Berita Terbaru

Kisah Inspiratif Mogayer Gamil Yahya Dalam Perjalanannya Mencari Kebenaran Islam (Spirit Dakwah Untuk Penggiat Ekonomi)

No comments

Sang Penatap Matahari (The Sun Gazer), Begitulah karya novel yang dirilis pada bulan September 2018 oleh seorang ahli ekonomi syariah Indonesia, Novel ini bercerita mengenai kisah Mogayer Gamil Yahya yang menampilkan kepada para pembaca mengenai pengalaman tragis, dramatis, sekaligus romantis dalam sebuah narasi cerita unik yang bisa dibaca oleh kaum baby boomber hingga generasi Z.

Dalam pemaparannya di Monday Forum yang diselenggarakan oleh LPPM STEI Tazkia, Mohammad Gunawan Yasni memaparkan bahwa ia merupakan generasi dari tuanku nan biru di talago seorang panglima perang padri, Sumatera Barat, pasukan imam bonjol. Nenek moyangnya tersebut menginspirasi beliau agar menjadi seseorang yang eksklusif meskipun tak terkenal tetapi memiliki pengaruh besar dalam penyebaran Islam.

Pada acara yang dibuka oleh Ibu Ries Wulandari, selaku kepala LPPM STEI Tazkia tersebut. Penulis menceritakan kisah-kisah seorang Mogayer Gamil Yahya yang seharusnya diikuti oleh setiap insan muslim. Menurut penuturan dari Pakar Pasar Modal dan Asuransi Syariah tersebut Mogayer adalah sesosok orang yang berperilaku baik bahkan ayah hingga kakek neneknya merupakan orang yang baik, hal ini tertuang dalam QS. Al Baqarah: 195. Kemudian di QS. Ali Imran: 76, bahwa Allah cinta orang yang bertakwa hal ini juga tertuang dalam kisah di novel tersebut.

 

Selanjutnya dalam QS. Ali Imran: 146 dan 59, bahwa Allah mencintai orang-orang yang sabar dan bertawakkal. “Bahwa dalam mendakwahkan ekonomi Syariah juga harus diikuti dengan kesabaran, seperti di awal 2018 pertumbuhan market share perbankan syariah hampir menyentuh angka 6%, akan tetapi di november 2018 market share perbankan syariah masih berada di level 5,7%, padahal di awal 2018 ada bank Aceh yang melakukan konversi ke syariah akan tetapi masih stagnan dan di akhir 2018 ada bank NTB yang melakukan konversi menjadi syariah, akan tetapi perbankan syariah di Indonesia masih belum bisa unjuk gigi. Pun juga pengalamannya di Kementerian Keuangan, ia menuturkan saat awal mula munculnya Surat Berharga Syariah negara (SBSN), bahwa sukuk itu harus dinikmati oleh masyarakat Indonesia sendiri, jangan melulu mengambil investor asing, maka setelah itu muncullah sukuk ritel dan sukuk tabungan saat ini.” tutur alumni Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia tersebut.

Mogayer juga bersifat adil sesuai QS. Al Maidah: 32, karena beliau dari kecil mengalami perjuangan yang cukup berat, mulai dari perjuangan di keluarga hingga harus merelakan seorang istri dari kehidupannya untuk menggapai cinta dari langit. Beliau menuturkan pejuang ekonomi syariah harus sufistik (tapi tidak harus miskin), dan harus mengedepankan aspek ukhrowi daripada sekedar duniawi. Selain itu Allah juga mencintai orang yang bertaubat dan membersihkan diri sesuai dalam QS. Al Baqarah: 22. Penulis pun demikian, ia harus banyak beristighfar dalam perjalanannya membuat SBSN, karena jangan sampai ada paradigma konvensional yang masih ada dalam aplikasi instrumen syariah tersebut. Beliau juga mengatakan kita harus meneladani nabi-nabi dalam beristighfar, seperti nabi Adam saat mendakwahkan islam, Nabi Nuh saat kaumnya tidak ada yang mengikuti dakwahnya, atau Nabi Yunus yang ketika berusaha mengeluarkan diri dari dalam perut ikan paus.

Pelajaran bagi aktor di bidang Ekonomi Syariah salah satunya yakni tidak terlepas dari doa-doa generasi terdahulu, dari orang tua, dan orang-orang di sekitar. Beliau terkesima saat Syafii Antonio awal mula di Jordania, kemudian bertanya bagaimana cara mendakwahkan islam dalam kegiatan bermasyarakat kepada Zainul yasni, seorang duta besar Jordania, kemudian dijawab oleh Ayah Iwan tersebut bahwa “Kita Harus mendakwahkan Islam di sendi-sendi masyarakat melalui iqtishod, kegiatan ekonomi syariah dan bermuamalah di masyarakat”. Pak Iwan sapaan akrab Gunawan Yasni pun menuturkan ia susah keluar dari lingkungan syariah juga berkat doa-doa orang terdahulunya.

Dalam jati diri mogayer ada 4 karakter orang yang tak tersentuh api neraka seperti yang tertuang seperti di H.R Tirmidzi dan Ibnu Hiban yakni Hayyin, orang-orang yang memiliki ketenangan dan keteduhan lahir maupun batin, tidak mudah memaki, melaknat, serta tenang jiwa. Dalam Novel tersebut Mogayer bersifat lembut, dan memiliki ketenangan dan keteduhan batin. Berawal dari rasa minder, lalu ia berlatih bela diri dan akhirnya ia merasa yakin bahwa ia bisa mempertahankan diri dan mengendalikan emosinya. Kemudian Layyin, yakni orang yang lembut dan santun, baik dalam bertutur kata atau bersikap. Tidak kasar, dan tidak ikut hawa nafsu sendiri, lemah lembut dan selalu menginginkan kebaikan untuk sesama manusia. Lalu, Qaribin, yakni akrab, ramah diajak bicara, menyenangkan bagi orang yang diajak bicara, murah senyum jika bertemu. Serta terakhir adalah Sahlin yakni orang yang tidak mempersulit sesuatu dan selalu ada cara untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang dihadapi.

Dalam novel The Sun Gazer yang akan diterbitkan segera dalam bahasa inggris ini, kisahnya dimulai saat Mogayer di Kairo di waktu Syuruq dan merasakan seolah melihat halusinasi atau bayangan matahari. Kemudian ia berdoa “Allahumma Nawwir Qulubana Bi Nuri Hidayatika kama Nawwartal Ardha Bi Nuri Syamsika abadan abada, Bi Rahmatika Ya Arhamarrahimin”. Serta saat mogayer menemukan saray sesosok orang yang dibimbing oleh Allah untuk menemaninya. (Red. Rizal Nazarudin Firli)

Miftahul AnwarKisah Inspiratif Mogayer Gamil Yahya Dalam Perjalanannya Mencari Kebenaran Islam (Spirit Dakwah Untuk Penggiat Ekonomi)
read more

Google

Google LLC

Is an American multinational technology company that specializes in Internet-related services and products, which include online advertising technologies, search engine, cloud computing, software, and hardware. Google was founded in 1998 by Larry Page and Sergey Brin while they were Ph.D. students at Stanford University in California. Together they own about 14 percent of its shares and control 56 percent of the stockholder voting power through supervoting stock. They incorporated Google as a privately held company on September 4, 1998. An initial public offering (IPO) took place on August 19, 2004, and Google moved to its headquarters in Mountain View, California, nicknamed the Googleplex. In August 2015, Google announced plans to reorganize its various interests as a conglomerate called Alphabet Inc. Google is Alphabet’s leading subsidiary and will continue to be the umbrella company for Alphabet’s Internet interests. Sundar Pichai was appointed CEO of Google, replacing Larry Page who became the CEO of Alphabet.

syifa amaliaGoogle
read more

Tazkia Fasilitasi Anak Yatim dari Siak, Riau

No comments

Jajaran Tazkia bersama Jajaran PT. Bumi Siak Pusako menandatangani program kerjasama beasiswa

“Bersama dunia usaha, perguruan tinggi dapat ikut mencetak ahli dan praktisi ekonomi Islam melalui program beasiswa STEI Tazkia”

Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Tazkia dan PT Bumi Siak Pusako menandatangani perjanjian kerja sama (PKS) dalam rangka pengiriman 14 orang mahasiswa berstatus anak yatim dari Kabupaten Siak, Provinsi Riau.

Penandatangan dilakukan pada Rabu, 13 Februari 2019 di Kampus STEI Tazkia.

Dari STEI Tazkia diwaikili oleh Rektor Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc dan dari PT Bumi Siak Pusako diwakili oleh Direktur Utama, Iskandar. Menemani Iskandar, adalah jajaran manajemen, yaitu Corporate Secretary, Riky Hariansyah, Manager Umum dan CSR, Danil Firdaus, dan Kabag Legal, Lina.

Melalui kesepakatan ini, PT Bumi Siak Pusako akan mengirim mahasiswa secara bertahap. Tahap pertama akan diberangkatkan enam orang pada 14 Februari 2019. Dari enam orang tersebut, dua orang akan dibiayai oleh PT Bumi Siak Pusako dan sisanya akan dibantu pembiayaannya oleh Badan Amil Zakat Nasional (Baznas).

Kerjasama ini juga bagian dari program Hafidzprenuer D3 STEI Tazkia, PT Bumi Siak Pusako dan kampus Tazkia juga akan bekerja sama dalam pengiriman guru mengaji dalam program Imam Saqu yang diprakarsai oleh pondok pesantren Wadi Mubarak, Bogor.

*Sekilas tentang STEI Tazkia*
STEI Tazkia didirikan dibawah pengelolaan Yayasan Tazkia Cendekia yang didirikan berdasarkan Akta No.5 Notaris Syarif Tanudjaja tanggal 11 Maret 1999.

STEI Tazkia meyakini bahwa hanya sistem ekonomi yang dipandu oleh hukum-hukum dan ketentuan-ketentuan Allah SWT-lah yang mampu mensejahterakan masyarakat secara adil. Sesuai dengan namanya yaitu Tazkia (Tazkiyyah), STEI Tazkia berusaha mendorong perekonomian umat untuk tumbuh (growth) secara bersih (purification).

Upaya ini dilakukan melalui inovasi-inovasi yang produktif, efektif, dan efisien diiringi dengan upaya menyuburkan zakat dan sedekah sehingga membuahkan hasil yang berlipat ganda untuk kesejahteraan masyarakat.

Miftahul AnwarTazkia Fasilitasi Anak Yatim dari Siak, Riau
read more

Meneladani Kedermawan Utsman bin ‘Affan

No comments

Oleh: Nurizal Ismail (Direktur Pusat Studi Kitab Islami STEI Tazkia & Peneliti ISEFID)

Dalam sebuah kuliah umum di Sekolah Tinggi Ekonomi Islam Tazkia bertajuk Muslim Youth Contribution in Islamic Economic History: Past and Present, Ustadz Bachtiar Natsir (UBN), yang didaulat sebagai salah satu pembicara, menjelaskan bagaimana sosok kedermawanan salah satu Khulafāu al-Rāshīdin, Utsman bin ‘Affan Raḍiyallāhu ‘Anhu yang sering membantu serta memperjuangkan Islam dan Muslimin di zaman Rasulullah SAW.

Sontak, kami pun bertanya dalam hati, apa yang dilakukan oleh Utsman bin ‘Affan sehingga kita tidak mengetahui kenapa beliau dikategorikan sebagai seorang dermawan? Peran besar apa yang pernah dirinya lakukan terhadap Islam? Seberapa kaya Utsman bin Affan sehingga ia bisa sebegitu dermawannya terhadap Islam?

Belum selesai kami bergumam, UBN menjelaskan bahwa figur kedermawanan Ustman bin Affan adalah ketika ia memberikan pinjaman terbaik kepada Allah SWT. UBN lantas merujuk ucapannya tentang ‘Utsman bin ‘Affan tersebut dengan membaca surat Al-Baqarah ayat 245 yang memiliki terjemahan sebagai berikut: “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (Qs Al-Baqarah: 245).

Ahmad Muṣṭafā bin Muhammad bin Abdul Mun’im Al-Maraghi dalam karya monumentalnya, Tafsir Al-Marāghī, menjelaskan bahwa pinjaman terbaik yang dimaksud adalah berinfaq di jalan Allah SWT sesuai dengan kebutuhan dan niat yang baik untuk dapat dimanfaatkan bagi seluruh Muslim dan dilakukan dengan cara-cara yang disyariatkan Islam. Sedangkan Imam Al-Qurṭūbī dalam karyanya, Jāmi’ li Aḥkāmi al-qur’ān, menjelaskan jika ayat tersebut merupakan perintah Allah SWT kepada umatnya untuk senantiasan berinfaq di jalan Allah SWT.

Fakta sejarah pun berkata demikian. Utsman bin ‘Affan disebut-sebut sebagai sosok di belakang pembangunan Sumur Rumata, mendanai pasukan ‘Usrah serta sosok di balik perluasan Masjid Nabawi. Kesemuanya, ‘Utsman bin ‘Affan lakukan bukan atas perintah Rasulullah secara langsung melainkan keyakinannya kepada apa yang difirmankan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an. Karena keyakinannya dalam memberikan pinjaman yang terbaik kepada Allah SWT beliau ‘dinobatkan’ oleh Rasulullah SAW sebagai salah satu sahabat yang dijanjikan oleh Allah SWT masuk ke dalam Surga.

Dalam riwayat yang berhasil kami himpun dikisahkan bahwa Rasulullah telah bersabda: “Siapa saja yang menggali Sumur Rumata maka untuknya surga.” Maka sumur tersebut digali oleh Utsman.

Rasulullah SAW kembali bersabda: “Barangsiapa yang mendanai pasukan ‘Usrah maka untuknya surga.” Maka menurut penuturan Abdurrahman bin ‘Auf, Utsman bin ‘Affan mendatangi Rasulullah SAW dengan membawa 700 gantang emas yang diperuntukkan bagi pasukan ‘Usrah.

Pun ketika kapasitas Masjid Nabawi tidak mampu menampung lagi jamaah Muslim yang semakin bertambah, Rasulullah SWT bersabda: ““Barangsiapa membeli lokasi milik keluarga fulan lalu menambahkan untuk perluasan masjid dengan kebaikan maka ia kelak di surga.” Lagi-lagi, Utsman membeli lokasi tersebut dengan uang pribadi dan lantas diwakafkan kepada pihak masjid.

Teladan yang diberikan ‘Utsman bin ‘Affan seharusnya menjadi pelecut semangat setiap umat Muslim di seluruh dunia. Karena apa yang diperagakan oleh ‘Utsman bin Affan hadir dengan semangat kedermawanan hati untuk terus berinfaq di jalan Allah SWT. Dengan kedermawanan, anasir pemahaman kapitalis seperti sikap materialistis, hedonis, boros, berlebih-lebihan akan terkikis dan hilang dengan sendirinya.

Selain itu, untuk menjadi seorang dermawan, Anda tidak perlu menunggu untuk kaya terlebih dahulu. Al-Mawardī dalam kitabnya Adabu al-dunyā wa al-dīn menjelaskan bahwa kedermawanan dapat lahir dari pemberian sesuatu kebutuhan yang diperlukan oleh mereka yang berhak sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Artinya, jika Anda mampu melaksanakan instrumen-instrumen seperti zakat, infaq, sedekah dan wakaf, maka Anda sudah dapat dikategorikan sebagai seorang yang dermawan.

Andai sikap kedermawanan ‘Utsman bin ‘Affan sudah terlaksana, saya yakin ekonomi keumatan berbasis kedermawanan ‘Utsman akan terbentuk. Dalam skala makro, andai sebuah negara bersikap dermawan, maka Allah SWT berjanji akan menjadikan negara tersebut sebagai negara yang baldatun ṭayyibatun wa rabbun ghafūr. Wallāhu a’lam bi al-ṣawāb.

https://gontornews.com/2019/02/13/meneladani-kedermawan-utsman-bin-affan/

Miftahul AnwarMeneladani Kedermawan Utsman bin ‘Affan
read more

STEI TAZKIA KEMBALI TANDATANGANI MOU YANG KETIGA KALINYA DENGAN IIUM

No comments

Jumat 08 Februari 2019 M / 02 Jumadil Akhir 1440 H, Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Tazkia melakukan MoU yang ketiga kalinya dengan Internasional Islamic University (IIUM). Penandatangan MoU ini dilakukan di ruang sidang utama gedung Rektorat IIUM.

Prof Tan Sri Dato Dzulkifli Abdul Razak selaku Rektor IIUM dalam sambutanya menyampaikan bahwa kerjasama ini InsyaAllah akan membawa konstribusi terbaik bagi pengembangan nilai-niai kemanusiaan yang merupakan substansi dari pendidikan.

Sementara Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc selaku Rektor STEI Tazkia menyampaikan rasa bahagia atas sambutan Rektor dan segenap pimpinan IIUM. Alhamdulillah Tazkia akan selalu sejalan dengan cita cita mulia dalam pengembangan dakwah, riset dan pengabdian masyarakat baik pada tingkat nasional maupun internasional ungkap Murniati yang juga alumni IIUM.

Hadir dalam pendantangan MoU ini adalah Dr (C) Andang Heryahya, M.Pd selaku Pembantu Ketua I Bidang Akademik, Dr. Mukhamad Yasid, MSi, Direktur Pascasarjana dan Nurizal Ismail, MA, Direktur Pusat Studi Kitab Klasik STEI Tazkia.

Pendantangan MoU ini juga disaksikan oleh Mokhamad Farid Maruf, PhD sebagai Atase Pendidikan, KBRI Kuala Lumpur.

Demikian dilaporkan oleh Tim Humas STEI Tazkia.

Rizqi ZakiyaSTEI TAZKIA KEMBALI TANDATANGANI MOU YANG KETIGA KALINYA DENGAN IIUM
read more

Fintech dari Perspektif Syariah, Bagaimanakah?

No comments

Ini bukti keuangan syariah melek perkembangan zaman. Financial Technology (FinTech) pun telah ada yang syariah.

Di perkembangan teknologi keuangan di Indonesia, beberapa jenis FinTech telah dapat disyariahkan. Fatwa-fatwa tentang FinTech yang dikeluarkan Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI) telah mengakomodasi berbagai jenis FinTech. Namun memang belum semua jenis.

Menurut Abdul Mughni, Lc., MHI, pengajar Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Tazkia,  beberapa jenis FinTech yang telah diatur kesyariahannya adalah jenis Peer to Peer Lending (pinjaman berbasis teknologi), uang elektronik (e-Money), dan gerbang pembayaran (payment gateway). “Sedangkan beberapa jenis FinTech seperti crowdfunding, market aggregator, risk and investment management belum memiliki fatwa syariahnya. Lain halnya seperti criptocurrency, maka ia hanya akan dikeluarkan fatwa DSN-MUI jika otoritas (Otoritas Jasa Keuangan – red) tidak melarang”, kata Mughni saat Monday Forum, dengan topik “Fintech Phenomenon and Its Problems from the Sharia Perspective”, Senin (28/1).

Dalam kegiatan yang rutin digelar oleh Lembaga Penelitian dan Pengembangan Masyarakat (LPPM) STEI Tazkia ini, Mughni mengatakan, baru dua perusahaan yang menyabet gelar sebagai FinTech syariah. “Ada dua perusahaan yang sudah masuk kategori financial technology yang sesuai Syariah. 10 perusahaan fintech lainnya masih dalam proses pendaftaran, karena salah satu syarat menjadi syariah adalah perusahaan tersebut harus memiliki dewan pengawas syariah sesuai syarat DSN-MUI”, kata Mughni. Dua perusahaan tersebut adalah Amanna dan Investree.

Lebih lanjut, Mughni menjelaskan perkembangan fatwa terkait FinTech. Sampai saat ini, DSN-MUI telah menerbitkan fatwa-fatwa yang berhubungan dengan FinTech. Di antaranya fatwa yang telah dikeluarkan oleh MUI yakni fatwa nomor 116/DSN-MUI/IX/2017 tentang Uang Elektronik Syariah dan 117/DSN-MUI/II/2018 tentang Layanan Pembiayaan Berbasis Teknologi Informasi Berdasarkan Prinsip Syariah.

Selain fatwa, DSN MUI juga melakukan pengawasan terhadap FinTech syariah. Model pengawasannya yang dilakukan oleh DSN-MUI sampai saat ini mencakup dua bentuk. Pertama, Lembaga Keuangan/Bisnis Syariah yang sudah memiliki otoritas yang mengatur dan mengawasi dalam hal ini seperti bank, Industri Keuangan non Bank (IKNB), entitas pasar modal, uang elektronik, koperasi/BMT, bursa komoditas, maka diperlukan pengajuan izin usaha dan pengaturan sesuai otoritas berwenang.

Kedua, pada lembaga bisnis syariah yang tidak memiliki otoritas yang mengatur dan mengawasi seperti MLM, online trading, perusahaan rental, hotel, rumah sakit, perusahaan jasa IT, travel umrah/haji, sistem online trading syariah, maka perusahaan tersebut langsung melakukan pengajuan rekomendasi DPS dan dari Sertifikasi Lembaga Bisnis Syariah.

Anda juga bisa menyaksikan rekaman video Monday Forum Fintech Phenomenon and Its Problems from the Sharia Perspective”, Senin (28/1) lengkap di sini.

Monday Forum, adalah wahana olah pikiran rutin yang diadakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengembangan Masyarakat (LLPM), STEI Tazkia. Monday Forum terbuka untuk umum, baik bagi pemateri ataupun audiensnya. Di Monday Forum pemateri, yang umumnya adalah para dosen Tazkia, diberi kesempatan memaparkan hasil penelitiannya atau proposal penelitiannya kepada audiens. Layaknya sebuah diskusi, Audiens pun memiliki kesempatan menanggapi paparan dari pemateri.

Diadakan tiap pekan, pada Senin pagi pukul 9.30-11.30 WIB, Monday Forum telah menjadi ajang para akademisi Kampus Tazkia untuk meningkatkan kapasitas dan kualitasnya. Ajang ini juga bisa digunakan untuk mempersiapkan diri sebelum mengikuti konferensi internasional.

Download Materi Monday Forum 28 Januari 2019
Silakan unduh materi presentasi: FENOMENA FINTECH DARI PERSPEKTIF SYARIAH DAN PERMASALAHANNYA dari DSN MUI dengan mengisi sedikit data di bawah ini. Berkas berformat PDF akan segera terunduh di browser Anda setelah Anda mengeklik, “Download”. Berkas berukuran sekira 3,6 MB.

Miftahul AnwarFintech dari Perspektif Syariah, Bagaimanakah?
read more

Pengumuman Hasil Seleksi Beasiswa (Tahap Akhir)

No comments

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Pertama-tama perkenankan kami menghaturkan tahiyyah islamiyyah semoga kita semua senantiasa berada dalam lindungan Allah SWT, Aamiin.

Setelah melalui serangkaian proses Seleksi Interview, Test Potensi Akademik dengan Sistem Computer Based Test dan Pemberkasan dengan ini kami sampaikan Penerima Beasiswa Ekonomi Syariah Tazkia sebagai berikut :

NO NAMA LENGKAP JENIS BEASISWA KATEGORI BEASISWA
1 Alfiana Afiah PRESTASI PLATINUM ( UKT 100% )
2 Siti Annisa Satifa PRESTASI PLATINUM ( UKT 100% )
3 Muhammad Ma’ruf Sidik Ambiya TAHFIDZ PLATINUM ( UKT 100% )
4 Muhammad Sholahuddin Asyari Putra TAHFIDZ PLATINUM ( UKT 100% )
5 Nida Karima Salsabila TAHFIDZ PLATINUM ( UKT 100% )
6 Nuha As Salma TAHFIDZ PLATINUM ( UKT 100% )
7 Khusnul Zakwan M TAHFIDZ PLATINUM ( UKT 100% )
8 Hasan Abbdullah TAHFIDZ PLATINUM ( UKT 100% )
9 Fatimah Azahra TIDAK MAMPU PLATINUM ( UKT 100% )
10 Athiyatul Zahra Nabillah Hasan PRESTASI JAUHAR ( UP 100% )
11 Indriani PRESTASI JAUHAR ( UP 100% )
12 Lala Indah Lestari PRESTASI JAUHAR ( UP 100% )
13 Mohamad Dicky Syahputra PRESTASI JAUHAR ( UP 100% )
14 Tasya Kharisma N PRESTASI JAUHAR ( UP 100% )
15 Afifah Islami Mujahidah TAHFIDZ JAUHAR ( UP 100% )
16 Zahran Tsauban Taqy TAHFIDZ JAUHAR ( UP 100% )
17 Deni Iskandar TAHFIDZ JAUHAR ( UP 100% )
18 Salman Abdul Haqqi TIDAK MAMPU JAUHAR ( UP 100% )
19 Rifza Fauzi TIDAK MAMPU JAUHAR ( UP 100% )
20 Nadila Putri Utami TIDAK MAMPU JAUHAR ( UP 100% )
21 Bayu Syaputra TIDAK MAMPU JAUHAR ( UP 100% )
22 Ai Cucu Minasari TIDAK MAMPU JAUHAR ( UP 100% )
23 Jumsah Nawati TIDAK MAMPU JAUHAR ( UP 100% )

 

Note :

Proses selanjutnya silahkan melakukan daftar online di spmb.tazkia.ac.id dan daftar ulang dengan ketentuan sebagai berikut :

  1. Bagi yang mendapatkan Beasiswa PLATINUM (UKT 100%) batas akhir daftar ulang 28 Februari 2019.
  2. Bagi yang mendapatkan Beasiswa JAUHAR (UP 100%) batas akhir daftar ulang 31 Maret 2019.
  3. Biaya Daftar Ulang akan dikembalikan 100% dengan baiaya administrasi Rp.500.000,- dengan ketentuan diterima di Perguruan Tinggi Negeri lewat jalur SBMPTN atau SNMPTN.

Info lebih lanjut Hub. Sadam +62852-1146-4969 WA atau +62853-2026-1775 Dofir.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

 

Bogor, 28 Januari 2019
Dibuat oleh,                                                                                                     Diketahui oleh,

TTD                                                                                                                   TTD

Rizqi Zakiya, S.E.I.                                                                                         Andang Heryahya, M.Pd.I., M.Pd
Kepala Bagian Humas                                                                                  Wakil Ketua I Bidang Akademik

Rizqi ZakiyaPengumuman Hasil Seleksi Beasiswa (Tahap Akhir)
read more

Tazkia Kembali Meraih Juara Ekonomi Syariah Nasional

No comments

 

IESCO (Islamic Economics Olympiad) merupakan sebuah wadah kegiatan kemahasiswian yang diselenggarakan oleh Program Studi Ekonomi Islam Universitas Darussalam Gontor dan diikuti oleh seluruh mahasiswi atau akhwat dari PTN dan PTS di seluruh Indonesia. Selain sebagai wadah silaturahim lintas PTN dan PTS kegiatan ini juga bertujuan untuk menampung ide kreatif dan inovatif para mahasiswi mengenai suatu fenomena yang terjadi di masyarakat. Tema yang diangkat dalam LKTI (Lomba Karya Tulis Ilmiah) dan LCC (Lomba Cerdas Cermat) IESCO (Islamic Economics Olympiad) ini adalah “Optimalisasi Ekonomi Digital dalam rangka mendukung SDG’s”. Dengan diselenggarakannya kegiatan ini, diharapkan dapat menjadi wadah dan memfasilitasi para mahasiswi untuk menyampaikan gagasannya dalam bentuk Karya Tulis Ilmiah dan Cerdas Cermat, serta mendorong mahasiswi untuk dapat berkontribusi dalam mewujudkan Indonesia menuju SDGs 2030, karena perubahan bangsa ada di tangan pemuda, sebab kualitas suatu negara tercermin pada kualitas pemudanya.

 

IESCO dilaksanakan pada tanggal 15-19 Januari bertempat di kampus pasca serjana Universitas Darussalam. Adapun tujuan diselenggarakannya lomba karya tulis ilmiah ini adalah sebagai berikut:
Untuk mengukur tingkat pemahaman mahasiswi terhadap Ekonomi Islam baik secara teoritis maupun prakteknya.
LCC ini diharapkan dapat menjadi motor penyemangat mahasiswi untuk mengasuh kemampuannya dalam bidang Ekonomi Islam guna memasyarakatkan konsep bersama tentang Ekonomi Islam sebagai sistem ekonomi yang lebih efisien.
Diharapkan dapat menjadi sarana ukhuwah Islamiyah yang diiringi dengan suasana kompetitif, bersaudara, dan Islami.
Tim STEI Tazkia pada cara IESCO ini mengikuti lomba cerdas cermat karena masuk semi final maka pihak panitia mengundang tim STEI Tazkia untuk bersaing dengan Universitas Brawijaya, Universitas Darussalam, Universtas Muhamadiah Yogyakarta dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Smi final terdiri dari 2 babak untuk memilih 3 tim terbaik yang akan masuk ke babak final dan Tim STEI Tazkia merupakan salah satu tim yang masuk final. Dalam sesi final setiap kelompok diberikan kasus untuk dipersentasikan kedepan juri dengan kesempatan berfikir selama 15 detik.dan pada akhirnya Tim dari STEI Tazkia berhasil menjadi juara 1 unggul dari Univeritas Muhammadiah Yogyakarta sebagai juara 2 dan Universitas Barawijaya sebagai juara 3.

Rizqi ZakiyaTazkia Kembali Meraih Juara Ekonomi Syariah Nasional
read more

Ibnu Khaldun, Pajak, dan Negara

No comments

Fungsi pajak itu adalah untuk keadilan semuanya

Foto Nurizal Ismail

Foto Nurizal Ismail

Oleh: Nurizal Ismail *)

Siapa yang tidak kenal dengan Ibnu Khaldun? Dari Barat sampai ke Timur orang menyebut naman itu. Sejumlah teorinya dalam berbagai bidang keilmuan banyak dikembangkan kaum cerdik cendekia saat ini. Misalnya, Haddad (1977) seorang profesor dari Universitas Sidney mengatakan teori pembangunan ekonomi Adam Smith mempunyai kesamaan dengan pandangan Ibnu Khaldun.

Lainnya, Ekonom dan juga penasihat ekonomi President Amerika Ronald Reagan, Arthur Laffer(1940). Dia berpendapat, teori kurva laffernya adalah hasil pengembangan pemikiran pajak Ibnu Khaldun.

Hal ini kemudian didukung Reagan sebagaimana yang ia sampaikan di New York Times pada 2 Oktober 1981, bahwa Ibnu Khaldun mendalilkan, “Pada awal dinasti, pendapatan pajak besar diperoleh dari penilaian kecil. Kemudian pada akhir dinasti, pendapatan pajak kecil diperoleh dari penilaian besar.”

Fakta yang ditampilkan Gwartneh (2006) menarik untuk dikaji. Judulnya Supply-Side Economics. Di dalamnya ada penjelasan, selama 1980-an kebijakan pemotongan pajak telah dilakukan oleh presiden Reagan yang dikenal dengan Reagonomik.

Undang-undang pajak yang disahkan pada 1981 dan 1986  telah mengurangi tarif pajak penghasilan federal Amerika dari 70 persen menjadi sekitar 33 persen. Bagi performa AS, hal ini berdampaknya terhadap ekonomi selama tahun  tersebut sehingga menjadi sangat mengesankan. Tingkat pertumbuhan GNP riil berakselerasi dari tingkat yang lamban di tahun 1970-an, hingga pertumbuhan ekonomi AS melebihi industri negara industri lainnya kecuali Jepang.

Di tahun ini, isu yang sama muncul pada debat pilpres 2019 yang pertama. Ketika itu paslon No 02 mengangkat isu menaikkan pajak rasio sampai 16 persen. Tetapi terlihat paradoks, karena tujuan peningkatan rasio pajak untuk menghilangkan terjadinya praktik korupsi.

Asumsinya, ketika pendapatan pajak naik, maka dapat meningkatkan gaji para penegak hukum di Indonesia, sehingga tidak akan korupsi. Padahal fungsi pajak itu adalah untuk keadilan semuanya. Drajad Wibowo, sebagaimana diberitakan Republika menyampaikan, pasangan Prabowo-Sandi akan menggunakan gagasan Ibnu Khaldun untuk rasio pajak. Bagaimana gagasan Ibnu Khaldun tentang peningkatan pajak rasio ini?

Nama sebenarnya adalah Abu Zayd Abdur Rahman Ibn Khaldun (732-808/1332-1406). Dia dikenal sebagai sejarawan, politisi, diplomat, dan filusuf sosial yang dilahirkan di Tunisia. Toynbee (1935) menganggap karyanya yang brilian ‘Muqaddimah’ (Pengantar Sejarah) sebagai pencapaian paling agung dan intelektual di abad pertengahan. Di dalamnya terdapat perbendaharaan banyak ilmu, seperti sejarah, psikologi, sosiologi, geografi, ekonomi, ilmu politik, dan lainnya.

Konsep pajak Ibnu Khaldun bermula dari penjelasannya tentang  bangkit dan runtuhnya sebuah dinasti, yang terdiri dari lima tahapan: 1) penaklukan dan kesuksesan, 2) stabilitas dan meninggikan diri sendiri, 3) ekspansi ekonomi dan kenikmatan hasil pembangunan, 4) kepuasan dan kompromi, dan 5) berlebih-lebihan, pemborosan, dan dekadensi. Pada tiap-tiap tahapan struktur pajak dan pengeluaran pemerintah memainkan peranan yang sangat penting, sehingga sangat penting membahas tahapan-tahapan tersebut barulah kita dapat mengerti apa yang dimaksudkan dengan peningkatan pajak rasio menurutnya.

Pada tahapan awal, dinasti memiliki kualitas yang baik pada masyarakatnya, merencanakan pengeluaran yang moderat, dan menghormati kekayaan orang lain. Saat itu dinasti menjauhi pajak yang berat. Pada tahap kedua, penguasa memperoleh kekuasaan penuh atas rakyatnya, mengklaim seluruh otoritas untuk dirinya sendiri, mengecualikan mereka, dan mencegah dari mencoba mengambil bagian di dalamnya. Saat itu adalah tahap stabilisasi dan konsolidasi kekuatan, semakin memperkuat perasaan kelompok dan memberi penghargaan kepada para pendukungnya melalui pengeluaran yang baik.

Pada tahap ketiga merupakan kemakmuran ekonomi dan kenikmatan yang diperoleh pemerintah. Sehingga perhatiannya banyak difokuskan pada pengumpulan pajak, administrasi penerimaan dan pengeluaran publik. Pengembangan kota, pembangunan gedung-gedung besar, peningkatan tunjangan pejabat, dan masyarakat umum menarik perhatian.

Beban pengeluaran mewah dan perpajakan meningkat meskipun ketenangan dan kepuasan terjadi. Tahap ini adalah saat terakhir penguasa berada dalam otoritas penuh. Pada tahap keempat, penguasa puas dengan apa yang telah dibangun oleh para pendahulunya: Ia membatasi aktivitasnya, mengikuti jejak mereka dengan cermat. Ia tidak mengambil inisiatif sendiri. Ekspansi kekuatan politik-ekonomi terhenti dan terjadilah semacam stagnasi.

Pada tahap kelima, penguasa menikmati kemewahan, menjalani kehidupan yang sangat mewah, membuang-buang sumber daya yang terakumulasi oleh aturan sebelumnya. Aparat yang tidak kompeten dan tidak memenuhi syarat dipercayakan untuk melakukan hal-hal terpenting dari negara. Orang-orang pengadilan yang menganggur dihargai, dan kritikus yang tulus dihina dan dihukum. Penguasa kehilangan semua jenis simpati dan perasaan kelompok.

Pada tahap ini pajak meningkat. Sementara pendapatan menurun. Ekonomi hancur dan sistem sosial terganggu. Pemerintah menderita penyakit yang tidak dapat disembuhkan, yang menyebabkan kejatuhannya. Kemudian diambil alih oleh dinasti baru, didukung oleh perasaan kelompok yang kuat dan kohesi sosial.

Tahapan yang ditampilkan Ibn Khaldun ini mungkin sedang terjadi di Indonesia, khususnya pada tahapan kelima. Inilah yang akhirnya mengakibatkan banyak rakyat menginginkan pemerintahan baru, yang akhirnya mungkin akan kembali kepada siklus pertama dalam teori Ibnu Khaldun.

Beliau menggambarkan harta itu saling memerlukan antara rakyat (al-raiyyah) dan penguasa (as-Sulthan); Jika penguasa menahannya, maka kekuasaan pada rakyat akan hilang. Sehingga, tahapan-tahapan dalam posisi puncak kegemilangan harus memerhatikan kemaslahatan masyarakatnya dengan mengelola keuangan negara sebaik mungkin.

Inti dari teori perpajakan Ibn Khaldun yaitu untuk menurunkan pembebanan pajak atas jumlah individu-individu yang mampu melakukan aktivitas usaha atau bisnis. Karena dengan cara ini, mereka mendorong perusahaan memperoleh keuntungan yang lebih besar bagi pengusaha dan pendapatan bagi pemerintah.

Alasannya berdasarkan konsep zakat yang disyariatkan oleh Islam yang rate-nya sangat kecil, tetapi memilki kemaslhatan yang besar buat masyarakat. Tampaknya Ibnu Khaldun sepenuhnya memahami tarif dan pendapatan pajak adalah dua hal yang berbeda.

Tarif pajak yang tinggi bukanlah jaminan bahwa hal itu akan memaksimalkan pendapatan pajak. Sebaliknya itu akan menunjukkan pendapatan yang menurun setelah tahap tertentu. Karena tarif pajak yang lebih tinggi menghambat upaya kerja masyarakat. Itu juga mendorong mereka untuk menyiasati, bahkan menghindari pajak. Dampaknya, bukan meningkat, pendapatan pajak justru akan menyusut.

Sistem perpajakan yang sehat yaitu dengan tidak meminta lebih dari yang bisa ditoleransi. Tidak terlalu banyak membebankan biaya kepada siapa pun. Kemudian  negara memperlakukan semua orang dengan adil. Ini membuat negara lebih mudah mendapatkan kepercayaan masyarakat.

Dapat disimpulkan, menurut Ibnu Khaldun, anggaran pemerintah mungkin terjadi surplus, seimbang, atau defisit tergantung pada tingkat pembangunan dan komposisi pengeluarannya. Karenanya tarif pajak akan rendah, sedang, atau berlebihan.  Semuanya itu dikembalikan kepada pemerintah yang berkuasa mau dikemanakan arah sistem dan kebijakan pajaknya. Gagasan Ibnu Khaldun ini bisa kita ambil sebagai ibrah  dalam pengelolaan perpajakan Indonesia.

*) Direktur Pusat Studi Kitab Klasik Islami STEI Tazkia dan Peneliti ISEFID

Arikel ini telah dimuat di Republika Online

Miftahul AnwarIbnu Khaldun, Pajak, dan Negara
read more

Bedanya Keuangan Syariah Maroko dan Indonesia

No comments

Kampus Tazkia kembali menghadirkan pakar global keuangan syariah, Prof. Dr. Mohamed Raougui , Guru Besar Bidang Hukum Syariah di Universitas Muhammad V Rabat yang juga Ketua Dewan Syariah Nasional Maroko.

[Bogor, 21 Januari 2019] Meskipun banyak yang menganggap Indonesia terlambat menerapkan keuangan syariah, padahal negara mayoritas Muslim terbesar di dunia, ternyata tidak sepenuhnya benar. Dibandingkan Malaysia, memang Indonesia terlambat, namun dibandingkan Maroko, Indonesia lebih dulu.

Jika di Indonesia, momentum mulai diterapkannya keuangan syariah di Indonesia ditandai dengan pendirian Bank Muamalat Indonesia pada 1991, di Maroko, bank syariah pertama di Maroko, Umnia Bank baru beroperasi pada awal 2017.

Terlambatnya perkembangan keuangan syariah Maroko ini, dibandingkan negara Muslim lainnya, tentu bukan tanpa sebab. Hal ini dikarenakan peninjauan yang mendalam tentang keuangan syariah untuk diterapkan secara menyeluruh di Maroko. Usulan Keuangan Syariah sudah masuk pembahasan pada tahun 2015 namun finalisasi eksekusi Bank Syariah di Maroko pada tahun 2017.

Hal ini diungkapkan oleh, Prof. Dr. Mohamed Raougui, Ketua Dewan Syariah Nasional Maroko dalam acara Monday Forum di Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Tazkia, hari ini. Monday Forum adalah ajang olah akal civitas akademika kampus Tazkia. Di acara yang rutin diadakan tiap pekan tersebut, peneliti baik dari internal maupun eksternal kampus berkesempatan memaparkan risetnya dan mendiskusikannya dengan peneliti lainnya.

Bank Kerjasama
Menariknya, di Maroko bank syariah tidak disebut “bank syariah” seperti di Indonesia. Di negeri tempat kuliahnya ustad populer, Abdul Somad, Lc., MA, itu bank syariah disebut Bank Tasyarukiyyah atau Bank Kerjasama. Perbedaan lainnya adalah hanya terdapat satu Dewan Syariah di Maroko, Dewan Syariah Pusat tanpa adanya Dewan Pengawas Syariah yang tersebar di berbagai perbankan syariah di Maroko.

Model seperti ini membuat, ketetapan seluruh akad ditentukan langsung oleh Dewan Syariah Pusat Maroko.
Dimoderatori oleh pakar ekonomi syariah asal kampus Tazkia, Dr. Muhammad Syafii Antonio, M.Ec., Dr. Ar Ruki memaparkan perkembangan keuangan syariah di Maroko dalam bahasa Arab.

Siaran langsung Monday Forum, 21 Januari 2019, Anda bisa menonton rekaman diskusi lengkapnya di bawah ini.

Melengkapi, Prof. Dr. Mohamed Raougui, Dr. Muhammad Syafii Antonio, M.Ec. juga menyampaikan perkembangan Keuangan Syariah di Maroko dan Afrika Utara. Dari data yang dipaparkan beberapa negara baru secara optimal mengembangkan proyek keuangan syariah secara masif di atas 2010, lebih cepat Indonesia yang sudah meluncurkan program sukuk dari 2009.

Kerjasama Indonesia – Maroko
Di kesempatan yang sama, Ketua STEI Tazkia, Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc mengomentari paparan Prof. Dr. Mohamed Raougui. “Perkembangan syariah di Maroko ketinggalan dibandingkan negara-negara lain karena hukum pemerintah yang berbeda-beda. Namun dengan hubungan baik antara Indonesia dan Maroko, kedua negara dapat saling berbagi pengalaman untuk akselerasi pengembangan ekonomi dan keuangan syariah”, kata Murniati menjelaskan.

Murniati menambahkan, memang, kunjungan, Prof. Dr. Mohamed Raougui juga dalam rangka penjajakan kerjasama di bidang Sumber Daya Insani (SDI) keuangan syariah di kedua negara. Selain bidang SDI, dijajaki juga kerjasama penelitian antara STEI Tazkia dan Universitas Muhammad V, Maroko di mana, Prof. Dr. Mohamed Raougui menjadi profesor di sana.

“Kunjungan guru besar dari luar negari seperti Prof. Dr. Mohamed Raougui ini adalah salah satu bentuk program rutin tiap semester karena Kampus Tazkia sedang menuju kampus berkelas internasional pada 2025 nanti”, kata Murniati menegaskan.

Penggunaan bahasa asing seperti bahasa Inggris dan Arab serta penerimaan mahasiswa asing juga sedang ditingkatkan. Dengan networking yang kuat, kelak lulusan Tazkia dapat berkiprah di luar negara karena ahli perbankan dan keuangan syariah masih sangat banyak diperlukan.

Download Materi Monday Forum 21 Januari 2019
Silakan unduh materi presentasi: Islamic Finance in Morocco and North Africa oleh Dr. M. Syafii Antonio, MEc dengan mengisi sedikit data di bawah ini. Berkas berformat PDF akan segera terunduh di browser Anda setelah Anda mengeklik, “Download”. Berkas berukuran sekira 2,6 MB.

Rizqi ZakiyaBedanya Keuangan Syariah Maroko dan Indonesia
read more