Berita Terbaru

Bekerja Bagian dari Keuangan Keluarga Syariah

No comments

Oleh : Dr. Murniati Mukhlisin M.Acc
Konsultan Sakinah Finance/Ketua STEI Tazkia

Kali ini Sakinah Finance belajar membuka kitab – kitab klasik karangan ulama Muslim di zaman dahulu. Walaupun saat ini kita berada di dalam kehidupan modern namun pandangan klasik ini masih sangat relevan. Latar belakang penulis kitab-kitab klasik ini bukan main luar biasa, kebanyakannya penghafal Al-Qur’an yang mendukung kebaikan dan memerangi kemaksiatan yang tercermin jelas dari karya – karyanya.

Salah satu rujukan kita kali ini adalah Kitab Al-Kasb yang didefinisikan sebagai kegiatan bekerja karangan Abu Abdullah Muhammad bin Al-Hasan bin Farqad Jazariya Asy-Syaibani (132H/748M – 189H/804M). Ulama yang dikenal dengan sebutan Imam Asy-Syaibani ini hidup di akhir masa Bani Umawiyyah dan di awal masa Bani Abbasiyah. Beliau yang sudah menghafal Al-Qur’an sejak kecil ini berguru langsung dengan ulama besar, Abu Hanifah penggagas Mazhab Hanafi yang dianut sebagian ummat Islam hingga saat ini, juga menjadi muridnya Abu Yusuf seorang ahli fiqih dan ekonomi.

Konsep bekerja
Konsep bekerja dalam konteks Islam harus selalu berorientasi ibadah. Hal ini telah diperintahkan Allah SWT yaitu: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-zariyat (51): 56). Maka dari itu penting sekali bagi kita untuk menanamkan niat sebelum menjalankan sebuah pekerjaan dengan niat ibadah, yaitu mengharap ridho Allah.

Tentu saja kita harus yakin bahwa hasil bekerja itu akan mendatangkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Anjuran ini ada dalam Al-Qur’an yang menjadi salah satu doa yang kerap dibaca ummat Islam: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Al-Baqarah (2): 201).

Alasan, jenis dan tujuan bekerja
Dalam kitab Al-Kasb dijelaskan mengapa kita perlu bekerja adalah karena perintah Allah SWT supaya kita bertebar di muka bumi untuk mencari karunia Allah (QS Al-Jumuah (62): 10 dan agar kita membantu orang lain dari hasil kita yang baik-baik (QS Al-Baqarah (2): 267. Bekerja untuk memperoleh harta yang halal (kasb) adalah juga bertujuan agar dapat membedakan mana yang halal dan yang haram.

Sedangkan jenis – jenis pekerjaan yang baik adalah pertanian, manufaktur dan jasa yang mana bidang pertanian ditegaskan oleh Asy-Syaibani sebagai jenis pekerjaan yang paling penting. Hal ini karena menentukan penyediaan makanan dimana sudah menjadi hajat hidup orang banyak dan pendorong roda ekonomi secara umum.

Adapun tujuan bekerja ada beberapa level yaitu; untuk mencukupi kebutuhan diri sendiri, melunasi utang, memberi nafkah istri dan anak, memenuhi kebutuhan dasar orangtua, membantu sanak saudara, dan memperhatikan lingkungan sekitar.

As-Syaibani juga menekankan bahwa dalam memenuhi tujuan bekerja itu kita harus bersikap zuhud atau tidak haus kepada kebutuhan dunia, tidak isyraf atau berlebih-lebihan dan menjauhi sifat tabdzir atau pemboros atas hal – hal yang tidak perlu.

Lesson learnt
Pelajaran kita hari ini adalah bekerja adalah ibadah dan merupakan kewajiban baik itu sebagai seorang individu untuk menghidupi dirinya sendiri, kepala rumah tangga bagi istri dan anak – anaknya, anak yang berbakti kepada orangtua dan keluarga serta anggota sosial kemasyarakatan.

Ternyata bekerja dalam konteks Islam tidak bertujuan akhir agar harta bertumpuk melainkan hanya sebagai media (wasilah) untuk senantiasa berbuat amal sholeh dan dekat kepada Allah.

Dalam konteks negara, bidang pertanian perlu dijadikan fokus utama secara berkesinambungan. Hingga saat ini Indonesia sudah berada di jalur yang tepat dengan dibuktikan bahwa sebanyak 39,68 juta penduduk Indonesia bekerja di bidang pertanian. Artinya ada 31,86 persen dari jumlah penduduk bekerja yang jumlahnya 124,54 juta orang seperti yang disampaikan oleh Kepala BPS Suhariyanto, 5 Mei 2017 yang lalu (bisnis.tempo.co).

Diharapkan upah buru tani makin baik dari yang sebelumnya, misalnya bulan Oktober 2017, upah nominal harian buruh tani nasional adalah sebesar Rp. 50.339 naik dari Rp. 50.213 di bulan Oktober (Badan Pusat Statistik, 2018). Begitu juga lulusan Institut Pertanian Bogor agar dapat lebih banyak berkiprah sebagai ahli dalam bidang pertanian dan lebih bagus lagi jika mampu mengaitkannya dengan akselarasi sektor keuangan syariah.

Dengan kemajuan e-commerce dan FinTech, beberapa komunitas sudah merespon supaya sektor pertanian Indonesia ini dibangun lebih baik lagi. Misalnya sudah tumbuh startup seperti iGrow, Eragano, 8Villages, SayurBox, Simbah, Pantau Harga, Karsa, Kecipir, TaniHub, Limakilo, Sikumis, Crowde, CI-Agriculture, Habibi Garden, PanenID, Nyayur, RegoPantes, Kandagin, Tumbasin, TaniFund, Vestifarm, Angon, Karapan.

Tentu saja sangat tepat sekali jika Kementerian Pertanian Republik Indonesia bersama-sama dengan Otoritas Jasa Keuangan dan Bank Indonesia bersama-sama membina para startup ini. Hal ini adalah supaya dapat menjangkau para petani dan hasil tani di daerah terpencil dengan tata kelola yang baik yang pada akhrinya dapat meningkatkan swasembada pangan dan ekspor hasil pertanian.

Ada banyak lagi kitab – kitab klasik yang dapat dipelajari oleh para keluarga untuk memastikan manajemen keuangan keluarganya menjadi lebih berorientasi syariah. Tentu saja para pembuat kebijakan dapat merujuk kitab – kitab klasik ini untuk meluruskan  kebijakan negara supaya senantiasa berpihak kepada seluruh rakyat Indonesia dengan sistem berkeadilan.

Sakinah Finance berterima kasih kepada dua orang alumni STEI Tazkia; Muhammad Hanif al-Hakim dan Nurizal Ismail atas paparannya mengenai kitab al-Kasb di Pusat Studi Kitab Klasik Islami-STEI Tazkia pekan lalu.

Demikian pesan As-Syaibani ini disampaikan, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bis-shawaab. Salam Sakinah! (sakinah.mysharing)

Miftahul AnwarBekerja Bagian dari Keuangan Keluarga Syariah
read more

Sinergi Industri Program Study Muamalah STEI Tazkia dengan Karimsyah & Pathners

No comments

Jakarta, 17 Januari 2018.
Salah satu problem yang dihadapi oleh perguruan tinggi berkaitan dengan kemampuan mahasiswanya adalah terjadinya gap antara teori dan aplikasi suatu ilmu di masyarakat. Adanya ketidaksinkronan antara teori yang dipelajari dengan praktik yang ada di lapangan, hal ini mengakibatkan banyaknya alumni perguruan tinggi yang tidak siap untuk memasuki pasar tenaga kerja. Efeknya adalah para sarjana yang menjadi pengangguran. Fenomena ini terjadi tidak hanya pada kampus kampus swasta namun juga terjadi pada kampus negeri yang masih kurang memperhatikan penting nya link and match dalam kurikullum mereka.
STEI Tazkia sebagai satu-satunya Kampus Pioner Ekonomi Islam telah mendobrak gap tersebut. Salah satu langkah yang dilakukan adalah rekonstruksi kurikulum yang dilakukan secara rutin dengan menyesuaikannya dengan industri.
Langkah praktis selanjutnya yang dilakukan adalah menjalin kerjasama lebih erat dengan industri. Sebagai kampus yang telah lama dikenal dekat dengan industri syariah kembali STEI Tazkia membuktikan kepeloporannya dalam hal ini. Program Studi Hukum Bisnis Islam yang langsung diwakili oleh Kepala Program Studinya yaitu Dr. Abdurrahman Misno BP, MEI melakukan kunjungan sekaligus usaha untuk semakin mendekatkan prodi ini ke Industri.
Kunjungan kali ini adalah ke Karimsyah and Pathners sebagai law firm terkemuka di Indonesia dalam industri ekonomi Syariah. “Kami akan terus menjalin hubungan dengan industri agar mahasiswa dan alumni kami memamahi dunia kerja yang sebenarnya” ungkap Dr. Misno. Ia menambahkan bahwa beberapa butir kesepakatan akan segera ditindaklanjuti, diantaranya adalah; pelatihan legal drafter, program magang, pemateri dalam Islamic Law Days, penelitian skripsi mahasiswa dan dosen serta kerjasama dalam sosialisasi sengketa ekonomi Syariah.
Mudah-mudahan kerjasama ini akan terus berlanjut sehingga Tazkia semakin mampu membuktikan diri sebagai kampus pelopor ekonomi syariah yang memiliki jaringan kuat ke Industri. ambp.

Rizqi ZakiyaSinergi Industri Program Study Muamalah STEI Tazkia dengan Karimsyah & Pathners
read more

Studium General Program Studi Hukum Ekonomi Syariah (Muamalah) Sejarah Hukum Ekonomi Syariah di Dunia Melayu

No comments

Perkembangan Ekonomi Syariah yang terus meningkat, hal ini terbukti dengan meningkatnya jumlah lembaga keuangan syariah serta berbagai layanan sosial yang berbasis syariah. Kebangkitan awal dari ekonomi Islam ditandai dengan berkembangnya lembaga keuangan syariah, minimal sejak tahun 1992. Sejak tahun 2017 ekonomi syariah telah memasuki periode kedua yaitu kebangkitan ekonomi syariah pada sektor real. Hal ini ditandai dengan berkembangnya secara pesat Koperasi 212 di seluruh wilayah Indonesia.

Sebagai wilayah yang kaya dengan berbagai sumber daya alam, Indonesia adalah lahan subur bagi perkembangan ekonomi syariah. Selain itu, Indonesia juga kaya dengan sejarah masa lalu yang telah mencapai mercu suar kebangkitan Islam khususnya dalam masalah hukum ekonomi syariah.
Kajian dan diskusi mengenai sejarah hukum ekonomi syariah belum banyak dilakukan oleh para peneliti, seolah-olah ia hanya berita masa lalu yang tidak penting untuk dikaji. Padahal sebuah pepatah lama menyatakan “Hana Nguni Hana Mangke, Tan Hana Nguni Tan Hana Mangke”, maksudnya adalah bahwa adanya hari ini adalah karena adanya masa lalu demikian pula adanya masa depan adalah karena adanya hari ini. Maka ketika hukum ekonomi syariah saat ini sedang mengalami pertumbuhan, maka sejatinya ia juga telah mengalami masa puncak kejayaan khususnya pada masa kejayaan Kesultaan di Indonesia dan juga di dunia melayu.
Salah satu dari fakta sejarah yang ada diantaranya adalah Kesultanan Banten. Kesultanan ini telah memiliki Mata Uang Sendiri, mengangkat seorang Syahbandar sebagai Wilayah Hisbah di Pasar, menjadikan Qadhi sebagai Hakim dalam Sengketa Ekonomi Syariah dan Sistem Ekonomi Syariah yang menjadi bagian tak terpisahkan dari Kesultanan. Maka, Gilang-gemilang Hukum Ekonomi Syariah pada masa lalu menjadi Kaca Benggala bagi generasi setelahnya.
Melihat fakta ini maka STEI Tazkia melalui Program Studi Hukum Ekonomi Syariah (Muamalah) mengadakan Studium General yang mendiskusikan mengenai Sejarah Hukum Ekonomi Syariah di Dunia Melayu). Tidak tanggung-tanggung, Studium General ini menghadirkan pakar sejarah pemikiran Islam dari Universiti Sains Malaysia yaitu Prof. Dr. Mohammad Mozzamil Mohammad Noor yang mempresentasikan mengenai pentingnya sejarah bagi generasi masa kini. Jika ekonomi Islam ingin berkembang maka mau tidak mau harus melihat bagaimana kejayaan Kesultanan Islam di Dunia Melayu khususnya dalam bidang ekonomi. Ia juga menyatakan bahwa Studium General ini sangat penting karena akan membuka mata dunia bahwa ekonomi syariah sejatinya telah ada di Nusantara ini, bahkan ia telah berjaya membawa kemakmuran wilayah ini.
Pembicara kedua yaitu Dr. Abdurrahman Misno BP, MEI lebih detail menjelaskan salah satud ari bukti sejarah yang selama ini ditutup-tutupi oleh penjajah yaitu kegemilangan ekonomi Islam di Kesultanan Banten. Ketua Program Studi Muamalah ini memberikan data-data tidak terbantahkan mengenai hukum ekonomi syariah yang telah ada dan berjaya di Kesultanan Banten. Beliau juga berharap kajian mengenai Sejarah Hukum Ekonomi Syariah harus terus dilanjutkan sebagai bentuk membumikan ekonomi Syariah di dunia Melayu.
Acara yang dihadiri oleh mahasiswa STEI Tazkia, Praktisi hukum Ekonomi Syariah dan masyarakat umum berjalan dengan hangat. Kami berharap studium general seperti ini akan sering dilakukan oleh berbagai prodi yang ada di STEI Tazkia. Harapan ini langsung diamini oleh ketua panitia, Akh Sirril Wafa menyatakan bahwa Prodi Muamalah telah berazam untuk menjadi pionner dalam kajian dan studi hukum Ekonomi Syariah. Setiap pekan kami akan membuat program untuk kajian dan diskusi mengenai muamalah. Insya Allah pada tanggal 20 Januari juga akan dilaksanakan Workshop Penyelesaian Sengketa Waris, seteah itu akan berlanjut dengan workshop, training dan sosialisaisi lainya. (ambp).

Rizqi ZakiyaStudium General Program Studi Hukum Ekonomi Syariah (Muamalah) Sejarah Hukum Ekonomi Syariah di Dunia Melayu
read more

Kajian Asma’ Allah “Al Afuwwu” STEI Tazkia menjadi bekal berharga untuk Civitas & Keluarga Calon Mahasiswa

No comments

STEI Tazkia, Sentul City Bogor, Ahad, 27/4/1439 H. Keluarga besar Kampus STEI Tazkia dan Masjid Andalusia kembali hadir dalam kajian rutin Sukses Kaya Bahagia dengan Asmaul Husna. Kali ini kajian diisi oleh Imam Besar Masjid Andalusia, Al Ustadz Abdul Mughni, B.A., M.H.I.

Asma’ Allah ta’ala yang diangkat dalam kajian ini adalah Asma’ Allah Al ‘Afuwwu (العفو) yang memiliki Arti yang maha memaafkan. Salah satu asma’ Allah yang menunjukkan betapa Allah sangat sayang kepada Setiap hamba-Nya. Sebagai hikmah yang bisa kita ambil dari Asma’ Allah Al ‘Afuwwu ini, kita diharuskan untuk saling memaafkan dan meminta maaf atas Setiap kesalahan yang kita lakukan kepada orang lain. Sehingga Allah Ta’ala berkenan memberi kita maaf atas semua kesalahan kita dengan sikap kita saling memaafkan antar sesama.

Kajian ini, rutin diadakan pada Ahad kedua Setiap bulannya, dan terbuka untuk umum. Termasuk diantaranya orang tua calon mahasiswa baru yang hari ini hadir bersama putra-putri mereka untuk mendaftar di Kampus Pelopor Ekonomi Islam.

Dengan adanya kajian bulanan rutin yang menjadi agenda STEI Tazkia, diharapkan seluruh civitas STEI Tazkia, mampu menjadi pribadi yang profesional dalam bekerja, serta mampu mengejawantahkan nilai-nilai Asma’ Allah Al Husna untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan berkontribusi luas untuk ummat dengan orientasi akhirat. (RZ)

Rizqi ZakiyaKajian Asma’ Allah “Al Afuwwu” STEI Tazkia menjadi bekal berharga untuk Civitas & Keluarga Calon Mahasiswa
read more

2018, Tazkia Anggarkan Penelitian Sekira Rp 576 Juta

No comments

Memadukan pemikiran ekonomi Islam klasik dengan pemikiran Bara, Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Tazkia, tambah anggaran penelitian hingga 10% dari pagu anggaran tahun ini.

Menyadari masih kecilnya pangsa pasar ekonomi Islam terhadap ekonomi konvensional, STEI Tazkia tahun 2018 ini ingin lebih mendorong penelitian-penelitian dilakukan oleh para dosennya. Oleh karena itu, anggran pun ditingkatkan, dari yang pada tahun lalu sekira 8% dari total anggaran kampus, tahun ini menjadi 10%.

Nilai 10% itu, jika dirupiahkan akan sekitar Rp 576 Juta. “Untuk Nasional, per semester itu Rp8 juta per orang. Jika dia (dosen—red) ikut konferensi, akan dibiayai atau disponsorin pihak lain. Insyallah ini cukup kompetitif dibanding Perguruan Tinggi lain”, kata Kepala Lembaga Penelitian dan Peberdayaan Masyarakat (LPPM) STEI Tazkia, Ries Wulandari M.Si kepada MySharing di sela-sela Research Outlook 2018, LPPM STEI Tazkia, pekan lalu di Sentul, Bogor, Jawa Barat.

Dalam rencana, STEI Tazkia akan mengadakan penelitian-penelitian dalam 15 topik yang berbeda namun saling berkaitan. Kuota penelitian untuk total 36 dosen, terdiri dari satu dosen untuk dua prodi yang wajib melakukan dua kali penelitia, sehingga akan ada 72 penelitian di tahun ini.

“Ini wajib, untuk publikasi (di jurnal internasional—red) itu lain lagi. Menulis mendapat insentif, masuk konferensi ada insentif”, kata Ries Wulandari menambahkan.

Ries Wulandari, M.Si (Kepala LPPM STEI Tazkia). Research Outlook 2018, LPPM STEI Tazkia.

Pagu penelitian hingga 10 %, ini membesar. Ries menjelaskan, misalnya di tahun lalum per orangitu hanya dijatah Rp 5 juta per semester untuk membuat penelitian. Kampus juga mendorong asisten dosen untuk ikut riset. Itu baru riset belum pendidikan lanjutan, termasuk teraining.  Menurut Rektor STEI Tazkia, Dr. Murniati Mukhlisin di kesempatan yang sama, “Sudah 17 tahun Tazkia berjalan, kebutuhan akan dosen-dosen yang dual capability kian diperlukan Misalnya, ketika cross riset,  dia harus tahu syariahnya, sehingga dia harus tahu kitab, bisa memahami Ibnu Taimiyah, Ibnu Khaldun, Al Mawardi, dan sebagainya. Ya ini bisa dilakukan dengan mengirim para dosen tiu kuliah lagi atau merekrut dosen dari luar”.

Research Outlook 2018, LPPM STEI Tazkia,

Dr. Murniati Mukhlisin M.Acc (Rektor STEI Tazkia). Research Outlook 2018, LPPM STEI Tazkia.

Wakil Rektor STEI Tazkia, Dr. Muhammad Yazid di kesempatan yang sama, menilai sudah saatnya STEI Tazkia memiliki mazabnya sendiri. Memiliki ciri khasnya sendiri, di bidang keilmuan.

“Islamisasi pengetahuan itu mulai dilakukan di mana-mana. Mazab Tazkia ini yang mana atau apa? Perlu pondasi pengembangan ilmu pengetahuannya. Secara personal memang Tazkia dikenal, tapi secara lembaga belum. Jadi, Tazkia harus come up dengan kerangka pengetahuan yang utuh. Hal ini mungkin baru terasa 50 tahun ke depan, namun perlu dimulai dari sekarang sekarang”, kata Dr. Muhammad Yazid.

Yazid mencita-citakan, ekonomi Islam sebaiknya ada di dalam undang-undang, terntu yang terkait dengan ekonomi pastinya. Mislanya di bagian pengertian umum. Kita selama ini selalu lebih tertarik pada intrumennya, alat-alatnya, bukan pada prinsipnya. Misalnya keuangan syariah, itu menurut Yazid, sebenarnya adalah salah satu instrumen dari ekonomi Islam.

“”Kita menempatkan Ibnu Taimiyah di pojokan. Yusuf bin Umar sebagai sampingan, sementara kita melulu mengagumi pemikiran cendekiawan Barat.  Kita harus memberikan pemberatan lebih pada ekonomi Islam klasik. Kami bercita-cita, misalnya Jokowi mengutip Al Ghazali suatu hari, bukan JM Keynes atau  Adam Smith. Kami ingin pemerintah juga melihat pemikiran ekonomi Islam klasik. Oleh karenanya Tazkia memadukan pemikiran ekonomi Islam klasik dengan pemikiran Barat”, kata Dr Murniati Mukhlisin menegaskan.

Miftahul Anwar2018, Tazkia Anggarkan Penelitian Sekira Rp 576 Juta
read more

Murniati: Keuangan Syariah Indonesia Bisa Belajar dari Inggris

No comments

Rektor STEI Tazkia Indonesia Murniati Mukhlisin mengungkapkan, setidaknya ada tiga hal yang dapat dipelajari dari geliat keuangan syariah di Inggris Raya, yaitu dari segi penegakan hukum, teknologi, dan pendidikan.

Terkait phukum, kata Murniati, di negara Theresa May ini penegakan hukumnya sangat ketat, perangkat hukum dibuat secara jelas dan tegas.

“Untuk keuangan syariah, rujukannya adalah UK Financial Services Regulation yang tergabung dengan European Union Financial Directives dan Basel Capital Adequacy Standards,” jelas Murniati dalam ulasan bertajuk “Islamic Finance in Britain, how to benefit from it and bring it to Indonesia”.

Ulasan itu disampaikan penulis buku “Sakinan Finance” itu melalui telekonferensi saat pelantikan pengurus Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Perwakilan UK periode 2017-2018 di Kota Durham, Inggris, 12 Maret lalu.

Adapun dari sisi teknologi, lanjut Murniati, sejumlah instansi lembaga keuangan syariah di Inggris Raya mengadopsi teknologi yang cepat dan canggih yang mengarah ke “total paperless”. Para nasabah cukup puas dengan pelayanan yang diberikan walaupun ada beberapa hal yang masih menjadi kendala misalnya transaksi online pada hari libur yang masih dibatasi.

Dari segi pendidikan, sudah banyak universitas yang mempunyai pusat ekonomi syariah atau menawarkan program studi keuangan syariah di tingkat S2 dan S3 atau kursus-kursus singkat.

“Banyak mahasiswa Indonesia yang berbondong-bondong ke Inggris Raya untuk melanjutkan studinya dalam bidang ekonomi syariah salah satunya adalah karena karya-karya dosennya dikenal di level internasional serta promosi ekonomi syariah yang gencar di sana,” ungkapnya.

Murniati menegaskan, saat ini lembaga keuangan syariah di Indonesia sudah banyak berkembang dari sisi yang dia sebutkan. Demikian pula perangkat pemerintah sudah banyak mendukung. “Namun tetap harus banyak belajar dari negara lain supaya dapat mempercepat pertumbuhannya,” pungkasnya.

Terkait program kerja MES UK, Ebi Junaidi mengatakan program sosialisai ekonomi syariah yang dijalankan nanti akan menyambung program-program dari kepengurusan yang sebelumnya serta memperbanyak sinergi.

Menurutnya, kepengurusan kali ini berencana bukan saja belajar dan membawa pengalaman perkembangan ekonomi syariah di Inggris yang menjadi financial hub ekonomi syariah Eropa, namun juga melakukan “show case” praktik ekonomi syariah Indonesia kepada publik dan akademisi Inggris Raya. Hal ini akan dilakukan melalui “Indonesia Conference on Islamic Economics and Finance” yang rencananya akan belangsung Juli mendatang bekerja sama dengan Durham Centre for Islamic Finance di bawah arahan Mehmet Asutay, guru besar di Durham University. (suara-islam.com)

Miftahul AnwarMurniati: Keuangan Syariah Indonesia Bisa Belajar dari Inggris
read more

Kembali Kepada Keuangan Syariah!!!

No comments

Oleh : Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc. (Rektor STEI Tazkia)

Gebrakan “Ayo kembali ke keluarga” sudah sering kita dengar. Seminar parenting ada di mana-mana dan biasanya jumlah peserta membludak.

Topiknya sekitar bagaimana para orangtua dapat menjadi suri tauladan dan menjadikan rumah sebagai tempat belajar pertama bagi anak-anaknya.

Meningkatnya kenakalan remaja disinyalir karena kurangnya pendidikan keluarga dari sisi agama, moral dan etika.

Sebuah penelitian di Universitas Padjajaran membuat kategori kenakalan remaja mulai dari usia 12 tahun, yaitu masa pubertas pertama, kemudian masa pubertas kedua dan ketiga hingga periode remaja adolesen 21 tahun.

Di ujung penelitian tersebut, Lestari dkk (2017) menegaskan peranan utama keluarga untuk mengatasi kenakalan remaja.

Gerakan “Ayo cinta syariah” juga makin bergeliat, mengajak para keluarga untuk berperan aktif.

Belum lama saya terlibat dalam pesta akbar ekonomi dan keuangan syariah yang diadakan oleh Bank Indonesia di Surabaya tanggal 6-11 November 2017 yang dikenal dengan Indonesia Shari’a Economic Festival (ISEF).

Dikabarkan sekitar 1,500 pelajar sekolah, mahasiswa dan anggota keluarga disamping para praktisi dan akademisi yang datang untuk menikmati berbagai jenis pameran yang digelar oleh para pendukung gerakan ekonomi dan keuangan syariah.

Salah satu tujuannya adalah untuk meningkatkan literasi masyarakat luas dalam praktik ekonomi dan keuangan syariah yang lebih gencar lagi.

Gerakan lama
Sebenarnya gerakan keuangan “syariah” ini sudah lama dikumandangkan jauh sebelum Islam tiba untuk memerangi prilaku keuangan ribawi.

Misalnya di dalam satu tulisan Dr. Muhammad Syafii Antonio, seorang pakar ekonomi dan keuangan syariah yang mengutip Kitab Imamat 25: 35–37:

“Apabila saudaramu jatuh miskin, sehingga tidak sanggup bertahan di antaramu, maka engkau harus menyokong dia sebagai orang asing dan pendatang, supaya ia dapat hidup di antaramu. Janganlah engkau mengambil bunga uang atau riba daripadanya, melainkan engkau harus takut akan Allah-mu, supaya saudaramu dapat hidup di antaramu. Janganlah engkau memberi uangmu kepadanya dengan meminta bunga, juga makananmu janganlah kau berikan dengan meminta riba.”

Syafii menyebutkan penggalan Kitab Ulangan 23:19–20:

“Janganlah engkau membungakan kepada saudaramu, baik uang maupun bahan makanan atau apapun yang dapat dibungakan. Dari orang asing boleh engkau memungut bunga, tetapi dari saudaramu janganlah engkau memungut bunga…”

Serta dalam Kitab Exodus pasal 22 ayat 25:

“Jika engkau meminjamkan uang kepada salah seorang dari umat-Ku, orang yang miskin di antaramu, maka janganlah engkau berlaku sebagai seorang penagih hutang terhadap dia; janganlah kamu bebankan bunga uang kepadanya.”

Selanjutnya Syafii menambahkan ternyata di dalam kitab klasik ajaran Hindu dan Budha ditemukan istilah pembayaran bunga yang merupakan suatu hal yang harus dihindari.

Adapun menurut Lewis dan Algaoud (2003) istilah bunga dalam bahasa Yahudi yaitu “neshekh” yang artinya “satu gigitan” yang dipahami sebagai bunga dari kaca mata orang yang berutang (debitur) dan “tarbit/marbit” atau “tambahan/bunga” dari sisi pemberi hutang (kreditur).

Jadi gerakan “syariah” saat ini bukanlah hal yang baru.

Apatis
Namun mengapa banyak yang tidak menerima gerakan “syariah” ini? Muhammad Syafii Antonio yang sedang berada di Inggris pekan ini bersama saya mengisi kelas mengapa perlunya syariah di Christ Church Canterbury University, Canterbury, UK.

Syafii sampaikan bahwa mendukung tegaknya syariah adalah suatu “Big Opportunity” karena banyak sekali manfaatnya untuk semua orang baik Muslim maupun Non-Muslim.

Lihat saja kegiatan sholat yang hampir setiap keluarga Muslim memerlukan seperangkat alat sholat, hingga kegiatan haji dan umrah yang setiap tahunnya melibatkan 5 juta jamaah haji dan 40 juta jamaah umrah yang semuanya memerlukan seperangkat alat ibadah.

Ternyata pemilik pabrik perlengkapan alat sholat adalah kebanyakannya non-Muslim bahkan negara pemilik mesin jahit terbanyak yang menyiapkan sejadah, mukena dan kain ihram adalah China.

Belum lagi penyedia pesawat dan bis pengangkut jamaah haji dan umrah dari bandara di Jeddah maupun Madinah menuju kota Mekah adalah para pelaku bisnis yang sebagian besar adalah pengusaha non-Muslim.

Bank syariah, asuransi syariah, modal ventura dan pasar modal syariah pun tak ketinggalan, yang tidak pilih – pilih ketika menjajakan produk dan jasanya.

Juga keuangan mikro syariah hingga penyedia FinTech syariah yang tidak pernah bertanya apakah para peserta dan investor adalah beragama Islam atau tidak. Tepat jika gerakan ini disebut sebagai “Gerakan Keuangan Keluarga Zaman Now.”

Di dalam kelas yang dihadiri oleh direktur kerjasama Internasional, dosen dan mahasiswa ini, saya kemudian menjelaskan perlakuan akuntansi di lembaga keuangan syariah.

Jurnal debit kredit ternyata mampu menjelaskan transaksi syariah lebih jelas lagi. Para hadirin manggut-manggut memahami perbedaan mendalam antara produk bank syariah dan bank ribawi. Dengan segala masalah keuangan saat ini, persoalan etika menjadi topik penting di negara calon pengantin Pangeran Harry dan Meghan ini.

Solusi keuangan syariah yang sangat logis sudah menjadi pilihan solusi bagi Inggris, salah satu momentumnya adalah ketika dibukanya cabang Albaraka International Bank dengan produk “Islamic mortgage” pada tahun 1982, yang kemudian disusul oleh bank-bank lain dan pendirian Islamic Bank of Britain pada tahun 2004 (berganti nama menjadi Al Rayan pada tahun 2014).

Di tahun 2014, pemerintah Inggris mengeluarkan Sukuk sebesar 200 juta poundsterling untuk membiayai pembangunan, bukan angka yang kecil! Bahkan Reuters memberitakan bahwa Inggris berencana untuk menerbitkan kembali di tahun 2019.

Begitu juga di Indonesia, perkembangan keuangan syariah telah menjadi salah satu solusi keuangan bagi semua keluarga Indonesia.

Statistik keuangan syariah baik bank maupun non-bank tersedia di beberapa situs, yang sudah sering saya sampaikan di kanal ini. Lantas kenapa selama ini apatis?

Inilah namanya “rahmat”
Saya mengajak pembaca kanal ini untuk membuka mata, dan mengakui keberadaan Islam yang telah menjadi pemberi rahmat untuk semua tanpa pilih.

Maka dari itu mari dukung kegiatan ibadah ummat Islam, mari bersama – sama kembangkan keuangan syariah dan mari terlibat aktif di dalamnya.

Ternyata bagi keluarga yang selama ini menolak secara tidak langsung telah banyak merasakan manfaatnya. Inilah namanya “rahmat” untuk seluruh alam.

Kalaupun ada kekurangan di sana sini, mari sampaikan kritik membangun, bukan diam atau menjauhkan diri atau bahkan berkampanye negatif.

Kalau ada prilaku Muslim yang tidak sesuai dengan ajarannya, mohon beri nasihat dan jangan jadikan mereka representasi dari ajarannya.

Demikian catatan kecil kali ini disampaikan, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bis-shawaab. Salam dari Kota London, Salam Sakinah!

Miftahul AnwarKembali Kepada Keuangan Syariah!!!
read more

Appointment of two respected Visiting Professors for International Program of Tazkia University College in Islamic Economics

No comments

STEI Tazkia has signed an agreement with Professor Toseef Azid from College of Business and Economics University of Qassim, Saudi Arabia to be visiting Professor in Islamic Economics and Finance started from first semester 2017/2018. The agreement was friendly signed in the residency of Prof Toseef Azid in Rawalpindi, a city in the Punjab province of Pakistan.

Right after the agreement was signed in Pakistan, the Rector of Tazkia, Dr. Murniati Mukhlisin and the Director for Tazkia International Program, Anita Priantina, M.Ec were invited to be presenters at Thematic Workshop on Enhancing Poor’s Capability and Financial Inclusion From Islamic Perspective (TWoEPC 2017) in Islamabad Pakistan from 11th to 12th December 2017.

The agreement of Visiting Professor Assignment was also signed separately by Professor Khaleed Hussainey from The University of Portsmouth, England, UK. His expertise is on Islamic Accounting and Islamic Finance.

As the mandate of the assignment, Prof Azid and Prof Hussainey will teach courses related to their related fielda. They will also provide coaching and supervision for Tazkia lecturers especially in writing academic papers so to increase the exposure in the international academic journals and other international academic publications.

Rizqi ZakiyaAppointment of two respected Visiting Professors for International Program of Tazkia University College in Islamic Economics
read more

MoU signing between Tazkia University College of Islamic Economics and International Institute of Islamic Economics, International Islamic University Islamabad, Pakistan

No comments

Tazkia University College of Islamic Economics has signed the Memorandum of Understanding with International Institute of Islamic Economics (IIIE), International Islamic University (IIU) Islamabad, Pakistan on 12 December 2017/ 23 Rabiul Awwal 1439H. The Parties, subject to the terms of this Memorandum of Understanding and the laws, rules, regulations and national policies from each country will endeavor to strengthen, promote and develop academic co-operation between the Parties on the basis of equality and mutual benefit.

The MoU was signed by Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc, the Rector of Tazkia, in the presence of Deny Try Basuki, the Counselor of Socio-Cultural Affairs of Indonesian Embassy Islamabad. From IIE, the MoU was signed by Dr. Atiquzzafar Khan, the General Director of IIIE in the presence of Dr. Muhammad Khaleequzzaman, Head of Training and Seminars, School of Islamic Banking and Finance, IIU Islamabad, Pakistan.

The co-operation ranges in the following areas: exchange of staff and student, exchange of publications; research collaboration, joint seminar, conference and workshop, programs of integrated knowledge and practical training and short courses to enhance academic curriculum, sandwich program offered by IIIE and Tazkia; and any other areas of co-operation to be mutually agreed upon by the Parties. This MoU is an umbrella to be expanded by both parties to work on academic and research advancement.

The MoU signing was taken place in Faizal Masjid, old campus of IIUI Pakistan right after the closing ceremony of the Thematic Workshop on Enhancing Poor’s Capability and Financial Inclusion from Islamic Perspective (TWoEPC 2017) in Islamabad Pakistan from the 11th to 12th December 2017 which was jointly organized by IIE-IIU Islamabad in collaboration with IRTI-IDB.

On this International workshop, the Rector of Tazkia, Dr. Murniati Mukhlisin and the Director for Tazkia International Program, Anita Priantina, M.Ec were invited to present their research papers on enhancing poor’s capability and financial inclusion.

Rizqi ZakiyaMoU signing between Tazkia University College of Islamic Economics and International Institute of Islamic Economics, International Islamic University Islamabad, Pakistan
read more

Buku Maslahah Performa Sebagai Sumbangsih Tazkia Untuk Perkembangan Ekonomi Islam

No comments

Maslahah Performa adalah sistem manajemen kinerja berbasis kemaslahatan. Kebutuhan Dasar individu (maslahah daruriyah), dikembangkan menjadi konsep kebutuhan dasar organisasi. Kebutuhan dasar organisasi menurut konsep Maslaha h Daruriyah yaitu: orientasi ibadah, orientasi proses internal, orientasi pembelajaran, orientasi bakat, orientasi pelanggan, orientasi harta.

Orientasi ibadah untuk menjelaskan untk menjelaskan bagaimana organisasi berinteraksi kepada Allah, pemangku kepentingan dan lingkungan.

Orientasi proses internal untuk menjelaskan bagaimana organisasi mengelola proses2 inti, proses2 pendukung, proses kepatuhan, proses keberlanjutan, proses peningkatan, pengelolaan resiko, yg mereka miliki, untuk mencapai keberlanjutan manfaat dirinya.

Orientasi pembelajaran untuk menjelaskan bagaiamana organisasi mengeLola akal dan hati nya. Akal untuk menjangkau hal2 yg sifat nya logika dan materi, hati untk menjangkau hal yg sifatnya tdk logika dan tidak materi.

Orientasi bakat untuk menjelaskan bagaimana organisasi mengelola bakat. Bakat adalah para penerus keberlanjutan kemanfaatan organisasi. Bakat adalah para penerus yg memiliki visi misi yg sama dgn pendiri organisasi.

Orientasi pelanggan adalah utk menjelaskan bagaimana organisasi mengelola para pelanggan. Pelanggan bagi organisasi adalah media Allah untuk memberikan rizki kepadanya. Oleh karena itu, organisasi harus berinterakasi dgn pelanggan bukan sekedar karena mereka membutuhkan pelanggan tetapi karena organisasi mau beribadah kpd Allah.

Orientasi harta untuk menjelaskan bagaimana organisasi mendapatkan dan membelanjakan harta sesuai dengan tuntutan aqidah dan tuntunan syariah, yaitu berakhlak baik dan benar dalam mendapatkan harta juga dalam menbelanjakan harta.

Dari pemaparan diatas dapat kita ambil kesimpulan bahwa maslahah performa merupakan hal yang sangat penting dalam Ekonomi Islam. Hal inilah yang mendasari Dr. Ahmad Firdaus untuk menyusun buku yang membahas secara mendalam tentang Maslahah Performa.  Menurut beliau buku ini disusun dengan harapan dapat membantu perusahaan atau organisasi untuk dapat mengelola perusahaannya dengan baik dan meningkatkan performanya sesuai dengan prinsip-prinsip Ekonomi Islam.

“Buku ini merupakan bentuk sumbangsih saya untuk perkembangan dan penerapan prinsip Ekonomi Islam pada organisasi dan perusahaan. Semoga buku ini dapat memberikan manfaat yang banyak untuk ummat.” Ujar Firdaus,

Miftahul AnwarBuku Maslahah Performa Sebagai Sumbangsih Tazkia Untuk Perkembangan Ekonomi Islam
read more