Artikel

Inflasi dan Keuangan Keluarga

No comments

By Dr. Murniati Mukhlisin M.Acc, ( Konsultan Sakinah Finance/Ketua STEI Tazkia )*

Hari ini ada kajian riset para dosen atau dikenal dengan “Monday Forum” di Kampus STEI Tazkia. Topiknya menarik, yaitu “Determinan Inflasi: Pembuktian Teori Al-Maqrizi” dibawakan oleh Ketua Program Studi Ekonomi Syairah dan Direktur Pusat Studi Wakaf di STEI Tazkia, Nashr Akbar MEc. Tentu saja kali ini saya tidak akan membahasnya dengan memakai bahasa akademik yang terlalu serius itu, izinkan saya menyambungkan kata inflasi ini dalam konteks keuangan keluarga.

Inflasi itu apa?

Inflasi dikenal oleh masyarakat umum dengan “kenaikan harga barang”, yang akhirnya menurunnya nilai mata uang. Menurut Badan Pusat Statistik, inflasi dapat juga diartikan sebagai penurunan nilai mata uang terhadap nilai barang dan jasa secara umum.

Seringkali inflasi dipicu dari kenaikan harga listrik dan Barang Bakar Minyak (BBM), yang mengakibatkan naiknya ongkos produksi dan kendaraan sehingga berujung kepada melambungnya harga suatu barang dan jasa. Akibatnya, konsumer harus membayar lebih tinggi dari harga yang biasanya.

Sejak tahun 2016 hingga saat ini tingkat inflasi di Indonesia rata–rata di bawah 4 persen (kategori inflasi ringan), pernah di atas 4 persen ketika bulan Ramadhan dan Syawal dimana memang uang THR dan tabungan biasanya digunakan untuk memeriahkan pesta ummat Islam ini. Begitu juga untuk pembayaran zakat yang meningkat drastis di bulan – bulan tersebut yang dapat juga memicu daya beli rakyat miskin untuk keperluan rumah tangganya. Dari data yang ada, nampak trend perayaan natal bulan November dan Desember serta tahun baru tidak begitu memberikan dampak inflasi.

Bukan hal baru

Inflasi adalah bukan hal baru bagi masyarakat di dunia ini termasuk Indonesia maupun dalam sejarah Islam. Jerman mengalami inflasi hiper pada tahun 1922-1923 disusul Austria pada tahun 1931, dan Perancis pada tahun 1944-1966.

Inflasi juga terjadi di Nigeria, Inggris, Meksiko, Amerika juga negara – negara Asia Tenggara termasuk Indonesia, yang terburuk yaitu ketika krisis keuangan dan goncangnya stabilitas politik tahun 1997-1998. Semoga tahun politik kali ini tidak memicu tingkat inflasi. Sebagai gambaran, tingkat inflasi menjelang dan saat Pemilu tahun 2013-2014 sempat di atas 8 persen.

Nashr Akbar memaparkan bahwa menurut al-Thabrani inflasi pernah terjadi pada zaman Rasulullah SAW, 14 abad yang lalu ketika terjadinya kekeringan dasyat di Madinah yang mengakibatkan naiknya harga hewan ternak dan bahan makanan. Begitu juga pada masa Sayyidina Umar bin Khattab pernah terjadi musim penyakit menular (wabah tha’un) di Amawas pada tahun 17 Hijriah dan begitu juga selanjutanya yang terjadi di Mesir.

Al-Maqrizi mengatakan bahwa inflasi bisa terjadi karena dua hal yaitu bencana alam termasuk wabah penyakit seperti kasus di atas dan juga kesalahan manusia. Kesalahan manusia bisa karena korupsi, pajak dan pencetakan uang yang berlebihan.

Kiat jitu menghadapi inflasi

Bulan puasa atau bulan Ramadhan sebentar lagi tiba, kurang dari dua bulan, yang kemudian disusul bulan Syawal atau Idul Fitri dan perayaan “Open House”. Seperti pada tahun sebelumnya, harga barang akan cenderung naik, lantas bagaimana cara keluarga untuk menghadapi inflasi musiman tersebut? Salah satunya adalah merubah gaya hidup.

Sayyidina Umar bin Khattab memberikan contoh merubah gaya hidup ketika musim kelaparan dan inflasi terjadi. Dalam kitab al-Bidayah wan Nihayah karangan Ibnu Katsir, diceritakan bahwa Sayyidina Umar bersumpah tidak mau makan daging, samin dan susu sehingga setiap hari beliau hanya makan minyak zaitun hingga akhir musim paceklik itu.

Berikut adalah beberapa kiat bagaimana keluarga dapat mengatasi inflasi:

Kendalikan nafsu

Sebenarnya bulan Ramadhan adalah bulan mengendalikan nafsu, melatih kesabaran, dan menahan banyak godaan. Namun seringkali kita membuat pembenaran karena alasan Ramadhan adalah satu – satunya bulan yang istimewa sehingga diperlukan makanan minuman istimewa. Banyak di tempat berbuka puasa kita melihat semua makanan menarik dari kolek hingga lauk pauk, namun setelah azan Maghrib berkumandang, perut tak kuasa menampung, sehingga akhirnya banyak sisa makanan dan minuman yang terbuang.

Begitu juga saat Idul Fitri, sebagian keluarga memaksakan semua harus istimewa, baru dan mahal. Rendang dan opor ayam temannya lontong dan ketupat harus ada, walau terpaksa membeli dengan harga daging, ayam, cabe yang melonjak – lonjak. Begitu juga baju dan perabot yang harus diganti.

Malangnya, banyak keluarga yang mencairkan tabungan yang awalnya disiapkan untuk keperluan yang lebih penting. Parahnya, ada yang terpaksa berhutang karena ingin keluarganya dianggap mampu.

Maka dari itu perlu sekali memasang niat sejak awal agar bulan puasa dan lebaran tahun ini kita berubah menjadi yang lebih baik, untuk dapat lebih mengendalikan nafsu.

Daur ulang

Banyak tukang jahit dan perabot yang dapat mendaur ulang hordeng dan sofa juga mengecat ulang perabot rumah tangga tanpa harus membeli baru atau daur ulang istilahnya. Bajupun demikian yang dapat dicarikan alternatif harga murah kalau memang harus baru terutama untuk anak –anak.

Tingkatkan dana tabungan

Loh koq nabung? Iya, justru dengan perkiraan akan adanya pemasukan pendapatan lebih banyak saat Ramadahan dan Syawal, contohnya THR, rencana tabungan dan investasi harus dipikirkan. Hal ini adalah upaya antisipasi untuk mengatasi inflasi yang mungkin tidak kunjung turun di beberapa bulan selanjutnya. Dalam hal ini, tabungan dan investasi dapat menjadi satu solusi.

Pembiayaan syariah

Untuk menjaga tidak terpuruknya keadaaan keuangan kita saat inflasi adalah dengan memastikan semua pembiayaan kita dengan pihak bank adalah berbentuk tetap atau tidak naik turun, karena jika inflasi terjadi, pembayaran cicilan bank akan tetap stabil. Hal ini hanya ditemukan di lembaga keuangan syariah baik perbankan maupun koperasi dengan akad produk dan jasanya yang menjaga kestabilan kondisi keuangan keluarga. Tentu saja lebih menenangkan. Untuk keluarga yang sudah terlanjur mendapatkan kredit dan bank konvensional dapat segera memindahkan pinjamannya ke bank syariah dengan sistem “take over”.

Demikian pesan–pesan inflasi ini disampaikan, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bis-shawaab. Salam Sakinah!

*) Motivator Sakinah Finance/Ketua STEI Tazkia

Miftahul AnwarInflasi dan Keuangan Keluarga
read more

Kerjasama IAI dan Tazkia

No comments

Pada hari Selasa, 10 april 2018, telah diselenggarakan acara penandatanganan nota kesepahaman antara STEI Tazkia dan IAI (Ikatan Akuntan Indonesia) tentang Pelaksanaan USAS (Ujian Sertifikasi Akuntansi Syariah) & CAFB (Certified in Accounting, Finance and Business) bagi mahasiswa STEI Tazkia. Acara ini dihadiri oleh Ibu Dr. Khomsiyah, M.M., Ak., CA., FCMA., CGMA. selaku anggota Dewan Pengurus Nasional IAI, Bapak Yakub, S.E., Ak., M.Ak., CA. selaku Direktur Pengembangan Kompetensi & Implementasi Standar Akuntansi Keuangan IAI, dan Bapak Reza Fauzi yang menjabat sebagai Koordinator Komunikasi dan Pemasaran IAI.

Acara diwali dengan sambutan dari Ibu Dr. Murniati Mukhlisin, Rektor STEI Tazkia, yang menyampaikan harapan besarnya kepada mahasiswa/i jurusan akuntansi syariah agar bersemangat dalam menuntut ilmu dan menambah keahlian dengan mengikuti berbagai ujian sertifikasi yang diadakan oleh lembaga profesional semacam IAI. Dengan memiliki keahlian yang tersertifikasi, insya Allah lulusan STEI Tazkia akan lebih percaya diri dalam menghadapi persaingan di dunia kerja nanti. Selain itu, beliau juga menyampaikan niatnya untuk membuka program Magister Akuntansi Syariah di STEI Tazkia. Menurut beliau, belum ada universitas yang menawarkan program tersebut, sehingga hal ini tentunya akan menjadi daya tarik tersendiri bagi STEI Tazkia.

Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Ibu Dr. Khomsyiah. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan sedikit sejarah IAI yang pada tahun ini telah berusia 60 tahun dan kiprah IAI dalam dunia akuntansi di Indonesia. Beliau juga memberikan motivasi kepada mahasiswa Akuntansi Syariah STEI Tazkia agar kelak dapat menjadi pioneer dalam mendirikan Kantor Jasa Akuntansi Syariah yang saat ini belum ada di Indonesia.

Penjelasan materi dari IAI mengenai SAS dan CA

Selanjutnya, Bapak Yakub dari IAI mempresentasikan materi terkait dengan ujian sertifikasi USAS dan CAFB. Poin penting yang beliau tekankan diantaranya adalah bahwa ahli akuntansi syariah juga harus memiliki basic yang kuat dalam bidang akuntansi konvensional. Hal ini erat kaitannya dengan pencatatan dalam akuntansi syariah yang pada dasarnya mengacu pada akuntansi konvensional. Selain itu, seorang akuntan yang baik tidak hanya harus ahli dalam menyusun laporan keuangan, namun juga harus memiliki kemampuan analitis dan dapat mengikuti perkembangan di dunia keuangan yang selalu berubah. Oleh karena itu, memiliki sertifikasi dalam bidang akuntansi syariah maupun akuntansi konvensional akan memberi nilai tambah bagi mahasiswa yang ingin berkarir sebagai akuntan profesional, baik di perusahaan, lembaga non-profit, maupun menjadi seorang akademisi.

Mahasiswa/i jurusan Akuntansi Syariah dari angkatan 15 dan 16 yang menghadiri acara ini terlihat antusias dengan pemaparan yang diberikan oleh Bapak Yakub. Beberapa di antara mahasiswa/i tersebut mengajukan pertanyaan terkait dengan sistem pelaksanaan ujian sertifikasi dan juga perbedaan antara akuntan profesional di Indonesia dengan negara-negara lainnya.

Penandatanganan MoU oleh Tazkia dan IAI

Acara inti berupa penandatanganan nota kesepahaman atau MoU dilakukan pada pukul 14.30 WIB oleh Ibu Dr. Murniati Mukhlisin selaku perwakilan dari STEI Tazkia dan Ibu Dr. Khomsiyah selaku perwakilan dari IAI. Dengan penandatanganan MoU ini, diharapkan mahasiswa/i STEI Tazkia khususnya jurusan Akuntansi Syariah dapat mengembangkan keahlian dan kompetensi yang dimiliki serta memperoleh ilmu yang kelak diamalkan agar menjadi manfaat bagi umat.

Program Studi Akuntansi IslamKerjasama IAI dan Tazkia
read more

Fintech Syariah Butuh Fatwa yang Mendesak

No comments

Kebutuhan akan fatwa fintech syariah dinilai mendesak karena fatwa akan menjadi panduan. Wakil Ketua STEI Tazkia yang menginisiasi Pusat Kajian Fintech Syariah di STEI Tazkia, Murniati Mukhlisin, menjelaskan bahwa bersama DSN MUI, pihaknya tengah mengawal fatwa fintech syariah.

Karena masih wacana, selama fatwa belum keluar, panduan fintech syariah masih belum jelas. Keberadaan sandbox oleh regulator belum cukup dan tetap harus ada panduan fatwa. “Produk konvensional mudah dijual dan mudah diakadsyariahkan, tapi itu harus dipandu fatwa,” ungkap Murniati di sela-sela penganugerahan Tokoh Perubahan Republika 2017 di Jakarta, Selasa (10/4).

Pihaknya sudah rapat bersama DSN pada Februari lalu dan menargetkan fawa tersebut bisa diluncurkan pada Maret. Melihat kondisi saat ini, Murniati menduga kemungkinan fatwa fintech syariah akan DSN munculkan pada April ini.

“Saya sempat mengusulkan adanya alur-alur panduan bagi fintech dalam fatwa itu sehingga audit syariah internal fintech pun jalan sejak awal karena ada beberapa hal yang sensitif. Apagi fatwa harus tetap merujul pada fatwa sebelumnya,” ujar Murniati.

Mewakili Indonesia, Murniati juga diundang di Cambrige University, Inggris, untuk memberi masukan model fintech yang cocok untuk GCC. Ia optimistis masukan-masukan dari Indonesia bisa didengar. Yang ia tawarkan adalah model urun dana (crowd fund) atau pembiayaan antar individu (P2P).

