Berita Terbaru

Bupati Siak Gandeng Kampus Tazkia Guna Kembangkan Ekonomi Syariah

1 comment

Siak, Jumat 28 Des 2018

Dalam rangka pengembangan ekonomi dan bisnis syariah, Bupati Syamsuar sebagai orang nomor satu di pemerintahan kabupaten Siak menandatangi Nota Kesepahaman (MoU) dengan kampus Tazkia yang di komandani oleh Dr. Murniati Mukhlisin selaku ketua STEI Tazkia. MoU ini disaksikan langsung oleh pakar Ekonomi Islam M Syafii Antonio selaku pimpinan Tazkia Grup dan seluruh pimpinan SKPD terkait.

Dalam sambutannya, Syamsuar menyatakan bahw dahulu Siak merupakan kerajaan Islam yang besar dan maju yang telah menerapkan prinsip-prinsip syariah dalam semua lini termasuk ekonomi. Kesultanan Siak terletak di semenanjung Melayu yang terakhir kali dipimpin oleh Sutan Kasim II sebelum dilebur menjadi wilayah negara kesatuan Republik Indonesia. Untuk merebut kemerdekaan sultan rela menyumbangkan seluruh hartanya untuk perang melawan penjajahan.

“Kami ingin jaya dan berkah dengan ekonomi syariah seperti kejayaan dulu kesultanan Siak, untuk itulah kami gandeng kampus Tazkia sebagai pelopor ekonomi syariah”, ujar Pak Bupati.

Sementara Syafii Antonio, menyatakan bahwa untuk mendapatkan keberkahan di bumi Siak Riau ini diperlukan dua syarat yaitu keiman dan ketaqwaan para penduduk warga kabupaten Siak saat ini sembari menyitir ayat 96 surah Al – A’raf, “seandainya penduduk sebuah negeri beriman dan bertaqwa maka niscaya Allah SWT akan turunkan berbagai keberkahan dari atas langit dan dari perut bumi”.

“Bisa jadi banyaknya masalah yang terjadi di negeri ini termasuk bertubi-tubinya bencana yang melanda karena abainya umat ini terhadap perintah syariah senada dengan penutup ayat ini”, ujar Antonio.

Kerjasama Pemda kabupaten Siak dengan Tazkia meliputi konversi bank syariah, pemberdayaan ekonomi, pengembangan SDM daerah dan pengiriman putra putri daerah dalam program Beasiswa Ekonomi Syariah Tazkia (BEST) 2019. (mif)

Miftahul AnwarBupati Siak Gandeng Kampus Tazkia Guna Kembangkan Ekonomi Syariah
read more

Sharing Penulisan Kreatif Bersama Penulis Buku Sang Pencerah

No comments
Pada tanggal 22 Desember 2018 STEI Tazkia mengadakan acara sharing penulisan kreatif bersama Akmal Nasery Basral, penulis 14 buku, 3 diantaranya telah difilmkan, yaitu Batas, Nagabonar Jadi 2 dan Sang Pencerah. Acara ini dilaksanakan di ruang 3.1, Kampus STEI Tazkia. Kegiatan ini dilaksanakan dalam bentuk sharing kepenulisan sekaligus bedah buku terbaru beliau, Dilarang Bercanda dengan Kenangan.
Acara ini terbuka untuk umum, para peserta yang datangpun beragam dari berbagai latar belakang; STEI Tazkia, IPB, Asy-Syafi’iyah dan lain-lain.
Dengan adanya acara ini diharapkan dapat meningkatkan motivasi untuk dapat berkarya dan berdakwah melalui media karya tulis.
Kalau engkau bukan raja, maka menulislah.
Dengan tulisan, engkau telah memperpanjang umur.

Miftahul AnwarSharing Penulisan Kreatif Bersama Penulis Buku Sang Pencerah
read more

Roadmap KNKS, Berkah untuk Ekonomi Syariah

No comments

Dalam webinar yang diadakan BRI Corporate University, pakar ekonomi syariah ini menilai, roadmap Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) akan lebih mendorong pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia.

Dalam webinar berjudul “Peran Islamic Finance dalam Menunjang Perekonomian Indonesia”, ketua STEI Tazkia mengabarkan, peta jalan Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) sebenarnya sudah diterbitkan, namun belum bisa diakses oleh publik. Dalam peta jalan tersebut, di antaranya disebutkan, keuangan syariah diharapkan lebih bisa bersinergi dengan industri halal seperti makanan dan wisata halal.

Webinar kali ini diisi oleh, Ketua STEI Tazkia, Dr. Murniati Mukhlisin M.Acc sebagai pembiaya kunci. Dibuka oleh Asisten Deputi Manajemen SDM Eksekutif Kementerian BUMN, Imam Bustomi, dan sebagai tuan rumah adalah CLO BRI Corporate University, Retno Wahyuni Wijayanti dan CLO B & FS BUMN Corporate University, Lugiyem.

konomi syariah sejalan dengan SDG. Kalau melihat kepada maqasid syariah (tujuan syariah), program sustainable development goal (SDG’s) sejatinya sejalan dengan maqasid syariah. Misalnya, dalam pengembangan keuangan syariah, harus memikirkan kebermanfaatannya untuk pendidikan manusianya, atau hisbun nafs. “Juga dengan harta, bagaimana melindungi aset, rumah, harta, itu di hisbun al maal”, kata Murniati menjelaskan.

Namun, perkembangan keuangan syariah juga menghadapi tantangan. Salah satunya perlambatan, pertanyaan dari pemirsa webinar tentang melambatnya pertumbuhan keuangan syariah di Indonesia.

Dijawab oleh Murniati, kurang komprehensifnya sosialisasi menjadi penyebabnya. Belum ada sosialisasi ekonomi syariah yang lengkap. Padahal, hampir 24 jam kita berurusan dengan masalah ekonomi, dan yang namanya ekonomi harusnya dijalankan secara syariah. “kita harus taklukan godaan iblis dengan ekonomi syariah, karena sudah dikatakan dalam kitab suci, iblis akan terus menggoda manusia, dengan dari harta dan anak”, kata Murniati menjelaskan.

Untuk mempercepat perkembangan ekonomi syariah, sebenarnya, Pemerintah telah memiliki roadmap. Ada beberapa roadmap yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan juga yang sudah diluncurkan di ISEF kemarin, roadmap-nya Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS).

“Ini menjadi keseriusan dari pemerintah kita. Dengan adanya roadmap, menjadi lebih jelas arah pengembangannya dan akan ada perangkat di dalam KNKS. Dalam roadmap itu dari tahun ke sudah ada ukuran pencapaiannya yang diiginkan. Keuangan syariah adalah salah satu dari industri halal. Kita malu, kita mayoritas Muslim, tapi bukan pemain utama keuangan syariah, masih banyak negara non Muslim yang menjadi pemain utama”, kata Murniati menjelaskan.

Ke depan, menurutnya penting juga untul menjadikan industri keuangan syariah bisa membantu pengembangan industri makanan halal dan wisata.

Miftahul AnwarRoadmap KNKS, Berkah untuk Ekonomi Syariah
read more

Bank Syariah Diharapkan Memiliki Corporate University

No comments

Kementerian BUMN menilai, sebaiknya lembaga keuangan syariah yang masih menjadi anak perusahaan BUMN, dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusianya dengan membangun Corporate University.

Sudah 26 tahun ekonomi syariah berkembang di Indonesia. Diawali , sejak Bank Muamalat Indonesia (BMI) pertama kali berdiri. Sudah sejauh mana perkembangannya? Dan terutama apa kontribusinya kepada perekonomian Indonesia? Inilah topik webinar BRI Corporate University hari ini, Kamis (20/12), yaitu “Peran Islamic Finance dalam Menunjang Perekonomian Indonesia”.

Webinar kali ini diisi oleh, Ketua STEI Tazkia, Dr. Murniati Mukhlisin M.Acc sebagai pembiaya kunci. Dibuka oleh Asisten Deputi Manajemen SDM Eksekutif Kementerian BUMN, Imam Bustomi, dan sebagai tuan rumah adalah CLO BRI Corporate University, Retno Wahyuni Wijayanti dan CLO B & FS BUMN Corporate University, Lugiyem.

Dari sisi pemerintah Imam Bustomi mengatakan, Kementerian BUMN masih dalam roadmapnya, menjadikan BUMN-BUMN Indonesia pemain global. Karena itu, holding di tiap sektor sejenis harus dibentuk. “Karena syariah selama ini menjadi anak perusahaan, pembinaan memang ada di induknya. Misalnnya BRI Syariah itu ada di Bank BRI dan BSM ada di Bank Mandiri. Usulannya menjadi menarik apakah Kementerian BUMN akan mendorong, kami juga ingin mempertemukan semua pelaku tadi, BSM, BRIS, BTN Syariah, BNI Syariah, dan asuransi syariah yang semuanya masih menjadi anak perusahaan dari BUMN, untuk bersama-sama mendorong perkembangannya, seperti apa”, kata Imam menjelaskan.

Dari sisi pengembangan SDM, Imam menjelaskan pihaknya juga menginginkan upaya pengembangan SDM harusnya terintegrasi dan semua pihak ada. “Sekarang ini yang kita lakukan, kita mau membangun corporate university yang selama ini hanya dimiliki oleh Bank Konvensional. Kami juga ingin mendorong mendorong pembelajaran khusus yang syariah untuk memiliki sendiri, saya telah mendorong BSM, BRI Syariah untuk membangung corporate university, khusus untuk yang syariah”, kata Imam lagi.

Sementara kini banyak pakar bicara tentang industri 4.0, mungkin pekerjaan manusia akan mulai banyak diganti oleh robot. Tapi, yang tidak bisa diganti adalah ahli syarioah. Oleh karena itu, menurut Murniati Mukhlisin, ketika kita membangun menuju industri 4.0, kita jangan melupakan yang syariah-syariah ini. “Saya berharap yang tadi disampaikan pak Imam, kalau bisa BUMN lebih serus menggarap syariah”, kata Murniati berharap.

Ia menambahkan, mengutip keterangan pendiri STEI Tazkia, Dr. M. Syafii Antonio, M.Ec di Surabaya, dalam gelaran Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2018 pada 11-15 Desember 2018. Syafii Antonio berharap, suatu saat saat, Bank Indonesia (BI) akan bernama Bank Indonesia Syariah. Di saat itu, “Akan ada divisi konvensional dari Bank Indonesia Syariah tersebut. Apakah tidak mungkin? Wallahuallam, apa yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin bagi Allah”, kata Murniati mengutip Syafii Antonio.

Miftahul AnwarBank Syariah Diharapkan Memiliki Corporate University
read more

Grand Launching Tazkia Business Incubator

No comments
STEI Tazkia proudly presents:
 
Grand Launching Tazkia Business Incubator and Big Seminar with:
– Ust Nasrullah (Penulis Buku Magnet Rejeki)
– Luke Syamlan (Founder of Tetra X Change)
– Andreas Sanjaya (Founder of I-Grow)
 
session 1:
“Digital Business for Digital Generation”, Seminar Promoting Selling and Profitable
Date: 27 December 2018
Time : 08.30 – 12.00 WIB
Venue: STEI Tazkia Campus
Jl. Ir. H. Juanda No. 78, Sentul City, Bogor 16810
 
Session 2:
Workshop Team collaboration with Bukalapak
Date: 27 December 2018
Time : 13.00 – 15.00
Venue: STEI Tazkia Campus
Jl. Ir. H. Juanda No. 78, Sentul City, Bogor 16810
.
.
#steitazkia #kampusekonomiislamterbaik #wisuda #hafidz #tahfidz #quran #beasiswa #beasiswaekonomisyariah #ekonomisyariah #beasiswatazkia #best #besttazkia #kampustazkia #ekonomi #ekonomiislam #bisnis #akuntansi #islam #kampus #bogor #indonesia #jawabarat #tazkiatv #seminar #business #entrepeneur #pengusaha #bisnis #wirausaha
.
.
www.tazkia.ac.id
https://spmb.tazkia.ac.id/
https://www.instagram.com/?hl=id

Miftahul AnwarGrand Launching Tazkia Business Incubator
read more

Diperlukan, Perkawinan Sistem Moneter Konvensional dan Syariah

No comments

Sesuai dengan pilar ketiga strategi pengembangan ekonomi syariah nasional, Bank Indonesia (BI) meluncurkan buku “Kebijakan Moneter Syariah dalam Sistem Keuangan Ganda: Teori dan Praktik”, dibantu oleh STEI Tazkia.

Dalam rangka mengembangkan keuangan syariah, BI meluncurkan dua buku yang berjudul “Kebijakan Moneter Syariah dalam Sistem Keuangan Ganda: Teori dan Praktik” dan “Peta Keuangan Mikro Syariah Indonesia”. Buku ini adalah hasil kerjasama BI Institute dan Tazkia Publishing.

Peluncuran buku dilakukan oleh Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo pada acara seminar dan peluncuran buku riset, Rabu (12/12/2018). Ini merupakan rangkaian dari Indonesia Shari’a Economy Festival (ISEF) ke-5 yang diadakan di Surabaya dari tanggal 10-15 Desember 2018.

Pada peluncuran dua buku yang dilakukan pada hari kedua ini, STEI Tazkia ikut andil. Sebagai kampus pelopor ekonomi Islam, STEI Tazkia mengirim dua pakarnya, Dr. Syafii Antonio, M.Ec dan Dr Murniati Mukhlisin, M.Acc sebagai pembicara dan moderator.

Makalah Terbaik dari STEI Tazkia
Di hari ketiga, kembali insan STEI Tazkia berperan di ISEF kali ini.  Yaitu, di acara International Islamic Monetary Economics and Finance Conference (IIMEFC 2018) dengan tema “Strengthening National Growth: The Creation of Halal Value Chains and Innovative Vehicles”.

Seminar internasional ini menampilkan 40 makalah terbaik setalah melalui seleksi yang ketat oleh para pakar. Keempatpuluh makalah tersebut diseleksi dari 270 makalah yang yang dikirimkan oleh peserta yang datang dari 28 Negara di Dunia.

Alumni STEI Tazkia, Dr. Mahbubi Ali, menjadi salah satu pemakalah terbaik dan mendapatkan hadiah uang tunai sebesar Rp  12 juta dari Panitia.

Dalam konferensi ini,  sekali lagi STEI Tazkia mengirimkan utusannya yaitu Reza Jamilah Fikri,  Yaser Taufik Syamlan, Siti Khomsatun dan Rifqi Roushan.  Selain itu, beberapa alumni Tazkia yang seperti Dr.  Mahbubi Ali,  Ahlis Fatoni,  Abrista Devi,  Sebastian Herman turut membentangkan riset mereka mewakili lembaga mereka masing – masing.

Di acara yang dihadiri  500 peserta dari berbagai daerah di Indonesia ini menjadi lebih spesial karena juga mengundang nama besar di keuangan syariah seperti Proffessor Kabir Hassan (New orleans University),  Proffessor Emeritus Volker Nienhaus, dan Prof.  Irwandi Jaswir yang mewakili International Islamic University Malaysia (IIUM).

Kegiatan ISEF yang lima tahun berturut-turut diadakan itu, tahun ini diresmikan oleh Menteri Koordinator Ekonomi, Darmin Nasution dan diawali dengan pidato pembuka oleh Gubernur BI, Perry Warjiyo.

Acara pembukaan ini juga dihadiri para undangan VVIP seperti mantan Gubernur Jatim Periode 2008 sampai 2018 Sukarwo serta mantan Gubernur BI, Agus Martowardoyo.

Miftahul AnwarDiperlukan, Perkawinan Sistem Moneter Konvensional dan Syariah
read more

STEI Tazkia Berkomitmen Terbaik dalam Proses Akreditasi, Incar Akreditasi Global pada 2025

No comments

STEI Tazkia terus berkomitmen menyelenggarakan pendidikan ekonomi syariah terbaik di Indonesia dan mampu bersaing di level global

Kampus pelopor ekonomi Islam, Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Tazkia pada tahun ini memasuki tahun visitasi Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Visitasi terbanyak bagi kampus yang berlokasi di Sentul City ini. Dimulai dengan proses akreditasi Program Studi Bisnis Manajemen Islam pada Juli lalu, disusul dengan visitasi ahli status dari sekolah tinggi menjadi institut pada Agustus 2018.

Kemudian pada 4-6 Desember 2018, yang lalu telah diadakan visitasi untuk akreditasi ulang Program Studi Ekonomi Islam. Pada 10-11 Desember 2018, baru saja berlangsung akreditasi institusi.

Hasil dari seluruh visitasi tersebut adalah, semua program studi sudah terakreditasi B (Baik), dan satu di antaranya, yaitu Program Studi Akuntansi Syariah berpredikat Akreditasi A (Sangat Baik).

Ketua STEI Tazkia, Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc menyatakan bahwa pihaknya bersyukur atas perolehan akreditasi tahun ini. Ini menunjukkan keseriusan pihaknya. “Dengan tekad memastikan kualitas pendidikan, kampus Tazkia selalu serius dalam menjalankan proses akreditasi”, kata Murniati menjelaskan.

Namun masih perlu ditingkatkan ke level internasional. “Sesuai dengan visi-misi Kampus Tazkia, akreditasi nasional perlu ditingkatkan menjadi akreditasi internasional karena pada tahun 2025, Kampus Tazkia berazam ingin menjadi rujukan global” kata Murniati menambahkan.

Cita-cita ini juga tak terlepas dari mulai banyaknya pengajar dan mahasiswa STEI Tazkia yang meraih prestasi nasional dan internasional. Salah satunya yang terbaru adalah keikutsertaan delapan dosen senior STEI Tazkia mengikuti the 6th ASEAN Universities International Conference on Islamic Finance (the 6th AICIF) yang diadakan oleh International Council of Islamic Finance Educators (ICIFE) di Manila, Filipina pada 14-15 November 2018. Baca juga: Dosen tazkia Go Asean

Di level lokal, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) baru saja menggandeng Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LPPM) STEI Tazkia, untuk kajian inovasi produk perbankan syariah.

Kajian yang dilakukan pada Mei – November 2018 ini merekomendasikan 10 model bisnis baru untuk perbankan syariah Indonesia. Model bisnis baru ini akan menghasilkan produk akan dinamakan Shariah Restricted Intermediaries Account (SRIA). Baca juga: 10 Model Bisnis Baru Perbankan Syariah

Sementara, Wakil Ketua Bidang Akademik STEI Tazkia, Andang Heryahya, Mpd., Mpdi., yang juga bertanggung jawab atas proses akreditasi di STEI Tazkia menambahkan, “Kami semua berharap hasil dari proses akreditasi ini akan memberikan nilai terbaik untuk kampus kami, tentu saja kami berharap nilainya A”.

Menuju Pendidikan Ekonomi Syariah Terlengkap
Selama 18 tahun ini Sekolah Tinggi Ekonomi Islam Tazkia menawarkan program ekonomi syariah yang dimulai dengan pengkhususan mencetak ahli perbankan dan keuangan syariah.

Seiringnya waktu, STEI Tazkia juga menawarkan program studi hukum ekonomi syariah, keuangan mikro syariah dan pendidikan ekonomi syariah.

Banyak kelebihan yang dimiliki STEI Tazkia dari segi Tridharma pendidikan dimulai dari kualitas dosen pengajar, sistem pengajaran yang sudah mengarah ke kurikulum internasional, penelitian dan publikasi di jurnal nasional dan internasional, pengabdian masyarakat baik di sekitar lingkungan kampus hibgga ke mancanegara.

Namun kekurangannya masih juga ada yaitu belum adanya dosen berstatus guru besar yang dinobatkan oleh kampus Tazkia, terbatasnya dosen yang menguasai ilmu ekonomi dan pengetahuan fiqh yang kuat serta terbatasnya lahan kampus untuk asrama mahasiswa.

“Kami berterima kasih atas dukungan dari segenap stakeholders baik itu dari internal yayasan, orangtua mahasiswa, alumni, para mitra dan pengguna alumni di dalam maupun luar negeri, badan otoritas negara serta pemerintah daerah yang senantiasa mendukung program-program Tazkia” kata Murniati menutup.

Download Siaran Persnya di Sini 

Miftahul AnwarSTEI Tazkia Berkomitmen Terbaik dalam Proses Akreditasi, Incar Akreditasi Global pada 2025
read more

10 Model Bisnis Baru Perbankan Syariah

1 comment

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menggandeng Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LPPM) STEI Tazkia, adakan kajian inovasi produk perbankan syariah.

Kajian yang dilakukan pada Mei – November 2018 ini merekomendasikan 10 model bisnis baru untuk perbankan syariah Indonesia. Model bisnis baru ini akan menghasilkan produk akan dinamakan Shariah Restricted Intermediaries Account (SRIA).

Pemaparan hasil kajian dilakukan pada Seminar Akhir Tahun Perbankan Syariah yang digelar OJK di Ballroom Hotel Ayana, Mid Plaza, Jl. Jendral Sudirman Kavling 10 – 11, Jakarta Pusat, Kamis (6/12).

Produk ini nantinya akan menggunakan beberapa akad seperti Mudharabah Muqayyadah, Musyarakah, Ijarah, dan Murabahah. “Produk dihasilkan setelah melalui proses brainstorming dengan industri perbankan syariah pada 7 Juni 2018, Focus Grup Discussion (FGD) pertama pada 23 Agustus 2018, dan FGD kedua pada 17 Oktober 2018, dihasilkanlah dua model utama yaitu One to one, Many to One, One to Many Mudharabah Muqayyadah, di mana Shahibul maal akan menempatkan dana kepada Bank Syariah yang dalam hal ini menjadi Mudharib”, kata Ketua Tim Peneliti yang juga Kepala LPPM STEI Tazkia, Ries Wulandari M. Si.

Apa nilai lebih (value proposition) yang ditawarkan produk baru ini? Menurut Ries Wulandari, akan dilakukan pembagian keuntungan dan kerugian (profit and loss sharing), tidak adanya penjaminan modal dan tidak dapat ditarik sebelum jatuh tempo. “Value proposition ini diharapkan akan sedikit demi sedikit menghapus stigma masyarakat terhadap operasional bank syariah saat ini”, kata Ries menambahkan.

Dalam riset kali ini, anggota tim peneliti terdiri dari tiga dosen STEI Tazkia, lintas program studi, yaitu Yaser Taufik Syamlan CIFP.,ME, dosen Manajemen Bisnis Syariah (MBS) dan Ketua Prodi D3 Manajemen Keuangan Mikro Syariah (MKMS), Aminah Nuriyah, ME, dosen MBS, dan Ibu Netty DH M.E.Sy, dosen Tadris.

Output dari penelitian ini mencakup model bisnis produk baru, standar operasi atau SOP, akad perjanjian, serta contoh kasus pencatatan akuntansi.

Direktur Perbankan Syariah Deden Firmansyah, menyampaikan dalam sambutannya bahwa kajian yang disampaikan pada Seminar Akhir Tahun Perbankan Syariah OJK ini, merupakan bagian dari strategi pengembangan Perbankan Syariah 2019.

LPPM STEI Tazkia sebagai peneliti berharap bahwa kajian ini akan mendorong pertumbuhan perbankan syariah dan meningkatkan kue pasar yang saat ini masih berkutat di angka lima persen.

Selain itu, Deputi Direktur Direktorat Perbankan Syariah (DPbS), Dr. Setiawan Budi Utomo juga mengharapkan bahwa produk SRIA ini dapat dijalankan mulai 2019.

Rizqi Zakiya10 Model Bisnis Baru Perbankan Syariah
read more

PDO BEM STEI Tazkia mengusung Isu Global SDGs

No comments

Bogor, 25 November 2018 BEM STEI Tazkia mengadakan Pelatihan Dasar Organisasi di International Auditorium 3.1 Kampus STEI Tazkia. Mengusung tema “Run through SDG’s: Dedication and Integrity as Youth’s Core Value”, PDO 2018 ingin memberikan outcome berupa program-program yang memiliki dampak berkelanjutan yang akan dieksekusi oleh seluruh organisasi REMA STEI Tazkia dengan penuh dedikasi dan integritas. PDO 2018 dihadiri oleh 71 petinggi organisasi dan UKM meliputi ketua, wakil ketua, kepala divisi, dan wakil ketua divisi.

Acara dibuka dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an pada pukul 08.00, dilanjutkan dengan pemaparan materi pertama oleh Saudara Gilang Ardana yang merupakan Co-founder dan CEO Youth Corps Indonesia. Materi pertama ini mengangkat isu Menejemen Organisasi yang sangat mampu membuka cakrawala berpikir peserta hingga kemudian dapat menjalankan program dengan dasar kebermanfaatan. Selain itu, pengelolaan hubungan dengan stakeholders di masing-masing organisasi juga menjadi diskusi menarik. Materi pertama ini ditutup dengan Focus Group Discussion antar sesama bidang organisasi.

Rizqi ZakiyaPDO BEM STEI Tazkia mengusung Isu Global SDGs
read more

International Talk Series Waqf Management in Ottoman Empire Era

No comments

The International Talk Series recently presented the Director of ISEFAM Sakarya University, Assoc. Prof. Dr. Sulëyman KAYA. The Talk Series was utilising webinars, the seminars through the web. Irham Amir, L.c, M.Sc. opened the seminar as the moderator and the translator. Talk Series continued with a speech by Dr. Syafi’i Antonio as the chairman of the Tazkia Foundation. Sir. Syafi’i explained the general condition of Waqf in Indonesia and shows his interest to know about Waqf in Ottoman Empire such as Cash Waqf. Following this, Mr. Irham invited Prof. Sulëyman to deliver the seminar.


Prof. Sulëyman explained the Waqf system in the Ottoman Empire. The Ottoman Waqf institution managed most of Ottoman lands at that time. Not only land, property and money (Dinars and Dirhams) are also used as objects of Waqf. Qardhul hasan and ba’I istighlal were the most used contract for Waqf in this empire. These had a profound effect on the state. The professor also discussed the legal endowments with goods containing elements of usury. The institution ensured that the goods used were halal in term of Islam perspective. Some Ottoman scholars said that endowments with items with usury are not permitted while others allowed if the element of unavoidably usury less than 15 per cent. After the collapse of the Ottoman Empire, Waqf management was dramatically felling down. Turkish welfare was threatened. Some of the existing Waqf land has turned into a church.

Even now there are many mosques built by individuals not by the institution. As such, the Turkish government now seeks to restore the function and role of Waqf institution in order to return the Glory of Ottoman Waqf Management.

The next session is question and answer guided by the moderator. The first questioner asked about the Waqf application system. Prof. Sulëyman said that no application nowadays is used yet. The Turkish Waqf system still utilises conventional method by sending administrators from branch offices to inhabitants collect Waqf assets and manage Waqf. The second questioner asked the contribution of Waqf to the country’s income, and the professor stated that Waqf in Ottoman empire did not contribute to state’s income, so that the profits obtained were directly managed by the Waqf institution.

The third questioner asked is Waqf in Turkey spread in Turkey only or abroad? Prof. Sulëyman answered that Waqf was also distributed to Sudan, Nigeria and Palestine in which more focused on daily needs funds. The question and answer session ended up after the Asr Athan, and the moderator closed the seminar.

Watch the live video of this event:

Rizqi ZakiyaInternational Talk Series Waqf Management in Ottoman Empire Era
read more