Berita Terbaru

MONDAY FORUM, Paradox Perekonomian Global Ekonomi Islam & Perspektif Perekonomian Nasional

No comments

Senin, 08 Oktober 2018 M/A� 28 Muharram 1440 H

Monday Forum kali ini diisi dengan talk dari Guru Besar Ilmu Ekonomi dan Ekonomi Politik FEM IPB, Prof. Dr. Didin S. Damanhuri, S.E, M.S, DEA. Acara dibuka pukul 10.00 WIB oleh Rizki Zakiya, S.E.I. dari Humas STEI Tazkia selaku pembawa acara. Tilawah Qura��an dibacakan oleh Muhammad Alwi, mahasiswa Program Studi Ekonomi Syariah STEI Tazkia. Sebelum memulai pada acara inti, Bu Ries Wulandari, M.Si selaku kepala LPPM memberikan sambutan dilanjutkan dengan sambutan dari Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc. selaku ketua STEI Tazkia dan Dr. M. Syafii Antonio selaku Pembina Yayasan Tazkia Cendekia.

Seminar Talk Series dimoderatori oleh Dr. Mukhamad Yasid, M.Si. Prof. Didin adalah salah satu orang yang memberi masukan tentang perlunya pendidikan ekonomi Islam sejak 19 tahun yang lalu. Prof. Didin beserta Dr. M. Syafii Antonio, M.Ec dan Dr. Yasid telah bersama-sama membangun Tazkia dan Prof. Didin pun sempat mengajar di Tazkia hingga tahun 2012.

Prof. Didin membuka dengan pernyataan bahwa ekonomi Islam tidak hanya di ruang kosong, tetapi harus berada pada ruang yang dinamis, yang bisa merespon perkembangan yang terjadi. Prof. Didin memaparkan permasalahan saat ini, bahwa dunia modern dibangun oleh sekularisme. Sikap sekuler ini berasal dari keadaan Eropa yang miskin karena otoritas gereja yang bekerja sama dengan tuan tanah, sehingga mereka menganggap bahwa penyebab kemiskinan dan yang menghalangi perkembangan Eropa pada masa itu adalah agama. Kaum sekuler menganggap bahwa sebaiknya agama tidak ikut campur dalam kehidupan sosial. Hal ini berujung pada revolusi ilmu pengeahuan, revolusi industri dan revolusi politik. Pihak yang mengendalikan dunia bukanlah Amerika atau Eropa, melainkan para pebisnis. Karena sekuler tidak ada pengendalian dari agama, maka yang bergerak adalah nafsu duniawi.

Inilah yang disebut paradoks, adanya Rainasance melahirkan sekularisme, dan dari sekularisme melahirkan revolusi pertanian, revolusi industri, revolusi keuangan dan revolusi ekonomi digital. Model ekonomi saat ini berdasarkan keinginan yang berakhir pada eksploitasi sumber daya alam dan manusia. Kaum modal berkuasa atas kaum buruh. Model ini akan sangat sulit berubah jika masyarakat masih sekuler dan tidak menerapkan norma agama.

Prof Didin memaparkan bahwa dasar Maqoshid yang beliau gagas ada tiga: Tauhid, Adalah (keadilan) dan Kholifatu fil Ardh (kepemimpinan). Beliau juga memberikan solusi berupa a�?Asian Waysa�� yaitu agama menjadi landasan proses pembangunan, full employment oriented dan extended family based social security system. Bahwasannya segala perkembangan ilmu pengetahuan perlu dilandasi dan dimasukkan nilai-nilai agama dan setiap masyarakat saling peduli satu sama lain.

Bapak Yasid selaku moderator menutup pemaparan Prof Didin dengan mengatakan bahwa masalah ekonomi adalah keserakahan yang kemudian memiliki tempat dan akhirnya mengeksploitasi. Jika kita bisa bahagia tanpa menjadi Amerika, untuk apa menjadi Amerika? Seminar talk series diakhiri dengan sesi tanya jawab dan foto bersama. (Istiqomah Syaa��bani)

Miftahul AnwarMONDAY FORUM, Paradox Perekonomian Global Ekonomi Islam & Perspektif Perekonomian Nasional

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *