Berita Terbaru

Tahfidz Preneur

No comments

Oleh: Andang Heryahya, M.Pd. M.Pd.I (Dosen Tetap STEI Tazkia)

Para pembaca yang baik, salah satu bagian dari ilmu bisnis dan manjemen adalah entrepreneursip. Ilmu ini mengajarkan tentang mental dan strategi bisnis untuk mendapatkan keuntungan financial. Mengajarkan ketekunan, kerja keras, kesabaran, kejujuran, keberanian mengambil resiko – apapun yang terjadi pantang baginya untuk mundur apalagi menyerah. Layaknya seorang pendekar dalam memperjuangkan cita-citanya. Seorang pahlawan berdiri tegak gagah berani dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Keuntungan financial harus hadir di tangannya. Bahkan tidak puas sampai disitu, seorang entrepreneur selalu bertekad untuk terus menambah jumlah keuntungan. Inilah substansi dari ilmu entrepreneursip, tidak pernah berhenti berinovasi untuk memperlembar-memperluas jaringan usahanya.

Karakter entrepreneur ini telah dicontohkan oleh Baginda Rasulullah Muhammad SAW. Nabi telah mewariskan teori terbaik entrepreneursip. Rasulullah SAW seorang entrepreneur sukses. Pakar Ekonomi Syariah Dr. Muhammad Syafii Antonio menuturkan, Rasul memiliki bisnis yang besar, jauh melintasi berbagai wilayah dan negara. Saya berani menyatakan dan menyimpulkan bahwa a�?harta merupakan sumber kebahagiaana�?. Rasul ingin kita kaya dan bahagia.

Kenapa seseorang harus a�?habis-habisana�? mengejar harta kekayaan. Mengingat, tidak sedikit manusia yang gagal hidupnya ketika bergelimang dengan harta. Visi, misi dan tujuan hidupnya tumbang tidak berdaya oleh setumpuk kekayaan. Mobil mewah, rumah megah, tanah luas serta aset perusahaan yang melimpah lebih diutamakan dari pada beramal sholeh. Allah SWT, tidak ia hadirkan di dalam berbisnis. Bermegah-megah menjadi kegemarannya. Tertipu oleh kehidupan dunia.

Banyak contoh manusia gagal seperti itu, baik pada masa dulu maupun pada jaman modern saat ini. Qorun misalnya, ketika ia miskin termasuk ahli ibadah dan gemar bersedekah. Namun ketika berhasil mendapatkan kekayaan, ia lupa dan semakin jauh dari masjid, jauh dari Al Quran. Lupa kepada Allah SWT yang memberi kekayaan. Enggan membayar zakat dan sedekah, sifat bakhil yang akhirnya berhasil masuk ke rongga dada Qorun.

Para pembaca yang berbahagia, Ingatlah firman Allah SWT di dalam Al Quran Surat At Taubah Ayat 34 a�?Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pediha�?. Sifat bakhil muncul diakibatkan karena kecintaan yang berlebihan terhadap harta, tidak ada keyakinan tentang kemuliaan yang ada di sisi Allah, tamak dan kagum kepada harta dan diri sendiri. Allah SWT berfirman di dalam Al Quran Surat Ali Imron ayat 180 a�?Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan akan dikalungkan kelak di lehernya pada hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.a�?

Kemudian, Allah SWT telah memberikan kabar penyesalan bagi orang yang sudah meninggal dunia yang belum sempat atau tidak cukup banyak membelanjakan harta di jalan Allah SWT. Hartanya lebih banyak disimpan (ditumpuk) daripada disedekahkan atau digunakan untuk beramal sholeh. Al Quran Surat Al Munafikun ayat 10 Allah SWT berfirman a�?Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda kematian-ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleha�?. Kita bisa membayangkan bagaimana menyesalnya, jika ada seseorang yang a�?habis habisana�? mengejar dan mencari uang (untrepreneur), kemudian meninggal. Sementara uang dan hartanya masih menumpuk puluhan juta, ratusan bahkan milyaran. Sudah bisa dipastikan uang dan harta tersebut akan sulit memberikan bermanfaat, padahal uang itu adalah miliknya.

Sama sekali harta tersebut tidak dapat membawanya kepada keselamatan dan kebahagiaan. Kecuali, bila disedekahkan oleh ahli waris atas nama pemiliknya. Jika ahli warisnya sholeh Insya Allah menyelematkan, namun jika sebaliknya, maka celakalah ia. Harta itu tidak bisa menjadi sahabat terbaiknya.

Para pembaca yang dirahmati Allah SWT, namun tidak bagi hamba-hamba Allah yang sholeh. Bagi yang beriman dan bertaqwa kepada Allah, harta akan menjadi sumber utama kebahagiaan. Harta itulah yang akan menjadi penolong dari panasnya api neraka. Harta itulah yang menjadi penyelamat dari kerasnya azab Allah SWT. Dan, dengan harta itulah ia akan dimudahkan a�?berjumpaa�� dengan Allah SWT. Bagi orang sholeh, harta akan ia pergunakan untuk kebaikan, ia akan bergegas membelanjakannya di jalan Allah SWT. Semakin banyak harta yang didapatkan, ia akan semakin mudah mendapatkan jalan kemudahan dan kebahagian. Mari kita simak Al Quran Surat Al-Lail ayat 6-7 a�?Maka barang siapa memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertaqwa, dan membenarkan (adanya pahala) terbaik maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan dan kebahagiaana�?. Sekali lagi, harta merupakan sumber kebahagiaan.

Menjadi seorang dengan karakter seperti ini sudah ditekuni oleh banyak orang, baik pada jaman dahulu maupun pada saat ini. Abdurahman Bin Auf adalah salah satu contoh sukses menekuni bidang ini. Sukses menjadi seorang wirausahawan. Beliau menjadi kebanggan Baginda Rasul dan termasuk salah satu sahabat yang dijamin masuk surga. Sahabat Abdurahman Bin Auf sukses dengan harta dan kekayaannya.

Inilah kecerdasan yang harus hadir pada generasi muda muslim saat ini. Generasi Tahfidz Preneur – Quran Preneur. Al Quran menjadi kepribadian dalam berbisnis. Al Quran menjadi sahabat dalam berikhtiar. Ibadah menjadi kegemaran dalam kesehariannya. Hidup semakin berkah dan keluarga tetap sakinah. Inilah sumber kebahagiaan dan keberkahan. Kelak mereka akan bersama dengan orang-orang sholeh, para suhada, nabi dan rasul. Hanya untuk mereka, entrepreneur yang senang dengan Al Quran, bukan untuk yang lain.

Alhamdulillah, Selain lembaga dakwah dan pesantren seperti Wadi Mubarak di Megamendung Puncak dan Pesantren Tahfizh Quran MDF di Ciamis dan beberapa pesantren lainnya, Sekolah Tinggi EKonomi Islam (STEI) Tazkia telah mengembangkan Program Diploma III Bisnis dan Manajemen Keuangan Mikro Syariah dengan kompetensi Tahfidz Preneur. Insya Allah program ini dapat memenuhi kerinduan umat, mewujudkan genarasi muslim penghapal Al Quran, entrepreneur, sholeh, tidak merokok dan gemar beribadah. Hatinya senantiasa terpaut dengan masjid, persahabatannya tidak sebatas pada kepentingan bisnis, namun karena kecintaannya kepada Allah SWT.

Saat ini, Indonesia masih kekurangan sekitar empat juta orang entrepreneur. Jika sebagian besar lahir dari Tahfidz Preneur, Insya Allah umat Islam Indonesia akan menjadi keluarga, bangsa dan negara yang kuat, sejahtera, berkah dan maju. Bismillah, mari wujudkan cita-cita itu secara berjamaah, amin. (Anwar G)

Miftahul AnwarTahfidz Preneur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *