Berita Terbaru

Pentingnya Memilah Sampah untuk Menjaga Maqashid Syariah

No comments

Oleh Anita Priantina (Ketua Program Studi Ekonomi Islam STEI Tazkia)

Orangtua dan para guru di sekolah telah mengajarkan kita sedari kecil untuk membuang sampah pada tempatnya. Kita diajarkan bahwa membuang sampah pada tempatnya akan menciptakan lingkungan yang asri, bersih dan sehat. Sampah yang berserakan tidak sedap dipandang, berpotensi mengundang penyakit, dan berpotensi mengundang bencana alam. Bencana banjir misalnya, salah satu penyebabnya adalah terhalangnya jalan air oleh sumbatan sumbatan dari sampah yang tidak dibuang pada tempatnya. Penyebab lainnya adalah berkurangnya kemampuan tanah untuk menyerap air hujan karena berbagai penyebab pula, salah satu diantaranya adalah karena banyaknya sampah yang tidak bisa diuraikan.

Untuk menjaga lingkungan, adalagi yang sebenarnya harus kita lakukan, yaitu memilah dan mengolah sampah. Sampah secara umum terbagi menjadi dua, yang pertama adalah sampah organik yang memang dihasilkan dari bahan alami dan cepat membusuk seperti sisa makanan, sayuran, dan dedaunan. Sampah jenis kedua adalah yang tidak membusuk, dikategorikan sebagai sampah non-organik, contohnya adalah sampah plastik, kaca, kaleng dan baterai.

Sampah jenis organik walaupun langsung dibuang ketanah akan lebih cepat membusuk dan terurai. Untuk sampah jenis non organik, butuh waktu yang sangat lama untuk menguraikannya. Menurut Environmental Protection Agency (2013), butuh 10-20 tahun untuk menguraikan tong plastik, 50 tahun untuk mengurai kaleng dan styrofoam, 450 tahun untuk mengurai botol plastik, dan satu juta tahun untuk mengurai kaca. Jadi, berfikirlah ribuan kali untuk membuang sampah non organik secara sembarangan.

Para penggiat green environment selalu mengkampanyekan reducereuserecycle. Reduce dapat dilakukan dengan cara mengurangi konsumsi barang barang yang tidak perlu sehingga jumlah sampah pun berkurang. Reuse dapat dilakukan dengan menggunakan kembali barang barang lama yang masih memiliki fungsi. Recycle dilakukan dengan cara melakukan daurulang pada sampah, agar yang tadinya hendak dibuang karena sudah tidak bernilai bisa menjadi komoditas baru.

Sampah jenis organik dan non organik keduanya dapat didaur ulang. Sampah organik dapat diolah menjadi kompos, yang kemudian bisa digunakan menjadi pupuk. Sampah non organik juga dapat dibuat menjadi barang barang baru Ada berbagai jenis komoditas yang bisa dibuat dari sampah non organik.

Untuk dapat diolah, terlebih dahulu sampah harus dipilah berdasarkan jenisnya. Hal ini penting untuk dilakukan mulai dari rumah. Setelah itu, sampah yang sudah dipilah dapat disetorkan ketempat pengolahan sampah, termasuk diantaranya bank sampah. Bank sampah secara sederhana akan membeli sampah dari para penyetor. Sampah tersebut kemudian dapat dijual lagi keprodusen barang daur ulang atau jika mampu dan tersedia alat dan atau mesinnya, dapat didaur ulang sendiri.

Ide bank sampah sudah sangat banyak direplikasi di berbagai tempat di Indonesia, termasuk di STEI Tazkia. Pada tanggal 15 November 2016 telah didirikan bank sampah yang dinamakan Smart Bank, yang merupakan singkatan dari Sharia Waste Management Bank. Smart Bank didirikan atas inisiatif Program Studi Ekonomi Islam bersama dengan mahasiswa. Smart menjadi visi bahwa kita mau menjadi cerdas karena kita tidak membuang sampah kita, tetapi memilah, mengelola, dan memberikan value added sehingga tidak ada yang terbuang tetapi malah memproduksi barang baru, yang bahkan tidak hanya bisa digunakan sendiri tetapi bisa dijual.

Yusuf Qardhawi dalam karyanya yang berjudul Ri’ayah Al Bi’ah fi al-Syari’ah al-Islam yang diterjemahkan menjadi Islam Agama Ramah Lingkungan (2002) menjelaskan bahwa menjaga lingkungan adalah termasuk kepada maqasid sharia. Menjaga lingkungan sama dengan menjaga agama (hifddiin) karena hal tersebut tersurat dalam firman Allah surat Al-Araf: 56, “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di mukabumi, sesudah (Allah) memperbaikinya …”

Qardhawi juga menjelaskan bahwa menjaga lingkungan sama pentingnya dengan menjaga jiwa, harta, keturunan, dan akal. Tanpa alam yang bersih dan sehat, mencapai maqasid syariah yang lima menjadi mustahil.

Maka, marilah kita mulai memilah sampah kita, untuk lingkungan yang lebih asri, lebih bersih, dan lebihs ehat. Dengan demikian, pencapaian maqasid syaria dapat kita sempurnakan. Insya Allah. (Anwar G)

Miftahul AnwarPentingnya Memilah Sampah untuk Menjaga Maqashid Syariah
read more

Tahfidz Preneur

No comments

Oleh: Andang Heryahya, M.Pd. M.Pd.I (Dosen Tetap STEI Tazkia)

Para pembaca yang baik, salah satu bagian dari ilmu bisnis dan manjemen adalah entrepreneursip. Ilmu ini mengajarkan tentang mental dan strategi bisnis untuk mendapatkan keuntungan financial. Mengajarkan ketekunan, kerja keras, kesabaran, kejujuran, keberanian mengambil resiko – apapun yang terjadi pantang baginya untuk mundur apalagi menyerah. Layaknya seorang pendekar dalam memperjuangkan cita-citanya. Seorang pahlawan berdiri tegak gagah berani dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Keuntungan financial harus hadir di tangannya. Bahkan tidak puas sampai disitu, seorang entrepreneur selalu bertekad untuk terus menambah jumlah keuntungan. Inilah substansi dari ilmu entrepreneursip, tidak pernah berhenti berinovasi untuk memperlembar-memperluas jaringan usahanya.

Karakter entrepreneur ini telah dicontohkan oleh Baginda Rasulullah Muhammad SAW. Nabi telah mewariskan teori terbaik entrepreneursip. Rasulullah SAW seorang entrepreneur sukses. Pakar Ekonomi Syariah Dr. Muhammad Syafii Antonio menuturkan, Rasul memiliki bisnis yang besar, jauh melintasi berbagai wilayah dan negara. Saya berani menyatakan dan menyimpulkan bahwa ‘harta merupakan sumber kebahagiaan”. Rasul ingin kita kaya dan bahagia.

Kenapa seseorang harus “habis-habisan” mengejar harta kekayaan. Mengingat, tidak sedikit manusia yang gagal hidupnya ketika bergelimang dengan harta. Visi, misi dan tujuan hidupnya tumbang tidak berdaya oleh setumpuk kekayaan. Mobil mewah, rumah megah, tanah luas serta aset perusahaan yang melimpah lebih diutamakan dari pada beramal sholeh. Allah SWT, tidak ia hadirkan di dalam berbisnis. Bermegah-megah menjadi kegemarannya. Tertipu oleh kehidupan dunia.

Banyak contoh manusia gagal seperti itu, baik pada masa dulu maupun pada jaman modern saat ini. Qorun misalnya, ketika ia miskin termasuk ahli ibadah dan gemar bersedekah. Namun ketika berhasil mendapatkan kekayaan, ia lupa dan semakin jauh dari masjid, jauh dari Al Quran. Lupa kepada Allah SWT yang memberi kekayaan. Enggan membayar zakat dan sedekah, sifat bakhil yang akhirnya berhasil masuk ke rongga dada Qorun.

Para pembaca yang berbahagia, Ingatlah firman Allah SWT di dalam Al Quran Surat At Taubah Ayat 34 “Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih”. Sifat bakhil muncul diakibatkan karena kecintaan yang berlebihan terhadap harta, tidak ada keyakinan tentang kemuliaan yang ada di sisi Allah, tamak dan kagum kepada harta dan diri sendiri. Allah SWT berfirman di dalam Al Quran Surat Ali Imron ayat 180 “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan akan dikalungkan kelak di lehernya pada hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Kemudian, Allah SWT telah memberikan kabar penyesalan bagi orang yang sudah meninggal dunia yang belum sempat atau tidak cukup banyak membelanjakan harta di jalan Allah SWT. Hartanya lebih banyak disimpan (ditumpuk) daripada disedekahkan atau digunakan untuk beramal sholeh. Al Quran Surat Al Munafikun ayat 10 Allah SWT berfirman “Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda kematian-ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh”. Kita bisa membayangkan bagaimana menyesalnya, jika ada seseorang yang “habis habisan” mengejar dan mencari uang (untrepreneur), kemudian meninggal. Sementara uang dan hartanya masih menumpuk puluhan juta, ratusan bahkan milyaran. Sudah bisa dipastikan uang dan harta tersebut akan sulit memberikan bermanfaat, padahal uang itu adalah miliknya.

Sama sekali harta tersebut tidak dapat membawanya kepada keselamatan dan kebahagiaan. Kecuali, bila disedekahkan oleh ahli waris atas nama pemiliknya. Jika ahli warisnya sholeh Insya Allah menyelematkan, namun jika sebaliknya, maka celakalah ia. Harta itu tidak bisa menjadi sahabat terbaiknya.

Para pembaca yang dirahmati Allah SWT, namun tidak bagi hamba-hamba Allah yang sholeh. Bagi yang beriman dan bertaqwa kepada Allah, harta akan menjadi sumber utama kebahagiaan. Harta itulah yang akan menjadi penolong dari panasnya api neraka. Harta itulah yang menjadi penyelamat dari kerasnya azab Allah SWT. Dan, dengan harta itulah ia akan dimudahkan ‘berjumpa’ dengan Allah SWT. Bagi orang sholeh, harta akan ia pergunakan untuk kebaikan, ia akan bergegas membelanjakannya di jalan Allah SWT. Semakin banyak harta yang didapatkan, ia akan semakin mudah mendapatkan jalan kemudahan dan kebahagian. Mari kita simak Al Quran Surat Al-Lail ayat 6-7 “Maka barang siapa memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertaqwa, dan membenarkan (adanya pahala) terbaik maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan dan kebahagiaan”. Sekali lagi, harta merupakan sumber kebahagiaan.

Menjadi seorang dengan karakter seperti ini sudah ditekuni oleh banyak orang, baik pada jaman dahulu maupun pada saat ini. Abdurahman Bin Auf adalah salah satu contoh sukses menekuni bidang ini. Sukses menjadi seorang wirausahawan. Beliau menjadi kebanggan Baginda Rasul dan termasuk salah satu sahabat yang dijamin masuk surga. Sahabat Abdurahman Bin Auf sukses dengan harta dan kekayaannya.

Inilah kecerdasan yang harus hadir pada generasi muda muslim saat ini. Generasi Tahfidz Preneur – Quran Preneur. Al Quran menjadi kepribadian dalam berbisnis. Al Quran menjadi sahabat dalam berikhtiar. Ibadah menjadi kegemaran dalam kesehariannya. Hidup semakin berkah dan keluarga tetap sakinah. Inilah sumber kebahagiaan dan keberkahan. Kelak mereka akan bersama dengan orang-orang sholeh, para suhada, nabi dan rasul. Hanya untuk mereka, entrepreneur yang senang dengan Al Quran, bukan untuk yang lain.

Alhamdulillah, Selain lembaga dakwah dan pesantren seperti Wadi Mubarak di Megamendung Puncak dan Pesantren Tahfizh Quran MDF di Ciamis dan beberapa pesantren lainnya, Sekolah Tinggi EKonomi Islam (STEI) Tazkia telah mengembangkan Program Diploma III Bisnis dan Manajemen Keuangan Mikro Syariah dengan kompetensi Tahfidz Preneur. Insya Allah program ini dapat memenuhi kerinduan umat, mewujudkan genarasi muslim penghapal Al Quran, entrepreneur, sholeh, tidak merokok dan gemar beribadah. Hatinya senantiasa terpaut dengan masjid, persahabatannya tidak sebatas pada kepentingan bisnis, namun karena kecintaannya kepada Allah SWT.

Saat ini, Indonesia masih kekurangan sekitar empat juta orang entrepreneur. Jika sebagian besar lahir dari Tahfidz Preneur, Insya Allah umat Islam Indonesia akan menjadi keluarga, bangsa dan negara yang kuat, sejahtera, berkah dan maju. Bismillah, mari wujudkan cita-cita itu secara berjamaah, amin. (Anwar G)

Miftahul AnwarTahfidz Preneur
read more

Ekonomi Syariah, “Murtad Profesi” dan Insan Syariah

No comments

Oleh: Dr. Abdurrahman Misno BP, MEI (Ketua Program Studi Islamic Business Law STEI Tazkia)

“Ekonomi Syariah adalah ekonomi yang luhur” sebuah ungkapan yang disampaikan oleh Kepala Departemen Hukum Ekonomi di salah satu perguruan tinggi negeri di Jawa Barat. Ungkapan ini penulis terima saat berbincang dalam acara seminar nasional tentang ekonomi syariah dan pelantikan pengurus asosiasi hukum ekonomi syariah di Bandung belum lama ini. Hal yang menarik adalah bahwa ungkapan ini bukan berasal dari seorang muslim, namun seorang akademisi berpangkat guru besar yang beragama Nasrani.

Guru Besar yang Nasrani ini memahami bahwa keluhuran ekonomi Islam telah terbukti baik secara filosofis, normatif maupun empiris, sehingga jika ada seorang muslim yang masih meragukannya maka dipertanyakan loyalitasnya terhadap Islam. Secara filosofis ekonomi Islam hadir sebagai bentuk keadilan dalam distribusi dan wasilah dalam beribadah. Secara normatif ekonomi Islam memberikan panduan dalam melakukan ektifitas ekonomi, sedangkan secara empiris maka terbukti bahwa ekonomi Islam memberdayakan fakir miskin, mengurangi jurang pemisah antara si kaya dan si miskin serta mewujudkan kesejahteraan seluruh umat manusia.

Namun, keluhuran ekonomi Islam seringkali dirusak justru oleh umat Islam sendiri, dalam hal ini para praktisinya. Bagaimana tidak, ketika seseorang menjadi praktisi dalam lembaga keuangan atau lembaga bisnis syariah maka selayaknya ia menjadi mujahid ekonomi syariah. Ia akan berjuang untuk ekonomi syariah dan mendedikasikan dirinya untuk perkembangan dan kemajuannya. Hal yang paling penting adalah bahwa sebagai praktisi ekonomi syariah maka sudah selayaknya untuk menghiasi dirinya dengan nilai-nilai Syariah.

Fenomena yang terjadi akhir-akhir ini pada beberapa praktisi ekonomi syariah adalah tidak atau kurangnya mereka menghiasi diri dengan nilai-nilai syariah. Beberapa dari mereka masih melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan syariah, seperti kebiasaan menonton film tidak islami di Bisokop, kongkow-kongkow yang tidak bermanfaat, merokok, gaya hidup yang tidak Islami, jilbab hanya sebagai seragam, bahkan yang lebih memprihatinkan adalah adanya fenomena “Murtad Profesi”.

“Murtad Profesi” adalah satu istilah bagi seorang praktisi ekonomi syariah yang telah mengabdikan dirinya kepada ekonomi syariah namun kemudian dia keluar dan memilih bekerja pada ekonomi dan bisnis ribawi. Banyak alasan yang dikemukakan ketika keputusan ini dilakukan; pertimbangan gaji lebih besar, jabatan lebih tinggi atau tambahan fasilitas yang lebih banyak. Tentu saja ini bukan alasan yang tepat karena sejatinya tidak ada alasan untuk keluar dari ranah ekonomi syariah. Apalagi jika alasannya adalah masalah duniawiyah.

Fenomena “Murtad Profesi” pernah disinggung dalam buku HRD Syariah karya dosen STEI Tazkia terbitan Gramedia Pustaka Utama. Buku tersebut mencatat bahwa terjadi fenomena di mana seorang manager lembaga keuangan syariah yang kemudian berpindah menjadi pejabat sebuah lembaga keuangan ribawiyah. Beberapa praktisi juga beralasan kepindahannya ke lembaga keuangan ribawi adalah karena hukumnya darurat, tentu saja alasan ini tidak diterima karena perkembangan ekonomi syariah sangat memungkinkan untuk mencari pekerjaan pada bidang ini.

Jika keluhuran ekonomi Islam ingin terus maju dan berkembang, maka harus dimulai dari para praktisinya. Setiap praktisi ekonomi syariah haruslah menjadi Insan Syariah (InSya), sosok insan (manusia) yang senantiasa menghiasi dirinya dengan nilai-nilai Syariah Islamiyah. Insya sendiri adalah akumulasi; Inilah Makhluk Sempurna  dan  Termulia (QS: At-Tiin: 4), Namun ia tergoda oleh Iblis dan Para Pengikutnya (QS. Al-A’raf: 16), Sengsara di Dunia dalam Fitnah Subhat dan Syahwat (QS. Al-A’raf: 25), Akankah Ia Kembali Menjadi Mulia? Atau Hancur Binasa?QS. Asy-Syams: 8, dan Norma Syariah adalah  Sarana Mengembalikan  Kesempurnaan Manusia (QS. Al-Bayyinah: 7).

Ketidakpercayaan sebagian masyarakat terhadap ekonomi syariah salah satunya adalah karena para praktisinya masih jauh dari nilai-nilai syariah.” Dari mulai penampilan luar yang masih menampakan nilai-nilai kapitalisme, “menjual” perempuan dengan menjadikannya sebagai bintang iklan atau front office, layanan terhadap nasabah yang masih belum sesuai dengan nilai-nilai syariah serta produk yang harus terus-menerus diperbaiki agar semakin selaras dengan syariah. Maka, mari para oraktisi ekonomi syariah untuk menghiasi diri dengan nilai-nilai Syariah. Insya Allah dengan ini ekonomi syariah akan terus maju dan berkembang serta yang lebih penting adalah penuh dengan keberkahan. Wallahu A’lam. (Anwar G)

Miftahul AnwarEkonomi Syariah, “Murtad Profesi” dan Insan Syariah
read more

Why I Choose TAZKIA and What I Will Do to Improve Islamic Economics in Indonesia

No comments

By Aisyah As-Salafiyah

At Monday, September 25th 2017 I had my first English lesson for Tazkia Language Center (TLC) at Abu Hanifah building.

I got A class after TOEFL test in PORTAL (pekan orientasi dan ta’aruf almamater) days ago. Well, actually I can’t believe I would be placed in A class which is full of many smart students, in the other hand, I didn’t get enough English lesson in my boarding school because we learnt Arabic more, compared to English. The comparison is 1:9.. But Alhamdulillah, I’m happy to be a part of them so I can learn more Insya Allah.

My first lecturer was Miss. Khairunisa Maslichul and the second one is Mr. Wisnu. I like the way they teach, they used 2 direction learning, we discuss together by making groups, play games, make presentations and practice using English in the class. So we enjoy the class.

But that’s not my point, I mean what I want to share here is about the writing exercise that makes me like to try writing in English..

Miss Nisa asked me and the whole class to make an article with the topic: why we choose Tazkia and what will we do to improve the Islamic Economics in Indonesia. Well, that’s a bit challenging for me, since I rarely write in English.

However, even if it’s bad (the grammar and my hand-writing), I’d love to share it here, I hope one day it can inspire others to join us in Tazkia University too..

Well, I choose Tazkia because the suggestion from my father, he really hope me to enroll to Tazkia and take Muamalah major. Actually I want to be a psycholog or writer and lecturer like my father, also a stay-at-home housewife crafter like my mother. So at first, I extremely want to choose Psychology major, but my mother hopes me to enroll to LIPIA since there is a Syaikh who gives us a chance to get into LIPIA for sure.. However now I’m here and about me and my mother’s hope, I have a plan to continue my study at Ta’lim ‘An Bu’d (KJJ) LIPIA and Islamic Online University in psychology major.

It’s just the beginning. After PORTAL days ago, everything has changed, everything in my mind. I was inspired by some lecturers and mentors. They opened my mind and let me think that what world especially Indonesia needs is an Islamic Economist who will return the golden age of Islamic Economics era. Islamic Economics based on the most truthful guide book. It’s Al-Quran and Sunnah. There is no hesitation in both of them. And the most important is, Al-Quran and Sunnah is the most fair and equitable concept of Economics to make the world prosperous and become a better place.

For example, zakat, waris and shadaqah.. Western concept said that happiness is having everything, “the more we get the more we waste”, but Islamic concept said that if we make people happy (by giving them what they need from what we have), so we will feel happier “the more we give the more we get”.

So our focus is for Akhirat (hereafter), it’s a place we will return. Nobody knows when will we die, but death is a certainty.. If what we look for is just money, how if we die before achieving it? Everything of our effort will be useless. But if we do good deeds, that going to be an everlasting savings for hereafter insya Allah.

Back to my story, I love writing FYI. So for the second question about what will I do to improve Islamic Economics in Indonesia? My certain answer is, by writing, make articles, jurnals or books about economy. I can’t be an entrepreneur, I have a very low self esteem, I don’t like marketing or banking stuff. But I like to share something that inspire others. I want to change people’s mindset about Islamic Economics concept, because Islam, our most perfect religion already teach us how to manage wealth and how should we attitude with it, such as, we should use the wealth just as we need, no more, so how about the rest of it? Use it for good deeds and shadaqah, be a philantrophic, have a role for the raising of the era of equality between rich and poor, which the rich and the poor both grateful.

Through English, I want my writings to spread not only in Indonesia, but worldwide as well Insya Allah. Because if they know how fair the way  Islam managed Muslim’s wealth, they’ll be astonished, because there is no other that can be compared with Allah’s sayings.

One of my convert-to-Islam Lithuanian friend was inspired by Al-Quran, especially the verses of mawaris (legacy), and now she study at Glasgow University’s economic major.

If she, who is a converted Muslimah have a very big enthusiast and spirit to learn more about Islamic Economics and she is one of it’s warrior, how about us?

What did we do to improve Islamic Economics in this most-biggest-Muslim-population country?

Let’s be smart together.

Be a Muslim economist and have a role in strunggle for our beloved Islam and Indonesia (Anwar G)

Miftahul AnwarWhy I Choose TAZKIA and What I Will Do to Improve Islamic Economics in Indonesia
read more

Pusat Studi Fintech Syariah, Menjawab Tantangan Era Ekonomi Digital

No comments

Oleh Dr. Achmad Firdaus MSi (Ketua Program Studi Magister Ekonomi Syariah Tazkia)

Pada Workshop on Effective IT Introduction & Implementation in Business di Tokyo Jepang yang berlangsung dari tanggal 22 November sampai dengan 21 December 2001 terungkap bahwa era ekonomi baru akan tercipta sebagai respon atas revolusi bidang IT. Pelanggan akan lebih diberdayakan karena mereka dilengkapi dengan informasi yang lebih cepat. Mereka menjadi lebih mudah memilih kebutuhan secara langsung. Perusahaan akan bertransformasi sebagai reaksi atas dinamika hubungan diantara karyawan. Manajemenpun dengan cepat dapat mengambil keputusan. Sedangkan para karyawan akan semakin sering dan cepat mendapatkan pengetahuan baru melalui IT knowledge management. Struktur organisasi pun cenderung menjadi flatdengan penugasan yang besifat matrik. Dampak besar pada bidang manajemen bisnis adalah dengan semakin meluasnya Business Process Re-enginering (BPR) atau yang biasa kita kenal dengan rekaya proses bisnis.

Belum dapat diprediksikan secara tepat saat itu (tahun 2001), akibat yang dapat ditimbulkan dari evolusi rekayasa proses bisnis  dampak dari revolusi IT. Kenyataannya, 15 tahun kemudian, rekayasa proses bisnistelah berdampak pada bidang ekonomi, sosial dan hukum. Munculnya cryptocurency sebagai mata uang virtual, telah mengubah bisnis proses peredaran uang tanpa melalui bank sentral. Mata uang beroperasi secara independen. Nilai mata uang bukan ditentukan oleh bank sentral tetapi dibiarkan mengambang sesuai supply dan demand. Kondisi ini, jelas menjadi peluang besar bagi para invisible hand untuk bermain di dunia digital. Tentu saja hal ini berdampak pada kehidupan sosial masyarakat.

Rekayasa bisnis proses pada peer to peer lending (P2P) telah menghapus fungsi intermediari bank yang menghubungkan antara investor pemilik modal dengan individu maupun pelaku usaha yang membutuhkan modal. Para pelaku usaha yang unbankable, akan menjadikan format P2P sebagai kesempatan luas untuk mendapatkan pembiayaan. Namun demikian, sudah terbayang di depan mata, akan timbulnya risiko besar dari rekayasa bisnis proses P2P. Risiko bagi para pelaku P2P, regulator keuangan maupun masyarakat secara keseluruhan.

Sebagai institusi pendidikan ekonomi syariah, Program Pascasarjana STEI Tazkia  bersama LPPM STEI Tazkia, memiliki kewajiban sosial untuk memberikan kontribusi pemikiran terhadap pekembangan financial technology, khususnya berkaitan dengan kesesuaian terhadap syariah. Pada tanggal 12 Agustus 2017, Program Pascasarjana STEI Tazkia menyelenggarakan kuliah umum dan seminar nasional yang bertema Pengembangan Ekonomi Islam pada Era Digital. Beberapa pembicara yang diundang pada acara tersebut adalah Dr. M. Syafii AntonioMec dengan materi berjudul KNKS, Jembatan menuju Era baru Perkembangan Ekonomi Islam di Indonesia. Dr. Erwandi Tarmizi, MA menyampaikan materi Akad-akad Ekonomi Islam Berbasis Transaksi Digital Kontemporer. Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc menyampaikan materi berjudul Financial Tecnology (FinTech) Menyongsong Era Baru Ekonomi Islam. Dr. Sutan Emir, M.Ec menyampaikan materi berjudul Tantangan dan peluang Financial Tecnology di Timur Tengah.

Tanggal 21 Agustus 2017, LPPM STEI Tazkia menyelenggarakan kegiatan Monday Forum yang bertemakan Pentingnya Peran FinTech Dalam Perkembangan Ekonomi Syariah. Kegiatan menghadirkan beberapa praktisi FinTech sebagai pembicara yaitu StartZakat dan Indves. Kedua nara sumber berbagi pengalaman dalam membangun teghnologi informasi pada pengelolaan zakat dan investasi.

Tanggal 30 September 2017, Program Pascasarjana STEI Tazkia dan LPPM Tazkia menyelenggarakan seminar nasional bertajuk Islamic Fintech Seminar Series: Arah Dan Tantangan FinTech Syariah Di Indonesia. Seminar sehari menampilkan beberapa pembicara yang berkompeten di bidangnya, baik regulator, praktisi maupun akademisi. Seminar diadakan bersamaan pula dengan launching Pusat Studi FinTech Syariah Tazkia oleh Dr. Muhammad Syafi’i Antonio, M.Ec sebagai Ketua STEI Tazkia.

Dr. Hendrikus Passagi, S.Sos, M.Sc, CMBA, Direktur Pengaturan, Perizinan dan Pengawasan FinTech Industri Keuangan Non-Bank, Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia, menyampaikan berbagai potensi, ekosistem hingga roadmap dari pengembangan Fintech di Indonesia untuk 6 tahun kedepan. Adapun roadmap tersebut dibagi dalam lima tahap, yaitu konsolidasi, penetrasi, kolaborasi, national recognition dan global recognition.

Dr. Muhaimin Iqbal selaku Chairman dari Indonesia Startup Center, i-Grow, Ustadz Yusuf Mansur selaku Founder dari Paytren (melalui video conference dari Paris Perancis), dan Dr. Ir. Hari Santosa Sungkari, M.H, selaku Deputi Infrastuktur, Badan Ekonomi Kreatif Indonesia. Pembicara membahas berbagai peluang serta tantangan yang dihadapi para penggiat Fintech, khususnya startup. Pembahasan tidak hanya seputar peluang bisnis startup Fintech Syariah, melainkan juga peran pemerintah dalam mendukung pengembangan bisnis tersebut.

Pembicara lain adalah Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc selaku Wakil Ketua STEI Tazkia, Dr. Mohammad Mahbubi Ali selaku Research Fellow dari Institute of Advanced Islamic Studies (IAES) Malaysia sekaligus Dosen Pascasarjana STEI Tazkia, Rima Dwi Permatasari selaku Kepala Divisi Dana dan Transaksi PT Bank BNI Syariah serta Eko Budhi Suprasetiawan, S.T selaku Vice President IT Operation & Application Development dari PT PEFINDO Biro Kredit.

Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc menyampaikan pembahasan terkait isu legalitas, akuntansi, audit, tata kelola serta etika dalam pengembangan Fintech Syariah. Dr. Mohammad Mahbubi Ali menyoroti prinsip-prinsip syariah yang perlu diperhatikan dalam penerapan transaksi keuangan digital, seperti dalam hal produk, kontrak, biaya, hukumdan lain sebagainya. Sedangkan, Rima Dwi Permatasari SH menerangkan peran Fintech dalam menunjang kinerja industri perbankan, khususnya misi dari PT Bank BNI Syariah dalam mewujudkan wakaf hasanah untuk Indonesia. Senada dengan tiga narasumber sebelumnya, Eko Budhi Suprasetiawan, S.T membahas peran PEFINDO Biro Kredit sebagai suatu lembaga yang memiliki izin dari pemerintah dalam mengelola informasi perkreditan untuk mendukung pengembangan Fintech syariah di Indonesia. Beberapa manfaat yang beliau tawarkan, antara lain keamanan, saling melindungi, bagi hasil berbasis credit score, inklusi keuangan hingga pengembangan pasar. Semoga dengan launching Pusat Studi Fintech Syariah Tazkia, tazkia dapat memerbikan kontribusi bagi pengembangan Fintech Syariah di dunia. Amin (Anwar G)

Miftahul AnwarPusat Studi Fintech Syariah, Menjawab Tantangan Era Ekonomi Digital
read more

PROGRES Tazkia Terpilih Sebagai 5 Besar KSEI Terbaik Tingkat Nasional

No comments

Segenap Civitas Akademika STEI Tazkia mengucapkan selamat dan turut banga kepada Progres Tazkia yang telah terpilih sebagai 5 besar KSEI (Kelompok Studi Ekonomi Islam) terbaik tingkat Nasional.

Penghargaan kepada 5 KSEI terbaik berdasarkan Akreditasi KSEI se-Nasional pada Munas FoSSEI XV 2017 diberikan kepada:

  • KSEI Progres Tazkia
  • BSO KSEI FE UNJ
  • KSEI Lisensi UIN Jakarta
  • KSEI Unair Surabaya
  • KSEI Unes Semarang

Semoga dengan adanya penghargaan ini bisa memberikan inspirasi dan motivasi kepada seluruh mahasiswa Tazkia agar lebih produktif dan lebih semangat dalam meraih prestasi. Semoga dengan penghargaan ini juga menjadi bukti sumbangsih Tazkia dalam perjuangan dakwah Ekonomi Islam. Ekonomi Islam Bisa!!! (Anwar G)

Miftahul AnwarPROGRES Tazkia Terpilih Sebagai 5 Besar KSEI Terbaik Tingkat Nasional
read more

Fintech Syariah, Sebuah Keniscayaan di Masa Depan

No comments

Oleh: Wiku Suryomurti (Dosen dan Direktur Center of Ethical and Responsible Investment STEI Tazkia. Saat ini sedang menempuh studi S3 di bidang Islamic Finance di Adam Smith Business School, University of Glasgow)

Menurut riset terbaru dari MarketInvoice, sebuah perusahaan penyedia layanan keuangan di Inggris menyatakan bahwa mayoritas perusahaan besar di Inggris telah mengadopsi aplikasi keuangan berbasis teknologi atau fintech (financial technology), yang membantu mereka menghemat jutaan pounds setiap tahun. Survey tersebut dilakukan pada bulan Agustus dan September 2017 terhadap sekitar 3000 perusahaan dan pebisnis.

Riset tersebut menemukan bahwa ada sekitar 77 persen perusahaan di Inggris yang telah peduli (aware) tentang produk dan jasa berbasis fintech. Bahkan sekitar 65 persen atau dua pertigadari mereka telah mengadopsi sedikitnya satu aplikasi fintech dalam bisnis mereka. Dan sekitar 19 persen melaporkan menggunakan setidaknya 4 jasa/produk fintech. Menariknya lagi adalah bahwa ada sekitar 11 persen dari perusahaan tersebut yang menyatakan mereka telah menerima atau melakukan pembayaran dengan Bitcoin dan atau mata uang cryptocurrency lain.

Kelebihan dari aplikasi fintech menurut para responden adalah dalam transparansi pengelolaan, user experience, efisiensi waktu dan biaya yang lebih rendah.

Tren di negara maju seperti Inggris tersebut pun dipercaya tidak akan lama lagi terjadi di Indonesia, sebagaimana halnya booming aplikasi transportasi seperti Uber, layanan penginapan seperti Airbnb dan aplikasi pemesanan tiket dan traveling online.

Selain aplikasi peer to peer lending dan crowdfunding, aplikasi teknologi keuangan juga akan merambah sektor bisnis lain, termasuk industri asuransi. Hal ini tidaklah mengherankan karena proses bisnis asuransi pun dapat didisrupsi dengan aplikasi fintech. Contohnya seperti kemudahan dalam pendaftaran asuransi, pengelolaan dana tabarru, serta simplifikasi proses pengajuan klaim. Dan tidak menutup kemungkinan pula tercipta business model baru sektor asuransi syariah dengan aplikasi fintech ini.

Walaupun demikian, sebagai bisnis di bidang jasa keuangan, transaksi dalam fintech pun dapat tersangkut dalam hal-hal yang dilarang dalam prinsip syariah Islam, misalnya Riba, Gharar, Maysir dan Dzulm. Oleh karenanya, para akademisi, pakar fiqh, regulator (pemangku kebijakan), praktisi keuangan dan pelaku startup perlu duduk bersama dan bersinergi untuk terus melakukan kajian, pengembangan serta pengawasan terhadap aplikasi fintech berbasis syariah, khususnya di Indonesia. Wabil khusus dengan tujuan untuk kemaslahatan umat Islam yang merupakan mayoritas di negeri ini. Ditambah pula dengan fakta bahwa kalangan kelas menengah muslim (muslim middle class) diprediksi akan mendominasi ekonomi di Indonesia dalam kurun waktu 5-10 tahun mendatang.

Dengan melihat perkembangan tersebut, adalah merupakan sebuah langkah maju dan strategis ketika STEI Tazkia mengadakan seminar bertajuk Arah dan Tantangan Fintech Syariah di Indonesia pada tanggal 30 September 2017 di Aula Alhambra, Masjid Andalusia, Sentul City. Sebagai kampus pelopor Ekonomi Syariah, STEI Tazkia perlu mengambil peran dalam isu penting ini sebagai pengejawantahan tridarma perguruan tinggi yaitu Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat.

Akhirul kalam, saya mengucapkan selamat atas diluncurkannya Pusat Kajian Fintech Syariah di STEI Tazkia. Semoga dapat turut mendorong pengembangan kajian dan riset tentang Fintech berbasis Syariah di Indonesia. Wallahualam (Anwar G)

Miftahul AnwarFintech Syariah, Sebuah Keniscayaan di Masa Depan
read more

Tazkia Resmikan Pusat Kajian Fintech Syariah

No comments

Sabtu, 30 September 2017

Dewasa ini, kegiatan perekonomian masyarakat global tidak bisa terpisahkan lagi dari penggunaan Fintech. Kemudahan dan kenyaman yang ditawarkan dalam setiap transaksi ekonomi membuat para penggunanya memiliki ketergantungan tersendiri dalam penggunaannya. Di Indonesia sendiri, perekembangan Fintech terhitung begitu pesat. Hal ini dapat dilihat dengan bermunculannya perusahaan-perusahaan/bisnis Start Up yang dalam waktu yang relatif singkat mampu meraup omset atau pendapatan yang begitu tinggi, semisal Gojek dan  Buka Lapak. Bukan hanya itu, Fintech juga sudah masuk dalam semua bentuk kegiatan atau transaksi ekonomi, baik Jual Beli, Investasi, Asuransi, dan yang lainnya.

Berdasarkan fakta ini, STEI Tazkia sebagai lembaga pelopor pendidikan Ekonomi Islam di Indonesia, tidak mau ketinggalan untuk mengkaji lebih dalam tentang perkembangan Fintech di Indonesia. Sehingga pada tanggal 30 September 2017 STEI Tazkia meresmikan dan memperkenalkan sebuah pusat studi atau kajian mengenai Fintech Syariah pertama di Indonesia. Pusat kajian Fintech Syariah ini ditujukan untuk mengkaji secara mendalam dan menyeluruh mengenai perkembangan Fintech di Indonesia, peluang yang bisa dioptimalkan dan tantangan yang akan dihadapi, dan tentu saja nilai-nilai Syariah yang harus menjadi landasan dan acuan dalam setiap kegiatan atau transaksi Fintech.

Bersamaan dengan peresmian Pusat Kajian Fintech Syariah, STEI Tazkia mengadakan acara seminar yang bertajuk “Islamic Fintech Seminar Series, Arah dan Tantangan Fintech Syariah di Indonesia”, sebagai acara pembuka. Seminar ini menjadi spesial karena langsung mendatangkan para ahli dengan latar belakang yang berbeda yang membahas Fintech Syariah dari berbagai sisi dan sudut pandang yang berbeda.

Dr. Muhaimin Iqbal & Dr. Ir. Hari Santosa Sungkari, M.H. dalam sesi tanya jawab

Dr. Muhaimin Iqbal & Dr. Ir. Hari Santosa Sungkari, M.H. dalam sesi tanya jawab

Dari lembaga pemerintahan diwakili oleh Dr. Hendrikus Passagi (Direktur Pengaturan Perizinan dan Pengawasan Fintech OJK) dan Dr. Ir. Hari Santosa Sungkari, M.H. (Deputi Infrastruktur Badan Ekonomi Kreatif Indonesia) yang membahas masalah regulasi dan upaya-upaya pemerinta (badan terkait) untuk menunjang perumbuhan dan perkembangan Fintech di Indonesia. Dari praktisi (pelaku sektor Fintech) diwakili oleh KH. Yusuf Mansur (Founder of Paytren), Dr. Muhaimin Iqbal (Chairman of Indonesia Startup Center I-Grow), dan Eko Budhi Suprasetiawan (Vice President IT Operator & Application Development) yang membahas peluang dan tantangan yang dihadapi dalam perkembangan Fintech di Indonesia. dari dunia perbankan diwakili oleh Rima Dwi Permatasari, S.H. (Kepala Divisi Dana & Transaksi BNI Syariah) yang membahas peluang dan kerjasama dalam rangka meningkatkan kinerja pelayanan untuk kenyamanan para nasabah. Dan terakhir perwakilan dari bidang akademisi yang diwakili  oleh Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc. (Wakil Ketua STEI Tazkia) dan Dr. Mahbubi Ali (Research Fellow of International Institute of Advanced Islamic Studies & Dosen Pascasarjana STEI Tazkia) yang membahas dari sisi pencatatatan keuangan (auditing) kegiatan Fintech dan kesesuaian kegiatan Fintech dengan nilai-nilai Syariah. (Anwar G)

Miftahul AnwarTazkia Resmikan Pusat Kajian Fintech Syariah
read more

GERAKAN WAKAF PASCA KURBAN

2 comments

Oleh Nashr Akbar M.Ec (dosen tetap tetap STEI Tazkia dan koordinator LPPM STEI Tazkia)

Ibadah kurban ‘idul adha telah berlalu. Berbagai lapisan masyarakat bersorak-sorai merayakannya. Parapekurban dengan suka cita berharap akan mengalirnya pahala pada setiap rambut pada bulu-bulu hewan yang dikurbankan. Daging kurban yang disalurkan kepada para fakir miskin dan kepada para tetangga serta handai taulan memperkuat ikatan tali silaturrahim.

Sedikit menilisik data kurban nasional pada tahun sebelumnya, 2016. Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementrian Pertanian melaporkan penyembelihan hewan kurban secara nasional yang terdata sebanyak 1.019,777 ekor, terdiri dari 279.221 ekor sapi, 7.535 ekor kerbau, 650.583 ekor kambing, dan 82.438 ekor domba.

Besarnya antusiasme umat Islam untuk berkurban dilandasi oleh perintah Allah SWT dalam surah al-Kautsar:

“Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak. Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah. Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah).”(Q.S. Al-Kautsar: 1-3)

Ibadah kurban merupakan tanda syukur dan upaya untuk taat dan mendekat kepada-Nya. Ia mengingatkan kita bahwamateri bukanlah tujuan yang harus ditumpuk dan dikejar-kejar. Materi tiada lain adalah wasilah (perantara) untuk mendapatkan ridho-Nya. Semangat berkurban ini tentunya adalah hal positif yang jangan surut. Bahkan, perlu ditingkatkan.

Dalam hal ini, penulis ingin mengingatkan ada satu ibadah yang pahalanya tidak kalah dengan pahala ibadah kurban. Pahalanya mengalir terus, meski yang mengerjakannya telah meninggal dunia. Ibadah tersebut adalah wakaf. Sabiq (1995) menjelaskan bahwa apa yang dimaksud dengan wakaf adalah menahan pokok harta dan membelanjakan manfaat yang dihasilkan di jalan Allah. Syariat wakaf didasarkan pada sebuah hadith yang diriwayatkan oleh ibu ibnu Umar bin Khattab ra tatkala beliau menerima sebidang tanah di khaibar sebagai bagian dari harta rampasan perang. lantas, ia pun bertanya kepada Rasulullah saw apa yang mesti ia perbuat dengan aset tersebut. Rasulullah saw menjawab, “Jika engkatu mau, wakafkanlah tanah tersebut (tahan pokoknya dan sedekahkan hasilnya).” (H.R. Muttafaq alaih)

Selain Umar ra, sejumlah sahabat juga mewakafkan hartanya, di antaranya: pembuatan sumur oleh Utsman bin Affan (dalam riwayat lain bahwa Utsman membelinya dari seseorang dari bani Ghaffar) dan wakaf kebun yang indah (bayraha) oleh Abu Thalhah (Sabiq, 1995).

Objek wakaf pun berkembang. Ia tidaklah mesti aset yang tidak bergerak seperti tanah atau bangunan. Wakaf dapat berupa uang, saham, hak kekayaan intelektual dan lainnya. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam fatwa MUI tahun 2002 yang kemudian dilegalkan oleh pemerintah melalui undang-undang no. 41 tahun 2004.

Wakaf menjadi salah satu cara efektif yang bertujuan untuk mengembangkan aspek sosial ekonomi masyarakat. Bila saja para pekurban juga mengalokasikan sejumlah uang yang sama untuk wakaf, maka nilai wakaf yang terkumpul bisa mencapai Rp 4,1 triliun (asumsi harga kambing dan domba 1,5 juta, sedangkan sapi 10,5 juta dan kerbau 15 juta). Belum lagi ditambah dengan umat Islamyang tidak berkurban. Dengan dibolehkannya wakaf uang, siapapun bisa berwakaf. Tidak ada atas minimalnya, sehingga semua orang bisa berwakaf semampunya.

Dengan jumlah yang sedemikian besar, maka banyak hal yang dapat dilakukan oleh umat Islam. Terlebih jika dana tersebut terkumpul setiap tahunnya, maka dana wakaf akan terus terakumulasi, mengingat pokok harta wakaf tidak boleh berkurang.

Di sektor pendidikan, kita mengenal kampus al-Azhar yang telah melahirkan banyak ulama besar yang tak terhitung jumlahnya. Di Indonesia, juga terdapat Ormas Muhammadiyah yang memiliki 9.344 sekolah (TK-SMA), 171 Perguruan Tinggi,dan 2.119 institusi pelayanan kesehatan (Rumah saki, rumah bersalin, dll), serta aset lainnya. (www.muhammadiyah.or.id)

Contoh lain yang tak kalah hebat adalah Pondok Modern Gontor yang dibangunatas wakaf dari para pendirinya, trimurti. Wakaf nya pun terus bertambah. Saat ini, Gontor telah memiliki 12 pondok putra dan 6 pondok putri yang tersebar di berbagai daerah. Belum lagi, wakaf yang bersifat produktif, seperti koperasi pesantren, penggilingan padi, sawah, percetakan dan lainnya.

Sebagai ikhtisar, mari kita kobarkan semangat untuk berwakaf. Jangan pernah merasa cukup dengan ibadah kurban. Ayo berlomba dalam kebaikan. Bukankah harta kita yang sesungguhnya adalah apa yang kita sedekahkan. Dan tidaklah berkurang harta yang disedekahkan. Ayo berwakaf!

Miftahul AnwarGERAKAN WAKAF PASCA KURBAN
read more

Harapan Baru Perkembangan Akuntansi dan Akuntan Syariah di Indonesia

No comments

Oleh Sulhani, SEI, MAk (Kaprodi Akuntansi Islam STEI Tazkia

Akuntansi syariah merupakan suatu ideologi. Akuntansi syariah adalah ilmu yang tidak bebas nilai yang dibentuk oleh filosofi dan sikap hidup masyarakat yang ada dalam suatu lingkungan organisasi yang tumbuh dengan nilai-nilai Islam (Harahap, 2001, Triyuwono, 2000 dan Riahi-Belkoui, 1994). Salah satu perbedaan mendasar antara akuntansi konvensional dan akuntansi syariah adalah dalam memandang harta perusahaan. Dalam konsep akuntansi konvensional harta perusahaan adalah milik entitas perusahaan yang harus digunakan untuk memaksimalkan kesejahteraan pemegang saham. Sedangkan dalam konteks akuntansi syariah harta merupakan kepunyaan Allah SWT, hal ini sesuai dengan Al-Qur’an surat Ali-Imran ayat 284 yang berbunyi “Milik Allah-lah apa yang ada dilangit dan apa yang ada di bumi” Sedangkan manusia sebagai khalifatullah fill ardh ditugaskan untuk menjaga semua yang ada dilangit dan dibumi untuk kemaslahatan alam semesta. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an surat  Al-Baqarah ayat 29 yang berbunyi “Dia-lah yang menjadikan segala yang ada dibumi ini untuk kamu (manusia)”.

Dalam konteks akuntansi syariah kata kamu dalam ayat tersebut dapat ditujukan kepada para akuntan syariah. Sehingga akuntan syariah  memiliki tugas melebihi akuntan konvensional yang hanya bertanggung jawab kepada Stakeholder dunia. Akuntan syariah merupakan khalifatullah fill ardh yang harus menjaga bumi dan isinya, termasuk yang telah dimiliki melalui legalitas dunia oleh kelompok-kelompok/organisasi tertentu. Atas dasar inilah maka akuntan syariah harus berbeda secara fundamental dengan akuntan konvensional. Akuntan syariah harus menyadari bahwa bekerja sebagai akuntan merupakan bentuk pengabdian tertinggi kepada Allah SWT, sehingga setiap akuntan syariah akan memberikan kinerja terbaik dalam melakukan pekerjaannya (Aldulaimi : 2016). Karena konsep mendasar yang berbeda inilah maka Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) sebagai wadah para akuntan profesional di Indonesia memiliki perhatian khusus terhadap perkembangan akuntansi syariah di Indonesia.

Hal ini terbukti pada tahun 2005 IAI telah memiliki komite akuntansi syariah yang secara khusus bertugas memastikan praktik-praktik bisnis syariah memiliki pedoman pencatatan, pelaporan dan pertanggungjawaban tersendiri yang berbeda dengan pedoman yang sudah ada. Dan puncaknya pada akhir tahun 2016 para penggerak akuntansi syariah di Indonesia mendapatkan kabar gembira dengan dibentuknya kompartemen akuntansi syariah di bawah IAI melalui surat keputusan nomor 41/SK/DPN/XI/2016. Pembentukan kompartemen akuntansi syariah ini sendiri diinisasi oleh para penggiat akuntansi syariah baik dari Perguruan tinggi negeri maupun perguruan tinggi swasta yang tergabung dalam forum dosen akuntansi syariah. Forum tersebut yang kemudian sercara rutin berdiskusi dan merumuskan banyak hal terkait dengan akuntansi syariah. Dari sudut pandang yang lebih luas pembentukan kompartemen ini diharapkan mampu mendorong perkembangan ekonomi syariah di Indonesia. Seperti diketahui bahwa perkembangan ekonomi syariah di Indonesia perlu diimbangi dengan alat pertanggungjawaban yang lebih relevan dengan kaidah-kaidan yang ada dalam ekonomi syariah. Dengan dibentuknya komparetemen akuntansi syariah diharapkan alat-alat pertanggunjawaban melalui akuntansi akan lebih mudah dan leluasa untuk dikembangkan dan tentunya akan lebih sesuai dengan nilai-nilai syariah.

Harapan besar terhadap dibentuknya kompartemen akuntansi syariah oleh IAI adalah semakin meningkatnya transparansi dan akuntabilitas perusahaan-perusahaan yang menjalankan praktik syariah sehingga mampu meningkatkan percepatan pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia. Lebih jauh dari itu kompartemen akuntansi syariah ini diharapkan mampu mendorong tumbuhnya akuntan-akuntan syariah profesional yang senantiasa menjadikan penyembahan kepada Allah sebagai tujuan utamanya baik dilakukan melalui aktifitasnya sebagai akuntan publik, akuntan pendidik maupun akuntan pemerintahan. Wallahu A’alam Bishawab.

Miftahul AnwarHarapan Baru Perkembangan Akuntansi dan Akuntan Syariah di Indonesia
read more