Berita Terbaru

Kisah Inspiratif Mogayer Gamil Yahya Dalam Perjalanannya Mencari Kebenaran Islam (Spirit Dakwah Untuk Penggiat Ekonomi)

No comments

Sang Penatap Matahari (The Sun Gazer), Begitulah karya novel yang dirilis pada bulan September 2018 oleh seorang ahli ekonomi syariah Indonesia, Novel ini bercerita mengenai kisah Mogayer Gamil Yahya yang menampilkan kepada para pembaca mengenai pengalaman tragis, dramatis, sekaligus romantis dalam sebuah narasi cerita unik yang bisa dibaca oleh kaum baby boomber hingga generasi Z.

Dalam pemaparannya di Monday Forum yang diselenggarakan oleh LPPM STEI Tazkia, Mohammad Gunawan Yasni memaparkan bahwa ia merupakan generasi dari tuanku nan biru di talago seorang panglima perang padri, Sumatera Barat, pasukan imam bonjol. Nenek moyangnya tersebut menginspirasi beliau agar menjadi seseorang yang eksklusif meskipun tak terkenal tetapi memiliki pengaruh besar dalam penyebaran Islam.

Pada acara yang dibuka oleh Ibu Ries Wulandari, selaku kepala LPPM STEI Tazkia tersebut. Penulis menceritakan kisah-kisah seorang Mogayer Gamil Yahya yang seharusnya diikuti oleh setiap insan muslim. Menurut penuturan dari Pakar Pasar Modal dan Asuransi Syariah tersebut Mogayer adalah sesosok orang yang berperilaku baik bahkan ayah hingga kakek neneknya merupakan orang yang baik, hal ini tertuang dalam QS. Al Baqarah: 195. Kemudian di QS. Ali Imran: 76, bahwa Allah cinta orang yang bertakwa hal ini juga tertuang dalam kisah di novel tersebut.

 

Selanjutnya dalam QS. Ali Imran: 146 dan 59, bahwa Allah mencintai orang-orang yang sabar dan bertawakkal. “Bahwa dalam mendakwahkan ekonomi Syariah juga harus diikuti dengan kesabaran, seperti di awal 2018 pertumbuhan market share perbankan syariah hampir menyentuh angka 6%, akan tetapi di november 2018 market share perbankan syariah masih berada di level 5,7%, padahal di awal 2018 ada bank Aceh yang melakukan konversi ke syariah akan tetapi masih stagnan dan di akhir 2018 ada bank NTB yang melakukan konversi menjadi syariah, akan tetapi perbankan syariah di Indonesia masih belum bisa unjuk gigi. Pun juga pengalamannya di Kementerian Keuangan, ia menuturkan saat awal mula munculnya Surat Berharga Syariah negara (SBSN), bahwa sukuk itu harus dinikmati oleh masyarakat Indonesia sendiri, jangan melulu mengambil investor asing, maka setelah itu muncullah sukuk ritel dan sukuk tabungan saat ini.” tutur alumni Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia tersebut.

Mogayer juga bersifat adil sesuai QS. Al Maidah: 32, karena beliau dari kecil mengalami perjuangan yang cukup berat, mulai dari perjuangan di keluarga hingga harus merelakan seorang istri dari kehidupannya untuk menggapai cinta dari langit. Beliau menuturkan pejuang ekonomi syariah harus sufistik (tapi tidak harus miskin), dan harus mengedepankan aspek ukhrowi daripada sekedar duniawi. Selain itu Allah juga mencintai orang yang bertaubat dan membersihkan diri sesuai dalam QS. Al Baqarah: 22. Penulis pun demikian, ia harus banyak beristighfar dalam perjalanannya membuat SBSN, karena jangan sampai ada paradigma konvensional yang masih ada dalam aplikasi instrumen syariah tersebut. Beliau juga mengatakan kita harus meneladani nabi-nabi dalam beristighfar, seperti nabi Adam saat mendakwahkan islam, Nabi Nuh saat kaumnya tidak ada yang mengikuti dakwahnya, atau Nabi Yunus yang ketika berusaha mengeluarkan diri dari dalam perut ikan paus.

Pelajaran bagi aktor di bidang Ekonomi Syariah salah satunya yakni tidak terlepas dari doa-doa generasi terdahulu, dari orang tua, dan orang-orang di sekitar. Beliau terkesima saat Syafii Antonio awal mula di Jordania, kemudian bertanya bagaimana cara mendakwahkan islam dalam kegiatan bermasyarakat kepada Zainul yasni, seorang duta besar Jordania, kemudian dijawab oleh Ayah Iwan tersebut bahwa “Kita Harus mendakwahkan Islam di sendi-sendi masyarakat melalui iqtishod, kegiatan ekonomi syariah dan bermuamalah di masyarakat”. Pak Iwan sapaan akrab Gunawan Yasni pun menuturkan ia susah keluar dari lingkungan syariah juga berkat doa-doa orang terdahulunya.

Dalam jati diri mogayer ada 4 karakter orang yang tak tersentuh api neraka seperti yang tertuang seperti di H.R Tirmidzi dan Ibnu Hiban yakni Hayyin, orang-orang yang memiliki ketenangan dan keteduhan lahir maupun batin, tidak mudah memaki, melaknat, serta tenang jiwa. Dalam Novel tersebut Mogayer bersifat lembut, dan memiliki ketenangan dan keteduhan batin. Berawal dari rasa minder, lalu ia berlatih bela diri dan akhirnya ia merasa yakin bahwa ia bisa mempertahankan diri dan mengendalikan emosinya. Kemudian Layyin, yakni orang yang lembut dan santun, baik dalam bertutur kata atau bersikap. Tidak kasar, dan tidak ikut hawa nafsu sendiri, lemah lembut dan selalu menginginkan kebaikan untuk sesama manusia. Lalu, Qaribin, yakni akrab, ramah diajak bicara, menyenangkan bagi orang yang diajak bicara, murah senyum jika bertemu. Serta terakhir adalah Sahlin yakni orang yang tidak mempersulit sesuatu dan selalu ada cara untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang dihadapi.

Dalam novel The Sun Gazer yang akan diterbitkan segera dalam bahasa inggris ini, kisahnya dimulai saat Mogayer di Kairo di waktu Syuruq dan merasakan seolah melihat halusinasi atau bayangan matahari. Kemudian ia berdoa “Allahumma Nawwir Qulubana Bi Nuri Hidayatika kama Nawwartal Ardha Bi Nuri Syamsika abadan abada, Bi Rahmatika Ya Arhamarrahimin”. Serta saat mogayer menemukan saray sesosok orang yang dibimbing oleh Allah untuk menemaninya. (Red. Rizal Nazarudin Firli)

Miftahul AnwarKisah Inspiratif Mogayer Gamil Yahya Dalam Perjalanannya Mencari Kebenaran Islam (Spirit Dakwah Untuk Penggiat Ekonomi)

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *