dana dengan pasar Indonesia. Sementara itu, model fintech sendiri lebih cocok P2P karena jarak antar kota yang jauh dan penduduk yang besar. “Misalnya, Saudi bisa dicoba seperti model fintech syariah Singapura. Mereka sudah mulai, tapi sifatnya sosial. Fintech bisa membuat daya ungkitnya lebih besar,” kata Murniati.

Di Indonesia, fintech syariah asing tidak boleh beroperasi kalau tidak mendapat izin otoritas. Ketegasan BI dan OJK sudah berjalan. Jika ada fintech kecil yang mengumpulkan dana masyarakat, OJK akan kesulitan menangani itu. Karena itu, Murniati menyarankan agar OJK merelaksasi aturan dengan membuat pelevelan fintech seperti di perbankan.

Miftahul AnwarFintech Syariah Butuh Fatwa yang Mendesak
read more

LPPM-Tazkia Hadirkan BI dalam acara Monday Forum

No comments

Senin, 09 April 2019 M/ 22 Rajab 1439 H, Kepala LembagaPenelitiandanPengabdianMasyarakat (LPPM) STEI Tazkia, Ibu Ries Wulandari mengundang salah satu peneliti Departemen Ekonomi Keuangan Syariah Bank Indonesia (BI) yaitu Ibu Siti Rahmawati untuk sharing terkait Kebijakan Pengembangan Ekonomi Keuangan Syariah pada acara rutin Monday Forum.

Saat ini, Indonesia dengan mayoritas muslim terbesar belum dapat menjadi benchmark dalam perkembangan ekonomi syariah. Menurut Global Islamic Economics,  Indonesia masuk kedalam sepuluh besar pada tiga kategori industri halal yaitu, keuangan, farmasi & kosmetik halal serta travel. Ibu Siti memberikan gambaran kunci sukses keuangan syariah dari beberapa negara benchmark seperti Malaysia, Sudan dan Dubai yaitu dengan mencanangkan keuangan syariah sebagai program nasional. Hal ini sejalan denganharapan BI mengenai pengembangan keuangan syariah ke depan yaitudengan membuat otoritas khusus keuangan syariah.

Pemaparan dilanjutkan dengan diskusi dengan dosen-dosen STEI Tazkia. Diskusi ini membahasbagaimana mengembangkan sumber daya manusia yang dibutuhkan bagi keuangan syariah dengan harapan STEI Tazkia dapat berkontribusi dalam riset serta sumber daya manusia syariah yang berkualitas.

Monday Forum dilanjutkan dengan presentasi proposal penelitian dari dua dosen Tazkia yaitu Nashr Akbar dengan judul penelitian ‘Determinan Inflasi: Pembuktian Teori AL-MAQRIZI.’ Pemaparan selanjutnya tentang ‘Analisis Rantai: Pendekatan dalam Merancang Produk Keuangan Syariah. (Studi Kasus Pada Perajin Sepatu yang tergabung pada Koperasi Pengrajin Sepatu Ciomas Bogor)’ oleh Mukhamad Yasid.

 

Miftahul AnwarLPPM-Tazkia Hadirkan BI dalam acara Monday Forum
read more

Ukhuwah dan Berjamaah Kunci Kejayaan Ekonomi Syariah

No comments
Ekonomi Syariah bukanlah hanya milik perbankan,  asuransi, pasar modal, dan lembaga keuangan modern lainnya. Ia adalah milik umat Islam, bahkan jika merujuk pada fungsi Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam, maka sejatinya ekonomi Islam adalah ekonomi yang selaras dengan fitrah manusia tanpa melihat agama dan kepercayaannya. Merujuk pada fakta ini maka ekonomi syariah haruslah terus disebarkan ke seluruh pelosok negeri bahkan ke setiap sudut jagad raya.
Salah satu dari kunci sukses penyebaran ekonomi syariah adalah Dakwah Ekonomi Syariah yang harus terus digaungkan oleh para dai dan seluruh umat Islam. Tentu saja ia melibatkan seluruh komponen umat Islam untuk memanfaatkan seluruh moment yang ada sebagai masa untuk mengenalkan dan mensosialisasikan ekonomi yang adiluhung ini.
Perayaan Hari Besar Islam adalah moment yang sangat special karena pada hari tersebut umat Islam berkumpul dan telah siap dengan tausiah Islamiyah. Sehingga moment ini tidak boleh disia-siakan untuk menyebarkan, mengenalkan, dan memahamkan umat mengenai ekonomi Islam.
Dr. Abdurrahman Misno BP, MEI sebagai Kepala Prodi Hukum Ekonomi Syariah sangat memahami hal ini, sehingga saat diundang untuk menyampaikan tausiah Islamiyah selalu memanfaatkan momen ini untuk mengenalkan dan mensosialisasikan ekonomi syariah. “Kalau kita betul-betul taat Allah dan RasulNya, dan kita juga mencintai Umat Islam dan Indonesia maka satu-satunya cara adalah dengan melaksanakan ekonomi Syariah” demikian ujar Dr. M dengan lantang di hadapkan Jamaah Masjid Nuruzaman Bogor Tengah.
Tausiah yang dihadiri oleh ibu-ibu, bapak-bapak, remaja masjid dan anak-anak yang berada di Bogor Tengah berlangsung sangat meriah. Bahkan hadirin yang hadir rela duduk di teras masjid dan jalan raya di depan masjid.
Dalam tausiahnya Dr. M menyatakan bahwa ekonomi Islam tidak akan bisa berjaya tanpa adanya ukhuwah Islamiyah yang kokoh, salah satu yang bisa diaplikasikan dengan mudah adalah dengan membeli dari saudara muslim. Selain itu menurut dosen STEI Tazkia ini bahwa *Berjama’ah* adalah kunci sukses berikutnya. Tidak akan maju umat ini jika masih berkutat dalam perselisihan furuiyyah, merasa benar sendiri dan mudah menyalahkan orang lain. Maka berjamaah adalah kita bersama memajukan ekonomi syariah dengan membentuk berbagai lembaga bisnis yang berbasis umat.
Doktor bidang Islamic Law dari UIN Sunan Gunung Djati ini juga menyatakan bahwa saat ini masa di mana kita harus berjihad, jihad yang sangat urgen dan kontekstual adalah Jihad Ekonomi Syariah. Saat ini umat Islam tengah dijajah secara ekonomi, maka melawan kapitalisme dengan santun adalah solusi mulia.
Maka, Ukhuwah dan Berjamaah adalah salah satu kunci sukses bagi berjayanya ekonomi syariah. Sehingga sudah saatnya kampus dan akademisi terus menyebarkan ekonomi Syariah, salah satu medianya adalah momen di mana umat Islam berkumpul yaitu hari-hari besar Islam. Mari Jalin Ukhuwah dan Sentiasa Berjamaah.
Miftahul AnwarUkhuwah dan Berjamaah Kunci Kejayaan Ekonomi Syariah
read more

Ada Berkah di Setiap Sinergi Ekonomi Syariah

No comments

Sentul City, 23 Maret 2018 M. / 6 Rajab 1439 H.

Sinergi adalah keniscayaan dalam menghadapi globalisasi. Saling mengenal, memahami, membantu, menolong dan kerjasama adalah sarana dalam mencapai keberkahan. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW “Sesungguhnya Allah bersama dua orang yang berserikat… “.
STEI Tazkia mengaplikasikan hadits Nabi yang Mulia ini dalam bentuk Memorandum of Understanding (MOU), melalui Program Studi Hukum Ekonomi Syariah (Muamalah) melakukan kerjasama dengan Karimsyah Law Firm, sebuah kantor pengacara ternama di kancah nasional.
MOU yang dilakukan antara STEI Tazkia dan Karimsyah Lawfirm dalam ruang lingkup, magang, riset dan training bidang Hukum Bisnis Syariah.
Dr. Murniati Mukhlisin, M. Acc menyambut baik MOU dengan menyatakan bahwa sudah saatnya sinergi itu dilakukan karena ia merupakan pintu-pintu keberkahan.
Sementara dari Karimsyah Lawfirm Bapak Mirza A Karim, LLM Menyatakan bahwa saat ini Indonesia kekurangan para ahli legal drafter dan ahli sengketa ekonomi syariah.
Penandatanganan ini merupakan rangkaian Pendidikan dan Pelatihan Aspek Hukum Ekonomi Syariah di Indonesia yang diselenggarakan oleh Prodi Muamalah.
“Keahlian Legal Drafting dan Ahli Sengketa Ekonomi Syariah adalah salah satu dari keahlian yang harus dimiliki mahasiswa Prodi Muamalah” ungkap Dr. Abdurrahman Misno BP, MEI selaku Kepala Prodi Hukum Ekonomi Syariah STEI Tazkia.
Adhen mahasiswa Muamalah angkatan 16 menyatakan “Pelatihan ini sangat bermanfaat buat kami, namun kalau bisa waktunya ditambah lagi karena dua hari di rasa kurang”. Menyikapi hal inu Dr. Misno berjanji akan terus mengadakan kegiatan sejenis bagi mahasiswa. “Ini komitmen Prodi Muamalah untuk mahasiswanya, menjadikan mereka sudah siap di industri ekonomi syariah” jawab Dr. Misno, MEI.


Pelatihan dan MOU ini semakin membuktikan bahwa STEI Tazkia semakin komitmen untuk membekali mahasiswanya dengan kemampuan teori yang mendalam dan pemahaman praktik yabg komprehensif. drm.

Rizqi ZakiyaAda Berkah di Setiap Sinergi Ekonomi Syariah
read more