Berita Terbaru

Tazkia Kembali Meraih Juara Ekonomi Syariah Nasional

No comments

 

IESCO (Islamic Economics Olympiad) merupakan sebuah wadah kegiatan kemahasiswian yang diselenggarakan oleh Program Studi Ekonomi Islam Universitas Darussalam Gontor dan diikuti oleh seluruh mahasiswi atau akhwat dari PTN dan PTS di seluruh Indonesia. Selain sebagai wadah silaturahim lintas PTN dan PTS kegiatan ini juga bertujuan untuk menampung ide kreatif dan inovatif para mahasiswi mengenai suatu fenomena yang terjadi di masyarakat. Tema yang diangkat dalam LKTI (Lomba Karya Tulis Ilmiah) dan LCC (Lomba Cerdas Cermat) IESCO (Islamic Economics Olympiad) ini adalah “Optimalisasi Ekonomi Digital dalam rangka mendukung SDG’s”. Dengan diselenggarakannya kegiatan ini, diharapkan dapat menjadi wadah dan memfasilitasi para mahasiswi untuk menyampaikan gagasannya dalam bentuk Karya Tulis Ilmiah dan Cerdas Cermat, serta mendorong mahasiswi untuk dapat berkontribusi dalam mewujudkan Indonesia menuju SDGs 2030, karena perubahan bangsa ada di tangan pemuda, sebab kualitas suatu negara tercermin pada kualitas pemudanya.

 

IESCO dilaksanakan pada tanggal 15-19 Januari bertempat di kampus pasca serjana Universitas Darussalam. Adapun tujuan diselenggarakannya lomba karya tulis ilmiah ini adalah sebagai berikut:
Untuk mengukur tingkat pemahaman mahasiswi terhadap Ekonomi Islam baik secara teoritis maupun prakteknya.
LCC ini diharapkan dapat menjadi motor penyemangat mahasiswi untuk mengasuh kemampuannya dalam bidang Ekonomi Islam guna memasyarakatkan konsep bersama tentang Ekonomi Islam sebagai sistem ekonomi yang lebih efisien.
Diharapkan dapat menjadi sarana ukhuwah Islamiyah yang diiringi dengan suasana kompetitif, bersaudara, dan Islami.
Tim STEI Tazkia pada cara IESCO ini mengikuti lomba cerdas cermat karena masuk semi final maka pihak panitia mengundang tim STEI Tazkia untuk bersaing dengan Universitas Brawijaya, Universitas Darussalam, Universtas Muhamadiah Yogyakarta dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Smi final terdiri dari 2 babak untuk memilih 3 tim terbaik yang akan masuk ke babak final dan Tim STEI Tazkia merupakan salah satu tim yang masuk final. Dalam sesi final setiap kelompok diberikan kasus untuk dipersentasikan kedepan juri dengan kesempatan berfikir selama 15 detik.dan pada akhirnya Tim dari STEI Tazkia berhasil menjadi juara 1 unggul dari Univeritas Muhammadiah Yogyakarta sebagai juara 2 dan Universitas Barawijaya sebagai juara 3.

Rizqi ZakiyaTazkia Kembali Meraih Juara Ekonomi Syariah Nasional
read more

Ibnu Khaldun, Pajak, dan Negara

No comments

Fungsi pajak itu adalah untuk keadilan semuanya

Foto Nurizal Ismail

Foto Nurizal Ismail

Oleh: Nurizal Ismail *)

Siapa yang tidak kenal dengan Ibnu Khaldun? Dari Barat sampai ke Timur orang menyebut naman itu. Sejumlah teorinya dalam berbagai bidang keilmuan banyak dikembangkan kaum cerdik cendekia saat ini. Misalnya, Haddad (1977) seorang profesor dari Universitas Sidney mengatakan teori pembangunan ekonomi Adam Smith mempunyai kesamaan dengan pandangan Ibnu Khaldun.

Lainnya, Ekonom dan juga penasihat ekonomi President Amerika Ronald Reagan, Arthur Laffer(1940). Dia berpendapat, teori kurva laffernya adalah hasil pengembangan pemikiran pajak Ibnu Khaldun.

Hal ini kemudian didukung Reagan sebagaimana yang ia sampaikan di New York Times pada 2 Oktober 1981, bahwa Ibnu Khaldun mendalilkan, “Pada awal dinasti, pendapatan pajak besar diperoleh dari penilaian kecil. Kemudian pada akhir dinasti, pendapatan pajak kecil diperoleh dari penilaian besar.”

Fakta yang ditampilkan Gwartneh (2006) menarik untuk dikaji. Judulnya Supply-Side Economics. Di dalamnya ada penjelasan, selama 1980-an kebijakan pemotongan pajak telah dilakukan oleh presiden Reagan yang dikenal dengan Reagonomik.

Undang-undang pajak yang disahkan pada 1981 dan 1986  telah mengurangi tarif pajak penghasilan federal Amerika dari 70 persen menjadi sekitar 33 persen. Bagi performa AS, hal ini berdampaknya terhadap ekonomi selama tahun  tersebut sehingga menjadi sangat mengesankan. Tingkat pertumbuhan GNP riil berakselerasi dari tingkat yang lamban di tahun 1970-an, hingga pertumbuhan ekonomi AS melebihi industri negara industri lainnya kecuali Jepang.

Di tahun ini, isu yang sama muncul pada debat pilpres 2019 yang pertama. Ketika itu paslon No 02 mengangkat isu menaikkan pajak rasio sampai 16 persen. Tetapi terlihat paradoks, karena tujuan peningkatan rasio pajak untuk menghilangkan terjadinya praktik korupsi.

Asumsinya, ketika pendapatan pajak naik, maka dapat meningkatkan gaji para penegak hukum di Indonesia, sehingga tidak akan korupsi. Padahal fungsi pajak itu adalah untuk keadilan semuanya. Drajad Wibowo, sebagaimana diberitakan Republika menyampaikan, pasangan Prabowo-Sandi akan menggunakan gagasan Ibnu Khaldun untuk rasio pajak. Bagaimana gagasan Ibnu Khaldun tentang peningkatan pajak rasio ini?

Nama sebenarnya adalah Abu Zayd Abdur Rahman Ibn Khaldun (732-808/1332-1406). Dia dikenal sebagai sejarawan, politisi, diplomat, dan filusuf sosial yang dilahirkan di Tunisia. Toynbee (1935) menganggap karyanya yang brilian ‘Muqaddimah’ (Pengantar Sejarah) sebagai pencapaian paling agung dan intelektual di abad pertengahan. Di dalamnya terdapat perbendaharaan banyak ilmu, seperti sejarah, psikologi, sosiologi, geografi, ekonomi, ilmu politik, dan lainnya.

Konsep pajak Ibnu Khaldun bermula dari penjelasannya tentang  bangkit dan runtuhnya sebuah dinasti, yang terdiri dari lima tahapan: 1) penaklukan dan kesuksesan, 2) stabilitas dan meninggikan diri sendiri, 3) ekspansi ekonomi dan kenikmatan hasil pembangunan, 4) kepuasan dan kompromi, dan 5) berlebih-lebihan, pemborosan, dan dekadensi. Pada tiap-tiap tahapan struktur pajak dan pengeluaran pemerintah memainkan peranan yang sangat penting, sehingga sangat penting membahas tahapan-tahapan tersebut barulah kita dapat mengerti apa yang dimaksudkan dengan peningkatan pajak rasio menurutnya.

Pada tahapan awal, dinasti memiliki kualitas yang baik pada masyarakatnya, merencanakan pengeluaran yang moderat, dan menghormati kekayaan orang lain. Saat itu dinasti menjauhi pajak yang berat. Pada tahap kedua, penguasa memperoleh kekuasaan penuh atas rakyatnya, mengklaim seluruh otoritas untuk dirinya sendiri, mengecualikan mereka, dan mencegah dari mencoba mengambil bagian di dalamnya. Saat itu adalah tahap stabilisasi dan konsolidasi kekuatan, semakin memperkuat perasaan kelompok dan memberi penghargaan kepada para pendukungnya melalui pengeluaran yang baik.

Pada tahap ketiga merupakan kemakmuran ekonomi dan kenikmatan yang diperoleh pemerintah. Sehingga perhatiannya banyak difokuskan pada pengumpulan pajak, administrasi penerimaan dan pengeluaran publik. Pengembangan kota, pembangunan gedung-gedung besar, peningkatan tunjangan pejabat, dan masyarakat umum menarik perhatian.

Beban pengeluaran mewah dan perpajakan meningkat meskipun ketenangan dan kepuasan terjadi. Tahap ini adalah saat terakhir penguasa berada dalam otoritas penuh. Pada tahap keempat, penguasa puas dengan apa yang telah dibangun oleh para pendahulunya: Ia membatasi aktivitasnya, mengikuti jejak mereka dengan cermat. Ia tidak mengambil inisiatif sendiri. Ekspansi kekuatan politik-ekonomi terhenti dan terjadilah semacam stagnasi.

Pada tahap kelima, penguasa menikmati kemewahan, menjalani kehidupan yang sangat mewah, membuang-buang sumber daya yang terakumulasi oleh aturan sebelumnya. Aparat yang tidak kompeten dan tidak memenuhi syarat dipercayakan untuk melakukan hal-hal terpenting dari negara. Orang-orang pengadilan yang menganggur dihargai, dan kritikus yang tulus dihina dan dihukum. Penguasa kehilangan semua jenis simpati dan perasaan kelompok.

Pada tahap ini pajak meningkat. Sementara pendapatan menurun. Ekonomi hancur dan sistem sosial terganggu. Pemerintah menderita penyakit yang tidak dapat disembuhkan, yang menyebabkan kejatuhannya. Kemudian diambil alih oleh dinasti baru, didukung oleh perasaan kelompok yang kuat dan kohesi sosial.

Tahapan yang ditampilkan Ibn Khaldun ini mungkin sedang terjadi di Indonesia, khususnya pada tahapan kelima. Inilah yang akhirnya mengakibatkan banyak rakyat menginginkan pemerintahan baru, yang akhirnya mungkin akan kembali kepada siklus pertama dalam teori Ibnu Khaldun.

Beliau menggambarkan harta itu saling memerlukan antara rakyat (al-raiyyah) dan penguasa (as-Sulthan); Jika penguasa menahannya, maka kekuasaan pada rakyat akan hilang. Sehingga, tahapan-tahapan dalam posisi puncak kegemilangan harus memerhatikan kemaslahatan masyarakatnya dengan mengelola keuangan negara sebaik mungkin.

Inti dari teori perpajakan Ibn Khaldun yaitu untuk menurunkan pembebanan pajak atas jumlah individu-individu yang mampu melakukan aktivitas usaha atau bisnis. Karena dengan cara ini, mereka mendorong perusahaan memperoleh keuntungan yang lebih besar bagi pengusaha dan pendapatan bagi pemerintah.

Alasannya berdasarkan konsep zakat yang disyariatkan oleh Islam yang rate-nya sangat kecil, tetapi memilki kemaslhatan yang besar buat masyarakat. Tampaknya Ibnu Khaldun sepenuhnya memahami tarif dan pendapatan pajak adalah dua hal yang berbeda.

Tarif pajak yang tinggi bukanlah jaminan bahwa hal itu akan memaksimalkan pendapatan pajak. Sebaliknya itu akan menunjukkan pendapatan yang menurun setelah tahap tertentu. Karena tarif pajak yang lebih tinggi menghambat upaya kerja masyarakat. Itu juga mendorong mereka untuk menyiasati, bahkan menghindari pajak. Dampaknya, bukan meningkat, pendapatan pajak justru akan menyusut.

Sistem perpajakan yang sehat yaitu dengan tidak meminta lebih dari yang bisa ditoleransi. Tidak terlalu banyak membebankan biaya kepada siapa pun. Kemudian  negara memperlakukan semua orang dengan adil. Ini membuat negara lebih mudah mendapatkan kepercayaan masyarakat.

Dapat disimpulkan, menurut Ibnu Khaldun, anggaran pemerintah mungkin terjadi surplus, seimbang, atau defisit tergantung pada tingkat pembangunan dan komposisi pengeluarannya. Karenanya tarif pajak akan rendah, sedang, atau berlebihan.  Semuanya itu dikembalikan kepada pemerintah yang berkuasa mau dikemanakan arah sistem dan kebijakan pajaknya. Gagasan Ibnu Khaldun ini bisa kita ambil sebagai ibrah  dalam pengelolaan perpajakan Indonesia.

*) Direktur Pusat Studi Kitab Klasik Islami STEI Tazkia dan Peneliti ISEFID

Arikel ini telah dimuat di Republika Online

Miftahul AnwarIbnu Khaldun, Pajak, dan Negara
read more

Bedanya Keuangan Syariah Maroko dan Indonesia

No comments

Kampus Tazkia kembali menghadirkan pakar global keuangan syariah, Prof. Dr. Mohamed Raougui , Guru Besar Bidang Hukum Syariah di Universitas Muhammad V Rabat yang juga Ketua Dewan Syariah Nasional Maroko.

[Bogor, 21 Januari 2019] Meskipun banyak yang menganggap Indonesia terlambat menerapkan keuangan syariah, padahal negara mayoritas Muslim terbesar di dunia, ternyata tidak sepenuhnya benar. Dibandingkan Malaysia, memang Indonesia terlambat, namun dibandingkan Maroko, Indonesia lebih dulu.

Jika di Indonesia, momentum mulai diterapkannya keuangan syariah di Indonesia ditandai dengan pendirian Bank Muamalat Indonesia pada 1991, di Maroko, bank syariah pertama di Maroko, Umnia Bank baru beroperasi pada awal 2017.

Terlambatnya perkembangan keuangan syariah Maroko ini, dibandingkan negara Muslim lainnya, tentu bukan tanpa sebab. Hal ini dikarenakan peninjauan yang mendalam tentang keuangan syariah untuk diterapkan secara menyeluruh di Maroko. Usulan Keuangan Syariah sudah masuk pembahasan pada tahun 2015 namun finalisasi eksekusi Bank Syariah di Maroko pada tahun 2017.

Hal ini diungkapkan oleh, Prof. Dr. Mohamed Raougui, Ketua Dewan Syariah Nasional Maroko dalam acara Monday Forum di Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Tazkia, hari ini. Monday Forum adalah ajang olah akal civitas akademika kampus Tazkia. Di acara yang rutin diadakan tiap pekan tersebut, peneliti baik dari internal maupun eksternal kampus berkesempatan memaparkan risetnya dan mendiskusikannya dengan peneliti lainnya.

Bank Kerjasama
Menariknya, di Maroko bank syariah tidak disebut “bank syariah” seperti di Indonesia. Di negeri tempat kuliahnya ustad populer, Abdul Somad, Lc., MA, itu bank syariah disebut Bank Tasyarukiyyah atau Bank Kerjasama. Perbedaan lainnya adalah hanya terdapat satu Dewan Syariah di Maroko, Dewan Syariah Pusat tanpa adanya Dewan Pengawas Syariah yang tersebar di berbagai perbankan syariah di Maroko.

Model seperti ini membuat, ketetapan seluruh akad ditentukan langsung oleh Dewan Syariah Pusat Maroko.
Dimoderatori oleh pakar ekonomi syariah asal kampus Tazkia, Dr. Muhammad Syafii Antonio, M.Ec., Dr. Ar Ruki memaparkan perkembangan keuangan syariah di Maroko dalam bahasa Arab.

Siaran langsung Monday Forum, 21 Januari 2019, Anda bisa menonton rekaman diskusi lengkapnya di bawah ini.

Melengkapi, Prof. Dr. Mohamed Raougui, Dr. Muhammad Syafii Antonio, M.Ec. juga menyampaikan perkembangan Keuangan Syariah di Maroko dan Afrika Utara. Dari data yang dipaparkan beberapa negara baru secara optimal mengembangkan proyek keuangan syariah secara masif di atas 2010, lebih cepat Indonesia yang sudah meluncurkan program sukuk dari 2009.

Kerjasama Indonesia – Maroko
Di kesempatan yang sama, Ketua STEI Tazkia, Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc mengomentari paparan Prof. Dr. Mohamed Raougui. “Perkembangan syariah di Maroko ketinggalan dibandingkan negara-negara lain karena hukum pemerintah yang berbeda-beda. Namun dengan hubungan baik antara Indonesia dan Maroko, kedua negara dapat saling berbagi pengalaman untuk akselerasi pengembangan ekonomi dan keuangan syariah”, kata Murniati menjelaskan.

Murniati menambahkan, memang, kunjungan, Prof. Dr. Mohamed Raougui juga dalam rangka penjajakan kerjasama di bidang Sumber Daya Insani (SDI) keuangan syariah di kedua negara. Selain bidang SDI, dijajaki juga kerjasama penelitian antara STEI Tazkia dan Universitas Muhammad V, Maroko di mana, Prof. Dr. Mohamed Raougui menjadi profesor di sana.

“Kunjungan guru besar dari luar negari seperti Prof. Dr. Mohamed Raougui ini adalah salah satu bentuk program rutin tiap semester karena Kampus Tazkia sedang menuju kampus berkelas internasional pada 2025 nanti”, kata Murniati menegaskan.

Penggunaan bahasa asing seperti bahasa Inggris dan Arab serta penerimaan mahasiswa asing juga sedang ditingkatkan. Dengan networking yang kuat, kelak lulusan Tazkia dapat berkiprah di luar negara karena ahli perbankan dan keuangan syariah masih sangat banyak diperlukan.

Download Materi Monday Forum 21 Januari 2019
Silakan unduh materi presentasi: Islamic Finance in Morocco and North Africa oleh Dr. M. Syafii Antonio, MEc dengan mengisi sedikit data di bawah ini. Berkas berformat PDF akan segera terunduh di browser Anda setelah Anda mengeklik, “Download”. Berkas berukuran sekira 2,6 MB.

Rizqi ZakiyaBedanya Keuangan Syariah Maroko dan Indonesia
read more

Global Monetary Trend: Its Effect Towards The Growth of Islamic Finance

No comments

Senin, 14 Januari 2019 / 08 Jumadil Awal 1440 H, dengan Pemateri :Prof. Dr. Muhammad Said, MA. (Ketua Program Doktor Keuangan dan Perbankan Syariah UIN Syarif Hidayatullah) serta Moderator: Ries Wulandari,M.Si (Kepala LPPM STEI Tazkia)

Banyak pertanyaan dibenak masyarakat terkait eksistensi Ekonomi Islam dalam tataran hukum positif saat ini. Begitu pun juga para pelaku sistem ekonomi konvensional mempertanyakan apakah sistem ekonomi konvensional yang saat ini digunakan mampu menghadapi fluktuasi keuangan global.


Dalam pemaparannya di Monday Forum yang diselenggarakan LPPM STEI Tazkia, Prof. Muhammad Said mengatakan “Banyak terjadi kekhawatiran di negara-negara maju terhadap sistem keuangan saat ini, padahal teori ekonomi keuangan telah dirumuskan, namun rangkaian badai krisis belum menunjukkan titik terang akan segera berlalu, apakah penyebabnya?, apakah manusianya yang salah, ataukah premis tentang pembangunan yang kurang tepat?. Lalu bagaimana jika dengan hadirnya sistem keuangan Islam, apakah ia dapat meresolve problema-problema yang terjadi?.”
Kita saat ini hidup di era revolusi digital, platform trading online dan mata uang daring seperti bitcoin, mereka tumbuh dengan cepat sejalan dengan pertumbuhan perusahaan finansial teknologi. Fakta mengingatkan kita bahwa sistem keuangan akan selalu berkembang dan Regulator/pengawas keuangan harus selalu waspada terhadap evolusi tersebut dan berlaku tangkas menghadapinya. Dalam outlook ekonomi tahunan IMF, mengatakan bahwa kita harus berhati-hati terhadap tantangan global yang terjadi pada perekonomian dunia untuk mencegah Great Depresion yang kedua kalinya. (Wall Street Crash (1929-1930).


Premis pembangunan yang kurang tepat juga merupakan kelemahan dari sistem ekonomi dan keuangan konvensional saat ini. Agama dan moral adalah salah satu penyebab masalah ekonomi, selain itu masyarakat juga tamak terhadap uang, dan segala sesuatu. Seperti halnya Plato yang memiliki sifat serakah, Bernard de Mandevilee (1670-1733) “ The Fable of the Bees” greedy animal memberikan dampak yang negatif pada pertumbuhan dan perkembangan ekonomi dan sosial masyarakat. Adam Smith juga sangat mempercayai sifat Materialistic dan Egoistic.


Pada akhirnya kesalahan ekonomi konvensional menyebabkan ketidakadilan dan distribusi kekayaan yang tidak merata, menjadi tidak sejahtera, kesalahan dalam problem solving kemiskinan, eksploitasi sumber daya, terjadinya peperangan untuk memperebutkan sumber daya, inflasi, deflasi, pengangguran. Kesalahan dalam teori konvensional ini membuat proses pembangunan negara menjadi tidak sempurna.
Lalu, bagaimanakah resolusi Islam atas pembangunan ekonomi dan keuangan modern ini. Prof Muhammad Said mengatakan bahwa dalam Islam, manusia adalah sebagai agen ekonomi, yang menjadi makhluk madani, bukan hanya memenuhi keinginan akan tetapi memenuhi kebutuhan akan material dan spiritual. Spiritual manusia menjadi lokus personal yang membuat Ekonomi dan Keuangan Islam dibangun atas dasar hakekat manusia, jasmani dan rohani.
Dalam pembangunan Ekonomi dan Keuangan Islam, menerapkan hukum Islam dalam ekonomi alam, hal ini tumbuh secara cepat di negara barat maupun negara timur. Dalam perkembangan jangka pendek ekonomi dan keuangan Islam masih belum stabil, akan tetapi dalam jangka panjang ekonomi Islam akan menjadi kuat, ia akan tumbuh 30% per tahun sejalan dengan kaum muslim yang telah menggunakan jasa keuangan saat ini sebanyak 1,4 juta orang. Menurut Nida (2016) hari ini industri keuangan telah memakai sistem keuangan Islam secara menyeluruh. Pangsa pasar pada akhir tahun 2018 juga mencapai $ 3,4 juta.

Rizqi ZakiyaGlobal Monetary Trend: Its Effect Towards The Growth of Islamic Finance
read more

“Gerakan Tazkia Mengajar” Kontribusi nyata Mahasiswa STEI Tazkia di Masyarakat

No comments

[Press Rilis Grand Opening GTM-GO]

Alhamdulillah pada hari Rabu, 16 Januari 2019 telah dilaksanakan acara pembukaan Program Gerakan Tazkia Mengajar (GTM) GO yang langsung dibuka oleh Kepala Sekolah MI Hidayatussibyan, Bapak Abdul Rahman. Rangkaian acara dimulai dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an oleh Saudara Ghaznawi Ihyamukhti, dan sambutan-sambutan dari Ketua Pelaksana, Nawarendra dan Pak Aman, sapaan akrab Pak Abdul Rahman. Dilanjut dengan perkenalan peserta GTM GO sebanyak 40 orang yang terdiri dari berbagai angkatan, mulai angkatan 18, 17, dan 16. Dan ditutup dengan do’a oleh saudara Naufal Ahmad.

Acara yang berlangsung di Majlis ta’lim Bahrul Ulum kp. Cihandeuleum RT.01/05 Desa Wargajaya Kecamatan Sukamakmur Bogor ini berlangsung khidmat dan disambut antusias dari masyarakat terutama Kepala Sekolah dan peserta itu sendiri. Sekolah yang bernaung dalam Yayasan Yaspia ini berdiri sejak tahun 1953 yang masih belajar di teras2 rumah, kemudian sekitar tahun 1970-an mulai berdiri madrasah khusus, dan pada tahun 2006 mengibarkan sayapnya dengan mendirikan MTs Al-Amanah. Besar harapan dari masyarakat Sukamakmur untuk mengembangkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi setingkat SLTA-Sederajat.

Rizqi Zakiya“Gerakan Tazkia Mengajar” Kontribusi nyata Mahasiswa STEI Tazkia di Masyarakat
read more

Saham Syariah Masih Belum Syariah

No comments

Kategori saham syariah yang digunakan oleh Jakarta Islamic Index (JII) dianggap masih jauh dari penerapan prinsip-prinsip syariah.

Hal ini terjadi karena, pemberian toleransi maksimal 10% pendapatan non halal dari total pendapatan sudah dipenuhi oleh perusahaan-perusahaan yang tergabung di JII. Namun, masih ada hal lainnya yang perlu dipertanyakan. “Beban bunga pada perusahaan dan perusahaan yang menjadi tempat investasi perusahaan JII juga perlu dibatasi sebagai persyaratan saham berbasis syariah”, kata Dosen, Program Studi Akuntansi Islam, Grandis Imama Hendra, MSc.Acc.

Hal lainnya, menurut Grandis, ada pendapatan dari sumber non halal (bunga) yang tidak disebutkan dalam pengungkapan laporan keuangan. Selain itu, perlakuan dana non halal tidak sesuai dengan PSAK syariah yang menjadi acuan entitas yang berbasis syariah. “Penerimaan dana non halal bercampur dengan pendapatan utama, seharusnya pendapatan tersebut dilaporkan dalam laporan dana kebajikan”, kata Grandis menyimpulkan.

Analisa Grandis ini disampaikan pada Monday Forum STEI Tazkia, Senin, (7/1) di International Class, Lantai 3, kampus Tazkia, Sentul, City, Bogor.  Dalam kajian pekanan ini, Grandis mendapat kesempatan mempresentasikan penelitiannya berjudul, “Risiko Syariah dan Risiko Pelaporan: Tantangan Perusahaan Efek Syariah”.

Penelitian ini mencoba menjawab dua pertanyaan, pertama, bagaimana risiko syariah yang dihadapi oleh perusahaan yang terdaftar pada efek syariah. Kedua, bagaimana risiko pelaporan yang dihadapi oleh perusahaan yang terdaftar pada efek syariah?

Mengukur Kualitas Layanan Perbankan Syariah
Selain Grandis, peneliti STEI Tazkia lainnya yang menjadi narasumber pada Monday Forum kali ini adalah Afif Zaerofi, MM.  Afif membawakan proposal penelitian berjudul “Service Quality and Satisfaction Relationship Model in Sharia Banking: Evidence from Indonesia”.

Penelitian yang akan dilakukan Afif adalah untuk mengajukan dan memvalidasi ukuran kualitas layanan dalam konteks perbankan syariah Indonesia. Dari antaranya adalah, mendeskripsikan persepsi nasabah, kualitas fisik, kualitas proses, kualitas interaksi, dan kualitas teknologi perbankan syariah.

Termasuk, penelitian, apakah dimensi syariah berimbas secara signifikam terhadap kepuasan nasabah? Apakah kualitas teknologi perbankan syariah berimbas signifikan terhadap kepuasan nasabah?

Saksikan Live Streamingnya di Youtube Channel, Tazkia TV di bawah ini:

Monday Forum, adalah wahana olah pikiran rutin yang diadakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengembangan Masyarakat (LLPM), STEI Tazkia. Monday Forum terbuka untuk umum, baik bagi pemateri ataupun audiensnya. Di Monday Forum pemateri, yang umumnya adalah para dosen Tazkia, diberi kesempatan memaparkan hasil penelitiannya atau proposal penelitiannya kepada audiens. Layaknya sebuah diskusi, Audiens pun memiliki kesempatan menanggapi paparan dari pemateri.

Diadakan tiap pekan, pada Senin pagi pukul 9.30-11.30 WIB, Monday Forum telah menjadi ajang para akademisi Kampus Tazkia untuk meningkatkan kapasitas dan kualitasnya. Ajang ini juga bisa digunakan untuk mempersiapkan diri sebelum mengikuti konferensi internasional.

Unduh materi Monday Forum 7 Januari 2019 di sini. Materi terdiri dari:

  1. “Risiko Syariah dan Risiko Pelaporan: Tantangan Perusahaan Efek Syariah”,  Grandis Imama Hendra, MSc.Acc.
  2. “Service Quality and Satisfaction Relationship Model in Sharia Banking: Evidence from Indonesia”, Afif Zaerofi.MM

Untuk mengunduh materi ini, mohon sedikit data Anda. Materi berbentuk PDF dan dikumpulkan dalam satu berkas terkompresi .zip dengan besaran berkas 2,3 MB.  Berkas terkompresi akan segera terunduh di perambah Anda setelah menekan “Download”.

Miftahul AnwarSaham Syariah Masih Belum Syariah
read more

Pengumuman Hasil Seleksi BEST (Beasiswa Ekonomi Syariah Tazkia)

No comments

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Pertama-tama perkenankan kami menghaturkan tahiyyah islamiyyah semoga kita semua senantiasa berada dalam lindungan Allah SWT, Aamiin.

Melalui website ini, kami sampaikan hasil seleksi beasiswa pada hari Senin, 17 Desember 2018.
Berikut nama peserta yang LULUS untuk mengikuti seleksi dan verifikasi tahap akhir yang akan dilaksanakan pada :

Hari/Tanggal       :  Ahad, 13 Januari 2019
Pukul                    : 09:00 – 12:00 WIB
Tempat                : Lab. 2 Kampus STEI Tazkia Sentul

NO NAMA LENGKAP JENIS BEASISWA
1 Athiyatul zahra nabillah hasan PRESTASI
2 Indriani PRESTASI
3 Alfiana Afiah PRESTASI
4 Lala Indah Lestari PRESTASI
5 Siti Annisa Satifa PRESTASI
6 Mohamad Dicky Syahputra PRESTASI
7 Tasya Kharisma N PRESTASI
8 Hasan abbdullah TAHFIDZ
9 Afifah islami mujahidah TAHFIDZ
10 Muhammad Ma’ruf Sidik Ambiya TAHFIDZ
11 Muhammad sholahuddin asyari putra TAHFIDZ
12 Zahran Tsauban Taqy TAHFIDZ
13 Nida Karima Salsabila TAHFIDZ
14 Deni iskandar TAHFIDZ
15 Nuha as salma TAHFIDZ
16 Khusnul Zakwan M TAHFIDZ
17 Salman Abdul Haqqi TIDAK MAMPU
18 Rifza Fauzi TIDAK MAMPU
19 Nadila Putri Utami TIDAK MAMPU
20 Bayu Syaputra TIDAK MAMPU
21 Fatimah Azahra TIDAK MAMPU
22 Ai Cucu Minasari TIDAK MAMPU
23 Jumsah Nawati TIDAK MAMPU

 

Note :

  1. Bagi peserta yang LULUS diwajibkan membawa berkas sebagai berikut :

JENIS BEASISWA PRESTASI :

  • Photo Copy KTP/Identitas lain.
  • Photo Copy KTP Orang tua / Wali
  • Photo Copy Sertifikat Bukti Prestasi Akademik / Non Akademik

JENIS BEASISWA TAHFIDZ :

  • Photo Copy KTP/Identitas lain.
  • Photo Copy KTP Orang tua / Wali
  • Photo Copy Sertifikat Hafalan Alquran dari Lembaga tempat menghafal

JENIS BEASISWA TIDAK MAMPU :

  • Photo Copy KTP/Identitas lain.
  • Photo Copy KTP Orang tua / Wali
  • Surat Keterangan Tidak Mampu
  • Photo Rumah Tampak Depan
  1. Bagi peserta yang TIDAK LULUS dapat diterima melalui jalur reguler tanpa test dengan subsidi uang pangkal Hingga Rp.16.000.000,- berlaku sampai April 2019, untuk pendaftaran hubungi Sadam +62852-1146-4969 WA.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Bogor, 04 Januari 2019

Dibuat oleh,                                                                                                     Diketahui oleh,

TTD                                                                                                                   TTD

Rizqi Zakiya, S.E.I.                                                                                         Andang Heryahya, M.Pd.I., M.Pd
Kepala Bagian Humas                                                                                  Wakil Ketua I Bidang Akademik

Rizqi ZakiyaPengumuman Hasil Seleksi BEST (Beasiswa Ekonomi Syariah Tazkia)
read more

Tazkia Tandatangani Kerjasama Dengan Bahrain Istitute of Banking and Finance

No comments

 

Bahrain Institute of Banking and Finance adalah lembaga di bawah Central Bank of Bahrain yang didirikan 38 tahun yang lalu.

Lembaga ini menawarkan 400 lebih jenis sertifikasi dan program pelatihan untuk mahasiswa dan profesional yang fokus di lembaga perbankan dan keuangan. BIBF juga bekerjasama dengan kampus-kampus terkemuka yang menawarkan program S1 dan S2. Kampus yang telah menjalankan kerjasamanya antara lain adalah University of Bangor dan University of London, UK.

Mahasiswa yang kuliah di kampus-kampus tersebut hanya membayar sekitar BD 12,000 selama 3 tahun studi dengan memakai tempat kuliah di BIBF, Bahrain. Hal ini cukup hemat dibandingkan kalau harus ke Inggris dengan biaya yang bisa mencapai lebih dari 3 kali lipat. Setelah selesai studi, mahasiswa program ini akan dapat mengikuti wisuda di Inggris dan menerima ijazah dari kampus di Inggris.

Murniati Mukhlisin, Ketua STEI Tazkia dan Ahmed A. Hameed A. Ghani A-Shaikh sebagai Direktur BIBF pada tanggal 2 Januari yang lalu telah menandatangani memorandum kerjasama yang bertempat di Manama, ibukota Bahrain. Harapannya setelah penandatangan memorandum kerjasama ini, BIBF dan Tazkia dapat menjalankan program yang sama di Manama, Bahrain dan Bogor, Indonesia.

Murniati saat diwawancara mengatakan bahwa kerjasama dengan Bahrain sebagai negara Gulf Cooperation Council ini sangat strategis dimana keuangan syariah tumbuh pesat. Menurut Global Islamic Finance Report (GIFR) 2018, Bahrain sendiri menduduki peringkat sepuluh besar bersama-sama dengan negara teluk lainnya seperti Saudi Arabia, UAE, Qatar dan Kuwait. Dari peringkat ranking yang sama Indonesia menduduki posisi keenam pada tahun 2018 dengan jumlah aset senilai 81,8 juta dolar AS.

Dengan menambah wawasan global dan sertifikasi asal negara Teluk ini, alumni Tazkia dapat nantinya bersaing di level internasional.

Kebutuhan SDM perbankan dan keuangan syariah masih tumbuh sesuai dengan proyeksi aset keuangan syariah global yang saat ini berjumlah lebih dari 2,4 trilyun dolar AS diharapkan tumbuh menjadi 3,8 trilyun dolar AS pada tahun 2022 mendatang.

Hardiyono Kurniawan selaku First Secreta Economic Section/Head of Chancery KBRI Manama yang turut menyaksikan penandatangan kerjasama tersebut mengatakan bahwa Bahrain adalah salah satu negara yang paling banyak mendukung perkembangan keuangan syariah. Hal ini ditandai dengan telah didirikannya organisasi – organisasi arsitektur keuangan syariah seperti Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial Institutions (AAOIFI), International Islamic Financial Market (IIFM), dan Council for Islamic Banks and Institutions (CIBAFI). Kerjasama tersebut turut disaksikan juga oleh Sutan Emir Hidayat selaku Ketua Dewan Perwakilan Wilayah Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) yang juga dosen di University College of Bahrain. Emir yang sudah cukup lama di Bahrain ini akan berkhidmat di tanah air kendati baru saja dilantik menjadi Direktur Bidang Pendidikan dan Riset Keuangan Syariah – Komite Nasional Keuangan Syariah Republik Indonesia.

Turut hadir Luqyan Tamanni dosen STEI Tazkia yang saat ini sedang menjadi dosen terbang di University of Bangor, UK dan BIBF, Alfatih Gessan Pananjung selaku Business Development Manager, Amal A. Talal Al Sorani Head of Marketing and Corporate Communication, dan Ahmad As’ad selaku Principal Lecturer Islamic Finance Centre, BIBF.

 

 

Miftahul AnwarTazkia Tandatangani Kerjasama Dengan Bahrain Istitute of Banking and Finance
read more

Monday Forum Tazkia, “Kajian Produk Perbankan Syariah (Sharia Restricted Intermediary Account)”

No comments


Tepat pada hari Senin, 31 Desember 2018, Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LPPM) Tazkia menyelenggarakan Monday forum dengan agenda pemaparan kajian produk perbankan syariah dengan judul “Sharia Restricted Intermediary Account (SRIA)”. Kajian ini adalah hasil kerjasama penelitian dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang dimulai sejak bulan Mei 2018 dan selesai pada Desember 2018. Kajian tersebut sebelumnya sudah dipresentasikan dalam kegiatan Seminar Akhir Tahun Perbankan Syariah OJK.