Model fintech syariah Singapura adalah urun dana dengan pasar Indonesia. Sementara itu, model fintech sendiri lebih cocok P2P karena jarak antar kota yang jauh dan penduduk yang besar. “Misalnya, Saudi bisa dicoba seperti model fintech syariah Singapura. Mereka sudah mulai, tapi sifatnya sosial. Fintech bisa membuat daya ungkitnya lebih besar,” kata Murniati.

Di Indonesia, fintech syariah asing tidak boleh beroperasi kalau tidak mendapat izin otoritas. Ketegasan BI dan OJK sudah berjalan. Jika ada fintech kecil yang mengumpulkan dana masyarakat, OJK akan kesulitan menangani itu. Karena itu, Murniati menyarankan agar OJK merelaksasi aturan dengan membuat pelevelan fintech seperti di perbankan.

Miftahul AnwarFintech Syariah Butuh Fatwa yang Mendesak
read more

LPPM-Tazkia Hadirkan BI dalam acara Monday Forum

No comments

Senin, 09 April 2019 M/ 22 Rajab 1439 H, Kepala LembagaPenelitiandanPengabdianMasyarakat (LPPM) STEI Tazkia, Ibu Ries Wulandari mengundang salah satu peneliti Departemen Ekonomi Keuangan Syariah Bank Indonesia (BI) yaitu Ibu Siti Rahmawati untuk sharing terkait Kebijakan Pengembangan Ekonomi Keuangan Syariah pada acara rutin Monday Forum.

Saat ini, Indonesia dengan mayoritas muslim terbesar belum dapat menjadi benchmark dalam perkembangan ekonomi syariah. Menurut Global Islamic Economics,  Indonesia masuk kedalam sepuluh besar pada tiga kategori industri halal yaitu, keuangan, farmasi & kosmetik halal serta travel. Ibu Siti memberikan gambaran kunci sukses keuangan syariah dari beberapa negara benchmark seperti Malaysia, Sudan dan Dubai yaitu dengan mencanangkan keuangan syariah sebagai program nasional. Hal ini sejalan denganharapan BI mengenai pengembangan keuangan syariah ke depan yaitudengan membuat otoritas khusus keuangan syariah.

Pemaparan dilanjutkan dengan diskusi dengan dosen-dosen STEI Tazkia. Diskusi ini membahasbagaimana mengembangkan sumber daya manusia yang dibutuhkan bagi keuangan syariah dengan harapan STEI Tazkia dapat berkontribusi dalam riset serta sumber daya manusia syariah yang berkualitas.

Monday Forum dilanjutkan dengan presentasi proposal penelitian dari dua dosen Tazkia yaitu Nashr Akbar dengan judul penelitian ‘Determinan Inflasi: Pembuktian Teori AL-MAQRIZI.’ Pemaparan selanjutnya tentang ‘Analisis Rantai: Pendekatan dalam Merancang Produk Keuangan Syariah. (Studi Kasus Pada Perajin Sepatu yang tergabung pada Koperasi Pengrajin Sepatu Ciomas Bogor)’ oleh Mukhamad Yasid.

 

Miftahul AnwarLPPM-Tazkia Hadirkan BI dalam acara Monday Forum
read more

Ukhuwah dan Berjamaah Kunci Kejayaan Ekonomi Syariah

No comments
Ekonomi Syariah bukanlah hanya milik perbankan,  asuransi, pasar modal, dan lembaga keuangan modern lainnya. Ia adalah milik umat Islam, bahkan jika merujuk pada fungsi Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam, maka sejatinya ekonomi Islam adalah ekonomi yang selaras dengan fitrah manusia tanpa melihat agama dan kepercayaannya. Merujuk pada fakta ini maka ekonomi syariah haruslah terus disebarkan ke seluruh pelosok negeri bahkan ke setiap sudut jagad raya.
Salah satu dari kunci sukses penyebaran ekonomi syariah adalah Dakwah Ekonomi Syariah yang harus terus digaungkan oleh para dai dan seluruh umat Islam. Tentu saja ia melibatkan seluruh komponen umat Islam untuk memanfaatkan seluruh moment yang ada sebagai masa untuk mengenalkan dan mensosialisasikan ekonomi yang adiluhung ini.
Perayaan Hari Besar Islam adalah moment yang sangat special karena pada hari tersebut umat Islam berkumpul dan telah siap dengan tausiah Islamiyah. Sehingga moment ini tidak boleh disia-siakan untuk menyebarkan, mengenalkan, dan memahamkan umat mengenai ekonomi Islam.
Dr. Abdurrahman Misno BP, MEI sebagai Kepala Prodi Hukum Ekonomi Syariah sangat memahami hal ini, sehingga saat diundang untuk menyampaikan tausiah Islamiyah selalu memanfaatkan momen ini untuk mengenalkan dan mensosialisasikan ekonomi syariah. “Kalau kita betul-betul taat Allah dan RasulNya, dan kita juga mencintai Umat Islam dan Indonesia maka satu-satunya cara adalah dengan melaksanakan ekonomi Syariah” demikian ujar Dr. M dengan lantang di hadapkan Jamaah Masjid Nuruzaman Bogor Tengah.
Tausiah yang dihadiri oleh ibu-ibu, bapak-bapak, remaja masjid dan anak-anak yang berada di Bogor Tengah berlangsung sangat meriah. Bahkan hadirin yang hadir rela duduk di teras masjid dan jalan raya di depan masjid.
Dalam tausiahnya Dr. M menyatakan bahwa ekonomi Islam tidak akan bisa berjaya tanpa adanya ukhuwah Islamiyah yang kokoh, salah satu yang bisa diaplikasikan dengan mudah adalah dengan membeli dari saudara muslim. Selain itu menurut dosen STEI Tazkia ini bahwa *Berjama’ah* adalah kunci sukses berikutnya. Tidak akan maju umat ini jika masih berkutat dalam perselisihan furuiyyah, merasa benar sendiri dan mudah menyalahkan orang lain. Maka berjamaah adalah kita bersama memajukan ekonomi syariah dengan membentuk berbagai lembaga bisnis yang berbasis umat.
Doktor bidang Islamic Law dari UIN Sunan Gunung Djati ini juga menyatakan bahwa saat ini masa di mana kita harus berjihad, jihad yang sangat urgen dan kontekstual adalah Jihad Ekonomi Syariah. Saat ini umat Islam tengah dijajah secara ekonomi, maka melawan kapitalisme dengan santun adalah solusi mulia.
Maka, Ukhuwah dan Berjamaah adalah salah satu kunci sukses bagi berjayanya ekonomi syariah. Sehingga sudah saatnya kampus dan akademisi terus menyebarkan ekonomi Syariah, salah satu medianya adalah momen di mana umat Islam berkumpul yaitu hari-hari besar Islam. Mari Jalin Ukhuwah dan Sentiasa Berjamaah.
Miftahul AnwarUkhuwah dan Berjamaah Kunci Kejayaan Ekonomi Syariah
read more

Ada Berkah di Setiap Sinergi Ekonomi Syariah

No comments

Sentul City, 23 Maret 2018 M. / 6 Rajab 1439 H.

Sinergi adalah keniscayaan dalam menghadapi globalisasi. Saling mengenal, memahami, membantu, menolong dan kerjasama adalah sarana dalam mencapai keberkahan. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW “Sesungguhnya Allah bersama dua orang yang berserikat… “.
STEI Tazkia mengaplikasikan hadits Nabi yang Mulia ini dalam bentuk Memorandum of Understanding (MOU), melalui Program Studi Hukum Ekonomi Syariah (Muamalah) melakukan kerjasama dengan Karimsyah Law Firm, sebuah kantor pengacara ternama di kancah nasional.
MOU yang dilakukan antara STEI Tazkia dan Karimsyah Lawfirm dalam ruang lingkup, magang, riset dan training bidang Hukum Bisnis Syariah.
Dr. Murniati Mukhlisin, M. Acc menyambut baik MOU dengan menyatakan bahwa sudah saatnya sinergi itu dilakukan karena ia merupakan pintu-pintu keberkahan.
Sementara dari Karimsyah Lawfirm Bapak Mirza A Karim, LLM Menyatakan bahwa saat ini Indonesia kekurangan para ahli legal drafter dan ahli sengketa ekonomi syariah.
Penandatanganan ini merupakan rangkaian Pendidikan dan Pelatihan Aspek Hukum Ekonomi Syariah di Indonesia yang diselenggarakan oleh Prodi Muamalah.
“Keahlian Legal Drafting dan Ahli Sengketa Ekonomi Syariah adalah salah satu dari keahlian yang harus dimiliki mahasiswa Prodi Muamalah” ungkap Dr. Abdurrahman Misno BP, MEI selaku Kepala Prodi Hukum Ekonomi Syariah STEI Tazkia.
Adhen mahasiswa Muamalah angkatan 16 menyatakan “Pelatihan ini sangat bermanfaat buat kami, namun kalau bisa waktunya ditambah lagi karena dua hari di rasa kurang”. Menyikapi hal inu Dr. Misno berjanji akan terus mengadakan kegiatan sejenis bagi mahasiswa. “Ini komitmen Prodi Muamalah untuk mahasiswanya, menjadikan mereka sudah siap di industri ekonomi syariah” jawab Dr. Misno, MEI.


Pelatihan dan MOU ini semakin membuktikan bahwa STEI Tazkia semakin komitmen untuk membekali mahasiswanya dengan kemampuan teori yang mendalam dan pemahaman praktik yabg komprehensif. drm.

Rizqi ZakiyaAda Berkah di Setiap Sinergi Ekonomi Syariah
read more

Dakwah Ekonomi Syariah: Menembus Batas

No comments
Oleh; Dr. Abdurrahman Misno BP, MEI (KepalaProdi Hukum Bisnis Islam STEI Tazkia)
Ekonomi Syariah adalah ekonomi adiluhung, ia adalah sistem ekonomi yang pasti benar dan sesuai dengan kebutuhan manusia. Pasti benar karena berasal dari Allah Ta’ala, Dzat Yang Maha Benar. Sehingga setiap muslim harus yakin akan kebenarannya serta tidak ada alasan bagi umat Islam untuk tidak menjalankannya.
Namun sayangnya sosialisasi dan dakwah ekonomi syariah masih sangat terbatas, sehingga masih ada masyarakat yang menganggap bahwa ekonomi syariah tidak jauh berbeda dengan ekonomi ribawiyah. Sebagian lagi menganggap bahwa ekonomi syariah hanya sebatas ekonomi moral dan etika semata.
Padahal jelas, bahwa ekonomi syariah adalah sistem ekonomi yang memberikan solusi bagi berbagai persoalan yang dihadapi oleh masyarakat, riba yang sangat mendzalimi rakyat, denda yang memberatkan nasabah hingga gharar yang hampir ada pada setiap transaksi modern saat ini.
Sayangnya dakwah ekonomi Syariah masih sangat terbatas; ia masih terbatas sebagai subyek kajian akademisi di kampus,  atau bahan pengajian di masjid dan majelis taklim. Sehingga harus ada terobosan baru dalam mensosialisasikan dan mendakwahkannya.  Karena masyarakat tidak hanya ada di masjid, majelis taklim, atau sekolah. Mereka juga ada di pasar, mall, mini market, restaurant dan cafe-cafe.
Salah satu tempat yang banyak didatangi oleh masyarakat baik tua ataupun muda adalah cafe. Mereka tidak hanya makan dan minum, namun juga melakukan aktifitas lainnya seperti arisan, silaturahmi atau hanya nongkrong dan ngobrol sesama mereka.
Cafe Te ‘ Sra adalah salah satu dari cafe yang menjadi tempat nongkrong para remaja dan masyarakat yang tinggal di sekitar Kota Bogor. Cafe ini biasanya digunakan oleh masyarakat Bogor khususnya generasi muda untuk sharing dan unjuk gigi group band mereka. Namun tempat ini kemudian disulap menjadi media dakwah untuk ekonomi Syariah.
Dr. Abdurrahman Misno BP, MEI selaku dosen sekaligus Kepala Program Studi Hukum Ekonomi Syariah (Muamalah) STEI Tazkia Bogor menjadikan cafe ini sebagai tempat untuk berdakwah ekonomi syariah.
Acara yang digelar pada Ahad, 14 Maret 2018 ini mengambil tema “Ekonomi Syariah; Solusi Berkah Dunia Akhirah”.
Sebuah metode dakwah ekonomi syariah yang ‘Menembus Batas’, karena diadakan di tempat yang berbeda dan belum pernah terpikirkan sebelumnya.
“Saya sangat berterimakasih atas acara yang diadakan di tempat ini, sangat bermanfaat bagi saya dan tamu yang hadir” komentar dari Eka Kusmayadi seorang peserta yang merupakan Ketua Ikatan Pustakawan Indonesia ini.
“Upaya untuk mensosialisasikan dan dakwah ekonomi syariah akan terus kami lakukan, karena hanya sistem ekonomi ini yang bisa menjadi solusi berbagai persoalan ekonomi bangsa ini” tutur Dr. M panggilan akrab Dr. Abdurrahman Misno BP, MEI sebagai
pemateri tunggal acara ini.
Para peserta merasa puas dengan kegiatan ini dan menginginkan acara serupa diadakan lagi. “Kami sangat mengharapkan acara ini berlanjut kembali karena kami ingin mengetahui lebih dalam mengenai ekonomi syariah” ucap Ahmad seorang peserta yang merupakan pengusaha dari wilayah Depok.
“Bagi peserta yang ingin lebih dalam belajar ekonomi syariah bisa datang ke STEI Tazkia, karena selain mengajarkan mahasiswa kampus ini juga memiliki 14 pusat studi yang siap melayani masyarakat yang ingin berkonsultasi masalah ekonomi syariah” papar Dr. Abdurrahman Misno BP sedikit beriklan.
Semoga dengan kegiatan ini ekonomi syariah semakin berkembang dan dipahami serta diaplikasikan oleh masyakarat. Karena hanya sistem ekonomi ini yang akan menyelamatkan masyakarat dari jeratan ekonomi kapitalis yang selama ini menghancurkan tatanan perekonomian umat. Wallahualam…
Miftahul AnwarDakwah Ekonomi Syariah: Menembus Batas
read more

Pendidikan Berkarakter TAZKIA

No comments

Oleh; Dr. Abdurrahman Misno BP, MEI
Kaprodi Hukum Ekonomi Syariah (Muamalah) STEI Tazkia

Pendidikan Berkarakter adalah sistem pendidikan yang memiliki karakter berdasarkan nilai-nilai luhur yang telah disepakati bersama di masyarakat. Ia akan semakin sempurna ketika dibimbing oleh wahyu Allah Taala. Inilah salah satu dari implementasi sabda Nabi Yang Mulia “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik”.
Perguruan Tinggi sebagai *Kawah Candradimuka* bagi mahasiswa adalah tempat untuk mewariskan nilai-nilai baik tersebut. Maka perguruan tinggi yang memiliki karakter dan diferensiasi serta terus berinovasi adalah yang akan menjadi pioner bagi sistem pendidikan ke hadapan.
“STEI Tazkia adalah perguruan tinggi yang memberikan pendidikan kepada mahasiswa agar mereka berkarakter Islami, karakter ini didasarkan kepada TAZKIA VALUES yang merupakan kepanjangan dari Tauhid, Amanah, Zero Deffect and Quality Oriented, Knowledge and Competent, Inovatif Istiqamah dan Achievment Through Teamwork” demikian panjang lebar diungkapkan oleh Dr. Abdurrahman Misno BP, MEI selaku perwakilan STEI Tazkia dalam Seminar Internasional yang diadakah STAI Ibnu Sina Batam Kepulauan Riau.
Menurut Dr. M, STEI Tazkia memaknai pendidikan berkarakter dengan nilai-nilai luhur Islam yang berbasis Tauhid, di mana setiap mahasiswa harus memiliki tauhid yang kuat sebagai dasar bagi perilaku mereka sehari-hari. Setelah tauhid mereka kuat maka insya Allah mereka akan amanah, memiliki pengetahuan dan kompetensi yang Islam serta mampu menjadi pioner di tengah masyarakat.
Seminar ini dihadiri oleh tiga pembicara dari Indonesia dan Malaysia. Prof. Dr. Ajmain bin Safar dari UTM Malaysia memaparkan mengenai pendidikan Islam yang harus mencontoh pada model pendidikan Nabawi.
Kesimpulan dari seminar ini adalah bahwa Pendidikan Berkarakter adalah sistem pendidikan yang didasarkan kepada nilai-nilai luhur Islam yang dikombinasikan dengan berbagai teori pendidikan yang berkembang saat ini. Salah satu pendidikan berkarakter yang sudah dipraktikkan adalah pendidikan yang dilaksanakan di STEI TAZKIA dengan konsep T-A-Z-K-I-A. @drmisnomei

Rizqi ZakiyaPendidikan Berkarakter TAZKIA
read more

Dewan Pengawas Syariah (DPS) Muda, Siapa Takut?

No comments

Oleh: Dr. Abdurrahman Misno BP, MEI
Kepala Program Studi Hukum Ekonomi Syariah (Muamalah) STEI Tazkia

Salah satu dari permasalahan yang saat ini dihadapi oleh para fresh graduate adalah persaingan di dunia kerja. Terbatasnya jumlah lowongan kerja tidak berbanding lurus dengan jumlah lulusan perguruan tinggi, akibatnya banyak sarjana muda yang menganggur. Hal ini tentu saja tidak boleh dibiarkan terus-menerus, harus ada upaya baik dari pemerintah ataupun masyarakat mengurangi pengangguran intelektual ini. Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah membekali mahasiswa dengan keterampilan yang memang diperlukan oleh industri bukan hanya mengajarkan teori namun menyiapkan mereka untuk ready dan close to industri adalah langkah yang tidak bisa lagi ditawar.
Industri yang terus bergerak cepat juga meniscayakan perguruan tinggi untuk terus berpacu menyesuaikan diri. Trend sertifikasi profesi yang mulai berkembang di Indonesia menjadi strategi jitu dalam menyiapkan mahasiswa agar bisa memasuki dunia kerja sesuai dengan program studi yang diambilnya. Sertifikasi profesi yang dimiliki oleh seorang fresh graduate menjadi senjata ampuh bagi persaingan kerja di dunia industri.
STEI Tazkia sebagai perguruan tinggi yang memiliki diferensiasi dan dikenal close to industri sangat komitmen dengan hal ini. Pemberian keahlian yang tidak hanya secara teori diajarkan dengan mengaju kepada Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), hasilnya mahasiswa memahami teori yang diajarkan sekaligus implementasinya di lapangan. Lebih dari itu adalah komitmen STEI Tazkia untuk membekali lulusannya dengan sertifikasi profesi yang menjadi kebutuhan industri. Saat ini STEI Tazkia telah membekali mahasiswa yang akan lulus dengan sertifikasi profesi seperti Microsoft Office Specialist (MOS), Brevet A-B Terpadu dan C, Sertifikasi Managemen Perbankan Syariah, Ajun Ahli Asuransi Indonesia Jiwa (AAIJ) dan bidang profesi lainnya.


Program Studi Hukum Ekonomi Syariah (Muamalah) sebagai program studi yang mengkhususkan diri mengkaji hukum ekonomi dengan target lulusan mahasiswa menguasai ilmu fiqh ekonomi Islam yang dipadukan dengan hukum ekonomi nasional saat ini telah sampai pada tahap pembekalan sertifikasi profes bagi para mahasiswanya. “Program Studi ini menyiapkan mahasiswa untuk mampu menjadi Dewan pengawas Syariah (DPS) di berbagai lembaga keuangan syariah (LKS)” papar Dr. Abd. Misno BP, MEI selaku Kepala Program Studi Hukum Ekonomi Syariah (Muamalah). Guna mewujudkan hal ini maka, Prodi ini menjalin kerjasama dengan DSN MUI khususnya DSN Institute dengan membekali mahasiswanya sertifikasi Dewan Pengawas Syariah (DPS) khususnya dalam bidang Koperasi Syariah dan LKM. “Kami sangat menyambut baik kerjasama ini, karena saat ini DSN sangat membutuhkan calon-calon pengawas syariah yang memiliki kemampuan fiqh dan analisa yang kuat tentang bisnis syariah” demikian kata Ust. Dr. Azhaarudin Latif, MH selaku direktur DSN Institute. Ia melanjutkan bahwa dewan pengawas syariah tidak mesti tokoh terkenal yang sudah senior, justru kami sangat mengharapkan alumni dari perguruan tinggi Islam yang kuat dari ilmu fiqh dan memahami praktik bisnis modern, salah satunya adalah mahasiswa dan alumni prodi Muamalah STEI Tazkia.
Langkah ini diambil Prodi HES agar lulusannya telah siap menjadi dewan pengawas syariah, usia tentu saja tidak menjadi halangan karena ilmu dan pemahaman yang mendalam mengenai praktik ekonomi dan bisnis syariah adalah modal utama untuk menjadi dewan pengawas syariah. Semoga prodi ini semakin berjaya, sehingga akan memberikan sumbangan positif bagi perkembangan ekonomi syariah di Indonesia dan dunia. Sehingga ke hadapan ekonomi syariah semakin selaras dengan nilai-nilai Islam yang kita harapkan bersama. @drmisnomei.

Rizqi ZakiyaDewan Pengawas Syariah (DPS) Muda, Siapa Takut?
read more

Peresmian KS212 Mart Ke-100, upaya ummat membangkitkan Kejayaan Ekonomi Islam

No comments

Bogor, 11 Jumadil Akhir 1439, 27 Februari 2018 M. Koperasi Syariah 212, sebagai wadah perjuangan Ekonomi Ummat, terus berupaya untuk memberikan kontribusi terbaik untuk membangkitkan kejayaan Ekonomi Islam di Dunia.

Dengan adanya program KS212 Mart yang berbasis keanggotaan koperasi, KS212 Mart terus berkembang dengan pesat di Indonesia. Tepat pada hari Selasa, tanggal 11 Jumadil Akhir 1439 H / 27 Februari 2018 H diresmikan KS212 Mart Ke-100 dalam jangka waktu kurang dari 9 bulan.

Dr. Syafi’i Antoni, M.Ec. selaku Ketua Koperasi Syariah 212 juga Pembina Tazkia menyampaikan besarnya animo masyarakat untuk dibuka KS212 Mart selanjutnya. Lebih lanjut beliau menyampaikan pasca pendirian Mart, KS212 akan fokus pada produksi kebutuhan harian yang akan menjadi supply utama KS212 Mart dan kebutuhan masyarakat lainnya.

Semoga Ekonomi Ummat bangkit dan mampu merubah wajah dunia yang telah terjajah dengan sistem Ekonomi Kapitalis.

STEI Tazkia dibawah binaan Dr. m. Syafii antonio, M.Ec. yang diketuai Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc. berupaya untuk meregenerasi SDM pebisnis muslim dan pakar ekonomi Islam yang diharapkan mampu menjadi solusi Ekonomi Global.

Rizqi ZakiyaPeresmian KS212 Mart Ke-100, upaya ummat membangkitkan Kejayaan Ekonomi Islam
read more