Penelitian produk perbankan syariah tersebut dilakukan melalui 544 responden. Dari seluruh responden tersebut dilakukan analisis yang menghasilkan beberapa produk perbankan syariah, diantaranya 1.) One to One – Mudharabah Muqayyadah ; 2.) One to One – Ijarah ; 3.) One to One – Murabahah ;  4.) One to Many,Many to Many, Many to One – Mudharabah Muqayyadah ; 5.) Many to Many, Many to One – Musyarakah.

Dalam kajian produk perbankan syariah ini, peneliti juga membahas alternatif optimalisasi pelaksanaan produk dengan melibatkan peran teknologi. Penerapan teknologi yang dapat digunakan dalam produk ini, antara lain : Shadow Investment Banking, Outsourcing Platform, Individual Development Platform, Consortium Development Platform. (Rizal N.F)

* Pembicara : Ries Wulandari, M.Si ; Yaser Taufik Syamlan, CIFP., M.E ; Aminah Nuriyah, S.E.I., M.E. ; Neti Dewi Hartati, M.E.Sy.

Miftahul AnwarMonday Forum Tazkia, “Kajian Produk Perbankan Syariah (Sharia Restricted Intermediary Account)”
read more

Research Outlook 2019 dan Diseminasi Penelitian Pengabdian Masyarakat

No comments

Senin, 31 Desember 2018 / 24 Rabiul Akhir 1440 H

Pembicara : Andang Heryahya, M.Pd., M.Pd.I. ; Dr. Mukhamad Yasid ; Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc.

Pada penghujung akhir tahun ini, Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat mengadakan kegiatan seminar “Research Outlook dan Diseminasi Penelitian dan Pengabdian Masayarakat STEI Tazkia”. Kegiatan ini dilaksanakan guna memprediksi peta penelitian bagi para akademisi pada tahun 2019 mendatang.

Pada kesempatan pertama, materi disampaikan oleh Bapak Andang Heryahya selaku Pembantu Ketua 1 Bidang Akademik. Beliau memaparkan terkait pentingnya pendidikan ekonomi di Masyarakat, Menurut beliau prediksi penelitian ini penting dilaksanakan bagi para akademisi, agar mereka mendapat gambaran atas apa yang perlu dipelajari di masa yang akan datang. Beliau menerangkan bahwasanya jurnal penelitian terkait “pendidikan ekonomi” di Indonesia masih lebih rendah dibandingkan negara-negara lain seperti, US, UK, India, Australia. Dari hasil tersebut, beliau menyarankan agar para akademisi Ekonomi Islam dapat melihat bahwasanya masih terbuka peluang bagi peneliti baru untuk berperan dalam penelitian yang memiliki dampak ke masyarakat langsung, contohnya literasi keuangan masyarakat, kemiskinan dan pengelolalaan sumber daya, perilaku hidup sehat dan tanggung jawab, Ekonomi pendidikan dan Gizi buruk.

Pembicara kedua yakni oleh Dr. Mukhamad Yasid selaku direktur pasca sarjana STEI Tazkia. Dalam pemaparan beliau, dikatakan bahwa fungsi Tri Darma Perguruan Tinggi harus dilakukan secara sistematis, terus menerus, dan berkesinambungan, dalam hal ini STEI Tazkia memiliki dua fungsi dalam bidang riset, yakni Riset dasar dan Riset Terapan. Beliau menerangkan pentingnya memasukkan nilai-nilai Islam ke dalam setiap tahapan riset. Hal itu berhubungan untuk pembelajaran dalam memperkuat antara hukum-hukum logika dan empiris dengan wahyu/kalam ilahi,  meneladani Rasulullah dalam memadkan wahyu dan empiris, menguji teori-teori ekonomi modern dan praktik dengan Qur’an, Hadits, Pengalaman Sahabat, dan Tabi’in, menjadikan maqashid Syariah sebagai acuan dalam merumuskan tujuan organisasi, menyeimbangkan kesuksesan di dunia dan akhirat.

Pada sesi terakhir, diisi oleh Dr.Murniati Mukhlisin, M.Acc. Beliau menerangkan terkait pengaruh politik pada penelitian dan pengembangan Ekonomi Islam baik di dalam negeri maupun lingkup global. Menurut beliau penting bagi para akademisi untuk mengetahui kondisi global agar dapat mendapatkan penelitian yang bagus. Beliau juga mengatakan bahwa penelitian Ekonomi Islam di Indonesia masih sedikit dikrenakan rendahnya penelitian yang dilakukan dengan menggunakan bahasa Inggris. Menurut Global Islamic Finance Development Indicator  (IFDI) 2018, Indonesia masih di peringkat 10, kalah dibanding dengan Malaysia yang diperingkat 1 dalam pengembangan Islamic Finance Market. Pengaruh dari Global seperti kebijakan Presiden Trump juga mempengaruhi akan perkembangan ekonomi Islam di dunia. Di Indonesia sendiri, Kebijakan yang dilakukan oleh Bapak Presiden Joko Widodo antara lain mendirikan KNKS, Bank Wakaf Mikro, serta Ekonomi Pesantren. Menurut Ibu Murniati, arah penelitian 2019 mendatang akan berhubungan dengan Sustainable Development Goals dan Maqashid Syariah, beliau juga merekomendasikan riset dalam hal bisnis Financial Technology ; dari sisi akad, syarat, rukun, hukum, pajak, akuntansi serta audit, serta prospek dan tantangan (termasuk dampak sosial dan budaya) baik dalam survey pengguna maupun kasus antar negara.

Miftahul AnwarResearch Outlook 2019 dan Diseminasi Penelitian Pengabdian Masyarakat
read more